BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

TD 015

📖 NASKAH KITAB & TERJEMAH Sifat Jaiz Rasul
MATAN

Wَالْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِيْ لَا تُؤَدِّيْ إِلَىٰ نَقْصٍ فِيْ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ كَالْمَرَضِ وَنَحْوِهِ.

Dan perkara yang jaiz (boleh) pada hak mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—adalah sifat-sifat baru selaku manusia (al-a'radh al-basyariyyah) yang tidak sampai menyebabkan kekurangan pada derajat mereka yang luhur, seperti sakit dan seumpamanya.

SYARAH

(وَالْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِيْ لَا تُؤَدِّيْ إِلَىٰ نَقْصٍ فِيْ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ كَالْمَرَضِ) غَيْرِ الْمُنَفِّرِ (وَنَحْوُهُ) كَالْجُوْعِ وَالْعَطَشِ وَالنَّوْمِ، وَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْمَشْيِ وَالرُّكُوْبِ وَالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالْجِمَاعِ لِلنِّسَاءِ عَلَىٰ وَجْهِ الْحِلِّ بِالنِّكَاحِ أَوْ بِالْمِلْكِ، بِخِلَافِ الْجُنُوْنِ قَلِيْلِهِۦ وَكَثِيْرِهِۦ وَالْجُذَامِ وَالْبَرَصِ وَالْعَمَىٰ وَغَيْرِ ذَٰلِكَ مِنَ الْأُمُوْرِ الْمُنَفِّرَةِ، وَبِخِلَافِ الْأُمُوْرِ الْمُخِلَّةِ بِالْمُرُوْءَةِ كَالْأَكْلِ عَلَىٰ الطُّرُقِ، وَالْحِرَفِ الدَّنِيْئَةِ وَنَحْوِ ذَٰلِكَ مِمَّا لَا يَلِيْقُ بِهِمْ، فَلَا يَجُوْزُ ذَٰلِكَ وَلَم| يَصِحَّ أَنَّ شُعَيْبًا كَانَ ضَرِيْرًا، وَمَا كَانَ بِأَيُّوْبَ مِنَ الْبَلَاءِ فَكَانَ بَيْنَ الْجِلْدِ وَالْعَظْمِ،

(Dan perkara yang jaiz pada hak mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—sifat-sifat baru selaku manusia yang tidak sampai menyebabkan kekurangan pada derajat mereka yang luhur, seperti sakit) yang tidak membuat orang lari menjauh, (dan seumpamanya) seperti rasa lapar, haus, tidur, makan, minum, berjalan, berkendara, jual-beli, dan menjimak istri dengan cara yang halal melalui pernikahan atau kepemilikan hamba sahaya. Hal ini berbeda dengan penyakit gila, baik sedikit maupun banyak, penyakit kusta (judzam), sopak (barash), buta, dan hal-hal lain yang membuat orang menjauh. Berbeda pula dengan perkara-perkara yang merusak muruah (kehormatan diri) seperti makan di jalanan, pekerjaan yang hina, dan seumpamanya dari hal-hal yang tidak pantas bagi mereka, maka hal tersebut tidak boleh terjadi pada mereka. Dan tidak sahih riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Syuaib itu buta. Adapun cobaan penyakit yang menimpa Nabi Ayyub, hal itu hanya terjadi di antara kulit dan tulang,


MATAN

وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ مُشَاهَدَتُهَا بِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

Dan dalil atas hal tersebut adalah penyaksian secara nyata terhadap sifat-sifat tersebut pada diri mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka.

SYARAH

فَلَمْ يَكُنْ مُنَفِّرًا، وَمَا كَانَ بِيَعْقُوْبَ فَهُوَ حِجَابٌ عَلَىٰ الْعَيْنِ مِنْ تَوَاصُلِ الدُّمُوْعِ، أَمَّا خُرُوْجُ الْمَنِيِّ مِنِ امْتِلَاءِ الْأَوْعِيَةِ فَجَائِزٌ عَلَيْهِمْ بِخِلَافِ الِاحْتِلَامِ، فَلَا يَجُوْزُ عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُۥ مِنْ تَلَاعُبِ الشَّيْطَانِ، لِأَنَّهُۥ لَا سَبِيْلَ لَهُۥ عَلَيْهِمْ.

Maka hal itu tidaklah membuat orang menjauh. Sedangkan apa yang menimpa Nabi Ya'qub, hal itu hanyalah selaput yang menutupi mata akibat tetesan air mata yang terus-menerus. Adapun keluarnya mani karena penuhnya kantung sperma, maka hal itu boleh terjadi pada mereka, berbeda halnya dengan mimpi basah (ihtilam), maka itu tidak boleh terjadi pada mereka karena hal itu termasuk permainan setan, sedangkan setan tidak memiliki jalan (kemampuan) untuk memengaruhi mereka.

وَأَمَّا السَّهْوُ فَمُمْتَنِعٌ عَلَيْهِمْ فِيْ الْأَخْبَارِ الْبَلَاغِيَّةِ، أَيِ الَّتِيْ طُلِبَ مِنْهُمْ تَبْلِيْغُهَا عَنِ اللهِ تَعَالَىٰ، كَقَوْلِهِمْ: الْجَنَّةُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَعَذَابُ الْقَبْرِ وَاجِبٌ وَهَٰكَذَا وَفِيْ غَيْرِ الْبَلَاغِيَّةِ كَقِيَامِ زَيْدٍ وَقُعُوْدِ بَكْرٍ، وَهَٰكَذَا، وَجَائِزٌ عَلَيْهِمْ فِيْ الْأَفْعَالِ الْبَلَاغِيَّةِ لِلتَّشْرِيْعِ كَالسَّهْوِ فِيْ الصَّلَاةِ وَسَهْوُهُمْ إِنَّمَا هُوَ لِاشْتِغَالِهِمْ بِرَبِّهِمْ.

Adapun sifat lupa yang tidak sengaja (sahwu), maka mustahil bagi mereka dalam berita-berita yang bersifat menyampaikan syariat, yaitu berita yang mereka diminta untuk menyampaikannya dari Allah Ta'ala, seperti ucapan mereka: "Surga itu disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, dan azab kubur itu pasti terjadi," dan seterusnya. Begitu pula dalam berita yang bukan bersifat menyampaikan syariat seperti ucapan: "Zaid berdiri dan Bakar duduk," dan sebagainya. Namun, sifat sahwu ini boleh terjadi pada mereka dalam perbuatan-perbuatan yang bersifat menyampaikan syariat demi tujuan pensyariatan hukum, seperti lupa dalam shalat. Dan sesungguhnya lupanya mereka itu hanyalah karena hati mereka tersibukkan (tenggelam) kepada Tuhan mereka.

وَأَمَّا النِّسْيَانُ فَمُمْتَنِعٌ عَلَيْهِم| فِيْ الْبَلَاغِيَّاتِ قَبْلَ تَبْلِيْغِهَا، قَوْلِيَّةً كَانَتْ أَوْ فِعْلِيَّةً، فَالْقَوْلِيَّةُ كَقَوْلِهِمْ الْجَنَّةُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَالْفِعْلِيَّةُ كَصَلَاةِ الضُّحَىٰ إِذْ أَمَرَهُمُ اللهُ بِفِعْلِهَا لِيُقْتَدَىٰ بِهِمْ فِيْهَا، فَلَا يَجُوْزُ نِسْيَانُ كُلِّ مِنْهُمَا قَبْلَ تَبْلِيْغِ الْأَوَّلِ بِالْقَوْلِ وَالثَّانِيَةِ بِالْفِعْلِ.

Adapun sifat lupa total (nisyan), maka mustahil bagi mereka dalam perkara-perkara balaghiyyat (syariat) sebelum sempat menyampaikannya, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Perkara ucapan contohnya seperti sabda mereka: "Surga disediakan bagi orang-orang yang bertakwa," sedangkan perbuatan contohnya seperti shalat Dhuha ketika Allah memerintahkan mereka untuk melakukannya agar mereka dicontoh dalam hal itu. Maka tidak boleh terjadi kelupaan pada masing-masing dari keduanya sebelum sempat menyampaikan yang pertama dengan ucapan dan yang kedua dengan perbuatan.

أَمَّا بَعْدَ التَّبْلِيْغِ فَيَجُوْزُ عَلَيْهِمْ نِسْيَانُ مَا ذُكِرَ مِنَ اللهِ تَعَالَىٰ لَا مِنَ الشَّيْطَانِ لِأَنَّهُۥ لَا سَبِيْلَ لَهُۥ عَلَيْهِمْ، وَقَدْ قَالَ صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَىٰ كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِيْ»، وَبِالْجُمْلَةِ فَيَجُوْزُ عَلَىٰ ظَوَاهِرِهِمْ مَا يَجُوْزُ عَلَىٰ الْبَشَرِ مِمَّا لَا يُؤَدِّيْ إِلَىٰ نَقْصٍ، وَأَمَّا بَوَاطِنُهُمْ فَهِيَ مُنَزَّهَةٌ عَنْ ذَٰلِكَ لِتَعَلُّقِهَا بِاللهِ تَعَالَىٰ.

Adapun setelah penyampaian syariat selesai, maka boleh bagi mereka lupa terhadap apa yang telah disebutkan tadi yang datangnya dari Allah Ta'ala, bukan dari setan, karena tidak ada jalan bagi setan untuk menguasai mereka. Dan sungguh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: *“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku bisa lupa sebagaimana kalian pun bisa lupa. Maka apabila aku lupa, ingatkanlah aku.”* Dan kesimpulannya, boleh terjadi pada sisi lahiriah mereka apa saja yang boleh terjadi pada manusia selama tidak membawa kepada kekurangan. Adapun sisi batiniah mereka, maka ia suci bersih dari hal tersebut karena keterikatan batin mereka yang selalu tertuju kepada Allah Ta'ala.

(وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ) أَيْ جَوَازِ وُقُوْعِ الْأَعْرَاضِ، أَيِ الصِّفَاتِ الْحَادِثَةِ الْبَشَرِيَّةِ، (مُشَاهَدَتُهَا بِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ) لِمَنْ عَاصَرَهُمْ وَبُلُوْغُ ذَٰلِكَ بِالتَّوَاتُرِ لِغَيْرِهِ، فَوُقُوْعُهَا بِهِمْ أَقْوَىٰ دَلِيْلٍ عَلَىٰ الْجَوَازِ، لِأَنَّ الْوُقُوْعَ فَرْعٌ عَنِ الْجَوَازِ،

(Dan dalil atas hal tersebut) maksudnya atas bolehnya terjadi sifat-sifat baru selaku manusia, (adalah penyaksian secara nyata terhadap sifat-sifat tersebut pada diri mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka) bagi orang yang hidup sezaman dengan mereka, dan sampainya berita tersebut secara mutawatir bagi orang yang hidup setelahnya. Maka terjadinya sifat-sifat tersebut pada diri mereka merupakan dalil paling kuat atas kebolehannya, karena terjadinya sesuatu merupakan cabang dari sifat bolehnya hal itu terjadi.

وَأَيْضًا هُمْ يَتَرَقَّوْنَ دَائِمًا فِيْ الْمَرَاتِبِ الْعَلِيَّةِ وَوُقُوْعُ الْأَمْرَاضِ بِهِمْ مَثَلًا سَبَبٌ فِيْ زِيَادَةِ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ، وَلِأَجْلِ أَنْ يَتَسَلَّىٰ بِهِمْ غَيْرُهُمْ وَيَعْرِفَ الْعَاقِلُ أَنَّ الدُّنْيَا لَيْسَتْ دَارَ جَزَاءٍ لِأَحْبَابِهِۦ تَعَالَىٰ، إِذْ لَوْ كَانَتْ دَارَ جَزَاءٍ لَهُمْ لَمْ يُصِبْهُمْ شَيْءٌ مِنْ كُدُوْرَاتِهَا، فَهُوَ زِيَادَةٌ فِيْ عُلُوِّ مَرَاتِبِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

Dan selain itu pula, mereka (para rasul) senantiasa naik ke tingkat derajat yang lebih luhur. Kejadian penyakit yang menimpa mereka—sebagai contoh—merupakan sebab bagi bertambahnya derajat mereka yang luhur itu, serta bertujuan agar orang lain dapat menghibur diri (mengambil keteguhan hati) dengan meneladani mereka, dan agar orang yang berakal mengetahui bahwa dunia ini bukanlah tempat balasan (darul jaza') bagi para kekasih Allah Ta'ala. Sebab, jikalau dunia ini adalah darul jaza' bagi mereka, niscaya tidak akan ada sedikit pun kekeruhan (ujian/penderitaan) dunia yang menimpa mereka. Maka ujian tersebut justru menjadi tambahan bagi keluhuran derajat mereka—semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah atas mereka.

فَهَٰذِهِ تِسْعُ عَقَائِدَ تَتَعَلَّقُ بِالرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَتَقَدَّمَ إِحْدَىٰ وَأَرْبَعُوْنَ تَتَعَلَّقُ بِالْإِلَٰهِ سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ، فَالْجُمْلَةُ خَمْسُوْنَ عَقِيْدَةً يَجُبُ عَلَىٰ كُلِّ مُكَلَّفٍ مَعْرِفَتُهَا بِأَدِلَّتِهَا عَلَىٰ مَا مَرَّ.

Maka inilah sembilan akidah yang berkaitan dengan para rasul—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—dan telah lewat penjelasan mengenai empat puluh satu akidah yang berkaitan dengan Tuhan yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Maka jumlah keseluruhannya adalah lima puluh akidah (Aqaid khamsin) yang wajib bagi setiap mukalaf untuk mengetahuinya beserta dalil-dalilnya berdasarkan apa yang telah lalu.

CATATAN KAKI :

CATATAN PENTING ABI :
الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ فِي حَقِّ الرُّسُلِ زِيَادَةٌ فِي الرِّفْعَةِ وَالدَّرَجَاتِ، وَلَيْسَتْ نَقْصاً كَمَا يَظُنُّ الْجَاهِلُونَ، وَفِيهَا أَعْظَمُ التَّسْلِيَةِ لِلْمُبْتَلَيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. [أَبِي طَؤُفُور]
Sifat-sifat kemanusiaan (Al-A'radh Al-Basyariyyah) pada hak para Rasul justru menambah ketinggian derajat mereka di sisi Allah, bukan suatu kekurangan sebagaimana dugaan orang jahil. Di dalamnya terdapat penghibur sekaligus teladan terbesar bagi kaum mukmin yang diuji penderitaan. [Abi Thoufur]
📍 Mufrodat & Pesan Khusus Abi Thoufur
أَعْرَاضٌ بَشَرِيَّةٌ (A'radh Basyariyyah) Karakteristik alami atau sifat baru yang lazim dialami manusia normal, seperti makan, tidur, nikah, maupun sakit ringan yang tidak mengurangi kemuliaan status kenabian mereka.
مُنَفِّرَةٌ (Munaffirah) Penyakit atau perkara buruk yang secara fitrah membuat manusia jijik atau lari menjauh (seperti kusta kronis, buta, gila). Sifat ini mustahil terjadi pada para nabi agar dakwah tidak terhambat.
سَهْوٌ vs نِسْيَانٌ (Sahwu vs Nisyan) Sahwu adalah lupa sesaat karena hati tersibukkan oleh Allah (boleh terjadi pada perbuatan shalat demi syariat). Nisyan adalah lupa total (mustahil terjadi pada materi syariat sebelum tersampaikan).
عَقَائِدُ خَمْسِينَ (Aqaid Khamsin) Lima puluh pilar akidah dalam mazhab Asy'ariyyah yang wajib diketahui tiap mukalaf secara terperinci, terdiri atas 41 sifat Allah (wajib, mustahil, jaiz) dan 9 sifat para Rasul Allah.

💡 Pesan Khusus Abi buat Murid: "Dengerin tong, ini poin penting banget biar tau batasan mengagungkan makhluk! Para Nabi dan Rasul itu emang manusia paling mulia sejagat raya, tapi inget, mereka itu *basyar* alias manusia juga, bukan malaikat apalagi tuhan. Jadi kalau mereka ngerasa laper, cape, tidur, nikah, atau kena penyakit meriang, ya itu hal wajar (*jaiz*). Tapi inget ada batasannya! Sakitnya para nabi itu gak bakal bikin orang jijik atau lari menjauh (*ghairu munaffir*). Kayak Nabi Ayyub AS, jangan bayangin penyakit kulitnya sampai borokan keluar belatung busuk ya, itu riwayat hoaks (israiliyat)! Penyakit beliau cuma di antara kulit dan tulang, wajah kemuliaannya tetep terjaga. Terus kalau para Nabi pernah lupa (*sahwu*) pas shalat, itu bukan karena pikun atau diganggu setan (setan mah gak punya jalan buat ngegoda batin Rasul!). Mereka lupa justru karena hatinya terlampau tenggelam, asyik dan khusyuk mengingat Allah SWT. Plus, hikmahnya jadi contoh fiqih sujud sahwi buat kita umatnya. Jadi kalau lu lagi dapet ujian sakit atau musibah di dunia, jangan ngeluh, 'Ya Allah kenapa saya diuji gini?'. Lah, Rasul aja yang kekasih Allah diuji sakit biar derajatnya makin meroket luhur, apalagi bentukan kita yang dosanya numpuk! Dunia ini bukan tempat balasan (*darul jaza'*), tong. Dunia ini tempat ujian, tempat kumpulin bekal akidah yang bener biar slamet di akhirat!"

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi