BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

TD 013

📖 NASKAH KITAB & TERJEMAH Sifat Shidq, Amanah & Tabligh
MATAN

وَيَجِبُ فِي حَقِّ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الصِّدْقُ، وَضِدُّهُ الْكَذِبُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَذَبُوا لَكَانَ خَبَرُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَاذِبًا، وَهُوَ مُحَالٌ.

Dan wajib bagi hak para Rasul (alaihimush shalatu was salam) sifat Shidq (jujur), dan lawannya adalah Kazib (bohong), dan dalil atas hal tersebut adalah bahwasanya jika mereka bohong, niscaya kabar Allah (Subhanahu wa Ta'ala) menjadi bohong, dan itu adalah mustahil.


SYARAH

(وَ) أَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ النَّبَوِيَّاتُ، فَيَشْتَمِلُ عَلَى مَا يَجِبُ لِلْأَنْبِيَاءِ وَمَا يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّهِمْ.

(Dan) adapun bagian kedua, yaitu Nabawiyat, maka ia mencakup apa yang wajib bagi para Nabi dan apa yang mustahil bagi hak mereka.

فَالَّذِي (يَجِبُ فِي حَقِّ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الصِّدْقُ) وَهُوَ مُطَابَقَةُ خَبَرِهِمْ لِلْوَاقِعِ وَلَوْ بِحَسَبِ اعْتِقَادِهِمْ، كَمَا فِي قَوْلِهِ ﷺ: «كُلُ... لَمْ يَكُنْ» لَمَّا قَالَ ذُو الْيَدَيْنِ حِينَ سَلَّمَ ﷺ مِنْ رَكْعَتَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ: أَقَصَرَتِ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ (وَضِدُّهُ الْكَذِبُ) أَيْ عَدَمُ مُطَابَقَةِ خَبَرِهِمْ لِلْوَاقِعِ وَافَقَ الِاعْتِقَادَ أَمْ لَا.

Maka yang (wajib bagi hak para Rasul 'alaihimush shalatu was salam adalah Shidq), dan ia adalah kesesuaian kabar mereka dengan realita, walaupun menurut keyakinan mereka, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Semua itu tidak terjadi," ketika Dzu-l Yadain bertanya saat Nabi ﷺ salam dari dua rakaat salat Zuhur: "Apakah salat diqashar atau Anda lupa ya Rasulullah?" (dan lawannya adalah Kazib) yaitu ketidaksesuaian kabar mereka dengan realita, baik sesuai dengan keyakinan (mereka) atau tidak.

(وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ) أَيْ وُجُوبِ الصِّdْقِ لَهُمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ (أَنَّهُمْ لَوْ لَمْ يَصْدُقُوا لَلَزِمَ كَذِبُهُمْ) لِأَنَّهُ لَا وَاسِطَةَ بَيْنَ الصِّدْقِ وَالْكَذِبِ وَلَوْ (كَذَبُوا لَكَانَ خَبَرُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) بِأَنَّهُمْ صَادِقُونَ (كَاذِبًا).

(Dan dalil atas hal tersebut) yaitu wajibnya sifat Shidq bagi mereka 'alaihimush shalatu was salam (adalah bahwasanya jika mereka tidak jujur niscaya akan mengharuskan mereka berbohong), karena tidak ada perantara antara jujur dan bohong, dan jika (mereka bohong niscaya kabar Allah Subhanahu wa Ta'ala) bahwasanya mereka jujur, (menjadi bohong).

وَالْمُرَادُ خَبَرُهُ الْحُكْمِيُّ، وَهُوَ الْمُعْجِزَةُ، وَهُوَ فِعْلُ اللَّهِ تَعَالَى، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى صَدَّقَهُمْ بِالْمُعْجِزَاتِ، فَإِنَّهُ تَعَالَى لَمْ يَجْرِ عَادَتُهُ مِنْ أَوَّلِ الدُّنْيَا إِلَى الْآنَ بِتَمْكِينِ الْكَاذِبِ مِنَ الْمُعْجِزَاتِ، بَلْ أَجْرَى عَادَتَهُ بِوُقُوعِهَا مِنَ الصَّادِقِ دُونَ الْكَاذِبِ وَإِذَا خُيِّلَ بِسِحْرٍ أَوْ نَحْوِهِ أَظْهَرَ فَضِيحَتَهُ عَنْ قُرْبٍ ذَلِكَ، وَمَعْلُومٌ أَنَّ تَصْدِيقَ الْكَاذِبِ كَذِبٌ (وَهُوَ) أَيْ كَوْنُ خَبَرِهِ تَعَالَى كَاذِبًا (مُحَالٌ) لِأَنَّ خَبَرَهُ تَعَالَى عَلَى وَفْقِ عِلْمِهِ، وَالْخَبَرَ الَّذِي عَلَى وَفْقِ الْعِلْمِ لَا يَكُونُ إِلَّا حَقًّا. وَإِذَا اسْتَحَالَ كَذَبُهُ تَعَالَى ثَبَتَ صِدْقُهُ، وَإِذَا ثَبَتَ صِدْقُهُ صَحَّ تَصْدِيقُهُ لِلرُّسُلِ، وَإِذَا صَحَّ ذَلِكَ ثَبَتَ صِدْقُهُمْ وَهُوَ الْمَطْلُوبُ.

Dan yang dimaksud adalah kabar-Nya yang bersifat hukum (hukmi), yaitu mukjizat, dan ia adalah perbuatan Allah Ta'ala, karena Allah Ta'ala membenarkan mereka dengan mukjizat-mukjizat, maka sesungguhnya Allah Ta'ala tidak pernah menjalankan kebiasaan-Nya dari awal dunia hingga saat ini dengan menguatkan (membiarkan) si pembohong dengan mukjizat-mukjizat, bahkan Ia menjalankan kebiasaan-Nya dengan terjadinya hal itu dari orang yang jujur bukan si pembohong, dan jika disamarkan dengan sihir atau semacamnya, Allah menampakkan keburukannya dalam waktu dekat, dan telah diketahui bahwa membenarkan si pembohong adalah bohong (dan itu) yaitu kabar Allah Ta'ala bohong (adalah mustahil), karena kabar-Nya Ta'ala sesuai dengan ilmu-Nya, dan kabar yang sesuai dengan ilmu tidaklah menjadi kecuali benar. Dan apabila mustahil kebohongan-Nya Ta'ala, maka tetaplah kejujuran-Nya, dan apabila telah tetap kejujuran-Nya, maka benarlah pembenaran-Nya terhadap para Rasul, dan apabila telah benar hal itu, maka tetaplah kejujuran mereka, dan itulah yang dikehendaki.

MATAN

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَمَانَةُ، وَضِدُّهَا الْخِيَانَةُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ خَانُوا بِفِعْلِ مَحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوهٍ لَكُنَّا مَأْمُورِينَ بِمِثْلِ ذَلِكَ.

Dan wajib bagi hak mereka (alaihimush shalatu was salam) sifat Amanah (terpercaya), dan lawannya adalah Khianat (tidak terpercaya), dan dalil atas hal tersebut adalah bahwasanya jika mereka berkhianat dengan melakukan hal yang haram atau makruh, niscaya kita diperintahkan dengan semisal itu.


SYARAH

(وَيَجِبُ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَمَانَةُ) وَهِيَ حِفْظُ ظَوَاهِرِهِمْ وَبَوَاطِنِهِمْ مِنَ التَّلَبُّسِ بِمَنْهِيٍw عَنْهُ، وَلَوْ نَهْيَ كَرَاهَةٍ أَوْ خِلَافِ الْأَوْلَى، فَهُمْ مَعْصُومُونَ عَنْ جَمِيعِ الْمَعَاصِي الْمُتَعَلِّقَةِ بِظَاهِرِ الْبَدَنِ كَالزِّنَى وَشُرْبِ الْخَمْرِ وَالْكَذِبِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَنْهِيَّاتِ الظَّاهِرِ وَمَعْصُومُونَ عَنْ جَمِيعِ الْمَعَاصِي الْمُتَعَلِّقَةِ بِالْبَاطِنِ مِنَ الْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَنْهِيَّاتِ الْبَاطِنِ.

(Dan wajib bagi hak mereka 'alaihimush shalatu was salam sifat Amanah), dan ia adalah menjaga lahir dan batin mereka dari terlibat dalam hal yang dilarang, walaupun itu larangan makruh atau khilaf al-aula, maka mereka terjaga (ma'shum) dari seluruh maksiat yang berkaitan dengan lahiriyah tubuh seperti zina, minum khamr, bohong, dan selain itu dari larangan-larangan lahiriah, dan mereka terjaga dari seluruh maksiat yang berkaitan dengan batiniah dari rasa hasad, sombong, riya', dan selain itu dari larangan-larangan batiniah.

وَالْمُرَادُ الْمَنْهِيُّ عَنْهُ وَلَوْ صُورَةً فَيَشْمَلُ مَا قَبْلَ النُّبُوَّةِ وَمَا فِي حَالَةِ الصِّغَرِ، وَلَا يَقَعُ مِنْهُمْ مَكْرُوهٌ وَلَا خِلَافُ الْأَوْلَى، بَلْ وَلَا مُبَاحٌ عَلَى وَجْهِ كَوْنِ ذَلِكَ مَكْرُوهًا أَوْ خِلَافِ الْأَوْلَى أَوْ مُبَاحًا. وَإِذَا وَقَعَ صُورَةُ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَهُوَ لِلتَّشْرِيعِ فَيَصِيرُ وَاجِبًا أَوْ مَنْدُوبًا فِي حَقِّهِمْ، فَأَفْعَالُهُمْ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ دَائِرَةٌ بَيْنَ الْوَاجِبِ وَالْمَنْدُوبِ، بَلْ فِي الْأَوْلِيَاءِ الَّذِينَ هُمْ أَتْبَاعُهُمْ مَنْ يَصِلُ إِلَى مَقَامٍ تَصِيرُ فِيهِ حَرَكَاتُهُ وَسَكَنَاتُهُ طَاعَاتٍ بِالنِّيَّاتِ.

Dan yang dimaksud adalah hal yang dilarang, walaupun secara bentuk, maka mencakup apa yang sebelum kenabian dan apa yang di masa kecil, dan tidaklah terjadi dari mereka hal yang makruh dan tidak pula khilaf al-aula, bahkan tidak pula hal mubah dengan sudut pandang bahwa itu adalah makruh atau khilaf al-aula atau mubah. Dan jika terjadi bentuk hal itu dari mereka, maka itu adalah untuk tasyri' (pensyariatan), maka ia menjadi wajib atau mandub (sunnah) bagi hak mereka, maka perbuatan mereka 'alaihimush shalatu was salam berputar antara wajib dan mandub, bahkan bagi para wali yang mereka itu adalah pengikut-pengikut para Nabi, ada yang sampai ke maqam yang menjadikan gerak-gerik dan diamnya adalah ketaatan dengan niat-niat.

وَالْمُرَادُ بِالْفِعْلِ مَا يَعُمُّ فِعْلَ اللِّسَانِ، وَهُوَ الْقَوْلُ وَفِعْلَ الْقَلْبِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِهِمْ فِي أَفْعَالِهِم| وَأَقْوَالِهِمْ وَأَحْوَالِهِمْ مِنْ غَيْرِ تَفْصِيلٍ مَا عَدَا مَا ثَبَتَ اخْتِصَاصُهُمْ بِهِ، وَمَا عَدَا الْأُمُورَ الْجِبِلِّيَّةَ كَالْقِيَامِ وَالْقُعُودِ وَالْمَشْيِ، فَإِنَّا لَمْ نُؤْمَرُ بِالِاتِّبَاعِ فِي ذَلِكَ.

Dan yang dimaksud dengan perbuatan adalah apa yang mencakup perbuatan lisan, yaitu perkataan, dan perbuatan hati, karena Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk mengikuti mereka dalam perbuatan, perkataan, dan keadaan mereka tanpa perincian, kecuali apa yang ditetapkan kekhususannya bagi mereka, dan selain perkara-perkara tabiat seperti berdiri, duduk, dan berjalan, maka sesungguhnya kita tidak diperintahkan untuk mengikuti dalam hal tersebut.

(وَضِدُّهَا الْخِيَانَةُ وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ) أَيْ وُجُوبِ الْأَمَانَةِ لَهُمْ، (أَنَّهُمْ لَوْ خَانُوا) أَيْ خَالَفُوا أَمْرَ اللَّهِ تَعَالَى (بِفِعْلِ مَحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوهٍ) أَوْ خِلَافِ الْأَوْلَى لِغَيْرِ التَّشْرِيعِ (لَكُنَّا مَأْمُورِينَ بِمِثْلِ ذَلِكَ) أَيْ مَا يَفْعَلُونَهُ. (وَلَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِمَحْرَمٍ أَوْ مَكْرُوهٍ) أَوْ خِلَافِ الْأَوْلَى، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ، فَتَعَيَّنَ أَنَّهُمْ لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا الطَّاعَةَ إِمَّا وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَلَا تَكُونُ أَفْعَالُهُمْ مُحَرَّمَةً أَوْ مَكْرُوهَةً وَلَا خِلَافَ الْأَوْلَى، فَأَفْعَالُهُمْ دَائِرَةٌ بَيْنَ الْوَاجِبِ وَالْمَنْدُوبِ وَلَا يَدْخُلُهَا مُبَاحٌ لِأَنَّهُمْ إِذَا فَعَلُوهُ يَكُونُ لِبَيَانِ الْجَوَازِ وَالتَّشْرِيعِ، وَهُوَ إِمَّا وَاجِبٌ أَوْ مَنْدُوبٌ وَهَذِهِ الْحُجَّةُ سَمْعِيَّةٌ أَوْ شَرْعِيَّةٌ وَإِنْ كَانَت| عَلَى صُورَةِ الدَّلِيلِ الْعَقْلِيِّ، لِأَنَّ دَلِيلَ الْمُلَازَمَةِ شَرْعِيٌّ، وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي﴾(٩) وَأَنْ بُطْلَانَ التَّالِي بِدَلِيلٍ شَرْعِيٍّ وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ﴾(١٠)، بِخِلَافِ الْحُجَّةِ عَلَى وُجُوبِ صِدْقِهِم| فَإِنَّهَا عَقْلِيَّةٌ، وَلِذَا قَالَ السَّنُوسِيُّ: وَيَسْتَحِيلُ عَلَيْهِمُ الْكَذِبُ وَالْمَعَاصِي عَقْلًا وَشَرْعًا.

(Dan lawannya adalah Khianat, dan dalil atas hal tersebut) yaitu wajibnya sifat Amanah bagi mereka, (bahwasanya jika mereka berkhianat) yaitu menyalahi perintah Allah Ta'ala (dengan melakukan hal yang haram atau makruh) atau khilaf al-aula bukan untuk tujuan tasyri', (niscaya kita diperintahkan dengan semisal itu) yaitu apa yang mereka lakukan. (Dan tidak sah jika kita diperintahkan dengan hal yang haram atau makruh) atau khilaful awla, karena Allah Ta'ala tidak memerintahkan perbuatan keji. Maka sudah pasti bahwa mereka tidak melakukan kecuali ketaatan, baik itu wajib atau mandub, sehingga perbuatan mereka tidak ada yang haram, makruh, atau khilaful awla. Maka perbuatan mereka berputar di antara wajib dan mandub, dan tidak dimasuki oleh perkara mubah karena jika mereka melakukannya, hal itu adalah untuk menjelaskan kebolehan dan pensyariatan, yang mana itu termasuk wajib atau mandub. Argumen ini adalah sam'iyyah atau syar'iyyah, meskipun dalam bentuk dalil aqli, karena dalil melazimi adalah syar'i, yaitu firman Allah Ta'ala: "Katakanlah, jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku" (9). Dan bahwa batalnya konsekuensi hukum karena dalil syar'i, yaitu firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji" (10). Berbeda dengan argumen atas kewajiban jujur mereka, maka itu adalah aqliyah, oleh karena itu As-Sanusi berkata: Mustahil bagi mereka sifat bohong dan maksiat secara akal dan syariat.

MATAN

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَبْلِيغُ مَا أُمِرُوا بِتَبْلِيغِهِ لِلْخَلْقِ، وَضِدُّهُ كِتْمَانُ ذَلِكَ. وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَتَمُوْا شَيْئًا مِمَّا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِۦ لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ، وَلَا يَصِحُ'' أَنْ نُؤْمَرَ بِهِۦ لِأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ.

Dan wajib bagi hak mereka 'alaihimush shalatu was salam menyampaikan apa yang mereka diperintahkan untuk menyampaikannya kepada makhluk, dan lawannya adalah menyembunyikan hal tersebut. Dan dalil atas hal tersebut (wajibnya sifat tabligh) adalah bahwasanya jikalau mereka menyembunyikan sesuatu dari apa yang diperintahkan kepada mereka untuk menyampaikannya, niscaya kita pun akan diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu. Dan tidaklah sah kita diperintahkan untuk menyembunyikannya, karena orang yang menyembunyikan ilmu itu dilaknat.


SYARAH

(وَيَجِبُ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَبْلِيغُ مَا أُمِرُوا بِتَبْلِيغِهِ لِلْخَلْقِ) بِخِلَافِ مَا أُمِرُوا بِكِتْمَانِهِ وَمَا خُيِّرُوا فِيهِ، فَلَيْسَ تَبْلِيغُ كُلِّ مِنْهُمَا وَاجِبًا، بَل| يَجِبُ كِتْمَانُ مَا أُمِرُوا بِكِتْمَانِهِ، وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ شَيْءٌ فِيمَا خُيِّرُوا فِيهِ. (وَضِدُّهُ كِتْمَانُ ذَلِكَ) أَيْ جَمِيعِ مَا أُمِرُوا بِتَبْلِيغِهِ لِلْخَلْقِ.

(Dan wajib bagi hak mereka 'alaihimush shalatu was salam menyampaikan apa yang mereka diperintahkan untuk menyampaikannya kepada makhluk) berbeda dengan apa yang mereka diperintahkan untuk menyembunyikannya dan apa yang mereka dibebaskan memilih di dalamnya, maka menyampaikan keduanya tidaklah wajib, bahkan wajib menyembunyikan apa yang mereka diperintahkan untuk menyembunyikannya, dan tidak wajib atas mereka sesuatu pun dalam hal yang mereka dibebaskan memilih di dalamnya. (Dan lawannya adalah menyembunyikan hal tersebut), yaitu semua apa yang mereka diperintahkan untuk menyampaikannya kepada makhluk.

(وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ) أَيْ جَمِيْعِ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِۦ، (أَنَّهُمْ لَوْ) لَمْ يُبَلِّغُوْا لَكَتَمُوْا، إِذْ لَا وَاسِطَةَ بَيْنَ الْكِتْمَانِ وَالتَّبْلِيْغِ، لَكَتَمُوْا، إِذْ لَوْ (كَتَمُوْا شَيْئًا) أَيْ بَعْضًا (مِمَّا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِۦ) لِلْخَلْقِ (لَكُنَّا Mَأْمُوْرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ) لِأَنَّ اللهَ تَعَالَىٰ أَمَرَنَا بِالِاقْتِدَاءِ بِهِمْ حَيْثُ قَالَ فِيْ حَقِّ نَبِيِّنَا: ﴿وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾(١١).

(Dan dalil atas hal tersebut) yaitu atas seluruh apa yang mereka diperintahkan untuk menyampaikannya, (bahwasanya jikalau mereka) tidak menyampaikan niscaya mereka menyembunyikan, sebab tidak ada perantara di antara menyembunyikan dan menyampaikan, akan tetapi mereka tidak menyembunyikan. Karena jikalau (menyembunyikan sesuatu) maksudnya sebagian (dari apa yang diperintahkan kepada mereka untuk menyampaikannya) kepada makhluk, (niscaya kita pun akan diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu) karena Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk meneladani mereka, yang mana Dia berfirman mengenai hak Nabi kita: *“Dan ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.”* (11).

(وَلَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِۦ) أَيْ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ (لِأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ) قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴾(١٢).

(Dan tidaklah sah kita diperintahkan untuk menyembunyikannya) yaitu menyembunyikan ilmu, (karena orang yang menyembunyikan ilmu itu dilaknat). Allah Ta'ala berfirman: *“Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh seluruh makhluk yang mengutuk.”* (12).

CATATAN KAKI :

(٩) سُورَةُ آلِ عِمْرَانَ: ٣١.

(9)  Surah Ali 'Imran: 31.

(١٠) سُورَةُ الْأَعْرَافِ: ٢٨.

(10)  Surah Al-A'raf: 28.

(١١) سُورَةُ الْأَعْرَافِ: ١٥٨.

(11)  Surah Al-A'raf: 158.

(١٢) سُورَةُ الْبَقَرَةِ: ١٥٩.

(12)  Surah Al-Baqarah: 159.
CATATAN PENTING ABI :
عِصْمَةُ الرُّسُلِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَوُجُوبُ تَبْلِيغِهِمْ لِلْوَحْيِ يَقْتَضِي وُجُوبَ اتِّبَاعِهِمْ شَرْعًا وَعَقْلًا، وَيُبْطِلُ دَعَاوَى الْمُبْطِلِينَ. [أَبِي طَؤُفُور]
Keterjagaan para Rasul (Ishmah) secara lahir maupun batin serta kewajiban mereka menyampaikan wahyu, mengonseksikan wajibnya meneladani mereka baik secara syariat maupun akal, sekaligus mementahkan segala tuduhan kaum yang berbuat batil. [Abi Thoufur]
📍 Mufrodat & Pesan Khusus Abi Thoufur
نَبَوِيَّاتٌ (Nabawiyat) Pembahasan teologis dalam ilmu akidah yang khusus mempelajari segala hal yang berkaitan dengan para nabi dan rasul, termasuk sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi mereka.
عِصْمَةٌ (Ishmah / Ma'shum) Perlindungan mutlak dari Allah SWT yang menjaga aspek lahiriyah dan batiniah para nabi/rasul dari dosa, maksiat, perkara makruh, ataupun hal yang menurunkan martabat kemuliaan mereka.
تَشْرِيعٌ (Tasyri') Proses penetapan hukum syariat bagi umat manusia, di mana gerak-gerik atau perbuatan mubah/khilaf al-aula para nabi berubah menjadi bernilai ibadah (wajib/sunnah) sebagai contoh konkret bagi kita.
حُجَّةٌ سَمْعِيَّةٌ (Hujjah Sam'iyyah) Argumen atau landasan kebenaran hukum yang digali bersumber langsung dari teks otoritatif wahyu (Al-Qur'an dan Hadis), bukan murni dari hasil olah logika akal semata.

💡 Pesan Khusus Abi buat Murid: "Tong, dengerin baik-baik! Zaman sekarang banyak banget opini atau *tren* anak muda yang gampang dibilang keren tapi aslinya bohong, atau perilaku *influencer* yang sering plin-plan alias khianat sama omongannya sendiri. Nah, beda kelas sama panutan sejati kita, yaitu para Rasul! Mereka punya sifat Shidq (jujur) dan Amanah (terpercaya) yang levelnya mutlak dijaga langsung (Ma'shum) lahir batin sama Allah. Gak ada kamusnya Rasul itu bermuka dua, *gimmick*, apalagi menyembunyikan kebenaran (Kitman). Logika gampangnya: kalau Rasul boleh bohong atau khianat sekali aja, hancur syariat kita karena berarti Allah memerintahkan kita buat ikutin kebohongan itu—dan itu jelas mustahil! Jadi kalau nyari *role model* buat gaya hidup, akhlak, ataupun prinsip, jangan salah kiblat ya, tong. Tetap teguh ikuti tuntunan Rasulullah SAW!"

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi