بَرَارِي سَهْلَةٌ كَثُرَتْ فِيهَا الْمَزَارِعُ وَقَامَتْ عَلَيْهَا أَشْجَارُ النَّخِيلِ كَالْأَبْرَاجِ ، وَانْتَشَرَتْ هُنَا وَهُنَاكَ بَسَاتِينُ خَضْرَاءُ وَعُيُونٌ جَارِيَةٌ وَثَمَرَاتٌ مُخْتَلِفَةُ الْأَلْوَانِ كَأَنَّهَا الْعَقِيقُ وَالزُّمُرُّدُ وَالْمَرْجَانُ ، وَمَرَاعٍ مُمْتَدَّةٌ فِي الْوِدْيَانِ وَعَلَى سُفُوحِ الْجِبَالِ ، وَجِبَالٌ وَعْرَةٌ وَصَحْرَاءُ وَاسِعَةٌ مُتَرَامِيَةٌ وَحُصُونٌ مُرْتَفِعَةٌ وَمَعَاقِلُ مَنِيعَةٌ وَبَحْرٌ يَخْرُجُ مِنْهُ اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ ، وَقُصُورٌ عَجِيبَةٌ وَأَبْنِيَةٌ عَظِيمَةٌ وَمُدُنٌ عَامِرَةٌ ، وَتِجَارَةٌ مَمْدُودَةٌ فِي الدُّرِّ وَالْيَاقُوتِ وَالْمِسْكِ وَالْكَافُورِ وَالْعُودِ الرَّطْبِ وَأَنْوَاعِ الْعِطْرِ وَالْفُلْفُلِ وَالْحَدِيدِ وَالْحَرِيرِ الْقَصَبِ وَالتُّحَفِ وَالسَّجَاجِيدِ وَالسُّيُوفِ ، إِنَّهَا أَرْضُ الْيَمَنِ أَرْضُ الْخَيْرِ وَالْبَرَكَاتِ .
Daratan yang landai, banyak pertanian di sana, pohon kurma tegak laksana menara, tersebar di sana-sini kebun-kebun hijau, mata air yang mengalir, dan buah-buahan dengan berbagai warna seolah-olah permata akik, zamrud, dan marjan. Padang penggembalaan terbentang di lembah-lembah dan lereng gunung, gunung-gunung terjal, gurun luas membentang, benteng-benteng tinggi, pertahanan yang kokoh, serta laut yang mengeluarkan mutiara dan marjan. Istana-istana yang menakjubkan, bangunan-bangunan agung, kota-kota yang makmur, dan perdagangan yang luas mencakup permata, yakut, misik, kapur barus, gaharu basah, aneka wewangian, lada, besi, sutra, kain qasab, barang seni, permadani, dan pedang. Itulah negeri Yaman, negeri yang penuh kebaikan dan keberkahan.
وَفِي قَبِيلَةِ دَوْسٍ فِي أَرْضِ الْيَمَنِ كَانَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِصَنَمِ ذِي الْكَفَّيْنِ وَكَانَ لِعَمْرِو بْنِ حُمَمَةَ الدَّوْسِيِّ ، وَكَانَ الْإِلَهَ الْعَظِيمَ الَّذِي تُقَدَّمُ إِلَيْهِ الْقَرَابِينُ وَالصَّلَوَاتُ وَتُرْفَعُ إِلَيْهِ الابْتِهَالَاتُ وَالدَّعَوَاتُ ، وَكَانَ بَيْنَ الطَّائِفِينَ الطُّفَيْلُ ابْنُ عَمْرٍو الشَّاعِرُ الشَّرِيفُ الْغَنِيُّ الَّذِي فَتَحَ أَبْوَابَ دَارِهِ لِلضِّيْفَانِ ، وَأَبُو أُزَيْهِرٍ الدَّوْسِيُّ الَّذِي خَطَبَ ابْنَةَ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ أُخْتَ هَاشِمِ بْنِ الْوَلِيدِ وَخَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَالَّذِي رَبَطَ بِهَذِهِ الْمُصَاهَرَةِ الْأَسْبَابَ بَيْنَ دَوْسٍ وَبَيْنَ حَيٍّ مِنْ أَعْظَمِ أَحْيَاءِ قُرَيْشٍ ، فَبَنُو مَخْزُومٍ قَدْ تَسَاوَوْا عَلَى الرَّكْبِ مَعَ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي أُمَيَّةَ ، وَقَدِ اشْتَعَلَتْ بَيْنَ تِلْكَ الْأَحْيَاءِ الْمُنَافَسَةُ عَلَى شَرَفِ زَعَامَةِ أَهْلِ الْحَرَمِ ، وَإِنَّهُ لَمَجْدٌ عَظِيمٌ قَدْ جَلَبَهُ أَبُو أُزَيْهِرٍ لِقَبِيلَتِهِ بِتِلْكَ الْمُصَاهَرَةِ الْكَرِيمَةِ الَّتِي تَتُوقُ إِلَى مِثْلِهَا كُلُّ قَبَائِلِ الْعَرَبِ .
Di kabilah Daus di tanah Yaman, orang-orang bertawaf mengelilingi berhala Dzi al-Kaffain milik Amr bin Humamah ad-Dausi. Ia adalah tuhan agung yang kepadanya dipersembahkan kurban, doa, dipanjatkan permohonan dan permintaan. Di antara orang-orang yang bertawaf terdapat Thufail bin Amr, penyair mulia lagi kaya yang membuka pintu rumahnya bagi para tamu, dan Abu Uzaihir ad-Dausi yang melamar putri al-Walid bin al-Mughirah, saudara perempuan Hasyim bin al-Walid dan Khalid bin al-Walid. Melalui pernikahan ini, ia menyambung hubungan antara Daus dan salah satu kabilah terbesar Quraisy. Bani Makhzum pun sejajar dengan Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Persaingan memperebutkan kehormatan kepemimpinan penduduk Haram berkobar di antara kabilah-kabilah tersebut. Sungguh kemuliaan agung yang dibawa Abu Uzaihir bagi kabilahnya dengan pernikahan mulia yang dicita-citakan oleh semua kabilah Arab.
وَكَانَ إِلَى جِوَارِ أَبِي أُزَيْهِرٍ صَدِيقُهُ الْحَمِيمُ سَعْدُ بْنُ صَبِيحِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ سَابِي بْنِ أَبِي صَعْبٍ بْنِ هَنِيَّةَ ، وَقَدْ تَعَلَّقَتْ عُيُونُ النَّاسِ بِالطُّفَيْلِ وَأَبِي أُزَيْهِرٍ وَابْنِ هَنِيَّةَ أَشْرَافِ دَوْسٍ وَسَادَاتِهَا وَأَصْحَابِ الْأَمْوَالِ وَأَهْلِ الذِّكْرِ مِنْ بَنِيهَا .
Di samping Abu Uzaihir terdapat sahabat karibnya, Sa'ad bin Sabih bin al-Harits bin Sabi bin Abi Sha'b bin Haniyyah. Pandangan orang-orang tertuju pada Thufail, Abu Uzaihir, dan Ibnu Haniyyah, para tokoh Daus, pemimpin mereka, pemilik harta, dan orang terpandang di antara anak cucu mereka.
وَكَانَ بَيْنَ الطَّائِفِينَ شَابٌّ فَقِيرٌ آدَمُ بَعِيدُ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ ذُو ضَفِيرَتَيْنِ أَفْرَقُ الثَّنِيَّتَيْنِ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ أَحَدٌ ، إِنَّهُ عَبْدُ شَمْسٍ ابْنُ أُخْتِ ابْنِ هَنِيَّةَ ، وَلَوْ قَالَ كُلُّ الْعَرَّافِينَ وَالْمُنَجِّمِينَ لِلنَّاسِ إِنَّ ذَلِكَ الشَّابَّ الْفَقِيرَ الَّذِي يَرْعَى غَنَمَ أَهْلِهِ وَالَّذِي يُقَاسِي شَظَفَ الْعَيْشِ سَيُصْبِحُ أَشْهَرَ أَهْلِ دَوْسٍ ، بَلْ أَشْهَرَ أَهْلِ الْيَمَنِ جَمِيعًا لَمَا صَدَّقُوهُمْ .
Di antara orang-orang yang bertawaf, terdapat seorang pemuda miskin berkulit sawo matang, bahunya bidang, memiliki dua jalinan rambut, giginya renggang, dan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Ia adalah Abdu Syams, keponakan Ibnu Haniyyah. Seandainya semua peramal dan ahli nujum mengatakan kepada orang-orang bahwa pemuda miskin yang menggembalakan kambing keluarganya dan hidup dalam kesusahan itu akan menjadi orang paling terkenal di Daus, bahkan di seluruh Yaman, niscaya mereka tidak akan memercayainya.
إِنَّ عَبْدَ شَمْسٍ وَجَدَ هِرَّةً وَحْشِيَّةً لَمَّا كَانَ صَبِيًّا فَأَخَذَ أَوْلَادَهَا وَعَادَ إِلَى الْبَيْتِ وَوَضَعَ أَوْلَادَ الْهِرَّةِ فِي حِجْرِهِ وَرَاحَ يُدَاعِبُهَا وَيَحْنُو عَلَيْهَا وَيُطْعِمُهَا ، وَمَرَّ أَبُوهُ بِهِ فَقَالَ لَهُ :
Sesungguhnya Abdu Syams menemukan seekor kucing liar saat ia masih kecil, lalu ia mengambil anak-anaknya dan kembali ke rumah. Ia meletakkan anak-anak kucing itu di pangkuannya, lalu ia mulai memainkannya, menyayanginya, dan memberinya makan. Ayahnya melewatinya dan berkata kepadanya:
مَا هَذِهِ فِي حِجْرِكَ ؟
Apa yang ada di pangkuanmu ini?
فَقَالَ عَبْدُ شَمْسٍ فِي فَرَحٍ :
Abdu Syams menjawab dengan gembira:
أَوْلَادُ هِرَّةٍ وَحْشِيَّةٍ .
Anak-anak kucing liar.
وَوَقَفَ أَبُوهُ يَنْظُرُ إِلَى حَدَبِ ابْنِهِ عَلَى الْهِرَيْرَاتِ الصَّغِيرَةِ وَعِنَايَتِهِ بِهَا وَصَبْرِهِ عَلَيْهَا ، فَقَالَ لَهُ وَهُوَ مُنْطَلِقٌ إِلَى حُجْرَتِهِ :
Ayahnya berdiri memperhatikan kasih sayang anaknya terhadap anak-anak kucing kecil itu, perhatiannya kepada mereka, dan kesabarannya terhadap mereka. Ia berkata kepadanya sambil beranjak menuju kamarnya:
أَنْتَ أَبُو هِرَيْرَةَ .
Engkau adalah Abu Hurairah.
وَغَلَبَتْ كُنْيَتُهُ عَلَى اسْمِهِ فَعُرِفَ فِي دَوْسٍ كُلِّهَا بِأَبِي هُرَيْرَةَ ، وَرَاحَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَمْضِي وَقْتَهُ فِي رَعْيِ الْغَنَمِ مَعَ أَخِيهِ كَرِيمٍ ، وَيَلْعَبُ أَحْيَانًا مَعَ ابْنِ عَمِّهِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْأَغَرِّ ، حَتَّى مَاتَ أَبُوهُ وَهُوَ صَغِيرٌ فَشَبَّ يَتِيمًا لِيَنْصَهِرَ فِي بُوتَقَةِ الْحُزْنِ وَيَعْتَزِلَ النَّاسَ وَيَعُودَ إِلَى نَفْسِهِ ، اسْتِجْمَاعًا لِشَتَاتِ ذَاتِهِ وَامْتِلَاكًا لِزِمَامِ أَمْرِهِ لِكَيْ يَزِيدَ فِي خِصْبِ حَيَاتِهِ الْبَاطِنِيَّةِ وَيُضَاعِفَ مِنْ ثَرَاءِ عَالَمِهِ الدَّاخِلِيِّ ، حَتَّى إِذَا مَا بَلَغَتْ أُذُنَيْهِ الدَّعْوَةُ إِلَى اللَّهِ كَانَ مُعَدًّا إِعْدَادًا نَفْسِيًّا لِلتَّصْدِيقِ وَالْهِجْرَةِ إِلَى اللَّهِ لِيَرْتَمِيَ بِكُلِّ كِيَانِهِ فِي أَحْضَانِ الدَّعْوَةِ الْجَدِيدَةِ .
Kun-yah (gelar) tersebut lebih dikenal daripada namanya, sehingga ia dikenal di seluruh Daus dengan Abu Hurairah. Abu Hurairah menghabiskan waktunya menggembala kambing bersama saudaranya, Karim, dan terkadang bermain bersama sepupunya, Abu Abdullah al-Aghar, hingga ayahnya meninggal dunia saat ia masih kecil. Ia tumbuh menjadi yatim, melebur dalam tempaan kesedihan, menyendiri dari orang banyak, dan kembali kepada dirinya sendiri, untuk mengumpulkan kepingan dirinya dan menguasai kendali urusannya agar bisa meningkatkan kesuburan kehidupan batinnya dan melipatgandakan kekayaan dunia internalnya, sehingga ketika dakwah kepada Allah sampai ke telinganya, ia telah siap secara mental untuk meyakini dan berhijrah kepada Allah, lalu mencurahkan seluruh keberadaannya ke dalam pangkuan dakwah yang baru.
فَأَشْرَقَتِ الْوُجُوهُ وَاتَّجَهَتِ الْأَبْصَارُ إِلَى الْعَرُوسِ بِنْتِ الْوَلِيدِ فَأَطْرَقَتْ حَيَاءً ، فَقَامَتْ إِلَيْهَا أَسْمَاءُ بِنْتُ مُخَرِّبَةَ أُمُّ أَبِي الْحَكَمِ بْنِ هِشَامٍ تُطَيِّبُهَا بِأَفْضَلِ مَا عِنْدَهَا مِنْ أَنْوَاعِ الطِّيبِ ، وَتُحَدِّثُهَا حَدِيثًا رَقِيقًا عَنِ الدَّوْسِيِّ الْقَادِمِ مِنَ الْيَمَنِ بِأَمْوَالِ قَوْمِهِ لِيَدْفَعَ مَهْرَ الْعَرُوسِ الْجَمِيلَةِ سَلِيلَةِ بَنِي الْمُغِيرَةِ الْأَمْجَادِ وَمَرَّ الْوَقْتُ وَطَالَ السَّمَرُ وَلَمْ يَفْتَحْ أَبُو أُزَيْهِرٍ فَمَهُ بِكَلِمَةٍ عَنِ الْمَهْرِ الَّذِي وَعَدَ بِدَفْعِهِ لِبِنْتِ الْوَلِيدِ فَرَانَ عَلَى الْمَجْلِسِ قَلَقٌ ، وَبَلَغَ ذَلِكَ الْقَلَقُ غَايَتَهُ لَمَّا نَهَضَ أَبُو أُزَيْهِرٍ مُسْتَأْذِنًا فِي الانْصِرَافِ دُونَ أَنْ يَرُدَّ ذِكْرُ الْمَهْرِ عَلَى لِسَانِهِ ، فَاسْتَشْعَرَ بَنُو الْمُغِيرَةِ بِطَعْمِ الْإِهَانَةِ إِلَّا أَنَّهُمْ تَحَلَّمُوا عَلَى مَضَضٍ .
Wajah-wajah berseri dan pandangan tertuju pada sang pengantin putri al-Walid, yang menunduk karena malu. Asma binti Mukharribah, ibu dari Abu al-Hakam bin Hisyam, menghampirinya untuk memakaikannya wewangian terbaik yang dimilikinya dan membisikkan kata-kata lembut tentang pria Daus yang datang dari Yaman dengan harta kaumnya untuk membayar mahar pengantin cantik, keturunan Bani Mughirah yang mulia. Waktu berlalu, perbincangan malam kian lama, namun Abu Uzaihir tidak membuka mulut sedikit pun tentang mahar yang dijanjikannya kepada putri al-Walid. Kecemasan menyelimuti majelis, dan kecemasan itu mencapai puncaknya ketika Abu Uzaihir berdiri meminta izin untuk pulang tanpa menyebutkan mahar tersebut. Bani Mughirah merasakan pahitnya penghinaan, namun mereka bersabar dengan berat hati.
وَبَعِيدًا عَنْ أَهْلِ الْبَيْتِ خَلَا هَاشِمٌ بِأَبِيهِ وَقَالَ فِي ثَوْرَةٍ وَغَضَبٍ :
Jauh dari anggota keluarga lainnya, Hasyim menyendiri dengan ayahnya dan berkata dengan penuh gejolak dan amarah:
— إِنَّ مُمَاطَلَةَ أَبِي أُزَيْهِرٍ فِي دَفْعِ مَهْرِ أُخْتِهِ إِهَانَةٌ لَهُمْ ، وَلَوْ ذَاعَ ذَلِكَ الْخَبَرُ بَيْنَ النَّاسِ لَنَالَ مِنْ كَرَامَتِهِمْ ، وَإِنَّ الْأَمْرَ أَصْبَحَ يَسْتَدْعِي وَضْعَ حَدٍّ لِهَذِهِ الْمَهَانَةِ .
— "Sesungguhnya sikap Abu Uzaihir yang mengulur-ulur pembayaran mahar saudariku adalah penghinaan bagi kami. Jika berita itu tersebar di antara orang-orang, niscaya kehormatan kami akan tercoreng. Perkara ini sudah menuntut untuk mengakhiri penghinaan ini."
فَرَاحَ الْوَلِيدُ يَعْمَلُ جَاهِدًا عَلَى إِخْمَادِ ثَوْرَةِ ابْنِهِ ، وَإِنْ كَانَتْ نَارُ الْغَضَبِ تَنْدَلِعُ فِي صَدْرِهِ وَتَلْسَعُ أَفْكَارَهُ .
Al-Walid pun berusaha keras memadamkan amarah putranya, meskipun api kemarahan juga berkobar di dadanya dan membakar pikirannya.
وَتَصَرَّمَتْ أَيَّامٌ وَأَبُو أُزَيْهِرٍ يَغْدُو وَيَرُوحُ بَيْنَ دُورِ بَنِي مَخْزُومٍ وَالْحَرَمِ وَمَجَالِسِ سَادَاتِ قُرَيْشٍ ، وَبَنُو الْمُغِيرَةِ يَسْأَلُونَهُ أَنْ يَدْفَعَ الْمَهْرَ الَّذِي اتَّفَقُوا عَلَيْهِ وَهُوَ يَعِدُ وَلَا يُنَفِّذُ شَيْئًا مِمَّا يَعِدُ بِهِ ، فَيَزْدَادُ هَاشِمُ بْنُ الْوَلِيدِ حَنَقًا عَلَى حَنَقٍ ، وَهَمَسَ النَّاسُ فِي مَكَّةَ أَنَّ أَبَا أُزَيْهِرٍ الدَّوْسِيَّ يُمَاطِلُ فِي دَفْعِ مَهْرِ بِنْتِ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، وَارْتَفَعَ الْهَمْسُ حَتَّى صَارَ حَدِيثَ النَّوَادِي وَالسَّمَّارِ ، وَتَرَامَى مَا يَتَنَدَّرُ بِهِ الْقَوْمُ إِلَى مَسَامِعِ هَاشِمٍ فَرَانَ الْغَضَبُ عَلَى قَلْبِهِ وَانْسَدَلَتْ أَسْجَافُ الْحِقْدِ عَلَى بَصِيرَتِهِ ، فَانْطَلَقَ كَالْعَاصِفَةِ إِلَى حَيْثُ كَانَ ذَلِكَ الدَّوْسِيُّ الَّذِي جَعَلَهُمْ سُخْرِيَةً فِي أَفْوَاهِ النَّاسِ .
Beberapa hari berlalu dan Abu Uzaihir pergi-pulang di antara rumah-rumah Bani Makhzum, Haram, dan majelis para pemimpin Quraisy. Bani Mughirah memintanya membayar mahar yang telah disepakati, namun ia terus berjanji dan tidak memenuhi apa pun yang dijanjikannya. Hasyim bin al-Walid pun semakin marah. Orang-orang di Makkah berbisik-bisik bahwa Abu Uzaihir ad-Dausi mengulur-ulur pembayaran mahar putri al-Walid bin al-Mughirah. Bisik-bisik itu kian nyaring hingga menjadi bahan pembicaraan di klub-klub dan pertemuan malam, dan apa yang dijadikan bahan olokan orang-orang sampai ke telinga Hasyim. Amarah meliputi hatinya dan tirai kebencian menutupi pandangannya, sehingga ia melesat laksana badai menuju tempat pria Daus yang telah menjadikan mereka bahan tertawaan di mulut orang banyak.
وَاحْتَدَمَ النِّقَاشُ الْغَاضِبُ بَيْنَ أَبِي أُزَيْهِرٍ وَهَاشِمٍ ، وَمَلَأَ الْحَنَقُ فُؤَادَ هَاشِمٍ فَأَعْمَى بَصَرَهُ وَعَقْلَهُ وَاسْتَوْلَتْ عَلَيْهِ فِكْرَةٌ وَاحِدَةٌ : إِنَّ مَا لَحِقَهُمْ مِنْ إِهَانَةٍ لَا يَغْسِلُهُ إِلَّا دَمُ مَنْ دَفَعَهُ طَيْشُهُ إِلَى الْجُرْأَةِ عَلَيْهِمْ ، فَاسْتَلَّ سَيْفَهُ وَطَعَنَ بِهِ أَبَا أُزَيْهِرٍ فَأَرْدَاهُ قَتِيلًا ، وَفِي مِثْلِ لَمْحِ الْبَصَرِ ذَاعَ فِي مَكَّةَ خَبَرُ مَقْتَلِ هَاشِمٍ لِأَبِي أُزَيْهِرٍ الدَّوْسِيِّ ، وَفِي لَحَظَاتٍ كَانَ سَادَاتُ قُرَيْشٍ يُدِيرُونَ قِدَاحَ الرَّأْيِ بَيْنَهُمْ لِيَرَوْا لَهُمْ رَأْيًا فِي تِلْكَ الْعَدَاوَةِ الَّتِي نَشَبَتْ فَجْأَةً بَيْنَ قُرَيْشٍ وَدَوْسٍ بَعْدَ أَنْ أَصْبَحَ بَيْنَ الْقَبِيلَتَيْنِ ثَأْرٌ .
Diskusi yang penuh kemarahan memanas antara Abu Uzaihir dan Hasyim. Amarah memenuhi hati Hasyim hingga membutakan mata dan akalnya, dan satu pikiran menguasainya: bahwasanya penghinaan yang menimpa mereka tidak dapat dibasuh kecuali dengan darah orang yang kecerobohannya mendorongnya untuk berani kepada mereka. Ia pun menghunus pedangnya dan menikam Abu Uzaihir hingga tewas. Dalam sekejap mata, berita terbunuhnya Abu Uzaihir ad-Dausi oleh Hasyim tersebar di Makkah. Dalam hitungan saat, para pemimpin Quraisy saling bertukar pendapat untuk menentukan sikap terhadap permusuhan yang tiba-tiba pecah antara Quraisy dan Daus setelah kedua kabilah tersebut memiliki dendam darah.
كَانَ تُجَّارُ قُرَيْشٍ فِي الشَّرَاةِ ، وَهِيَ صُقْعٌ بِالشَّامِ بَيْنَ دِمَشْقَ وَيَثْرِبَ ، لَا عِلْمَ لَهُمْ بِالثَّأْرِ الْجَدِيدِ الَّذِي سَيَجْعَلُ كُلَّ قُرَشِيٍّ مَطْلُوبًا لِدَوْسِيٍّ وَلَوْ لَمْ يَشْتَرِكْ فِي دَمِ أَبِي أُزَيْهِرٍ ، فَكَانَ عَلَى أَشْرَافِ قُرَيْشٍ أَنْ يَبْعَثُوا أَرْطَأَةَ بْنَ سَيْحَانَ حَلِيفَ حَرْبِ بْنِ أُمَيَّةَ ، وَأَنْ يُعَجِّلُوا بِذَلِكَ وَأَنْ يَحُثُّوهُ عَلَى الْإِسْرَاعِ لِيُبَلِّغَهُمُ الرِّسَالَةَ لِيَأْخُذُوا حَذَرَهُمْ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ النَّبَأُ إِلَى الدَّوْسِيِّينَ فَيَغْمِسُوا خَنَاجِرَهُمْ فِي قُلُوبِ الْقُرَشِيِّينَ الْغَافِلِينَ .
Para pedagang Quraisy sedang berada di as-Syarah, sebuah wilayah di Syam antara Damaskus dan Yatsrib, tidak mengetahui dendam baru yang akan membuat setiap orang Quraisy diburu oleh orang Daus, meskipun mereka tidak terlibat dalam penumpahan darah Abu Uzaihir. Maka para tokoh Quraisy harus mengutus Artha'ah bin Saihan, sekutu Harb bin Umayyah, dan mereka harus segera melakukannya serta mendesaknya untuk bergegas menyampaikan pesan agar mereka bisa waspada sebelum berita itu sampai kepada orang-orang Daus, yang kemudian akan membenamkan belati mereka ke jantung orang-orang Quraisy yang sedang lengah.
وَرَأَى حَاجِزُ الْأَزْدِيُّ مَا نَزَلَ بِسَيِّدٍ مِنْ سَادَاتِ قَوْمِهِ فَرَاحَ يُسَابِقُ الرِّيحَ لِيُخْبِرَ أَهْلَهُ بِالرِّزْءِ الْفَادِحِ . وَكَانَ سِبَاقًا رَهِيبًا بَيْنَ أَرْطَأَةَ الَّذِي كَانَ مَعَ بَنِي أُمَيَّةَ كَوَاحِدٍ مِنْهُمْ وَبَيْنَ الْأَزْدِيِّ . سِبَاقًا بَيْنَ الْحَيَاةِ وَالْمَوْتِ ، وَقَدْ أَحَسَّ أَرْطَأَةُ أَنَّ أَرْوَاحًا بَرِيئَةً مُعَلَّقَةٌ بِأَرْجُلِ رَاحِلَتِهِ فَرَاحَ يَسْتَحِثُّهَا عَلَى الْعَدْوِ دُونَ رَحْمَةٍ أَوْ شَفَقَةٍ .
Hajiz al-Azdi melihat apa yang menimpa salah satu pemimpin kaumnya, maka ia pun berpacu dengan angin untuk mengabarkan kepada kaumnya tentang musibah yang sangat berat itu. Itu adalah perlombaan yang mengerikan antara Artha'ah—yang bersama Bani Umayyah layaknya salah satu dari mereka—dan al-Azdi. Perlombaan antara hidup dan mati, sementara Artha'ah merasa bahwa jiwa-jiwa tak berdosa bergantung pada kaki kendaraannya, maka ia pun terus memacunya berlari tanpa rasa kasih maupun kasihan.
وَبَلَغَ أَرْطَأَةُ السَّرَاةَ وَقَدْ نَالَ مِنْهُ الْجَهْدُ وَكَادَتْ رَاحِلَتُهُ تَمُوتُ مِنَ التَّعَبِ ، وَمَا أَسْرَعَ مَا انْطَلَقَ إِلَى تُجَّارِ قُرَيْشٍ يَقُصُّ عَلَيْهِمْ قَتْلَ هِشَامِ بْنِ الْوَلِيدِ أَبَا أُزَيْهِرٍ وَيُحَذِّرُهُمْ غَدْرَ الدَّوْسِيِّينَ أَخْذًا بِثَأْرِ مَنْ قَتَلَهُ هِشَامُ الْمُطْلَهُ إِيَّاهُ بِمَهْرِ أُخْتِهِ . وَنَجَا تُجَّارُ قُرَيْشٍ الَّذِي كَانُوا فِي السَّرَاةِ وَلَكِنَّ ابْنَ هَنِيَّةَ صَدِيقَ أَبِي أُزَيْهِرٍ كَانَ لَا يَأْخُذُ أَحَدًا مِنْ قُرَيْشٍ إِلَّا قَتَلَهُ بِأَبِي أُزَيْهِرٍ الدَّوْسِيِّ ، وَرَأَى أَبُو هُرَيْرَةَ مَقْتَ خَالِهِ لِلْقُرَشِيِّينَ فَنَزَلَ فِي قَلْبِهِ بُغْضُهُمْ ، وَقَدْ وَقَرَ فِي ضَمِيرِهِ أَنَّ هَذِهِ الْبَغْضَاءَ قَدْ سَكَنَتْ سُوَيْدَاءَ قَلْبِهِ وَأَنَّ الزَّمَنَ يَعْجِزُ عَنْ أَنْ يَغْسِلَ ذَلِكَ الْغِلَّ الَّذِي يَمْلَأُ صَدْرَهُ ، وَلَمْ يَخْطُرْ لَهُ عَلَى بَالٍ أَنَّ قُرَشِيًّا أَوْشَكَ أَنْ يَصْطَفِيَهُ اللَّهُ وَيَبْعَثَهُ رَحْمَةً لِلْقَبَائِلِ بَلْ لِلنَّاسِ جَمِيعًا لِيُطَهِّرَ الْقُلُوبَ مِنَ الْبَغْضَاءِ وَيُؤَلِّفَ بَيْنَهَا ، وَأَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ الْحَاقِدَ سَيَكُونُ بِفَضْلٍ مِنَ اللَّهِ مِنْ أَتْبَاعِهِ الْمُقَرَّبِينَ الَّذِينَ يَجِدُونَ فِي قُرْبِهِ غِذَاءً لِلرُّوحِ وَنِبْرَاسًا لِلْعِلْمِ الصَّادِقِ وَالْحِكْمَةِ الْغَالِيَةِ .
Artha'ah mencapai as-Sarah dalam keadaan letih luar biasa dan kendaraannya hampir mati kelelahan. Dengan segera ia mendatangi para pedagang Quraisy dan menceritakan kepada mereka perihal Hisham bin al-Walid yang membunuh Abu Uzaihir, serta memperingatkan mereka akan pengkhianatan orang-orang Daus sebagai pembalasan atas pembunuhan yang dilakukan Hisham terhadap Abu Uzaihir yang mengulur-ulur pembayaran mahar saudarinya. Para pedagang Quraisy yang berada di as-Sarah selamat, namun Ibnu Haniyyah, sahabat Abu Uzaihir, tidak mendapati satu pun orang Quraisy melainkan ia membunuhnya sebagai balasan atas Abu Uzaihir ad-Dausi. Abu Hurairah melihat kebencian pamannya terhadap orang-orang Quraisy, lalu rasa benci itu meresap ke dalam hatinya. Ia meyakini di dalam nuraninya bahwa kebencian ini telah menetap di lubuk hatinya dan waktu tidak akan mampu membasuh kedengkian yang memenuhi dadanya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa seorang Quraisy akan segera dipilih Allah untuk diutus sebagai rahmat bagi kabilah-kabilah, bahkan bagi seluruh manusia, guna membersihkan hati dari kebencian dan menyatukannya. Dan bahwa Abu Hurairah yang penuh dendam itu, atas karunia Allah, akan menjadi pengikut dekatnya yang menemukan di dekatnya santapan bagi ruh, pelita bagi ilmu yang jujur, dan hikmah yang berharga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar