MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Di Bawah Langit Mekkah: Antara Khurafat Bintang dan Cahaya yang Dinanti
Mekkah berpindah dari fase kesalehan menuju labirin khurafat. Di saat penduduk kota menenun legenda bintang-bintang, hati Aminah justru bersiap menyambut fajar kenabian yang akan membasuh dunia.
خَرَجَتْ آمِنَةُ بِنْتُ وَهَبٍ ، وَابْنَةُ عَمِّهَا هَالَةُ بِنْتُ وُهَيْبٍ ، وَبَعْضُ بَنَاتِ بَنِي زُهْرَةَ وَصِبْيَانِهِمْ ، وَبَعْضُ بَنَاتِ بَنِي هَاشِمٍ وَصِبْيَانِهِمْ ، مِنْ دَوْرِهِمْ لِيَلْعَبُوا عَلَى رَوَابِي مَكَّةَ وَفِي وَدِيَانِهَا ، وَانْطَلَقُوا فِي طُرُقَاتِ مَكَّةَ الضَّيِّقَةِ يَضْحَكُونَ فِي بَرَاءَةِ الْمَلَائِكَةِ . وَإِنْ هِيَ إِلَّا خُطُوَاتٍ حَتَّى أَشْرَفُوا عَلَى الْكَعْبَةِ ، فَقَدْ كَانَتِ الدُّورُ تُحِيطُ بِالْحَرَمِ تَقْتَرِبُ مِنْهُ أَوْ تَبْتَعِدُ عَنْهُ لِمَا لِكُلِّ أُسْرَةٍ مِنْ مَكَانَةٍ وَمَقَامٍ ، فَكَانَ بَنُو زُهْرَةَ وَبَنُو هَاشِمٍ أَقْرَبَ أَهْلِ مَكَّةَ إِلَى الْبَيْتِ الْمُقَدَّسِ فَقَدْ كَانَا أَشْرَفَ حَيَّيْنِ مِنَ الْعَرَبِ .
Aminah binti Wahab keluar bersama sepupu perempuannya, Halah binti Wuhaib, serta beberapa gadis dan anak laki-laki dari Bani Zuhrah dan Bani Hasyim, dari rumah mereka untuk bermain di bukit-bukit dan lembah-lembah Mekkah. Mereka pun pergi menyusuri jalan-jalan sempit di Mekkah sambil tertawa dalam kepolosan malaikat. Tidak butuh banyak langkah hingga mereka sampai di depan Ka'bah. Rumah-rumah di sekitar Haram ada yang mendekat atau menjauh darinya, sesuai dengan kedudukan dan martabat setiap keluarga. Bani Zuhrah dan Bani Hasyim adalah penduduk Mekkah yang paling dekat dengan Baitul Muqaddas, karena mereka berdua adalah dua kabilah Arab yang paling mulia.
كَانَتِ الشَّمْسُ قَدْ أَشْرَقَتْ فَغَمَرَتْ أَشِعَّتُهَا الدُّورَ الَّتِي انْتَشَرَتْ عَلَى سُفُوحِ الْجِبَالِ الْمُحِيطَةِ بِأَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ ، وَبَدَأَتِ الْحَيَاةُ تَدِبُّ فِي الْوَادِي الْمُقَدَّسِ فَانْحَدَرَ النَّاسُ لِيَطُوفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفُوا إِلَى أَعْمَالِهِمْ . وَاسْتَقْبَلَ غُلَامٌ مِنْ بَنِي زُهْرَةَ قُرْصَ الشَّمْسِ وَقَدْ أَخَذَ بَيْنَ سَبَابَتِهِ وَإِبْهَامِهِ سِنًّا لَهُ قَدْ سَقَطَتْ ، ثُمَّ قَذَفَ بِهَا وَهُوَ يَقُولُ :
Matahari telah terbit dan sinarnya membanjiri rumah-rumah yang tersebar di lereng gunung yang mengelilingi rumah pertama yang dibangun untuk manusia. Kehidupan mulai menggeliat di lembah suci itu, orang-orang pun berbondong-bondong untuk melakukan thawaf di Baitul 'Atiq sebelum mereka beralih ke kesibukan masing-masing. Seorang anak laki-laki dari Bani Zuhrah menyambut cakram matahari dengan mengambil gigi susunya yang telah tanggal di antara jari telunjuk dan ibu jarinya, lalu ia melemparkannya seraya berkata:
— يَا شَمْسُ ، أَبْدِلِينِي بِسِنٍّ أَحْسَنَ مِنْهَا ، وَلْتَجُرَّ فِي ظُلْمَتِهَا آيَاتِكِ .
— Wahai matahari, gantilah aku dengan gigi yang lebih baik darinya, dan biarkan tanda-tandamu mengalir dalam kegelapannya.
وَضَحِكَتْ آمِنَةُ وَغِلْمَانُ بَنِي زُهْرَةَ وَبَنِي هَاشِمٍ ثُمَّ انْطَلَقُوا كَفَرَاشَاتٍ طَلِيقَةٍ إِلَى الصَّفَا وَوَقَفُوا فَوْقَهُ يَنْظُرُونَ إِلَى الْكَعْبَةِ وَإِلَى بِئْرِ زَمْزَمَ وَإِلَى قَوَافِلِ الْحُجَّاجِ الَّتِي بَدَأَتْ تَفِدُ عَلَى مَكَّةَ ، فَقَدْ دَنَا مَوْسِمُ الْحَجِّ . وَلَمَحَ أَحَدُهُمْ قَافِلَةً قَادِمَةً مِنْ نَاحِيَةِ الطَّائِفِ فَصَاحَ فِي فَرَحٍ :
Aminah dan anak-anak Bani Zuhrah serta Bani Hasyim tertawa, kemudian mereka berhamburan layaknya kupu-kupu yang bebas menuju Ash-Shafa. Mereka berdiri di atasnya sambil memandang ke arah Ka'bah, ke sumur Zamzam, dan ke arah kafilah para jamaah haji yang mulai berdatangan ke Mekkah, karena musim haji telah dekat. Salah seorang dari mereka melihat kafilah yang datang dari arah Thaif, lalu ia berteriak kegirangan:
— قَافِلَةُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، جَاءَتْ بِالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ .
— Kafilah Abdul Muththalib, datang membawa kurma dan kismis.
كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَأْتِي بِالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ مِنْ حُرِّ مَالِهِ وَيَضَعُهَا فِي مَاءِ زَمْزَمَ لِيَسْقِيَ الْحَجِيجَ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ ، وَقَدْ كَانَ غِلْمَانُ قُرَيْشٍ يَنْهَلُونَ فِي الْمَوْسِمِ مِنْ أَحْوَاضِ الْمَاءِ الْقَرِيبَةِ مِنَ الْحَرَمِ الَّتِي وُضِعَ فِيهَا التَّمْرُ وَالزَّبِيبُ ، كَانُوا يَجِدُونَ سَعَادَةً فِي مُزَاحَمَةِ الْحُجَّاجِ عَلَى الْمَاءِ فَقَدْ كَانُوا يُحِسُّونَ إِحْسَاسَ مَنْ بَدَأَ كِفَاحَ الْحَيَاةِ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ .
Abdul Muththalib biasa membawa kurma dan kismis dari harta pribadinya dan memasukkannya ke dalam air Zamzam untuk memberi minum para jamaah haji sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Anak-anak Quraisy biasa minum di musim haji dari tempat-tempat air di dekat Haram yang telah diisi dengan kurma dan kismis. Mereka merasakan kebahagiaan saat berdesak-desakan dengan jamaah haji untuk mendapatkan air, karena mereka merasakan sensasi seseorang yang baru memulai perjuangan hidup untuk pertama kalinya.
وَانْحَدَرَتْ آمِنَةُ مِنْ فَوْقِ الصَّفَا ، وَانْحَدَرَ مَعَهَا لِدَاتُهَا ، وَرَاحَتْ تَهْرُولُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ كَمَا يَفْعَلُ الْحُجَّاجُ ، تَشَبُّهًا بِهَاجَرَ لِمَا كَانَتْ تَهْرُولُ بَيْنَهُمَا بَحْثًا عَنِ الْمَاءِ لِتُنْقِذَ وَحِيدَهَا إِسْمَاعِيلَ مِنَ الْمَوْتِ عَطَشًا قَبْلَ أَنْ يَفْجُرَ اللَّهُ لَهُ زَمْزَمَ . وَكَانَتْ آمِنَةُ سَعِيدَةً فِي سَعْيِهَا ، رَقِيقَةً كَنَسِيمِ الصَّبَا ، مُتَفَتِّحَةً كَزَهْرَةِ الرَّبِيعِ ، تَسْتَشْعِرُ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهَا أَنَّهَا مِنْ أَشْرَفِ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ قُرَيْشٍ ، إِلَّا أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ تُحِسُّ فِي أَعْمَاقِهَا أَنَّهَا أَشْرَفُ مَنْ وَطِئَتْ قَدَمَاهَا الرِّمَالُ الَّتِي وَطَأَتْهَا قَدَمَا هَاجَرَ أُمِّ الْعَرَبِ ، فَإِنَّ كَانَ لِهَاجَرَ فَضْلُ تَكْوِينِ الْمُجْتَمَعِ الْمَكِّيِّ حَوْلَ زَمْزَمَ . فَمِنْهَا سَيَنْبَعِثُ النُّورُ الَّذِي سَيُخْرِجُ مِنْ مَكَّةَ لِيَغْمُرَ وَجْهَ الْأَرْضِ كُلَّهَا .
Aminah turun dari atas Shafa, dan teman-teman sebayanya ikut turun bersamanya. Ia berlari-lari kecil di antara Shafa dan Marwah sebagaimana yang dilakukan para jamaah haji, meneladani Hajar ketika beliau berlari di antara keduanya demi mencari air untuk menyelamatkan anak tunggalnya, Ismail, dari kematian karena kehausan sebelum Allah memancarkan Zamzam untuknya. Aminah bahagia dalam sa'inya, lembut laksana angin sepoi-sepoi, mekar bak bunga musim semi. Meskipun masih belia, ia merasakan bahwa ia berasal dari rumah paling mulia di antara rumah-rumah Quraisy. Namun, di lubuk hatinya, ia tidak merasa bahwa ia lebih mulia daripada orang yang jejak kakinya menginjak pasir yang pernah diinjak oleh jejak kaki Hajar, ibu bangsa Arab. Jika Hajar memiliki keutamaan dalam membentuk masyarakat Mekkah di sekitar Zamzam, maka dari situlah akan terpancar cahaya yang akan keluar dari Mekkah untuk membanjiri seluruh permukaan bumi.
وَاتَّخَذَتْ آمِنَةُ وَبَنَاتُ بَنِي زُهْرَةَ وَبَنِي هَاشِمٍ وَغِلْمَانُهُمْ طَرِيقَهُمْ إِلَى الْكَعْبَةِ ، وَقَدْ نَصَبَ الْخُمْسُ قِبَابَهُمُ الْحُمْرَ بَيْنَ الصَّفَا وَبَابِ الْحَرَمِ ، وَكَانَتِ الْقِبَابُ مِنَ الْأَدَمِ ، فَالْخُمْسُ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ لَا يَغْزِلُونَ صُوفًا وَلَا وَبَرًا وَلَا يَدْخُلُونَ بَيْتًا مِنَ الشَّعَرِ وَالْمَدَرِ . إِنَّهُمْ أَبْنَاءُ الْحَرَمِ الْمُلْتَزِمُونَ فِي دِينِهِمْ لَا يَعْظِمُونَ شَيْئًا مِنَ الْأَرْضِ الَّتِي وَرَاءَ الْحَرَمِ ، وَقَدْ تَرَكُوا الْوُقُوفَ عَلَى عَرَفَةَ لِأَنَّهُ خَارِجٌ عَنِ الْحَرَمِ وَاكْتَفَوْا بِالْوُقُوفِ بِالْمُزْدَلِفَةِ .
Aminah bersama para gadis Bani Zuhrah dan Bani Hasyim serta anak-anak laki-laki mereka menempuh perjalanan menuju Ka'bah. Al-Khums telah mendirikan kemah-kemah merah mereka di antara Shafa dan pintu Haram. Kemah-kemah itu terbuat dari kulit. Al-Khums, selama bulan-bulan haram, tidak memintal bulu domba maupun bulu unta, dan mereka tidak masuk ke rumah yang terbuat dari rambut (bulu) atau tanah liat. Mereka adalah penduduk Haram yang taat dalam agama mereka, tidak mengagungkan apa pun dari bumi yang berada di luar Haram. Mereka meninggalkan wuquf di Arafah karena letaknya di luar Haram dan mencukupkan diri dengan wuquf di Muzdalifah.
وَكَانَ الْخُمْسُ يَقُولُونَ : لَا نَطُوفُ فِي الثِّيَابِ الَّتِي قَارَفْنَا فِيهَا الذُّنُوبَ ، وَلَا نَعْبُدُ اللَّهَ فِي ثِيَابٍ أَذْنَبْنَا فِيهَا ، وَلَا نَطُوفُ فِي ثِيَابٍ عَصَيْنَا اللَّهَ فِيهَا ، فَكَانُوا يُعِيرُونَ النَّاسَ ثِيَابًا جَدِيدَةً أَوْ يَبِيعُونَهَا لِلْقَادِرِينَ . وَكَانَ الْفُقَرَاءُ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ عَرَايَا ، أَمَّا مَنْ يَطُوفُ بِثِيَابِهِ فَقَدْ كَانَ عَلَيْهِ أَنْ يَطْرَحَهَا بَعْدَ الطَّوَافِ حَتَّى تَبْلَى مِنْ وَطْأَةِ الْأَقْدَامِ وَلَفْحِ الشَّمْسِ وَزَجْرَةِ الرِّيَاحِ .
Al-Khums biasa berkata: "Kami tidak thawaf dengan pakaian yang di dalamnya kami melakukan dosa, kami tidak menyembah Allah dengan pakaian yang di dalamnya kami berbuat dosa, dan kami tidak thawaf dengan pakaian yang di dalamnya kami mendurhakai Allah." Karena itu, mereka meminjamkan pakaian baru kepada orang lain atau menjualnya kepada yang mampu. Kaum fakir miskin biasa thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Adapun bagi siapa yang thawaf dengan pakaiannya, maka ia harus membuangnya setelah thawaf hingga pakaian itu rusak karena terinjak-injak kaki, sengatan matahari, dan terpaan angin.
وَدَخَلَتْ آمِنَةُ وَلِدَاتُهَا الْحَرَامَ . كَانَ أَمَامَهُمْ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَبَابُ الْكَعْبَةِ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ بِئْرُ زَمْزَمَ ، فَانْطَلَقُوا إِلَى الْبِئْرِ لِيُطْفِئُوا عَطَشَهُمْ ثُمَّ ذَهَبُوا لِيَطُوفُوا بِالْبَيْتِ مَعَ الطَّائِفِينَ .
Aminah dan teman-teman sebayanya memasuki Al-Haram. Di depan mereka terdapat Maqam Ibrahim dan pintu Ka'bah, sementara di sebelah kiri mereka terdapat sumur Zamzam. Mereka pun pergi ke sumur tersebut untuk memadamkan dahaga, kemudian mereka pergi untuk melakukan thawaf di Baitullah bersama orang-orang yang sedang thawaf.
وَكَانَتِ الْأَصْنَامُ مَنْصُوبَةً فِي الْكَعْبَةِ وَمِنْ حَوْلِهَا ، وَكَانَ النَّاسُ يَعْبُدُونَهَا لِتُقَرِّبَهُمْ إِلَى اللَّهِ زُلْفَى ، وَكَانَتْ آمِنَةُ تَنْظُرُ إِلَى الْأَصْنَامِ فِي رِيبَةٍ فَجَدُّهَا أَبُو كَبْشَةَ قَدْ كَفَرَ بِالْأَصْنَامِ جَمِيعًا وَعَبَدَ كَوْكَبَ « الشِّعْرَى الْعَبُورِ » وَهُوَ مِنْ نُجُومِ الْجَوْزَاءِ ، وَقَدْ سَخِرَ مِنْ عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ الَّتِي لَا تَمْلِكُ لِنَفْسِهَا نَفْعًا وَلَا ضَرَّا ، وَقَدْ سَمِعَتْ آمِنَةُ وَلَا رَيْبَ مِنْ رِجَالِ الْأُسْرَةِ وَنِسَائِهَا بِدَعْوَةِ أَبِي كَبْشَةَ وَمَا سَنَّهُ لِلْعَرَبِ مِنْ عِبَادَةِ الْكَوَاكِبِ وَتَسْفِيهِ أَحْلَامِ قَوْمِهِ .
Berhala-berhala terpasang di dalam Ka'bah dan di sekelilingnya. Orang-orang menyembahnya agar dapat mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Aminah memandang berhala-berhala itu dengan rasa ragu. Kakeknya, Abu Kabsyah, telah mengingkari semua berhala dan menyembah bintang "Syi'ra Al-'Abur" yang merupakan bagian dari bintang-bintang Al-Jauza. Ia pun mencemooh penyembahan berhala yang tidak mampu memberikan manfaat atau mudharat bagi dirinya sendiri. Aminah pasti telah mendengar dari pria dan wanita keluarganya tentang seruan Abu Kabsyah dan apa yang ia tetapkan bagi bangsa Arab berupa penyembahan bintang-bintang dan penyia-nyiaan impian kaumnya.
كَانَتْ مَكَّةُ قَدِ انْتَقَلَتْ مِنْ مَرْحَلَةِ الْوَرَعِ إِلَى مَرْحَلَةِ الْخُرَافَةِ فَرَاحَ أَهْلُهَا يَنْسِجُونَ حَوْلَ كُلِّ ظَوَاهِرِ الطَّبِيعَةِ أُسْطُورَةً . فَقَالُوا إِنَّ الشِّعْرَى الْعَبُورَ كَانَتْ وَ « شِعْرَى الْغُمَيْصَاءِ » وَ « سُهَيْلٌ » مُجْتَمِعَةً ، لِذَلِكَ يُقَالُ لِلشِّعْرَيَاتِ أُخْتَا « سُهَيْلٌ » ، فَانْحَدَرَ سُهَيْلٌ فَصَارَ يَمَانِيًا ، وَاتَّبَعَتْهُ الْعَبُورُ فَعَبَرَتِ « الْمَجَرَّةَ » ، وَأَقَامَتِ الْغُمَيْصَاءُ فَبَكَتْ لِفَقْدِ سُهَيْلٍ حَتَّى غَمَصَتْ ، وَذَلِكَ هُوَ سَبَبُ أَنَّ الشِّعْرَى الْعَبُورَ أَشَدُّ ضِيَاءً مِنَ الشِّعْرَى الْغُمَيْصَاءِ الَّتِي أَضْعَفَ الْبُكَاءُ نُورَ عَيْنِهَا .
Mekkah telah berpindah dari fase kesalehan ke fase khurafat. Penduduknya mulai menenun legenda di sekitar setiap fenomena alam. Mereka berkata bahwa Syi'ra Al-'Abur, Syi'ra Al-Ghumaisha, dan Suhail pernah berkumpul. Oleh karena itu, kedua bintang Syi'ra disebut sebagai saudara perempuan Suhail. Kemudian Suhail turun dan menjadi bintang Yaman (Canopus), Al-'Abur mengikutinya lalu menyeberangi "Al-Majarrah" (Bima Sakti), sedangkan Al-Ghumaisha tetap tinggal dan menangis karena kehilangan Suhail hingga matanya berair (kotor). Itulah alasan mengapa Syi'ra Al-'Abur lebih terang daripada Syi'ra Al-Ghumaisha yang cahaya matanya telah dilemahkan oleh tangisan.
كَانَتْ آمِنَةُ تُحِسُّ رَاحَةً كُلَّمَا لَاذَتْ بِالْحَرَمِ وَانْشِرَاحًا يَمْلَأُ وِجْدَانَهَا وَنُورًا يَنْتَشِرُ فِي جَوَانِبِ نَفْسِهَا ، وَأَنَّ قَلْبَهَا الصَّغِيرَ قَدِ اتَّسَعَ لِيَحْتَوِيَ الْكَوْنَ كُلَّهُ ، فَهِيَ تَسْتَشْعِرُ تَنَاسُقًا مَعَ الْوُجُودِ وَتَعَاطُفًا مَعَ كُلِّ مَا تَقَعُ عَيْنَاهَا عَلَيْهِ .
Aminah merasa nyaman setiap kali ia berlindung di Al-Haram, dan perasaan lapang memenuhi batinnya, serta cahaya tersebar di seluruh sisi jiwanya. Hatinya yang kecil telah meluas untuk mencakup seluruh alam semesta, karena ia merasakan keselarasan dengan wujud dan kasih sayang terhadap segala sesuatu yang dipandang oleh matanya.
وَحَانَتْ مِنْ آمِنَةَ الْتِفَاتَةٌ فَرَأَتْ مَجْلِسَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَقَدْ جَلَسَ حَوْلَهُ أَبْنَاؤُهُ الْعَشَرَةُ كَأَنَّهُمْ أَسَدُ غَابٍ ، وَقَدْ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ فِيهِمْ فَطَافَتْ بِذِهْنِهَا حَقِيقَةٌ لَمْ تَفْطَنْ إِلَيْهَا مِنْ قَبْلُ ؛ إِنَّ الدُّنْيَا لَا تَثْبُتُ عَلَى حَالٍ ، فَعَبْدُ اللَّهِ مُنْذُ عَهْدٍ قَرِيبٍ كَانَ بَيْنَ غِلْمَانِ بَنِي هَاشِمٍ يَلْعَبُ مَعَهُمْ فِي الْحَجُونِ وَيَجْرِي بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَيَنْطَلِقُ مَعَهُمْ إِلَى السُّوقِ ، وَهَا هُوَ ذَا الْيَوْمَ قَدْ بَلَغَ مَبْلَغَ الرِّجَالِ وَجَلَسَ بَيْنَ سَادَاتِ قُرَيْشٍ شَرِيفًا مِنْ أَشْرَفِ بَيْتٍ ، تَرَى مَاذَا يَسْمَعُ عَبْدُ اللَّهِ مِنْ حَدِيثٍ وَمَاذَا يَقُولُ فِي مِثْلِ ذَلِكَ الْمَجْلِسِ الْجَلِيلِ !؟
Aminah sempat menoleh dan melihat majelis Abdul Muththalib, di mana sepuluh putranya duduk di sekelilingnya bagaikan singa hutan. Abdullah ada di antara mereka, maka terlintaslah di benaknya suatu kenyataan yang belum pernah ia sadari sebelumnya; bahwa dunia tidak pernah menetap pada satu keadaan. Belum lama berselang, Abdullah masih bermain bersama anak-anak Bani Hasyim di Al-Hajun, berlari di antara Shafa dan Marwah, dan pergi bersama mereka ke pasar. Namun hari ini, ia telah mencapai usia dewasa dan duduk di antara para pemuka Quraisy sebagai seorang yang mulia dari rumah yang paling mulia. Entah apa yang didengar Abdullah dari perbincangan dan apa yang ia katakan dalam majelis yang agung tersebut!?
وَضَمَّ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ ابْنَهُ عَبْدَ اللَّهِ إِلَى صَدْرِهِ فِي حُبٍّ ، فَقَدْ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ أَصْغَرَ بَنِيهِ وَأَحَبَّهُمْ إِلَى قَلْبِهِ ، وَتَوَّجَتْ شَفَتَى عَبْدِ اللَّهِ ابْتِسَامَةً رَقِيقَةً فَبَدَا لِآمِنَةَ أَنَّ وَجْهَ الدُّنْيَا كُلَّهَا قَدْ أَشْرَقَ بِالِابْتِسَامِ ، وَأَحَسَّتْ آمِنَةُ أَنَّهَا لَيْسَتْ وَحْدَهَا الَّتِي تُرْسِلُ النَّظَرَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ فَقَدْ لَمَحَتْ رَقِيقَةَ بِنْتَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قُصَيٍّ أُخْتَ وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ ، وَاقِفَةً عِنْدَ حِجْرِ إِسْمَاعِيلَ تَخْتَلِسُ النَّظَرَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ .
Abdul Muththalib mendekap putranya, Abdullah, ke dadanya dengan penuh kasih sayang, karena Abdullah adalah putra bungsunya dan yang paling dicintainya. Senyum tipis menghiasi bibir Abdullah, dan bagi Aminah, seolah wajah dunia seluruhnya bersinar karena senyuman itu. Aminah merasa bahwa bukan hanya dirinya yang memandang ke arah Abdullah, karena ia melihat Raqiqah binti Naufal bin Asad bin Abdul 'Uzza bin Qushay, saudara perempuan Waraqah bin Naufal, sedang berdiri di dekat Hijr Ismail sambil mencuri pandang ke arah Abdullah.
كَانَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ قَدْ تَنَصَّرَ بَعْدَ أَنْ كَفَرَ بِأَوْثَانِ قَوْمِهِ وَطَلَبَ الدِّينَ فِي الْآفَاقِ ، فَكَانَ يَعْكُفُ عَلَى التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَدِيَانَاتِ الْأَقْدَمِينَ ، حَتَّى إِذَا مَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ أُخْتُهُ رَقِيقَةُ رَاحَ يُحَدِّثُهَا عَنِ الدِّينِ وَيَقُولُ لَهَا فِيمَا يَقُولُ :
Waraqah bin Naufal telah memeluk Nasrani setelah mengingkari berhala-berhala kaumnya dan mencari agama di berbagai penjuru negeri. Ia tekun mempelajari Taurat, Injil, dan agama-agama terdahulu. Ketika saudara perempuannya, Raqiqah, menemuinya, ia mulai berbicara kepadanya tentang agama dan berkata di antara perkataannya:
— إِنَّهُ كَائِنٌ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ نَبِيٌّ .
— Sungguh akan ada seorang Nabi di umat ini.
فَكَانَتْ رَقِيقَةُ تَحْلُمُ بِأَنْ تَكُونَ أُمَّ ذَلِكَ النَّبِيِّ الْمُنْتَظَرِ ، وَكَانَتْ تَقْلِبُ بَصَرَهَا فِي وُجُوهِ شَبَابِ قُرَيْشٍ كَأَنَّمَا تَبْحَثُ عَنْ وَجْهِ ذَلِكَ النَّبِيِّ ، وَقَدْ كَانَتْ رَقِيقَةُ ذَاتَ فَرَاسَةٍ فَاسْتَرَاحَتْ إِلَى وَجْهِ عَبْدِ اللَّهِ .
Raqiqah bermimpi untuk menjadi ibu dari Nabi yang dinanti-nantikan itu. Ia selalu mengedarkan pandangannya ke wajah-wajah pemuda Quraisy seolah-olah ia sedang mencari wajah sang Nabi. Karena Raqiqah memiliki firasat, ia pun merasa tenang saat memandang wajah Abdullah.
وَأَقْبَلَ وَهْبٌ سَيِّدُ بَنِي زُهْرَةَ وَوُهَيْبٌ أَخُوهُ عَلَى مَجْلِسِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَجَلَسَا ، وَرَاحَ وَهْبٌ يُحَادِثُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ وَقَدْ أَخَذَ بِذَقَنِهِ مُلَاطِفًا ، وَرَأَتْهُ آمِنَةُ فَقَالَتْ هَالَةُ :
Wahb, pemimpin Bani Zuhrah, dan Wuhaib, saudaranya, mendatangi majelis Abdul Muththalib lalu duduk. Wahb mulai berbincang dengan Abdul Muththalib sambil memegang dagunya dengan penuh keakraban. Aminah melihatnya, lalu Halah berkata:
— قَدْ جَاءَ أَبِي وَأَبُوكَ .
— Ayahku dan ayahmu telah datang.
وَالْتَفَتَتْ هَالَةُ فَوَقَعَتْ عَيْنَاهَا عَلَى أَبِيهَا وَوُهَيْبٍ وَقَدْ رَاحَ يُحَادِثُ أُمَيَّةَ بْنَ حَرْبِ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ نَدِيمِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ زَعِيمِ قُرَيْشٍ ، فَلَاحَ فِي وَجْهِهَا خَوْفٌ فَابْتَعَدَتْ وَقَدِ اتَّخَذَتْ طَرِيقَهَا نَاحِيَةَ الْبَابِ الَّذِي يُفْضِي إِلَى سُوقِ مَكَّةَ ، وَفَتَيَاتُ بَنِي زُهْرَةَ وَبَنِي هَاشِمٍ وَغِلْمَانُهُمْ فِي أَثَرِهَا ..
Halah menoleh, matanya tertuju pada ayahnya dan Wuhaib yang sedang berbincang dengan Umayyah bin Harb bin Abdul Syams, teman duduk Abdul Muththalib yang merupakan pemimpin Quraisy. Tampak raut ketakutan di wajahnya, ia pun menjauh dan mengambil jalan menuju pintu yang menuju ke pasar Mekkah, diikuti oleh gadis-gadis Bani Zuhrah dan Bani Hasyim serta anak-anak laki-laki mereka..
وَخَرَجَتْ آمِنَةُ وَهَالَةُ وَالَّذِينَ مَعَهُمَا إِلَى سُوقِ مَكَّةَ وَكَانَ سَقِيفَةً قَدْ حَجَبَتْ أَشِعَّةَ الشَّمْسِ الْحَامِيَةَ ، وَقَدِ انْتَشَرَتْ عَلَى جَانِبَيِ السُّوقِ حَوَانِيتُ التُّجَّارِ الَّتِي غَصَّتْ بِالْأَقْمِشَةِ الْمَصْنُوعَةِ فِي تَاينِسَ وَالْحُلَى الْمَجْلُوبَةِ مِنْ مَنَفَ وَالْحَرِيرِ الْوَارِدِ مِنْ فَارِسَ وَالطَّرَفِ السُّورِيَّةِ .
Aminah, Halah, dan mereka yang bersamanya keluar menuju pasar Mekkah. Pasar itu berupa atap yang menghalangi terik matahari yang menyengat. Di kedua sisi pasar, tersebar toko-toko pedagang yang dipenuhi dengan kain-kain buatan Tainis, perhiasan yang didatangkan dari Menfis, sutra yang datang dari Persia, dan kain-kain dari Suriah.
وَرَاحَتْ ذُرِّيَّةُ زُهْرَةَ وَهَاشِمٍ يَتَفَرَّسُونَ فِي وُجُوهِ النَّاسِ الَّذِينَ كَانَتِ السُّوقُ تَمُوجُ بِهِمْ ، كَانُوا عَرَبًا وَنَصَارَى وَيَهُودًا وَسُورِيِّينَ وَمِصْرِيِّينَ وَأَحْبَاشًا وَرُومَانِيِّينَ قَدْ عَرَفُوا الرَّاحَةَ وَالِاسْتِقْرَارَ فِي مَكَّةَ ، بَعْدَ أَنْ ذَاقُوا مَرَارَةَ الِاضْطِهَادِ فِي بِلَادِهِمْ .
Keturunan Zuhrah dan Hasyim mulai mengamati wajah-wajah orang yang memadati pasar. Mereka terdiri dari bangsa Arab, Nasrani, Yahudi, Suriah, Mesir, Habasyah, dan Romawi yang telah menemukan kenyamanan dan kedamaian di Mekkah, setelah mereka merasakan pahitnya penindasan di negeri mereka sendiri.
كَانَتِ السُّوقُ قَدِ ازْدَحَمَتْ بِكُلِّ أَجْنَاسِ الْأَرْضِ ، تَتَرَدَّدُ فِي جَنَبَاتِهَا لُغَاتٌ مُتَبَايِنَةٌ ، فَكَانَ أَهْلُ مَكَّةَ يَلْتَقِطُونَ كَلِمَةً مِنْ هُنَا وَكَلِمَةً مِنْ هُنَاكَ فَتَرَى بِذَلِكَ لُغَتَهُمْ ، وَيَقْتَبِسُونَ مَا يَرُوقُ لَهُمْ مِنْ حَضَارَةِ الشُّعُوبِ الَّتِي جَاءَ أَبْنَاؤُهَا إِلَيْهَا مُخْتَارِينَ يَلْتَمِسُونَ الْأَمْنَ ، أَوْ جَاءُوا إِلَيْهَا كَارِهِينَ فِي رِكَابِ تُجَّارِ الرَّقِيقِ الَّذِينَ كَانُوا يَبِيعُونَ أَسْرَى الْحُرُوبِ فِي أَسْوَاقِ الْعَرَبِ ، فَازْدَهَرَتْ حَضَارَةُ مَكَّةَ ، وَانْتَشَرَ التَّرَفُ فِي أَغْنِيَائِهَا .
Pasar itu telah dipadati oleh segala bangsa di muka bumi, bahasa-bahasa yang berbeda bergema di sekitarnya. Penduduk Mekkah pun mengambil kata dari sini dan kata dari sana sehingga bahasa mereka berkembang, dan mereka mengadopsi apa yang mereka sukai dari peradaban bangsa-bangsa yang anak-anaknya datang ke sana atas kemauan sendiri mencari keamanan, atau datang dengan terpaksa bersama rombongan pedagang budak yang menjual tawanan perang di pasar-pasar Arab. Dengan demikian, peradaban Mekkah pun berkembang pesat, dan kemewahan tersebar di kalangan orang-orang kayanya.
وَوَقَفَتْ آمِنَةُ وَابْنَةُ عَمِّهَا وَمَنْ مَعَهُمَا أَمَامَ صَائِغٍ يَنْظُرُونَ إِلَى مَا يَصْنَعُ مِنْ حُلًى فِي إِعْجَابٍ ، كَانَ الصَّائِغُ يَهُودِيًّا وَكَانَ الذَّهَبُ فِي مَنَاجِمِ بَنِي سُلَيْمٍ اسْتَخْرَجَهُ الْعَرَبُ وَجَلَبُوهُ إِلَى مَكَّةَ لِيَصْنَعَ مِنْهُ الْحُلَى أَوْ لِيَضْرِبَ سَبَائِكَ ذَهَبِيَّةً لِلَّذِينَ يَكْتَنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ .
Aminah, sepupu perempuannya, dan yang lainnya berdiri di depan seorang pengrajin emas, memandang kagum pada perhiasan yang sedang ia buat. Pengrajin itu adalah seorang Yahudi, dan emas tersebut berasal dari tambang Bani Sulaim yang ditambang oleh orang-orang Arab dan dibawa ke Mekkah untuk dibuat menjadi perhiasan atau dicetak menjadi batangan emas bagi mereka yang menimbun emas dan perak.
وَظَلُّوا يَجُوبُونَ خِلَالَ السُّوقِ حَتَّى أَحَسُّوا التَّعَبَ يَمْشِي فِي أَوْصَالِهِمْ ، فَقَفَلُوا عَائِدِينَ إِلَى دَوْرِهِمْ يَقُصُّونَ عَلَى أَهْلِهِمْ فِي فَرَحٍ مَا فَعَلُوا فِي يَوْمِهِمْ وَمَا صَادَفُوا مِنْ أَحْدَاثٍ جَذَبَتِ انْتِبَاهَهُمْ ، وَقَدْ حَسِبُوا أَنَّ الْأَيَّامَ كُلَّهَا لَعِبٌ وَهُوَ وَزِينَةٌ .
Mereka terus menjelajahi pasar hingga mereka merasakan keletihan menjalar di tubuh mereka. Mereka pun kembali ke rumah mereka, menceritakan dengan gembira kepada keluarga mereka tentang apa yang mereka lakukan pada hari itu dan peristiwa apa saja yang menarik perhatian mereka. Mereka mengira bahwa hari-hari itu seluruhnya adalah permainan, kesia-siaan, dan perhiasan.
وَمَرَّتِ الْأَيَّامُ وَالْأَشْهُرُ وَالسُّنُونُ وَآمِنَةُ تَعِيشُ بَيْنَ أَهْلِهَا وَمَعَ لِدَاتِهَا حَيَاتَهَا السَّعِيدَةَ الرَّتِيبَةَ ، وَفِي ذَاتِ يَوْمٍ رَأَتْ أَبَوَيْهَا يَتَنَاجِيَانِ بَعِيدًا عَنْهَا ، ثُمَّ رَأَتْ أُمَّهَا تُقْبِلُ عَلَيْهَا وَتَقُولُ لَهَا :
Hari, bulan, dan tahun berlalu, sementara Aminah hidup di antara keluarganya dan bersama teman-teman sebayanya dalam kehidupan yang bahagia dan teratur. Suatu hari, ia melihat kedua orang tuanya berbisik-bisik menjauh darinya, kemudian ia melihat ibunya menghampirinya dan berkata kepadanya:
— سَيَأْخُذُكِ أَبُوكِ يَا آمِنَةُ إِلَى دَارِ النَّدْوَةِ .
— Ayahmu akan membawamu, wahai Aminah, ke Darun Nadwah.
دَارُ النَّدْوَةِ !؟ إِنَّهَا لَحْظَةٌ حَاسِمَةٌ فِي حَيَاتِهَا ، إِنَّهَا الْفَاصِلُ بَيْنَ طُفُولَتِهَا الْحُرَّةِ الطَّلِيقَةِ وَبَيْنَ شَبَابِهَا الْمَحْجُوبِ فِي خِدْرِهَا ، لَقَدِ انْتَهَتْ أَيَّامُ انْطِلَاقِهَا كَفَرَاشَةٍ إِلَى رَوَابِي مَكَّةَ وَرُبُوعِهَا كَمَا انْتَهَتْ مِنْ قَبْلُ أَيَّامُ لَعِبِ عَبْدِ اللَّهِ مَعَهُمْ ، لَقَدْ أَصْبَحَتْ شَابَّةً وَخَلَّفَتْ طُفُولَتَهَا الْبَرِيئَةَ دُبُرَ أُذُنِهَا كَمَا أَصْبَحَ عَبْدُ اللَّهِ فَتًى مِنْ فِتْيَانِ قُرَيْشٍ يَتَطَلَّعُ إِلَى مُسْتَقْبَلِهِ .
Darun Nadwah!? Itu adalah momen krusial dalam hidupnya, batas antara masa kecilnya yang bebas dan merdeka dengan masa mudanya yang terpingit di balik tirai. Hari-hari kebebasannya laksana kupu-kupu menuju bukit-bukit dan lembah Mekkah telah berakhir, sebagaimana telah berakhir pula hari-hari permainan Abdullah bersama mereka sebelumnya. Ia telah menjadi seorang gadis muda dan meninggalkan masa kecilnya yang polos di belakang, sebagaimana Abdullah telah menjadi seorang pemuda Quraisy yang menatap masa depannya.
وَتَأَهَّبَتْ آمِنَةُ لِلِانْطِلَاقِ إِلَى دَارِ النَّدْوَةِ مَعَ أَبِيهَا فَراحَتْ تَتَحَرَّكُ فِي تَؤُدَةٍ ، فَقَدْ أَحَسَّتْ فَجْأَةً نُضْجًا فِي جِسْمِهَا وَفِي عَقْلِهَا وَإِنْ كَانَتْ رَهْبَةٌ غَامِضَةٌ قَدِ انْتَشَرَتْ فِي جَوْفِهَا . وَجَاءَ أَبُوهَا وَأَخَذَهَا بِهَا وَانْطَلَقَ بِهَا إِلَى الْكَعْبَةِ .
Aminah bersiap untuk berangkat ke Darun Nadwah bersama ayahnya, lalu ia mulai bergerak dengan tenang. Ia tiba-tiba merasakan kedewasaan dalam tubuh dan pikirannya, meskipun ada rasa takut yang samar menyelimuti batinnya. Ayahnya datang, membimbingnya, dan berangkat bersamanya menuju Ka'bah.
وَالْتَقَى وَهْبٌ وَآمِنَةُ وَوُهَيْبٌ فِي الْحَرَمِ وَرَاحُوا يَطُوفُونَ بِالْكَعْبَةِ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ ، ثُمَّ ذَهَبُوا إِلَى دَارِ النَّدْوَةِ وَقَدْ كَانَتْ لِبَنِي عَبْدِ الدَّارِ بْنِ قُصَيٍّ ، فَكَانُوا يَقُومُونَ بِمَرَاسِمِ الزَّوَاجِ وَالْخِتَانِ وَالْفَصْلِ بَيْنَ النَّاسِ فِي قَضَايَاهُمْ ، وَإِنْ كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ زَعِيمَ قُرَيْشٍ وَصَاحِبَ السِّقَايَةِ وَالرِّفَادَةِ .
Wahb, Aminah, dan Wuhaib bertemu di Al-Haram dan mereka mulai melakukan thawaf di Ka'bah sebanyak tujuh putaran, kemudian mereka pergi ke Darun Nadwah yang dimiliki oleh Bani Abduddar bin Qushay. Di sanalah mereka melakukan upacara pernikahan, khitan, dan penyelesaian persengketaan di antara manusia, meskipun Abdul Muththalib adalah pemimpin Quraisy serta pemegang hak siqayah dan rifadah (pelayanan air minum dan jamuan bagi jamaah haji).
وَتَقَدَّمَتْ آمِنَةُ مِنَ الْمُكَلَّفِ بِمَرَاسِمِ حَجْبِ فَتَيَاتِ مَكَّةَ فَشَقَّ قَمِيصَهَا ثُمَّ حَجَبَ بِهِ وَجْهَهَا ، فَكَانَ ذَلِكَ إِيذَانًا بِأَنَّ آمِنَةَ قَدْ حُجِبَتْ وَلَنْ تَقَعَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْيَوْمِ إِلَّا عُيُونُ الْمَحَارِمِ مِنْ أَهْلِهَا .
Aminah menghadap petugas upacara pemingitan gadis-gadis Mekkah, ia pun merobek gamisnya lalu menutupi wajahnya dengan robekan itu. Hal itu merupakan pertanda bahwa Aminah telah dipingit dan mulai hari itu, tidak akan ada lagi mata yang dapat memandangnya selain mata kerabat dekat dari keluarganya.
وَتَقَدَّمَتْ هَالَةُ وَشَقَّ قَمِيصَهَا وَحُجِّبَتْ ، ثُمَّ عَادَتْ آمِنَةُ وَهَالَةُ إِلَى دُورِ بَنِي زُهْرَةَ وَقَدْ ضُرِبَ عَلَيْهِمَا الْحِجَابُ وَحِيلَ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ شَبَابِ الْأُسْرَةِ وَبَيْنَ شَبَابِ الْأُسَرِ الْقُرَشِيَّةِ الَّتِي كَانَتْ تَتَبَادَلُ الزِّيَارَاتِ مَعَ بَنِي زُهْرَةَ .
Halah pun maju, gamisnya dirobek, dan ia dipingit. Kemudian Aminah dan Halah kembali ke rumah Bani Zuhrah, di mana hijab telah dipasang di hadapan mereka, menjadi penghalang antara mereka dan para pemuda keluarga serta para pemuda keluarga Quraisy yang dulu sering bertukar kunjungan dengan Bani Zuhrah.
وَجَاءَتْ سَوْدَةُ عَمَّةُ وَهْبٍ إِلَى دَارِهِ فَخَفَّ إِلَيْهَا نِسَاءُ بَنِي زُهْرَةَ وَفَتَيَاتُهَا يُرَحِّبْنَ بِهَا ، وَإِنْ كَانَتْ زَرْقَاءَ قَبِيحَةَ الصُّورَةِ ، فَقَدْ كَانَتْ كَاهِنَةَ قُرَيْشٍ ، وَكَانَتْ تُخْبِرُهُمْ بِمَا سَتَأْتِي بِهِ الْأَيَّامُ .
Saudah, bibi Wahb, datang ke rumahnya. Para wanita Bani Zuhrah dan gadis-gadisnya bergegas menyambutnya dengan hangat, meskipun ia bermata biru dan berwajah buruk rupa. Sebab, ia adalah dukun wanita kaum Quraisy yang sering mengabarkan kepada mereka tentang apa yang akan terjadi di masa depan.
كَانَتْ سَوْدَةُ تَنْظُرُ فِي النُّجُومِ وَكَانَتْ تُكْثِرُ مِنَ الصِّيَامِ حَتَّى تَشِفَّ رُوحُهَا وَتَنْسَلِخَ نَفْسُهَا مِنَ الْبَشَرِيَّةِ إِلَى الرُّوحَانِيَّةِ ، وَكَانَتْ تَجْتَهِدُ فِي الِاتِّصَالِ بِالْمَلَإِ الْأَعْلَى لِتَأْتِيَ بِخَبَرِ السَّمَاءِ ، وَقَدْ صَدَقَ بَعْضُ مَا تَنَبَّأَتْ فَقَالَتْ قُرَيْشٌ : ﴿ إِنَّهَا تَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ ﴾ .
Saudah biasa mengamati bintang-bintang dan memperbanyak puasa hingga jiwanya menjadi lembut dan terlepas dari kemanusiaan menuju kerohanian. Ia berusaha keras untuk terhubung dengan alam tinggi guna mendapatkan kabar dari langit. Sebagian ramalannya terbukti benar, sehingga kaum Quraisy berkata: "Sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allah."
وَجَلَسَتْ سَوْدَةُ وَجَلَسَ نِسَاءُ بَنِي زُهْرَةَ حَوْلَهَا وَتَعَلَّقَتْ بِهَا الْعُيُونُ وَأَرْهَفَتِ الْآذَانُ ، فَرَاحَتْ سَوْدَةُ تَنْفُرُ فِي وُجُوهِ الْجَالِسَاتِ عِنْدَهَا ثُمَّ قَالَتْ :
Saudah duduk, dan wanita-wanita Bani Zuhrah duduk di sekelilingnya. Mata tertuju padanya dan telinga menyimak dengan seksama. Saudah mulai mengembuskan napas ke wajah orang-orang yang duduk di dekatnya, kemudian berkata:
— إِنَّ فِيكُمْ يَا بَنِي زُهْرَةَ أَوْ تَلِدُ نَذِيرًا ، فَأَعْرِضُوا عَلَيَّ بَنَاتِكُمْ .
— Sesungguhnya di antara kalian wahai Bani Zuhrah, atau dari keturunan kalian akan lahir seorang pemberi peringatan, maka tampilkanlah putri-putri kalian di hadapanku.
وَخَفَقَتِ الْقُلُوبُ فِي الصُّدُورِ وَزَاغَتِ الْأَبْصَارُ ، وَسَادَ السُّكُونُ بُرْهَةً وَإِنْ تَحَرَّكَتْ فِي النُّفُوسِ الْأُمْنِيَاتُ ، فَقَدْ كَانَتْ كُلُّ أُمٍّ فِي بَنِي زُهْرَةَ تَتَمَنَّى أَنْ تَكُونَ ابْنَتُهَا هِيَ النَّذِيرَةَ أَوِ الَّتِي سَتَلِدُ ذَلِكَ النَّذِيرَ . وَقَدِمَتْ أُمُّ هَالَةَ ابْنَتَهَا إِلَى سَوْدَةَ وَقَدْ أَرْهَفَتْ حَوَاسَهَا وَتَعَلَّقَتْ كُلُّ آمَالِهَا بِكَاهِنَةِ قُرَيْشٍ الزَّرْقَاءِ الْقَمِيئَةِ ، فَرَاحَتْ سَوْدَةُ تَنْفُرُ فِي هَالَةَ وَتَتَحَدَّثُ فِي طَلَاقَةٍ كَأَنَّمَا كَانَتْ تَقْرَأُ فِي كِتَابٍ مَفْتُوحٍ . إِنَّهَا تُحَدِّثُهَا عَنْ زَوَاجِهَا بِسَيِّدٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ قَدْ شَرُفَ فِي قَوْمِهِ حَتَّى انْقَادَتْ لَهُ الزَّعَامَةُ ، وَعَنْ وَلَدِهَا الشَّهِيدِ ، وَعَنْ أَشْيَاءَ رَائِعَةٍ كَثِيرَةٍ ، وَلَكِنَّهَا لَمْ تَقُلْ لَهَا إِنَّهَا النَّذِيرَةُ أَوْ مَنْ سَتَلِدُ ذَلِكَ النَّذِيرَ .
Jantung berdegup kencang di dalam dada dan pandangan mata terpaku. Keheningan merajai sejenak meskipun keinginan bergejolak di dalam jiwa, karena setiap ibu di Bani Zuhrah berharap putrinya lah yang menjadi sang pemberi peringatan atau yang akan melahirkannya. Ibu Halah menghadirkan putrinya di hadapan Saudah dengan penuh perhatian, menggantungkan seluruh harapannya pada dukun wanita Quraisy yang bermata biru dan berwajah buruk itu. Saudah mulai mengembuskan napas ke wajah Halah dan berbicara dengan lancar seolah ia sedang membaca buku yang terbuka. Ia menceritakan kepadanya tentang pernikahannya dengan seorang pemimpin dari para pemuka Quraisy yang terhormat di kaumnya hingga kepemimpinan tunduk kepadanya, tentang putranya yang syahid, dan tentang banyak hal menakjubkan lainnya, namun ia tidak mengatakan kepadanya bahwa dialah sang pemberi peringatan atau wanita yang akan melahirkan pemberi peringatan tersebut.
وَعَرَضَتْ أُمَّهَاتُ بَنِي زُهْرَةَ بَنَاتِهِنَّ عَلَى سَوْدَةَ فَرَاحَتْ كَاهِنَةُ قُرَيْشٍ تَتَنَبَّأُ بِمُسْتَقْبَلِ كُلِّ فَتَاةٍ وَقَدْ سَادَ الْمَكَانَ تَرَقُّبٌ وَلَهْفَةٌ ، فَمَا مِنْ فَتَاةٍ مِنَ اللَّاتِي عُرِضْنَ عَلَيْهَا كَانَتِ النَّذِيرَةَ أَوِ الَّتِي سَتَلِدُ النَّذِيرَ .
Para ibu dari Bani Zuhrah pun menampilkan putri-putri mereka di hadapan Saudah, lalu dukun wanita Quraisy itu mulai meramalkan masa depan setiap gadis. Suasana diselimuti oleh rasa penantian dan keinginan yang mendalam, karena tidak satu pun gadis yang ditampilkan di hadapannya adalah sang pemberi peringatan atau wanita yang akan melahirkan sang pemberi peringatan tersebut.
وَقَدَّمَتْ بَرَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَتَهَا آمِنَةَ إِلَى سَوْدَةَ ، فَرَاحَتِ الْكَاهِنَةُ تَتَفَرَّسُ فِي آمِنَةَ وَتَنْظُرُ فِي مَنْخَرِهَا وَتَقْلِبُ النَّظَرَ فِيهَا ، وَسَيْطَرَ عَلَى الْمَكَانِ سُكُونٌ رَهِيبٌ ، وَلَاحَ فِي وَجْهِ الْكَاهِنَةِ الِاهْتِمَامُ الشَّدِيدُ وَكَتَمَتْ أَنْفَاسَهَا بُرْهَةً ، ثُمَّ رَاحَتْ تَشْهَقُ وَتَزْفِرُ فِي صَوْتٍ مَسْمُوعٍ وَقَطَّبَتْ جَبِينَهَا ، وَسُرْعَانَ مَا انْبَسَطَتْ أَسَارِيرُهَا وَظَهَرَ عَلَيْهَا طُمَأْنِينَةٌ عَجِيبَةٌ لَكَأَنَّمَا قَدْ أَلْقَى الْخَبَرُ فِي رَوْعِهَا أَضْوَاءَ ظَلَامٍ نَفْسِهَا ، وَتَحَرَّكَتْ شَفَتَاهَا وَإِذَا بِالنِّسْوَةِ كُلِّهِنَّ آذَانٌ وَاعِيَةٌ قَالَتْ :
Barrah binti Abdul 'Uzza menghadirkan putrinya, Aminah, kepada Saudah. Sang dukun wanita mulai mengamati Aminah, menatap hidungnya, dan membolak-balik pandangannya padanya. Keheningan yang mencekam menguasai tempat itu, ekspresi perhatian yang mendalam tampak di wajah sang dukun, dan ia menahan napas sejenak. Kemudian ia mulai terengah-engah dan menghela napas dengan suara yang terdengar, dahinya mengernyit. Namun segera wajahnya berseri-seri dan ketenangan yang luar biasa muncul padanya seolah-olah kabar itu telah menyinari kegelapan jiwanya. Bibirnya bergerak, dan para wanita yang hadir semuanya memasang telinga baik-baik, ia berkata:
— هَذِهِ هِيَ الَّتِي سَتَلِدُ النَّذِيرَ .
— Dialah yang akan melahirkan sang pemberi peringatan.
وَسَرَى صَوْتُ سَوْدَةَ عَذْبًا رَقِيقًا لَكَأَنَّمَا كَانَ صَوْتَ الْقَدَرِ ، وَصُوِّبَتِ الْعُيُونُ إِلَى آمِنَةَ فَأَطْرَقَتْ حَيَاءً وَإِنْ كَانَتْ أَهَازِيجُ الْفَرَحِ تَدْوِي فِي جَنَبَاتِهَا .
Suara Saudah terdengar lembut dan merdu seolah-olah itu adalah suara takdir. Mata tertuju kepada Aminah, ia pun menunduk malu meskipun nyanyian kebahagiaan bergema di relung jiwanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar