BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim #01

السِّيرَةُ النَّبَوِيَّةُ
Sirah Nabawiyyah
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ
Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya.
دَعْوَةُ إِبْرَاهِيمَ
Doa Nabi Ibrahim.
عَبْدُ الْحَمِيدِ جُودَةَ السَّحَّارِ
Abdul Hamid Judah as-Sahhar.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ *
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ *
"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ، إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ *
"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
( الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ )
(Al-Qur'anul Karim)
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
— أَنَا دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى.
— Aku adalah doa ayahku Ibrahim dan kabar gembira dari Isa.
شَمْسٌ تَغِيبُ وَيَقْفُو إِثْرَهَا قَمَرٌ ، وَنُورُ صُبْحٍ وَبَعْدَهُ حُلْكٌ ، وَالْقَوَافِلُ تَنْسَابُ فِي مَعْبَدِ الْكَوْنِ إِلَى الشَّمَالِ ، وَالرِّيَاحُ تَهُبُّ مِنَ الْجَنُوبِ ، وَالْأَرْضُ وَشْيٌ وَالنَّسِيمُ مُعَنْبَرٌ ، قَدْ صَنَعَ فَصْلُ الرَّبِيعِ الرِّيَاضَ عُقُودًا ، وَحَلَّى الثَّرَى بِنُجُومِ الثُّرَيَّا ، وَالْتَفَّتِ الْغُصُونُ كَتَعَانُقِ الْأَحْبَابِ ، وَانْتَشَرَ النُّوَارُ الْأَصْفَرُ عَلَى جَبِينِ الصَّحْرَاءِ كَتَاجٍ مِنَ الذَّهَبِ النَّضَارِ عَلَى رَأْسِ عَرُوسٍ ، وَنَبَعَتِ الْعُيُونُ بِمَاءٍ زُلَالٍ ، وَسَالَتِ الْأَوْدِيَةُ بِالْحَيَاةِ ، وَرَاحَ كُلُّ رَكْبٍ يَلْتَمِسُ الْوَاحَاتِ فِي الطَّرِيقِ لِيَسْعَدَ بِطِيبِ ظِلٍّ ظَلِيلٍ ، وَتَرْتَاحُ الْأَرْوَاحُ فِي الْأَجْسَادِ .
Matahari terbenam dan diikuti oleh bulan, cahaya pagi disusul kegelapan. Kafilah-kafilah mengalir di kuil semesta menuju utara, angin bertiup dari selatan. Bumi berhias dan semilir angin mengharumkan, musim semi telah membuat taman-taman menjadi untaian bunga, menghiasi tanah dengan bintang-bintang suraya, dahan-dahan saling melilit bagai pelukan kekasih, dan bunga kuning terhampar di dahi padang pasir laksana mahkota emas murni di atas kepala pengantin. Mata air memancar dengan air jernih, lembah-lembah mengalirkan kehidupan, dan setiap rombongan pergi mencari oasis di jalan untuk menikmati teduhnya naungan, hingga jiwa-jiwa beristirahat di dalam raga.
وَكَانَتْ صَوَامِعُ الرُّهْبَانِ عَلَامَاتٍ عَلَى الطَّرِيقِ ، اعْتَكَفَ فِيهَا أُنَاسٌ فَرُّوا مِنَ الْحَيَاةِ وَضَجِيجِهَا وَانْقَطَعُوا لِلْعِبَادَةِ وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ، مَا دَارَ بِخَلَدِهِمْ أَنَّ الِانْعِزَالَ عَنِ النَّاسِ انْعِزَالٌ عَنِ الدِّينِ ، فَالْتَّقْوَى لَا تَعْرِفُ الْأَنَانِيَّةَ ، بَلْ هِيَ أَنْ يَتَجَاوَبُوا مَعَ أَنْفُسِهِمْ وَمَعَ الْعَالَمِ كُلِّهِ فِي سَبِيلِ الْخَيْرِ الْأَسْمَى .
Biara-biara rahib menjadi tanda di sepanjang jalan. Orang-orang yang lari dari kehidupan dan kebisingannya beritikaf di sana, memutus diri untuk beribadah seraya mengira mereka telah berbuat baik. Tidak terlintas di benak mereka bahwa mengasingkan diri dari manusia adalah mengasingkan diri dari agama. Sebab ketakwaan tidak mengenal keegoisan, melainkan bagaimana mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri dan seluruh dunia demi kebaikan tertinggi.
وَانْطَلَقَتِ الْقَوَافِلُ إِلَى دُومَةِ الْجَنْدَلِ حَيْثُ سُوقُهَا السَّوَى ، وَقَدْ نَسِيَ النَّاسُ أَنَّ أَوَّلَ مَنْ نَزَلَهَا كَانُوا أَبْنَاءَ دُومَا ابْنِ إِسْمَاعِيلَ وَكَانَ كُلُّ مَا يَذْكُرُونَهُ أَنَّ أُكَيْدِرَ غَرَسَ فِيهَا الْأَشْجَارَ وَأَعَادَ بِنَاءَهَا ، وَأَنَّ بَنِي كَلْبٍ يَنْزِلُونَهَا وَأَنَّهُمْ يَحْكُمُونَ السُّوقَ إِذَا مَا غَابَ عَنْهَا أُكَيْدِرُ مَلِكُهَا .
Kafilah-kafilah berangkat menuju Dumatul Jandal tempat pasar yang ramai. Orang-orang telah lupa bahwa yang pertama menempatinya adalah putra-putra Duma bin Ismail. Segala yang mereka ingat hanyalah bahwa Ukaidir menanam pohon-pohon di sana dan membangunnya kembali, serta bahwa Bani Kalb menempatinya dan mereka memimpin pasar jika Ukaidir, rajanya, sedang tidak ada.
وَجَاءَ أَوَّلُ يَوْمٍ مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ فَاجْتَمَعَ النَّاسُ لِلْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالْأَخْذِ وَالْعَطَاءِ ، وَكَانَتِ الْمُبَايَعَةُ بَيْعَ الْحَصَاةِ .
Datanglah hari pertama bulan Rabiul Awal, orang-orang berkumpul untuk jual beli dan tukar-menukar. Transaksi jual beli yang dilakukan adalah jual beli kerikil.
— ارْمِ هَذِهِ الْحَصَاةَ فَعَلَى أَيِّ ثَوْبٍ وَقَعَتْ فَهُوَ لَكَ بِدِرْهَمٍ .
— Lemparkan kerikil ini, pakaian mana pun yang terkena, maka itu menjadi milikmu dengan harga satu dirham.
— لِي بِعَدَدِ مَا خَرَجَ فِي الْقَبْضَةِ مِنَ الشَّيْءِ الْمَبِيعِ .
— Bagiku sebanyak yang keluar dalam genggaman dari barang yang dijual.
— لِي بِكُلِّ حَصَاةٍ دِرْهَمٌ .
— Bagiku setiap kerikil satu dirham.
— أَيُّ شَاةٍ أَصَبْتُهَا فَهِيَ لَكَ بِكَذَا .
— Kambing mana pun yang aku kena, maka itu menjadi milikmu dengan sekian harganya.
كَانُوا يُقَامِرُونَ بِالنَّهَارِ يَأْكُلُ بَعْضُهُمْ أَمْوَالَ بَعْضٍ بِالْبَاطِلِ . وَيَعْكُفُونَ فِي اللَّيْلِ عَلَى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَالنِّسَاءِ وَيَمْضُونَ الْوَقْتَ فِي اللَّهْوِ وَاللَّعِبِ ، فَثَقُلَتْ أَرْوَاحُهُمْ بِأَوْزَارِ الْأَجْسَادِ وَصَارُوا مُجَرَّدَ أَشْيَاءَ ، آمَالُهُمْ مَحْدُودَةٌ بِالْعَالَمِ الْأَرْضِيِّ الَّذِي يَتَنَفَّسُونَ فِيهِ ، وَسَعَادَتُهُمْ مَادِّيَّةٌ هَابِطَةٌ لَا تَزِيدُ عَلَى انْفِعَالَاتٍ تَتَلَاشَى وَلَذَّةٍ لَا تَدُومُ ، قَدْ أَوْغَلُوا فِي الْحَيَاةِ الْحَيَوَانِيَّةِ فَانْعَدَمَ انْسِجَامُهُمْ مَعَ إِنْسَانِيَّةِ الْإِنْسَانِ .
Mereka berjudi di siang hari, sebagian memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang batil. Di malam hari, mereka larut dalam khamr, judi, dan wanita, menghabiskan waktu dalam kesia-siaan dan permainan. Jiwa-jiwa mereka menjadi berat oleh beban raga dan mereka hanyalah sekadar benda. Cita-cita mereka terbatas pada dunia bumi tempat mereka bernapas, dan kebahagiaan mereka adalah materi rendah yang tidak lebih dari emosi yang sirna dan kenikmatan yang tidak abadi. Mereka tenggelam dalam kehidupan hewani hingga hilanglah keselarasan mereka dengan kemanusiaan manusia.
أَطْلَقُوا عَنَانَ نَزَوَاتِهِمْ وَعَوَاطِفِهِمْ فَاتَّجَهَتْ شَهَوَاتُهُمْ وَرَغَبَاتُهُمْ إِلَى غَايَاتٍ جَسَدِيَّةٍ ، فَأُهِيضَتْ أَجْنِحَةُ أَرْوَاحِهِمْ وَانْجَذَبَتْ إِلَى الْأَرْضِ ، وَسَيْطَرَتْ عَلَيْهِمْ أَنَانِيَّةٌ مُدَمِّرَةٌ طَاغِيَةٌ اسْتَبَدَّتْ بِهِمْ فَتَفَكَّكَتِ الْحَيَاةُ الْإِنْسَانِيَّةُ ، بَلْ صَارَتْ حَيَاةً ضَارِيَةً لَا تَحْتَرِمُ الْخَيْرَ الْإِنْسَانِيَّ الْعَامَّ . بَلْ تُقَدِّسُ كُلَّ مَا يَجْلِبُ مَنَافِعَ ذَاتِيَّةً أَوْ يُشْبِعُ شَهْوَةً عَارِمَةً ، لَا فَرْقَ بَيْنَ تِجَارَةٍ أَوْ مُضَارَبَةٍ أَوْ غَارَةٍ وَسَلْبٍ وَنَهْبٍ أَوْ سَفْكِ دَمٍ بَرِيءٍ أَوْ ظُلْمٍ أَوْ دِعَارَةٍ ، لَا تَمْيِيزَ بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ ، قَدْ سَادَ بَيْنَهُمْ قَانُونُ الْغَابِ .
Mereka melepas kendali hawa nafsu dan emosi, maka syahwat serta keinginan mereka mengarah pada tujuan jasmani. Sayap jiwa mereka patah dan tertarik ke bumi. Keegoisan yang menghancurkan dan melampaui batas menguasai mereka, sehingga kehidupan manusia menjadi berantakan, bahkan menjadi kehidupan yang buas, tidak menghormati kebaikan manusia secara umum. Sebaliknya, mereka mengagungkan apa pun yang membawa keuntungan pribadi atau memuaskan syahwat yang meluap. Tidak ada bedanya antara perdagangan, spekulasi, penyerbuan, perampokan, penjarahan, penumpahan darah tak berdosa, kedzaliman, atau pelacuran. Tidak ada perbedaan antara halal dan haram, hukum rimba telah berkuasa di antara mereka.
وَكَانُوا يَتَمَسَّحُونَ بِأَصْنَامِ الْآلِهَةِ الْتِمَاسًا لِلرِّزْقِ وَالْعَافِيَةِ فِي الدُّنْيَا ، وَمَا كَانَ مِحْرَابُ رَبِّهِمْ فِي أَغْوَارِ نُفُوسِهِمْ بَلْ كَانَ حَجَرًا يَحْمِلُونَهُ مَعَهُمْ إِذَا خَرَجُوا أَوْ يَلْتَقِطُونَهُ مِنْ هُنَا أَوْ هُنَاكَ ، وَمِنْ سَفَاهَةِ أَحْلَامِهِمْ تَعَصَّبُوا لِتِلْكَ الْحِجَارَةِ الَّتِي لَمْ يَكُنْ لَهَا عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ .
Mereka mengusap-usap berhala tuhan-tuhan untuk meminta rezeki dan kesehatan di dunia. Mihrab tuhan mereka tidak berada di kedalaman jiwa mereka, melainkan berupa batu yang mereka bawa saat keluar rumah atau yang mereka pungut di sana-sini. Karena kedunguan mimpi mereka, mereka fanatik terhadap batu-batu yang tidak memiliki kekuasaan atas mereka.
وَكَانُوا لَا يُؤْمِنُونَ بِبَعْثٍ وَلَا حِسَابٍ قَدْ ذَوَى النُّورُ الْمُقَدَّسُ فِي قُلُوبِهِمْ وَذَبَلَ ، وَخَفَتَ الضَّوْءُ الذَّهَبِيُّ الَّذِي يُشْرِقُ بِنُورِ رَبِّهِ بَعْدَ أَنْ قَدَّمُوا الْبُطُونَ وَالشَّهَوَاتِ عَلَى الْعُقُولِ وَنَقَاءِ النُّفُوسِ وَالْأَرْوَاحِ ، فَلَمْ يَكُنْ لِلْأَخْلَاقِ جُذُورٌ فِي عَيْنِ وُجُودِهِمْ ، وَمَا كَانَتْ لَهُمْ سُلْطَةٌ مُقَدَّسَةٌ تَتَفَجَّرُ مِنْهَا قَوَانِينُ الْخَيْرِ وَالْمَحَبَّةِ وَقَوَاعِدُ الْأَخْلَاقِ ، فَسَقَطَتْ كُلُّ الْقِيَمِ الْإِنْسَانِيَّةِ ، وَظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَأَصْبَحَتْ حَيَاتُهُمْ فَرَاغًا وَأَوْقَاتُهُمْ هَبَاءً .
Mereka tidak beriman pada kebangkitan dan perhitungan. Cahaya suci di hati mereka telah layu dan redup, serta cahaya keemasan yang bersinar dengan nur Tuhannya telah memudar setelah mereka mengedepankan perut dan syahwat di atas akal serta kemurnian jiwa dan ruh. Maka akhlak tidak memiliki akar dalam wujud mereka, dan mereka tidak memiliki otoritas suci yang darinya memancar hukum kebaikan, kasih sayang, dan aturan akhlak. Akibatnya, seluruh nilai kemanusiaan runtuh, kerusakan muncul di daratan dan lautan, serta hidup mereka menjadi kosong dan waktu mereka menjadi sia-sia.
قَطَعُوا كُلَّ الْعَلَائِقِ بِالذَّاتِ الْعَلِيَّةِ ، وَأَغْلَقُوا نَوَافِذَ قُلُوبِهِمْ دُونَ النُّورِ الْإِلَهِيِّ ، فَلَمْ يَرَوْا دَاخِلَ نُفُوسِهِمْ ، وَلَمْ يَعْرِفُوا ذَوَاتِهِمْ لِيَعْرِفُوا ذَاتَ اللَّهِ . وَعَجَزُوا عَنْ أَنْ يَسِيرُوا أَغْوَارَ الْكَوْنِ لِيَرْتَقُوا إِلَى مَا فَوْقَ الطَّبِيعَةِ وَإِلَى مَا وَرَاءِ عَالَمِهِمُ الْمَادِّيِّ ، فَضَلُّوا السَّبِيلَ وَاسْتَكَانُوا لِلشَّرِّ وَاسْتَجَابُوا لِعَوَاطِفِهِمُ الْجَامِحَةِ ، وَغَذَّوْا عَصَبِيَّتَهُمْ وَجَاهِلِيَّتَهُمْ بِحُطَامِ أَنْبَلِ الْمَبَادِئِ الْإِنْسَانِيَّةِ ، فَهَامُوا فِي طُرُقَاتٍ مُلْتَوِيَةٍ لَا تَقُودُ إِلَّا إِلَى الظَّلَامِ .
Mereka memutuskan semua hubungan dengan Dzat Yang Maha Tinggi, dan menutup jendela hati mereka dari cahaya Ilahi. Mereka tidak melihat ke dalam jiwa mereka, dan tidak mengenal diri mereka sendiri untuk mengenal Dzat Allah. Mereka tidak mampu menyelami kedalaman semesta untuk naik ke apa yang ada di atas alam dan di balik dunia materi mereka. Maka mereka tersesat dari jalan, tunduk pada kejahatan, dan menuruti emosi mereka yang liar. Mereka memberi makan kesukuan dan jahiliyah mereka dengan serpihan prinsip kemanusiaan yang paling mulia, hingga mereka tersesat di jalan-jalan berkelok yang hanya menuntun pada kegelapan.
صَارَ الْإِنْسَانُ مَادَّةً تَافِهَةً ، لَا يُؤْمِنُ إِلَّا بِمَا يَلْمِسُهُ بِيَدِهِ وَيَرَاهُ بِعَيْنِهِ وَيَذُوقُهُ بِلِسَانِهِ وَيَشُمُّهُ بِأَنْفِهِ وَيَسْمَعُهُ بِأُذُنِهِ ، فَاسْتَكَانَ لِحُدُودِهِ فَلَمْ يُحَاوِلْ أَنْ يَصْرَعَ الشَّرَّ أَوْ يُوَاصِلَ حَيَاةً ثَانِيَةً بَعْدَ الْمَوْتِ ، فَإِنْ كَانَ سَيِّدًا أَسْلَمَ نَفْسَهُ لِلشَّرَهِ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْعَوَاطِفِ ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا فَلِلذُّلِّ وَالْجُوعِ وَالْحِرْمَانِ ؛ قَدْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ سَادَةً وَعَبِيدًا .
Manusia menjadi materi yang remeh, tidak percaya kecuali pada apa yang disentuh tangannya, dilihat matanya, dirasakan lidahnya, dicium hidungnya, dan didengar telinganya. Maka ia tunduk pada batasannya dan tidak mencoba untuk menumbangkan kejahatan atau melanjutkan kehidupan kedua setelah kematian. Jika ia seorang tuan, ia menyerahkan dirinya pada keserakahan dalam makan, minum, dan emosi. Jika ia seorang budak, maka ia tunduk pada kehinaan, kelaparan, dan kerugian. Sungguh mereka telah mendzalimi diri mereka sendiri, baik tuan maupun budak.
وَكَانَتِ الْقَبَائِلُ مُتَشَاحِنَةً قَدْ نَزَلَتِ الْبَغْضَاءُ قُلُوبَهُمْ ، فَالْعَدَاوَاتُ مَشْبُوبَةٌ ، وَالْحُرُوبُ دَائِرَةٌ ، وَالثَّارَاتُ لَا يَخْبُو أُوَارُهَا ، وَالشُّعَرَاءُ يَهِيمُونَ فِي الْأَوْدِيَةِ يُؤَجِّجُونَ نِيرَانَ الْكَرَاهِيَةِ ، وَسُوسُ الْفَسَادِ يَنْخَرُ فِي الْمُجْتَمَعِ وَيُشِيعُ التَّحَلُّلَ وَالِانْحِطَاطَ ؛ فَصَارَتْ رِحْلَةُ الْحَيَاةِ بِلَا هَدَفٍ ، تَشُقُّ طَرِيقَهَا فِي شِعَابِ الْقَسْوَةِ وَبَيْدَاءِ الضَّيَاعِ وَعَفَنِ الْبَشَرِيَّةِ .
Suku-suku saling bersengketa, kebencian telah turun ke hati mereka. Permusuhan berkobar, peperangan berputar, dendam yang apinya tidak pernah padam, dan para penyair mengembara di lembah-lembah mengobarkan api kebencian. Rayap kerusakan menggerogoti masyarakat dan menyebarkan penguraian serta kerendahan. Perjalanan hidup menjadi tanpa tujuan, menempuh jalannya di celah-celah kekejaman, padang pasir kesesatan, dan kebusukan kemanusiaan.
وَنَسَى الْبَشَرُ أَرْضَ اللَّهِ ، فَصَارَتْ فِي أَشَدِّ الْحَاجَةِ إِلَى غَيْثٍ مِنَ السَّمَاءِ يُطَهِّرُهَا لِتَسْتَمِرَّ عَلَيْهَا الْحَيَاةُ الْكَرِيمَةُ الَّتِي تَلِيقُ بِالْإِنْسَانِ الَّذِي قَبِلَ أَنْ يَحْمِلَ الْأَمَانَةَ ؛ إِلَى رَسُولٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُؤَيَّدٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُعِيدُ الْبَعْثَ الرُّوحِيَّ إِلَى النَّاسِ ، وَيَرْتَقِي بِالنَّظْرَةِ إِلَى الْحَيَاةِ فَيَقْتَلِعُ الشُّرُورَ مِنْ نُفُوسِ الْبَشَرِ وَيُحَقِّقُ انْتِصَارَ الْإِنْسَانِ .
Manusia melupakan bumi Allah, maka ia berada dalam kebutuhan yang sangat akan hujan dari langit yang menyucikannya agar kehidupan mulia yang pantas bagi manusia—yang menerima untuk memikul amanah—dapat berlanjut. Mereka membutuhkan utusan dari sisi Allah, didukung oleh Allah, yang mengembalikan kebangkitan ruhani kepada manusia, meningkatkan pandangan terhadap kehidupan, mencabut kejahatan dari jiwa manusia, dan mewujudkan kemenangan manusia.
وَتَقَضَّتْ أَيَّامُ سُوقِ دُومَةِ الْجَنْدَلِ بِمَا فِيهَا مِنْ مُقَامَرَةٍ وَهَضْمٍ لِلْحُقُوقِ وَوُلُوغٍ فِي الدَّنَايَا الَّتِي تَحُطُّ مِنْ قَدْرِ الْبَشَرِ ، فَانْقَلَبَتْ بَعْضُ الْقَبَائِلِ إِلَى مَنَازِلِهَا . وَانْطَلَقَ بَعْضُ التُّجَّارِ إِلَى الْحِيرَةِ وَبِلَادِ فَارِسَ ، وَيَمَّمَ بَعْضُ التُّجَّارِ إِلَى بِلَادِ الشَّامِ وَبِلَادِ الرُّومِ ، وَتَوَغَّلَ بَعْضُ تُجَّارٍ مِنْ كَلْبٍ فِي الْبِلَادِ الرُّومِيَّةِ حَتَّى بَلَغُوا عَمُورِيَّةَ .
Hari-hari pasar Dumatul Jandal berlalu dengan segala perjudian, perampasan hak, dan tindakan rendah yang menjatuhkan derajat manusia di dalamnya. Maka sebagian suku kembali ke kediaman mereka. Sebagian pedagang berangkat ke Hirah dan negeri Persia, sebagian menuju negeri Syam dan Romawi, dan sebagian pedagang dari suku Kalb masuk jauh ke negeri Romawi hingga mencapai Ammuriyah.
كَانَتِ الثَّعَالِبُ السُّودُ تَمْرَحُ فِي شِعَابِ الْجِبَالِ ، وَالْأَرَانِبُ الْبِيضُ تَمُرُّ مَذْعُورَةً إِذَا مَا عَكَّرَ سُكُونَ الْفَضَاءِ وَقْعُ حَوَافِرِ الْخَيْلِ عَلَى الْأَرْضِ الصَّلْبَةِ ، وَفَاحَتْ رَوَائِحُ الْمِسْكِ وَاعْتَرَى الْعَرَبَ سُرُورٌ لَا يَدْرُونَ مَبْعَثَهُ ، فَقَدْ كَانَ كُلُّ مَنْ يَفِدُ إِلَى هَذِهِ الْبِلَادِ يَنْعَمُ بِنَشْوَةٍ تَمْلَأُ جَوَانِحَهُ .
Rubah-rubah hitam bersuka ria di celah-celah gunung, kelinci-kelinci putih lewat dengan ketakutan jika ketenangan ruang terusik oleh ketukan kuku kuda di atas tanah yang keras. Aroma minyak kasturi semerbak, dan orang-orang Arab diliputi kesenangan yang mereka tidak tahu asal-usulnya, sebab setiap orang yang datang ke negeri ini menikmati kegembiraan yang memenuhi sanubarinya.
وَانْسَابَ تُجَّارُ كَلْبٍ فِي أَسْوَاقِ عَمُورِيَّةَ ، كَانَتِ الْمَتَاجِرُ كَثِيرَةً وَالْبَضَائِعُ مِنْ طُرُفٍ وَحَرِيرٍ وَمَصْنُوعَاتٍ مُكَدَّسَةً هُنَا وَهُنَاكَ ، فَرَاحَ التُّجَّارُ الْعَرَبُ يَشْتَرُونَ بِمَا مَعَهُمْ مِنْ عَمَلَاتِ قَيْصَرَ ، وَيَبِيعُونَ الطِّيبَ وَالسُّيُوفَ الْيَمَانِيَّةَ ، وَيَسْتَبْدِلُونَ الْعَمَلَاتِ لَدَى الصَّيَارِفَةِ الَّذِينَ انْتَشَرُوا فِي كُلِّ مَكَانٍ لِيَسْتَفِيدُوا مِنْ فُرُوقِ أَسْعَارِهَا .
Pedagang suku Kalb mengalir ke pasar-pasar Ammuriyah. Toko-toko sangat banyak, barang dagangan dari berbagai jenis, sutra, dan kerajinan menumpuk di sana-sini. Pedagang Arab mulai membeli dengan mata uang kaisar yang mereka miliki, menjual minyak wangi dan pedang Yaman, serta menukarkan mata uang kepada para penukar uang yang tersebar di mana-mana untuk mengambil keuntungan dari perbedaan harganya.
وَكَانَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ يَعِيشُ فِي عَمُورِيَّةَ عَلَى أَمَلِ أَنْ يَجِدَ مَنْ يَحْمِلُونَهُ إِلَى أَرْضِ الْعَرَبِ بَعْدَ أَنْ سَمِعَ مِنْ صَاحِبِهِ أَنْ قَدْ أَظَلَّ زَمَانُ نَبِيٍّ ، وَهُوَ مَبْعُوثٌ بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَخْرُجُ بِأَرْضِ الْعَرَبِ مُهَاجَرُهُ إِلَى أَرْضٍ بَيْنَ حَرَّتَيْنِ . فَلَمَّا مَرَّ بِهِ التُّجَّارُ الْعَرَبُ هَرَعَ إِلَيْهِمْ مُتَفَرِّحًا وَرَاحَ يُحَدِّثُهُمْ ، فَعَلِمَ أَنَّهُمْ مِنْ كَلْبٍ فَقَالَ لَهُمْ وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى بَقَرَاتِهِ وَغُنَيْمَاتِهِ :
Salman Al-Farisi tinggal di Ammuriyah dengan harapan menemukan orang yang membawanya ke tanah Arab setelah mendengar dari sahabatnya bahwa zaman kenabian telah tiba. Nabi tersebut diutus dengan agama Ibrahim AS, muncul di tanah Arab, dan hijrahnya ke tanah di antara dua padang batu hitam (harratain). Ketika pedagang Arab melewatinya, ia bergegas kepada mereka dengan gembira dan berbicara kepada mereka. Ia mengetahui bahwa mereka dari suku Kalb, lalu ia berkata kepada mereka seraya menatap sapi-sapi dan kambing-kambing kecilnya:
— احْمِلُونِي إِلَى أَرْضِ الْعَرَبِ وَأُعْطِيكُمْ بَقَرَاتِي هَذِهِ وَغُنَيْمَاتِي هَذِهِ .
— Bawalah aku ke tanah Arab, dan aku akan berikan sapi-sapiku ini dan kambing-kambing kecilku ini kepada kalian.
قَالُوا وَالطَّمَعُ يَسِيلُ مَعَ لُعَابِهِمْ وَالْجَشَعُ يَطُلُ مِنْ عُيُونِهِمْ :
Mereka menjawab, sementara ketamakan mengalir bersama air liur mereka dan keserakahan tampak dari mata mereka:
— نَعَمْ .
— Ya.
وَسَاقُوا بَقَرَاتِ سَلْمَانَ وَغُنَيْمَاتِهِ إِلَى حَيْثُ أَنَاخُوا قَافِلَتَهُمْ ، ثُمَّ حَمَلُوهُ مَعَهُمْ يَكَادُ يَطِيرُ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ وَقَدْ هَانَ كُلُّ شَيْءٍ فِي عَيْنَيِ الْبَاحِثِ عَنِ الْحَقِيقَةِ ، فَهُوَ فِي طَرِيقِهِ إِلَى النُّورِ الَّذِي يَنْشُدُهُ ، النُّورِ الَّذِي هَجَرَ الْأَهْلَ وَالْخِلَّانَ فِي سَبِيلِهِ ، النُّورِ الَّذِي يُبَدِّدُ الْقَلَقَ وَالْحَيْرَةَ وَالشُّكُوكَ وَيُنْزِلُ بِالْقَلْبِ أَنْوَارَ الْيَقِينِ .
Mereka menggiring sapi-sapi dan kambing-kambing Salman ke tempat mereka menambatkan kafilah. Kemudian mereka membawanya bersama mereka; ia hampir terbang karena sangat gembira, sementara segala sesuatu menjadi remeh di mata pencari kebenaran itu. Ia sedang dalam perjalanan menuju cahaya yang dicarinya, cahaya yang demi mendapatkannya ia meninggalkan keluarga dan sahabat, cahaya yang menghapus keresahan, kebingungan, dan keraguan, serta menurunkan cahaya keyakinan ke dalam hati.
انْصَرَفَتْ رَغْبَتُهُ عَنْ كُلِّ مَا حَصَلَ مِنْ عِلْمِ الْمَجُوسِ وَعِلْمِ النَّصْرَانِيَّةِ ، وَعَنِ الِاسْتِقْرَارِ الَّذِي ذَاقَ طَعْمَهُ فِي عَمُورِيَّةَ ، وَعَنِ الْبَقَرَاتِ وَالْغُنَيْمَاتِ الَّتِي اقْتَنَاهَا إِلَى الْخَيْرِ الْأَسْمَى الَّذِي يَنْشُدُهُ ، إِلَى جَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ الَّتِي صَارَتْ هَدَفَ حَيَاتِهِ ، فَقَدْ زَهَدَ فِي الدُّنْيَا وَفِي كُلِّ مَا تَجْلِبُهُ مِنْ مَسَرَّاتٍ رَغْبَةً فِي سُرُورٍ رُوحِيٍّ وَحُبًّا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ الَّذِي يُنِيرُهُ قَلْبٌ مُؤْمِنٌ أَشْرَقَ بِنُورِ رَبِّهِ .
Hasratnya berpaling dari segala ilmu Majusi dan Nasrani yang ia peroleh, dari kemapanan yang ia rasakan di Ammuriyah, dari sapi dan kambing yang ia kumpulkan, beralih pada kebaikan tertinggi yang dicarinya, menuju inti kebenaran yang menjadi tujuan hidupnya. Ia zuhud terhadap dunia dan segala kesenangan yang dibawanya, karena hasrat akan kegembiraan ruhani dan kecintaan pada kelapangan dada yang disinari oleh hati beriman yang bersinar dengan cahaya Tuhannya.
إِنَّهُ زَاهِدٌ مُطْلَقٌ لَا يُحِبُّ إِلَّا اللَّهَ وَلَا يُرِيدُ إِلَّا وَجْهَهُ ، تَرَكَ حَظَّ نَفْسِهِ فِي أَصْبَهَانَ وَفِي نَصِيبِينَ وَفِي الْمَوْصِلِ وَفِي عَمُورِيَّةَ ، وَزَالَتْ عَنْهُ كُلُّ رَغْبَةٍ فِي جَمْعِ مَالٍ أَوْ اقْتِنَاءِ أَرْضٍ أَوْ مَتَاعٍ أَوْ سُلْطَةٍ أَوْ سُلْطَانٍ . وَلَمْ تَبْقَ لَهُ إِلَّا رَغْبَةٌ وَاحِدَةٌ : أَنْ يَلْتَقِيَ بِذَلِكَ النَّبِيِّ الْعَرَبِيِّ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ وَبَشَّرَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ لِيَأْخُذَ بِيَدِهِ إِلَى طَرِيقِ الْحَقِّ . وَهَلْ يَقُودُهُ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ مِثْلُ نَبِيٍّ !
Ia adalah seorang zahid mutlak, tidak mencintai kecuali Allah dan tidak menginginkan kecuali wajah-Nya. Ia meninggalkan bagian dirinya di Ashfahan, Nashibin, Mosul, dan Ammuriyah. Hilanglah darinya segala hasrat untuk mengumpulkan harta, memiliki tanah, barang, otoritas, atau kekuasaan. Tidak tersisa baginya kecuali satu hasrat: bertemu dengan Nabi Arab yang telah dikabarkan olehnya dan dikabarkan oleh para nabi, agar beliau menuntun tangannya ke jalan kebenaran. Dan adakah yang menuntunnya ke jalan yang lurus seperti seorang nabi!
نَبَذَ الدُّنْيَا وَلَمْ يَتَّخِذْهَا رَبًّا لِكَيْلَا تَتَّخِذَهُ عَبْدًا ، وَنَبَذَ الشَّهْوَةَ فَرُبَّ شَهْوَةٍ أَوْرَثَتْ حُزْنًا طَوِيلًا ، وَقَطَعَ كُلَّ عَلَائِقِهِ بِالْمَادِّيَّاتِ فِي سَبِيلِ غَايَةٍ أَسْمَى تَجْذِبُهُ إِلَى مَلَكُوتِ السَّمَاءِ فَأَخْرَجَ مِنْ قَلْبِهِ حُبَّ الدُّنْيَا وَأَدْخَلَ فِيهِ حُبَّ الْغَايَةِ الَّتِي لَيْسَ وَرَاءَهَا غَايَةٌ ، فَاخْتَارَ جُوعَ الدُّنْيَا عَلَى شِبَعِهَا ، وَفَقْرَ الدُّنْيَا عَلَى غِنَاهَا ، وَحُزْنَ الدُّنْيَا عَلَى فَرَحِهَا ، وَصَبَرَ عَلَى مَكْرُوهِهَا وَصَبَرَ عَنْ مَحْبُوبِهَا طَمَعًا فِي حَيَاةٍ رُوحِيَّةٍ سَامِيَةٍ تَشْبَعُهُ أَبَدًا وَتُغْنِيهِ أَبَدًا وَتَشْرَحُ صَدْرَهُ أَبَدًا وَتُهَوِّنُ عَلَيْهِ مَصَائِبَ الْأَيَّامِ ، فَصَارَ يَرَى بِنُورِ اللَّهِ وَيُفَكِّرُ بِهَدْيِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الَّذِي بَاتَ يُحِسُّهُ فِي عَيْنِ ذَاتِهِ ، وَأَصْبَحَتْ كُلُّ آمَالِهِ وَمُنْتَهَى أَمَانِيهِ أَنْ يَلْتَقِيَ بِذَلِكَ النَّبِيِّ وَيُؤْمِنَ بِهِ وَيُصَدِّقَهُ لِيَعِيشَ فِي شُعَاعِ شَمْسِهِ حَوَارِيًّا كَحَوَارِيِّي السَّيِّدِ الْمَسِيحِ عَلَيْهِ السَّلَامُ .
Ia mencampakkan dunia dan tidak menjadikannya tuhan agar dunia tidak menjadikannya budak. Ia mencampakkan syahwat, karena banyak syahwat yang mewariskan kesedihan panjang. Ia memutuskan semua ikatannya dengan hal-hal materi demi tujuan yang lebih tinggi yang menariknya ke kerajaan langit. Ia mengeluarkan dari hatinya cinta dunia dan memasukkan ke dalamnya cinta pada tujuan yang tidak ada tujuan lagi di baliknya. Ia memilih lapar dunia daripada kenyangnya, miskin dunia daripada kayanya, sedih dunia daripada bahagianya. Ia bersabar atas kebenciannya dan bersabar terhadap hal yang dicintainya karena mengharap kehidupan ruhani luhur yang memuaskannya selamanya, mengkayakannya selamanya, melapangkan dadanya selamanya, dan meringankan musibah-musibah hari. Ia pun melihat dengan cahaya Allah dan berpikir dengan petunjuk Tuhan semesta alam yang ia rasakan di dalam dirinya sendiri. Seluruh cita-citanya dan puncak harapannya adalah bertemu Nabi tersebut, beriman kepadanya, dan membenarkannya agar hidup dalam pancaran cahayanya sebagai pengikut setia seperti pengikut setia Sayyid Al-Masih AS.
إِنَّهُ جَرَّبَ الرَّهْبَنَةَ وَالْعُكُوفَ فِي الْكَنَائِسِ وَتَمْضِيَةَ النَّهَارِ وَاللَّيْلِ فِي الْمَحَارِيبِ يُرَدِّدُ مَا لُقِّنَ مِنْ ابْتِهَالَاتٍ ، غَيْرَ أَنَّ طُولَ السَّهَرِ وَالْقِيَامِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَالِاجْتِهَادَ فِي الصَّلَوَاتِ لَمْ تَشْرَحْ صَدْرَهُ وَلَمْ تَكْشِفْ لَهُ عَنْ لُبِّ الْحَقِيقَةِ ، فَظِلَالُ الشَّكِّ تَرِينُ عَلَى مَا حَاوَلَ أَنْ يُدْخِلَ قَلْبَهُ مِنْ مُعْتَقَدَاتٍ ، وَهُوَ يُرِيدُهَا حَقِيقَةً نَاصِعَةً نَقِيَّةً بِلَا ظِلَالٍ مِنْ رَيْبٍ . فَمَا إِنْ سَمِعَ عَنْ قُرْبِ ظُهُورِ نَبِيٍّ يَأْتِيهِ الْخَبَرُ مِنَ السَّمَاءِ حَتَّى زَهَدَ فِي الرَّهْبَنَةِ وَفِي الدِّينِ الَّذِي وَجَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ دِينِ قَوْمِهِ وَإِنْ لَمْ يُهْدِهِ الطُّمَأْنِينَةَ الْخَالِصَةَ ، فَهُوَ رَاغِبٌ فِي الصَّفَاءِ الَّذِي لَمْ تُعَكِّرْهُ أَسَاطِيرُ الشُّعُوبِ وَلَا أَهْوَاءُ الرُّهْبَانِ وَلَا مَطَامِعُ الْقَيَاصِرَةِ الَّذِينَ فَرَضُوا إِرَادَتَهُمْ عَلَى الْمَجَامِعِ الْمَسْكُونِيَّةِ الَّتِي شَرَّعَتْ فِي الدِّينِ مَا يَرْضَى أَصْحَابَ النُّفُوذِ وَالسُّلْطَانِ .
Ia telah mencoba kerahiban dan berdiam di gereja-gereja, menghabiskan siang dan malam di mihrab seraya mengulang-ulang doa-doa yang diajarkan. Namun, lamanya begadang dan berdiri di tengah malam dan siang, serta kesungguhan dalam shalat tidak melapangkan dadanya dan tidak menyingkapkan inti kebenaran kepadanya. Bayang-bayang keraguan menutupi keyakinan yang ia coba masukkan ke dalam hatinya, sementara ia menginginkannya sebagai kebenaran yang bersih dan murni tanpa bayang-bayang keraguan. Begitu mendengar kabar tentang dekatnya munculnya seorang nabi yang mendapatkan kabar dari langit, ia menjadi zuhud terhadap kerahiban dan agama yang ia temukan lebih baik dari agama kaumnya, meskipun tidak memberinya ketenangan yang murni. Ia mendambakan kejernihan yang tidak dikeruhkan oleh mitos-mitos bangsa, hawa nafsu rahib, maupun ketamakan para kaisar yang memaksakan kehendak mereka pada majelis-majelis ekumenis yang menetapkan syariat agama untuk memuaskan orang-orang berpengaruh dan berkuasa.
وَانْطَلَقَتِ الْقَافِلَةُ وَسَلْمَانُ بَيْنَ الرِّجَالِ وَإِنْ غَابَ عَنْهُمْ بِمَا فِي فُؤَادِهِ مِنْ أَشْوَاقٍ وَمَا فِي رَأْسِهِ مِنْ أَفْكَارٍ ، فَلَمْ يَعُدْ هَمُّهُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا بَلْ صَارَ يَرَى بِعَيْنِ بَصِيرَتِهِ جَمَالَ الْجَمَالِ ، بَعْدَ أَنْ أَجْرَى اللَّهُ يَنَابِيعَ الْحِكْمَةِ فِي قَلْبِهِ وَأَصْبَحَ هَمُّهُ جَوْهَرَ الْحَقِيقَةِ وَوَجْهَ اللَّهِ .
Kafilah pun berangkat, dan Salman bersama para pria, meski ia absen dari mereka dengan kerinduan di dalam hatinya dan pemikiran di kepalanya. Perhatiannya bukan lagi perhiasan dunia, melainkan ia mulai melihat dengan mata batinnya keindahan segala keindahan, setelah Allah mengalirkan mata air hikmah ke dalam hatinya, sehingga perhatiannya menjadi inti kebenaran dan wajah Allah.
وَبَلَغَتِ الْقَافِلَةُ وَادِيَ الْقُرَى وَقَدْ غَمَرَتِ السَّعَادَةُ سَلْمَانَ ، فَهُوَ فِي أَرْضِ الْعَرَبِ مَبْعَثُ ذَلِكَ النَّبِيِّ الَّذِي خَرَجَ فِي طَلَبِهِ . وَزَادَ فِي سَعَادَتِهِ أَنَّهُ أَحَسَّ أَنَّ اللَّهَ أَرَادَ لَهُ الرُّشْدَ وَالْهِدَايَةَ بَعْدَ طُولِ التَّأَمُّلِ وَالْبَحْثِ وَالْحَيْرَةِ .
Kafilah mencapai Wadi Al-Qura dan kebahagiaan menyelimuti Salman, karena ia berada di tanah Arab, tempat diutusnya Nabi yang ia cari. Kebahagiaannya bertambah karena ia merasa Allah menghendaki baginya petunjuk dan hidayah setelah sekian lama perenungan, pencarian, dan kebingungan.
سَارَ سَلْمَانُ مَعَ تُجَّارِ كَلْبٍ فِي السُّوقِ يَتَلَفَّتُ وَإِذَا بِالرِّجَالِ الَّذِينَ مَا أَعْطَاهُمْ بَقَرَاتِهِ وَغُنَيْمَاتِهِ لِيَحْمِلُوهُ مَعَهُمْ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ وَقَدْ أَطَلَّ الْغَدْرُ مِنْ أَعْيُنِهِمْ ، فَانْقَضُّوا عَلَيْهِ وَأَسَرُوهُ بِضَاعَةً وَعَرَضُوهُ بَيْنَ مَا عَرَضُوا مِنْ رَقِيقٍ .
Salman berjalan bersama pedagang suku Kalb di pasar, ia menoleh, dan ternyata para pria yang ia berikan sapi dan kambingnya agar mereka membawanya bersama mereka, saling pandang sementara pengkhianatan muncul dari mata mereka. Mereka menerjangnya, menjadikannya tawanan komoditas, dan memajangnya di antara budak-budak yang mereka tawarkan.
وَلَفَّ سَلْمَانَ حُزْنٌ عَمِيقٌ ، فَقَدَ فِي لَحْظَةٍ حُرِّيَّتَهُ وَهُوَ الَّذِي عَاشَ طَوَالَ حَيَاتِهِ حُرًّا يَنْطَلِقُ مِنْ بَلْدَةٍ إِلَى بَلْدَةٍ كَفَرَاشَةٍ طَلِيقَةٍ جَرْيًا وَرَاءَ وَجْهِ الْحَقِيقَةِ ، وَزَادَ فِي أَسَاهُ أَنَّ هَؤُلَاءِ الْعَرَبَ الَّذِينَ سَيَخْرُجُ مِنْهُمْ ذَلِكَ النَّبِيُّ الَّذِي سَيُبْعَثُ بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَدْ ظَلَمُوهُ وَبَاعُوهُ لِرَجُلٍ يَهُودِيٍّ عَبْدًا ، وَلَمْ يَسْتَسْلِمْ لِثَوْرَةِ عَوَاطِفِهِ فَمَا لَبِثَ أَنْ ضَاءَتْ بَصِيرَتُهُ حَقِيقَةَ أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَا يُبْعَثُونَ إِلَى أَقْوَامٍ صَالِحِينَ ، فَمَا رَآهُ مِنْ هَؤُلَاءِ النَّفَرِ مِنْ تُجَّارِ كَلْبٍ مُذْ غَادَرَ مَعَهُمْ عَمُورِيَّةَ إِلَى أَنْ بَاعُوهُ فِي وَادِي الْقُرَى يُؤَكِّدُ حَاجَتَهُمْ إِلَى رَسُولٍ يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ .
Kesedihan mendalam menyelimuti Salman. Dalam sekejap ia kehilangan kebebasannya, padahal ia telah hidup sepanjang hayatnya sebagai orang bebas, bergerak dari kota ke kota bagaikan kupu-kupu lepas, berlari mengejar wajah kebenaran. Kesusahannya bertambah karena orang-orang Arab yang darinya Nabi yang diutus dengan agama Ibrahim AS akan muncul, justru mendzaliminya dan menjualnya kepada seorang Yahudi sebagai budak. Ia tidak menyerah pada gejolak emosinya, dan tak lama kemudian mata batinnya disinari oleh kenyataan bahwa para nabi tidak diutus kepada kaum yang saleh. Apa yang ia lihat dari orang-orang pedagang suku Kalb itu sejak meninggalkan Ammuriyah bersama mereka hingga mereka menjualnya di Wadi Al-Qura, menegaskan kebutuhan mereka akan seorang Rasul yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.
وَانْطَلَقَ سَلْمَانُ خَلْفَ سَيِّدِهِ الْيَهُودِيِّ مُطْرِقَ الرَّأْسِ يُفَكِّرُ فِي حِكْمَةِ أَسْرِهِ فَلَمْ يَهْتَدِ عَقْلُهُ إِلَى السِّرِّ الدَّفِينِ ، فَمَا كَانَتْ عِنْدَهُ مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ لِيَطَّلِعَ عَلَى مَا يُخَبِّئُهُ لَهُ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ ، وَكَانَ الْأَسَى يَعْتَصِرُ فُؤَادَهُ وَلَكِنَّهُ لَمْ يَدْعُ الْيَأْسَ يَتَسَرَّبُ إِلَى قَلْبِهِ ، وَكَيْفَ يَعْرِفُ الْيَأْسُ طَرِيقَهُ إِلَى قَلْبٍ أَشْرَقَ بِالنُّورِ ؟
Salman berangkat di belakang tuannya yang Yahudi dengan menundukkan kepala, memikirkan hikmah penawanannya, namun akalnya tidak sampai pada rahasia yang terpendam. Ia tidak memiliki kunci-kunci ghaib untuk mengetahui apa yang disimpan baginya oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kesusahan meremas hatinya, namun ia tidak membiarkan keputusasaan merembes ke dalam hatinya. Bagaimana keputusasaan bisa mengetahui jalan menuju hati yang telah disinari oleh cahaya?
وَرَاحَ سَلْمَانُ يَعْمَلُ فِي أَرْضِ ذَلِكَ الْيَهُودِيِّ ، وَرَأَى النَّخْلَ فَاسْتَبْشَرَ ..، فَصَاحِبُهُ قَالَ لَهُ وَهُوَ يُحَدِّثُهُ عَنِ النَّبِيِّ الْعَرَبِيِّ : يَخْرُجُ بِأَرْضِ الْعَرَبِ ، مُهَاجَرُهُ إِلَى أَرْضٍ بَيْنَ حَرَّتَيْنِ بَيْنَهُمَا نَخْلٌ ، بِهِ عَلَامَاتٌ لَا تَخْفَى . فَهَرَعَ سَلْمَانُ يَطُوفُ بِوَادِي الْقُرَى بَحْثًا عَنِ الْحَرَّتَيْنِ : عَنِ الْأَرْضِ ذَاتِ الْحِجَارَةِ السُّودِ وَقَدِ امْتَلَأَتْ جَوَانِحُهُ بِالْأَمَلِ وَالرَّجَاءِ ، وَلَكِنْ فَتَرَتْ حَمَاسَتُهُ لَمَّا لَمْ يَجِدِ الصِّفَةَ الَّتِي حَدَّثَهُ بِهَا صَاحِبُهُ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفِ الْيَأْسُ إِلَى قَلْبِهِ سَبِيلًا .
Salman mulai bekerja di tanah milik Yahudi itu. Ia melihat pohon kurma lalu bergembira. Sahabatnya pernah berkata kepadanya saat menceritakan tentang Nabi Arab: "Beliau muncul di tanah Arab, hijrahnya ke tanah di antara dua padang batu hitam (harratain) yang di antaranya terdapat pohon kurma. Padanya terdapat tanda-tanda yang tidak samar." Maka Salman bergegas berkeliling di Wadi Al-Qura mencari dua padang batu hitam tersebut, mencari tanah yang berbatu hitam, sementara sanubarinya dipenuhi harapan dan asa. Namun, antusiasmenya mereda saat ia tidak menemukan sifat yang diceritakan oleh sahabatnya, meskipun keputusasaan tidak menemukan jalan ke hatinya.
وَمَرَّتِ الْأَيَّامُ وَسَلْمَانُ يَعْمَلُ فِي أَرْضِ سَيِّدِهِ ، فَبَيْنَا هُوَ عِنْدَهُ إِذْ قَدِمَ عَلَيْهِ ابْنُ عَمٍّ لَهُ مِنْ بَنِي قُرَيْظَةَ مِنَ الْمَدِينَةِ ، فَلَمَّا رَأَى سَلْمَانَ أَعْجَبَ بِهِ فَابْتَاعَهُ مِنْ سَيِّدِهِ ، فَلَمْ يَسْتَشْعِرْ سَلْمَانُ أَسًى بَلْ غَمَرَهُ شُعُورٌ بِالرِّضَا ، فَمَنْ يَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ ذَلِكَ الْقُرَظِيَّ لِيَحْمِلَهُ إِلَى مَبْعَثِ ذَلِكَ النَّبِيِّ الَّذِي يَنْتَظِرُهُ أَوْ إِلَى مُهَاجَرِهِ .
Hari-hari berlalu dan Salman bekerja di tanah tuannya. Saat ia berada di sisinya, tiba-tiba sepupunya dari Bani Quraizhah dari Madinah datang. Ketika ia melihat Salman, ia kagum kepadanya lalu membelinya dari tuannya. Salman tidak merasakan kesedihan, justru perasaan puas menyelimutinya. Siapa tahu, mungkin Allah telah mengutus orang Qurazhi itu untuk membawanya ke tempat munculnya Nabi yang ia tunggu-tunggu atau ke tempat hijrahnya.
وَخَرَجَ سَلْمَانُ مَعَ سَيِّدِهِ الْجَدِيدِ وَانْطَلَقَا إِلَى الْمَدِينَةِ ، فَرَاحَ سَلْمَانُ يُقَلِّبُ وَجْهَهُ فِيهَا فَإِذَا بِنَشْوَةٍ عَارِمَةٍ تَغْمُرُهُ ، وَإِذَا بِنَفْثٍ فِي رَوْعِهِ يُؤَكِّدُ لَهُ أَنَّهَا الْبَلَدُ الَّذِي وَصَفَ لَهُ صَاحِبُهُ . وَمَا إِنِ اسْتَقَرَّ فِي أَرْضِ بَنِي قُرَيْظَةَ حَتَّى هَرَعَ لِيَطُوفَ بِالْمَدِينَةِ فَإِذَا بِفَرَحٍ فَيَّاضٍ يَتَفَجَّرُ يَنَابِيعَ مِنْ عَيْنِ ذَاتِهِ ، وَإِذَا بِسُرُورٍ رُوحِيٍّ عَجِيبٍ يَلُفُّهُ . إِنَّهَا أَرْضٌ بَيْنَ حَرَّتَيْنِ بَيْنَهُمَا نَخْلٌ ، إِنَّهَا مُهَاجَرُهُ ، إِنَّهَا هِيَ وَلَا رَيْبَ . وَارْتَفَعَتِ الْأَسْجَافُ عَنْ عَيْنِ بَصِيرَتِهِ فَرَأَى حِكْمَةَ غَدْرِ تُجَّارِ كَلْبٍ بِهِ ، فَخَرَّ إِمَامُ الزَّاهِدِينَ سَاجِدًا لِلَّهِ يَرْوِي بِدُمُوعِهِ الْأَرْضَ ، وَبَاتَ يَنْتَظِرُ فِي صَبْرٍ ذَلِكَ الْيَوْمَ الْأَغَرَّ الَّذِي يَجْتَمِعُ فِيهِ بِالنَّبِيِّ الَّذِي أَطَلَّ زَمَانُهُ .
Salman pergi bersama tuannya yang baru dan mereka berangkat ke Madinah. Salman mulai mengarahkan pandangannya di sana, dan tiba-tiba kegembiraan yang meluap menyelimutinya. Tiba-tiba ada bisikan dalam jiwanya yang menegaskan kepadanya bahwa itu adalah negeri yang dijelaskan oleh sahabatnya. Begitu ia menetap di tanah Bani Quraizhah, ia bergegas berkeliling Madinah, dan kebahagiaan yang melimpah memancar bagai mata air dari dalam dirinya, serta kegembiraan ruhani yang aneh menyelimutinya. Itulah tanah di antara dua padang batu hitam yang di antaranya terdapat pohon kurma. Itulah tempat hijrahnya, itulah tempatnya tanpa keraguan. Tirai-tirai terbuka dari mata batinnya, ia pun melihat hikmah pengkhianatan pedagang suku Kalb kepadanya. Sang imam para zahid bersujud kepada Allah, membasahi bumi dengan air matanya, dan ia mulai menunggu dengan sabar hari agung di mana ia akan bertemu dengan Nabi yang zaman kenabiannya telah tiba.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi