BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

TD 006

📖 NASKAH KITAB & TERJEMAH Baqa', Mukhalafah, Qiyamuhu bin Nafsi, Wahdaniyah
MATAN

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى البَقَاءُ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَا آخِرَ لَهُ، وَضِدُّهُ الفَنَاءُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا، وَهُوَ مُحَالٌ.

Dan wajib pada hak Allah Ta'ala sifat البقاء (Kekal), maknanya adalah bahwa tidak ada akhir bagi-Nya. Kebalikannya adalah الفناء (rusak/punah), dan dalil atas hal tersebut adalah andaikata Dia itu punah niscaya Dia itu baru, andai hal itu mustahil.

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى المُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ،

Dan wajib pada hak Allah Ta'ala sifat المخالفة للحوادث (Berbeda dengan makhluk yang baru), maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala tidak menyerupai makhluk-makhluk yang baru,


SYARAH

(وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى البَقَاءُ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَا آخِرَ لَهُ) أَيْ لَا يَلْحَقُ وُجُودَهُ عَدَمٌ. (وَضِدُّهُ الفَنَاءُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ) لَمْ يَجِبْ لَهُ البَقَاءُ لَأَمْكَنَ أَنْ يَكُونَ فَانِيًا، لَكِنْ إِمْكَانُ الفَنَاءِ لَهُ مُحَالٌ إِذْ لَوْ (كَانَ فَانِيًا) لَكَانَ جَائِزَ الوُجُودِ، لَكِنْ كَوْنُهُ جَائِزَ الوُجُودِ مُحَالٌ إِذْ لَوْ كَانَ جَائِزَ الوُجُودِ (لَكَانَ حَادِثًا) لَكِنْ (هُوَ) أَيْ كَوْنُهُ حَادِثًا (مُحَالٌ) إِذْ لَوْ كَانَ حَادِثًا لَاتَّفَى عَنْهُ القِدَمُ، لَكِنِ اِنْتِفَاءُ القِدَمِ عَنْهُ مُحَالٌ لِأَنَّهُ قَدْ قَامَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ القِدَمِ لَهُ تَعَالَى. وَحَيْثُ وَجَبَ البَقَاءُ لَهُ تَعَالَى اِسْتَحَالَ عَلَيْهِ ضِدُّهُ.

(Dan wajib pada hak Allah Ta'ala sifat Baqa', maknanya adalah bahwa tidak ada akhir bagi-Nya) artinya wujud-Nya tidak akan disusul oleh ketiadaan. (Kebalikannya adalah fana', dan dalil atas hal tersebut adalah andaikata) tidak wajib bagi-Nya sifat Baqa' niscaya Dia mungkin untuk fana. Namun kemungkinan fana bagi-Nya adalah mustahil, karena andaikata (Dia fana) niscaya Dia berstatus 'jaizul wujud' (boleh ada boleh tiada). Namun berstatus jaizul wujud bagi-Nya adalah mustahil, karena andaikata Dia jaizul wujud (niscaya Dia itu baru). Akan tetapi status baru tersebut bagi-Nya adalah mustahil, karena jika Dia baru niscaya ternafikanlah sifat Qidam dari-Nya. Padahal ternafikannya Qidam dari-Nya adalah mustahil karena sungguh telah tegak dalil atas wajibnya sifat Qidam bagi Allah Ta'ala. Dan tatkala sifat Baqa' telah wajib bagi Allah Ta'ala, maka mustahil atas-Nya sifat kebalikannya.

(وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى: المُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ) فَالمُخَالَفَةُ لِلْمَخْلُوقَاتِ عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ الجِرْمِيَّةِ، وَالعَرَضِيَّةِ وَالكُلِّيَّةِ وَالجُزْئِيَّةِ وَلَوَازِمِهَا عَنْهُ تَعَالَى؛ فَلَازِمُ الجِرْمِيَّةِ التَّحَيُwُ، وَلَازِمُ العَرَضِيَّةِ القِيَامُ بِالغَيْرِ، وَلَازِمُ الكُلِّيَّةِ الكِبَرُ، وَلَازِمُ الجُزْئِيَّةِ الصِّغَرُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ.

(Dan wajib pada hak Allah Ta'ala: Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi). Maka berbeda dengan makhluk-makhluk itu adalah ungkapan dari penafian sifat ke-jirim-an (substansi fisik), ke-aradh-an (aksidensi/karakter fisik), ke-keseluruhan-an (kuliyah), ke-sebagian-an (juz'iyah), beserta kelaziman-kelaziman hal tersebut dari Allah Ta'ala. Maka kelaziman jirim adalah bertempat (tahayuz), kelaziman aradh adalah butuh sandaran pada yang lain, kelaziman kuliyah adalah ukuran besar, dan kelaziman juz'iyah adalah ukuran kecil, dan lain sebagainya.

(وَمَعْنَاهُ) أَيِ المُخَالَفَةُ لِمَا ذُكِرَ (أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ) فَإِذَا أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي ذِهْنِكَ إِذَا لَمْ يَكُن| جِرْمًا وَلَا عَرَضًا وَلَا كُلًّا وَلَا جُزْءًا، فَمَا حَقِيقَتُهُ فَقُلْ فِي رَدِّ ذَلِكَ: لَا يَعْلَمُ اللهَ إِلَّا اللهُ، ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾(٣). فَهُوَ تَعَالَى لَيْسَ بِجِسْمٍ مُصَوَّرٍ، وَلَا بِجَوْهَرٍ مَحْدُودٍ مُقَدَّرٍ

(Dan maknanya) yaitu berbeda dengan apa yang telah disebutkan tadi (adalah bahwa Allah Ta'ala tidak menyerupai makhluk-makhluk yang baru). Maka apabila setan membisikkan ke dalam pikiranmu: "Jika Dia bukan jirim, bukan aradh, bukan keseluruhan, dan bukan bagian, lalu bagaimana hakikat-Nya?" Maka katakanlah untuk menepis bisikan itu: "Tidak ada yang mengetahui (hakikat) Allah kecuali Allah sendiri. *'Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'*" (3). Maka Allah Ta'ala bukanlah jism yang berbentuk, bukan pula jauhar (partikel) yang dibatasi dan diukur.


MATAN

فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَلَا عَيْنٌ وَلَا أُذُنٌ وَلَا غَيْرُ ذَلِكَ مِنْ صِفَاتِ الحَوَادِثِ وَضِدُّهُ المُمَاثَلَةُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا، وَهُوَ مُحَالٌ.

Maka tidak ada bagi-Nya tangan, mata, telinga, dan tidak ada pula selain hal itu yang termasuk dari sifat-sifat makhluk yang baru. Kebalikannya adalah المماثلة (Menyerupai makhluk), dan dalil atas hal tersebut adalah andaikata Dia menyerupai makhluk-makhluk baru niscaya Dia pun baru, dan hal itu mustahil.


SYARAH

(فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَلَا عَيْنٌ وَلَا أُذُنٌ وَلَا غَيْرُ ذَلِكَ مِنْ صِفَاتِ الحَوَادِثِ) لِأَنَّهُ لَا يُمَاثِلُ الأَجْسَامَ لَا فِي التَّقْدِيرِ وَلَا فِي قَبُولِ الاِنْقِسَامِ وَلَا تَحُلُّهُ الجَوَاهِرُ، وَلَيْسَ بِعَرَضٍ وَلَا تَحُلُّهُ الأَعْرَاضُ، بَل| لَا يُمَاثِلُ مَوْجُودًا وَلَا يُمَاثِلُهُ مَوْجُودٌ، وَلَا يَحُدُّهُ المِقْدَارُ وَلَا تَحْوِيهِ الأَقْطَارُ، وَلَا تُحِيطُ بِهِ الجِهَاتُ وَلَا تَكْتَنِفُهُ الأَرَضُونَ وَالسَّمَوَاتُ، رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمَعَ ذَلِكَ هُوَ أَقْرَبُ إِلَى العَبْدِ مِنْ حَبْلِ الوَرِيدِ ﴿وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ﴾(٤) لَا يُمَاثِلُ قُرْبُهُ قُرْبَ الأَجْسَامِ، تَعَالَى عَنْ أَنْ يَحْوِيَهُ مَكَانٌ، كَمَا تَقَدَّسَ عَنْ أَنْ يَحُدَّهُ زَمَانٌ كَانَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الزَّمَانَ وَالمَكَانَ، وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ.

(Maka tidak ada bagi-Nya tangan, mata, telinga, dan tidak ada pula selain hal itu yang termasuk dari sifat-sifat makhluk yang baru), karena Dia tidak menyerupai bentuk fisik (ajsam) baik dalam ukuran maupun penerimaan terhadap partisi-partisi, Dia tidak ditempati oleh esensi materi (jawahir), Dia bukanlah aksidensi (aradh) dan tidak pula ditempati oleh sifat fisik. Bahkan Dia tidak menyerupai sesuatu yang ada dan tidak ada sesuatu yang ada yang menyerupai-Nya. Dia tidak dibatasi ukuran, tidak diliputi oleh penjuru arah, tidak dikepung oleh arah mata angin, serta tidak didekap oleh bumi maupun langit. Dia Maha Tinggi derajat-Nya di atas segala sesuatu, namun beserta hal itu Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya sendiri. *“Dan Dia Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”* (4). Kedekatan-Nya tidak menyerupai kedekatan materi/fisik. Maha Suci Allah dari diliputi oleh tempat, sebagaimana Maha Suci Dia dari dibatasi oleh waktu; Dia telah ada sebelum Dia menciptakan waktu dan tempat, dan Dia yang sekarang adalah tetap sebagaimana keberadaan-Nya semula.

(وَضِدُّهُ المُمَاثَلَةُ وَالدَّلِILُ عَلَى ذَلِكَ) أَيْ مُخَالَفَتِهِ تَعَالَى لِلْمَخْلُوقَاتِ (أَنَّهُ) أَيْ اللهَ لَوْ لَمْ يَكُنْ مُخَالِفًا لِلْمَخْلُوقَاتِ لَكَانَ مُمَاثِلًا لَهَا، لَكِنْ مُمَاثِلَتُهُ بَاطِلَةٌ، إِذْ (لَوْ كَانَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا) مِثْلَهَا، لِأَنَّ جَمِيعَ مَا ثَبَتَ لِأَحَدِ المِثْلَيْنِ يَثْبُتُ لِلآخَرِ (وَ) لَكِن| (هُوَ) أَيْ كَوْنُهُ حَادِثًا (مُحَالٌ) لِأَنَّهُ قَدْ قَامَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ القِدَمِ لَهُ تَعَالَى، وَحَيْثُ وَجَبَتْ لَهُ المُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ اِسْتَحَالَ عَلَيْهِ ضِدُّهَا.

(Kebalikannya adalah مماثلة, dan dalil atas hal tersebut) yakni atas berbedanya Allah Ta'ala dari makhluk (adalah bahwasanya) Allah jikalau tidak berbeda dengan makhluk tentulah Dia menyamai mereka. Namun penyerupaan-Nya itu batal, sebab (andaikata Dia menyerupai makhluk-makhluk baru niscaya Dia pun baru) seperti mereka, karena segala hal yang ditetapkan bagi salah satu dari dua perkara yang sepadan, maka ditetapkan pula bagi yang satunya lagi. Dan akan tetapi keberadaan-Nya sebagai sesuatu yang baru (adalah mustahil), karena sungguh telah tegak dalil atas wajibnya sifat Qidam bagi Allah Ta'ala. Dan tatkala sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi telah wajib bagi-Nya, maka mustahil atas-Nya sifat kebalikannya.

وَصُوَرُ المُمَاثَلَةِ عَشْرَةٌ: أَنْ يَكُونَ اللهُ جِرْمًا سَوَاءٌ كَانَ مُرَكَّبًا وَيُسَمَّى حِينَئِذٍ جِسْمًا أَوْ غَيْرَ مُرَكَّبٍ وَيُسَمَّى حِينَئِذٍ جَوْهَرًا فَرْدًا، أَوْ يَكُونَ عَرَضًا يَقُومُ بِالجِرْمِ.

Dan bentuk-bentuk penyerupaan (mumatsalah yang mustahil bagi Allah) itu ada sepuluh perkara: (1) Allah berupa jirim—baik berbentuk susunan materi yang pada saat itu dinamakan 'jism', atau berupa materi tunggal tanpa susunan yang saat itu dinamakan 'jauhar fard' (atom tunggal); (2) atau Dia berupa 'aradh' (karakter/kondisi) yang menempel pada jirim.


MATAN

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى القِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَحَلٍّ، وَلَا إِلَى مُخَصِّصٍ.

Dan wajib pada hak Allah Ta'ala sifat القيام بالنفس (Berdiri sendiri), maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala tidak membutuhkan kepada tempat (ruang) dan tidak pula membutuhkan kepada yang menentukan/mewujudkan (pencipta).


SYARAH

أَوْ يَكُونَ فِي جِهَةٍ لِلْجِرْمِ فَلَيْسَ فَوْقَ العَرْشِ وَلَا تَحْتَهُ وَلَا يَمِينَهُ وَلَا نَحْوُ ذَلِكَ مِنْ بَقِيَّةِ الجِهَاتِ، أَوْ لَهُ تَعَالَى جِهَةٌ فَلَيْسَ لَهُ فَوْقٌ وَلَا تَحْتٌ وَلَا يَمِينٌ وَلَا شِمَالٌ وَنَحْوُ ذَلِكَ أَوْ يَحُلَّ فِي مَكَانٍ، أَوْ يَتَقَيَّدَ بِزَمَانٍ بِحَيْثُ تَكُونُ حَرَكَةُ الفَلَكِ مُنْطَبِقَةً عَلَيْهِ، أَوْ يَكُرَّ عَلَيْهِ الجَدِيدَانِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ.

(Lanjutan 10 bentuk penyerupaan yang mustahil) (3) Atau keberadaan Allah berada pada suatu arah bagi jirim; maka Dia tidaklah di atas Arsy, tidak di bawahnya, tidak di sebelah kanannya, and tidak pula di arah-arah selebihnya. (4) Atau Allah Ta'ala Sendiri memiliki arah bagi diri-Nya; maka Dia tidak punya arah atas, bawah, kanan, kiri, dan semisalnya. (5) Atau Dia menempati suatu tempat (ruang). (6) Atau Dia terikat oleh waktu sekiranya putaran roda cakrawala berlaku atas-Nya, (7) atau bergulir atas-Nya dua masa yang baru, yaitu siang dan malam.

أَوْ تَتَّصِفَ ذَاتُهُ بِالحَوَادِثِ كَالقُدْرَةِ الحَادِثَةِ وَالإِرَادَةِ الحَادِثَةِ وَالحَرَكَةِ أَوِ السُّكُونِ وَالبَيَاضِ أَوِ السَّوَادِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، أَوْ تَتَّصِفَ ذَاتُهُ بِالصِّغَرِ أَوِ الكِبَرِ، بِمَعْنَى كَثِيرِ الأَجْزَاءِ.

(8) Atau Dzat Allah tersifatkan dengan sifat-sifat baru makhluk, seperti memiliki kemampuan yang baru (kudrat haditsah), kehendak yang baru (iradah haditsah), bergerak, diam, putih, hitam, dan semisalnya. (9) Atau Dzat-Nya disifati dengan ukuran kecil atau ukuran besar dalam artian bermakna memiliki banyak bagian/komponen.

أَوْ يَتَّصِفَ بِالأَغْرَاضِ فِي الأَفْعَالِ أَوِ الأَحْكَامِ فَفِعْلُهُ لَيْسَ كَإِيجَادِ زَيْدٍ لِغَرَضٍ مِنَ الأَغْرَاضِ أَيِّ مَصْلَحَةٍ تَبْعَثُهُ عَلَى ذَلِكَ الفِعْلِ فَلَا يُنَافِي أَنَّهُ لِحِكْمَةٍ وَإِلَّا كَانَ عَبَثًا وَهُوَ المُسْتَحِيلُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى.

(10) Atau Dia disifati memiliki pamrih/tujuan (aghradh) di dalam perbuatan-perbuatan-Nya atau ketetapan-hukum-Nya. Maka perbuatan Allah menciptakan si Zaid bukanlah karena motif pamrih tertentu—yakni adanya maslahat (keuntungan balik) yang mendorong-Nya melakukan perbuatan tersebut. Namun hal ini tidak menafikan bahwa perbuatan-Nya mengandung hikmah, karena jika tidak memiliki hikmah niscaya perbuatan-Nya sia-sia (abats), dan kesia-siaan itu mustahil pada hak Allah Ta'ala.

وَلَيْسَ حُكْمُهُ كَإِيجَابِ الصَّلَاةِ عَلَيْنَا لِغَرَضٍ مِنَ الأَغْرَاضِ أَيِّ مَصْلَحَةٍ تَبْعَثُهُ عَلَى ذَلِكَ الحُكْمِ كَمَا مَرَّ، فَكُلُّ مَنْ هَذِهِ الصُّوَرِ العَشْرَةِ مُسْتَحِيلٌ فِي حَقِّهِ تَعَالَى.

Dan bukanlah hukum ketetapan-Nya seperti mewajibkan shalat kepada kita karena alasan pamrih tertentu—yakni maslahat balik yang mendorong-Nya menetapkan hukum tersebut sebagaimana penjelasan lalu. Maka setiap satu dari sepuluh potret penyerupaan ini hukumnya adalah mustahil pada hak Allah Ta'ala.

(وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى: القِيَامُ بِالنَّفْسِ وَمَعْنَاهُ) مُفَسَّرٌ بِأَمْرَيْنِ الأَوَّلُ: (أَنَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَحَلٍّ) يَقُومُ بِهِ.

(Dan wajib pada hak Allah Ta'ala: Sifat Qiyamuhu bin Nafsi, maknanya) ditafsirkan dengan dua perkara. Perkara pertama: (Bahwa Allah Ta'ala tidak membutuhkan kepada tempat) untuk bersandar/berdiri-Nya Dzat.

(وَ) الثَّانِي: أَنَّهُ تَعَالَى (لَا) يَحْتَاجُ (إِلَى مُخَصِّصٍ) أَيْ مُوجِدٍ. وَهَذَا الثَّانِي وَإِنْ كَانَ يُسْتَغْنَى عَنْهُ بِالقِدَمِ لَا يَكْفِي فِيهِ الاِسْتِغْنَاءُ لِأَنَّ خَطَرَ الجَهْلِ فِي هَذَا الفَنِّ عَظِيمٌ، فَلَا بُدَّ فِيهِ مِنَ التَّصْرِيحِ بِالعَقَائِدِ.

(Dan) perkara kedua: Bahwasanya Allah Ta'ala (tidak) membutuhkan (kepada mukhashish) yaitu zat pencipta yang mewujudkan-Nya. Perkara kedua ini, meskipun sejatinya sudah tidak dibutuhkan lagi karena telah tercakup di dalam sifat Qidam, namun pencantuman eksplisit di sini tidaklah cukup dianggap remeh dengan dicukupkan begitu saja; hal ini disebabkan karena risiko kebodohan dalam bidang seni tauhid ini teramat besar, maka dari itu harus ada pernyataan secara terang-terangan di dalam masalah akidah.


MATAN

وَضِدُّهُ الِاحْتِيَاجُ إِلَى المَحَلِّ وَالمُخَصِّصِ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ احْتَاجَ إِلَى مَحَلٍّ لَكَانَ صِفَةً، وَكَوْنُهُ صِفَةً مُحَالٌ، وَلَوْ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا، وَكَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌ.

Dan kebalikan sifat Qiyamuhu Binafsihi adalah 'al-ihtiyaj ilal mahalli wal mukhoshshish' (butuh kepada tempat/dzat lain dan butuh kepada penentu/pencipta). Dan dalil atas hal tersebut adalah andaikata Dia butuh kepada tempat niscaya Dia berupa sifat, padahal keberadaan-Nya sebagai sifat adalah mustahil. Dan andaikata Dia butuh kepada penentu niscaya Dia baru (hadits), padahal keberadaan-Nya sebagai sesuatu yang baru adalah mustahil.

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَفِي الصِّـفَاتِ وَفِي الأَفْعَالِ، وَمَعْنَى الوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَت| مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِّدَةٍ.

Dan wajib pada hak Allah Ta'ala sifat Wahdaniyah (Esa) pada Dzat-Nya, pada sifat-sifat-Nya, dan pada perbuatan-perbuatan-Nya. Dan makna Esa pada Dzat adalah sesungguhnya Dzat Allah tidak tersusun dari bagian-bagian yang banyak.


SYARAH

(وَضِدُّهُ الِاحْتِيَاجُ إِلَى المَحَلِّ وَالمُخَصِّصِ وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ) أَيِ القِيَامُ بِالنَّفْسِ (أَنَّهُ لَوْ احْتَاجَ إِلَى مَحَلٍّ) أَيْ ذَاتٍ يَقُومُ بِهَا (لَكَانَ صِفَةً) أَيْ لِأَنَّهُ لَا يَحْتَاجُ إِلَى مَحَلٍّ يَقُومُ بِهِ إِلَّا الصِّفَةُ، إِذِ الذَّاتُ لَا تَحْتَاجُ إِلَى ذَاتٍ تَقُومُ بِهَا (وَكَوْنُهُ صِفَةً مُحَالٌ) إِذْ لَوْ كَانَ صِفَةً لَمْ يَتَّصِفْ بِصِفَاتِ المَعَانِي وَلَا المَعْنُوِيَّةِ، وَهِيَ وَاجِبَةُ القِيَامِ بِهِ تَعَالَى لِلْأَدِلَّةِ عَلَى ذَلِكَ فَعَدَمُ اتِّصَافِهِ بِذَلِكَ بَاطِلٌ فَبَطَلَ مَا أَدَّى إِلَيْهِ وَهُوَ افْتِقَارُهُ إِلَى المَحَلِّ وَإِذَا بَطَلَ افْتِقَارُهُ إِلَى المَحَلِّ ثَبَتَ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنْهُ وَهُوَ المَطْلُوبُ.

(Dan kebalikannya adalah butuh kepada tempat dan penentu, dan dalil atas hal tersebut) yakni dalil sifat Qiyamuhu Binafsihi (adalah andaikata Dia butuh kepada tempat) bermakna Dzat lain tempat bersandar (niscaya Dia berupa sifat), karena tidak ada yang membutuhkan tempat bersandar melainkan sifat, sebab suatu dzat tidak membutuhkan dzat lain untuk tempat eksisnya (padahal keberadaan-Nya sebagai sifat adalah mustahil). Karena jikalau Allah itu berupa sifat, niscaya Dia tidak dapat disifati dengan sifat-sifat Ma'ani maupun Ma'nawiyah. Padahal sifat-sifat tersebut wajib ada pada Allah Ta'ala berdasarkan dalil-dalil yang ada. Maka, tidak disifatinya Allah dengan sifat-sifat tersebut adalah batil, sehingga batil pula apa yang menjadi sebabnya, yaitu butuhnya Allah kepada tempat. Dan ketika sifat butuh tempat itu batil, maka tetaplah sifat ketidakbutuhan-Nya pada tempat, dan itulah yang menjadi tujuan pembuktian.

(وَلَوْ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ) أَيْ مُوجِدٍ يُوجِدُهُ (لَكَانَ حَادِثًا) لِأَنَّهُ لَا يَحْتَاجُ إِلَى ذَلِكَ إِلَّا الحَادِثُ إِذِ القَدِيمُ لَا يَحْتَاجُ لَهُ (وَكَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌ) لِأَنَّهُ قَدْ سَبَقَ وُجُوبُ وُجُودِهِ وَقِدَمِهِ وَبَقَائِهِ ذَاتًا وَصِفَاتٍ.

(Dan andaikata Dia butuh kepada penentu) yakni pencipta yang mewujudkannya (niscaya Dia baru), karena yang membutuhkan hal tersebut hanyalah sesuatu yang baru, sebab sesuatu yang qadim (dahulu) tidak membutuhkannya (padahal keberadaan-Nya sebagai sesuatu yang baru adalah mustahil), karena telah tetap sebelumnya kewajiban wujud-Nya, sifat Qidam-Nya, serta sifat Baqa'-Nya baik pada Dzat maupun sifat-sifat-Nya.

(وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَفِي الصِّـفَاتِ وَفِي الأَفْعَالِ وَمَعْنَى الوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِّدَةٍ) وَيُقَالُ لِذَلِكَ: كَمٌّ مُتَّصِلٌ فِي الذَّاتِ وَأَنَّهُ لَيْسَ هُنَاكَ ذَاتٌ تُشْبِهُ ذَاتَهُ تَعَالَى، وَيُقَالُ لَهُ: كَمٌّ مُنْفَصِلٌ فِي الذَّاتِ، لَكِنْ الوَحْدَةُ فِي الذَّاتِ بِمَعْنَى عَدَمِ التَّرْكِيبِ مِنْ أَجْزَاءٍ عَلِمْتَ مِنَ المُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ كَمَا مَرَّ.

(Dan wajib pada hak Allah Ta'ala sifat Wahdaniyah pada Dzat, pada Sifat, dan pada Perbuatan. Dan makna Wahdaniyah pada Dzat adalah bahwasanya esensi Dzat Allah tidak tersusun dari bagian-bagian yang berbilang / banyak). Dan hal tersebut dinamakan Kam Muttashil (bilangan menyatu) pada Dzat. Dan maknanya pula bahwa tidak ada dzat lain mana pun yang menyerupai Dzat Allah Ta'ala, dan hal ini disebut dengan Kam Munfashil (bilangan terpisah) pada Dzat. Akan tetapi, keesaan pada Dzat dalam artian ketiadaan susunan dari komponen-komponen tertentu sebenarnya telah kamu ketahui secara gamblang dari pembahasan sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi sebagaimana penjelasan yang lalu.

CATATAN KAKI :

(٣) سُورَةُ الشُّورَى: ١١.

(3)  Surah Asy-Syura: 11.

(٤) سُورَةُ المَائِدَةِ: ١١٧، أَوْ سُورَةُ الحَجِّ: ١٧ (وَنَحْوُهَا مِنَ الْآيَاتِ).

(4)  Surah Al-Ma'idah: 117, atau Surah Al-Hajj: 17 (dan ayat-ayat sejenisnya).
CATATAN PENTING ABI :
تَنْزِيهُ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ عَنِ الْجِرْمِيَّةِ وَالْمَكَانِ وَالْمُمَاثَلَةِ هُوَ أَصْلُ التَّوْحِيدِ، وَبِهِ يَسْلَمُ الْقَلْبُ مِنْ تَشْبِيهِ الْأَوْهَامِ. [أَبِي طَؤُفُور]
Mensucikan Dzat yang Maha Tinggi dari bentuk fisik, batasan ruang, serta penyerupaan makhluk adalah pilar utama tauhid; dengannya hati selamat dari jerat ilusi penyerupaan (tasybih). [Abi Thoufur]
📍 Mufrodat & Pesan Khusus Abi Thoufur
جِرْمٌ (Jirim) / جِسْمٌ (Jism) Substansi fisik atau materi padat yang mengambil ruang (bertempat) serta memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi.
عَرَضٌ (Aradh) Sifat, karakter, atau kondisi fisik baru yang tidak bisa tegak sendiri, melainkan harus menempel pada jirim/materi (seperti warna hitam, bergerak, atau diam).
مُخَصِّصٌ (Mukhashish) Zat yang Maha Menentukan, Mengkhususkan, dan Mewujudkan sesuatu dari keadaan tiada menjadi ada (Sang Pencipta).
كَمٌّ مُتَّصِلٌ / مُنْفَصِلٌ (Kam Muttashil / Munfashil) Bilangan berbilang yang menyatu di dalam esensi suatu dzat (mempunyai organ/komponen), atau bilangan terpisah yang berada di luar zat (ada zat lain yang menyamai).

💡 Pesan Khusus Abi buat Murid: "Nah tong, dengerin baik-baik! Setan itu pinter, dia sering ngebisikin pikiran kita: 'Kalau Allah itu gak berbentuk fisik (jirim), gak berwarna (aradh), gak di atas, gak di bawah, terus hakikat-Nya kayak gimana?'. Kalau lu dapet bisikan begitu, langsung hantem pakai jawaban tauhid dari kitab ini: *Laa ya'lamullaha illallah!* Gak ada yang tahu hakikat Allah kecuali Allah sendiri! Jangan sampai lu bayangin Allah itu duduk di atas kursi kayak raja manusia, atau punya tangan dan mata fisik. Ayat Al-Qur'an udah tegas bilang *Laisa Kamitslihi Syai'un*. Allah juga gak butuh ruang dan waktu karena Allah yang nyiptain ruang dan waktu! Jadi, bersihin pikiran lu dari khayalan-khayalan kosong, tetapkan akidah lu kuat-kuat ya!"

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi