BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Maulidur Rosul - Episode 22

MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Rintik Rahmat di Tahun Tandus: Keajaiban di Balik Pilihan Halimah

Di tengah kekeringan yang mencekik, Halimah yang putus asa akhirnya membawa pulang Muhammad ﷺ—bayi yang sempat ditolak dunia karena status yatimnya. Seketika, air susu yang kering menjadi mata air rahmat yang mengubah takdir keluarganya selamanya.

وَحَزِنَتْ آمِنَةُ عَلَى عَبْدِ اللهِ حُزْنًا كَادَ يُودِي بِهَا إِلَى الْبَوَارِ ، فَقَدْ أَحَبَّتْ فَتَى بَنِي هَاشِمٍ وَرَاحَتْ تَحْلُمُ بِمُسْتَقْبَلٍ بَسَّامٍ يَجْمَعُ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ ، وَمَا كَادَتْ تَسْتَهِلُّ حَيَاةَ الزَّوْجِيَّةِ السَّعِيدَةِ ، حَتَّى اخْتَطَفَهُ الْمَوْتُ وَهَلَكَ فِي أَرْضٍ غَرِيبَةٍ دُونَ أَنْ تَرَاهُ .
Aminah sangat berduka atas kepergian Abdullah dengan kesedihan yang hampir menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. Dia begitu mencintai pemuda Bani Hasyim itu dan sempat bermimpi tentang masa depan indah yang tersenyum riang yang akan menyatukan mereka berdua. Namun baru saja dia hendak memulai lembaran hidup bersuami istri yang bahagia, maut telah merenggutnya, dan dia wafat di tanah yang asing sebelum Aminah sempat melihatnya kembali.
إِنَّهَا اسْتَسْلَمَتْ لِلْأَسَى وَالدُّمُوعِ وَلَوْلَا ذَلِكَ الَّذِي كَانَ يَتَحَرَّكُ فِي بَطْنِهَا لَرَفَضَتِ الْحَيَاةَ ، فَقَدْ كَانَتْ تَرَى رِحْلَةَ الْحَيَاةِ طَوِيلَةً مُمِلَّةً مُمِضَّةً دُونَ رَجُلِهَا الَّذِي شَغِفَتْ بِهِ حُبًّا .
Dia benar-benar menyerah pada kedukaan dan tetesan air mata. Kalaulah bukan karena janin yang bergerak di dalam perutnya, niscaya dia akan menolak kehidupan ini, karena dia melihat perjalanan hidup ini akan terasa sangat panjang, membosankan, lagi menyakitkan tanpa kehadiran lelaki yang sangat dicintainya dengan sepenuh hati itu.
كَانَتْ لَيَالِيهَا فَرَاغًا وَنَهَارُهَا آلَامًا ، وَلَوْلَا الرُّؤَى الْعَذَابُ الَّتِي كَانَتْ تَطُوفُ بِهَا تُخَفِّفُ مِنْ لَوْعَتِهَا وَلَوْلَا الْهَوَاتِفُ الَّتِي كَانَتْ تَهْتِفُ بِهَا تُبَشِّرُهَا بِمُسْتَقْبَلٍ عَظِيمٍ لِابْنِ عَبْدِ اللهِ لَانْفَطَرَتْ كَبِدُهَا وَتَصَدَّعَ فُؤَادُهَا وَفَتَكَ بِهَا حُزْنُهَا وَطُوِيَتْ أَيَّامُهَا الْقَصِيرَةُ فِي الْأَرْضِ .
Malam-malamnya terasa hampa dan siang harinya dipenuhi penderitaan. Kalaulah bukan karena mimpi-mimpi indah yang datang menghampirinya untuk meringankan kepedihan hatinya, dan kalaulah bukan karena suara-suara tanpa wujud (suara gaib) yang berseru kepadanya membawa kabar gembira tentang masa depan yang agung bagi putra Abdullah ini, niscaya hancur lebur hatinya, pecah dadanya, duka itu akan merenggut nyawanya, dan hari-harinya yang singkat di bumi ini akan segera berakhir.
لَمْ تَحُسَّ آمِنَةُ مَشَقَّةً طَوَالَ شُهُورِ الْحَمْلِ ، وَلَمْ تَحُسَّ مَشَقَّةً حِينَ وَضَعَتْهُ . تُرَى أَكَانَتْ ذَاهِلَةً بِآلَامِ النَّفْسِ الَّتِي كَانَتْ تَفُوقُ آلَامَ الْجَسَدِ ؟ إِنَّهَا لَمْ تَغِبْ عَنْ وَعْيِهَا لَحْظَةً وَاحِدَةً . كَانَ أَنْفُهَا يَشَمُّ رَوَائِحَ أَطْيَبَ مِنَ الطِّيبِ ، وَكَانَتْ عَيْنَاهَا تَرَيَانِ نُورًا لِكَأَنَّهُ كَانَ آتِيًا مِنْ فَوْقِ السَّمَاوَاتِ ، وَلَمَّا وَضَعَتْهُ رَأَتْ نُورًا يَخْرُجُ مِنْهَا قَدْ فَاضَ حَتَّى خُيِّلَ إِلَيْهَا أَنَّهُ غَمَرَ كُلَّ الْأَرْضِ .
Aminah tidak merasakan kepayahan sama sekali sepanjang bulan-bulan kehamilannya, dan tidak pula merasakan rasa sakit ketika melahirkannya. Apakah gerangan dia sedang terbuai oleh rasa sakit jiwa yang melampaui rasa sakit fisik? Sesungguhnya dia tidak kehilangan kesadarannya sedetik pun. Hidungnya menghirup aroma yang lebih harum dari wewangian paling kasturi, dan kedua matanya melihat cahaya seolah-olah datang dari atas langit. Ketika dia melahirkannya, dia melihat cahaya memancar dari dirinya yang meluap hingga terbayang olehnya bahwa cahaya itu menerangi seluruh penjuru bumi.
لَمْ تَكُنْ تَحْلُمُ بَلْ كَانَتْ مُرْهَفَةَ الْحِسِّ صَاحِيَةَ الْحَوَاسِّ وَإِنْ كَانَ وَاقِعُهَا أَقْرَبَ إِلَى الرُّؤَى وَالتَّخَيُّلَاتِ ، حَتَّى إِنَّهَا كَادَتْ تَعْتَقِدُ أَنَّ مَا هِيَ فِيهِ إِنْ هُوَ إِلَّا سَبْحَةٌ مِنْ سَبَحَاتِ الْخَيَالِ ،
Dia tidak sedang bermimpi, melainkan indranya sangat peka dan terjaga penuh, walaupun kenyataan yang dialaminya itu terasa lebih dekat dengan mimpi dan bayangan spiritual, hingga dia hampir meyakini bahwa kondisi yang sedang dialaminya itu tidak lain hanyalah untaian dari alam khayalan belaka.
وَكَانَتِ الشِّفَاءُ أُمُّ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَبَرَكَةُ جَارِيَةُ عَبْدِ اللهِ الْحَبَشِيَّةُ تُحَدِّثَانِهَا فِي دَهْشَةٍ عَمَّا تَرَيَانِ وَعَمَّا تَحُسَّانِ ، إِنَّهُمَا تَرَيَانِ نَفْسَ مَا تَرَى ، وَتَحُسَّانِ نَفْسَ مَا تَحُسُّ .
Sementara itu, Asy-Syifa (ibu dari Abdurrahman bin Auf) dan Barakah (budak perempuan Ethiopia milik Abdullah) berbicara kepadanya dengan penuh keheranan tentang apa yang mereka berdua lihat dan rasakan. Sungguh, mereka melihat hal yang sama dengan apa yang dilihat Aminah, dan merasakan hal yang sama pula dengan apa yang dirasakannya.
وَنَظَرَتْ آمِنَةُ إِلَى وَلِيدِهَا فِي حُبٍّ شَدِيدٍ وَهِيَ تُحَاوِلُ أَنْ تُلْقِمَهُ ثَدْيَهَا ، وَلَكِنَّ الْوَلِيدَ أَقْفَلَ فَمَهُ فَانْتَابَهَا خَوْفٌ عَلَى حَبِيبِهَا ، وَدَارَ بِخَلَدِهَا أَنَّهُ لَمْ يَرْضَعْ لِجَفَافِ لَبَنِهَا فَقَدْ أَثَّرَ حُزْنُهَا عَلَى عَبْدِ اللهِ عَلَى كُلِّ كِيَانِهَا . وَبَعَثَتْ بَرَكَةَ تَسْتَدْعِي ثُوَيْبَةَ مُرْضِعَةَ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَلَمَّا جَاءَتْ ثُوَيْبَةُ الْتَمَسَتْ مِنْهَا أَنْ تُرْضِعَ مُحَمَّدًا فَأَخَذَتْهُ لِتُرْضِعَهُ ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَلْتَقِمْ ثَدْيَهَا فَاشْتَدَّ جَزَعُ آمِنَةَ وَرِيَا خَوْفِهَا .
Aminah memandangi bayinya dengan rasa cinta yang mendalam sembari mencoba menyusuinya, namun sang bayi menutup rapat mulutnya sehingga rasa cemas langsung menyelimuti dirinya atas keselamatan buah hatinya. Terlintas dalam benaknya bahwa bayi itu tidak mau menyusu karena air susunya kering, sebab duka mendalam atas kepergian Abdullah telah memengaruhi seluruh kondisi fisiknya. Dia pun mengutus Barakah untuk memanggil Tsuwaibah, wanita yang menyusui Hamzah bin Abdul Mutthalib. Ketika Tsuwaibah datang, Aminah memohon kepadanya untuk menyusui Muhammad, lalu Tsuwaibah menggendongnya untuk menyusuinya, namun bayi itu tetap tidak mau mengulum puting susunya, sehingga kepanikan Aminah semakin menjadi-jadi dan ketakutannya kian memuncak.
وَمَضَى أَوَّلُ يَوْمٍ مِنْ مَوْلِدِهِ دُونَ أَنْ يَرْضَعَ ، وَانْقَضَتْ لَيْلَتُهُ الْأُولَى وَهُوَ شَاخِصٌ بِبَصَرِهِ إِلَى الْقَمَرِ كَأَنَّهُ يُنَاجِيهِ دُونَ أَنْ يَدْخُلَ جَوْفَهُ شَيْءٌ ، وَبَاتَتْ آمِنَةُ إِلَى جِوَارِهِ وَهِيَ تَبْذُلُ كُلَّ مَا وُسْعِهَا الْجُهْدَ لِتُرْضِعَهُ دُونَ جَدْوَى . وَغَفَتْ آمِنَةُ غَفْوَةً وَبَرَكَةُ إِلَى جِوَارِهِ وَتَرْنُو إِلَى وَجْهِهِ الْجَمِيلِ فَتَسْتَشْعِرُ كَأَنَّ كُنُوزًا مِنَ الْحُبِّ تَفَجَّرَتْ فِي وِجْدَانِهَا .
Hari pertama sejak kelahirannya pun berlalu tanpa ada air susu yang masuk, dan malam pertamanya terlewati dalam keadaan matanya terus menatap tajam ke arah bulan seolah-olah sedang berbincang intim dengannya, tanpa ada sesuatu pun yang masuk ke dalam perutnya. Aminah bermalam di sampingnya sembari mengerahkan seluruh daya upayanya agar sang bayi mau menyusu, namun tetap tidak membuahkan hasil. Aminah sempat tertidur sejenak, sementara Barakah berada di sisi bayi itu seraya memandangi wajahnya yang elok rupawan, merasakan seakan-akan samudera cinta kasih meledak memenuhi lubuk jiwanya.
وَذَاعَ فِي دُورِ بَنِي هَاشِمٍ أَنَّ ابْنَ عَبْدِ اللهِ مَرِضَ وَأَنَّهُ لَمْ يَرْضَعْ مُذْ وَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ ، فَجَاءَ بَعْضُ نِسْوَةِ بَنِي هَاشِمٍ إِلَى آمِنَةَ وَرَاحَتْ كُلٌّ مِنْهُمْ تَصِفُ دَوَاءً ، وَانْقَضَى الْيَوْمُ الثَّانِي كَمَا انْقَضَى الْيَوْمُ الْأَوَّلُ : إِعْرَاضٌ مِن مُحَمَّدٍ عَنِ الرَّضَاعَةِ وَشُخُوصٌ بِبَصَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَلَقٌ وَخَوْفٌ وَهَلَعٌ يَسْتَوْلِي عَلَى الْأُمِّ الَّتِي كَانَتْ تُشْفِقُ عَلَى ابْنِهَا الْيَتِيمِ فَبَاتَتْ تَخَافُ عَلَيْهِ أَنْ يَلْحَقَهُ الْبَوَارُ .
Kabar pun tersiar di perkampungan Bani Hasyim bahwa putra Abdullah sakit dan belum mau menyusu sejak dia dilahirkan ke bumi. Beberapa wanita Bani Hasyim berdatangan menemui Aminah dan masing-masing mulai menyarankan berbagai macam obat. Hari kedua pun berlalu sama persis seperti hari pertama: Muhammad tetap enggan menyusu dan matanya terus memandang lurus menembus langit, sementara rasa cemas, takut, dan panik luar biasa menguasai hati sang ibu yang begitu mengasihani putra yatimnya itu, hingga dia bermalam dalam ketakutan kalau-kalau maut akan menjemput bayinya.
وَتَصَرَّمَتِ اللَّيْلَةُ الثَّانِيَةُ وَآمِنَةُ سَاهِرَةٌ إِلَى جِوَارِ ابْنِهَا لَمْ تَغْمَضْ لَهَا عَيْنٌ . إِنَّهُ يَنْظُرُ إِلَى الْقَمَرِ كَأَنَّهُ يُنَاجِيهِ . كَانَ مَفْتُوحَ الْعَيْنَيْنِ لَمْ يَبْدُ فِي وَجْهِهِ الذُّبُولُ بَلْ تَتَرَقْرَقُ الْحَيَاةُ فِي مُحَيَّاهُ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفِ الْغِذَاءَ طَرِيقَهُ إِلَى جَوْفِهِ ، لَكَأَنَّمَا كَانَ مُنْذُ مَوْلِدِهِ يُفَضِّلُ غِذَاءَ الرُّوحِ عَلَى غِذَاءِ الْجَسَدِ وَيُقَدِّمُ ضَرُورَةَ النَّفْسِ عَلَى ضَرُورَةِ الْبَدَنِ .
Malam kedua pun habis terkikis sementara Aminah terus terjaga di samping putranya tanpa memejamkan mata sedikit pun. Bayi itu terus menatap bulan seakan sedang berbisik mesra dengannya. Kedua matanya terbuka lebar tanpa ada kesan layu sedikit pun di wajahnya, melainkan rona kehidupan tampak segar mengalir di parasnya meskipun asupan makanan belum pernah menyentuh rongga perutnya. Seolah-olah sejak awal kelahirannya, dia lebih mengutamakan makanan ruhani di atas makanan jasmani, serta mendahulukan kebutuhan jiwa di atas kebutuhan raga.
وَتَرَقْرَقَتِ الدُّمُوعُ شَفَقَةً فِي عَيْنِي آمِنَةَ . أَيَعِيشُ ابْنُهَا يَوْمَيْنِ دُونَ أَنْ يَطْعَمَ ؟ دُونَ أَنْ يَدْخُلَ جَوْفَهُ شَيْءٌ ؟ وَحَاوَلَتْ أَنْ تُلْقِمَهُ ثَدْيَهَا إِلَّا أَنَّهُ زَمَّ شَفَتَيْهِ . وَفِي الصَّبَاحِ جَاءَتْ ثُوَيْبَةُ وَمَا إِنْ أَعْطَتْهُ ثَدْيَهَا حَتَّى أَخَذَهُ وَرَاحَ يَرْضَعُ ، فَتَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُ آمِنَةَ بِالسُّرُورِ وَانْشَرَحَ صَدْرُهَا وَطَفَرَتْ إِلَى مَآقِيهَا الْعَبَرَاتُ .
Air mata mengalir karena rasa iba di kedua mata Aminah. Akankah putranya sanggup bertahan hidup selama dua hari tanpa makan? Tanpa ada sesuatu pun yang masuk ke dalam perutnya? Dia kembali mencoba menyusuinya, namun bayi itu tetap mengatupkan kedua bibirnya. Hingga pada pagi harinya Tsuwaibah datang, dan begitu dia menyodorkan puting susunya, bayi itu langsung menyambutnya dan menyusu dengan lahap. Sontak rona kebahagiaan terpancar dari wajah Aminah, dadanya terasa lapang, dan air mata haru berlinang membasahi sudut matanya.
وَذَاعَ فِي دُورِ بَنِي هَاشِمٍ أَنَّ ابْنَ عَبْدِ اللهِ قَدْ بَرَأَ مِمَّا أَلَمَّ بِهِ . فَجَاءَتْ هَالَةُ بِنْتُ وُهَيْبٍ وَهِيَ تَحْمِلُ ابْنَهَا حَمْزَةَ ، وَجَاءَ بَعْضُ نِسْوَةِ بَنِي هَاشِمٍ لِزِيَارَةِ آمِنَةَ ، وَمَا كَادَ يَسْتَقِرُّ بِهِنَّ الْمَقَامُ حَتَّى أَقْبَلَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَفِي يَدِهِ ابْنُهُ الْعَبَّاسُ وَكَانَ ابْنَ ثَلَاثَةِ أَعْوَامٍ لِيَرَى حَفِيدَهُ .
Kabar gembira pun meluas di perkampungan Bani Hasyim bahwa putra Abdullah telah sembuh dari kondisi yang menderitanya. Maka datanglah Halah binti Wuhaib sembari menggendong putranya, Hamzah, diikuti oleh beberapa wanita Bani Hasyim untuk mengunjungi Aminah. Belum lama mereka duduk berkumpul, Abdul Mutthalib datang sembari menggandeng putranya, Al-Abbas, yang saat itu berusia tiga tahun, untuk melihat cucunya tercinta.
وَحَمَلَتْ بَرَكَةُ مُحَمَّدًا وَجَاءَتْ بِهِ إِلَى الْعَبَّاسِ لِيَنْظُرَ إِلَيْهِ فَجَعَلَ النِّسْوَةُ يَقُلْنَ لِلْعَبَّاسِ :
Barakah kemudian menggendong Muhammad dan mendekatkannya kepada Al-Abbas agar dia dapat melihatnya, lalu para wanita itu mulai berkata kepada Al-Abbas menggoda:
— قَبِّلْ أَخَاكَ .. قَبِّلْ أَخَاكَ .
— Ciumlah adikmu.. ciumlah adikmu.
فَمَالَ الْعَبَّاسُ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ وَقَبَّلَهُ ، وَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَنْظُرُ وَقَدِ انْبَعَثَتْ فِيهِ عَوَاطِفُ رَقِيقَةٌ حَانِيَةٌ . وَأَعَادَتْ بَرَكَةُ مُحَمَّدًا إِلَى فِرَاشِهِ ، وَبَعْدَ قَلِيلٍ أَنَامَتْ هَالَةُ ابْنَهَا حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ إِلَى جِوَارِهِ ، وَانْسَلَّ الْعَبَّاسُ لِيَنْظُرَ إِلَى أَخِيهِ وَابْنِ أَخِيهِ وَمَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ أَحَدٍ مِنَ الَّذِينَ أَخَذُوا بِأَطْرَافِ الْحَدِيثِ أَنَّ فِي فِرَاشِ الْوَلِيدِ وَعَلَى حَوَاشِيهِ اجْتَمَعَ مَجْدُ الْأَرْضِ وَمَجْدُ السَّمَاءِ .
Maka Al-Abbas membungkuk ke arah keponakannya lalu menciumnya, sementara Abdul Mutthalib memandangi kejadian itu dengan perasaan yang sangat lembut lagi penuh kasih sayang. Barakah lalu mengembalikan Muhammad ke tempat tidurnya, dan tak lama kemudian Halah menidurkan putranya, Hamzah bin Abdul Mutthalib, di samping bayi itu. Al-Abbas pun menyelinap kembali untuk memandangi saudaranya (Hamzah) sekaligus keponakannya (Muhammad). Dan tidak pernah terlintas dalam benak siapa pun dari orang-orang yang sedang asyik berbincang di sana, bahwa di atas ranjang bayi itu beserta sekelilingnya, sesungguhnya telah menyatu keagungan bumi dan keagungan langit.
وَجَاءَ الْيَوْمُ السَّابِعُ مِنْ مَوْلِدِهِ فَذَبَحَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عَنْهُ وَأَقَامَ وَلِيمَةً دَعَا إِلَيْهَا قُرَيْشًا وَدَبَّتِ الْحَيَاةُ فِي شِعْبِ بَنِي هَاشِمٍ ، كَانَ الْحَارِثُ وَالزُّبَيْرُ وَأَبُو طَالِبٍ وَأَبْنَاءُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَرِحِينَ مُسْتَبْشِرِينَ . وَكَانَ الْعَبَّاسُ يَغْدُو وَيَرُوحُ بَيْنَ إِخْوَتِهِ ثُمَّ اسْتَقَرَّ فِي حَجْرِ أَبِيهِ ، وَانْتَهَى النَّاسُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْتَفَتَ أَحَدُهُمْ إِلَى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَقَالَ :
Tiba lah hari ketujuh dari kelahirannya, maka Abdul Mutthalib menyembelih hewan (akikah) untuknya dan mengadakan pesta jamuan makan dengan mengundang kaum Quraisy, sehingga suasana di perkampungan Bani Hasyim menjadi sangat hidup dan semarak. Al-Harits, Az-Zubair, Abu Thalib, serta putra-putra Abdul Mutthalib lainnya tampak gembira dan penuh suka cita. Al-Abbas kecil berlari ke sana kemari di antara saudara-saudaranya sebelum akhirnya duduk tenang di pangkuan ayahnya. Ketika orang-orang telah selesai menyantap hidangan makanan dan minuman, salah seorang dari mereka menoleh kepada Abdul Mutthalib dan bertanya:
— يَا عَبْدَ الْمُطَّلِبِ أَرَأَيْتَ ابْنَكَ هَذَا الَّذِي أَكْرَمْتَنَا عَلَى وَجْهِهِ مَا سَمَّيْتَهُ ؟
— Wahai Abdul Mutthalib, bagaimanakah pendapatmu tentang putramu (cucumu) ini, yang engkau telah memuliakan kami dalam perayaannya, apakah nama yang engkau berikan kepadanya?
— سَمَّيْتُهُ مُحَمَّدًا .
— Aku menamakannya Muhammad.
— فَمَا رَغِبْتَ بِهِ عَنْ أَسْمَاءِ أَهْلِ بَيْتِهِ ؟
— Mengapa engkau tidak menyukai nama-nama yang biasa digunakan oleh keluarga leluhurnya?
— أَرَدْتُ أَنْ يَحْمَدَهُ اللهُ فِي السَّمَاءِ وَخَلْقُهُ فِي الْأَرْضِ .
— Aku ingin agar dia dipuji oleh Allah di langit dan dipuji oleh makhluk-Nya di bumi.
وَلَمْ تُمْطِرِ السَّمَاءُ فِي هَوَازِنَ فَكَانَتْ سَنَةَ جَدْبٍ وَشِدَّةٍ ، فَفَكَّرَتْ بَعْضُ أُسْرَاتٍ مِنْ بَنِي سَعْدٍ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى مَكَّةَ الْتِمَاسًا لِلرُّضَعَاءِ فَقَدْ كَانَ أَشْرَافُ مَكَّةَ يَدْفَعُونَ بِأَبْنَائِهِمْ إِلَى الْبَادِيَةِ لِيُبْعِدُوهُمْ عَنْ قَيْظِ بِلَادِهِمْ وَلِيَلْتَقِطُوا الْفَصَاحَةَ مِنْ أَهْلِ الصَّحْرَاءِ ، وَكَانَتِ الْأُسْرَاتُ الْبَدَوِيَّةُ تَتَنَافَسُ عَلَى أَبْنَاءِ الْأَثْرِيَاءِ دَفْعًا لِغَائِلَةِ الْجُوعِ الَّتِي تَتَهَدَّدُهُمْ فِي السِّنِينَ الشَّهْبَاءِ .
Sementara itu, langit tidak kunjung menurunkan hujan di wilayah Hawazin sehingga menjadi tahun kekeringan dan masa yang sulit. Beberapa keluarga dari kabilah Bani Sa'd berencana pergi ke Makkah untuk mencari bayi susuan, karena para bangsawan Makkah biasa menitipkan anak-anak mereka ke pedalaman badui demi menjauhkan mereka dari sengatan panas kota mereka, serta agar anak-anak itu menyerap kefasihan bahasa dari penduduk padang pasir. Keluarga-keluarga badui tersebut saling bersaing mendapatkan anak-anak dari kalangan orang kaya guna menangkal bencana kelaparan yang mengancam kehidupan mereka di tahun-tahun yang gersang itu.
قَدِمَتْ مَكَّةَ فِي الْيَوْمِ الثَّامِنِ لِمَوْلِدِ مُحَمَّدٍ عَشْرُ نِسْوَةٍ مِنْ بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ يَلْتَمِسْنَ بِهَا الرُّضَعَاءَ ، وَكَانَتْ فِيهِنَّ حَلِيمَةُ بِنْتُ أَبِي ذُؤَيْبٍ ، وَهُوَ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْحَارِثِ بْنِ شُجْنَةَ بْنِ جَابِرِ بْنِ رِزَامِ بْنِ نَاصِرَةَ بْنِ سَعْدِ بْنِ بَكْرِ بْنِ هَوَازِنَ بْنِ مَنْصُورِ بْنِ عِكْرِمَةَ بْنِ خَصَفَةَ بْنِ قَيْسِ عَيْلَانَ بْنِ مُضَرَ .
Tepat pada hari kedelapan dari kelahiran Muhammad, datanglah sepuluh orang wanita dari kabilah Bani Sa'd bin Bakr ke kota Makkah untuk mencari anak susuan. Di antara mereka terdapat Halimah binti Abi Dzu'aib, yang nama lengkap ayahnya adalah Abdullah bin Al-Harits bin Syujnah bin Jabir bin Rizam bin Nashirah bin Sa'd bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Khasafah bin Qais 'Ailan bin Mudhar.
كَانَتْ حَلِيمَةُ عَلَى أَتَانٍ عُجْفَاءَ كَانَتْ مِنْ شِدَّةِ ضَعْفِهَا تُعَطِّلُ سَيْرَ الرَّكْبِ ، وَكَانَ مَعَهَا صَبِيٌّ وَنَاقَةٌ مَا تَبِضُّ بِقَطْرَةِ لَبَنٍ ، وَكَانَ يَسِيرُ إِلَى جِوَارِهَا زَوْجُهَا الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ الْعُزَّى . وَقَدْ تَقَضَّتْ لَيْلَةٌ وَهُمْ فِي الطَّرِيقِ لَمْ يَذُوقُوا فِيهَا طَعْمَ النَّوْمِ مِنْ صَبِيِّهِمَا مِنْ بُكَائِهِ مِنَ الْجُوعِ لَا تَجِدُ فِي ثَدْيِهَا مَا يُغْذِيهِ وَلَا فِي نَاقَتِهَا مَا يَغْذِيهِ ، وَلَكِنَّهَا كَانَتْ تَرْجُو الْغَيْثَ وَالْفَرَجَ .
Halimah mengendarai seekor keledai betina yang kurus kering, yang karena saking lemahnya sampai menghambat perjalanan rombongan. Bersamanya ada seorang bayi mungil mereka dan seekor unta tua yang tidak mengeluarkan air susu walau setetes pun. Berjalan di sampingnya sang suami, Al-Harits bin Abdul 'Uzza. Semalam suntuk di tengah jalan mereka tidak dapat memejamkan mata karena tangisan bayi mereka yang kelaparan, sebab Halimah tidak mendapati air susu di payudaranya yang dapat mengenyangkannya, begitu pula pada untanya. Namun, dia senantiasa berharap akan datangnya pertolongan hujan dan kemudahan.
وَبَلَغَ رَكْبُ بَنِي سَعْدٍ الْمَقْدِسَ فَكَانَ أَوَّلُ مَا فَعَلُوهُ أَنْ طَافُوا بِالْحَرَمِ ثُمَّ جَلَسُوا يَنْتَظِرُونَ مَوَالِيدَ أَشْرَافِ مَكَّةَ وَسَادَتِهَا ، وَذَاعَ فِي الدُّورِ أَنَّ نِسْوَةً مِنْ بَنِي سَعْدٍ قَدِمْنَ يَلْتَمِسْنَ الرُّضَعَاءَ فَخَرَجَ الْجَوَارِي وَالْعَبِيدُ يَحْمِلُونَ الْأَعِزَّةَ عَلَى سَوَاعِدِهِمْ ، وَجَاءَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَمِنْ خَلْفِهِ بَرَكَةُ وَعَلَى يَدَيْهَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ
Rombongan Bani Sa'd akhirnya tiba di tanah suci, dan hal pertama yang mereka lakukan adalah melakukan tawaf di Baitullah, kemudian duduk menanti bayi-bayi yang baru lahir dari kalangan bangsawan dan pemuka Makkah. Kabar pun tersiar di segenap penjuru rumah penduduk bahwa para wanita dari Bani Sa'd telah datang mencari anak susuan, maka para pelayan dan budak keluar menggendong bayi-bayi mulia di atas lengan mereka. Datang pula Abdul Mutthalib dengan diikuti oleh Barakah dibelakangnya, yang di atas kedua tangannya menggendong Muhammad bin Abdullah
وَلَمْ يَمْضِ عَلَى مَوْلِدِهِ غَيْرُ ثَمَانِيَةِ أَيَّامٍ . وَعَرَضَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ حَفِيدَهُ عَلَى إِحْدَاهُنَّ فَالْتَفَتَتْ إِلَيْهِ وَقَالَتْ :
yang saat itu usianya belum berlalu melainkan baru delapan hari. Abdul Mutthalib menawarkan cucunya kepada salah seorang wanita dari mereka, lalu wanita itu menoleh kepadanya dan bertanya:
— أَنْتَ أَبُوهُ ؟
— Apakah engkau ayahnya?
— لَا . أَبُوهُ قَدْ مَاتَ .
— Bukan, ayahnya telah wafat.
— يَتِيمٌ ؟
— Anak yatim?
فَأَوْمَأَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بِرَأْسِهِ فِي أَسَىً . فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ :
Abdul Mutthalib menganggukkan kepalanya dengan penuh kedukaan. Maka wanita itu berkata dengan nada ragu:
— مَاذَا عَسَى أَنْ تَصْنَعَ إِلَيْنَا أُمُّهُ ؟
— Kebaikan apa yang bisa diberikan oleh ibunya kepada kami (secara finansial)?
كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ سَيِّدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يُطْعِمُ حَتَّى الطُّيُورَ وَالْجَوَارِحَ وَالْوُحُوشَ فِي رُؤُوسِ الْجِبَالِ ، وَعَلَى الرَّغْمِ مِنْ صِيتِهِ وَغِنَاهُ أَعْرَضَتِ الْمَرْأَةُ عَنْ حَفِيدِهِ ، فَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَوْمٌ فِي مَكَّةَ وَيَوْمٌ فِي الْيَمَنِ وَيَوْمٌ فِي الشَّامِ ، وَمَنْ يَدْرِي فَقَدْ يَنْصَرِمُ أَجَلُهُ وَيُصْبِحُ عَبَثًا عَلَى مَنْ يَأْخُذُهُ .
Meskipun Abdul Mutthalib adalah pemimpin kaumnya yang terkenal dermawan hingga biasa memberi makan burung-burung, binatang pemburu, dan hewan liar di puncak-puncak gunung, namun terlepas dari ketenaran dan kekayaannya itu, wanita tersebut tetap berpaling dari cucunya. Sebab Abdul Mutthalib hari ini di Makkah, esok di Yaman, dan lusa di Syam; dan siapa yang tahu, bisa jadi umurnya akan habis di tengah jalan sehingga bayi itu akan menjadi beban sia-sia bagi orang yang mengambilnya.
وَذَهَبَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بِمُحَمَّدٍ إِلَى اِمْرَأَةٍ أُخْرَى ، وَأَبَتِ الْمَرْأَةُ أَنْ تَأْخُذَهُ لَمَّا عَلِمَتْ أَنَّهُ يَتِيمٌ وَقَالَتْ :
Maka Abdul Mutthalib membawa Muhammad kepada wanita yang lain, namun wanita itu pun menolak untuk mengambilnya setelah mengetahui bahwa dia anak yatim, seraya berkata:
— إِنَّمَا نَرْجُو الْمَعْرُوفَ مِنْ أَبِي الْوَلَدِ ، فَأَمَّا أُمُّهُ فَمَاذَا عَسَى أَنْ تَصْنَعَ إِلَيْنَا ؟
— Sesungguhnya kami hanyalah mengharapkan imbalan kebaikan dari ayah sang anak, adapun ibunya, kebaikan apa yang bisa dia berikan kepada kami?
وَوَقَفَتْ آمِنَةُ عَلَى الْبُعْدِ تَنْظُرُ وَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدُورُ بِابْنِهَا الْحَبِيبِ عَلَى الْمَرَاضِعِ وَالنِّسْوَةُ يَجْفِلْنَ مِنْهُ لِأَنَّهُ يَتِيمٌ ، كَأَنَّ الْيُتْمَ عِنْدَهُنَّ بَلَاءٌ يَسْتَوْجِبُ الْإِعْرَاضَ وَالْفِرَارَ .
Aminah berdiri dari kejauhan menyaksikan Abdul Mutthalib berkeliling membawa putra tercintanya kepada para wanita menyusui, sementara para wanita itu menjauh darinya hanya karena dia seorang anak yatim, seolah-olah status yatim di mata mereka adalah sebuah kesialan atau petaka yang mengharuskan mereka untuk berpaling dan melarikan diri.
وَذَهَبُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ إِلَى حَلِيمَةَ وَقَدْ كَانَتْ ذَابِلَةً عُجْفَاءَ وَقَدْ وَصَلَ إِلَيْهَا نَبَأُ حَفِيدِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْيَتِيمِ ، وَتَقَدَّمَتْ آمِنَةُ خُطُوَاتٍ وَأَرْهَفَتْ سَمْعَهَا لِتَلْتَقِطَ مَا تَقُولُ السَّعْدِيَّةُ ، وَإِذَا بِصَوْتِ الْمَرْأَةِ يَقْرَعُ أُذُنَهَا وَيُحَرِّكُ أَشْجَانَهَا فَتَمْتَلِئُ بِالْعَبَرَاتِ مَآقِيهَا ، قَالَتْ حَلِيمَةُ :
Lalu Abdul Mutthalib menghampiri Halimah yang saat itu tampak layu lagi kurus, sementara berita tentang cucu yatim Abdul Mutthalib itu telah sampai ke telinganya. Aminah melangkah maju beberapa tindak dan menajamkan pendengarannya demi menangkap apa yang akan diucapkan oleh wanita as-Sa'diyyah itu. Tiba-tiba suara wanita itu mengetuk rongga telinganya dan menggetarkan perasaan terdalamnya hingga sudut matanya berlinang air mata haru. Halimah berkata lembut:
— يَتِيمٌ ؟ مَاذَا عَسَى أَنْ تَصْنَعَ لَنَا أُمُّهُ ؟ إِنَّمَا نَرْجُو الْمَعْرُوفَ مِنْ أَبِيهِ .
— Anak yatim? Kebaikan apa yang bisa diperbuat oleh ibunya untuk kami? Sesungguhnya kami hanyalah mendambakan imbalan kebaikan dari ayahnya.
عَرَضَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ حَفِيدَهُ عَلَى النِّسْوِةِ الْعَشْرِ فَأَبَيْنَ جَمِيعًا أَنْ يَأْخُذْنَهُ ، فَأَطْرَقَتْ آمِنَةُ وَسَارَتْ فِي خُطًى وَئِيدَةٍ حَزِينَةٍ وَالْأَسَى يَبْصُرُهَا حَصْرًا . وَلَوْ أَصْغَتْ إِلَى الْوُجُودِ لَالْتَقَطَتْ أُذُنَاهَا صَوْتَ السَّيِّدِ الْمَسِيحِ وَهُوَ يَقُولُ : « الْحَجَرُ الَّذِي رَفَضَهُ الْبَنَّاؤُونَ صَارَ حَجَرَ الزَّاوِيَةِ » ، وَلَتَهَلَّلَتْ نَفْسُهَا بِالْفَرَحِ وَلَانْقَشَعَتْ تِلْكَ الدُّمُوعُ الَّتِي بَلَّلَتْ رُوحَهَا .
Abdul Mutthalib menawarkan cucunya kepada kesepuluh wanita itu, namun mereka semua menolak untuk mengambilnya. Aminah pun menundukkan kepalanya dan berjalan dengan langkah gontai lagi duka, diselimuti kesedihan yang mengurung jiwanya. Kalaulah dia mau mendengarkan rahasia alam semesta, niscaya kedua telinganya akan menangkap gaung suara Al-Masih yang berkata: "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru." Maka tentulah jiwanya akan membubung penuh kegembiraan dan sirna sudah air mata yang sempat membasahi rona jiwanya.
وَدارَتْ بَرَكَةُ جَارِيَةُ عَبْدِ اللهِ الْحَبَشِيَّةُ عَلَى عَقِبَيْهَا وَهِيَ تَنْظُرُ إِلَى اِبْنِ عَبْدِ اللهِ فِي إِشْفَاقٍ وَقَدْ حَرَّكَ عَوَاطِفَهَا أَنَّ النِّسْوَةَ جَمِيعًا تَرَكْنَهُ لِمَوْتِ أَبِيهِ ، وَزَادَ فِي أَسَاهَا أَنَّ أَصْوَاتَ النِّسَاءِ رَاحَتْ تَرِنُّ فِي أَعْمَاقِهَا : يَتِيمٌ ؟ يَتِيمٌ ؟ يَتِيمٌ ؟ فَتَمَزَّقَ نِيَاطُ قَلْبِهَا .
Barakah, budak perempuan Ethiopia milik Abdullah, memutar tubuhnya ke belakang sembari memandangi putra Abdullah itu dengan penuh rasa iba. Perasaannya tersayat hebat menyaksikan fakta bahwa seluruh wanita menyusui tersebut mencampakkannya hanya karena kematian ayahnya. Kesedihannya semakin menjadi ketika gema suara para wanita itu terus terngiang-ngiang di lubuk hatinya: Anak yatim? Anak yatim? Anak yatim? Hingga serasa hancur berkeping-keping jantungnya.
وَرَاحَتْ حَلِيمَةُ السَّعْدِيَّةُ تَتَلَفَّتُ فَرَأَتْ أَنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنْ صَوَاحِبِهَا اِمْرَأَةٌ إِلَّا أَخَذَتْ رَضِيعًا غَيْرَهَا ، فَمَنْ ذَا الَّذِي يَدْفَعُ بِابْنِهِ إِلَى اِمْرَأَةٍ لَا تَجِدُ فِي ثَدْيِهَا مَا يُسْكِتُ بُكَاءَ ابْنِهَا ؟
Sementara itu, Halimah as-Sa'diyyah mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan dia melihat bahwa tidak tersisa seorang pun dari teman-temannya melainkan telah mendapatkan bayi susuan kecuali dirinya. Ya, siapakah gerangan yang mau menyerahkan anaknya kepada seorang wanita yang payudaranya sendiri kering kerontang bahkan tidak mampu meredakan tangisan bayinya sendiri?
وَأَجْمَعَ النِّسْوَةُ عَلَى الِانْطِلَاقِ ، فَذَهَبَتْ حَلِيمَةُ إِلَى زَوْجِهَا وَقَالَتْ :
Ketika para wanita serombongan telah sepakat bulat untuk segera berangkat pulang, Halimah pun menghampiri suaminya dan berkata tekad:
— وَاللهِ إِنِّي لَأَكْرَهُ أَنْ أَرْجِعَ مِنْ بَيْنِ صَوَاحِبِي لَيْسَ مَعِي رَضِيعٌ . لَأَنْطَلِقَنَّ إِلَى ذَلِكَ الْيَتِيمِ فَلَآخُذَنَّهُ .
— Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar tidak sudi pulang di antara teman-temanku tanpa membawa satu pun bayi susuan. Aku pasti akan kembali menemui anak yatim itu dan membawanya pulang bersama kita!
— لَا عَلَيْكِ أَنْ تَفْعَلِي ، فَعَسَى أَنْ يَجْعَلَ اللهُ لَنَا فِيهِ بَرَكَةً .
— Tidak mengapa engkau melakukannya, mudah-mudahan Allah menjadikan bagi kita keberkahan pada dirinya.
لَمْ تَتَحَرَّكْ شَفَقَةُ حَلِيمَةَ السَّعْدِيَّةِ لِذَلِكَ الْيَتِيمِ بَلْ كَرِهَتْ أَنْ تَعُودَ دُونَ رَضِيعٍ ، فَذَهَبَتْ وَأَخَذَتْهُ وَمَا أَخَذَتْهُ إِلَّا أَنَّهَا لَمْ تَجِدْ غَيْرَهُ .
Pada awalnya, bukanlah rasa iba Halimah as-Sa'diyyah yang bergerak untuk anak yatim itu, melainkan dia semata-mata tidak mau menanggung malu pulang tanpa membawa bayi susuan. Maka dia pergi mengambilnya, dan tidaklah dia mengambilnya melainkan karena dia tidak menemukan bayi yang lain selain dirinya.
وَعَادَتْ حَلِيمَةُ بِمُحَمَّدٍ إِلَى رَحْلِهَا وَأَلْقَمَتْهُ ثَدْيَهَا فَإِذَا بِهِ يَجُودُ بِاللَّبَنِ ، وَالْتَفَتَتْ حَلِيمَةُ إِلَى زَوْجِهَا الْحَارِثِ وَفِي عَيْنَيْهَا دَهْشَةٌ وَفَرَحٌ . وَشَرِبَ مُحَمَّدٌ
Halimah pun membawa kembali Muhammad ke kemah tempat transitnya lalu menyodorkan puting susunya, dan seketika itu juga payudaranya mengalirkan air susu dengan deras melimpah. Halimah menoleh ke arah suaminya, Al-Harits, dengan binar mata penuh keheranan sekaligus kegembiraan yang luar biasa. Muhammad pun menyusu
حَتَّى رَوِيَ وَأَعْطَتْ ثَدْيَهَا اِبْنَهَا فَشَرِبَ حَتَّى رَوِيَ .
hingga kenyang dan puas, kemudian Halimah menyodorkan payudara yang sebelahnya lagi kepada putra kandungnya sendiri, lalu dia pun menyusu hingga kenyang dan puas pula.
وَجَاءَ اللَّيْلُ وَنَامَ الصَّبِيُّ وَعُرِفَ الْوَسَنُ إِلَى عَيْنَيْ حَلِيمَةَ وَعَيْنَيِ الْحَارِثِ فَبَاتُوا بِخَيْرِ لَيْلَةٍ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ الصَّبَاحُ قَامَ الْحَارِثُ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ وَأَلْقَى نَظْرَةً عَلَى مُحَمَّدٍ فَأَلْفَاهُ هَادِئًا سَاكِنًا ، وَأَحَسَّ أَنَّ قَلْبَهُ قَدْ تَفَتَّحَ لِذَلِكَ الصَّبِيِّ فَالْتَفَتَ إِلَى حَلِيمَةَ وَقَالَتْ :
Malam pun tiba, bayi-bayi itu tidur dengan nyenyak, dan kantuk yang damai merayap lembut ke kedua mata Halimah beserta kedua mata Al-Harits, sehingga mereka melewatkan malam yang paling indah dan tenang. Ketika fajar menyingsing di pagi hari, Al-Harits bangun dengan hati yang sangat lapang gembira lalu melemparkan pandangannya ke arah Muhammad, mendapati bayi itu dalam keadaan tenang lagi damai. Al-Harits merasakan seakan-akan hatinya telah terbuka lebar menerima kehadiran bocah kecil itu, maka dia menoleh ke arah Halimah dan berkata takjub:
— وَاللهِ إِنِّي لَأَرَاكِ قَدْ أَخَذْتِ نَسَمَةً مُبَارَكَةً .
— Demi Allah, sungguh aku benar-benar melihat bahwa engkau telah mengambil jiwa (bocah) yang penuh dengan keberkahan.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi