BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Maulidur Rosul - Episode 24

MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Balik Kabut Syirik: Waraqah dan Penantian Sang Penutup Zaman

Episode ini menyoroti pergulatan intelektual dan spiritual Waraqah bin Naufal. Saat kaumnya tenggelam dalam penyembahan berhala yang tak masuk akal, Waraqah justru berkelana menembus batas negeri demi mencari jejak nabi terakhir yang dijanjikan dalam kitab-kitab suci.

كَانَا يَطُوفَانِ حَوْلَ الْكَعْبَةِ وَفِي قَلْبَيْهِمَا أَسَى عَلَى الْأَصْنَامِ الَّتِي تَكَدَّسَتْ فِي جَوْفِهَا وَمِنْ حَوْلِهَا ، وَعَلَى قَوْمِهِمَا الَّذِينَ تَرَكُوا دِينَ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ وَجَلَبُوا الْأَصْنَامَ مِنْ كُلِّ بِقَاعِ الْأَرْضِ لِتُقَرِّبَهُمْ إِلَى اللهِ زُلْفَى ، كَانَا وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلٍ وَعُثْمَانَ ابْنَ حُوَيْرِثٍ .
Keduanya sedang melakukan tawaf di sekitar Ka'bah, sementara di dalam hati mereka terdapat kesedihan mendalam atas berhala-berhala yang menumpuk di bagian dalam dan di sekelilingnya, serta atas kaum mereka yang telah meninggalkan agama ayah mereka, Ibrahim, dan mendatangkan berhala-berhala dari segala penjuru bumi demi mendekatkan diri mereka kepada Allah sedekat-dekatnya. Mereka berdua adalah Waraqah bin Naufal dan Utsman ibnul Huwairits.
رَأَى وَرَقَةُ وَعُثْمَانُ وَزَيْدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ أَنَّ آلِهَتَهُمْ إِنْ هِيَ إِلَّا أَحْجَارٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ . فَخَرَجُوا إِلَى يَثْرِبَ وَإِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْحِيرَةِ وَأَلْقَوُا السَّمْعَ إِلَى أَحْبَارِ الْيَهُودِ وَرُهْبَانِ النَّصَارَى ، فَتَنَصَّرَ وَرَقَةُ وَعُثْمَانُ ، وَأَبَى زَيْدٌ أَنْ يَدْخُلَ فِي النَّصْرَانِيَّةِ بَعْدَ أَنْ فَسَدَتْ وَجَعَلَتِ اللهَ ثَالِثَ ثَلَاثَةٍ ، فَرَاحَ يَبْحَثُ عَنْ دِينِ إِبْرَاهِيمَ ، الْحَنِيفِيَّةِ الْحَقَّةِ ، فَقِيلَ لَهُ إِنَّ مَا تَبْحَثُ عَنْهُ يُوشِكُ أَنْ يَظْهَرَ فِي قَوْمِكَ ، فَعَادَ إِلَى مَكَّةَ وَقَدْ أَعْلَنَ أَنَّهُ عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ ، وَإِنْ كَانَ لَا يَدْرِي عَلَى أَيِّ وَجْهٍ يَعْبُدُ رَبَّهُ ، وَرَاحَ يَرْقُبُ الْأَيَّامَ يَنْتَظِرُ ذَلِكَ الَّذِي سَيَبْعَثُهُ اللهُ لِيُعِيدَ مِلَّةَ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ بَيْضَاءَ نَاصِعَةً .
Waraqah, Utsman, dan Zaid bin 'Amr bin Nufail memandang bahwa tuhan-tuhan mereka tidak lain hanyalah batu yang tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat. Maka mereka pergi ke Yatsrib, Syam, dan al-Hirah, lalu mendengarkan dengan saksama penuturan para rabi Yahudi serta para pendeta Nasrani. Akhirnya, Waraqah dan Utsman memeluk agama Nasrani. Namun, Zaid menolak masuk Nasrani setelah agama itu rusak dan menjadikan Allah salah satu dari yang tiga. Ia pun mulai mencari agama Ibrahim, yaitu al-Hanifiyyah yang murni. Lalu dikatakan kepadanya bahwa apa yang ia cari itu hampir tiba masanya untuk muncul di tengah kaumnya. Maka ia kembali ke Mekah dan memaklumatkan diri mengikuti agama Ibrahim, meskipun ia belum mengetahui dengan cara bagaimana ia harus menyembah Tuhannya. Ia pun terus mengamati hari demi hari, menantikan sosok yang akan diutus oleh Allah untuk mengembalikan milah ayah mereka, Ibrahim, dalam keadaan yang putih bersih.
دَخَلَ وَرَقَةُ وَعُثْمَانُ وَغَيْرُهُمَا مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ فِي دِينِ النَّصْرَانِيَّةِ وَلَكِنَّهُمْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِوَحْدَةِ طَبِيعَةِ الْمَسِيحِ وَلَمْ يُؤْمِنُوا بِلَاهُوتِ الْمَسِيحِ وَنَاسُوتِهِ ، لَمْ يَكُونُوا نَسَاطِرَةً وَلَا يَعَاقِبَةً ، بَلْ آمَنُوا بِأَنَّ الْمَسِيحَ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ كَانَ يَأْتِيهِ الْخَبَرُ مِنَ السَّمَاءِ ، وَأَنَّهُ عَبْدٌ مِنْ عِبَادِهِ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ .
Waraqah, Utsman, dan beberapa pemuka Quraisy lainnya masuk ke dalam agama Nasrani, namun mereka tidak mengimani kesatuan tabiat Al-Masih, dan tidak pula mengimani ketuhanan Al-Masih (lahut) sekaligus kemanusiaannya (nasut). Mereka bukanlah penganut Nestorian (Nasathirah) dan bukan pula penganut Yakubiyah (Ya'aqibah), melainkan mereka beriman bahwa Al-Masih adalah seorang rasul utusan Allah yang menerima kabar dari langit, serta meyakini bahwa ia hanyalah seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya dan ibunya adalah seorang wanita yang sangat jujur (shiddiqah).
وَقَدْ تَحَاوَلَ وَرَقَةُ وَعُثْمَانُ وَمَنْ اتَّبَعَ النَّصْرَانِيَّةَ مِنْ قُرَيْشٍ ، وَزَيْدُ بْنُ نُفَيْلٍ الَّذِي أَرَادَ أَنْ يَعُودَ إِلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ إِلَى الْوَحْدَانِيَّةِ الْخَالِصَةِ ، أَنْ يَهْدُوا قَوْمَهُمْ إِلَى
Waraqah, Utsman, serta orang-orang Quraisy yang mengikuti agama Nasrani, bersama Zaid bin Nufail yang ingin kembali kepada agama Ibrahim menuju tauhid yang murni, telah berupaya keras untuk menunjuki kaum mereka menuju
الدِّينِ الْقَيِّمِ ، وَلَكِنَّ قَوْمَهُمْ آذَوْهُمْ أَذًى شَدِيدًا ، وَوَضَعُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَأَعْرَضُوا عَنْهُمْ ، فَسَكَتَ الَّذِينَ تَنَصَّرُوا وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ عَنْ هِدَايَةِ قَوْمِهِمْ ، فَقَدْ عَجَزُوا عَنِ احْتِمَالِ الِاضْطِهَادِ وَالْعَذَابِ فَلَمْ يَكُونُوا مِنْ أُولِي الْعَزْمِ وَلَمْ يَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الرِّسَالَاتِ .
agama yang lurus tersebut. Namun, kaum mereka menyakiti mereka dengan siksaan yang sangat kejam, menyumbat telinga mereka dengan jari-jari tangan, dan berpaling darinya. Akibatnya, orang-orang yang masuk Nasrani serta orang-orang yang mengingkari penyembahan berhala itu memilih diam dari mendakwahi kaumnya, karena mereka tidak sanggup menanggung intimidasi dan siksaan; mereka bukanlah termasuk golongan Ulul 'Azmi dan bukan pula para pembawa risalah ilahi.
وَكَانَ وَرَقَةُ وَعُثْمَانُ وَمَنِ اتَّبَعَ دِينَ الْمَسِيحِ مِنَ الْعَرَبِ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ وَيَقِفُونَ الْمَوَاقِفَ فِي الْحَجِّ ، فَقَدْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ الْبَيْتَ الْعَتِيقَ هُوَ أَوَّلُ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ وَأَنَّ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلَ الرَّحْمَنِ وَإِسْمَاعِيلَ قَدْ أَقَامَا قَوَاعِدَهُ ، وَأَنَّ الْحَجَّ شَرِيعَةُ الْخَلِيلِ وَأَنَّهُ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ الَّذِي جَاءَ بِهِ أَبُو الْأَنْبِيَاءِ ، وَإِنْ كَانَ الْعَرَبُ قَدْ دَسُّوا عَلَيْهِ أَلْوَانًا مِنَ الشِّرْكِ بَعْدَ أَنْ زَاغَتْ عَقَائِدُهُمْ لَمَا طَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ .
Waraqah, Utsman, dan orang-orang Arab yang mengikuti agama Al-Masih tetap melakukan tawaf di Baitullah serta melaksanakan wukuf pada tempat-tempat manasik haji. Sebab, mereka mengimani bahwa Baitul Atiq (Ka'bah) merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia, dan sesungguhnya Ibrahim kekasih Yang Maha Pengasih bersama Ismail telah meninggikan fondasi-fondasinya. Mereka juga meyakini bahwa haji merupakan syariat sang Khalil dan salah satu rukun dari agama Islam yang dibawa oleh bapak para nabi tersebut, meskipun bangsa Arab telah menyusupkan berbagai corak kesyirikan ke dalamnya setelah akidah mereka melenceng akibat berlalunya waktu yang sangat lama.
وَعَكَفَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ عَلَى دِرَاسَةِ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ ، وَرَاحَ يَتَرَدَّدُ عَلَى بِيَعِ الرُّهْبَانِ وَأَحْبَارِ الْيَهُودِ يُنَاقِشُهُمْ فِي أَمْرِ الدِّينِ وَيَتَلَقَّى مِنْهُمْ مَا عِنْدَهُمْ مِنْ عِلْمٍ . وَقَدْ لَفَتَ انْتِبَاهَهُ أَنَّ مُوسَى بَشَّرَ بِنَبِيٍّ يُوحَى إِلَيْهِ لَيْسَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ بَلْ مِنْ أَبْنَاءِ أَعْمَامِهِمْ مِنْ نَسْلِ إِسْمَاعِيلَ أَبِي الْعَرَبِ ، وَرَاحَ وَرَقَةُ يَدْرُسُ فِي إِمْعَانٍ نُبُوءَاتِ السَّيِّدِ الْمَسِيحِ بِـ « الْفَارَقْلِيطِ » خَاتَمِ الْمُرْسَلِينَ الَّذِي سَيَمْكُثُ مَعَ النَّاسِ إِلَى الْأَبَدِ ، وَقَدْ سَمِعَ وَرَقَةُ وَلَا شَكَّ لَمَا ذَهَبَ إِلَى الْحِيرَةِ بِذَلِكَ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ زَرَادَشْتُ « صَاحِبِ الْجَمَلِ الْأَحْمَرِ » الَّذِي سَيُبْعَثُ فِي الْعَرَبِ .
Waraqah bin Naufal mencurahkan waktunya untuk mendalami Taurat dan Injil, serta senantiasa mendatangi gereja-gereja para pendeta dan rabi Yahudi guna mendiskusikan urusan agama serta menyerap ilmu yang mereka miliki. Perhatiannya tersita oleh fakta bahwa Musa telah menyampaikan kabar gembira mengenai seorang nabi yang akan diberi wahyu, yang bukan berasal dari Bani Israel melainkan dari kalangan anak-anak paman mereka, yaitu dari keturunan Ismail bapak bangsa Arab. Waraqah pun mulai meneliti dengan cermat nubuat-nubuat Nabi Isa Al-Masih tentang datangnya "Paraklet" (Al-Faraqlith), sang penutup para rasul yang ajarannya akan tinggal bersama manusia untuk selama-lamanya. Waraqah pun tidak diragukan lagi telah mendengar, ketika ia pergi ke al-Hirah, tentang ramalan Zarathustra mengenai sosok "pemilik unta merah" yang akan diutus di tengah-tengah bangsa Arab.
وَاسْتَوْلَتْ فِكْرَةُ أَنْ يَبْعَثَ اللهُ نَبِيًّا أُمِّيًّا ـــــ مِنَ الْأُمَمِ لَا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ ـــــ عَلَى كُلِّ تَفْكِيرِهِ ، فَرَاحَ يُنَقِّبُ فِي كُتُبِ الْأَوَّلِينَ عَنْ ذَلِكَ النَّبِيِّ وَرَاحَ يَطُوفُ عَلَى الْأَحْبَارِ وَصَوَامِعِ الرُّهْبَانِ وَعَلَى رُعَاةِ النُّجُومِ ، فَأَكَّدَ لَهُ أَحْبَارُ الْيَهُودِ وَرُهْبَانُ النَّصَارَى وَالنَّاظِرُونَ فِي النُّجُومِ أَنَّ نَجْمَ ذَلِكَ النَّبِيِّ قَدْ طَلَعَ وَقَدْ أَظَلَّ الْعَالَمَ
Gagasan bahwa Allah akan mengutus seorang nabi yang ummi—dari bangsa non-Israel dan bukan dari kalangan Bani Israel—telah menguasai seluruh alam pikirannya. Ia lalu mulai membongkar kitab-kitab kuno demi mencari informasi tentang nabi tersebut, serta berkeliling mendatangi para rabi, biara pendeta, hingga para ahli nujum. Para rabi Yahudi, pendeta Nasrani, dan pengamat bintang semuanya menegaskan kepadanya bahwa bintang nabi tersebut telah terbit dan masanya telah menaungi dunia
زَمَانُهُ ، فَبَاتَ وَرَقَةُ يَنْتَظِرُ مَبْعَثَ ذَلِكَ النَّبِيِّ لِيَكُونَ أَوَّلَ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَيَنْصُرُهُ نَصْرًا مُؤَزَّرًا .
pada zamannya. Maka Waraqah pun melewati hari-harinya dalam penantian penuh harap akan diutusnya nabi tersebut, agar dirinya dapat menjadi orang pertama yang beriman kepadanya dan membelanya dengan pembelaan yang kuat.
وَانْتَهَى طَوَافُ وَرَقَةَ وَعُثْمَانَ فَانْطَلَقَا إِلَى حَيْثُ كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ جَالِسًا عَلَى فِرَاشِهِ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَمَنْ حَوْلَهُ بَنُوهُ ، وَخُوَيْلِدُ بْنُ أَسَدٍ وَأُمَيَّةُ بْنُ حَرْبٍ وَعَتِيقُ ابْنُ عَابِدٍ زَوْجُ خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ ، فَأَلْقَيَا عَلَى الْجَمِيعِ التَّحِيَّةَ . ثُمَّ ذَهَبَ وَرَقَةُ لِيَجْلِسَ إِلَى جِوَارِ خُوَيْلِدٍ ابْنِ عَمِّهِ وَذَهَبَ عُثْمَانُ لِيَجْلِسَ إِلَى جِوَارِ أُمَيَّةَ .
Tawaf Waraqah dan Utsman pun usai, lalu keduanya beranjak menuju tempat Abdul Muthalib yang sedang duduk di atas dipannya di bawah naungan Ka'bah, dikelilingi oleh anak-anaknya, serta Khuwailid bin Asad, Umayyah bin Harb, dan Atiq bin 'Abid yang merupakan suami Khadijah binti Khuwailid. Keduanya pun mengucapkan salam kepada semua yang hadir. Kemudian Waraqah pergi duduk di samping Khuwailid, sepupunya, sedangkan Utsman pergi duduk di sebelah Umayyah.
كَانَ كُلُّ الْحَاضِرِينَ يَنْتَهِي نَسَبُهُمْ إِلَى قُصَيٍّ مُجَمِّعِ قُرَيْشٍ ، وَكَانُوا سَادَاتِ قَوْمِهِمْ وَأَشْرَافَهُمْ ، وَكَانَ الْحَدِيثُ يَدُورُ بَيْنَهُمْ عَنِ الْوَفْدِ الَّذِي سَيَنْطَلِقُ إِلَى الْيَمَنِ لِتَهْنِئَةِ سَيْفِ بْنِ ذِي يَزَنَ عَلَى انْتِصَارِهِ عَلَى الْأَحْبَاشِ وَعَوْدَةِ مُلْكِ حِمْيَرَ إِلَى الْعَرَبِ . وَتَشَعَّبَ الْحَدِيثُ فَرَاحَ قَائِلٌ يَقُولُ : إِنَّ الْأَحْبَاشَ قَدْ هُزِمُوا قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَ سَيْفٌ بِجُنُودِ فَارِسَ وَمَرَاكِبِ كِسْرَى أَنُوشِرْوَانَ ، هُزِمُوا هُنَا يَوْمَ أَرَادُوا أَنْ يَهْدِمُوا بَيْتَ اللهِ فَبَاءُوا بِالْخِزْيِ وَالْعَارِ . وَقَالَ قَائِلٌ إِنَّ أَبْرَهَةَ قَدْ هُزِمَ مُنْذُ ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي اغْتَصَبَ فِيهِ زَوْجَةَ ذِي جَدَنٍ وَقَبْلَ أَنْ يَرْزُقَ مِنْهَا مَسْرُوقًا ، فَلَا يَبْنِي مُلْكٌ عَلَى الْغَصْبِ وَالظُّلْمِ وَالْقَهْرِ وَالِاسْتِبْدَادِ . وَقَالَ قَائِلٌ إِنَّ هَزِيمَةَ أَبْرَهَةَ كَانَتْ بِبَرَكَةِ دُعَاءِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ مِنْهُمْ إِنَّهَا كَانَتْ بِبَرَكَةِ ذَلِكَ الَّذِي كَانَ لَا يَزَالُ فِي بَطْنِ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ . حَتَّى وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ الَّذِي كَانَ يَتَعَجَّلُ ظُهُورَ نَبِيِّ بَنِي إِسْمَاعِيلَ لَمْ يَدْرِ بِخَلَدِهِ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ الطِّفْلَ الرَّضِيعَ الَّذِي ذَهَبَ إِلَى مَضَارِبِ خِيَامِ بَنِي سَعْدٍ عَلَى يَدَيْ حَلِيمَةَ السَّعْدِيَّةِ ، هُوَ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، وَأَنَّ اللهَ قَدْ قَيَّضَ لَهُ فُرْصَةَ خُرُوجِهِ مُنْذُ مَوْلِدِهِ إِلَى الْبَيْدَاءِ لِتَتَكَوَّنَ الْأَسْبَابُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ وَلِتَشْتَدَّ أَوَاصِرُهَا عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ .
Semua yang hadir silsilah keturunannya berujung pada Qushai, sang pemersatu Quraisy. Mereka adalah para pemimpin dan bangsawan kaumnya. Pembicaraan di antara mereka berkisar tentang utusan yang akan berangkat ke Yaman untuk memberi ucapan selamat kepada Saif bin Dzi Yazan atas kemenangannya melawan bangsa Abesinia (Habasyah) serta kembalinya kerajaan Himyar ke tangan bangsa Arab. Pembicaraan pun meluas, lalu seseorang berkata: "Sesungguhnya bangsa Abesinia telah kalah bahkan sebelum Saif datang membawa bala tentara Persia dan kapal-kapal Kisra Anusyirwan; mereka kalah di sini pada hari ketika mereka berniat meruntuhkan Baitullah, sehingga mereka pulang membawa kehinaan dan aib." Yang lain menyahut: "Sesungguhnya Abrahah telah hancur sejak hari ketika ia merampas istri Dzi Jadan dan sebelum ia dikaruniai anak bernama Masruq darinya, karena tidak ada kerajaan yang tegak di atas perampasan, kezaliman, pemaksaan, dan kesewenang-wenangan." Ada pula yang berpendapat: "Sesungguhnya kekalahan Abrahah terjadi berkat doa Abdul Muthalib." Namun, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa hal itu terjadi berkat berkah janin yang saat itu masih berada di dalam kandungan Aminah binti Wahb. Bahkan Waraqah bin Naufal sendiri, yang begitu mendambakan segera munculnya nabi dari keturunan Ismail, tidak terlintas sama sekali dalam benaknya bahwa Muhammad bin Abdullah—bayi susuan yang kala itu dibawa ke perkampungan kemah Bani Sa'ad oleh Halimah as-Sa'diyyah—adalah nabi umat ini, dan bahwasanya Allah telah menetapkan kesempatan baginya sejak lahir untuk keluar menuju padang sahara luas agar terbangun sebab-sebab hubungan antara dirinya dengan langit dan semakin kuat ikatannya seiring berjalannya waktu.
وَاسْتَمَرَّ الْحَدِيثُ بَيْنَهُمْ وَعُثْمَانُ بْنُ حُوَيْرِثٍ فِي شُرُودِهِ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا مِمَّا
Perbincangan di antara mereka terus berlanjut, sementara Utsman bin Huwairits tenggelam dalam lamunannya, sama sekali tidak mendengar apa pun yang
يَدُورُ حَوْلَهُ ، فَقَدْ كَانَ يُفَكِّرُ فِي الذَّهَابِ إِلَى الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ إِلَى مَقَرِّ قَيْصَرَ ، لِيُقَابِلَ يُوسُطِينُوسَ الثَّانِي وَيَعْرِضَ عَلَيْهِ أَنْ يَكُونَ مَلِكًا مِنْ قِبَلِهِ عَلَى مَكَّةَ يُؤَيِّدُهُ بِقُوَّتِهِ عَلَى أَنْ يَحْمِلَ إِلَيْهِ خَرَاجَ بِلَادِهِ . وَ لَمْ يَجِدْ فِيمَا يَدُورُ فِي خَاطِرِهِ مَعَرَّةً وَلَا خِيَانَةً فَسَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ يَحْكُمُ الْيَوْمَ الْيَمَنَ بِسُلْطَانِ كِسْرَى ، وَالنُّعْمَانُ بْنُ الْمُنْذِرِ يَحْكُمُ الْحِيرَةَ بِسُلْطَانِ أَنُو شِرْوَانَ ، وَمُلُوكُ الْغَسَاسِنَةِ يَحْكُمُونَ الشَّامَ بِسُلْطَانِ الْقَيَاصِرَةِ ، حَتَّى مَشَايِخُ الْقَبَائِلِ كَانُوا مُؤَيَّدِينَ بِكِسْرَى أَوْ قَيْصَرَ .
sedang diperbincangkan di sekelilingnya. Ia tengah berpikir untuk pergi ke Konstantinopel, ke pusat kekuasaan Kaisar, guna menemui Justinus II (Yustinus II) dan menawarkan diri untuk menjadi raja bawahannya atas kota Mekah dengan sokongan pasukannya, sebagai imbalan ia akan menyetorkan upeti negerinya kepada Kaisar. Ia sama sekali tidak melihat adanya cela ataupun pengkhianatan dalam apa yang tebersit di benaknya itu, sebab Saif bin Dzi Yazan saat ini pun memerintah Yaman di bawah otoritas Kisra, Nu'man bin Mundzir memerintah al-Hirah di bawah otoritas Anusyirwan, dan raja-raja Ghassan memerintah Syam di bawah otoritas para Kaisar; bahkan para syekh kabilah pun disokong oleh Kisra atau Kaisar.
وَرَاحَ عُثْمَانُ يَسْتَعِيدُ كُلَّ مَا سَمِعَهُ عَنِ اسْتِقْبَالِ الْقَصْرِ الْقَيْصَرِيِّ لِلْحَارِثِ بْنِ جَبَلَةَ مَلِكِ الْغَسَاسِنَةِ لَمَّا انْطَلَقَ إِلَى الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ ، وَيَجْرِي خَيَالُهُ خَلْفَ كُلِّ مَا وَعَتْهُ ذَاكِرَتُهُ عَنْ ذَهَابِ امْرِئِ الْقَيْسِ إِلَى الْقَيْصَرِ يُوسُطِينِيَانُوسَ يَسْتَعِينُ بِهِ عَلَى اسْتِعَادَةِ عَرْشِهِ ، وَمَا كَانَ مِنْ صَدَاقَةٍ بَيْنَهُمَا وَمُنَادَمَةٍ حَتَّى إِنَّهُمَا كَانَا يَدْخُلَانِ الْحَمَّامَ مَعًا . تَرَى كَيْفَ يَكُونُ اسْتِقْبَالُ الْإِمْبَرَاطُورِ يُوسُطِينُوسَ لَهُ إِذَا مَا شَدَّ الرِّحَالَ إِلَى الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ وَمَاذَا سَيَقُولُ لِقَيْصَرَ وَمَاذَا سَيَقُولُ قَيْصَرُ لَهُ ، وَاسْتَمَرَّ عُثْمَانُ يُحَلِّقُ وَرَاءَ أَحْلَامِهِ الْمُجَنَّحَةِ وَ لَمْ يَفِقْ مِنْ شُرُودِهِ إِلَّا عَلَى صَوْتِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ يَسْأَلُهُ :
Utsman mulai mengingat kembali semua yang pernah ia dengar tentang penyambutan pihak istana Kaisar terhadap Al-Harits bin Jabalah, raja Ghassan, saat berkunjung ke Konstantinopel. Imajinasinya pun melayang mengikuti memori yang terekam dalam ingatannya perihal kepergian Imru'ul Qais menemui Kaisar Justinianus guna meminta bantuan pasukan untuk merebut kembali takhtanya, serta jalinan persahabatan dan keakraban di antara keduanya hingga mereka biasa memasuki pemandian bersama. Kira-kira bagaimanakah bentuk penyambutan Kaisar Justinus kepadanya kelak jika ia mengemas barang perjalanannya menuju Konstantinopel? Apa yang akan ia sampaikan kepada Kaisar dan apa pula tanggapan Kaisar kepadanya? Utsman terus menerbangkan mimpi-mimpinya yang bersayap itu, dan tidak tersadar dari lamunannya melainkan oleh suara Abdul Muthalib yang sedang bertanya kepadanya:
ـــــ وَأَنْتَ يَا عُثْمَانُ هَلْ سَتَذْهَبُ فِي وَفْدِنَا الْمُسَافِرِ إِلَى الْيَمَنِ لِتَهْنِئَةِ ابْنِ ذِي يَزَنَ ؟
— Dan kamu, wahai Utsman, apakah kamu akan ikut serta dalam rombongan delegasi kita yang berangkat ke Yaman untuk memberi ucapan selamat kepada Ibnu Dzi Yazan?
وَقَالَ عُثْمَانُ فِي اقْتِضَابٍ :
Utsman menjawab dengan singkat dan dingin:
ـــــ لَا .
— Tidak.
وَكَانَ مَنْطِقِيًّا مَعَ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَذْهَبُ إِلَى تَهْنِئَةِ حَلِيفِ فَارِسَ إِذَا كَانَ يُفَكِّرُ فِي الِانْطِلَاقِ إِلَى قَيْصَرَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ أَنْ يُوَلِّيَهُ أَمْرَ الْحِجَازِ ، وَأَنْ يَكُونَ لَهُ مِثْلَ سَيْفِ بْنِ ذِي يَزَنَ لِكِسْرَى ؟. وَعَادَ عُثْمَانُ يَسْرَحُ وَرَاءَ خَيَالِهِ فَرَاحَ يُؤَكِّدُ
Sikapnya itu selaras dengan jalan pikirannya; bagaimana mungkin ia pergi memberi selamat kepada sekutu Persia jika dirinya sendiri berencana menghadap Kaisar guna menawarkan diri memimpin wilayah Hijaz, serta memosisikan dirinya seperti Saif bin Dzi Yazan bagi Kisra? Utsman pun kembali hanyut dalam khayalannya, lalu mulai meyakinkan
لِنَفْسِهِ أَنَّ قَيْصَرَ سَيُرَحِّبُ بِمَا سَيَعْرِضُهُ عَلَيْهِ ، فَأَبَاطِرَةُ الرُّومِ يَتَمَنَّوْنَ أَنْ تَكُونَ كَعْبَةُ الْعَرَبِ حَلِيفَةً لَهُمْ ، فَلَوْ أَنَّهُمْ اطْمَأَنُّوا إِلَى أَنَّهَا قَدْ صَارَتْ فِي مُعَسْكَرِهِمْ فَذَلِكَ يَزِيدُ مِنْ مَكَانَةِ الرُّومِ فِي أَعْيُنِ الْعَرَبِ .
dirinya sendiri bahwa Kaisar pasti akan menyambut baik tawaran yang diajukannya. Sebab, para kaisar Romawi sangat mendambakan Ka'bah milik bangsa Arab menjadi sekutu mereka. Jikalau pihak Romawi merasa yakin bahwa Ka'bah telah berada di kubu mereka, maka hal itu tentu akan menaikkan wibawa Romawi di mata bangsa Arab.
وَنَهَضَ خُوَيْلِدُ بْنُ أَسَدٍ وَزَوْجُ ابْنَتِهِ عَتِيقُ بْنُ عَابِدٍ ، وَقَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَا قَالَ خُوَيْلِدُ لِوَرَقَةَ :
Khuwailid bin Asad beserta menantunya, Atiq bin 'Abid, bangkit berdiri. Sebelum melangkah pergi, Khuwailid berkata kepada Waraqah:
ـــــ أَلَا تَأْتِي مَعَنَا ؟
— Apakah kamu tidak ikut pulang bersama kami?
فَقَالَ وَرَقَةُ :
Waraqah bertanya:
ـــــ أَيْنَ ؟
— Ke mana?
فَأَجَابَهُ خُوَيْلِدٌ :
Khuwailid menjawabnya:
ـــــ إِلَى دَارِ عَتِيقٍ .
— Ke rumah Atiq.
ثُمَّ أَكْمَلَ خُوَيْلِدٌ :
Khuwailid kemudian menambahkan:
ـــــ إِنِّي لَمْ أَرَ الطَّاهِرَةَ بَعْدَ أَنْ وَضَعَتْ طِفْلَتَهَا .
— Sungguh aku belum menjenguk ath-Thahirah (Khadijah) semenjak ia melahirkan bayi perempuannya.
كَانَتْ خَدِيجَةُ تُعْرَفُ بِالطَّاهِرَةِ وَلَمَّا تَتَجَاوَزْ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ مِنْ عُمْرِهَا ، وَ لَمْ تَكُنْ تُشَارِكُ فَتَيَاتِ مَكَّةَ فِي مُجُونِهِنَّ ، وَكَانَتْ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهَا تَنْأَى عَنْ مَجَالِسِ اللَّهْوِ وَتَهْتَمُّ بِقَوَافِلِ قُرَيْشٍ وَبِتِجَارَةِ أَبِيهَا . وَكَانَتْ تَسْتَرِيحُ إِلَى مَجْلِسِ وَرَقَةَ فَقَدْ كَانَ يُحَدِّثُهَا حَدِيثًا طَلِيًّا عَنِ الْأَدْيَانِ وَعَنِ الرُّسُلِ الَّذِينَ يَبْعَثُهُمُ اللهُ لِهِدَايَةِ الْبَشَرِ .
Khadijah telah dijuluki sebagai ath-Thahirah (wanita suci) semenjak usianya belum genap lima belas tahun, dan ia tidak pernah mau ikut-ikutan dalam perilaku hura-hura para gadis Mekah. Kendati usianya tergolong sangat muda, ia selalu menjauhkan diri dari tempat-tempat hiburan sia-sia dan lebih memilih menaruh perhatian besar pada urusan kafilah-kafilah Quraisy serta perniagaan ayahnya. Ia juga sangat gemar menyimak perbincangan di majelis Waraqah, sebab Waraqah kerap menyampaikan kisah-kisah yang memikat mengenai agama-agama purba serta para rasul yang diutus oleh Allah demi menunjuki umat manusia.
وَانْطَلَقَ خُوَيْلِدٌ وَعَتِيقٌ وَوَرَقَةُ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ ، وَلَمَحَتْ جَارِيَتُهَا مِنَ الشُّبَّاكِ إِقْبَالَ سَيِّدِهَا وَصَحْبِهِ فَخَفَّتْ إِلَى سَيِّدَتِهَا تَقُولُ :
Khuwailid, Atiq, dan Waraqah pun berjalan menuju rumah Khadijah. Pelayan wanitanya sekilas melihat dari balik jendela kedatangan tuannya beserta para tamunya, maka ia pun segera bergegas menghampiri nyonyanya sembari berseru:
ـــــ سَيِّدِي الصَّغِيرُ وَسَيِّدِي الْكَبِيرُ وَسَيِّدِي وَرَقَةُ .
— Tuan mudaku, tuan besarku, dan juga Tuan Waraqah telah datang!
وَأَسْرَعَتِ الْجَارِيَةُ تَفْتَحُ الْبَابَ ، وَقَامَتْ خَدِيجَةُ لِتَسْتَقْبِلَ الْقَادِمِينَ . وَإِنْ هِيَ إِلَّا لَحَظَاتٌ حَتَّى كَانَ الْجَمِيعُ جَالِسِينَ فِي غُرْفَةٍ أُثِّثَتْ بِرِيَاشٍ فَاخِرٍ جُلِبَ مِنَ الشَّامِ وَمِنَ الْحِيرَةِ وَمِنَ الْيَمَنِ ، وَلَا غَرْوَ فَقَدْ كَانَتْ خَدِيجَةُ بِنْتُ سَيِّدٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ وَتَاجِرٍ مِنْ أَكْبَرِ تُجَّارِهَا .
Pelayan itu lekas-lekas membukakan pintu, sementara Khadijah pun bangkit berdiri demi menyambut para tamunya. Hanya berselang beberapa jenak, mereka semua telah duduk nyaman di dalam suatu ruangan yang dihiasi hamparan permadani mewah hasil datangan dari Syam, al-Hirah, dan Yaman; tidaklah mengherankan karena Khadijah merupakan putri seorang pemuka terpandang di kalangan Quraisy sekaligus salah satu saudagar paling besar di kota itu.
وَجَاءَتْ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ أُخْتُ خَدِيجَةَ ، وَمَا كَادَتْ تَسْتَقِرُّ حَتَّى قَالَتْ خَدِيجَةُ لِأُخْتِهَا :
Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, turut bergabung masuk. Baru saja ia hendak duduk menempatkan diri, Khadijah langsung berseru kepada saudaranya itu:
ـــــ هَاتِي هِنْدَ فَابْنُ الْعَمِّ وَرَقَةُ لَمْ يَرَهَا بَعْدُ .
— Bawa ke sini Hind (bayinya), sebab sepupu kita, Waraqah, belum sempat melihatnya.
وَقَامَتْ هَالَةُ وَمَا لَبِثَتْ أَنْ عَادَتْ وَهِيَ تَحْمِلُ ابْنَةَ أُخْتِهَا هِنْدَ بَيْنَ يَدَيْهَا وَقَدْ أَشْرَقَ وَجْهُهَا بِابْتِسَامَةٍ عَذْبَةٍ . وَلَاحَ فِي وَجْهِ عَتِيقٍ السُّرُورُ وَهُوَ يَرْنُو إِلَى ابْنَتِهِ ، وَأَخَذَ خُوَيْلِدٌ الطِّفْلَةَ وَقَبَّلَهَا ثُمَّ قَدَّمَهَا إِلَى وَرَقَةَ ، وَمَا كَادَتِ الطِّفْلَةُ تَسْتَقِرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى قَالَتْ هَالَةُ :
Halah segera beranjak dan tak lama kemudian kembali dengan menggendong Hind, keponakannya, di mana wajah bayi itu tampak berseri diiringi senyuman yang manis. Rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah Atiq tatkala ia menatapi putri kecilnya. Khuwailid pun mengambil bayi tersebut, menciumnya, lalu mengulurkannya kepada Waraqah. Tepat saat bayi mungil itu diletakkan di pangkuan Waraqah, Halah tiba-tiba berseloroh:
ـــــ إِنِّي غَاضِبَةٌ .
— Sungguh, aku sedang kesal!
فَقَالَ وَرَقَةُ مُدَاعِبًا :
Maka Waraqah menimpali dengan nada bercanda:
ـــــ لِأَنَّهَا أَجْمَلُ مِنْكِ !
— Apakah karena bayi ini jauh lebih cantik darimu?
ـــــ بَلْ لِأَنَّ خَدِيجَةَ لَمْ تُسَمِّهَا بِاسْمِي .
— Bukan, melainkan karena Khadijah tidak menamainya dengan namaku.
فَقَالَتْ خَدِيجَةُ وَقَدْ رَفَّتْ عَلَى شَفَتَيْهَا بَسْمَةٌ رَقِيقَةٌ :
Mendengar hal itu, Khadijah berucap sembari menyunggingkan senyuman lembut di bibirnya:
ـــــ لَا تَغْضَبِي فَسَأُسَمِّي وَلَدِيَ الثَّانِي هَالَةَ ، سَوَاءٌ أَكَانَ ذَكَرًا أَمْ أُنْثَى .
— Jangan berkecil hati, kelak anak keduaku pasti akan kunamai Halah, tidak peduli apakah yang lahir nanti laki-laki ataupun perempuan.
وَقَالَ خُوَيْلِدٌ مُدَاعِبًا :
Khuwailid ikut menimpali sembari berkelakar:
ـــــ وَأَنَا ؟
— Lalu bagaimana denganku?
فَقَالَتْ هَالَةُ فِي مَرَحٍ :
Halah menyahut dengan penuh keceriaan:
ـــــ أَلَا يَكْفِيكَ يَا أَبَتَاهْ أَنَّنَا نَحْمِلُ اسْمَكَ ؟
— Bukankah sudah cukup bagimu, wahai ayahku tercinta, bahwa kami semua selalu menyandang nama besarmu di belakang nama kami?
وَأَرَادَ خُوَيْلِدٌ إِغَاظَتَهَا فَقَالَ :
Khuwailid berniat terus menggodanya, maka ia menyahut:
ـــــ وَمَتَى خَلَّدَتِ الْبِنْتُ اسْمَ أَبِيهَا ؟
— Memangnya sejak kapan anak perempuan bisa mengabadikan nama ayahnya?
فَقَالَ وَرَقَةُ فِي هُدُوءٍ :
Waraqah pun angkat bicara dengan nada tenang:
ـــــ إِذَا مَا تَزَوَّجَتْ عَظِيمًا أَوْ أَنْجَبَتْ سَيِّدًا مِنْ سَادَاتِ قَوْمِهِ .
— Nama itu akan abadi apabila ia menikah dengan seorang tokoh besar, atau jikalau ia melahirkan sosok pemimpin yang kelak menguasai kaumnya.
وَقَالَتْ هَالَةُ :
Halah bertanya lagi:
ـــــ أَوْ سَادَتْ قَوْمَهَا .
— Ataukah apabila ia sendiri yang menjadi pemimpin atas kaumnya?
ضَحِكَ الْجَمِيعُ حَتَّى هَالَةُ ضَحِكَتْ مِنْ قَوْلِهَا ، وَمَا لَبِثَ وَرَقَةُ أَنْ كَفَّ عَنِ الضَّحِكِ وَقَالَ :
Sontak semua yang hadir tertawa lepas, bahkan Halah pun ikut tertawa menertawakan ucapannya sendiri. Sesaat kemudian, Waraqah meredakan tawa gembiranya lalu berkata seri:
ـــــ وَفِيمَ ضَحِكْنَا ؟ إِنَّ مَلِكَةَ سَبَإٍ سَادَتْ قَوْمَهَا .
— Mengapa kita tertawa? Padahal sejarah mencatat bahwa Ratu Saba' pernah memimpin bangsanya dengan penuh kejayaan.
وَقَالَ خُوَيْلِدٌ :
Khuwailid menyela:
ـــــ وَالزَّبَّاءُ مَلِكَةُ تَدْمُرَ .
— Dan juga Ratu Az-Zabba' (Zenobia), sang penguasa Palmyra (Tadmur).
وَرَاحَتِ الرِّوَايَاتُ تُرْوَى عَنْ مَلِكَةِ سَبَإٍ وَعَنِ الزَّبَّاءِ الَّتِي وَقَفَتْ فِي وَجْهِ الرُّومَانِ حَتَّى وَقَعَتْ أَسِيرَةً فِي أَيْدِيهِمْ وَحُمِلَتْ إِلَى رُومَا ، فَقَدْ كَانَ سَادَاتُ قُرَيْشٍ وَعُقَلَاؤُهُمْ وَبَنَاتُهُمْ عَلَى عِلْمٍ بِالْأَحْدَاثِ الْجَارِيَةِ فِي الْعَالَمِ مِنْ حَوْلِهِمْ .
Kisah-kisah pun mulai mengalir diceritakan mengenai Ratu Saba' serta Ratu Az-Zabba' yang dengan gagah berani berdiri menantang imperium Romawi hingga akhirnya ia terjatuh sebagai tawanan di tangan mereka lalu diarak menuju Roma. Hal ini menunjukkan betapa para pemuka Quraisy, cendekiawan, serta putri-putri mereka sejatinya memiliki wawasan yang luas mengenai peta peristiwa yang bergejolak di dunia sekeliling mereka.
وَذَهَبَتْ هَالَةُ بِهِنْدٍ بِنْتِ خَدِيجَةَ وَشُغِلَتْ بِمُدَاعَبَتِهَا عَنْ كُلِّ مَا حَوْلَهَا ، وَقَامَ خُوَيْلِدٌ وَعَتِيقُ بْنُ عَابِدٍ إِلَى الشَّرَابِ ، وَاعْتَذَرَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ لِأَنَّ الْخَمْرَ حَرَامٌ فَقَدْ كَانَتْ تُشْرَبُ فِي الْكَنَائِسِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ مِنَ الْعَالَمِ الْمَسِيحِيِّ عَلَى زَعْمٍ أَنَّ الْمَسِيحَ كَانَ شَرِيبَ خَمْرٍ ، بَلْ لِأَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ خَدِيجَةَ حَدِيثَ الْأَنْبِيَاءِ وَهُوَ حَدِيثٌ حَبِيبٌ إِلَى قَلْبِهِ وَرُوحِهِ .
Halah kemudian membawa masuk Hind putri Khadijah kembali dan tampak asyik menimangnya tanpa memedulikan keadaan sekelilingnya lagi. Sementara itu, Khuwailid dan Atiq bin 'Abid beranjak untuk menikmati jamuan minuman (khamar), namun Waraqah bin Naufal memilih menolak dengan halus. Alasan penolakannya bukan semata karena menganggap khamar itu haram—mengingat khamar kala itu biasa diminum di dalam gereja-gereja dan berbagai belahan dunia Kristen atas dasar anggapan keliru bahwa Al-Masih dahulu juga meminumnya—melainkan karena ia lebih memilih memanfaatkan waktu untuk berbincang bersama Khadijah mengenai kisah-kisah para nabi, sebuah obrolan yang teramat dicintai oleh sanubari serta jiwanya.
كَانَ وَرَقَةُ يُحَدِّثُ أُخْتَهُ رَقِيقَةَ عَنِ النَّبِيِّ الْعَرَبِيِّ الَّذِي يَجِدُهُ مَكْتُوبًا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ حَتَّى جَعَلَهَا تَتَمَنَّى أَنْ تَكُونَ أُمَّ ذَلِكَ النَّذِيرِ ، فَرَاحَتْ تَتَفَرَّسُ فِي وُجُوهِ شَبَابِ قُرَيْشٍ فَرَأَتْ فِي وَجْهِ عَبْدِ اللهِ شَيْئًا مُثِيرًا جَذَبَهَا إِلَيْهِ وَجَعَلَهَا تَعْرِضُ نَفْسَهَا عَلَيْهِ لِتَتَحَقَّقَ لَهَا الْآَمَالُ ، وَلَكِنَّ عَبْدَ اللهِ دَخَلَ عَلَى آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ وَذَهَبَ عَنْهُ ذَلِكَ السِّحْرُ الَّذِي هَفَتْ إِلَيْهِ ، فَعَافَتْهُ نَفْسُهَا وَأَعْرَضَتْ عَنْهُ لَمَّا جَاءَ إِلَيْهَا بَعْدَ أَنْ بَنَى بِآمِنَةَ يَسْأَلُهَا ، لَمْ لَا تَعْرِضُ عَلَيْهِ الْيَوْمَ مَا كَانَتْ تَعْرِضُهُ
Dahulu Waraqah sering bercerita kepada saudarinya, Raqiqah, perihal nubuat nabi dari bangsa Arab yang ia temukan termaktub di dalam kitab Taurat dan Injil, sampai-sampai hal itu membuat Raqiqah sangat berharap bisa menjadi ibu kandung dari sang pemberi peringatan tersebut. Karenanya, Raqiqah selalu mengamati dengan jeli wajah para pemuda Quraisy, hingga akhirnya ia melihat ada pancaran cahaya yang sangat memikat pada wajah Abdullah (ayah Rasulullah). Pancaran itu begitu menarik hatinya hingga mendorongnya untuk menawarkan diri agar dinikahi demi mewujudkan impian besarnya. Namun takdir berkata lain, Abdullah justru mendatangi dan menikahi Aminah binti Wahb, sehingga pesona cahaya gaib yang amat didambakan Raqiqah itu seketika lenyap dari wajah Abdullah. Akibatnya, ketertarikan Raqiqah pun pupus dan ia berbalik menolaknya mentah-mentah ketika Abdullah datang kembali menemuinya seusai malam pertamanya dengan Aminah untuk menanyakan mengapa hari itu ia tidak lagi menawarkan hal menggiurkan yang sempat ditawarkan
بِالْأَمْسِ .
pada hari kemarin.
كَانَ حَدِيثُ وَرَقَةَ عَنِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ ، الَّذِي سُيُبْعَثُ فِي الْأُمَمِ لَا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُثِيرًا ، وَكَانَ يَسْتَوْلِي عَلَى أَفْئِدَةِ سَامِعِيهِ ، وَكَانَ يَزِيدُ ذَلِكَ الْحَدِيثَ رَوْعَةً الْغُمُوضُ الَّذِي يَكْتَنِفُهُ ، فَقَدْ كَانَ وَرَقَةُ يَضَعُ نَصْبَ عَيْنَيْهِ مَآثِرَ مُوسَى وَالسَّيِّدِ الْمَسِيحِ وَهُوَ يُبَشِّرُ بِاقْتِرَابِ ظُهُورِ « الْفَارَقْلِيطِ » .
Tuturan Waraqah mengenai sosok nabi ummi yang akan diutus di tengah-tengah bangsa non-Israel (Amiyyan) dan bukan dari kalangan Bani Israel, dirasa teramat menakjubkan serta sanggup memikat hati siapa saja yang mendengarnya. Kesan misterius yang menyelimuti ramalan tersebut justru kian menambah keindahan kisahnya, di mana Waraqah senantiasa menyandingkan keagungan mukjizat Musa dan Al-Masih sembari mengabarkan kepastian dekatnya kemunculan sang "Paraklet" (Al-Faraqlith).
وَرَاحَتْ خَدِيجَةُ تَصْغَى إِلَى وَرَقَةَ وَهِيَ مَأْخُوذَةٌ بِعَذْبِ حَدِيثِهِ ، إِنَّهُ يُحَدِّثُهَا عَنْ أَصْنَامِ قَوْمِهَا وَيَسْخَرُ مِنْ أَنَّهَا كُلَّهَا إِنَاثٌ : اللَّاتُ وَالْعُزَّى وَمَنَاةُ . « إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا » وَيُخْبِرُهَا أَنَّ قَوْمَهَا قَدْ أَخْطَأُوا دِينَ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ ، وَيَقُصُّ عَلَيْهَا قِصَّةَ رِحْلَتِهِ فِي الْأَرْضِ لِيَأْخُذَ عِلْمَهُ عَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ، وَمَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ لَمَّا قَالَ لَهُمُ الْعُلَمَاءُ ، إِنَّ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَى اللهِ دِينُ هَذَا الْمُبَشِّرِ بِهِ ، فَقَدْ قَالَ لِزَيْدٍ ، أَنَا أَسْتَمِرُّ عَلَى نَصْرَانِيَّتِي إِلَى أَنْ يَأْتِيَ هَذَا النَّبِيُّ . أَمَّا زَيْدٌ فَقَدْ أَبَى أَنْ يَتَنَصَّرَ وَاجْتَهَدَ فِي أَنْ يَتَّبِعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ ، وَعَادَ إِلَى مَكَّةَ يَنْتَظِرُ ظُهُورَ ذَلِكَ الْمُبَشَّرِ بِهِ .
Khadijah terus mendengarkan penuturan Waraqah dengan perasaan takjub oleh keindahan untaian kalimatnya. Waraqah menceritakan perihal berhala-berhala sembahan kaumnya seraya mencemooh fakta bahwa seluruh nama berhala itu menggunakan nama berjenis kelamin perempuan, seperti Al-Lata, Al-'Uzza, dan Manah, seraya mengutip esensi ayat: "Tidak lain yang mereka seru selain Dia kecuali berhala perempuan." Ia juga menjelaskan kepada Khadijah bahwa kaum mereka telah jauh melenceng dari agama murni ayah mereka, Ibrahim, kemudian mengisahkan petualangan perjalanannya menjelajahi berbagai negeri demi menyerap ilmu dari para ahlinya. Ia pun membagikan momen dialog antara dirinya dengan Zaid bin 'Amr bin Nufail ketika para ulama kitab suci menyatakan kepada mereka: "Sesungguhnya agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang dibawa oleh nabi yang diramalkan ini." Waraqah kala itu berkata kepada Zaid: "Aku akan tetap memegang teguh agama Nasraniku ini sampai datangnya nabi tersebut." Sebaliknya, Zaid menolak keras untuk masuk Nasrani dan memilih berjuang keras memurnikan diri mengikuti milah Ibrahim, hingga akhirnya ia memilih kembali ke Mekah demi menanti fajar kemunculan sang nabi yang dijanjikan.
كَانَتْ خَدِيجَةُ لَمْ تَتَجَاوَزِ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ ، وَكَانَتْ مُقْبِلَةً عَلَى دُنْيَا مُشْرِقَةٍ كُلُّهَا بَهْجَةٌ وَلَهْوٌ وَمَرَحٌ ، إِلَّا أَنَّهَا كَانَتْ تَجِدُ نَفْسَهَا تَنْفَتِحُ لِلْأَحَادِيثِ الْجَادَّةِ ، أَحَادِيثِ التِّجَارَةِ وَأَحَادِيثِ الدِّينِ ، وَقَدْ أَلْقَتْ إِلَى وَرَقَةَ سَمْعَهَا فَتَشَوَّقَتْ إِلَى ذَلِكَ الْعَصْرِ الَّذِي يَتَحَدَّثُ عَنْهُ وَرَقَةُ حَدِيثَ الْوَاثِقِ ، وَتَمَنَّتْ أَنْ يَمْتَدَّ بِهَا الْعُمُرُ لِتَرَى ذَلِكَ الَّذِي بَشَّرَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ ، وَمَا دَارَ بِخَلَدِهَا فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ أَنَّ اللهَ يَدْخُرُهَا لِتَكُونَ نِعْمَ السَّنَدِ لِذَلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ .
Meskipun usia Khadijah saat itu belumlah genap lima belas tahun, sebuah usia ranum di mana dunia umumnya dipenuhi kesenangan, canda, dan tawa remaja, namun ia justru mendapati jiwanya begitu terbuka dan tertarik pada obrolan-obrolan yang berbobot, baik seputar urusan perniagaan maupun perkara agama. Ia pun memfokuskan seluruh pendengarannya kepada Waraqah, hingga timbul rasa rindu yang mendalam di hatinya akan datangnya zaman baru yang selalu diceritakan Waraqah dengan nada penuh keyakinan tersebut. Ia sangat berharap dikaruniai umur yang panjang agar dapat menyaksikan langsung sosok agung yang telah dikabarkan oleh para nabi terdahulu. Pada detik itu, sama sekali belum pernah tebersit di dalam benaknya bahwa Allah sesungguhnya tengah mempersiapkan diri Khadijah untuk menjadi sebaik-baik pilar penyokong bagi sang nabi ummi, yang nama dan cirinya telah mereka temukan termaktub di dalam kitab Taurat dan Injil mereka.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi