BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

TD 018

📖 NASKAH KITAB & TERJEMAH Ma'rifatul Anbiya' & Urutan Surah Al-An'am
MATAN (NAZHAM)
حَتْمٌ عَلَىٰ كُلِّ ذِيْ التَّكْلِيْفِ مَعْرِفَةٌ بِأَنْبِيَاءَ عَلَىٰ التَّفْصِيْلِ قَدْ عُلِمُوْا

Wajib atas setiap individu mukalaf untuk mengetahui para nabi secara terperinci,
yang mana mereka benar-benar telah diketahui (berdasarkan dalil).

فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا مِنْهُمْ ثَمَانِيَةٌ مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ وَيَبْقَىٰ سَبْعَةٌ وَهُمُ

Di dalam ayat *"Tilka Hujjatuna"* terdapat delapan,
belas nabi di antara mereka, dan tersisa tujuh nabi lagi, yaitu mereka:

إِدْرِيْسُ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَكَذَا ذُوْ الْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا

Idris, Hud, Syu'aib, Shalih, dan demikian pula
Dzul Kifli, Adam, dan dengan Al-Mukhtar (Nabi Muhammad ﷺ) para ulama mengakhiri urutannya.


SYARAH

فَقَوْلُ النَّاظِمِ (حَتْمٌ): خَبَرٌ مُقَدَّمٌ وَ(مَعْرِفَةٌ): مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ. وَقَوْلُهُۥ: (قَدْ عُلِمُوْا فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا)، أَيْ قَدْ عُلِمَ الْأَنْبِيَاءُ الْخَمْسَةُ وَالْعِشْرُوْنَ فِيْ الْقُرْآنِ، لَٰكِنْ فِيْ سُوْرَةِ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ مِنْهُمْ.

Perkataan Mushannif (حَتْمٌ) berkedudukan sebagai khabar muqaddam, sedangkan kata (مَعْرِفَةٌ) sebagai mubtada' mu'akhkhar. Dan perkataan beliau: (قَدْ عُلِمُوْا فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا) bermakna bahwa dua puluh lima nabi telah diketahui di dalam Al-Qur'an, akan tetapi di dalam Surah Al-An'am hanya disebutkan delapan belas nabi saja dari total keseluruhan mereka.

وَذَٰلِكَ قَوْلُهُۥ تَعَالَىٰ: ﴿وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ * وَوَهَبْنَا لَهُۥ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِۦ دَاوُوْدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ﴾(١).

Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta'ala: *"Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik"* (1).

فَاللهُ تَعَالَىٰ ذَكَرَ هُنَا ثَمَانِيَةَ عَشَرَ نَبِيًّا مِنْ غَيْرِ تَرْتِيْبٍ لَا بِحَسَبِ الزَّمَانِ وَلَا بِحَسَبِ الْفَضْلِ وَلَٰكِنْ لِنُكْتَةٍ لَطِيْفَةٍ أَوْجَبَتِ التَّرْتِيْبَ هُنَا وَهِيَ أَنَّ اللهَ ذَكَرَ أَوَّلًا نُوْحًا وَإِبْرَٰهِيْمَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوْبَ، لِأَنَّهُمْ أُصُوْلُ الْأَنْبِيَاءِ، ثُمَّ مِنَ الْمَرَٰتِبِ الْمُعْتَبَرَةِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ الْمُلْكُ وَالْقُدْرَةُ وَالسُّلْطَانُ وَقَدْ أَعْطَى اللهُ دَاوُوْدَ وَسُلَيْمَانَ مِنْ ذَٰلِكَ حَظًّا وَافِرًا،

Maka Allah Ta'ala menyebutkan delapan belas nabi di sini tanpa susunan urutan kronologis waktu maupun tingkatan keutamaan, melainkan karena adanya kandungan hikmah (nuktah) yang halus yang mengharuskan susunan tersebut di tempat ini. Yaitu bahwasanya Allah pertama-tama menyebutkan Nabi Nuh, Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub karena mereka merupakan tonggak asal-usul para nabi. Kemudian di antara tingkatan mulia yang diakui setelah kenabian adalah kepemilikan kerajaan, kekuatan, dan kekuasaan, dan sungguh Allah telah menganugerahkan bagian yang sangat melimpah mengenai hal itu kepada Nabi Dawud dan Sulaiman.

ثُمَّ مِنَ الْمَرَٰتِبِ الصَّبْرُ عِنْدَ نُزُوْلِ الْبَلَاءِ وَالْمِحَنِ وَالشَّدَائِدِ وَقَدْ خَصَّ اللهُ بِهَٰذِهِ أَيُّوْبَ ثُمَّ عُطِفَ عَلَىٰ هَاتَيْنِ الْمَرْتَبَتَيْنِ مَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا وَهُوَ يُوْسُفَ، فَإِنَّهُۥ صَبَرَ عَلَى الْبَلَاءِ وَالشِّدَّةِ حَتَّىٰ أَعْطَاهُ اللهُ مُلْكَ مِصْرَ مَعَ النُّبُوَّةِ، ثُمَّ مِنَ الْمَرَٰتِبِ الْمُعْتَبَرَةِ فِيْ فَضْلِ الْأَنْبِيَاءِ كَثْرَةُ الْمُعْجِزَاتِ وَكَثْرَةُ الْبَرَاهِيْنِ، وَقَدْ خَصَّ اللهُ مُوسَىٰ وَهَارُوْنَ مِنْ تِلْكَ بِالْحَظِّ الْوَافِرِ.

Kemudian termasuk tingkatan mulia berikutnya adalah ketabahan/kesabaran tatkala turunnya cobaan, ujian, dan kesengsaraan hidup, yang mana Allah mengkhususkan Nabi Ayyub dalam hal ini. Lalu diathafkan (disambungkan) atas kedua tingkatan ini sosok yang mengumpulkan perpaduan keduanya sekaligus, yaitu Nabi Yusuf; karena sesungguhnya ia sangat bersabar atas cobaan dan penderitaan berat hingga akhirnya Allah menganugerahinya kekuasaan atas negeri Mesir di samping kedudukan kenabian. Kemudian di antara tingkatan mulia yang diakui dalam keutamaan para nabi adalah banyaknya mukjizat serta limpahan bukti-bukti nyata, yang mana Allah mengkhususkan Nabi Musa dan Harun dengan bagian yang melimpah dari hal tersebut.

وَمِنَ الْمَرَٰتِبِ الْمُعْتَبَرَةِ الزُّهْدُ فِيْ الدُّنْيَا، وَقَدْ خَصَّ بِذَٰلِكَ زَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ، ثُمَّ ذَكَرَ اللهُ بَعْدَ هَٰؤُلَاءِ مَنْ لَمْ يَبْقَ لَهُۥ أَتْبَاعٌ وَلَا شَرِيْعَةٌ، وَهُمْ إِسْمَاعِيْلُ وَالْيَسَعُ وَيُوْنُسُ وَلُوْطٌ، فَإِذَا اعْتُبِرَتْ هَٰذِهِ اللَّطِيْفَةُ كَانَ هَٰذَا التَّرْتِيْبُ حَسَنًا وَاللهُ أَعْلَمُ. وَقَوْلُ النَّاظِمِ: وَيَبْقَىٰ سَبْعَةٌ، أَيْ وَيَبْقَىٰ مِنَ الْخَمْسَةِ وَالْعِشْرِيْنَ بَعْدَ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَبْعَةٌ، مَذْكُوْرَةٌ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَلِذَٰلِكَ ذَكَرَهُمْ.

Dan di antara tingkatan mulia yang diakui adalah kezuhudan terhadap kemewahan dunia, yang mana dikhususkan dalam hal itu Nabi Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas. Kemudian Allah menyebutkan setelah mereka para nabi yang tidak menyisakan lagi pengikut maupun syariat khusus (yang eksis bertahan), yaitu Nabi Isma'il, Al-Yasa', Yunus, dan Luth. Maka apabila kandungan hikmah yang halus ini diperhatikan, susunan urutan ini menjadi sangat indah, dan Allah Maha Mengetahui. Dan perkataan Mushannif (وَيَبْقَىٰ سَبْعَةٌ) bermakna: tersisa tujuh nabi lagi dari total dua puluh lima nabi setelah dikurangi delapan belas nabi terdahulu, yang mana nama mereka disebutkan di berbagai tempat yang banyak dalam Al-Qur'an al-'Azhim, dan oleh sebab itulah beliau menyebutkan mereka.

وَقَوْلُهُۥ: (بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا)، الْجَارُّ وَالْمَجْرُوْرُ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ مَعَ حَذْفِ الْعَاطِفِ، أَيْ وَقَدْ خَتَمَ الْأَنْبِيَاءَ وَالرُّسُلَ بِالنَّبِيِّ الْمُخْتَارِ عَلَىٰ جَمِيْعِ الْخَلْقِ، وَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ ﷺ.

Dan perkataan beliau: (بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا) susunan jar majrurnya berpaut (muta'alliq) kepada kata kerja dengan membuang huruf athaf, maknanya: Dan sungguh para ulama mengakhiri urutan para nabi dan rasul dengan menyertakan Nabi yang terpilih di atas seluruh makhluk, yaitu junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ.

فَأَفْضَلُ الْمَخْلُوْقَاتِ نَبِيُّنَا، ثُمَّ سَيِّدُنَا إِبْرَٰهِيْمُ، فَسَيِّدُنَا مُوْسَىٰ، فَسَيِّدُنَا عِيسَىٰ، فَسَيِّدُنَا نُوْحٌ، وَهَٰؤُلَاءِ الْخَمْسَةُ هُمْ أُوْلُوْ الْعَزْمِ، ثُمَّ بَقِيَّةُ الرُّسُلِ، ثُمَّ بَقِيَّةُ الْأَنْبِيَاءِ غَيْرِ الرُّسُلِ مَعَ تَفَاوُتِ مَرَٰتِبِهِمْ عِنْدَ اللهِ تَعَالَىٰ فَالْوَاجِبُ اعْتِقَادُ أَفْضَلِيَّةِ الْأَفْضَلِ عَلَىٰ وَفْقِ مَا وَرَدَ بِهِ الْحُكْمُ تَفْصِيْلًا فِيْ التَّفْصِيْلِىِّ وَإِجْمَالًا فِيْ الْإِجْمَالِيِّ، وَيَمْتَنِعُ الْهُجُوْمُ فِيْمَا لَم| يَرِدْ فِيْهِ إِذْنٌ مِنَ الشَّرْعِ.

Maka makhluk yang paling utama secara mutlak adalah Nabi kita (Muhammad ﷺ), kemudian junjungan kita Ibrahim, lalu junjungan kita Musa, lalu junjungan kita Isa, lalu junjungan kita Nuh. Dan kelima sosok ini merupakan rasul Ulul 'Azmi. Kemudian disusul golongan rasul sisanya, lalu tingkatan para nabi yang bukan rasul, disertai adanya perbedaan tingkatan kemuliaan mereka di sisi Allah Ta'ala. Maka hal yang wajib adalah meyakini keutamaan dari sosok yang paling utama sesuai dengan ketetapan hukum yang datang; secara terperinci pada bagian nabi yang tafshili dan secara garis besar pada bagian yang ijmali, serta terlarang keras gegabah menghukumi (al-hujum) pada perkara yang tidak ada landasan izinnya dari syariat.

CATATAN KAKI :

(١) سُورَةُ الْأَنْعَامِ: ٨٣ - ٨٤.

(1)  Surah Al-An'am: 83 - 84.
CATATAN PENTING ABI :
تَرْتِيبُ الْأَنْبِيَاءِ فِي سُورَةِ الْأَنْعَامِ لَيْسَ عَبَثًا بَلْ هُوَ لِنُكْتَةٍ بَلَاغِيَّةٍ بَدِيعَةٍ تَجْمَعُ بَيْنَ الْمُلْكِ وَالصَّبْرِ وَالزُّهْدِ، وَأَفْضَلِيَّةُ الْمُخْتَارِ ﷺ ثَابِتَةٌ قَطْعًا. [أَبِي طَؤُفُور]
Urutan penyebutan nama para nabi di dalam Surah Al-An'am bukanlah tanpa makna, melainkan mengandung rahasia sastra Al-Qur'an (nuktah balaghiyah) yang indah yang memadukan antara sisi kekuasaan, kesabaran, dan kezuhudan. Serta keutamaan mutlak Al-Mukhtar ﷺ telah tsabit (tetap) secara pasti. [Abi Thoufur]
📍 Mufrodat & Pesan Khusus Abi Thoufur
نُكْتَةٌ لَطِيْفَةٌ (Nuktah Lathifah) Kandungan makna atau pelajaran hikmah yang sangat halus, dalam, dan tersirat di balik redaksi ayat Al-Qur'an yang membutuhkan tadabur mendalam untuk memahaminya.
أُوْلُوْ الْعَزْمِ (Ulul 'Azmi) Gelar khusus bagi lima rasul (Muhammad ﷺ, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh) yang memiliki keteguhan, ketabahan, dan kesabaran yang luar biasa dalam mengemban dakwah.
اِمْتِنَاعُ الْهُجُوْمِ (Imtina'ul Hujum) Larangan keras bersikap gegabah, lancang, atau mendahului syariat dalam menghukumi atau menentukan derajat keutamaan sesuatu tanpa adanya dalil/izin eksplisit dari syara'.
الْمُخْتَارُ (Al-Mukhtar) Gelar bagi Nabi Muhammad ﷺ yang berarti "Yang Terpilih", karena beliau dipilih langsung oleh Allah SWT di atas seluruh makhluk-Nya dengan keutamaan mutlak.

💡 Pesan Khusus Abi buat Murid: "Nah tong, perhatiin baik-baik ya. Kalau kalian baca Surah Al-An'am ayat 83-84, di situ Allah sebutin 18 nama nabi secara acak, nggak urut berdasarkan garis waktu sejarahnya. Kenapa begitu? Ternyata di situlah indahnya mukjizat Al-Qur'an! Allah mengelompokkan mereka berdasarkan 'prestasi spiritual' dan ujian hidupnya. Ada kelompok nabi yang dikasih tahta kerajaan super kaya kayak Nabi Dawud dan Sulaiman, disusul nabi yang diuji penyakit parah tapi sabarnya tiada tanding yaitu Nabi Ayyub. Lalu ada perpaduan keduanya: udah ganteng, diuji berat di sumur dan penjara, eh ujungnya jadi penguasa Mesir, siapa lagi kalau bukan Nabi Yusuf! Dari sini kita belajar, mau hidup lu lagi di atas punya kuasa, atau lagi di bawah dapet cobaan bertubi-tubi, contoh teladannya udah lengkap di antara para nabi! Dan inget, tingkatan paling top (Afdholul Kholqi) secara mutlak dipegang oleh Nabi Muhammad ﷺ baru disusul para Ulul 'Azmi lainnya. Jadi, jangan malas ngaji tauhid ya, biar iman kita kokoh gak gampang goyah tergerus zaman!"

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi