BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Quraisy - Tadzyiil

QURAISY
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Abdullah bin Tsamir: Menjaga Cahaya di Ujung Ukhdud

Kisah tentang keteguhan iman di tengah ancaman penguasa yang dzalim, di mana cahaya tauhid tetap menyala meski raga harus menghadapi ujian di bibir jurang maut.

*Catatan: Deskripsi di atas adalah ungkapan atau refleksi penulis.*

التَّذْيِيلُ
Lampiran
قَالَ الَّذِينَ يَشُكُّونَ فِي كُلِّ شَيْءٍ وَيُنْكِرُونَ مَا لَا يَجِدُونَ لَهُ سَنَدًا مِنْ كِتَابَةٍ مِسْمَارِيَّةٍ أَوْ كِتَابَةٍ عَلَى وَرَقِ الْبَرْدَى أَوْ نَقْشٍ عَلَى الْحَجَرِ : إِنَّ سَيْلَ الْعَرِمِ وَخَرَابَ سَدِّ مَأْرِبَ وَتَمَزُّقَ أَهْلِ سَبَأٍ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنْ هُوَ إِلَّا أُسْطُورَةٌ مِنْ أَسَاطِيرِ الْأَوَّلِينَ .
Orang-orang yang meragukan segala sesuatu dan mengingkari apa yang tidak mereka temukan sanadnya berupa tulisan paku, tulisan di atas kertas papirus, atau ukiran di batu berkata: Bahwa banjir Al-'Arim, kehancuran bendungan Ma'rib, dan tercerai-berainya kaum Saba' tak lain hanyalah mitos dari mitos orang-orang terdahulu.
وَزَعَمَ الْمُؤَرِّخُونَ الْإِسْلَامِيُّونَ وَالْإِخْبَارِيُّونَ أَنَّ سَدَّ مَأْرِبَ قَدْ تَهَدَّمَ قَبْلَ مَوْلِدِ الْمَسِيحِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَتَّبُوا عَلَى ذَلِكَ أَحْدَاثًا وَكَتَبُوا تَارِيخَ مِنْطَقَةِ الشَّرْقِ الْأَوْسَطِ مُعْتَمِدِينَ عَلَى ذَلِكَ الزَّعْمِ ، فَقَالَ ابْنُ هِشَامٍ فِي السِّيرَةِ النَّبَوِيَّةِ :
Para sejarawan dan pakar berita Islam mengklaim bahwa bendungan Ma'rib telah runtuh sebelum kelahiran Al-Masih عليه السلام, dan mereka menyusun peristiwa-peristiwa berdasarkan klaim tersebut serta menulis sejarah kawasan Timur Tengah dengan mengandalkan klaim itu. Maka Ibnu Hisyam berkata dalam As-Sirah An-Nabawiyyah:
— وَكَانَ خُرُوجُ عَمْرٍو بْنِ عَامِرٍ مِنَ الْيَمَنِ — فِيمَا حَدَّثَنِي أَبُو زَيْدٍ الْأَنْصَارِيُّ — أَنَّهُ رَأَى جُرَذًا ( فَأْرًا كَبِيرًا ) يَحْفِرُ فِي سَدِّ مَأْرِبَ الَّذِي كَانَ يَحْبِسُ عَلَيْهِمُ الْمَاءَ فَيَصْرِفُونَهُ حَيْثُ شَاءُوا مِنْ أَرْضِهِمْ ، فَعَلِمَ أَنَّهُ لَا بَقَاءَ لِلسَّدِّ عَلَى ذَلِكَ فَاعْتَزَمَ عَلَى النَّقْلَةِ مِنَ الْيَمَنِ ، فَكَادَ قَوْمَهُ فَأَمَرَ أَصْغَرَ وَلَدِهِ إِذَا أَغْلَظَ لَهُ وَلَطَمَهُ أَنْ يَقُومَ إِلَيْهِ وَيَلْطِمَهُ ، فَفَعَلَ ابْنُهُ مَا أَمَرَهُ بِهِ .
— Dan keluarnya 'Amr bin 'Amir dari Yaman —sebagaimana diceritakan kepadaku oleh Abu Zaid Al-Anshari— adalah karena dia melihat seekor tikus besar (tikus besar) menggali di bendungan Ma'rib yang menahan air untuk mereka, yang kemudian mereka alirkan ke mana saja mereka mau dari tanah mereka. Maka dia tahu bahwa bendungan itu tidak akan bertahan lama, sehingga dia memutuskan untuk pindah dari Yaman. Dia pun memancing kaumnya, lalu dia memerintahkan anak bungsunya jika dia (ayahnya) bersikap kasar dan menamparnya, agar dia bangkit kepadanya dan menamparnya kembali. Maka anaknya melakukan apa yang diperintahkannya.
فَقَالَ عَمْرٌو : لَا أُقِيمُ بِبَلَدٍ لُطِمَ وَجْهِي فِيهِ أَصْغَرُ وَلَدِي وَعَرَضَ أَمْوَالَهُ فَقَالَ بَعْضُ أَشْرَافِ الْيَمَنِ : اغْتَنِمُوا غَضْبَةَ عَمْرٍو فَاشْتَرُوا مِنْهُ أَمْوَالَهُ .
'Amr berkata: Aku tidak akan tinggal di negeri yang di dalamnya wajahku ditampar oleh anak bungsu. Dia pun menawarkan harta-hartanya, lalu sebagian bangsawan Yaman berkata: Manfaatkan kemarahan 'Amr, belilah harta-hartanya.
وَانْتَقَلَ فِي وَلَدِهِ وَوَلَدِ وَلَدِهِ . وَقَالَتِ الْأَزْدُ : لَا نَتَخَلَّفُ عَنْ عَمْرِو بْنِ عَامِرٍ . فَبَاعُوا أَمْوَالَهُمْ وَخَرَجُوا مَعَهُ ، فَسَارُوا حَتَّى نَزَلُوا بِلَادَ عكٍ مُجْتَازِينَ يَرْتَادُونَ الْبِلْدَانَ فَحَارَبَتْهُمْ عكٌ فَكَانَتْ حَرْبُهُمْ سِجَالًا ، ثُمَّ ارْتَحَلُوا عَنْهُمْ فَتَفَرَّقُوا فِي الْبِلْدَانِ فَنَزَلَ آلُ جَفْنَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَامِرٍ الشَّامَ ، وَنَزَلَتِ الْأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ يَثْرِبَ ، وَنَزَلَتْ خُزَاعَةُ مَرًّا ، وَنَزَلَتْ أَزْدُ السَّرَاةِ السَّرَاةَ ، وَنَزَلَتْ أَزْدُ عُمَانَ عُمَانَ ، ثُمَّ أَرْسَلَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى السَّدِّ السَّيْلَ فَهَدَمَهُ فَفِيهِ أَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى رَسُولِهِ محمد ﷺ : ﴿ لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ . فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ ﴾(١) .
Dia pun pindah bersama anak-anak dan cucu-cucunya. Kaum Azd berkata: Kami tidak akan tertinggal dari 'Amr bin 'Amir. Maka mereka menjual harta mereka dan keluar bersamanya, lalu mereka berjalan sampai mereka turun di negeri 'Akk seraya melewati negeri-negeri untuk mencari tempat tinggal. 'Akk memerangi mereka, maka peperangan mereka saling bergantian (menang-kalah), kemudian mereka pergi dari mereka dan terpisah-pisah di berbagai negeri. Keluarga Jafnah bin 'Amr bin 'Amir turun di Syam, Aus dan Khazraj turun di Yatsrib, Khuza'ah turun di Marr, Azd As-Sarat turun di As-Sarat, dan Azd 'Uman turun di 'Uman. Kemudian Allah Ta'ala mengirimkan banjir ke bendungan itu dan merobohkannya. Maka padanya Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ: "Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): 'Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun'. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar" (1).

هامش: (١) الصَّف ٦

Catatan: (1) As-Shaff: 6

وَعَلَى هَذِهِ الرِّوَايَةِ يَكُونُ الْغَسَاسِنَةُ مُلُوكَ الشَّامِ مِنَ الْيَمَنِ وَتَكُونُ خُزَاعَةُ الَّتِي حَكَمَتْ مَكَّةَ قَبْلَ أَنْ يَنْتَزِعَ مِنْهُمْ قُصَيٌّ وِلَايَةَ الْبَيْتِ مِنَ الْيَمَنِ أَيْضًا ، وَقَدْ كَانَتْ وِلَايَتُهُمْ لِلْبَيْتِ بَعْدَ سَيْلِ الْعَرِمِ . وَيُقَالُ خُزَاعَةُ : بَنُو حَارِثَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَامِرٍ وَإِنَّمَا سُمِّيَتْ خُزَاعَةَ لِأَنَّهُمْ تَخَزَّعُوا مِنْ وَلَدِ عَمْرِو بْنِ عَامِرٍ حِينَ أَقْبَلُوا مِنَ الْيَمَنِ يُرِيدُونَ الشَّامَ فَنَزَلُوا بِمَرِّ الظَّهْرَانِ فَأَقَامُوا بِهَا ، ثُمَّ نَفَوْا جُرْهُمًا عَنْ مَكَّةَ وَاسْتَوْلَوْا عَلَى وِلَايَةِ الْبَيْتِ .
Berdasarkan riwayat ini, Ghassaniyah, raja-raja Syam, berasal dari Yaman, dan Khuza'ah yang memerintah Makkah sebelum Qushay merebut kekuasaan atas Baitullah dari mereka, juga berasal dari Yaman. Kekuasaan mereka atas Baitullah terjadi setelah banjir Al-'Arim. Dikatakan bahwa Khuza'ah adalah Bani Haritsah bin 'Amr bin 'Amir. Mereka dinamakan Khuza'ah karena mereka memisahkan diri (takhazza'u) dari keturunan 'Amr bin 'Amir ketika mereka datang dari Yaman menuju Syam, lalu mereka turun di Marr Az-Zhahran dan menetap di sana. Kemudian mereka mengusir Jurhum dari Makkah dan menguasai kekuasaan atas Baitullah.
وَعَلَى هَذِهِ الرِّوَايَةِ يَكُونُ الْأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ مِنَ الْيَمَنِ انْطَلَقُوا بَعْدَ سَيْلِ الْعَرِمِ إِلَى يَثْرِبَ ، وَنَزَلُوا بِهَا بَيْنَ قَبَائِلِ الْيَهُودِ وَفِي حِمَايَتِهِمْ .
Berdasarkan riwayat ini, Aus dan Khazraj berasal dari Yaman, mereka pergi setelah banjir Al-'Arim ke Yatsrib, dan turun di sana di antara suku-suku Yahudi dan di bawah perlindungan mereka.
أَنْكَرَ الْمُنْكِرُونَ وُقُوعَ سَيْلِ الْعَرِمِ وَأَرْجَعَ الْإِخْبَارِيُّونَ ذَلِكَ الْحَادِثَ إِلَى مَا قَبْلَ الْمِيلَادِ ، وَحَدَّدَ التَّارِيخُ الْمَكْتُوبُ زَمَنَ سَيْلِ الْعَرِمِ مَا بَيْنَ سَنَةَ ٥٤٢ وَ ٥٧٠ مِيلَادِيَّةً . وَقَدْ مَحَقَ ذَلِكَ التَّارِيخُ الْمَكْتُوبُ قَوْلَ الْقَائِلِينَ بِأَنَّ الْعَرِمَ كَانَ أُسْطُورَةً مِنَ الْأَسَاطِيرِ . فَقَدْ تَرَكَ لَنَا « أَبْرَهَةَ » وَثِيقَةً مُهِمَّةً عَلَى جَانِبٍ خَطِيرٍ مِنَ الْأَهَمِّيَّةِ وَهِيَ النَّصُّ الَّذِي وُسِمَ بِـ 618 Glaser وَبِـ 15 Cis عِنْدَ الْبَاحِثِينَ فِي الْعَرَبِيَّةِ الْجَنُوبِيَّةِ ، وَهَذِهِ الْوَثِيقَةُ تَبْحَثُ فِي تَجْدِيدِ أَبْرَهَةَ لِسَدِّ مَأْرِبَ مَرَّتَيْنِ الْمَرَّةَ الْأُولَى فِي شَهْرِ « ذُو الْمَدْرِج » مِنْ سَنَةَ ٦٥٧ مِنَ التَّارِيخِ الْحِمْيَرِيِّ الْمُقَابِلَةِ لِسَنَةَ ٥٤٢ لِلْمِيلَادِ ، وَالثَّانِيَةَ فِي شَهْرِ « ذُو مَعَان » مِنْ سَنَةَ ٦٥٨ مِنَ التَّارِيخِ الْحِمْيَرِيِّ أَيْ فِي سَنَةَ ٥٤٣ مِيلَادِيَّةً أَيْ بَعْدَ سَنَةٍ وَاحِدَةٍ مِنَ التَّجْدِيدِ الْأَوَّلِ .
Orang-orang yang mengingkari membantah terjadinya banjir Al-'Arim dan para pakar berita mengembalikan peristiwa itu ke masa sebelum Masehi, dan sejarah tertulis menentukan waktu banjir Al-'Arim antara tahun 542 dan 570 Masehi. Sejarah tertulis itu telah menghapus perkataan mereka yang mengatakan bahwa Al-'Arim hanyalah mitos. "Abrahah" telah meninggalkan bagi kita dokumen penting yang memiliki derajat kepentingan yang sangat besar, yaitu teks yang ditandai dengan 618 Glaser dan 15 Cis menurut para peneliti bahasa Arab Selatan. Dokumen ini membahas tentang pembaruan bendungan Ma'rib oleh Abrahah sebanyak dua kali; kali pertama pada bulan "Dzu al-Madrij" tahun 657 menurut Tarikh Himyari yang setara dengan tahun 542 Masehi, dan yang kedua pada bulan "Dzu Ma'an" tahun 658 menurut Tarikh Himyari, yaitu tahun 543 Masehi, satu tahun setelah pembaruan pertama.
وَمِنْ هَذِهِ الْوَثِيقَةِ يَثْبُتُ أَنَّ سَدَّ مَأْرِبَ خَرِبَ بَعْدَ سَنَةَ ٥٤٣ مِيلَادِيَّةً ، وَأَنَّ سَيْلَ الْعَرِمِ وَتَمَزُّقَ سَبَأٍ كَانَ بَعْدَ تِلْكَ السَّنَةِ أَوْ فِي أَثْنَائِهَا . وَلَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أُقِرَّ مِنْ هَذِهِ الْحَقِيقَةِ وَأَنَا أَرْوِي تَارِيخَ هَذِهِ الْحِقْبَةِ رِوَايَةً تَارِيخِيَّةً تَعْتَمِدُ أَوَّلَ مَا تَعْتَمِدُ عَلَى تَسَلْسُلِ الْأَحْدَاثِ وَاحْتِرَامِ تَسَلْسُلِهَا الزَّمَنِيِّ ، فَلَمْ أَعْتَمِدْ عَلَى رِوَايَةِ ابْنِ هِشَامٍ وَالْإِخْبَارِيِّينَ الَّذِينَ حَسَبُوا أَنَّ سَيْلَ الْعَرِمِ كَانَ قَبْلَ الْمِيلَادِ بَلْ أَرْجَعْتُ وَاقِعَةَ خَرَابِ سَدِّ مَأْرِبَ إِلَى تَارِيخِهَا الْحَقِيقِيِّ ، وَرُحْتُ آخُذُ بِالرِّوَايَاتِ التَّارِيخِيَّةِ الَّتِي تَتَّفِقُ مَعَ هَذِهِ الْحَقِيقَةِ فَلَمْ آخُذْ بِرِوَايَةِ الْقَائِلِينَ بِأَنَّ خُزَاعَةَ مِنَ الْيَمَنِ وَإِنَّمَا سُمِّيَتْ خُزَاعَةَ لِأَنَّهُمْ تَخَزَّعُوا مِنْ وَلَدِ عَمْرِو بْنِ عَامِرٍ بَعْدَ سَيْلِ الْعَرِمِ ، بَلْ أَخَذْتُ بِالرَّأْيِ الْقَائِلِ بِأَنَّ عَمْرَو بْنَ لُحَيٍّ جَدَّ الْخُزَاعِيِّينَ مِنْ عَدْنَانَ وَلَيْسَ مِنْ قَحْطَانَ .
Dari dokumen ini terbukti bahwa bendungan Ma'rib rusak setelah tahun 543 Masehi, dan bahwa banjir Al-'Arim serta tercerai-berainya Saba' terjadi setelah tahun tersebut atau di tengah-tengahnya. Saya tidak mampu menetapkan fakta ini sementara saya menceritakan sejarah era ini sebagai narasi sejarah yang bergantung, pertama-tama, pada rangkaian peristiwa dan penghormatan terhadap urutan waktunya. Maka saya tidak mengandalkan riwayat Ibnu Hisyam dan para pakar berita yang menganggap bahwa banjir Al-'Arim terjadi sebelum Masehi, melainkan saya mengembalikan peristiwa kehancuran bendungan Ma'rib kepada sejarahnya yang sebenarnya, dan saya mengambil riwayat-riwayat sejarah yang sesuai dengan fakta ini. Maka saya tidak mengambil riwayat mereka yang mengatakan bahwa Khuza'ah berasal dari Yaman dan dinamakan Khuza'ah karena mereka memisahkan diri dari keturunan 'Amr bin 'Amir setelah banjir Al-'Arim, melainkan saya mengambil pendapat yang mengatakan bahwa 'Amr bin Luhay, kakek suku Khuza'ah, berasal dari 'Adnan, bukan dari Qahthan.
وَلَمْ تَضْطَرِبْ رِوَايَاتُ الْإِخْبَارِيِّينَ مِثْلَ اضْطِرَابِهَا فِي هَذِهِ الْحِقْبَةِ الْوَاقِعَةِ بَيْنَ قُرَيْشٍ وَمَوْلِدِ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، فَقَدْ كَانَتْ رِوَايَاتُهُمْ تَنَاقَضُ بَعْضَهَا بَعْضًا ، بَلْ إِنَّ الْمُؤَرِّخَ مِنْهُمْ كَانَ يَرْوِي عَنْ حَادِثٍ وَاحِدٍ رِوَايَاتٍ مُتَعَارِضَةً مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ كَانَ يَدُونُ مَا يَسْمَعُ دُونَ نَقْدٍ أَوْ تَمْحِيصٍ .
Riwayat-riwayat para pakar berita tidaklah kacau seperti kekacauan mereka pada era ini yang terjadi antara Quraish dan kelahiran Rasul عليه الصلاة والسلام, riwayat mereka saling bertentangan satu sama lain, bahkan sejarawan di antara mereka menceritakan satu peristiwa dengan riwayat-riwayat yang saling bertentangan, yang menunjukkan bahwa ia menuliskan apa yang ia dengar tanpa kritik atau penelitian.
وَمِنْ مَوَاضِعِ الِاخْتِلَافِ بَيْنَ الْإِخْبَارِيِّينَ اخْتِلَافُهُمْ فِي تَسَلْسُلِ أَسْمَاءِ مَنْ حَكَمُوا الْيَمَنَ وَالْحِيرَةَ وَغَسَّانَ فِي هَذِهِ الْحِقْبَةِ الَّتِي نَدْرُسُهَا ، وَقَدِ اعْتَمَدْتُ فِي تَسَلْسُلِ الْأَحْدَاثِ فِي هَذَا الْجُزْءِ مِنَ السِّيرَةِ عَلَى رِوَايَاتِ الْمُؤَرِّخِينَ الرُّومَانِ وَاللَّاتِينِ الَّذِينَ عَاصَرُوا الْأَحْدَاثَ الْمَرْوِيَّةَ فِي مِنْطَقَةِ الشَّرْقِ الْأَوْسَطِ وَعَلَى رِوَايَاتِ الْإِخْبَارِيِّينَ الَّتِي تَتَّفِقُ مَعَ مَنْطِقِ التَّارِيخِ فِيمَا لَمْ أَجِدْ لَهُ سَنَدًا فِي نُصُوصٍ جَاهِلِيَّةٍ أَوْ نُصُوصِ مُؤَرِّخِينَ مُعَاصِرِينَ .
Di antara tempat-tempat perbedaan pendapat di antara para pakar berita adalah perbedaan mereka dalam urutan nama-nama orang yang memerintah Yaman, Hirah, dan Ghassan pada era ini yang kita pelajari. Saya mengandalkan dalam rangkaian peristiwa di bagian Sirah ini pada riwayat sejarawan Romawi dan Latin yang sezaman dengan peristiwa-peristiwa yang diceritakan di kawasan Timur Tengah, dan pada riwayat-riwayat para pakar berita yang sesuai dengan logika sejarah dalam hal yang saya tidak temukan sanadnya dalam teks-teks Jahiliyah atau teks-teks sejarawan kontemporer.
وَقَدْ أَكْثَرَ الْإِخْبَارِيُّونَ وَالْمُؤَرِّخُونَ الْإِسْلَامِيُّونَ مِنْ رِوَايَةِ الْأَسَاطِيرِ وَالْمُعْجِزَاتِ الَّتِي وَقَعَتْ مِنَ الصَّالِحِينَ الَّذِينَ كَانُوا عَلَى دِينٍ سَمَاوِيٍّ ، وَقَدِ اسْتَعَنْتُ بِبَعْضِ تِلْكَ الْأَسَاطِيرِ لِلدَّلَالَةِ عَلَى سِمَةِ الْعَصْرِ الَّذِي أَرْوَى قِصَّتَهُ . وَكَذَلِكَ أَثْبَتُّ بَعْضَ مَا جَرَى بَيْنَ الْكُهَّانِ وَالْحُكَّامِ فَقَدْ كَانَتِ الْكِهَانَةُ بِمَثَابَةِ الدِّينِ عِنْدَ الْعَرَبِ قَبْلَ الْإِسْلَامِ ، وَسَأَعْرِضُ لِنَمُوذَجًا مِنَ النَّمَاذِجِ الْكَثِيرَةِ الَّتِي لَمْ أَعْتَمِدْ عَلَيْهَا وَالَّتِي تَفِيضُ بِهَا كُتُبُ الْمُؤَرِّخِينَ الْإِسْلَامِيِّينَ .
Para pakar berita dan sejarawan Islam memperbanyak periwayatan mitos dan mukjizat yang terjadi dari orang-orang saleh yang berada di atas agama samawi, dan saya menggunakan sebagian mitos-mitos itu untuk menunjukkan ciri zaman yang saya ceritakan kisahnya. Demikian pula saya menetapkan sebagian dari apa yang terjadi di antara para dukun dan penguasa, karena perdukunan adalah ibarat agama bagi orang Arab sebelum Islam. Saya akan menampilkan contoh dari banyak contoh yang tidak saya andalkan, yang kitab-kitab sejarawan Islam dipenuhi dengannya.
قَالَ ابْنُ هِشَامٍ فِي « السِّيرَةِ النَّبَوِيَّةِ » تَحْتَ عُنْوَانِ « ابْتِدَاءِ وُقُوعِ النَّصْرَانِيَّةِ بِنَجْرَانَ » : قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ : حَدَّثَنِي الْمُغِيرَةُ بْنُ أَبِي لَبِيدٍ مَوْلَى الْأَخْنَسِ عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ الْيَمَانِيِّ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ :
Ibnu Hisyam berkata dalam "As-Sirah An-Nabawiyyah" di bawah judul "Awal Mula Masuknya Nasrani di Najran": Ibnu Ishaq berkata: Al-Mughirah bin Abi Labid, bekas budak Al-Akhnas, menceritakan kepadaku dari Wahb bin Munabbih Al-Yamani bahwa ia menceritakan kepada mereka:
أَنَّ مَوْقِعَ ذَلِكَ الدِّينِ بِنَجْرَانَ كَانَ أَنْ رَجُلًا مِنْ بَقَايَا أَهْلِ دِينِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ يُقَالُ لَهُ فِيمْيُونُ وَكَانَ رَجُلًا صَالِحًا مُجْتَهِدًا زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا مُجَابَ الدَّعْوَةِ . وَكَانَ سَائِحًا يَنْزِلُ بَيْنَ الْقُرَى لَا يَعْرِفُ بِقَرْيَةٍ إِلَّا خَرَجَ مِنْهَا إِلَى قَرْيَةٍ لَا يُعْرَفُ بِهَا ، وَكَانَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا مِنْ كَسْبِ يَدِهِ وَكَانَ بَنَّاءً يَعْمَلُ الطِّينَ وَكَانَ يَعْظُمُ الْأَحَدَ ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْأَحَدِ لَمْ يَعْمَلْ فِيهِ شَيْئًا وَخَرَجَ إِلَى فَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ فَصَلَّى بِهَا حَتَّى يُمْسَى .
Bahwa lokasi agama itu di Najran adalah karena seorang pria dari sisa-sisa penganut agama Isa bin Maryam yang dipanggil Fimyum, dia adalah orang saleh, bersungguh-sungguh, zuhud terhadap dunia, dan mustajab doanya. Dia adalah seorang pengembara yang singgah di antara desa-desa, tidak dikenal di suatu desa melainkan ia keluar darinya menuju desa yang tidak dikenal di sana. Dia tidak makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri, dan dia adalah seorang tukang bangunan yang bekerja dengan tanah liat, dan dia mengagungkan hari Ahad. Jika hari Ahad tiba, dia tidak melakukan pekerjaan apa pun di hari itu dan keluar ke padang luas di bumi, lalu salat di sana hingga petang.
قَالَ : وَكَانَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ قُرَى الشَّامِ يَعْمَلُ عَمَلَهُ ذَلِكَ مُسْتَخْفِيًا فَفَطِنَ لِشَأْنِهِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِهِ يُقَالُ لَهُ صَالِحٌ ، فَأَحَبَّهُ صَالِحٌ حُبًّا لَمْ يُحِبَّهُ كَانَ قِبَلَهُ يَتْبَعُهُ حَيْثُ ذَهَبَ وَلَا يَفْطِنُ لَهُ فِيمْيُونُ . حَتَّى خَرَجَ مَرَّةً فِي يَوْمِ الْأَحَدِ إِلَى فَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ كَمَا كَانَ يَصْنَعُ وَقَدْ اتَّبَعَهُ صَالِحٌ وَفِيمْيُونُ لَا يَدْرِي ، فَجَلَسَ صَالِحٌ مِنْهُ مَنْظَرَ الْعَيْنِ مُسْتَخْفِيًا مِنْهُ لَا يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ بِمَكَانِهِ ، وَقَامَ فِيمْيُونُ يُصَلِّي هُوَ يُصَلِّي إِذْ أَقْبَلَ نَحْوَهُ التِّنِّينُ — الْحَيَّةُ ذَاتُ الرُّءُوسِ السَّبْعَةِ — فَلَمَّا رَآهَا فِيمْيُونُ دَعَا عَلَيْهَا فَمَاتَتْ ، وَرَآهَا صَالِحٌ وَلَمْ يَدْرِ مَا أَصَابَهَا فَخَافَهَا عَلَيْهِ ، فَعَيِلَ عَوْلُهُ ( نَفَدَ صَبْرُهُ ) فَصَرَخَ : يَا فِيمْيُونُ . التِّنِّينُ قَدْ أَقْبَلَ نَحْوَكَ . فَلَمْ يَتَلَفَّتْ إِلَيْهِ وَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا ، وَأَمْسَى فَانْصَرَفَ وَعَرَفَ أَنَّهُ قَدْ عُرِفَ . وَعَرَفَ صَالِحٌ أَنَّهُ قَدْ رَأَى مَكَانَهُ فَقَالَ لَهُ : يَا فِيمْيُونُ وَاللَّهِ أَنِّي مَا أَحْبَبْتُ شَيْئًا قَطُّ حُبَّكَ ، وَقَدْ أَرَدْتُ صُحْبَتَكَ وَالْكَيْنُونَةَ مَعَكَ حَيْثُ كُنْتَ . فَقَالَ مَا شِئْتَ ، أَمْرِي كَمَا تَرَى ، فَإِنْ عَلِمْتَ أَنَّكَ تَقْوَى عَلَيْهِ فَنَعَمْ ، فَلَزِمَهُ صَالِحٌ .
Dia berkata: Dia berada di salah satu desa di Syam, melakukan pekerjaannya itu secara sembunyi-sembunyi. Maka seorang pria dari kaumnya yang dipanggil Shalih mengetahui perihalnya. Shalih mencintainya dengan kecintaan yang belum pernah ia berikan kepada orang sebelum dia, ia mengikutinya ke mana pun ia pergi sementara Fimyum tidak menyadarinya. Hingga suatu hari Ahad, ia keluar ke padang luas di bumi sebagaimana biasanya ia lakukan, dan Shalih mengikutinya tanpa sepengetahuan Fimyum. Shalih duduk di tempat yang bisa melihatnya sembari bersembunyi darinya, ia tidak ingin Fimyum mengetahui tempatnya. Fimyum berdiri untuk salat, sedang ia salat, tiba-tiba seekor naga —ular berkepala tujuh— mendekat ke arahnya. Ketika Fimyum melihatnya, ia berdoa memohonkan kebinasaan atasnya, lalu naga itu mati. Shalih melihatnya dan tidak tahu apa yang menimpanya, maka ia takut naga itu mencelakainya. Kesabarannya habis, maka ia berteriak: Wahai Fimyum! Naga telah mendekat ke arahmu! Fimyum tidak menoleh kepadanya dan terus melanjutkan salatnya hingga ia selesai. Petang tiba, ia beranjak pergi dan ia tahu bahwa ia telah diketahui. Shalih tahu bahwa Fimyum telah melihat tempatnya, maka ia berkata kepadanya: Wahai Fimyum, demi Allah, aku tidak pernah mencintai apa pun seperti aku mencintaimu, aku ingin menyertaimu dan berada bersamamu di mana pun engkau berada. Fimyum berkata: Terserah apa yang engkau inginkan, urusanku seperti yang engkau lihat. Jika engkau tahu engkau mampu menghadapinya, maka silakan. Maka Shalih pun menyertainya.
وَقَدْ كَادَ أَهْلُ الْقَرْيَةِ يَفْطِنُونَ لِشَأْنِهِ وَكَانَ إِذَا فَاجَأَ الضُّرَّ الْعَبْدَ مِنْهُمْ دَعَا لَهُ فَشُفِيَ ، وَإِذَا دَعَى إِلَى أَحَدٍ بِهِ ضُرٌّ لَمْ يَأْتِهِ . وَكَانَ لِرَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْقَرْيَةِ ابْنٌ ضَرِيرٌ فَسَأَلَ عَنْ شَأْنِ فِيمْيُونُ فَقِيلَ لَهُ . إِنَّهُ لَا يَأْتِي أَحَدًا دَعَاهُ وَلَكِنَّهُ رَجُلٌ يَعْمَلُ لِلنَّاسِ الْبِنْيَانَ بِالْأَجْرِ ، فَعَمَدَ الرَّجُلُ إِلَى ابْنِهِ فَوَضَعَهُ فِي حُجْرَتِهِ وَأَلْقَى عَلَيْهِ ثَوْبًا ، ثُمَّ جَاءَهُ فَقَالَ لَهُ : يَا فِيمْيُونُ إِنِّي قَدْ أَرَدْتُ أَنْ أَعْمَلَ فِي بَيْتِي عَمَلًا فَانْطَلِقْ مَعِي حَتَّى تَنْظُرَ إِلَيْهِ فَأَشَارَ طِبْقَ عَلَيْهِ ، فَانْطَلَقَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَ حُجْرَتَهُ ثُمَّ قَالَ لَهُ : مَا تُرِيدُ أَنْ تَعْمَلَ فِي بَيْتِكَ هَذَا ؟ قَالَ : كَذَا وَكَذَا . ثُمَّ انْتَشَطَ الرَّجُلُ الثَّوْبَ ( كَشَفَهُ بِسُرْعَةٍ ) عَنِ الصَّبِيِّ ثُمَّ قَالَ لَهُ : يَا فِيمْيُونُ : عَبْدٌ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ أَصَابَهُ مَا تَرَى فَادْعُ اللَّهَ لَهُ ، فَدَعَا لَهُ فِيمْيُونُ فَقَامَ الصَّبِيُّ لَيْسَ بِهِ مَنْ بَأْسٍ . وَعَرَفَ فِيمْيُونُ أَنَّهُ قَدْ عُرِفَ فَخَرَجَ مِنَ الْقَرْيَةِ وَاتَّبَعَهُ صَالِحٌ . فَبَيْنَمَا هُوَ يَمْشِي فِي بَعْضِ الشَّامِ إِذْ مَرَّ بِشَجَرَةٍ عَظِيمَةٍ فَنَادَاهُ مِنْهَا رَجُلٌ فَقَالَ : يَا فِيمْيُونُ . قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : مَا زِلْتُ أَنْظُرُكَ وَأَقُولُ مَتَى يَجِيءُ حَتَّى سَمِعْتُ صَوْتَكَ فَعَرَفْتُ أَنَّكَ هُوَ . لَا تَبْرَحْ حَتَّى تَقُومَ عَلَيَّ فَإِنِّي مَيْتٌ الْآنَ ، قَالَ : فَمَاتَ وَقَامَ عَلَيْهِ وَوَارَاهُ ، ثُمَّ انْصَرَفَ .
Penduduk desa hampir saja mengetahui perihalnya, dan jika bahaya tiba-tiba menimpa salah seorang hamba di antara mereka, ia mendoakannya maka ia pun sembuh, dan jika ia berdoa untuk seseorang yang tertimpa bahaya, ia tidak akan datang kepadanya. Seorang pria dari penduduk desa memiliki seorang anak buta, maka ia bertanya tentang perihal Fimyum, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya ia tidak mendatangi siapa pun yang memanggilnya, akan tetapi ia adalah seorang pria yang bekerja membangun untuk orang-orang dengan upah. Pria itu pergi mendatangi anaknya, meletakkannya di kamarnya, dan menutupinya dengan kain. Kemudian ia mendatangi Fimyum dan berkata kepadanya: Wahai Fimyum, sesungguhnya aku ingin mengerjakan suatu pekerjaan di rumahku, maka ikutlah bersamaku sampai engkau melihatnya. Ia mengisyaratkan sesuai dengannya. Ia pergi bersamanya hingga masuk ke kamarnya, kemudian ia berkata kepadanya: Apa yang engkau inginkan untuk engkau kerjakan di rumahmu ini? Ia menjawab: Begini dan begitu. Kemudian pria itu menyingkap kain (membukanya dengan cepat) dari sang anak, lalu berkata kepadanya: Wahai Fimyum: seorang hamba dari hamba-hamba Allah tertimpa musibah seperti yang engkau lihat, maka berdoalah kepada Allah untuknya. Maka Fimyum berdoa untuknya, sang anak pun berdiri seolah tidak ada masalah apa pun padanya. Fimyum tahu bahwa ia telah diketahui, maka ia keluar dari desa dan Shalih mengikutinya. Ketika ia sedang berjalan di sebagian wilayah Syam, tiba-tiba ia melewati sebuah pohon besar, seseorang memanggilnya dari sana dan berkata: Wahai Fimyum. Ia menjawab: Ya. Ia berkata: Aku senantiasa menunggumu dan bertanya kapan engkau akan datang, hingga aku mendengar suaramu dan aku tahu bahwa itu adalah engkau. Jangan beranjak hingga engkau mengurusku, karena aku akan meninggal sekarang. Ia berkata: Maka ia meninggal, ia pun mengurus jenazahnya dan memakamkannya, kemudian ia beranjak pergi.
وَتَبِعَهُ صَالِحٌ حَتَّى وَطَأَ بَعْضَ أَرْضِ الْعَرَبِ فَعَدَوْا عَلَيْهِمَا ، فَاخْتَطَفَتْهُمَا سَيَّارَةٌ مِنْ بَعْضِ الْعَرَبِ فَخَرَجُوا بِهِمَا حَتَّى بَاعُوهُمَا بِنَجْرَانَ وَأَهْلُ نَجْرَانَ يَوْمَئِذٍ عَلَى دِينِ الْعَرَبِ يَعْبُدُونَ نَخْلَةً طَوِيلَةً بَيْنَ أَظْهُرِهِمْ لَهَا عِيدٌ فِي كُلِّ سَنَةٍ ، إِذَا كَانَ ذَلِكَ الْعِيدُ عَلَّقُوا عَلَيْهَا كُلَّ ثَوْبٍ حَسَنٍ وَجَدُوهُ وَحُلِيَّ النِّسَاءِ ثُمَّ خَرَجُوا إِلَيْهَا فَعَكَفُوا عَلَيْهَا يَوْمًا ، فَابْتَاعَ فِيمْيُونَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَابْتَاعَ صَالِحًا آخَرُ ، فَكَانَ فِيمْيُونُ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ فِي بَيْتٍ لَهُ — أَسْكَنَهُ إِيَّاهُ سَيِّدُهُ — يُصَلِّي ، اسْتَسْرَجَ لَهُ نُورًا حَتَّى يُصْبِحَ مِنْ غَيْرِ مِصْبَاحٍ ، فَرَأَى ذَلِكَ سَيِّدُهُ فَأَعْجَبَهُ مَا يَرَى مِنْهُ فَسَأَلَهُ عَنْ دِينِهِ فَأَخْبَرَهُ بِهِ ، وَقَالَ فِيمْيُونُ : إِنَّمَا أَنْتُمْ فِي بَاطِلٍ ، إِنَّ هَذِهِ النَّخْلَةَ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْ دَعَوْتُ عَلَيْهَا إِلَهِيَ الَّذِي أَعْبُدُهُ لَأَهْلَكَهَا وَهُوَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ . قَالَ : فَقَالَ لَهُ سَيِّدُهُ : فَافْعَلْ فَإِنَّكَ إِنْ فَعَلْتَ دَخَلْنَا فِي دِينِكَ وَتَرَكْنَا مَا نَحْنُ فِيهِ . قَالَ : فَقَامَ فِيمْيُونُ فَتَطَهَّرَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ دَعَا اللَّهَ عَلَيْهَا فَأَرْسَلَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا رِيحًا ( أَتْلَفَتْهَا وَأَسْقَطَتْهَا ) مِنْ أَصْلِهَا فَأَلْقَتْهَا ، فَاتَّبَعَهُ عِنْدَ ذَلِكَ أَهْلُ نَجْرَانَ عَلَى دِينِهِ فَحَمَلَهُمْ عَلَى الشَّرِيعَةِ مِنْ دِينِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، ثُمَّ دَخَلَتْ عَلَيْهِمُ الْأَحْدَاثُ الَّتِي دَخَلَتْ عَلَى أَهْلِ دِينِهِمْ بِكُلِّ أَرْضٍ فَمِنْ هُنَالِكَ كَانَتِ النَّصْرَانِيَّةُ بِنَجْرَانَ فِي أَرْضِ الْعَرَبِ .
Shalih mengikutinya hingga mereka menginjakkan kaki di sebagian tanah Arab. Mereka kemudian diserang oleh kafilah dari sebagian orang Arab, mereka menculik keduanya hingga mereka menjualnya di Najran. Penduduk Najran pada hari itu memeluk agama Arab, menyembah pohon kurma yang tinggi di antara mereka, yang memiliki hari raya setiap tahun. Jika hari raya itu tiba, mereka menggantungkan di atasnya setiap pakaian bagus yang mereka temukan dan perhiasan wanita, kemudian mereka keluar menuju pohon itu dan beri'tikaf di sana sehari penuh. Fimyum dibeli oleh seorang pria dari bangsawan mereka, dan Shalih dibeli oleh yang lainnya. Fimyum jika bangun di malam hari untuk bertahajud di rumahnya —yang disediakan oleh tuannya— ia salat, cahaya bersinar untuknya hingga pagi hari tanpa lampu. Tuannya melihat hal itu dan kagum dengan apa yang dilihatnya darinya, maka ia bertanya kepadanya tentang agamanya, lalu ia memberitahukannya. Fimyum berkata: Sesungguhnya kalian berada dalam kebatilan, sesungguhnya pohon kurma ini tidak membahayakan dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya aku berdoa kepada Tuhanku yang aku sembah atasnya, niscaya Ia akan membinasakannya, Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Ia berkata: Tuannya berkata kepadanya: Lakukanlah, karena jika engkau melakukannya, niscaya kami akan masuk ke dalam agamamu dan meninggalkan apa yang kami jalani saat ini. Ia berkata: Fimyum berdiri, bersuci, lalu salat dua rakaat, kemudian ia berdoa kepada Allah atas pohon itu. Allah mengirimkan angin atas pohon itu (yang membinasakan dan menjatuhkannya) dari akarnya hingga menumbangkannya. Maka penduduk Najran mengikuti agama Fimyum pada saat itu, lalu ia membawa mereka pada syariat agama Isa bin Maryam عليه السلام. Kemudian terjadilah pada mereka peristiwa-peristiwa yang terjadi pada penganut agama mereka di setiap negeri. Maka dari sanalah asal mula Nasrani di Najran di tanah Arab.
فَهَذَا حَدِيثُ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنِ ابْتِدَاءِ النَّصْرَانِيَّةِ فِي نَجْرَانَ ، وَهُنَاكَ حَدِيثُ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ عَنْ أَمْرِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الثَّامِرِ وَقِصَّةِ أَصْحَابِ الْأُخْدُودِ ، وَهُوَ حَدِيثٌ عَنِ السِّحْرِ وَتَعْلِيمِ أَبْنَاءِ عُظَمَاءِ نَجْرَانَ السِّحْرَ عَلَى يَدَيْ سَاحِرٍ عَظِيمٍ ، وَاخْتِلَافِ ابْنِ الثَّامِرِ إِلَى فِيمْيُونَ عِوَضًا عَنْ ذَهَابِهِ إِلَى ذَلِكَ السَّاحِرِ ، وَتَعَلُّمِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الثَّامِرِ النَّصْرَانِيَّةَ عَلَى فِيمْيُونَ فَجَعَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ الثَّامِرِ إِذَا دَخَلَ نَجْرَانَ لَمْ يَلْحَقْ أَحَدًا بِهِ ضُرٌّ إِلَّا قَالَ لَهُ : يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتُوَحِّدُ اللَّهَ وَتَدْخُلُ فِي دِينِي وَأَدْعُو اللَّهَ فَيُعَافِيكَ مِمَّا أَنْتَ فِيهِ مِنَ الْبَلَاءِ ؟ فَيَقُولُ : نَعَمْ . فَيُوَحِّدُ اللَّهَ وَيُسْلِمُ وَيَدْعُو لَهُ فَيُشْفَى حَتَّى لَمْ يَبْقَ بِنَجْرَانَ أَحَدٌ بِهِ ضُرٌّ إِلَّا أَتَاهُ عَلَى أَمْرِهِ وَدَعَا لَهُ فَعُوفِيَ ، حَتَّى رَفَعَ شَأْنَهُ إِلَى مَلِكِ نَجْرَانَ فَدَعَاهُ فَقَالَ لَهُ : أَفْسَدْتَ عَلَيَّ أَهْلَ قَرْيَتِي وَخَالَفْتَ دِينِي وَدِينَ آبَائِي لِأَمْثُلَنَّ بِكَ ، قَالَ : لَا تَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ . قَالَ : فَجَعَلَ يُرْسِلُ بِهِ إِلَى الْجَبَلِ الطَّوِيلِ فَيَطَّرِحُ عَلَى رَأْسِهِ فَيَقَعُ إِلَى الْأَرْضِ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ ، وَجَعَلَ يَبْعَثُ بِهِ إِلَى مِيَاهِ بِنَجْرَانَ بِحُورٍ لَا يَقَعُ فِيهَا شَيْءٌ إِلَّا هَلَكَ ، فَيُلْقَى فِيهَا فَيَخْرُجُ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ . فَلَمَّا غَلَبَهُ قَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ الثَّامِرِ : إِنَّكَ وَاللَّهِ لَنْ تَقْدِرَ عَلَى قَتْلِي حَتَّى تُوَحِّدَ اللَّهَ فَتُؤْمِنَ بِمَا آمَنْتُ بِهِ ، فَإِنَّكَ إِنْ فَعَلْتَ ذَلِكَ سُلِّطْتَ عَلَيَّ فَتَقْتُلُنِي . قَالَ : فَوَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَشَهِدَ شَهَادَةَ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ الثَّامِرِ ، ثُمَّ ضَرَبَهُ بِعَصًا فِي يَدِهِ فَشَجَّهُ شَجَّةً غَيْرَ كَبِيرَةٍ فَقَتَلَهُ .
Ini adalah hadis Wahb bin Munabbih tentang awal mula Nasrani di Najran. Ada juga hadis Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi tentang perkara Abdullah bin Ats-Tsamir dan kisah Ashabul Ukhdud. Ini adalah hadis tentang sihir dan pengajaran sihir kepada anak-anak pembesar Najran di tangan seorang penyihir agung, Abdullah bin Ats-Tsamir yang mendatangi Fimyum sebagai ganti dari kepergiannya kepada penyihir itu, dan Abdullah bin Ats-Tsamir belajar Nasrani kepada Fimyum. Maka Abdullah bin Ats-Tsamir jika memasuki Najran, tidaklah ada seorang pun yang tertimpa bahaya melainkan ia berkata kepadanya: Wahai hamba Allah, apakah engkau mengesakan Allah dan masuk ke dalam agamaku, lalu aku berdoa kepada Allah maka Ia akan menyembuhkanmu dari musibah yang engkau alami? Maka ia menjawab: Ya. Maka ia mengesakan Allah, berserah diri (masuk Islam), dan Abdullah mendoakannya maka ia pun sembuh. Hingga tidak tersisa seorang pun di Najran yang terkena bahaya melainkan ia datang kepadanya atas urusannya dan Abdullah mendoakannya maka ia pun sembuh. Hingga perihalnya sampai kepada raja Najran, ia pun memanggilnya dan berkata kepadanya: Engkau telah merusak penduduk desaku dan menyelisihi agamaku dan agama nenek moyangku, aku akan membalasmu. Ia berkata: Engkau tidak akan mampu melakukan itu. Ia berkata: Maka ia mulai mengirimnya ke gunung yang tinggi, lalu menjatuhkannya dari puncaknya, maka ia jatuh ke bumi tanpa ada masalah apa pun padanya. Ia mulai mengirimnya ke perairan Najran yang dalam (buhur) yang tidak ada sesuatu pun yang jatuh ke dalamnya melainkan binasa, lalu ia dicemplungkan ke dalamnya, maka ia keluar tanpa ada masalah apa pun padanya. Ketika raja tidak mampu melawannya, Abdullah bin Ats-Tsamir berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau, demi Allah, tidak akan mampu membunuhku hingga engkau mengesakan Allah dan beriman kepada apa yang aku imani, karena sesungguhnya jika engkau melakukan hal itu, engkau akan diberi kekuasaan atas diriku sehingga engkau bisa membunuhku. Ia berkata: Maka raja mengesakan Allah Ta'ala dan mengucapkan syahadat Abdullah bin Ats-Tsamir, kemudian ia memukulnya dengan tongkat yang ada di tangannya, maka ia melukainya dengan luka yang tidak besar lalu ia membunuhnya.
وَوَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ الْقُرَظِيُّ مِنَ الْيَهُودِ الَّذِينَ أَسْلَمُوا ، وَقَدْ رَوَى مُسْلِمَةُ أَهْلِ الْكِتَابِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةً مُتَهَافِتَةً عَنْ حُسْنِ نِيَّةٍ أَوْ سُوءِ قَصْدٍ ، وَقَدْ أَخَذَ عَنْهُمُ الْإِخْبَارِيُّونَ الْمُسْلِمُونَ دُونَ حَذَرٍ عَلَى اعْتِبَارِ أَنَّهُمْ أَهْلُ كِتَابٍ وَأَهْلُ عِلْمٍ ، فَمَاجَتْ جَوَانِبُ التَّارِيخِ الْإِسْلَامِيِّ بِالْإِسْرَائِيلِيَّاتِ وَأَسَاطِيرِ الْأَوَّلِينَ وَالْخُرَافَاتِ وَخَوَارِقِ الْمُعْجِزَاتِ ، وَقَدْ حَاوَلْتُ وَأَنَا أَكْتُبُ السِّيرَةَ أَنْ أَبْتَعِدَ عَنِ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ وَأَنْ أَعْتَمِدَ عَلَى التَّارِيخِ وَمَنْطِقِ الْأَحْدَاثِ .
Wahb bin Munabbih dan Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi adalah dari kalangan Yahudi yang masuk Islam. Penganut Ahli Kitab yang masuk Islam meriwayatkan banyak hadis yang tidak konsisten, baik karena niat baik atau niat buruk. Para pakar berita Muslim mengambilnya dari mereka tanpa waspada dengan anggapan bahwa mereka adalah Ahli Kitab dan orang yang berilmu. Maka aspek-aspek sejarah Islam dipenuhi dengan Israiliyat, mitos-mitos orang terdahulu, khurafat, dan mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Saya telah berusaha ketika menulis Sirah ini untuk menjauh dari Israiliyat dan mengandalkan sejarah serta logika peristiwa.
وَقَدْ حَاوَلْتُ فِي هَذَا الْجُزْءِ مِنَ السِّيرَةِ أَنْ أُلْقِيَ ضَوْءًا عَلَى أَنَّ الْمُهْتَمِّينَ بِالدِّيَانَاتِ فِي الْفَتْرَةِ مَا بَيْنَ الْمَسِيحِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَوْلِدِ مُحَمَّدٍ ﷺ كَانُوا يَنْتَظِرُونَ ظُهُورَ « الْفَارَقْلِيطَ » الَّذِي بَشَّرَ بِهِ الْمَسِيحُ ، فَزَعَمَ مَانِي أَنَّهُ هُوَ « الْفَارَقْلِيطَ » وَكَذَلِكَ زَعَمَ مَزْدَكُ وَقَدْ كَذَّبَهُمَا مُعَارِضُوهُمَا وَقَالُوا لَهُمَا إِنَّ نُبُوءَةَ سَاسَانَ تُؤَكِّدُ أَنَّ « الْفَارَقْلِيطَ » الْمُنْتَظَرَ مِنْ بِلَادِ الْعَرَبِ وَأَنَّ زَرَادُشْتَ قَدْ أَوْصَاهُمْ بِأَنْ يَسْتَمْسِكُوا بِمَا جَاءَهُمْ بِهِ إِلَى أَنْ يَجِيئَهُمْ صَاحِبُ الْجَمَلِ الْأَحْمَرِ مِنَ بِلَادِ الْعَرَبِ . وَكَانَ هَدَفِي مِنْ ذَلِكَ تَأْكِيدَ أَنَّ الْبَشَرِيَّةَ كَانَتْ تَنْتَظِرُ ظُهُورَ ذَلِكَ النَّبِيِّ الْعَالَمِيِّ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ مِنْ قَبْلُ وَقَالَ عَنْهُ الْمَسِيحُ : إِنَّ لَمْ أَذْهَبْ لَمْ يَأْتِ « الْفَارَقْلِيطَ » الَّذِي سَيَمْكُثُ مَعَكُمْ إِلَى الْأَبَدِ ، فَالْفَارَقْلِيطَ نَبِيٌّ مُنْتَظَرٌ رَسُولٌ عَالَمِيٌّ تَتَرَقَّبُ ظُهُورَهُ الْبَشَرِيَّةُ ، وَلَيْسَ الْمُعَزَّى وَلَا رُوحَ الْقُدُسِ كَمَا حَاوَلَ أَحْبَارُ النَّصَارَى وَرِجَالُ الدِّينِ الْمَسِيحِيِّ تَفْسِيرَ مَعْنَى « الْفَارَقْلِيطَ » بَعْدَ بَعْثِ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ : ﴿ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ﴾(١) .
Saya telah berusaha di bagian Sirah ini untuk memberi cahaya bahwa para pemerhati agama-agama pada periode antara Al-Masih عليه السلام dan kelahiran Muhammad ﷺ menunggu kemunculan "Al-Faraqlith" yang dikabarkan oleh Al-Masih. Mani mengklaim bahwa dirinyalah "Al-Faraqlith", demikian pula Mazdak mengklaimnya, namun penentang mereka mendustakan keduanya dan berkata kepada mereka: Sesungguhnya nubuat Sasan menegaskan bahwa "Al-Faraqlith" yang ditunggu berasal dari negeri Arab, dan bahwa Zarathustra telah berwasiat kepada mereka untuk berpegang teguh pada apa yang ia bawa kepada mereka hingga datang kepada mereka pemilik unta merah dari negeri Arab. Tujuan saya dari hal itu adalah menegaskan bahwa umat manusia sedang menunggu kemunculan nabi global yang dikabarkan oleh para nabi sebelumnya, dan Al-Masih berkata tentangnya: Jika aku tidak pergi, maka "Al-Faraqlith" yang akan tinggal bersama kalian selamanya tidak akan datang. Maka Al-Faraqlith adalah nabi yang ditunggu, rasul global yang kemunculannya dinantikan oleh umat manusia, dan bukan "Al-Mu'azza" (Penghibur) dan bukan pula "Ruhul Qudus" sebagaimana para pendeta Nasrani dan tokoh agama Kristen berusaha menafsirkan makna "Al-Faraqlith" setelah diutusnya Muhammad Rasulullah ﷺ: "Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad" (1).

هامش: (١) الصَّف ٦

Catatan: (1) As-Shaff: 6

وَقَدْ رَاوَدَتْنِي فِكْرَةُ عَنِ « التَّصُّوفِ عِنْدَ الْعَرَبِ » عِنْدَمَا كُنْتُ أَكْتُبُ الْفَصْلَ الْخَاصَّ بِوِلَايَةِ الْإِجَازَةِ بِالنَّاسِ مِنْ عَرَفَةَ وَمُزْدَلِفَةَ وَمِنًى ، فَقَدْ كَانَتْ صُوفَةٌ هِيَ الَّتِي تَلِي الْإِجَازَةَ بِالنَّاسِ ، وَقَدْ عُرِفَتْ بِذَلِكَ الِاسْمِ لِأَنَّ الْغَوْثَ بْنَ مُرَّ أَدِّ بْنَ طَابِخَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ قَدْ تَصَدَّقَتْ بِهِ أُمُّهُ عَلَى الْكَعْبَةِ عَبْدًا لَهَا يَخْدِمُهَا وَيَقُومُ عَلَيْهَا وَأَلْبَسَتْهُ الصُّوفَ وَجَعَلَتْهُ رِيظًا لِلْكَعْبَةِ ، فَعَرَفَ هُوَ وَوَلَدُهُ مِنْ بَعْدِهِ بِصُوفَةٍ ، وَقَدْ صَارَ ذَلِكَ سُنَّةً فِي الْعَرَبِ فَكَانَ يُقَالُ صُوفَةٌ وَصُوفَانُ لِكُلِّ مَنْ يَقُومُ بِشَيْءٍ مِنْ خِدْمَةِ الْبَيْتِ . وَعِنْدِي أَنَّهُ لَمَّا جَاءَ الْإِسْلَامُ وَانْقَطَعَ بَعْضُ الْمُسْلِمِينَ لِلْعِبَادَةِ وَوَهَبُوا أَنْفُسَهُمُ اللَّهَ عَرَفُوا بِالصُّوفِيِّ ، كَمَا عُرِفَ الَّذِينَ وَهَبُوا أَنْفُسَهُمْ لِلْكَعْبَةِ قَبْلَ الْإِسْلَامِ بِصُوفَةٍ وَعُرِفَتْ طَرِيقَتُهُمْ بِالتَّصَوُّفِ . ثُمَّ بَدَأَ اتِّصَالُ الْإِسْلَامِ بِفَارِسَ وَالْهِنْدِ فَنَهَلَ التَّصَوُّفُ كَعِلْمٍ مِنْ فَلْسَفَاتِ الْفُرْسِ وَالْهُنُودِ .
Ide tentang "Tasawuf pada orang Arab" terlintas di benak saya ketika saya menulis bab khusus tentang otoritas memimpin jamaah (ijazah) dari 'Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Sufah adalah kelompok yang memimpin jamaah. Mereka dikenal dengan nama itu karena Al-Ghauts bin Murr ad bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar disedekahkan oleh ibunya kepada Ka'bah sebagai budak untuk melayaninya dan mengurusnya, ibunya memakaikannya kain wol (shuf) dan menjadikannya pelayan bagi Ka'bah. Maka ia dan keturunannya setelahnya dikenal sebagai Sufah. Hal itu menjadi sunnah di kalangan orang Arab, maka setiap orang yang melakukan pelayanan kepada Baitullah dipanggil Sufah dan Sufan. Menurut pendapat saya, ketika Islam datang dan sebagian Muslim mengabdikan diri untuk beribadah dan menyerahkan diri mereka kepada Allah, mereka dikenal dengan As-Sufi, sebagaimana orang-orang yang menyerahkan diri mereka kepada Ka'bah sebelum Islam dikenal sebagai Sufah dan metode mereka dikenal dengan Tasawuf. Kemudian hubungan Islam dengan Persia dan India dimulai, maka Tasawuf sebagai suatu ilmu menyerap dari filosofi Persia dan India.
وَلَوْ أَلْقَيْنَا نَظْرَةً فَاحِصَةً عَلَى الْعَالَمِ مُنْذُ أَيَّامِ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ إِلَى يَوْمِ مَوْلِدِ الرَّسُولِ ﷺ فِي الِاقْتِصَادِ وَالِاجْتِمَاعِ وَالْفَلْسَفَةِ وَالدِّينِ ، لَوَجَدْنَا أَنَّ الْعَالَمَ قَدْ مَرَّ بِكُلِّ مَا يَمُرُّ بِهِ عَالَمُنَا الْيَوْمَ مِنْ تَصَارُعٍ فِي الْمَذَاهِبِ الِاقْتِصَادِيَّةِ بَيْنَ الرَّأْسِمَالِيَّةِ وَالشُّيُوعِيَّةِ وَمِنْ مَبَادِئُ أَخْلَاقِيَّةٍ وَمَبَادِئُ تَحَرُّرِيَّةٍ إِبَاحِيَّةٍ انْحِلَالِيَّةٍ فَوْضَوِيَّةٍ ، وَمِنْ فَلْسَفَاتٍ جَادَّةٍ تَبْحَثُ عَنْ جَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ وَفَلْسَفَاتٍ تَدْعُو إِلَى تَحْصِيلِ اللَّذَّةِ وَالسُّرُورِ وَتَمْجِيدِ الْجَسَدِ وَإِنْكَارِ الرُّوحِ ، وَمِنْ وَثَنِيِّينَ وَمُوَحِّدِينَ وَمُؤْمِنِينَ بِالثَّالُوثِ الْمُقَدَّسِ قَبْلَ أَنْ يَعْتَنِقَ بُولُسَ مَبْدَأَ التَّثْلِيثِ وَيُورِثَهُ لِلْمَسِيحِيِّينَ الَّذِينَ آمَنُوا بِمَا جَاءَهُمْ بِهِ بُولُسَ يَوْمَ أَنْ سَلَبَ كُرْسِيَّ السَّيِّدِ الْمَسِيحِ ، وَمِنْ قَدَرِيِّينَ وَدَهْرِيِّينَ وَطَبِيعِيِّينَ وَوُجُودِيِّينَ .
Seandainya kita melihat secara mendalam kepada dunia sejak zaman Ibrahim Al-Khalil hingga hari kelahiran Rasul ﷺ dalam ekonomi, sosial, filsafat, dan agama, niscaya kita akan menemukan bahwa dunia telah melewati segala yang dilalui oleh dunia kita saat ini, mulai dari pertarungan mazhab ekonomi antara Kapitalisme dan Komunisme, prinsip moral dan prinsip kebebasan yang permisif, dekaden, dan anarkis, serta filsafat-filsafat serius yang mencari esensi kebenaran dan filsafat-filsafat yang mengajak pada pencapaian kenikmatan dan kegembiraan, memuliakan jasad, dan mengingkari ruh, hingga penyembah berhala, orang-orang yang bertauhid, dan orang-orang yang beriman pada Trinitas suci sebelum Paulus menganut prinsip Trinitas dan mewariskannya kepada umat Kristen yang mengimani apa yang dibawa Paulus kepada mereka hari saat ia merampas kursi pemimpin Al-Masih, serta Qadariyah, Dahriyah, Thabi'iyah, dan Wujudiyah.
كَانَ الْمَلِكُ فِي مِصْرَ الْقَدِيمَةِ أَيَّامَ الْفَرَاعِنَةِ إِلُّها تُجْبَى الضَّرَائِبُ لِتَمْلَأَ خَزَائِنَهُ وَتَقُومُ الْحُرُوبُ إِعْلَاءً لِذِكْرِهِ وَتُشَادُ الْعَمَائِرُ تَكْرِيمًا لَهُ وَتَشْرِيفًا لِمَخْلُوقٍ مَا أَنْ يَكُونَ لَهُ نَصِيبٌ فَإِنَّ هَذَا لَا يَعْدُو أَنْ يَكُونَ عَارِيَةً يَسْتَرِدُّهَا الْمَلِكُ عِنْدَمَا يَشَاءُ ، وَكَانَتِ الرَّعِيَّةُ مِلْكًا لَهُ يَتَصَرَّفُ فِي حَيَاتِهَا وَأَرْوَاحِهَا كَيْفَمَا يُرِيدُ . وَيَقُومُ إِلَى جِوَارِ الْمَلِكِ مُسْتَشَارُوهُ وَطَائِفَةُ الْكَهَنَةِ وَالْأَسْرَاتُ الْغَنِيَّةُ مِنَ النُّبَلَاءِ وَالْقَوَادِ ، وَقَدْ كَانَ لَهُمْ نُفُوذُهُمْ وَكَانَ الْمَلِكُ يَغْدِقُ عَلَيْهِمْ عَلَى حِسَابِ الشَّعْبِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي يُؤَلِّبُ فِيهِ طَائِفَةً عَلَى أُخْرَى لِيَسْتَقِيمَ لَهُ الْأَمْرُ وَلِيَضْمَنَ لِنَفْسِهِ حُكْمًا طَوِيلًا مَمْلُوءًا بِالْخَيْرِ وَالْبَرَكَاتِ .
Raja di Mesir kuno di zaman Fir'aun adalah tuhan. Pajak dipungut untuk memenuhi perbendaharaannya, perang dikobarkan untuk meninggikan namanya, bangunan-bangunan megah didirikan untuk menghormatinya dan memuliakan makhluk. Jika seseorang memiliki bagian, maka itu hanyalah pinjaman yang akan diambil kembali oleh raja kapan pun ia mau. Rakyat adalah miliknya, ia bertindak atas kehidupan dan ruh mereka sesuka hatinya. Di samping raja terdapat para penasihatnya, golongan pendeta, dan keluarga kaya dari kalangan bangsawan dan panglima. Mereka memiliki pengaruh dan raja melimpahkan kekayaan kepada mereka dengan mengorbankan rakyat, pada saat yang sama ia mengadu domba satu golongan dengan golongan lainnya agar urusannya tetap stabil baginya dan untuk menjamin bagi dirinya kekuasaan yang panjang, penuh dengan kebaikan dan keberkahan.
وَفِي الْعِرَاقِ فِي أَرْضِ بَابِلَ قَبْلَ أَنْ يَتَوَلَّى الْعَرْشَ حَمُورَابِي - وَيُقَالُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلَ قَدْ بَعَثَ فِي عَهْدِ أَبِيهِ - وَهُوَ الْمُؤَسِّسُ الْحَقِيقِيُّ لِلْوَحْدَةِ الْبَابِلِيَّةِ ، كَانَتْ سُومَرُ وَأَكَّادُ مُتَّحِدَتَيْنِ تَحْتَ تَاجٍ وَاحِدٍ ، وَكَانَتِ الْمَدِينَةُ تَكُونُ فِي الْمُجْتَمَعِ خَلِيَّةً لَهَا حَيَاتُهَا الْخَاصَّةِ وَيَعْتَبِرُ تَأْسِيسُهَا عَمَلًا دِينِيًّا لَا يَسْتَطَاعُ الْقِيَامُ بِهِ إِلَّا بِنَاءً عَلَى أَوَامِرِ الْآلِهَةِ الْعِظَامِ ، لِأَنَّ الْمَدِينَةَ هِيَ قَبْلَ شَيْءٍ مَرْكَزٌ لِلْعِبَادَةِ ، فَكَانَ لِاسْمِ الْمَدِينَةِ وَاسْمِ الْإِلَهِ الَّذِي تَنَازَلَ فَرَضَى أَنْ يَسْتَقِرَّ بِهَا مَدْلُولٌ وَاحِدٌ . وَلَمَّا أَنْشَأَ مُلُوكُ الْأَسْرَةِ الْأُولَى مُدُنًا جَدِيدَةً مَنَحُوهَا اسْمَ الْإِلَهِ الْمَعْبُودِ ، مِثْلَ « كَارِشَمَاش » وَمَعْنَاهَا « قَلْعَةُ الْإِلَهِ شَمَاش » ، وَ « نُورُ أَدَادَه » وَمَعْنَاهَا « نُورُ الْإِلَهِ أَدَاد » .
Di Irak, di tanah Babil sebelum Hamurabi bertahta —dan dikatakan bahwa Ibrahim Khalil diutus pada masa ayahnya— dan dia adalah pendiri sesungguhnya bagi persatuan Babilonia, Sumer dan Akkad bersatu di bawah satu mahkota, dan kota dalam masyarakat merupakan sel yang memiliki kehidupan khusus, dan pendiriannya dianggap sebagai perbuatan agama yang tidak dapat dilakukan kecuali berdasarkan perintah tuhan-tuhan yang agung, karena kota adalah, sebelum segala sesuatu, pusat ibadah, maka nama kota dan nama tuhan yang turun dan ridha untuk menetap di sana memiliki satu makna. Ketika raja-raja keluarga pertama mendirikan kota-kota baru, mereka memberinya nama tuhan yang disembah, seperti "Karsyamas" yang maknanya "Benteng tuhan Syamas", dan "Nur Adadah" yang maknanya "Cahaya tuhan Adad".
كَانَ الْإِلَهُ فِي الْعِرَاقِ سَيِّدَ الْمَدِينَةِ الْحَقِيقِيِّ وَكَانَ يَسْكُنُهَا مَعَ زَوْجِهِ وَأَوْلَادِهِ وَخَدَمِهِ وَسَدَنَتِهِ ، وَكَانَ الْمَعْبَدُ مَسْكَنَهُ وَكَانَ أَفْخَرَ مَسَاكِنَ الْمَدِينَةِ عَلَى الْإِطْلَاقِ ، وَكَانَ لِلْآلِهَةِ أَمْلَاكٌ خَاصَّةٌ وَصَرَامِعُ لِلْغِلَالِ وَعَبِيدٌ وَجُيُوشٌ . وَلَمْ يَكُنِ الْإِلَهُ يُدِيرُ شَخْصِيًّا شُئُونَ الْمَمْلَكَةِ أَمِ الْمَدِينَةِ بَلْ كَانَ يَخْتَارُ وَكِيلًا ، مَلِكًا أَوْ إِشَاكُو ، يَعْهَدُ إِلَيْهِ رِعَايَةَ شُئُونِ شَعْبِهِ . فَكَانَ الْمَلِكُ أَوْ رَجُلُ الدِّينِ - وَكَثِيرًا مَا كَانَ الْمَلِكُ هُوَ الْكَاهِنُ الْأَعْظَمُ لِلْإِلَهِ - يَسْتَغِلُّ الشَّعْبَ بِاسْمِ إِلَهِهِ الْمَعْبُودِ .
Tuhan di Irak adalah tuan kota yang sesungguhnya dan dia tinggal di sana bersama istrinya, anak-anaknya, pelayan-pelayannya, dan penjaga kuilnya, dan kuil adalah tempat tinggalnya dan itu adalah tempat tinggal termewah di kota secara mutlak, dan tuhan-tuhan memiliki kepemilikan khusus, lumbung-lumbung gandum, budak-budak, dan pasukan. Dan tuhan tidak mengelola secara pribadi urusan kerajaan atau kota, melainkan dia memilih wakil, raja, atau Isyaku, yang ia serahi tugas memelihara urusan rakyatnya. Maka raja atau agamawan—dan seringkali raja adalah imam besar bagi tuhan—mengeksploitasi rakyat atas nama tuhan yang disembah.
وَكَانَ الْمَلِكُ وَهُوَ الْمُشْرِفُ عَلَى الْإِدَارَةِ الْمَدَنِيَّةِ وَالدِّينِيَّةِ لَا يَلْبَثُ أَنْ يُؤَلِّهَ نَفْسَهُ فَيُصْبِحَ الْمُتَصَرِّفَ فِي الْمَعَابِدِ وَأَمْلَاكِهَا وَخَيْرَاتِ الْبِلَادِ وَفِي شَعْبِهِ الْمِسْكِينِ .
Dan raja, yang merupakan pengawas administrasi sipil dan agama, tidak berselang lama kemudian menganggap dirinya sebagai tuhan, lalu menjadi pengelola kuil-kuil, kepemilikannya, kekayaan negeri, dan rakyatnya yang malang.
أَمَّا فِي فَارِسَ فَقَدْ كُوِّنَ الْإِيرَانِيُّونَ مُنْذُ الْقِدَمِ جَمْعِيَّةً مِنَ الْأُسَرِ الْكَبِيرَةِ يَسْتَنِدُ نِظَامُ إِقْلِيمِهَا إِلَى أَرْبَعِ وَحَدَاتٍ : الْبَيْتِ وَالْقَرْيَةِ وَالْقَبِيلَةِ وَالْإِقْلِيمِ ، وَسُمِّىَ الشَّعْبُ آرِيَا وَهِيَ الْكَلِمَةُ الَّتِي اشْتُقَّ مِنْهَا إِيرَان .
Adapun di Fars, orang-orang Iran sejak dahulu kala telah membentuk perkumpulan dari keluarga-keluarga besar, sistem wilayahnya bersandar pada empat unit: rumah, desa, suku, dan wilayah, dan rakyat disebut Arya, yaitu kata yang darinya diturunkan Iran.
وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ الْأَخَمِينِيَّةُ اسْتِمْرَارًا لِلدَّوْلَةِ الْأَشُورِيَّةِ وَالْبَابِلِيَّةِ ، وَلَكِنَّ التَّنْظِيمَ عَلَى أَسَاسِ الْأُسْرَةِ لَمْ يَمُحُ فكَانَ فِي فَارِسَ الْأَخَمِينِيَّةِ سَبْعُ قَبَائِلَ مُمْتَازَةٍ يَجْرِي فِي إِحْدَاهَا الدَّمُ الْمَلَكِيُّ . وَقَدْ جَعَلَ الْمَلِكُ الْأَعْظَمُ لِنَفْسِهِ أَتْبَاعًا يَمْنَحُهُمْ إِقْطَاعَاتٍ يَتَوَارَثُونَهَا مَعَ امْتِيَازَاتٍ خَاصَّةٍ . وَلَمْ تَعُدْ صِلَةُ الْأُسْرَاتِ وَثِيقَةً بِالْقُرَى الْفَارِسِيَّةِ الَّتِي نَشَئُوا فِيهَا فَحَسْبُ بَلْ تَعَدَّتْهَا إِلَى أَمْلَاكٍ كَبِيرَةٍ أُخْرَى فِي شَتَّى أَنْحَاءِ الدَّوْلَةِ . وَقَدْ أُتِيحَ لِأُنَاسٍ مِنْ غَيْرِ الْأُسْرَاتِ الْكَبِيرَةِ مِنَ الْفُرْسِ وَالْمِيدِيِّينَ وَمِنَ الْأَجَانِبِ أَيْضًا كَالْإِغْرِيقِ الْمَنْفِيِّينَ أَنْ يَمْلِكُوا إِمَارَاتٍ يَمْنَحُهَا الْمَلِكُ الْأَعْظَمُ ، وَقَدْ تَمَتَّعُوا بِامْتِيَازَاتٍ تَتَفَاوَتُ خُطُورَةً مِنْهَا الْإِعْفَاءِ مِنَ الضَّرِيبَةِ أَحْيَانًا بِحَيْثُ كَانَ فِي مَقْدُورِهِمْ أَنْ يَسْتَحْوِذُوا عَلَى الْأَمْوَالِ الَّتِي يَجْبُونَهَا مِنْ رَعَايَاهُمْ .
Dan negara Akhemeniyah adalah kelanjutan bagi negara Asyur dan Babilonia, akan tetapi pengaturan atas dasar keluarga tidak terhapus, maka di Fars Akhemeniyah terdapat tujuh suku istimewa yang salah satunya mengalir darah kerajaan. Dan raja agung menjadikan untuk dirinya pengikut-pengikut yang ia berikan kepada mereka tanah-tanah feodal yang mereka wariskan beserta hak-hak istimewa khusus. Dan hubungan keluarga-keluarga tidak lagi erat dengan desa-desa Persia tempat mereka tumbuh saja, melainkan melewatinya ke kepemilikan besar lainnya di berbagai penjuru negara. Dan telah dimungkinkan bagi orang-orang dari luar keluarga-keluarga besar dari Persia dan Media, serta dari orang asing juga seperti orang Yunani yang diasingkan, untuk memiliki keemiran yang diberikan raja agung, dan mereka menikmati hak-hak istimewa yang bervariasi tingkat keseriusannya, di antaranya pembebasan dari pajak terkadang sehingga mereka mampu untuk menguasai harta yang mereka pungut dari rakyat mereka.
وَهَذَا هُوَ مَبْدَأُ الْإِقْطَاعِ فِي فَارِسَ . كَانَ الْمَلِكُ هُوَ الرَّئِيسُ الْأَعْلَى وَكَانَ الْأُمَرَاءُ هُمْ رُؤَسَاءَ الْبُيُوتِ الْكَبِيرَةِ ، وَكَانَ لِكُلِّ مِنْهُمْ حَرَاثُونَ وَعَلَيْهِمْ يَقَعُ عِبْءُ الْخِدْمَةِ الْعَسْكَرِيَّةِ ، وَكَانُوا خَاضِعِينَ لِضَرْبٍ مِنَ الرِّقِّ تَحْتَ سَيْطَرَةِ سَادَاتِهِمُ الْأَقْوِيَاءِ .
Dan inilah prinsip feodalisme di Fars. Raja adalah pemimpin tertinggi dan para pangeran adalah para kepala rumah-rumah besar, dan masing-masing dari mereka memiliki petani dan atas mereka jatuh beban layanan militer, dan mereka tunduk pada sejenis perbudakan di bawah kendali tuan-tuan mereka yang kuat.
لَمْ يَعْرِفِ الشَّرْقُ مُنْذُ فَجْرِ التَّارِيخِ إِلَى مَوْلِدِ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مِنْ نُظُمِ الْحُكْمِ غَيْرَ النِّظَامِ الْمَلَكِيِّ الْمُسْتَبِدِّ الَّذِي اسْتَمَدَّ سُلْطَانَهُ مِنَ السَّمَاءِ ، بِادِّعَائِهِ أَنَّهُ وَكِيلُ الْإِلَهِ فِي الْأَرْضِ مَرَّةً وَبِزَعْمِهِ أَنَّهُ هُوَ الْإِلَهُ نَفْسَهُ مَرَّاتٍ . أَمَّا فِي الْغَرْبِ فَقَدِ اسْتُبْدِلَتْ رُومَةُ حُكْمَ الْمُلُوكِ بِحُكْمِ الشُّيُوخِ فَوَلَدَتْ بِذَلِكَ الْجُمْهُورِيَّةُ ، وَظَلَّ مَجْلِسُ الشُّيُوخِ صَاحِبَ السُّلْطَةِ الْعُلْيَا فِي رُومَةَ وَكَانَ حَقُّ الْمَجْلِسِ مِنَ الْوِجْهَةِ النَّظَرِيَّةِ مَقْصُورًا عَلَى مُنَاقَشَةِ مَا يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ أَحَدُ كِبَارِ الْحُكَّامِ مِنَ الْمَسَائِلِ وَإِصْدَارِ قَرَارٍ فِيهَا ، وَكَانَتْ قَرَارَاتُهُ فِي هَذِهِ الْمَسَائِلِ اسْتِشَارِيَّةً مَحْضَةً لَيْسَ لَهَا قُوَّةُ الْقَانُونِ ، وَلَكِنْ كَانَ لِلْمَجْلِسِ مِنْ عِظَمِ الْمَكَانَةِ مَا جَعَلَ الْحُكَّامَ يَعْمَلُونَ بِتَوْصِيَاتِهِ فِي جَمِيعِ الْحَالَاتِ تَقْرِيبًا .
Timur sejak fajar sejarah hingga kelahiran Rasul 'alaihi shalatu wassalam tidak mengenal sistem pemerintahan selain sistem kerajaan despotik yang mengambil kekuasaannya dari langit, dengan klaimnya bahwa ia adalah wakil tuhan di bumi sekali dan dengan sangkaannya bahwa ia adalah tuhan itu sendiri berkali-kali. Adapun di Barat, Roma mengganti pemerintahan raja dengan pemerintahan para tetua (senat), maka lahirlah republik dengan itu, dan dewan tetua tetap menjadi pemilik otoritas tertinggi di Roma dan hak dewan dari sudut pandang teoretis terbatas pada mendiskusikan apa yang diajukan kepadanya oleh salah satu penguasa besar terkait permasalahan dan mengeluarkan keputusan di dalamnya, dan keputusan-keputusannya dalam permasalahan ini hanyalah bersifat konsultatif murni yang tidak memiliki kekuatan hukum, akan tetapi dewan memiliki kebesaran kedudukan yang membuat para penguasa menjalankan rekomendasi-rekomendasinya dalam hampir semua keadaan.
وَظَلَّ مَجْلِسُ الشُّيُوخِ هُوَ صَاحِبَ السُّلْطَةِ فِي رُومَةَ إِلَى أَنِ انْتَزَعَ يُولِيُوسُ قَيْصَرَ السُّلْطَةَ مِنْهُ وَصَارَ الْحُكْمُ فِيهَا قَيْصَرِيًّا . وَقَدْ كَانَتِ الدِّيمُقْرَاطِيَّةُ تَحْتَضِرُ فِي عَاصِمَةِ الْبِلَادِ الْإِيطَالِيَّةِ فَكَانَتِ الْأَحْكَامُ الْقَضَائِيَّةُ وَمَنَاصِبُ الدَّوْلَةِ وَعَرْشُ الْمُلُوكِ الْخَاضِعِينَ لِسُلْطَانِهَا تُبَاعُ إِلَى مَنْ يَعْرِضُ فِيهَا أَغْلَى الْأَثْمَانِ ، مِنْ ذَلِكَ أَنَّ الْقَسَمَ الْأَوَّلَ مِنَ الْمُقْتَرِعِينَ فِي الْجَمْعِيَّةِ قَدِ اسْتَوْلَى فِي عَام 53 م عَلَى عَشَرَةِ مَلَايِينَ سَسْتَرَس ثَمَنًا لِأَصْوَاتِ أَفْرَادِهِ ، وَلَمَّا لَمْ يَنْفَعِ الْمَالُ لَمْ يَتَوَرَّعْ ذَوُو الشَّأْنِ عَنِ الِالْتِجَاءِ إِلَى الِاغْتِيَالِ أَوِ كَشْفِ السِّتَارِ عَنْ مَاضِي النَّاسِ وَالتَّهْدِيدِ بِالْكَشْفِ عَنْ فَضَائِحِهِمْ فَلَمْ يَرَوْا أَمَامَهُمْ سَبِيلًا غَيْرَ الْإِذْعَانِ . وَفَشَا الْإِجْرَامُ فِي الْمَدِينَةِ كَمَا انْتَشَرَتِ السَّرِقَاتُ فِي الْأَقَالِيمِ ، وَلَمْ تَكُنْ فِي هَذِهِ وَلَا فِي تِلْكَ قُوَّةٌ مِنَ الشُّرْطَةِ تَطْمَئِنُّ النَّاسُ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَوْ أَمْوَالِهِمْ فَكَانَ الْأَغْنِيَاءُ يَسْتَأْجِرُونَ عِصَابَاتٍ مِنَ الْمُجَالِدِينَ يَدْفَعُونَ عَنْهُمُ الْأَذَى أَوْ يُؤَيِّدُونَهُمْ فِي الْجَمْعِيَّةِ .
Dan dewan tetua tetap menjadi pemilik otoritas di Roma sampai Yulius Kaisar merebut otoritas darinya dan pemerintahan di dalamnya menjadi kekaisaran. Demokrasi sedang sekarat di ibu kota negara Italia, maka keputusan pengadilan, jabatan-jabatan negara, dan takhta raja-raja yang tunduk pada kekuasaannya dijual kepada siapa yang menawarkan harga termahal di dalamnya, di antaranya adalah bahwa bagian pertama dari para pemilih dalam majelis telah menguasai pada tahun 53 M sepuluh juta sestertius sebagai harga suara individu-individunya, dan ketika uang tidak mempan, orang-orang terpandang tidak segan untuk beralih ke pembunuhan atau menyingkap tabir masa lalu orang-orang dan mengancam dengan menyingkap skandal-skandal mereka, maka mereka tidak melihat di hadapan mereka jalan lain selain kepatuhan. Kejahatan merajalela di kota sebagaimana pencurian tersebar di wilayah-wilayah, dan tidak ada di sini maupun di sana kekuatan polisi yang membuat orang-orang merasa aman atas diri atau harta mereka, maka orang-orang kaya menyewa kelompok-kelompok gladiator yang menangkis gangguan dari mereka atau mendukung mereka di majelis.
وَاسْتَهْوَتْ رَائِحَةُ الْمَالِ أَوْ هَبَاتِ الْحُبُوبِ أَحَطَّ الطَّبَقَاتِ فِي إِيطَالِيَا فَهَرَعَتْ إِلَى رُومَةَ وَجَعَلَتِ اجْتِمَاعَاتِ الْجَمْعِيَّةِ مَهْزَلَةً مِنَ الْمَهَازِلِ ، فَكَانَ كُلُّ مَنْ يَقْبَلُ الِاقْتِرَاعَ كَمَا يُطْلَبُ إِلَيْهِ يُؤْذَنُ لَهُ بِدُخُولِهَا سَوَاءً أَكَانَ مِنْ مُوَاطِنِي رُومَةَ أَمْ مِنْ غَيْرِ مُوَاطِنِيهَا . وَكَانَ يَحْدُثُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أَلَّا يَكُونَ مِنْ بَيْنِ مَنْ أَعْطَوْا أَصْوَاتَهُمْ إِلَّا أَقَلِّيَّةٌ صَغِيرَةٌ هِيَ الَّتِي لَهَا حَقُّ الِاقْتِرَاعِ . وَكَثِيرًا مَا كَانَ الْخُطَبَاءُ يَحْصُلُونَ عَلَى حَقِّ الْخَطَابَةِ فِي الْجَمْعِيَّةِ بِالْهُجُومِ عَلَى الْمِنَصَّةِ وَالِاسْتِيلَاءِ عَلَيْهَا قُوَّةً وَاقْتِدَارًا ، وَأَضْحَتِ الْعِصَابَةُ الَّتِي تَرْفَعُهَا قُوَّتُهَا عَلَى سَائِرِ الْعِصَابَاتِ الْمُنَافِسَةِ لَهَا هِيَ الَّتِي تُشَرِّعُ لِلدَّوْلَةِ كَمَا كَانَ الَّذِينَ يَقْتَرِعُونَ عَلَى غَيْرِ هَوَاهَا يُضْرَبُونَ حَتَّى يَكَادَ يُقْضَى عَلَيْهِمْ ثُمَّ تُشْعَلُ النَّارُ بَعْدَ الضَّرْبِ فِي بُيُوتِهِمْ ، وَقَدْ كَتَبَ شِيصَرُونَ بَعْدَ جَلْسَةٍ مِنْ تِلْكَ الْجَلَسَاتِ يَقُولُ :
Bau uang atau hibah gandum memikat lapisan terendah di Italia, maka mereka bergegas ke Roma dan menjadikan pertemuan majelis sebagai lelucon dari berbagai lelucon, maka setiap orang yang menerima pemungutan suara sebagaimana diminta kepadanya diizinkan untuk memasukinya, baik ia dari warga negara Roma atau dari bukan warga negaranya. Dan terkadang terjadi bahwa tidak ada di antara mereka yang memberikan suara mereka kecuali minoritas kecil yang memiliki hak untuk memilih. Dan seringkali para orator mendapatkan hak berpidato di majelis dengan menyerang mimbar dan menguasainya dengan kekuatan dan kemampuan, dan kelompok yang kekuatannya mengangkatnya di atas kelompok-kelompok pesaing lainnya menjadi kelompok yang membuat undang-undang untuk negara, sebagaimana mereka yang memilih dengan cara yang tidak sesuai dengan keinginan kelompok itu dipukuli sampai hampir binasa, kemudian api dinyalakan setelah pemukulan di rumah-rumah mereka, dan Cicero telah menulis setelah sesi dari sesi-sesi tersebut, ia berkata:
« لَقَدِ امْتَلَأَ التِّيبَرُ بِجُثَثِ الْمُوَاطِنِينَ كَمَا سَدَّتْ بِهَا الْبَالُوعَاتُ الْعَامَّةُ ، وَاضْطُرَّ الْأَرِقَّاءُ إِلَى امْتِصَاصِ الدَّمِ بِالْإِسْفَنْجِ مِنَ السُّوقِ الْعَامَّةِ » .
"Tiber telah dipenuhi dengan mayat warga negara sebagaimana saluran pembuangan umum tersumbat karenanya, dan para budak terpaksa menyerap darah dengan spons dari pasar umum."
هَذِهِ هِيَ أَسَالِيبُ الْحُكْمِ فِي الْعُصُورِ الْخَالِيَةِ ، مَلَكِيَّةٌ مُسْتَبِدَّةٌ أَوْ جُمْهُورِيَّةٌ سُرْعَانَ مَا يَدِبُّ فِي دِيمُقْرَاطِيَّتِهَا الْفَسَادُ ، أَوْ قَيْصَرِيَّةٌ أَوْ كَسْرَوِيَّةٌ ، وَهِيَ بِعَيْنِهَا أَسَالِيبُ الْحُكْمِ فِي عَصْرِنَا ، فَلَمْ تَسْتَطِعِ الْبَشَرِيَّةُ أَنْ تَبْتَدِعَ أُسْلُوبًا آخَرَ غَيْرَ تِلْكَ الْأَسَالِيبِ الَّتِي مَارَسَتْهَا مُنْذُ أَقْدَمِ الْعُصُورِ . وَقَدْ وَقَعَ الظُّلْمُ فِي جَمِيعِ صُوَرِ الْحُكْمِ عَلَى سَوَادِ الشَّعْبِ بَيْنَمَا اسْتَأْثَرَ بِخَيْرَاتِ الْأَرْضِ طَبَقَةٌ مُسْتَبِدَّةٌ مَنَحَتْ نَفْسَهَا حُقُوقًا بِاسْمِ الْحَقِّ الْإِلَهِيِّ تَارَةً ، وَبِاسْمِ الشَّعْبِ تَارَةً أُخْرَى وَبِحَقِّ الْقُوَّةِ وَالْقَهْرِ عَلَى مَرِّ الْعُصُورِ .
Ini adalah metode-metode pemerintahan di masa lalu, kerajaan yang despotik atau republik yang dengan cepat merayap korupsi di dalam demokrasinya, atau kekaisaran atau kesrawiyah (kepemimpinan ala Kisra), dan itu adalah metode-metode pemerintahan yang sama di masa kita, maka umat manusia tidak mampu menciptakan metode lain selain metode-metode yang telah dipraktikkannya sejak zaman dahulu kala. Kedzaliman telah terjadi dalam semua bentuk pemerintahan atas rakyat jelata sementara segelintir kelas despotik memonopoli kekayaan bumi, yang memberikan hak-hak bagi diri mereka sendiri atas nama hak ketuhanan terkadang, dan atas nama rakyat di saat lain, serta dengan hak kekuatan dan penindasan sepanjang masa.
وَقَدْ بَعَثَ اللَّهُ رُسُلَهُ لِيَقِفُوا فِي وَجْهِ الْجَبَّارِينَ وَلِيَنْتَزِعُوا مِنْهُمْ حَقَّ النَّاسِ وَلِيُشَرِّعُوا لَهُمْ مَا يَصْلُحُ دِينَهُمْ وَدُنْيَاهُمْ وَيَشْحَذَ ضَمَائِرَهُمْ لِسَعَادَةِ الْبَشَرِيَّةِ جَمْعَاءَ ، وَقَدْ عَرَفَتِ الْبَشَرِيَّةُ الْعِزَّةَ وَالْكَرَامَةَ وَالسَّعَادَةَ الْحَقَّةَ فِي ظِلِّ الدِّينِ ، وَتَفَيَّأَتْ ظِلَالَ الْعَدَالَةِ مَا دَامَتْ فِي كَنَفِ الْقَوَانِينِ السَّمَاوِيَّةِ ، وَقَدْ تَمَرَّغَتْ فِي حَمْأَةِ الِاسْتِبْدَادِ وَالظُّلْمِ كُلَّمَا طَالَ عَلَى النَّاسِ الْعَهْدُ وَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ .
Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya untuk berdiri di depan orang-orang yang sombong dan untuk merebut dari mereka hak manusia dan untuk menetapkan syariat bagi mereka apa yang memperbaiki agama dan dunia mereka serta mengasah hati nurani mereka bagi kebahagiaan seluruh umat manusia, dan umat manusia telah mengenal kemuliaan, kehormatan, dan kebahagiaan yang sejati di bawah naungan agama, dan bernaung di bawah naungan keadilan selama mereka berada dalam lindungan hukum-hukum langit, dan mereka telah berkubang dalam lumpur despotisme dan kedzaliman setiap kali masa bagi orang-orang telah lama dan hati mereka telah mengeras.
وَقَدْ حَاوَلَتِ الْفَلْسَفَةُ فِي بَعْضِ الْأَحَايِينِ أَنْ تَرْسُمَ لِلنَّاسِ طَرِيقَ سَعَادَتِهِمْ فَأَضَلَّتْهُمُ الطَّرِيقَ ، وَإِنْ بَدَا فِي بَعْضِ مَا قَالَ بِهِ الْفَلَاسِفَةُ أَنَّ طَرِيقَهُمْ وَطَرِيقَ الدِّينِ وَاحِدٌ وَأَنَّهُمْ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ .
Filsafat telah mencoba dalam beberapa kesempatan untuk menggambarkan bagi manusia jalan kebahagiaan mereka, maka ia menyesatkan mereka dari jalan tersebut, dan meskipun tampak dalam sebagian dari apa yang dikatakan para filsuf bahwa jalan mereka dan jalan agama adalah satu dan bahwa mereka berada di jalan yang lurus.
كَانَ أَفْلَاطُونُ فِي جُمْهُورِيَّتِهِ يَنْشُدُ الْعَدَالَةَ فَراحَ يَسْأَلُ مَا الْإِنْسَانُ وَمَا مَصِيرُهُ ، وَخَلَصَ مِنْ أَسْئِلَتِهِ إِلَى أَنَّ الدَّوْلَةَ الْمُثْلَى فِي نَظَرِهِ يَجِبُ أَنْ تَكُونَ أَرْسِتُقْرَاطِيَّةً تَحْكُمُهَا طَبَقَةٌ مِنَ الْحُكَّامِ يَتَعَلَّمُونَ تَعْلِيمًا عَالِيًا وَافِيًا ثُمَّ يَخْتَارُونَ لِمَنْصِبِهِمْ بِفَضْلِ مَقْدِرَتِهِمْ عَلَى إِدْرَاكِ الْمَبَادِئِ الَّتِي تَقُومُ عَلَيْهَا الدَّوْلَةُ وَجَدَارَتِهِمْ فِي تَطْبِيقِهَا وَحِفْظِهَا ، وَهَؤُلَاءِ يَعِيشُونَ عِيشَةَ شُيُوعِيَّةٍ لِكَيْ لَا تُغْرِيَهُمُ الْمَطَامِعُ بِالْحِيَادِ عَنِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ .
Plato dalam republiknya mencari keadilan, maka ia mulai bertanya apa manusia itu dan apa takdirnya, dan ia menyimpulkan dari pertanyaan-pertanyaannya bahwa negara yang ideal menurut pandangannya haruslah aristokratis yang dipimpin oleh kelas penguasa yang belajar dengan pendidikan tinggi yang memadai, kemudian mereka dipilih untuk jabatan mereka berkat kemampuan mereka memahami prinsip-prinsip yang mendasari negara dan kelayakan mereka dalam menerapkan dan menjaganya, dan mereka hidup dengan kehidupan komunal agar ambisi-ambisi tidak menggoda mereka untuk menyimpang dari jalan yang lurus.
قَالَ أَفْلَاطُونُ بِشُيُوعِيَّةِ الْمَالِ وَبِشُيُوعِيَّةِ النِّسَاءِ وَالْأَوْلَادِ لِتَتَحَرَّرَ الْبَشَرِيَّةُ مِنْ كُلِّ مَيْلٍ لِلْمِلْكِيَّةِ ، وَأَسْهَبَ فِي طَرِيقَةِ تَرْبِيَةِ النِّسَاءِ وَمُسَاوَاةِ الْمَرْأَةِ بِالرَّجُلِ وَقِيَامِ الدَّوْلَةِ عَلَى تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ غَيْرِ الشَّرْعِيِّينَ ، وَأَوْرَدَ كَثِيرًا مِنَ الْآرَاءِ الْفَلْسَفِيَّةِ فِي شُيُوعِيَّةِ الْمَالِ وَالْمَرْأَةِ وَالْأَوْلَادِ ، وَقَدْ ظَلَّتْ آرَاؤُهُ مُجَرَّدَ خَيَالِ فَيْلَسُوفٍ فِي مَدِينَتِهِ الْفَاضِلَةِ إِلَى أَنْ قَامَ مَزْدَكُ بِثَوْرَتِهِ فِي فَارِسَ وَفَرَضَ شُيُوعِيَّةَ الْمَالِ وَالْمَرْأَةِ وَالْوَلَدِ فَمَاذَا كَانَ شَكْلُ الْمُجْتَمَعِ ؟
Plato menyerukan komunisme harta dan komunisme wanita dan anak-anak agar umat manusia terbebas dari setiap kecenderungan pada kepemilikan, dan ia menguraikan tentang cara mendidik wanita dan persamaan perempuan dengan laki-laki dan berdirinya negara atas pendidikan anak-anak yang tidak sah (di luar pernikahan), dan ia mengemukakan banyak pendapat filosofis tentang komunisme harta, wanita, dan anak-anak, dan pendapat-pendapatnya tetap hanya khayalan seorang filsuf di negara utopianya sampai Mazdak melancarkan revolusinya di Fars dan memaksakan komunisme harta, wanita, dan anak, lalu bagaimana bentuk masyarakatnya?
قَدْ وَجَبَ فِي الْجَمَاعَةِ الْمَانَوِيَّةِ عَلَى الصَّدِيقَيْنِ أَنْ يَعِيشَا بِلَا نِسَاءٍ وَأَلَّا يَمْلِكَا مِنَ الْغِذَاءِ غَيْرَ قُوتِ يَوْمٍ وَاحِدٍ ، وَمِنَ الْمَلَابِسِ غَيْرَ مَا يَكْفِي سَنَةً وَاحِدَةً . وَقَدْ فُرِضَتْ قَوَاعِدُ مُمَاثِلَةٌ عَلَى الطَّبَقَاتِ الْعُلْيَا مِنَ الْفِرْقَةِ الْمَزْدَكِيَّةِ ، بِيدَ أَنَّ رُؤَسَاءَ الْمَزْدَكِيَّةِ أَدْرَكُوا أَنَّ الرِّجَالَ الْعَادِيِينَ لَا يَسْتَطِيعُونَ التَّخَلُّصَ مِنْ حُبِّ اللَّذَّاتِ الْمَادِّيَّةِ ، أَيِ الرَّغْبَةِ فِي تَمَلُّكِ الْأَمْوَالِ وَالنِّسَاءِ ، إِلَّا فِي اللَّحْظَةِ الَّتِي يَسْتَطِيعُونَ فِيهَا إِشْبَاعَ هَذِهِ الْحَاجَاتِ بِالِاخْتِيَارِ . وَبِهَذِهِ الْفِكْرَةِ ظَهَرَتِ النَّظَرِيَّةُ الِاجْتِمَاعِيَّةُ لِلْمَزْدَكِيَّةِ ، فَإِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا جَعَلَ الْأَرْزَاقَ فِي الْأَرْضِ لِيَقْسِمَهَا الْعِبَادُ بِالتَّسَاوِي بِحَيْثُ لَا يَكُونُ لِأَحَدِهِمْ أَكْثَرُ مِمَّا لِغَيْرِهِ ، وَقَدْ نَشَأَ عَدَمُ الْمُسَاوَاةِ بِالْقُوَّةِ فَكُلٌّ يُرِيدُ إِشْبَاعَ رَغَبَاتِهِ عَلَى حِسَابِ أَخِيهِ . وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ فَضْلَةٌ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْمُتْعَةِ فَلَيْسَ أَوْلَى بِهِ مِنْ غَيْرِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَأْخُذُوا مِنَ الْأَغْنِيَاءِ لِلْفُقَرَاءِ وَأَنْ يَرُدُّوا مِنَ الْمُكْثِرِينَ عَلَى الْمُقِلِّينَ ، وَذَلِكَ لِيُقِيمُوا الْمُسَاوَاةَ الْبِدَائِيَّةَ . يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ النِّسَاءُ وَالْأَمْوَالُ شَرِكَةً بَيْنَ النَّاسِ كَاشْتِرَاكِهِمْ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ .
Telah diwajibkan dalam kelompok Manikheisme bagi kedua sahabat untuk hidup tanpa wanita dan tidak memiliki dari makanan selain jatah satu hari, dan dari pakaian selain yang mencukupi satu tahun saja. Dan telah ditetapkan aturan serupa bagi kelas-kelas tinggi dari sekte Mazdak, akan tetapi para pemimpin Mazdak menyadari bahwa laki-laki biasa tidak dapat lepas dari kecintaan pada kenikmatan materi, yaitu keinginan untuk memiliki harta dan wanita, kecuali pada saat di mana mereka mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dengan pilihan. Dengan ide inilah muncul teori sosial Mazdakisme, karena Allah menjadikan rezeki di bumi untuk dibagi oleh para hamba dengan kesetaraan sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki lebih dari yang lainnya, dan ketidaksetaraan telah muncul karena kekuatan, maka setiap orang ingin memuaskan keinginannya di atas punggung saudaranya. Kebenarannya adalah bahwa siapa yang memiliki kelebihan dari harta, wanita, dan kenikmatan, maka ia tidak lebih berhak atasnya daripada orang lain, maka mereka harus mengambil dari orang kaya untuk orang miskin dan mengembalikan dari orang yang banyak memiliki kepada orang yang kurang, dan itu agar mereka menegakkan kesetaraan primitif. Wanita dan harta harus menjadi hak milik bersama di antara orang-orang seperti persekutuan mereka dalam air dan rumput.
وَاعْتَنَقَ السَّفَلَةُ ذَلِكَ الْمَذْهَبَ وَكَاتَفُوا مَزْدَكَ وَأَصْحَابَهُ وَشَايَعُوهُمْ ، فَابْتَلَى النَّاسُ بِهِمْ وَقَوِيَ أَمْرُهُمْ حَتَّى كَانُوا يَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْءِ فِي دَارِهِ فَيَغْلِبُونَهُ عَلَى مَنْزِلِهِ وَنِسَائِهِ وَأَمْوَالِهِ لَا يَسْتَطِيعُ الِامْتِنَاعَ مِنْهُمْ . وَحَمَلُوا قَبَاذَ إِمْبَرَاطُورَهُمْ عَلَى تَزْيِينِ ذَلِكَ وَتَوَعَّدُوهُ بِخَلْعِهِ فَلَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا قَلِيلًا حَتَّى صَارُوا لَا يَعْرِفُ الرَّجُلُ مِنْهُمْ وَلَدَهُ وَلَا الْمَوْلُودُ أَبَاهُ ، وَلَا يَمْلِكُ الرَّجُلُ شَيْئًا فَمَا يَتَمَتَّعُ بِهِ . وَظَهَرَ قَوْمٌ لَا يَتَحَلَّوْنَ بِشَرَفِ الْعَمَلِ ، لَا ضِيَاعَ لَهُمْ مَوْرُوثَةٌ وَلَا حَسَبَ وَلَا نَسَبٌ وَلَا حِرْفَةٌ وَلَا صِنَاعَةٌ ، عَاطِلُونَ مُسْتَعِدُّونَ لِلْغَمْزِ وَبَثِّ الْكَذِبِ وَالِافْتِرَاءِ ، بَلْ هُمْ مَعَ ذَلِكَ يَحْيَوْنَ فِي رَغَدٍ مِنَ الْعَيْشِ وَسَعَةِ الْمَالِ .
Orang-orang rendahan memeluk mazhab tersebut dan mendukung Mazdak serta para sahabatnya dan mengikuti mereka, maka orang-orang mendapatkan cobaan dengan mereka dan urusan mereka menguat sampai-sampai mereka masuk ke rumah seseorang dan mengalahkannya atas tempat tinggalnya, istrinya, dan hartanya, ia tidak mampu menahan mereka. Dan mereka memaksa Qobad, kaisar mereka, untuk menghiasi hal itu dan mengancamnya dengan pencopotan, maka tidak berselang lama sampai mereka menjadi, seorang laki-laki tidak mengenal anaknya dan yang lahir tidak mengenal ayahnya, dan seorang laki-laki tidak memiliki sesuatu yang bisa ia nikmati. Dan muncul kaum yang tidak berhias dengan kehormatan bekerja, tidak memiliki tanah warisan, tidak memiliki kehormatan keturunan, tidak memiliki profesi, tidak memiliki kerajinan, pengangguran yang siap untuk memfitnah dan menyebarkan kebohongan dan kedustaan, bahkan mereka bersama dengan itu hidup dalam kemewahan hidup dan keluasan harta.
عَمَّ التَّطَاوُلُ كُلَّ مَكَانٍ وَاقْتَحَمَ الثُّوَّارُ الْقُصُورَ نَاهِبِينَ الْأَمْوَالَ مُغْتَصِبِينَ الْحَرَائِرَ مُهْمِلِينَ الْأَرَاضِيَ ، فَقَدْ كَانَ السَّادَةُ الْجُدَدُ لَا يَعْرِفُونَ الزِّرَاعَةَ .
Pelanggaran meluas ke setiap tempat dan para pemberontak menyerbu istana-istana, merampas harta, memperkosa wanita-wanita merdeka, dan menelantarkan tanah-tanah, karena tuan-tuan baru itu tidak mengenal pertanian.
لَقَدْ فَتَّتْ هَذِهِ الِاضْطِرَابَاتُ الشُّيُوعِيَّةُ فِي عَضُدِ الدَّوْلَةِ حَتَّى إِنَّ الْحَارِثَ بْنَ جَبَلَةَ مَلِكَ غَسَّانَ قَدْ طَرَدَ الْمُنْذِرَ حَلِيفَ الْفُرْسِ مِنَ الْحِيرَةِ وَمَرَغَ أَنْفَ الْإِمْبَرَاطُورِيَّةِ الْفَارِسِيَّةِ فِي الرَّغَامِ .
Gangguan-gangguan komunis ini telah melemahkan negara, sampai-sampai Al-Harits bin Jabalah, raja Ghassan, telah mengusir Al-Mundzir, sekutu Persia, dari Al-Hirah dan menggesek hidung kekaisaran Persia di debu.
وَلَمَّا وَلَّى كِسْرَى أَنُو شِرْوَانَ الْحُكْمَ بَدَأَ إِصْلَاحَاتِهِ بِالْقَضَاءِ عَلَى الْفَوْضَى الَّتِي أَحْدَثَهَا أَتْبَاعُ مَزْدَكَ ، فَرَدَّ الْأَمْوَالَ إِلَى أَهْلِهَا مَنْقُولَةً أَوْ ثَابِتَةً ، وَجَعَلَ مِنَ الْأَمْوَالِ الَّتِي لَا وَارِثَ لَهَا رَصِيدًا لِإِصْلَاحِ مَا فَسَدَ . وَأَمَّا مَنْ غَلَبَ عَلَى أَمْرِهِ مِنَ النِّسَاءِ فَكَانَ يَنْظُرُ لِحَالَةِ كُلٍّ مِنْهُنَّ عَلَى حِدَةٍ : فَإِذَا كَانَتِ الْمَرْأَةُ الْمُغْتَصَبَةُ مِنْ طَبَقَةِ الْغَاصِبِ وَلَمْ تَكُنْ قَدْ تَزَوَّجَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَانَ زَوْجُهَا قَدْ تَوَلَّى عَنْهَا يُؤْخَذُ الْغَالِبُ لَهَا حَتَّى يَغْرَمَ لَهَا مَهْرَهَا وَيَرْضَى أَهْلُهَا ، فَإِذَا لَمْ يَكُونَا مِنْ أَهْلِ طَبَقَةٍ وَاحِدَةٍ فَالطَّلَاقُ وَاجِبٌ إِذَا أَصَرَّتِ الزَّوْجَةُ عَلَيْهِ ، وَعَلَى الزَّوْجِ أَنْ يَدْفَعَ لِزَوْجِهِ الْمَهْرَ وَأَنْ يَرْضَى أَهْلُهَا . وَإِذَا كَانَ لِلْمَرْأَةِ زَوْجٌ عَلَى قَيْدِ الْحَيَاةِ وَجَبَ رَدُّهَا إِلَى زَوْجِهَا ، وَأَلْزَمَ الْغَالِبَ بِأَنْ يَدْفَعَ لَهَا مَهْرًا مُسَاوِيًا لِلْمَهْرِ الَّذِي دَفَعَهُ زَوْجُهَا الشَّرْعِيُّ مِنْ قَبْلُ .
Ketika Kisra Anusyirwan memegang pemerintahan, ia memulai reformasinya dengan memberantas kekacauan yang ditimbulkan oleh pengikut Mazdak, maka ia mengembalikan harta kepada pemiliknya, baik bergerak maupun tetap, dan menjadikan harta yang tidak memiliki ahli waris sebagai cadangan untuk memperbaiki apa yang rusak. Adapun wanita yang dikuasai urusannya, maka ia melihat keadaan masing-masing dari mereka secara terpisah: jika wanita yang diperkosa berasal dari kelas si perampas dan belum pernah menikah sebelumnya atau suaminya telah meninggalkannya, maka si pemenang diambil untuknya sampai ia harus membayar maharnya dan keluarganya ridha, jika mereka tidak berasal dari kelas yang sama maka perceraian adalah wajib jika istri bersikeras atasnya, dan suami harus membayar mahar kepada istrinya dan keluarganya harus ridha. Dan jika wanita tersebut memiliki suami yang masih hidup, wajib mengembalikannya kepada suaminya, dan mewajibkan si pemenang untuk membayar baginya mahar yang setara dengan mahar yang dibayarkan oleh suami syar'inya sebelumnya.
وَأَمَرَ بِكُلِّ مَوْلُودٍ اخْتُلِفَ فِيهِ عِنْدَهُ أَنْ يَلْحَقَ بِمَا هُمْ هُوَ مِنْهُمْ إِذَا لَمْ يَعْرِفْ أَبُوهُ ، وَأَنْ يُعْطَى نَصِيبًا مِنْ مَالِ الرَّجُلِ الَّذِي يُنْسَبُ إِلَيْهِ إِذَا قَبِلَهُ الرَّجُلُ . وَأَمَرَ بِكُلِّ مَنْ كَانَ أَضَرَّ بِرَجُلٍ فِي مَالِهِ أَوْ رَكِبَ أَحَدًا بِمَظْلِمَةٍ أَنْ يُؤْخَذَ مِنْهُ الْحَقُّ ثُمَّ يُعَاقَبَ الظَّالِمُ بَعْدَ ذَلِكَ بِقَدْرِ جُرْمِهِ .
Dan ia memerintahkan setiap bayi yang dipermasalahkan di hadapannya untuk diserahkan kepada mereka yang termasuk kelompoknya jika ayahnya tidak diketahui, dan untuk diberikan bagian dari harta laki-laki yang dinisbatkan kepadanya jika laki-laki tersebut menerimanya. Dan ia memerintahkan setiap orang yang telah merugikan seseorang dalam hartanya atau menindas seseorang dengan kezaliman agar diambil hak darinya, kemudian si zalim dihukum setelah itu sesuai kadar kejahatannya.
وَأَمَرَ بِعِيَالِ ذَوِي الْأَحْسَابِ الَّذِينَ مَاتَ قِيمُهُمْ فَكَتَبُوا لَهُ ، فَأَنْكَحَ بَنَاتِهِمُ الْأَكْفَاءَ وَجَعَلَ جَهَازَهُمْ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ ، وَأَنْكَحَ شَبَابَهُمْ مِنْ بُيُوتَاتِ الْأَشْرَافِ وَسَاقَ عَنْهُمْ وَأَغْنَاهُمْ وَأَمَرَهُمْ بِمُلَازَمَةِ بَابِهِ لِيُسْتَعَانَ بِهِمْ فِي أَعْمَالِهِ . وَقَضَى كِسْرَى عَلَى طَائِفَةِ الْمَزْدَكِيَّةِ وَلَكِنْ بَقِيَتِ الْفِكْرَةُ يَتَوَارَثُهَا أَجْيَالٌ مِنَ الْبَشَرِ ، حَتَّى قَامَ الْقَرَامِطَةُ فِي أَيَّامِ الدَّوْلَةِ الْعَبَّاسِيَّةِ الْأَخِيرَةِ يَدْعُونَ إِلَى شُيُوعِيَّةِ الْمَالِ وَشُيُوعِيَّةِ الْمَرْأَةِ ، وَقَدْ عَاثَ الْقَرَامِطَةُ فَسَادًا فِي الدَّوْلَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ حَتَّى أَوْهَنُوا الْأُمَّةَ بِذَلِكَ الْفَسَادِ الَّذِي كَادَ أَنْ يَجْتَثَّ جُذُورَهَا الطَّيِّبَةَ الَّتِي امْتَدَّتْ فِي ضَمِيرِ الْبَشَرِيَّةِ .
Dan ia memerintahkan mengenai keluarga orang-orang terpandang yang pemimpin mereka telah meninggal untuk dituliskan bagi mereka, maka ia menikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang yang setara dan menetapkan mahar mereka dari kas negara, dan menikahkan pemuda-pemuda mereka dengan keluarga para bangsawan dan menanggung beban mereka serta mencukupi mereka dan memerintahkan mereka untuk tetap berada di depan pintunya agar dapat dibantu oleh mereka dalam urusannya. Kisra menumpas sekte Mazdakiyah akan tetapi ide tersebut tetap diwariskan oleh generasi-generasi manusia, sampai Qaramithah muncul di hari-hari akhir negara Abbasiyah menyerukan komunisme harta dan komunisme wanita, dan Qaramithah telah membuat kerusakan di negara Islam hingga mereka melemahkan umat dengan kerusakan tersebut yang nyaris mencabut akar-akarnya yang baik yang telah terpatri dalam hati nurani umat manusia.
كَانَ الدِّينُ هُوَ الْغَيْثُ الَّذِي رَوَى شَجَرَةَ الْعَدَالَةِ عَلَى مَرِّ الْعُصُورِ ، وَقَدْ حَاوَلَتِ الْفَلْسَفَةُ أَنْ تُؤَدِّيَ رِسَالَةَ الدِّينِ فِي بَعْضِ الْأَحَايِينِ فَأَقَامَتْ مُدُنًا فَاضِلَةً فِي عُقُولِ الْفَلَاسِفَةِ وَرَسَمَتْ سُبُلًا لِلْعَدَالَةِ فِي خَيَالَاتِهِمْ ، فَلَمَّا جَاءَ بَعْضُ الْمُؤْمِنِينَ بِالْآرَاءِ الْفَلْسَفِيَّةِ الْبَرَّاقَةِ مِنْ ذَوِي الْقُوَّةِ وَالنُّفُوذِ وَطَبَّقُوا عَلَى النَّاسِ مَذَاهِبَ الْفَلَاسِفَةِ نَشَرُوا الظُّلْمَ فِي الْأَرْضِ وَأَشَاعُوا الْفَسَادَ بِاسْمِ الْعَدَالَةِ وَالتَّقْوَى وَالْحَقِّ .
Agama adalah hujan yang menyirami pohon keadilan sepanjang zaman, dan filsafat telah mencoba menjalankan misi agama di beberapa kesempatan, maka ia mendirikan kota-kota ideal dalam akal para filsuf dan menggambarkan jalan-jalan keadilan dalam imajinasi mereka, maka ketika beberapa orang yang beriman pada pendapat-pendapat filosofis yang gemilang dari mereka yang memiliki kekuatan dan pengaruh datang dan menerapkan mazhab-mazhab para filsuf kepada manusia, mereka menyebarkan kedzaliman di bumi dan menyebarkan kerusakan atas nama keadilan, ketakwaan, dan kebenaran.
وَقَدْ نَجَحَ الدِّينُ فِي إِسْعَادِ النَّاسِ وَأَخْفَقَتِ الْفَلْسَفَةُ لِأَنَّ الدِّينَ مِنْ عِنْدِ مَنْ سِوَى النُّفُوسِ ، أَمَّا الْفَلْسَفَةُ فَهِيَ ثَمَرَةُ عُقُولِ أَصْحَابِ الْقُلُوبِ الْمُتَقَلِّبَةِ ، أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ أَفَلَا تَذْكُرُونَ ؟
Agama berhasil dalam membahagiakan manusia dan filsafat gagal karena agama berasal dari sisi Tuhan, bukan dari jiwa-jiwa, sedangkan filsafat adalah buah dari akal pemilik hati yang berbolak-balik, maka apakah (Allah) yang menciptakan sama dengan yang tidak menciptakan? Tidakkah kalian mengingat?
لَقَدْ أَدَّتِ الْفَلْسَفَةُ رِسَالَتَهَا أَيَّامَ كَانَتْ تَابِعَةً لِلْعَقِيدَةِ تُؤَيِّدُ بِالدَّلِيلِ الْعَقْلِيِّ مَا سَلِمَتْ بِهِ النُّفُوسُ بِالْإِيمَانِ تَسْلِيمًا لَا يَقْبَلُ رِيبَةً وَلَا شَكًّا ، وَقَدْ سَارَ الْفَلَاسِفَةُ فِي رِكَابِ الدِّينِ لِمَا كَانَ الدِّينُ الْقُوَّةَ الْوَحِيدَةَ الَّتِي اسْتَطَاعَتْ أَنْ تُثَبِّتَ لِغَزَوَاتِ أُمَمِ الشَّمَالِ الْمُتَبَرِّرَةِ الَّتِي قَوَّضَتِ الدَّوْلَةَ الرُّومَانِيَّةَ ، فَقَدْ كَانَتْ هَذِهِ الدَّوْلَةُ عَاجِزَةً مِنَ الْوِجْهَةِ السِّيَاسِيَّةِ لَا تَقْوَى عَلَى حِمَايَةِ نَفْسِهَا مِنْ بَرَابِرَةِ الشَّمَالِ ، وَكَانَتِ الْحَضَارَةُ الْعِلْمِيَّةُ عَلَى وَشَكِ الِانْهِيَارِ عَلَى أَيْدِي أُولَئِكَ الْغُزَاةِ خُصُوصًا إِذَا عَلِمْنَا أَنَّ تِلْكَ الْحَضَارَةَ كَانَتْ فِي نَفْسِهَا مُنْحَلَّةَ الْقُوَى مَقْوُوضَةَ الدَّعَائِمِ ، وَكَانَتِ الْحَيَاةُ الْفِكْرِيَّةُ بِأَسْرِهَا تُوشِكُ أَنْ تَنْدَكَّ عَلَى أَيْدِي هَؤُلَاءِ الْفَاتِحِينَ السُّذَّجِ الْحُفَاةِ لَوْ لَمْ تَكُنْ هُنَاكَ تِلْكَ الْقُوَى الرُّوحِيَّةُ الَّتِي اضْطَرَّتْ هَؤُلَاءِ الْغُزَاةَ إِلَى التَّسْلِيمِ بِهَا وَالدُّخُولِ فِي دِينِهَا ، وَالَّتِي عَرَفَتْ كَيْفَ تُنْقِذُ هَيْكَلَ الْمَدَنِيَّةِ وَتَصُونُهُ خِلَالَ هَاتِيكَ الْقُرُونِ ، تِلْكَ كَانَتْ قُوَّةَ الدِّينِ الَّتِي قَامَتْ بِمَا لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَقُومَ بِهِ الدَّوْلَةُ .
Filsafat telah menjalankan misinya pada masa ia mengikuti akidah, mendukung dengan bukti akal apa yang telah diterima oleh jiwa-jiwa dengan iman secara berserah diri yang tidak menerima keraguan dan kebimbangan, dan para filsuf telah berjalan beriringan dengan agama karena agama adalah satu-satunya kekuatan yang mampu bertahan terhadap serangan bangsa-bangsa Utara yang liar yang meruntuhkan negara Romawi, karena negara ini telah lemah dari sudut pandang politik, tidak mampu melindungi dirinya dari bangsa barbar Utara, dan peradaban ilmiah berada di ambang kehancuran di tangan para penakluk tersebut, terutama jika kita mengetahui bahwa peradaban itu sendiri telah luluh kekuatannya dan rapuh pilar-pilarnya, dan kehidupan intelektual secara keseluruhan hampir hancur di tangan para penakluk yang lugu dan telanjang kaki seandainya tidak ada kekuatan spiritual yang memaksa para penakluk tersebut untuk mengakuinya dan masuk ke dalam agamanya, dan yang tahu bagaimana menyelamatkan struktur peradaban dan melindunginya selama abad-abad itu, itulah kekuatan agama yang melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh negara.
فَمِنْ جَانِبِ الدِّينِ وَحْدَهُ اتَّصَلَ الْعَالَمُ الْجَدِيدُ بِعِلْمِ الْقُدَمَاءِ ، وَعَنْ طَرِيقِ الدِّينِ وَحْدَهُ عَرَفَتِ الْبَشَرِيَّةُ السَّعَادَةَ الْحَقِيقِيَّةَ ، وَلَمَّا وَضَعَتِ الْفَلْسَفَةُ نَفْسَهَا فِي خِدْمَةِ الدِّينِ وَأَيَّدَتِ الْعَقَائِدَ الدِّينِيَّةَ قَامَتْ بِدَوْرٍ إِيجَابِيٍّ فِي سَبِيلِ رَفَاهِيَّةِ الْبَشَرِيَّةِ وَرَاحَةِ النُّفُوسِ ، وَلَكِنْ لَمَّا عَادَ الْفَلَاسِفَةُ إِلَى الْبُحُوثِ الْعِلْمِيَّةِ مَدْفُوعِينَ بِلَذَّةِ الْبَحْثِ مُولَعِينَ بِجَمَالِ الْمَعْرِفَةِ فِي ذَاتِهَا مُعَارِضِينَ الْعَقِيدَةَ الدِّينِيَّةَ أَحْيَانًا ، زَعْزَعُوا عَقَائِدَ الْبَشَرِ وَغَرَسُوا فِي نُفُوسِ النَّاسِ الشَّكَّ وَالْقَلَقَ وَأَلْقَوْا بِهِمْ فِي التِّيهِ يَتَلَفَّتُونَ مَفْزُوعِينَ يَقَاسُونَ الضِّيَاعَ الْأَكْبَرِ .
Maka dari sisi agama saja dunia baru terhubung dengan ilmu orang-orang terdahulu, dan melalui agama saja umat manusia mengenal kebahagiaan yang sejati, dan ketika filsafat menempatkan dirinya dalam pelayanan agama dan mendukung akidah-akidah agama, ia memainkan peran positif demi kesejahteraan umat manusia dan ketenangan jiwa, akan tetapi ketika para filsuf kembali ke riset ilmiah karena didorong oleh kesenangan meneliti, terpikat oleh keindahan pengetahuan pada dirinya sendiri, sambil menentang akidah agama terkadang, mereka mengguncang akidah manusia dan menanamkan dalam jiwa manusia keraguan dan kecemasan serta melemparkan mereka ke dalam kesesatan, mereka menoleh dengan ketakutan mengalami kehilangan yang terbesar.
﴿ يَأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ . وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ . فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ . فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ . أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ . نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَّا يَشْعُرُونَ . إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ . وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ . وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ . وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ . وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ . بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِّنْ هَذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِن دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ . حَتَّى إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِم بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ . لَا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ إِنَّكُم مِّنَّا لَا تُنصَرُونَ . قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ تَنكِصُونَ . مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ . أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ ﴾
Wahai para Rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan sungguh, (agama tauhid) ini adalah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan (agama) mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai waktu yang ditentukan. Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya. Sungguh, orang-orang yang karena takut (azab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati, dan orang-orang yang beriman dengan tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhannya, dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya, mereka itulah yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya. Dan Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi. Tetapi hati mereka (orang-orang kafir itu) dalam kesesatan dari (memahami) Al-Qur'an ini, dan mereka mempunyai kebiasaan lain (buruk) yang mereka kerjakan. Hingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, tiba-tiba mereka menjerit. Janganlah kamu menjerit pada hari ini. Sungguh, kamu tidak mendapat pertolongan dari Kami. Dahulu ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri terhadapnya dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya pada waktu kamu bercakap-cakap di malam hari. Maka tidakkah mereka menghayati perkataan (Allah), atau adakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah didatangi nenek moyang mereka dahulu?
القاهرة في ٢٩ / ٣ / ١٩٦٧
Kairo, 29 Maret 1967
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi