BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Maulidur Rosul - Episode 23

MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Gema yang Ternoda: Talbiah Syirik dan Ratapan Hati yang Haus Tauhid

Padang Arafah menjadi saksi bisu betapa talbiah yang seharusnya suci telah dinodai oleh keangkuhan manusia. Di antara lautan manusia yang sesat, Zaid bin Amr berdiri dengan iman yang membara, memekikkan tauhid di tengah gemuruh kesyirikan yang menyesakkan dada.

جَاءَ زَيْدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ إِلَى الْكَعْبَةِ وَهُوَ رَاكِبٌ جَمَلَهُ ، وَأَلْقَى نَظْرَةً عَلَى الْأَصْنَامِ الَّتِي وُضِعَتْ فِي دَاخِلِ أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ وَحَوْلَهُ فَأَحَسَّ أَعْمَقَ الْأَسَى ، وَسَرَحَ بِهِ الْخَيَالُ فَرَأَى نَفْسَهُ فِي نَفَرٍ مِنْ قُرَيْشٍ : وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ وَعُثْمَانَ ابْنِ الْحُوَيْرِثِ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ جَحْشٍ بْنِ أُمَيْمَةَ بِنْتِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَقَدْ حَضَرُوا عِنْدَ وَثَنٍ لَهُمْ كَانُوا يَذْبَحُونَ عِنْدَهُ لِعِيدٍ مِنْ أَعْيَادِهِمْ وَقَدْ خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ وَقَالُوا :
Zaid bin Amru bin Nufail datang ke Ka'bah sambil menunggangi untanya, dan dia melemparkan pandangan ke arah berhala-berhala yang diletakkan di dalam dan di sekitar rumah pertama yang dibangun untuk manusia, lalu dia merasakan kesedihan yang paling mendalam. Khayalannya melayang bebas, lalu dia melihat dirinya berada di antara sekelompok orang Quraisy: Waraqah bin Naufal, Utsman ibnul Huwairits, dan Abdullah bin Jahsy bin Umamah binti Abdul Muthalib, yang kala itu menghadiri ritual berhala mereka di mana mereka biasa menyembelih sembelihan untuk salah satu hari raya mereka, lalu sebagian dari mereka menyendiri dengan sebagian yang lain dan berkata:
— تَصَادَقُوا وَلْيَكْتُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ .
— Saling jujurlah kalian dan hendaknya sebagian dari kalian merahasiakan sebagian yang lain.
فَقَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ :
Maka salah seorang di antara mereka berkata:
— تَعْلَمُنَّ وَاللهِ مَا قَوْمُكُمْ عَلَى شَيْءٍ ، لَقَدْ أَخْطَئُوا دِينَ إِبْرَاهِيمَ وَخَالَفُوهُ . وَثَنٌ يُعْبَدُ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ ؟ فَابْتَغُوا لِأَنْفُسِكُمْ .
— Demi Allah, kalian benar-benar mengetahui bahwa kaum kalian tidak berada di atas kebenaran sedikit pun, mereka telah keliru dan menyelisihi agama Ibrahim. Berhala disembah padahal tidak bisa memberi mudarat maupun manfaat? Maka carilah (kebenaran) untuk diri kalian sendiri.
وَرَأَى زَيْدٌ نَفْسَهُ وَقَدْ عَزَمَ عَلَى الْخُرُوجِ مِنْ مَكَّةَ لِيَطْلُبَ الدِّينَ الْقَيِّمَ ، وَرَأَى زَوْجَهُ صَفِيَّةَ بِنْتَ الْحَضْرَمِيِّ وَهِيَ تَنْسَلُّ إِلَى أَخِيهِ الْخَطَّابِ بْنِ نُفَيْلٍ وَتُوَسْوِسُ لَهُ بِرَغْبَةِ زَيْدٍ ، فَيُقْبِلُ الْخَطَّابُ يَرْغَى وَيُزْبِدُ وَيَتَوَعَّدُ وَيَبْذُلُ كُلَّ مَا فِي جُهْدِهِ لِيَحُولَ بَيْنَ أَخِيهِ وَالْخُرُوجِ لِالْتِمَاسِ دِينٍ غَيْرِ دِينِ آبَائِهِ .
Zaid melihat dirinya telah bertekad bulat untuk keluar dari Mekah demi mencari agama yang lurus, dan dia melihat istrinya, Shafiyah binti al-Hadrami, menyelinap menemui saudaranya (saudara sebapak Zaid), Al-Khaththab bin Nufail, untuk membisikkan perihal keinginan Zaid tersebut. Maka Al-Khaththab pun datang dengan berang, berbusa-busa penuh amarah, mengancam, dan mengerahkan segala kemampuannya demi menghalangi saudaranya agar tidak keluar mencari agama selain agama nenek moyang mereka.
وَفِي غَفْلَةٍ مِنَ الْخَطَّابِ وَضِيْقِهِ انْفَلَتَ إِلَى الشَّامِ وَرَاحَ يَطْلُبُ فِي أَهْلِ الْكِتَابِ الْأَوَّلِ دِينَ إِبْرَاهِيمَ ، ثُمَّ انْطَلَقَ إِلَى الْمَوْصِلِ وَجَابَ الْجَزِيرَةَ كُلَّهَا ، ثُمَّ أَقْبَلَ حَتَّى أَتَى الشَّامَ فَجَالَ فِيهَا حَتَّى أَتَى رَاهِبًا بِبِيعَةٍ مِنْ أَرْضِ الْبَلْقَاءِ فَسَأَلَهُ عَنِ
Di saat Al-Khaththab lengah dan dalam kesempitan ruang geraknya, Zaid meloloskan diri menuju Syam, lalu ia mulai mencari agama Ibrahim di antara para pemeluk kitab terdahulu (Ahli Kitab). Kemudian ia berangkat ke Mosul dan menjelajahi seluruh wilayah Jazirah, lalu kembali melangkah hingga tiba di Syam dan mengitarinya sampai mendatangi seorang rahib di sebuah gereja di tanah Balqa'. Maka ia bertanya kepada rahib itu tentang
الْحَنِيفِيَّةِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ ، فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ :
ajaran Hanif, yaitu agama Ibrahim. Maka rahib itu berkata kepadanya:
— إِنَّكَ لَتَسْأَلُ عَنْ دِينٍ مَا أَنْتَ بِوَاجِدٍ مَنْ يَحْمِلُكَ عَلَيْهِ الْيَوْمَ ، لَقَدْ دَرَسَ مَنْ عِلْمِهِ وَذَهَبَ مَنْ كُلِّ يَعْرِفُهُ .
— Sesungguhnya kamu sedang menanyakan suatu agama yang tidak akan kamu dapati seorang pun yang dapat membimbingmu kepadanya hari ini. Ilmunya telah usang dan lenyap dari setiap orang yang mengetahuinya.
— عَلَى أَيِّ دِينٍ كَانَ ؟
— Di atas agama apakah dia dahulu?
— كَانَ حَنِيفًا لَمْ يَكُنْ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا . كَانَ يُصَلِّي وَيَسْجُدُ إِلَى هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي بِبِلَادِكَ ، فَالْحَقْ بِبِلَادِكَ فَإِنَّ اللهَ يَبْعَثُ مِنْ قَوْمِكَ فِي بَلَدِكَ مَنْ يَأْتِي بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ الْحَنِيفِيَّةِ .
— Dia adalah seorang yang hanif, bukan seorang Yahudi dan bukan pula Nasrani. Dia dahulu salat dan bersujud menghadap ke Rumah (Ka'bah) yang ada di negerimu ini. Maka kembalilah ke negerimu, karena sesungguhnya Allah akan mengutus dari kaummu di negerimu seseorang yang akan membawa agama Ibrahim yang lurus (Hanifiyah).
وَرَأَى وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلٍ وَقَدْ تَنَصَّرَ ، وَعُثْمَانَ بْنَ الْحُوَيْرِثِ وَقَدِ اعْتَنَقَ الْمَسِيحِيَّةَ وَمَالَ إِلَى الرُّومِ وَقَدْ رَاحَتْ تُرَاوِدُهُ فِكْرَةُ الِانْطِلَاقِ إِلَى الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ ، ثُمَّ رَأَى نَفْسَهُ وَقَدْ كَرِهَ الدُّخُولَ فِي الْمَسِيحِيَّةِ أَوِ اعْتِنَاقِ الْيَهُودِيَّةِ وَآثَرَ أَنْ يُحَاوِلَ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ .
Dan Zaid melihat Waraqah bin Naufal telah memeluk agama Nasrani, serta Utsman bin Al-Huwairits telah menganut Kristen dan condong kepada bangsa Romawi hingga bayangan pemikiran untuk bertolak ke Konstantinopel mulai menghampirinya. Kemudian Zaid melihat dirinya sendiri enggan untuk masuk ke dalam agama Kristen ataupun menganut Yahudi, dan lebih memilih berusaha menyembah Allah di atas millah (ajaran) Ibrahim.
وَظَلَّ زَيْدٌ عَلَى ظَهْرِ جَمَلِهِ يَنْظُرُ إِلَى الْكَعْبَةِ وَهُوَ شَارِدٌ ، فَرَأَى نَفْسَهُ وَقَدْ عَادَ إِلَى مَكَّةَ لِيَدْعُوَ قَوْمَهُ إِلَى دِينِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ ، فَإِذَا بِأَخِيهِ الْخَطَّابِ يُغْلِظُ لَهُ فِي الْقَوْلِ وَيُحَرِّضُ النَّاسَ عَلَيْهِ وَآذَاهُ كَثِيرًا حَتَّى خَرَجَ مِنْهُ إِلَى أَعْلَى مَكَّةَ . وَلَمْ يَقْنَعِ الْخَطَّابُ بِذَلِكَ بَلْ وَكَّلَ بِهِ شَبَابًا مِنْ قُرَيْشٍ وَسُفَهَاءَ مِنْ سُفَهَائِهِمْ وَقَالَ لَهُمْ : « لَا تَتْرُكُوهُ يَدْخُلْ » . وَرَأَى زَيْدٌ نَفْسَهُ وَهُوَ يَدْخُلُ مَكَّةَ سِرًّا يَتَلَفَّتُ خَشْيَةَ بَطْشِ أَخِيهِ بِهِ .
Zaid terus berada di atas punggung untanya menatap ke arah Ka'bah seraya melamun, lalu ia melihat dirinya telah kembali ke Mekah untuk menyeru kaumnya kepada agama bapak mereka, Ibrahim. Tiba-tiba saudaranya, Al-Khaththab, mengata-ngatainya dengan kasar dan memprovokasi orang-orang untuk memusuhinya, serta menyakitinya dengan sangat keji hingga Zaid terusir dari sisinya menuju daerah pinggiran atas Mekah. Al-Khaththab tidak merasa puas dengan hal itu, bahkan dia menugaskan para pemuda Quraisy dan orang-orang bodoh di antara mereka seraya berkata kepada mereka: "Jangan biarkan dia masuk!" Zaid pun melihat dirinya menyelinap masuk ke Mekah secara sembunyi-sembunyi sambil menoleh ke sana kemari karena takut akan siksaan kejam saudaranya terhadap dirinya.
وَسَرَحَ خَيَالُهُ فَإِذَا بِهِ يَتَذَكَّرُ ذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي جَاءَ فِيهِ إِلَى مَكَّةَ وَالنَّاسُ يَذْبَحُونَ الذَّبَائِحَ لِآلِهَتِهِمْ وَيَذْكُرُونَ عَلَيْهَا أَسْمَاءَ تِلْكَ الْآلِهَةِ ، فَقَالَ لَهُمْ :
Khayalannya pun melayang kembali, tiba-tiba ia teringat hari itu, hari di mana ia datang ke Mekah sementara orang-orang sedang menyembelih hewan-hewan kurban untuk berhala-berhala mereka dan menyebut nama tuhan-tuhan tersebut atas sembelihannya, lalu ia berkata kepada mereka:
— الشَّاةُ خَلَقَهَا اللهُ وَأَنْزَلَ لَهَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً وَأَنْبَتَ لَهَا مِنَ الْأَرْضِ ، وَلَمْ تَذْبَحُوهَا عَلَى غَيْرِ اسْمِ اللهِ ؟
— Domba itu, Allah-lah yang telah menciptakannya, menurunkan air dari langit untuknya, dan menumbuhkan rumput dari bumi untuknya, lalu mengapa kalian menyembelihnya atas nama selain nama Allah?
كَانَ يَوْمًا قَاسِيًا شَدِيدًا فَقَدْ قَامَ إِلَيْهِ الرِّجَالُ وَأَوْسَعُوهُ ضَرْبًا حَتَّى كَادَتْ تُزْهَقُ رُوحُهُ ، إِنَّهُ لَا يَنْسَى ذَلِكَ الْيَوْمَ وَإِنَّهُ لَيَعْجَبُ لِقَوْمِهِ لِأَنَّهُ يَدْعُوهُمْ إِلَى دِينِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ ، بَيْنَا يَسِيرُ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ وَعُثْمَانُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ جَحْشٍ آمِنِينَ وَقَدْ خَرَجُوا عَنْ دِينِ الْقَوْمِ وَاعْتَنَقُوا النَّصْرَانِيَّةَ .
Itu adalah hari yang sangat kejam dan berat, karena orang-orang melabraknya dan memukulinya bertubi-tubi hingga nyawanya hampir melayang. Dia tidak akan pernah melupakan hari itu, dan dia benar-benar merasa heran terhadap kaumnya karena dia menyeru mereka kepada agama bapak mereka, Ibrahim, sementara Waraqah bin Naufal, Utsman bin Al-Huwairits, dan Abdullah bin Jahsy dapat berjalan dengan aman padahal mereka juga telah keluar dari agama kaumnya dan memeluk agama Kristen.
وَرَفَعَ زَيْدٌ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَقَالَ :
Dan Zaid mengangkat kedua tangannya ke langit lalu berseru:
— اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْهَدُكَ أَنِّي عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ . اللَّهُمَّ إِنِّي لَوْ أَعْلَمُ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَيْكَ عَبَدْتُكَ وَلَكِنِّي لَا أَعْلَمُ .
— Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku berada di atas agama Ibrahim. Ya Allah, seandainya aku mengetahui cara beribadah yang paling Engkau cintai, niscaya aku akan menyembah-Mu dengan cara itu, tetapi aku tidak mengetahuinya.
ثُمَّ سَجَدَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَانْصَرَفَ رَاضِيًا وَكُلُّ خَلْجَةٍ مِنْ خَلَجَاتِ نَفْسِهِ تَقُولُ :
Kemudian ia bersujud di atas kendaraannya dan beranjak pergi dengan hati yang rida, sementara setiap getaran dari lubuk jiwanya berkata:
— إِلَهِي إِلَهُ إِبْرَاهِيمَ ، وَدِينِي دِينُ إِبْرَاهِيمَ .
— Tuhanku adalah Tuhan Ibrahim, dan agamaku adalah agama Ibrahim.
وَجَاءَ أَوَانُ الْحَجِّ فَأَقْبَلَ الْعَرَبُ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَيَذْبَحُونَ عِنْدَ إِسَافَ وَيَتَمَسَّحُونَ بِالْأَصْنَامِ ، وَأَقْبَلَ زَيْدُ بْنُ نُفَيْلٍ وَدَخَلَ الْكَعْبَةَ ثُمَّ قَالَ :
Dan tibalah musim haji, maka bangsa Arab berdatangan dari segenap penjuru yang jauh, mengitari Baitul Atiq (Ka'bah), menyembelih kurban di dekat berhala Isaf, serta mengusap berhala-berhala itu. Lalu datanglah Zaid bin Nufail masuk ke dalam Ka'bah kemudian berseru:
— لَبَّيْكَ حَقًّا حَقًّا ! تَعَبُّدًا وَرِقًّا ! عُذْتُ بِمَا عَاذَ بِهِ إِبْرَاهِيمُ وَهُوَ قَائِمٌ ، إِذْ قَالَ إِلَهِي أَنْفِي لَكَ عَانٍ رَاغِمٌ ، مَهْمَا تَجَشَّمْنِي فَإِنِّي جَاسِمٌ ، الْبِرَّ أَبْغِي لَا أُحَالُ ، لَيْسَ مُهَجِّرٌ ( فِي شِدَّةِ الْحَرِّ ) كَمَنْ قَالَ .
— Aku penuhi panggilan-Mu dengan sebenar-benarnya! Sebagai ibadah dan penghambaan diri! Aku berlindung dengan apa yang digunakan Ibrahim untuk berlindung ketika ia berdiri, tatkala ia berkata: "Wahai Tuhanku, hidungku tunduk patuh dan pasrah kepada-Mu, apa pun beban yang Engkau berikan kepadaku niscaya aku akan memikulnya dengan tegap, kebajikanlah yang aku cari dan aku tidak akan berpaling, tidaklah sama orang yang berjalan di terik siang (dalam kepayahan) dengan orang yang sekadar berucap."
وَوَقَعَ بَصَرُهُ عَلَى هُبَلَ وَقَدْ خَفَّ النَّاسُ إِلَى كَاهِنِهِ لِيَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ عِنْدَهُ ، فَقَالَ :
Pandangannya lalu tertuju pada berhala Hubal ketika orang-orang bergegas menemui dukun penunggunya untuk mengundi nasib dengan anak panah (azlam) di sisinya, maka Zaid berkata:
— هَذِهِ قِبْلَةُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ . لَا أَعْبُدُ حَجَرًا وَلَا أُصَلِّي لَهُ وَلَا آكُلُ مَا ذُبِحَ لَهُ وَلَا أَسْتَقْسِمُ بِالْأَزْلَامِ ، وَإِنَّمَا أُصَلِّي لِهَذَا الْبَيْتِ حَتَّى أَمُوتَ .
— Ini adalah kiblat Ibrahim dan Ismail. Aku tidak menyembah batu, tidak salat kepadanya, tidak memakan apa yang disembelih untuknya, dan tidak mengundi nasib dengan anak panah, melainkan aku hanya akan salat menghadap Rumah ini sampai aku mati.
وَوَقَفَ الْحُمْسُ يُقَدِّمُونَ ثِيَابَ الطَّوَافِ لِلنَّاسِ إِعَارَةً أَوْ كِرَاءً فَقَدْ أَذَاعُوا بَيْنَ
Dan orang-orang Al-Hums berdiri meminjamkan atau menyewakan pakaian tawaf kepada para peziarah, karena mereka telah menyebarkan doktrin di antara
الْحَجِيجِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ الطَّوَافُ فِي ثِيَابٍ اقْتُرِفَتْ فِيهَا الْخَطَايَا ، وَرَاحَ الْفُقَرَاءُ يَطُوفُونَ عُرَاةً ، أَمَّا الَّذِينَ طَافُوا فِي ثِيَابِهِمْ فَقَدْ خَلَعُوا ثِيَابَهُمْ بَعْدَ الطَّوَافِ وَطَرَحُوهَا لَقًى لِتَبْلَى مِنْ وَطْأَةِ الْأَقْدَامِ وَلَفْحِ الشَّمْسِ وَهُبُوبِ الرِّيَاحِ .
para jemaah haji bahwa tidak boleh bertawaf dengan mengenakan pakaian yang di dalamnya telah diperbuat dosa-dosa, sehingga orang-orang miskin terpaksa bertawaf dalam keadaan telanjang bulat. Adapun orang-hari yang bertawaf dengan pakaian mereka sendiri, mereka melepas pakaian itu seusai tawaf dan membuangnya begitu saja sebagai barang buangan (laqa) agar hancur usang akibat terinjakan kaki, sengatan terik matahari, dan hempasan angin.
وَرَاحَ الْحَجِيجُ يَسْعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ إِحْيَاءً لِذِكْرَى هَرْوَلَةِ هَاجَرَ لَمَّا كَانَتْ تَبْحَثُ عَنْ مَاءٍ لِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ الَّذِي كَانَ يَمُوتُ عَطَشًا . وَأَقْبَلَ النَّاسُ عَلَى مَاءِ زَمْزَمَ الَّذِي وَضَعَهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فِي أَحْوَاضٍ مِنْ أَدَمٍ وَبَثَّ فِيهِ التَّمْرَ وَالزَّبِيبَ .
Dan para jemaah haji melakukan sai di antara Shafa dan Marwah untuk menghidupkan kembali kenangan lari-lari kecil Hajar ketika ia mencari air untuk putranya, Ismail, yang kala itu hampir mati kehausan. Orang-orang pun berbondong-bondong mendatangi air zamzam yang telah disediakan oleh Abdul Muthalib di dalam wadah-wadah dari kulit, yang di dalamnya telah dicampurkan kurma dan kismis.
وَرَاحَ النَّاسُ يُمَارِسُونَ شَعَائِرَ الْحَجِّ الَّتِي بَقِيَتْ مِنْ أَيَّامِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ وَقَدِ اعْتَوَرَهَا مَا اعْتَوَرَ الدِّينَ الْقَيِّمَ مِنْ تَبْدِيلٍ ، فَقَدْ وُضِعَتِ الْأَصْنَامُ فِي الْأَمَاكِنِ الْمُقَدَّسَةِ عَلَى الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَعَلَى جَبَلِ ثَبِيرٍ ، بَلْ تَكَدَّسَتِ الْأَصْنَامُ فِي جَوْفِ مَنَارَةِ التَّوْحِيدِ تَكْدِيسًا .
Orang-orang terus menjalankan syiar-syiar haji yang tersisa sejak zaman bapak mereka, Ibrahim Al-Khalil, meskipun syiar tersebut telah mengalami perubahan besar seiring dengan penyimpangan yang menimpa agama yang lurus ini. Berhala-berhala telah ditempatkan di tempat-tempat suci di atas Shafa dan Marwah serta di atas Gunung Thabir, bahkan berhala-berhala itu menumpuk sangat banyak di dalam rongga Ka'bah yang sejatinya merupakan menara tauhid.
كَانَ إِبْرَاهِيمُ يُلَبِّي فِي الْحَجِّ : « لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ! لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ ! » . فَلَمَّا عَرَفَ الْعَرَبُ عِبَادَةَ الْأَوْثَانِ تَبَدَّلَتِ التَّلْبِيَةُ لِتَتَّفِقَ مَعَ مُعْتَقَدِهِمِ الْجَدِيدِ ، فَأَضَافُوا إِلَى تَلْبِيَةِ التَّوْحِيدِ تَلْبِيَةَ الشِّرْكِ فَتَجَاوَبَتْ فِي عَرَفَاتٍ نِدَاءَاتُ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْيُونَ شَعَائِرَ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ :
Dahulu Nabi Ibrahim mengucapkan talbiah dalam hajinya: "Labaikallahumma labaik! Labaika laa syariika lak!" Namun ketika bangsa Arab mulai mengenal penyembahan berhala, kalimat talbiah itu pun diubah agar selaras dengan keyakinan baru mereka. Mereka menambahkan talbiah syirik ke dalam talbiah tauhid, sehingga di padang Arafah saling bersahut-sahutan seruan kaum musyrik yang mana mereka mengira bahwa mereka sedang menghidupkan syiar-syiar Ibrahim Al-Khalil:
— لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ! لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ ! إِلَّا شَرِيكٌ هُوَ لَكَ ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ .
— Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu! Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu! Kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu, Engkau menguasainya dan menguasai apa yang dimilikinya.
وَضَاقَ زَيْدٌ بِذَلِكَ الشِّرْكِ وَهُوَ وَاقِفٌ مَعَهُمْ عَلَى عَرَفَاتٍ وَقَدِ الْتَصَقَ كَتِفُهُ بِأَكْتَافِ سَادَاتِ قُرَيْشٍ وَأَشْرَافِ الْعَرَبِ ، وَلَكِنَّهُ مَا كَانَ قَادِرًا عَلَى أَنْ يَفْعَلَ شَيْئًا . أَيَسْتَطِيعُ أَنْ يُكْمِمَ هَذِهِ الْأَفْوَاهَ الَّتِي تَضِجُّ بِتَلْبِيَةِ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ وَقَدْ دَنَّسَ تَوْحِيدَهَا الرَّائِعَ شِرْكٌ مُبِينٌ ؟ إِنَّهُ أَعْجَزُ مِنْ أَنْ يَقِفَ فِي وَجْهِ ذَلِكَ الطُّوفَانِ مِنَ
Dan dada Zaid terasa sesak akibat kesyirikan tersebut ketika ia berdiri bersama mereka di Arafat, di mana pundaknya berhimpitan langsung dengan pundak para pembesar Quraisy dan kaum bangsawan Arab, namun ia tidak berdaya untuk melakukan apa pun. Akankah ia mampu membungkam mulut-mulut yang bergemuruh riuh dengan talbiah Ibrahim Al-Khalil ini, padahal ketauhidan yang agung di dalamnya telah ternoda oleh kesyirikan yang nyata? Sesungguhnya ia terlalu lemah untuk membendung arus banjir bandang dari
الْبَشَرِ الَّذِي اخْتَلَطَ فِي وِجْدَانِهِ الْكُفْرُ بِالْإِيمَانِ . وَتَذَكَّرَ قُرَيْشًا وَهِيَ تَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ وَتَقُولُ : « وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى ، وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى ، فَإِنَّهُنَّ الْغَرَانِيقُ الْعُلَى ، وَإِنَّ شَفَاعَتَهُنَّ لَتُرْتَجَى » . فَامْتَلأَ فُؤَادُهُ أَسًى وَحَسْرَةً عَلَى قَوْمِهِ الَّذِينَ يَتَشَفَّعُونَ إِلَى اللهِ بِأَصْنَامٍ لَا تَنْفَعُ وَلَا تَضُرُّ .
umat manusia yang telah bercampur aduk antara kekufuran dan keimanan di dalam lubuk jiwanya. Ia pun teringat kaum Quraisy saat mengitari Ka'bah sembari melantunkan: "Demi Latta dan Uzza, serta Manat yang ketiga yang lain, karena sesungguhnya mereka adalah burung-burung putih yang mulia (perantara yang tinggi), dan sesungguhnya syafaat mereka benar-benar sangat diharapkan." Maka penuhlah hatinya dengan rasa sedih dan duka mendalam atas kaumnya yang mencari perantara syafaat kepada Allah melalui berhala-berhala yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat.
وَرَاحَتْ تَلْبِيَةُ الشِّرْكِ تَرِنُّ فِي أُذُنِهِ وَتُؤْلِمُ رُوحَهُ ، وَأَرَادَ أَنْ يَصُمَّ أُذُنَيْهِ عَنْ تِلْكَ التَّلْبِيَاتِ الَّتِي ظَاهِرُهَا وَبَاطِنُهَا عَذَابٌ فَارْتَفَعَ صَوْتُهُ يُرَدِّدُ :
Gema talbiah syirik itu terus berdengung di telinganya dan menyayat jiwanya, lalu ia ingin menyumbat kedua telinganya dari talbiah-talbiah yang lahir dan batinnya merupakan azab tersebut, maka ia pun mengeraskan suaranya seraya mengulang-ulang:
— لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَلَا نِدَّ لَكَ ! .. لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَلَا نِدَّ لَكَ !
— Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu dan tidak ada tandingan bagi-Mu! .. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu dan tidak ada tandingan bagi-Mu!
وَلَكِنَّ صَوْتَهُ ضَاعَ بَيْنَ الْأَصْوَاتِ الْمُشْرِكَةِ الَّتِي كَانَتْ تَتَصَاعَدُ مُدَوِّيَةً تُرِيدُ أَنْ تَبْلُغَ السَّمَاءَ .
Akan tetapi, suaranya lenyap tenggelam di antara suara-suara kaum musyrik yang membubung bergemuruh kencang seolah hendak menggapai langit.
كَانَ عَلَى عَرَفَاتٍ عَرَبٌ مِنَ الْحِيرَةِ وَالشَّامِ وَيَثْرِبَ وَثَمُودَ وَتَيْمَاءَ وَمِنْ كُلِّ قَبَائِلِ الْحِجَازِ وَالْيَمَنِ قَدْ جَاءُوا كُلُّهُمْ لِيُؤَدُّوا فَرِيضَةَ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ . وَكَانَ مِنْهُمْ حُنَفَاءُ يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَحْدَهُ وَإِنْ كَانُوا لَا يَعْرِفُونَ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ يَعْبُدُونَهُ . وَصَابِئَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ وَصَابِئَةٌ يَعْبُدُونَ الْمَلَائِكَةَ وَصَابِئَةٌ يَعْبُدُونَ الْكَوَاكِبَ وَالنُّجُومَ . وَكَانَ فِيهِمْ مَنْ يَعْبُدُ الْأَصْنَامَ وَهُوَ يَعْتَقِدُ أَنَّهَا رَمْزٌ لِقُوَى فَوْقَ قُوَى الْبَشَرِ ، وَيُؤْمِنُ بِأَنَّهَا تُدَبِّرُ وَتُدِيرُ سَيْرَ الطَّبِيعَةِ وَسِرَّ حَيَاةِ الْإِنْسَانِ ، وَمِنْ يَعْبُدُهَا وَهُوَ يَعْرِفُ أَنَّهَا رَمْزٌ لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ فَقَدْ كَانَتْ عِبَادَةُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ فِي الْعَرَبِ قَبْلَ أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِبْرَاهِيمُ الْخَلِيلُ إِلَى اللهِ ، وَقَدِ ارْتَدُّوا إِلَيْهَا لَمَا طَالَ عَلَيْهِمُ الْعَهْدُ وَطُمِرَتْ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ جَوْهَرَ دِينِ الْإِسْلَامِ . مِلَّةِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ .
Di padang Arafah terdapat bangsa Arab yang berasal dari Al-Hirah, Syam, Yatsrib, Tsamud, Taima', serta dari segenap kabilah Hijaz dan Yaman, mereka semua datang untuk menunaikan kewajiban ibadah bapak mereka, Ibrahim Al-Khalil. Di antara mereka ada kaum Hunafa' yang beriman kepada Allah semata walaupun mereka tidak mengetahui tata cara beribadah kepada-Nya secara pasti. Ada pula kaum Shabi'ah yang menyembah Allah, kaum Shabi'ah yang menyembah malaikat, serta kaum Shabi'ah yang menyembah gugusan bintang dan planet. Di antara mereka juga ada yang menyembah berhala dengan keyakinan bahwa berhala tersebut merupakan perlambang kekuatan yang berada di atas kekuatan manusia, serta percaya bahwa berhala-berhala itu mengatur jalannya alam semesta dan rahasia kehidupan manusia. Ada pula yang menyembahnya seraya menyadari bahwa ia merupakan simbol bagi matahari dan bulan, karena pemujaan terhadap matahari dan bulan memang telah ada di kalangan bangsa Arab sebelum Ibrahim Al-Khalil menuntun mereka kepada Allah, lalu mereka kembali terjerumus kepadanya setelah berlalunya kurun waktu yang amat panjang serta dongeng-dongeng purbakala telah mengubur dalam-dalam hakikat inti dari agama Islam, yaitu millah bapak mereka, Ibrahim.
كَانَ الْعَرَبُ الَّذِينَ جَاءُوا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَقِفُوا جَنْبًا إِلَى جَنْبٍ فِي عَرَفَاتٍ يُؤْمِنُونَ جَمِيعًا بِرَبِّ الْبَيْتِ . وَمَا تَحَمَّلُوا مَتَاعِبَ السَّفَرِ إِلَى الْحَرَمِ إِلَّا لِاسْتِمَالَتِهِ وَاسْتِرْضَائِهِ لَعَلَّهُ يَرْضَى عَنْهُمْ وَلَكِنَّهُمْ ضَلُّوا الطَّرِيقَ إِلَيْهِ ، تَقَرَّبُوا إِلَيْهِ بِالْمَلَائِكَةِ
Bangsa Arab yang berdatangan dari segenap penjuru yang jauh untuk berdiri bahu-membahu di padang Arafah itu seluruhnya mengimani eksistensi Tuhan pemilik Ka'bah. Dan tidaklah mereka memikul kepayahan perjalanan menuju Tanah Haram melainkan demi mengambil hati-Nya dan mencari keridaan-Nya agar Dia rida kepada mereka, akan tetapi mereka telah tersesat jalan untuk menuju kepada-Nya, mereka justru mendekatkan diri kepada-Nya melalui perantaraan malaikat
وَالْكَوَاكِبِ وَالنُّجُومِ ، وَبِالْأَصْنَامِ وَبِالْأَوْثَانِ ، وَجَعَلُوا لَهُ أَنْدَادًا وَشُرَكَاءَ وَبَنَاتٍ يَشْفَعُونَ لَهُمْ وَيُقَرِّبُونَ إِلَيْهِ زُلْفَى .
gugusan bintang, planet, berhala batu, serta berhala kayu. Mereka membuat tandingan-tandingan, sekutu-sekutu, serta anak-anak perempuan bagi-Nya yang mereka harapkan dapat memberikan syafaat serta mendekatkan diri mereka kepada-Nya sedekat-dekatnya.
وَعَلَى عَرَفَاتٍ نَسِيَ عَرَبُ الْحِيرَةِ أَنَّهُمْ عَرَبُ الْفُرْسِ ، وَنَسِيَ عَرَبُ الْغَسَاسِنَةِ أَنَّهُمْ عَرَبُ الرُّومِ ، وَنَسِيَ عَرَبُ الْقَبَائِلِ مَا بَيْنَهُمْ مِنْ عَدَاوَاتٍ وَإِحَنٍ ، وَتَوَجَّهُوا جَمِيعًا بِقُلُوبِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ وَإِنْ كَانَتْ أَلْسِنَتُهُمْ تُلَبِّي تَلْبِيَاتٍ تَضِلُّهُمْ عَنْ سَبِيلِ اللهِ .
Dan di padang Arafah, bangsa Arab dari Al-Hirah lupa bahwa mereka berada di bawah pengaruh bangsa Persia, bangsa Arab dari Ghassan (Ghassanilah) lupa bahwa mereka berada di bawah pengaruh bangsa Romawi, serta seluruh kabilah Arab melupakan permusuhan dan dendam kesumat yang membara di antara sesama mereka. Mereka semua menghadapkan hati mereka ke langit, walaupun lidah mereka mengumandangkan talbiah-talbiah sesat yang memalingkan mereka dari jalan Allah.
وَرَاحَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَبَنُوهُ يَسْهَرُونَ عَلَى رَاحَةِ حَجِيجِ بَيْتِ اللهِ يُقَدِّمُونَ الطَّعَامَ لِمَنْ يَحْتَاجُ إِلَى طَعَامٍ ، وَيَسْقُونَ النَّاسَ وَهُمْ يَلْبُونَ تَلْبِيَةَ قُرَيْشٍ وَإِنِ اخْتَلَفَتْ فِكْرَةُ كُلِّ مِنْهُمْ عَنِ الْآلِهَةِ ، كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يُؤْمِنُ بِبَعْضِ مَا سَمِعَهُ مِنْ يَهُودِ يَثْرِبَ أَيَّامَ كَانَ صَبِيًّا ، وَكَانَ يَعْتَقِدُ مِثْلَهُمْ أَنْ لَيْسَ بَعْدَ هَذِهِ الْحَيَاةِ حَيَاةٌ ، وَأَنَّ الْمَرْءَ يُجْزَى بِأَعْمَالِهِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا ؛ وَلَكِنَّ تَجَارِبَ الْأَيَّامِ عَلَّمَتْهُ أَنْ بَعْدَ هَذِهِ الْحَيَاةِ حَيَاةً أُخْرَى يُحَاسَبُ فِيهَا الْمَرْءُ عَلَى أَعْمَالِهِ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ . وَكَانَ بَعْضُ قَوْمِهِ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ فَكَانُوا يَرْبُطُونَ نَاقَةَ الْمَيِّتِ عِنْدَمَا يَمُوتُ إِلَى قَبْرِهِ حَتَّى تَمُوتَ مَعَهُ لِكَيْ يَمْتَطِيَهَا يَوْمَ الْحِسَابِ وَيَسِيرَ بِهَا إِلَى الصِّرَاطِ .
Abdul Muthalib beserta anak-anaknya sibuk berjaga demi kenyamanan para jemaah haji Baitullah, menyediakan makanan bagi siapa saja yang membutuhkannya, serta memberi minum orang-orang ketika mereka mengumandangkan kalimat talbiah Quraisy, meski pandangan masing-masing dari mereka mengenai tuhan sesembahan berbeda-beda. Abdul Muthalib mempercayai sebagian dari apa yang pernah ia dengar dari kaum Yahudi Yatsrib semasa ia masih kanak-kanak, di mana ia dahulu mengira seperti mereka bahwa tidak ada kehidupan lagi setelah kehidupan dunia ini, dan seseorang hanya akan dibalas sesuai amal perbuatannya di dunia ini saja. Akan tetapi, pengalaman hidup seiring waktu mengajarkan kepadanya bahwa setelah kehidupan ini ada kehidupan lain di mana manusia akan dihisab atas segala perbuatannya; jika baik maka dibalas kebaikan, dan jika buruk maka dibalas keburukan. Sebagian dari kaumnya ada pula yang memercayai adanya akhirat, sehingga mereka menambatkan unta milik orang yang meninggal di sisi kuburannya dan membiarkannya hingga mati kelaparan bersamanya, dengan tujuan agar orang tersebut dapat menunggangi unta itu pada hari perhitungan (hisab) kelak dan berjalan dengannya melintasi jembatan (shirat).
وَكَانَ أَبُو طَالِبٍ وَأَبُو لَهَبٍ وَالْحَارِثُ وَالزُّبَيْرُ يَعْتَقِدُونَ أَنْ لَيْسَ بَعْدَ هَذِهِ الْحَيَاةِ حَيَاةٌ ، كَانُوا مِنْ شَبَابِ قُرَيْشٍ الَّذِينَ أَنْكَرُوا الْبَعْثَ . وَقَدْ كَانَ كَثِيرٌ مِنْ شَبَابِ مَكَّةَ مِثْلَهُمْ يَعْكُفُونَ عَلَى شُرْبِ الْخَمْرِ وَعَلَى اللَّهْوِ وَلَا يَتَصَوَّرُونَ أَنْ تِلْكَ الْأَصْنَامَ الَّتِي يَعْبُدُونَهَا قَادِرَةٌ عَلَى أَنْ تُحْيِيَهُمْ مَرَّةً أُخْرَى بَعْدَ أَنْ يَكُونُوا عِظَامًا وَرُفَاتًا ، وَكَانُوا يَتَقَرَّبُونَ إِلَى آلِهَتِهِمْ بِالْقَرَابِينِ وَالدَّعَوَاتِ لِتَجْزِيَهُمْ عَلَى أَعْمَالِهِمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا .
Sementara Abu Thalib, Abu Lahab, Al-Harits, dan Az-Zubair meyakini bahwa tidak ada kehidupan lagi setelah kehidupan dunia ini, mereka termasuk barisan pemuda Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (ba'ats). Banyak dari pemuda Mekah yang bersikap seperti mereka, gemar menghabiskan waktu untuk menenggak khamar serta berfoya-foya dalam kelalaian, dan mereka tidak dapat membayangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu akan mampu menghidupkan mereka kembali setelah mereka hancur menjadi tulang-belulang dan debu. Mereka mempersembahkan kurban serta doa-doa kepada tuhan-tuhan mereka semata-mata agar dibalas atas amal perbuatan mereka selama menjalani kehidupan di dunia saja.
وَكَانَ الْعَبَّاسُ فِي كَنَفِ أُمِّهِ يَنْتَظِرُ أَوْبَةَ أَبِيهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مِنَ الْحَجِّ ، وَكَانَ
Dan Al-Abbas berada dalam asuhan ibunya menunggu kepulangan ayahnya, Abdul Muthalib, dari pelaksanaan ibadah haji, dan kala itu
حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بَيْنَ ذِرَاعَيْ هَالَةَ بِنْتِ وُهَيْبٍ لَا يَدْرِي مَا الْحَجُّ وَمَا الْبَيْتُ وَمَا الْآلِهَةُ ، وَكَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ فِي بَنِي سَعْدٍ تُرْضِعُهُ حَلِيمَةُ وَيَتَطَلَّعُ إِلَى وُجُوهِ إِخْوَتِهِ مِنَ الرَّضَاعَةِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ وَأَنِيسَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ وَالشَّيْمَاءِ ، وَكَانَتْ تَحْضُنُهُ مَعَ أُمِّهَا وَقَدْ تَعَلَّقَ قَلْبُهَا بِحُبِّ الْوَلِيدِ الَّذِي جَاءَهُمْ مِنْ حَرَمِ اللهِ .
Hamzah bin Abdul Muthalib berada di dalam dekapan Halah binti Wuhaib, belum mengerti apa itu haji, apa itu Ka'bah, dan apa itu berhala sesembahan. Sementara Muhammad bin Abdullah berada di perkampungan Bani Sa'ad dalam susuan Halimah, seraya menatap wajah saudara-saudara sepersusuannya: Abdullah bin Al-Harits, Anisah binti Al-Harits, dan Asy-Syaima'. Asy-Syaima' turut merawatnya bersama ibunya dan hatinya telah terpikat erat oleh rasa cinta mendalam kepada bayi mungil yang datang kepada mereka dari tanah suci (Haram) Allah.
وَرَاحَتْ قَبَائِلُ الْعَرَبِ تَضِجُّ بِالتَّلْبِيَةِ وَالشَّمْسُ تَمِيلُ لِلْغُرُوبِ وَقَدْ أَطَالُوا النَّظَرَ إِلَى أَصْنَامِ آلِهَتِهِمُ الَّتِي جَلَبُوهَا مَعَهُمْ . وَلَوْ أَصَاخُوا سَمْعَهُمْ إِلَى دُعَاءِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ يَوْمَ أَنْ جَاءَ إِلَى الْوَادِي الْمُقَدَّسِ : « وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ . رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ » لَحَطَّمُوا آلِهَتَهُمْ ، وَلَكِنْ طَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ وَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ فَجَعَلُوا للهِ أَنْدَادًا .
Kabilah-kabilah Arab riuh bergemuruh mengumandangkan talbiah di saat matahari mulai condong terbenam, seraya memandangi berhala sesembahan yang mereka bawa bersama mereka dalam waktu yang lama. Seandainya mereka mau memasang telinga mendengarkan doa bapak mereka, Ibrahim Al-Khalil, pada hari ketika ia menginjakkan kaki di lembah yang suci: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,'" niscaya mereka akan menghancurkan berhala-berhala mereka sendiri. Akan tetapi, masa yang sangat panjang telah melintasi mereka sehingga hati mereka menjadi membatu, lalu mereka membuat tandingan-tandingan bagi Allah.
وَرَاحَتِ الشَّمْسُ تَغِيبُ فِي الْأُفُقِ الْبَعِيدِ فَانْطَلَقَتْ مِنَ الْحَنَاجِرِ ابْتِهَالَاتٌ وَخَفَقَتِ الْقُلُوبُ بَيْنَ الصُّدُورِ وَانْهَمَرَتِ الدُّمُوعُ مِنَ الْعُيُونِ وَتَرَقَّبَ النَّاسُ أَنْ تَتَجَلَّى عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ . وَمَا إِنْ غَاصَتِ الشَّمْسُ فِي رِمَالِ الصَّحْرَاءِ وَغَابَتْ عَنِ الْعُيُونِ حَتَّى نَفَرَ الْحُجَّاجُ إِلَى مِنًى وَهُمْ يَلْبُونَ تَلْبِيَةَ الشِّرْكِ ، وَانْطَلَقَ زَيْدُ بْنُ نُفَيْلٍ مِنْ عَرَفَةَ مَاشِيًا وَهُوَ يَقُولُ :
Matahari perlahan tenggelam di ufuk yang jauh, lalu meluncurlah untaian doa dan kepasrahan dari tenggorokan, jantung berdegup kencang di dalam dada, air mata bercucuran deras dari pelupuk mata, dan manusia menanti-nanti turunnya rahmat kebaikan dari langit atas mereka. Begitu matahari tenggelam menyelinap di balik hamparan pasir gurun dan hilang dari pandangan mata, para jemaah haji segera bertolak (nafhar) menuju Mina seraya menggemakan talbiah syirik, sementara Zaid bin Nufail bergerak keluar dari Arafah dengan berjalan kaki sembari berseru:
— لَبَّيْكَ مُتَعَبِّدًا مَرْقُوقًا . لَبَّيْكَ مُتَعَبِّدًا مَرْقُوقًا .
— Aku penuhi panggilan-Mu dengan penuh ibadah dan penghambaan. Aku penuhi panggilan-Mu dengan penuh ibadah dan penghambaan.
وَضَاعَتْ تَلْبِيَتُهُ بَيْنَ تَلْبِيَاتِ الشِّرْكِ وَالضَّلَالَةِ .
Dan kalimat talbiahnya lenyap tenggelam di antara gemuruh talbiah syirik dan kesesatan.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi