وَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْفَطَانَةُ، وَضِدُّهَا الْبَلَادَةُ، وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ أَنَّهُۥ لَوِ انْتَفَتْ عَنْهُمُ الْفَطَانَةُ لَمَا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّةً عَلَىٰ الْخَصْمِ، وَهُوَ مُحَالٌ لِأَنَّ الْقُرْاٰنَ دَلَّ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَىٰ إِقَامَتِهِمُ الْحُجَّةَ عَلَىٰ الْخَصْمِ.
Dan wajib pada hak mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—sifat cerdas (fathanah), dan kebalikannya adalah bodoh/bebal (baladah). Dan dalil atas hal tersebut adalah bahwasanya jikalau sifat cerdas itu hilang dari mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menegakkan hujah (argumen) atas musuh/penentang. Dan hal tersebut adalah mustahil, karena Al-Qur'an telah menunjukkan di berbagai tempat yang banyak atas keberhasilan mereka dalam menegakkan hujah atas penentangnya.
(وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ) أَيْ جَمِيْعِ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِۦ، (أَنَّهُمْ لَوْ) لَمْ يُبَلِّغُوْا لَكَتَمُوْا، إِذْ لَا وَاسِطَةَ بَيْنَ الْكِتْمَانِ وَالتَّبْلِيْغِ، لَكِنَّهُمْ لَمْ يَكْتَمُوْا، إِذْ لَوْ (كَتَمُوْا شَيْئًا) أَيْ بَعْضًا (مِمَّا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِۦ) لِلْخَلْقِ (لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ) لِأَنَّ اللهَ تَعَالَىٰ أَمَرَنَا بِالِاقْتِدَاءِ بِهِمْ حَيْثُ قَالَ فِيْ حَقِّ نَبِيِّنَا: ﴿وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾(١١).
(Dan dalil atas hal tersebut) yaitu atas seluruh apa yang mereka diperintahkan untuk menyampaikannya, (bahwasanya jikalau mereka) tidak menyampaikan niscaya mereka menyembunyikan, sebab tidak ada perantara di antara menyembunyikan dan menyampaikan, akan tetapi mereka tidak menyembunyikan. Karena jikalau (menyembunyikan sesuatu) maksudnya sebagian (dari apa yang diperintahkan kepada mereka untuk menyampaikannya) kepada makhluk, (niscaya kita pun akan diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu) karena Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk meneladani mereka, yang mana Dia berfirman mengenai hak Nabi kita: *“Dan ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.”* (11).
(وَلَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِۦ) أَيْ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ (لِأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ) قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴾(١٢).
(Dan tidaklah sah kita diperintahkan untuk menyembunyikannya) yaitu menyembunyikan ilmu, (karena orang yang menyembunyikan ilmu itu dilaknat). Allah Ta'ala berfirman: *“Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh seluruh makhluk yang mengutuk.”* (12).
(وَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْفَطَانَةُ) وَهِيَ التَّيَقُّظُ لِإِلْزَامِ الْخُصُوْمِ وَإِبْطَالِ دَعَاوِيْهِمُ الْبَاطِلَةِ. (وَضِدُّهَا الْبَلَادَةُ) أَيِ الْغَفْلَةُ.
(Dan wajib pada hak mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—sifat cerdas) yaitu kepekaan/kecerdasan pikiran untuk membungkam para penentang serta membatalkan klaim-klaim batil mereka. (Dan kebalikannya adalah bodoh/bebal) yaitu kelalaian pikiran.
(وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ) أَيْ وُجُوْبِ الْفَطَانَةِ لَهُمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، (أَنَّهُۥ) أَيِ الشَّأْنُ، (لَوْ اِنْتَفَتْ عَنْهُمُ الْفَطَانَةُ لَمَا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّةً عَلَىٰ الْخَصْمِ وَهُوَ) أَيْ عَدَمُ الْقُدْرَةِ عَلَىٰ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ (مُحَالٌ، لِأَنَّ الْقُرْاٰنَ دَلَّ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَىٰ إِقَامَتِهِمُ الْحُجَّةَ عَلَىٰ الْخَصْمِ) كَقَوْلِهِۦ تَعَالَىٰ: ﴿وَتِلْكَ حُجَّتُنَا﴾، أَيْ حُجَّةُ إِبْرَٰهِيْمَ
(Dan dalil atas hal tersebut) yaitu wajibnya sifat cerdas bagi mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka, (bahwasanya) yaitu pada kenyataannya, (jikalau sifat cerdas itu hilang dari mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menegakkan hujah atas musuh/penentang, dan hal tersebut) yaitu ketidakmampuan menegakkan hujah (adalah mustahil, karena Al-Qur'an telah menunjukkan di berbagai tempat yang banyak atas keberhasilan mereka dalam menegakkan hujah atas penentangnya) seperti firman Allah Ta'ala: *“Dan itulah hujah Kami,”* maksudnya hujah Nabi Ibrahim.
عَلَىٰ قَوْمِهِۦ ﴿حُجَّتُنَآٰ ءَاتَيْنَٰهَآٰ إِبْرَٰهِيْمَ﴾(١٣). وَكَقَوْلِهِۦ تَعَالَىٰ حِكَايَةً عَنْ قَوْمِ نُوْحٍ: ﴿يَٰنُوْحُ قَدْ جَٰدَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَٰلَنَا﴾(١٤)، وَكَقَوْلِهِۦ تَعَالَىٰ: ﴿وَجَٰدِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ﴾(١٥)، أَيْ بِالطَّرِيْقِ الَّتِيْ تَشْتَمِلُ عَلَىٰ نَوْعِ إِرْفَاقٍ بِهِمْ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ فَطِنًا لَا يُمْكِنُهُ إِقَامَةُ الْحُجَّةِ وَلَا الْمُجَادَلَةُ.
Terhadap kaumnya: *“Itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim”* (13). Dan seperti firman Allah Ta'ala seraya menceritakan tentang kaum Nuh: *“Wahai Nuh! Sungguh kamu telah membantah kami, dan kamu telah memperbanyak bantahanmu terhadap kami”* (14), dan seperti firman-Nya Ta'ala: *“Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”* (15), maksudnya dengan metode yang mengandung semacam kelembutan terhadap mereka. Dan barang siapa yang tidak memiliki kecerdasan (fathanah), niscaya tidak akan mungkin baginya untuk menegakkan hujah (argumen) maupun melakukan perdebatan.
وَهَٰذِهِ الْآيَاتُ وَإِنْ كَانَتْ وَارِدَةً فِيْ بَعْضِهِم| إِلَّا أَنَّ مَا ثَبَتَ لِبَعْضِهِمْ مِنَ الْكَمَالِ الَّذِيْ لَا يَتِمُw الْمَقْصُوْدُ إِلَّا بِهِۦ يَثْبُتُ لِجَمِيْعِهِمْ، فَتَثْبُتُ الْفَطَانَةُ لِلْجَمِيْعِ، وَإِنْ لَمْ يَكُوْنُوْا رُسُلًا بَلْ أَنْبِيَاءَ فَقَطْ نَعَمِ الْوَاجِبُ لِلْأَنْبِيَاءِ مُطْلَقُ الْفَطَانَةِ، وَأَمَّا الرُّسُلُ فَالْوَاجِبُ لَهُمْ كَمَالُ الْفَطَانَةِ، وَإِذَا ثَبَتَتْ لَهُمْ هَٰذِهِ الصِّفَاتُ الْأَرْبَعَةُ اِسْتَحَالَ عَلَيْهِمْ أَضْدَادُهَا، وَمَعْنَىٰ اِسْتِحَالَتِهَا عَدَمُ قَبُوْلِهَا الثُّبُوْتَ بِالدَّلِيْلِ الشَّرْعِيِّ.
Ayat-ayat ini, meskipun diturunkan berkenaan dengan sebagian dari mereka (para nabi), namun apa saja yang telah tetap bagi sebagian mereka berupa kesempurnaan—yang mana misi kerasulan tidak akan sempurna tanpanya—maka hal itu pun tetap berlaku bagi seluruh nabi. Dengan demikian, sifat cerdas (fathanah) ini tetap bagi semuanya, walau mereka bukan rasul melainkan hanya nabi saja. Benar bahwa yang wajib bagi para nabi adalah sifat cerdas secara mutlak (mendasar), sedangkan bagi para rasul, maka yang wajib bagi mereka adalah kesempurnaan sifat cerdas (tingkat tinggi). Dan apabila keempat sifat ini telah tetap bagi mereka, maka mustahil atas mereka kebalikan-kebalikannya. Arti kemustahilan tersebut adalah ketidakmampuan kebalikan sifat itu untuk diterima pembuktiannya berdasarkan dalil syar'i.
CATATAN KAKI :
(١١) سُورَةُ الْأَعْرَافِ: ١٥٨.
(11) Surah Al-A'raf: 158.(١٢) سُورَةُ الْبَقَرَةِ: ١٥٩.
(12) Surah Al-Baqarah: 159.(١٣) سُورَةُ الْأَنْعَامِ: ٨٣.
(13) Surah Al-An'am: 83.(١٤) سُورَةُ هُودٍ: ٣٢.
(14) Surah Hud: 32.(١٥) سُورَةُ النَّحْلِ: ١٢٥.
(15) Surah An-Nahl: 125.💡 Pesan Khusus Abi buat Murid: "Gini tong, lu perhatiin baek-baek ya! Di tongkrongan atau di media sosial zaman sekarang, banyak banget orang yang jago *ngeles*, nyebarin hoaks, atau bikin opini menyesatkan yang keliatannya pinter padahal zonk alias *syubhat*. Nah, tugas kita sebagai generasi muda Islam itu harus cerdas, gak boleh planga-plongo atau gampang kemakan provokasi. Rasul-rasul kita itu dibekali Allah sifat Fathanah yang super cerdas. Makanya tiap kali didebat sama tokoh kafir Quraisy atau pembangkang zaman dulu, para Rasul selalu bisa mematahkan argumen mereka sampai musuhnya mati kutu gak bisa jawab. Akidah Islam itu bukan akidah yang ikut-ikutan buta, tapi dibangun di atas hujah logika yang kokoh dan nyata. Jadi, lu sebagai pelajar kudu rajin belajar, asah pemikiran intelektual lu, dan kuasai ilmu pengetahuan biar gak gampang dibodoh-bodohin (baladah). Jadilah anak muda yang cerdas nalar dan bersih hatinya, ngikutin jejak kecerdasan Rasulullah SAW!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar