BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim #06

كَانَ الْبَيْتُ غَارِقًا فِي الصَّمْتِ وَخَدِيجَةُ وَفَاطِمَةُ وَعَلِيٌّ لَاذُوا بِالسُّكُوتِ ، فَرَبُّ الْبَيْتِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ فِي غُرْفَتِهِ يُنَاجِي رَبَّهُ ، وَأُمُّ أَيْمَنَ فِي الطَّبَقَةِ الْأُولَى مِنَ الدَّارِ تَرْعَى شُئُونَهَا ، وَخَرَجَ زَيْدُ بْنُ مُحَمَّدٍ إِلَى الْحَرَمِ ، وَانْطَلَقَ هِنْدُ بْنُ أَبِي هَالَةَ ابْنُ الطَّاهِرَةِ سَيِّدَةِ نِسَاءِ قُرَيْشٍ إِلَى بَعْضِ شُئُونِهِ .
Rumah itu tenggelam dalam keheningan, Khadijah, Fatimah, dan Ali memilih untuk diam. Kepala rumah tangga, Muhammad bin Abdullah, berada di kamarnya bermunajat kepada Tuhannya, Ummu Aiman berada di lantai pertama rumah mengurus urusannya, Zaid bin Muhammad keluar menuju tanah Haram, dan Hindun bin Abi Halah, putra dari wanita yang suci pemuka kaum wanita Quraisy, pergi menyelesaikan sebagian urusannya.
وَكَانَت ' خَدِيجَةُ فِي سُرُورٍ رُوحِيٍّ فَيَّاضٍ ، فَهِيَ تَرَى بِعَيْنِ بَصِيرَتِهَا أَنَّ أَنْوَارًا تَفِيضُ فِي دَارِهَا كَأَنَّمَا تَنْسَكِبُ مِنَ السَّمَاءِ ، أَنْوَارًا تَتَأَلَّقُ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ تَبْهَرُ أَنْوَارَ الشَّمْسِ الَّتِي رَأَتْهَا فِي مَنَامِهَا تَهْبِطُ مِنَ السَّمَاءِ لِتَسْتَقِرَّ فِي دَارِهَا قبل أَنْ تَتَزَوَّجَ أَبَا الْقَاسِمِ ، وَقَدْ صَارَتْ تَشَمُّ رَوَائِحَ زَكِيَّةً يَفُوقُ أَرِيجُهَا كُلَّ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ طِيبٍ وَعِطْرٍ ، إِنَّهَا عَبِيرٌ يُنْعِشُ الرُّوحَ وَيُنْزِلُ بِالنَّفْسِ نَشْوَةً صَافِيَةً سَرْمَدِيَّةً تَشْرَحُ الصَّدْرَ وَتَمْلَأُ الْجَوَانِحَ بِالرَّحْمَةِ .
Khadijah berada dalam kebahagiaan ruhani yang meluap-luap. Ia melihat dengan mata batinnya bahwa cahaya memancar di rumahnya seolah-olah tumpah dari langit; cahaya yang berkilauan di waktu malam dan siang, mengalahkan cahaya matahari yang pernah ia lihat dalam mimpinya turun dari langit untuk menetap di rumahnya sebelum ia menikah dengan Abul Qasim. Ia pun mulai mencium bau harum yang keharumannya melebihi segala wewangian dan parfum yang ada di bumi. Itu adalah aroma yang menyegarkan ruh dan mendatangkan gairah suci yang abadi ke dalam jiwa, yang melapangkan dada dan memenuhi relung hati dengan rahmat.
وَكَانَتْ تَحِسُّ أَنَّ شَيْئًا غَامِضًا مُثِيرًا يَنْفُثُ فِي رَوْعِهَا أَنَّهَا مُقْبِلَةٌ عَلَى أَرْوَعِ أَيَّامِ حَيَاتِهَا ، وَأَنَّ أَنْوَارَ الْيَقِينِ تُشْرِقُ فِي قَلْبِهَا فَتُبَدِّدُ عَنْ سَمَائِهِ كُلَّ السُّحُبِ الَّتِي كَانَتْ تَرْبِطُهَا بِالدُّنْيَا حَتَّى لَتَكَادُ أَكْثَرُ الْحَقَائِقِ أَنْ تَنْكَشِفَ لَهَا ، وَكَانَتْ تُفْعَمُ بِمَشَاعِرَ نَبِيلَةٍ كُلُّهَا رُوحَانِيَّةٌ فَتَطْفُرُ الدُّمُوعُ مِنْ مُقْلَتِهَا شُكْرًا للهِ عَلَى أَنْ خَصَّهَا بِلُطْفِهِ وَرَحْمَتِهِ .
Ia merasa ada sesuatu yang misterius namun menggetarkan mengalir dalam sanubarinya, bahwa ia menjelang hari-hari terindah dalam hidupnya, dan bahwa cahaya keyakinan sedang terbit di hatinya, menyapu bersih dari langit jiwanya segala awan yang mengikatnya dengan dunia, hingga hampir saja kebenaran-kebenaran terbesar tersingkap untuknya. Ia dipenuhi dengan perasaan mulia yang sepenuhnya spiritual, hingga air mata meleleh dari pelupuk matanya sebagai wujud syukur kepada Allah karena telah mengistimewakannya dengan kelembutan dan rahmat-Nya.
وَوَقَعَتْ عَيْنَا خَدِيجَةَ عَلَى مَا فِي دَارِهَا مِنْ فَاخِرِ الرِّيَاشِ وَالتُّحَفِ النَّادِرَةِ الَّتِي اسْتُوِرِدَتْ مِنَ الشَّامِ وَمِصْرَ وَالْعِرَاقِ وَفَارِسَ فَلَمْ تَحْفَلْ بِالطُّرَفِ الْغَالِيَةِ وَالتَّرَفِ الَّذِي رَانَ عَلَى الْمَكَانِ ، بَلْ زَهِدَتْ فِي كُلِّ مَتَاعٍ بَعْدَ أَنْ تَعَلَّمَتْ فِي مَدْرَسَةِ أَبِي الْقَاسِمِ أَنَّ الْمَالَ يَأْكُلُ نَفْسَهُ وَأَنَّهُ لَا يُفْرَحُ بِهِ وَأَنَّ قِيمَتَهُ فِي قَدْرِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ ، وَأَنَّ الْكَنْزَ الْحَقَّ هُوَ كَنْزُ صَالِحِ الْأَعْمَالِ ، وَأَنَّ التَّفَرُّجَ فِي اللهِ هُوَ نَبْعُ السَّعَادَةِ الَّذِي لَا يَنْضَبُ بَلْ يَرْبُو وَيَزْدَادُ كُلَّمَا نَهَلَ مِنْهُ النَّاهِلُونَ .
Pandangan mata Khadijah tertuju pada perabotan mewah dan barang-barang antik langka di rumahnya yang diimpor dari Syam, Mesir, Irak, dan Persia. Namun, ia tidak peduli lagi dengan barang-barang berharga yang mahal dan kemewahan yang menyelimuti tempat itu. Sebaliknya, ia menjauhi segala kesenangan duniawi setelah belajar di madrasah Abul Qasim bahwa harta itu memakan dirinya sendiri, harta bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, dan nilainya hanya sebatas kadar kebutuhan terhadapnya. Harta karun sejati adalah simpanan amal saleh, dan kebahagiaan di jalan Allah adalah sumber kebahagiaan yang tidak akan pernah kering, melainkan terus tumbuh dan bertambah setiap kali orang-orang mereguknya.
كَانَتْ أَمْوَالُهَا مَمْدُودَةً وَلَكِنَّهَا كَانَتْ زَاهِدَةً فِيهَا ، فَأَبُو الْقَاسِمِ قَدْ غَرَسَ فِيهَا حُبَّ الْإِنْفَاقِ وَأَنْ تَكُونَ كُلُّ حَرَكَاتِهَا وَسَكَنَاتِهَا للهِ لَا تُرِيدُ بِهَا إِلَّا وَجْهَهُ ، فَقَادَهَا إِلَى يَنْبُوعِ الْفَرَحِ الصَّافِي فَصَلُحَتْ نِيَّتُهَا فِي الْأَخْذِ وَالتَّرْكِ وَالْإِنْفَاقِ ، وَعَرَفَتِ السَّعَادَةَ الْحَقَّةَ بِالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَتَعْرِيضِ قَلْبِهَا لِنَفَحَاتِ رَحْمَتِهِ .
Hartanya berlimpah ruah, namun ia sangat zuhud terhadapnya. Abul Qasim telah menanamkan dalam dirinya kecintaan untuk berinfak, dan agar segala gerak-gerik serta diamnya hanya karena Allah, tidak mengharapkan apa pun selain ridha-Nya. Beliau membimbingnya menuju sumber kebahagiaan yang murni, sehingga luruslah niatnya dalam mengambil, meninggalkan, dan menafkahkan harta. Ia pun mengenal kebahagiaan sejati dengan kedekatan kepada Allah dan membuka hatinya untuk menerima embusan rahmat-Nya.
لَقَدْ مَضَتْ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً وَهِيَ فِي كَنَفِ أَبِي الْقَاسِمِ تَبَدَّلَتْ فِيهَا نَظْرَتُهَا إِلَى الْحَيَاةِ وَالْكَوْنِ وَمَا وَرَاءَ الطَّبِيعَةِ ، فَبَعْدَ أَنْ كَانَتْ تَتَهَلَّلُ بِالْفَرَحِ كُلَّمَا عَادَتْ قَوَافِلُهَا بِالْأَرْبَاحِ زَهِدَتْ فِي هَذِهِ الْمَادِّيَّةِ الطَّاغِيَةِ بَعْدَ أَنْ ذَاقَتْ حَلَاوَةَ رَفْرَفَةِ الرُّوحِ فِي الْمَلَكُوتِ ، وَالْفَرَحَ الْفَيَّاضَ فِي الْجِهَادِ الْمُجَنَّحِ لِلِاتِّصَالِ بِذَاتِ الذَّوَاتِ ، وَالِاسْتِبْشَارَ بِصَفَاءِ الْقَلْبِ وَتَزْكِيَتِهِ وَجَلَائِهِ وَإِشْرَاقِ أَنْوَارِ الْمَعْرِفَةِ فِيهِ .
Telah berlalu lima belas tahun ia berada dalam naungan Abul Qasim, yang di dalamnya pandangannya terhadap kehidupan, alam semesta, dan hal-hal metafisika telah berubah. Setelah sebelumnya ia selalu berseri-seri gembira setiap kali kafilah dagangnya kembali membawa keuntungan, ia menjadi zuhud terhadap materi yang dominan ini setelah merasakan manisnya kepakan ruh di alam malakut, kegembiraan yang meluap dalam perjuangan bersayap demi berhubungan dengan Dzat dari segala dzat, serta bersuka cita atas kesucian hati, penyuciannya, kejernihannya, dan terbitnya cahaya makrifat di dalamnya.
كَانَتْ فِي حَيْرَةٍ فِي عِبَادَاتِهَا قَبْلَ أَنْ يَعْرِفَ النُّورُ طَرِيقَهُ إِلَى دَارِهَا ، فَقَدْ تَفَتَّحَتْ عَيْنَاهَا أَوَّلَ مَا تَفَتَّحَتْ عَلَى عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ وَتَقْدِيسِ اللَّاتِ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ وَهُبَلَ وَمِئَاتِ التَّمَاثِيلِ الْمُكَدَّسَةِ فِي الْكَعْبَةِ وَمِنْ حَوْلِهَا ، ثُمَّ لَمَّا تَزَوَّجَتْ مِنْ هِنْدِ بْنِ أَبِي هَالَةَ بْنِ زُرَارَةَ التَّمِيمِيِّ عَرَفَتِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ عَنْ عِبَادَةِ تَمِيمٍ وَكَانُوا يَدِينُونَ بِالْمَجُوسِيَّةِ وَيَعْبُدُونَ النَّارَ ، وَلَمَّا كَفَرَ ابْنُ عَمِّهَا وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ بِدِينِ قَوْمِهِ وَاعْتَنَقَ النَّصْرَانِيَّةَ كَانَتْ تُلْقِي إِلَيْهِ سَمْعَهَا وَهُوَ يُحَدِّثُهَا عَنْ إِلَهِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَرَبِّ الْمَسِيحِيِّينَ فَكَانَتْ مُشَتَّتَةَ الْفِكْرِ لَيْسَ لَهَا قَرَارٌ . حَتَّى إِذَا مَا جَاءَ ابْنُ عَبْدِ اللهِ إِلَيْهَا بَدَّدَ كُلَّ الشُّكُوكِ وَبَذَرَ فِي عَيْنِ ذَاتِهَا بُذُورَ الْإِرَادَةِ وَال|إِخْلَاصِ ، وَرَاحَ يُدَرِّبُهَا عَلَى السَّيْرِ فِي طَرِيقِ اللهِ وَالْتِمَاسِ بَقَاءٍ لَا فَنَاءَ فِيهِ وَعِزٍّ لَا ذُلَّ فِيهِ وَأَمْنٍ لَا خَوْفَ فِيهِ وَغِنًى لَا فَقْرَ فِيهِ وَكَمَالٍ لَا نُقْصَانَ فِيهِ ، .
Ia sempat berada dalam kebingungan perihal ibadahnya sebelum cahaya menemukan jalan ke rumahnya. Sebab, kedua matanya pertama kali terbuka menyaksikan penyembahan berhala dan pensucian Lata, Uzza, Manat, Hubal, serta ratusan patung yang menumpuk di dalam dan di sekitar Ka'bah. Kemudian, ketika ia menikah dengan Hindun bin Abi Halah bin Zurarah At-Tamimi, ia mengetahui banyak hal tentang peribadatan suku Tamim, yang mana mereka memeluk agama Majusi dan menyembah api. Dan ketika sepupunya, Waraqah bin Naufal, mengingkari agama kaumnya lalu memeluk agama Nasrani, ia mendengarkan baik-baik perkataannya saat menceritakan tentang Tuhan Bani Israil dan Tuhan orang-orang Kristen, sehingga pikirannya terombang-ambing tanpa ketetapan. Hingga akhirnya ketika putra Abdullah datang kepadanya, beliau melenyapkan segala keraguan dan menanamkan di lubuk jiwanya benih-benih kehendak dan keikhlasan, serta melatihnya untuk meniti jalan Allah, mencari keabadian tanpa kepunahan, kemuliaan tanpa kehinaan, keamanan tanpa ketakutan, kekayaan tanpa kemiskinan, dan kesempurnaan tanpa kekurangan.
فَأَصْبَحَتْ تَسْتَشْعِرُ أَنَّ عَالَمَهَا أَوْسَعُ مِنَ الْعَالَمِ الْأَرْضِيِّ ، وَأَنَّ مَمْلَكَتَهَا أَعْظَمُ مِنْ كُلِّ الْمَمَالِكِ . وَأَنَّ اسْتِدْرَارَ لَطَائِفِ الْمَعَارِفِ مِنْ خَزَائِنِ الْمَلَكُوتِ خَيْرٌ وَأَبْقَى مِنَ الْأَمْوَالِ الْمَكْنُوزَةِ وَزِينَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا .
Maka ia pun mulai merasakan bahwa dunianya lebih luas daripada dunia bumi, dan kerajaannya lebih agung daripada segala kerajaan. Bahwa mereguk kelembutan makrifat dari perbendaharaan malakut adalah lebih baik dan lebih kekal daripada harta yang ditimbun serta perhiasan kehidupan dunia.
وَسَمِعَت ' خَدِيجَةُ وَهِيَ فِي مَكَانِهَا صَرِيرَ بَابٍ فَانْتَبَهَتْ فَقَدِ انْتَهَى أَبُو الْقَاسِمِ مِنْ صَلَاتِهِ ، وَعَرَفَت ' فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ أَنَّ أَبَاهَا الْحَبِيبَ قَادِمٌ فَأَشْرَقَ وَجْهُهَا بِالْبِشْرِ ، وَلَاحَ عَلَى وَجْهِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ الِانْشِرَاحُ فَقَدْ كَانَتْ أَسْعَدُ الْأَوْقَاتِ تِلْكَ السَّاعَاتُ الَّتِي يُمْضِيهَا رَبُّ الْبَيْتِ مَعَ مَنْ فِي الْبَيْتِ يُفِيضُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَنَانِهِ وَعِلْمِهِ وَحِكْمَتِهِ .
Dan Khadijah mendengar dari tempatnya derit pintu, maka ia pun tersadar bahwa Abul Qasim telah menyelesaikan shalatnya. Fatimah Az-Zahra pun tahu bahwa ayahnya tercinta datang, maka wajahnya berseri-seri dengan kegembiraan, dan tampak kelapangan di wajah Ali bin Abi Thalib, karena waktu yang paling membahagiakan adalah saat-saat yang dihabiskan oleh kepala rumah tangga bersama orang-orang di rumah, mencurahkan kasih sayang, ilmu, dan hikmahnya kepada mereka.
وَأَقْبَلَ مُحَمَّدٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ يَبْتَسِمُ ، فَرَأَت ' خَدِيجَةُ فِيهِ هَالَةً مِنْ نُورٍ تَزْدَادُ تَأَلُّقًا عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ حَتَّى لَتَكَادُ أَنْ تَفِيضَ عَلَى مَكَّةَ وَتَمْلَأَ الْآفَاقَ وَرَأَتْ فِيهِ فَاطِمَةُ جَوْهَرَ الْحَنَانِ وَيَنْبُوعَ الْحُبِّ فَهَرَعَتْ إِلَيْهِ رَقِيقَةً كَالنَّسِيمِ طَاهِرَةً كَالنَّدَى مُتَفَتِّحَةً كَزَهْرَةِ الرَّبِيعِ ، فَفَتَحَ لَهَا ذِرَاعَيْهِ فَارْتَمَتْ فِي أَحْضَانِهِ فَرَفَعَهَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَقَبَّلَهَا قُبْلَةً رَقِيقَةً لَكَأَنَّهَا ذَوْبُ نَفْسٍ لَطِيفَةٍ لُبُّهَا الرَّحْمَةُ وَالصَّفَاءُ . وَرَأَى فِيهِ عَلِيٌّ الْوَالِدَ الْحَنُونَ وَالْقُدْوَةَ الصَّالِحَةَ وَالْأُسْوَةَ الْحَسَنَةَ وَمَدِينَةَ الْعِلْمِ الَّتِي يَنْهَلُ مِنْهَا مَا يَشَاءُ كَيْفَمَا يَشَاءُ وَأَنَّى يَشَاءُ ، فَفَتَحَ نَفْسَهُ وَقَلْبَهُ وَعَقْلَهُ لِأَنْوَارِ الْمَعْرِفَةِ وَالْحِكْمَةِ الْمُتَدَفِّقَةِ مِنْ بَيْنِ شَفَتَيِ ابْنِ عَمِّهِ الْكَرِيمِ .
Muhammad menghampiri keluarganya sambil tersenyum. Khadijah melihat pada diri beliau pancaran cahaya yang semakin hari semakin berkilau, hingga hampir-hampir meluap ke seluruh Makkah dan memenuhi cakrawala. Fatimah melihat pada diri beliau inti dari kasih sayang dan sumber cinta, maka ia pun bergegas menuju beliau dengan lembut bagai semilir angin, suci bagai embun, dan merekah bagai bunga musim semi. Beliau membuka kedua lengannya untuknya, lalu ia pun merebahkan diri dalam pelukan beliau. Beliau mengangkatnya dengan kedua tangan beliau dan menciumnya dengan ciuman yang lembut seakan-akan itu adalah lelehan jiwa yang halus yang intinya adalah rahmat dan kesucian. Dan Ali melihat pada diri beliau sosok ayah yang penuh kasih, teladan yang saleh, panutan yang baik, dan kota ilmu tempat ia mereguk apa saja yang ia kehendaki, bagaimanapun ia kehendaki, dan kapan pun ia kehendaki. Maka ia membuka jiwa, hati, dan akalnya untuk menerima cahaya makrifat dan hikmah yang mengalir dari antara kedua bibir sepupunya yang mulia.
وَجَلَسُوا تُرَفْرِفُ عَلَيْهِمُ الْبَرَكَاتُ وَتَرْعَاهُمْ عِنَايَةُ السَّمَاءِ ، فَهُمْ فِي حَرَكَاتِهِمْ وَسَكَنَاتِهِمْ يُجَاهِدُونَ فِي اللهِ لِيَهْدِيَهُمُ اللهُ سُبُلَهُ ، يَعِيشُونَ مَعَ اللهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ حَتَّى صَارَتْ قُلُوبُهُمْ تَخْفِقُ بِذِكْرِ اللهِ ، فَقَدْ صَبَرُوا فِي اللهِ وَصَابَرُوا بِاللهِ وَرَابَطُوا مَعَ اللهِ وَذَكَرُوا اللهَ فَذَكَرَهُمُ اللهُ .
Mereka pun duduk sementara keberkahan menaungi mereka dan perhatian langit menjaga mereka. Dalam setiap gerak dan diamnya, mereka bermujahadah di jalan Allah agar Allah menunjukkan jalan-jalan-Nya kepada mereka. Mereka hidup bersama Allah di waktu-waktu malam dan siang hari, hingga hati mereka bergetar dengan berzikir kepada Allah. Sungguh mereka telah bersabar di jalan Allah, saling menguatkan kesabaran demi Allah, bersiaga bersama Allah, dan mengingat Allah, maka Allah pun mengingat mereka.
كَانَتْ دَارُ خَدِيجَةَ فِي ظَاهِرِهَا إِحْدَى دُورِ مَكَّةَ الَّتِي تُحِيطُ بِالْحَرَمِ ، وَلَكِنَّهَا كَانَتْ فِي حَقِيقَتِهَا دَارًا تَخْتَلِفُ عَنْ كُلِّ مَا حَوْلَهَا . فَدُورُ أُمِّ الْقُرَى مَشْدُودَةٌ إِلَى الْأَرْضِ غَارِقَةٌ فِي الظُّلُمَاتِ وَإِنِ انْسَكَبَتْ مِنْ نَوَافِذِهَا أَنْوَارُ النَّهَارِ ، بَيْنَا كَانَتْ هِيَ مُنْجَذِبَةً إِلَى السَّمَاءِ تُشْرِقُ فِيهَا أَنْوَارٌ تَبْهَرُ الْوِجْدَانَ وَتُنِيرُ الْأَفْئِدَةَ عَلَى الدَّوَامِ .
Rumah Khadijah secara lahiriah merupakan salah satu rumah di Makkah yang mengelilingi tanah Haram, namun pada hakikatnya, rumah itu berbeda dari semua yang ada di sekitarnya. Rumah-rumah di Ummul Qura terikat erat ke bumi dan tenggelam dalam kegelapan meskipun cahaya siang hari menembus jendela-jendelanya, sedangkan rumah Khadijah justru tertarik ke langit, memancarkan cahaya di dalamnya yang selalu memukau perasaan dan menerangi hati senantiasa.
وَنَهَضَ أَبُو الْقَاسِمِ لِيَدُورَ عَلَى دُورِ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي زُهْرَةَ وَيَزُورَ بَنَاتِهِ قَبْلَ أَنْ يَعْتَكِفَ فِي غَارِ حِرَاءٍ طَوَالَ شَهْرِ رَمَضَانَ يَتَحَنَّثُ وَيَأْنَسُ بِرَبِّهِ ، فَهُوَ يَصِلُ رَحِمَهُ وَيَعْرِفُ لِلْقَرَابَةِ حَقَّهَا ، وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَشِبَّ ابْنُ عَمِّهِ الَّذِي يَتَرَبَّى فِي رِعَايَتِهِ عَلَى صِلَتِهِ لِأَرْحَامِهِ . فَأَخَذَ عَلِيًّا مَعَهُ وَانْطَلَقَ إِلَى دَارِ أَبِي طَالِبٍ .
Dan Abul Qasim bangkit untuk berkeliling mengunjungi rumah-rumah Bani Hasyim dan Bani Zuhrah serta mengunjungi putri-putrinya sebelum beliau menyendiri di Gua Hira sepanjang bulan Ramadan untuk bertahannuts dan mendekatkan diri kepada Tuhannya. Beliau menyambung tali silaturahmi dan menunaikan hak kekerabatan, serta beliau ingin agar sepupunya yang tumbuh dalam asuhannya terbiasa menyambung kekerabatannya. Maka beliau mengajak Ali bersamanya dan bertolak ke rumah Abu Thalib.
وَاسْتُقْبِلَ مُحَمَّدٌ فِي الدَّارِ الَّتِي تَكَفَّلَتْ بِهِ صَبِيًّا أَحْسَنَ اسْتِقْبَالٍ ، وَأَقْبَلَ عَلَى عَمِّهِ وَامْرَأَةِ عَمِّهِ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَأَبْنَاءِ عَمِّهِ عَقِيلٍ وَجَعْفَرٍ وَطَالِبٍ بِكُلِّ عَوَاطِفِهِ فَهُوَ بِطَبْعِهِ لَا يَنْسَى فَضْلًا لِذَوِي الْفَضْلِ ، وَقَدْ وَجَدَ فِي أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ مِنَ الْعَطْفِ وَالرِّعَايَةِ مَا عَوَّضَهُ مِنْ مَوْتِ آمِنَةَ وَفَقْدِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ .
Muhammad disambut dengan sambutan terbaik di rumah yang pernah mengasuh beliau sewaktu kecil. Beliau menghampiri pamannya, istri pamannya Fatimah binti Asad, serta putra-putra pamannya: Aqil, Ja'far, dan Thalib dengan segenap kasih sayangnya, karena secara tabi'at beliau tidak pernah melupakan kebaikan orang-orang yang berjasa, dan beliau telah mendapatkan kasih sayang serta perhatian dari penghuni rumah itu yang menggantikan kesedihannya atas wafatnya Aminah dan hilangnya Abdul Mutthalib.
وَاسْتَأْذَنَ مُحَمَّدٌ فِي الِانْصِرَافِ فَالْتَمَسَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَسَدٍ مِنْ عَلِيٍّ أَنْ يَمْضِيَ نَهَارَهُ عِنْدَهَا مَعَ إِخْوَتِهِ ، فَأَبَى الصَّبِيُّ أَنْ يَفْتَرِقَ عَنْ ابْنِ عَمِّهِ وَلَوْ سَاعَاتٍ فَأَسْعَدُ الْأَوْقَاتِ وَأَمْتَعُهَا لِرُوحِهِ تِلْكَ الْفَتَرَاتُ الَّتِي يَعِيشُ فِيهَا مَعَ أَبِي الْقَاسِمِ يَسْتَأ|ثِرُ وَحْدَهُ بِعَذْبِ حَدِيثِهِ وَغَزَارَةِ عِلْمِهِ وَفَيْضِ حِكْمَتِهِ .
Muhammad meminta izin untuk pamit, lalu Fatimah binti Asad meminta kepada Ali agar menghabiskan waktu siangnya di tempatnya bersama saudara-saudaranya. Namun anak itu menolak untuk berpisah dari sepupunya walaupun hanya beberapa jam, karena waktu yang paling membahagiakan dan menyenangkan bagi jiwanya adalah saat-saat ia hidup bersama Abul Qasim, menikmati sendiri keindahan ucapannya, keluasan ilmunya, dan kelimpahan hikmahnya.
وَانْطَلَقَا إِلَى دَارِ عَمِّهِمَا أَبِي لَهَبٍ فَإِذَا بِامْرَأَةِ عَمِّهِمَا أُمِّ جَمِيلٍ بِنْتِ حَرْبِ بْنِ أُمَيَّةَ تُرَحِّبُ بِهِمَا وَتَبَشُّ لَهُمَا ، وَإِذَا بِأَبِي لَهَبٍ يُقْبِلُ عَلَيْهِمَا وَقَدْ أَشْرَقَ وَجْهُهُ بِابْتِسَامَةٍ صَادِقَةٍ ، فَقَدْ كَانَ أَبُو لَهَبٍ يُحِبُّ مُحَمَّدًا حُبًّا صَادِقًا وَكَانَ حَرِيصًا عَلَى أَنْ يُزَوِّجَ ابْنَيْهِ عُتْبَةَ وَمُعَتِّبًا لِرُقَيَّةَ وَأُمِّ كُلْثُومٍ ابْنَتَيْ ابْنِ أَخِيهِ الْأَمِينِ .
Dan keduanya pergi ke rumah paman mereka, Abu Lahab. Tiba-tiba istri paman mereka, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah, menyambut keduanya dengan hangat dan berseri-seri, dan tampak Abu Lahab menghampiri keduanya dengan wajah yang bersinar oleh senyuman yang tulus, karena Abu Lahab dahulu mencintai Muhammad dengan cinta yang tulus dan sangat berambisi untuk menikahkan kedua putranya, Utbah dan Mu'attib, dengan Ruqayyah and Umm Kulthum, dua putri dari putra saudaranya yang terpercaya (Al-Amin).
وَهَرَعَتْ جَارِيَةٌ إِلَى حَيْثُ كَانَتْ رُقَيَّةُ وَأُمُّ كُلْثُومٍ وَقَالَتْ لَهُمَا : إِنَّ أَبَاهُمَا قَدْ جَاءَ لِزِيَارَتِهِمَا . فَطَارَتَا بِجَنَاحِ الشَّوْقِ إِلَى حَيْثُ كَانَ الْوَالِدُ الْحَنُونُ فَضَمَّهُمَا إِلَيْهِ فِي حُبٍّ شَدِيدٍ ، وَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ عُتْبَةُ وَمُعَتِّبٌ لِيُسَلِّمَا عَلَى أَبِي الْقَاسِمِ .
Seorang pelayan bergegas menuju tempat Ruqayyah dan Umm Kulthum berada dan memberi tahu mereka bahwa ayah mereka telah datang berkunjung. Maka keduanya seakan terbang dengan sayap kerinduan menuju tempat ayah yang penuh kasih itu berada, lalu beliau mendekap keduanya dengan penuh cinta, dan tidak lama kemudian Utbah dan Mu'attib datang untuk mengucapkan salam kepada Abul Qasim.
وَ دَارَ حَدِيثٌ رَقِيقٌ وَرَفْرَفَتِ السَّعَادَةُ عَلَى الْجَمِيعِ ، وَكَانَ مُحَمَّدٌ أَكْثَرَهُمْ انْشِرَاحًا وَاسْتِبْشَارًا فَابْنَتَاهُ الْعَزِيزَتَانِ تَعِيشَانِ فِي دَارِ عَمِّهِ أَبِي لَهَبٍ عِيشَةً رَاضِيَةً ، وَقَدْ زَادَ فِي سُرُورِهِ أَنْ قَرَأَ فِي عَيْنَيِ ابْنَيْ عَمِّهِ حُبَّهُمَا لِرُقَيَّةَ وَأُمِّ كُلْثُومٍ .
Percakapan yang hangat pun terjalin dan kebahagiaan menaungi semua orang. Muhammad adalah orang yang paling berlapang dada dan bersuka cita di antara mereka, karena kedua putrinya yang tercinta hidup di rumah pamannya, Abu Lahab, dalam kehidupan yang berkecukupan dan tenang, dan kegembiraan beliau bertambah saat beliau membaca dari tatapan mata kedua sepupunya itu rasa cinta mereka kepada Ruqayyah dan Umm Kulthum.
وَخَرَجَ أَبُو الْقَاسِمِ وَعَلِيٌّ لِزِيَارَةِ زَيْنَبَ ، وَقَدْ ذَاعَ فِي مَكَّةَ خَبَرُ حُبِّ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ عَبْدِ شَمْسِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيٍّ لِابْنَةِ خَالَتِهِ زَيْنَبَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ ، فَأَبُو الْعَاصِ كَانَ كَثِيرَ السَّفَرِ فِي تِجَارَتِهِ ، وَكَانَ إِذَا هَزَّهُ الشَّوْقُ إِلَى امْرَأَتِهِ رَاحَ يُنْشِدُ الشِّعْرَ شَوْقًا إِلَيْهَا ، وَقَدْ رَدَّدَ الرُّوَاةُ قَوْلَهُ فِيهَا :
Dan Abul Qasim bersama Ali keluar untuk mengunjungi Zainab. Berita tentang cinta Abul Ash bin Ar-Rabi' bin Abdul Uzza bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay kepada anak bibinya, Zainab binti Muhammad, telah tersebar di Makkah. Abul Ash memang sering bepergian demi perdagangannya, dan jika kerinduan kepada istrinya bergejolak, ia akan melantunkan syair karena rindu kepadanya, dan para perawi telah mengulang-ulang ucapannya tentang istrinya:
فَقُلْتُ سَقْيًا لِشَخْصٍ يَسْكُنُ الْحَرَمَا ذَكَرْتُ زَيْنَبَ لَمَّا وَرَّكَتْ أُرَمَا
[Shadr] Aku teringat Zainab ketika unta-unta melewati bukit batu Urama,
[Ajuz] maka aku katakan: "Semoga siraman rahmat tercurah bagi seseorang yang tinggal di tanah Haram."
وَكُلُّ بَعْلٍ سَيُثْنَى بِالَّذِي عَلِمَا بِنْتَ الْأَمِينِ جَزَاهَا اللهُ صَالِحَةً
[Shadr] Putri orang yang terpercaya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan,
[Ajuz] dan setiap suami akan memuji istrinya berdasarkan apa yang ia ketahui.
وَبَيْنَا كَانَ مُحَمَّدٌ وَعَلِيٌّ فِي طَرِيقِهِمَا إِلَى دَارِ أَبِي الْعَاصِ إِذَا بِفَتًى قَصِيرٍ دَحْدَاحٍ فِي السَّابِعَةَ عَشْرَةَ مِنْ عُمْرِهِ قَدْ جَلَسَ يَبْرِي النَّبْلَ وَوَقَفَ عِنْدَ رَأْسِهِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَأَلْقَى مُحَمَّدٌ عَلَى عَمِّهِ حَمْزَةَ تَحِيَّةً طَيِّبَةً ثُمَّ حَدَّثَ الْفَتَى حَدِيثًا يَتَرَقْرَقُ بِالْمَحَبَّةِ ، وَلَا عَجَبَ فَقَدْ كَانَ الْفَتَى سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ ، وَأَبُو وَقَّاصٍ هُوَ مَالِكُ بْنُ وُهَيْبٍ عَمُّ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ ، فَكَانَ مُحَمَّدٌ يَنْظُرُ إِلَى سَعْدٍ عَلَى أَنَّهُ خَالُهُ ، فَكُلُّ بَنِي زُهْرَةَ أَخْوَالُهُ .
Dan ketika Muhammad dan Ali sedang dalam perjalanan menuju rumah Abul Ash, tiba-tiba ada seorang pemuda pendek kekar berusia tujuh belas tahun sedang duduk meruncingkan anak panah, dan berdiri di dekat kepalanya Hamzah bin Abdul Mutthalib. Muhammad pun mengucapkan salam yang baik kepada pamannya, Hamzah, lalu berbincang dengan pemuda itu dengan pembicaraan yang memancarkan kasih sayang. Tidak mengherankan, karena pemuda itu adalah Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abu Waqqash adalah Malik bin Wuhaib, paman dari Aminah binti Wahab. Maka Muhammad memandang Sa'ad sebagai pamannya sendiri, karena seluruh keturunan Bani Zuhrah adalah paman-paman beliau dari pihak ibu.
وَفِي دَارِ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ سَعِدَتْ زَيْنَبُ بِزِيَارَةِ أَبِيهَا ، وَسَعِدَ مُحَمَّدٌ بِابْنَتِهِ وَزَادَهُ غِبْطَةً أَنَّ زَوْجَ ابْنَتِهِ قَدْ عُرِفَ فِي مَكَّةَ بِالْأَمِينِ كَمَا عُرِفَ هُوَ نَفْسُهُ بِذَلِكَ مِنْ قَبْلُ . وَرَاحَتْ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ تَسْأَلُ عَنْ أُخْتِهَا خَدِيجَةَ وَعَنْ فَاطْمَةَ الزَّهْرَاءِ وَعَنِ الْأَعِزَّاءِ زَيْنَبَ وَرُقَيَّةَ وَأُمِّ كُلْثُومٍ وَمُحَمَّدٌ يُجِيبُ وَقَدِ ان|فَرَجَتْ شَفَتَاهُ عَنِ الرِّقَّةِ وَلَاحَ فِي عَيْنَيْهِ الْمُحْمَرَّتَيْنِ صَفَاءُ النَّفْسِ .
Di rumah Abul Ash bin Ar-Rabi', Zainab merasa bahagia dengan kunjungan ayahnya, dan Muhammad pun bahagia dengan putrinya, serta menambah kegembiraannya bahwa suami putrinya telah dikenal di Makkah dengan julukan Al-Amin (yang terpercaya) sebagaimana beliau sendiri dikenal dengan julukan itu sebelumnya. Halah binti Khuwailid mulai bertanya tentang saudarinya, Khadijah, tentang Fatimah Az-Zahra, dan tentang orang-orang tercinta: Zainab, Ruqayyah, dan Umm Kulthum, sedangkan Muhammad menjawabnya dengan kedua bibir yang menyunggingkan kelembutan dan tampak kesucian jiwa pada kedua matanya yang kemerah-merahan.
وَفِيمَا كَانَ مُحَمَّدٌ وَأَبُو الْعَاصِ وَهَالَةُ وَزَيْنَبُ وَعَلِيٌّ آخِذِينَ بِأَطْرَافِ الْحَدِيثِ إِذْ أَقْبَلَ نَوْفَلُ بْنُ خُوَيْلِدٍ لِيَزُورَ أُخْتَهُ ، وَسُرْعَانَ مَا جَاءَتْ صَفِيَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَمَعَهَا ابْنُهَا الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ بْنِ خُوَيْلِدٍ لِرُؤْيَةِ هَالَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ فَفَاضَتِ الْقُلُوبُ بِالرَّحْمَةِ ، وَأَحَسَّ نَوْفَلٌ بِعَطْفِ صَفِيَّةَ عَلَى ابْنِهَا فَتَذَكَّرَ يَوْمَ أَنْ رَأَى صَفِيَّةَ تَضْرِبُ وَلَدَهَا الزُّبَيْرَ وَهُوَ صَغِيرٌ بَعْدَ أَنْ قُتِلَ أَبُوهُ فِي حَرْبِ الْفِجَارِ وَتُغْلِظُ عَلَيْهِ ، فَعَاتَبَهَا فِي ذَلِكَ وَقَالَ لَهَا فِيمَا قَالَ :
Dan ketika Muhammad, Abul Ash, Halah, Zainab, dan Ali sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah Naufal bin Khuwailid untuk mengunjungi saudarinya. Tidak lama kemudian datang pula Safiyyah binti Abdul Mutthalib bersama putranya, Az-Zubair bin Al-Awwam bin Khuwailid, untuk menemui Halah binti Khuwailid, sehingga hati pun dipenuhi dengan kasih sayang. Naufal merasakan kelembutan Safiyyah kepada putranya, lalu ia teringat hari ketika ia melihat Safiyyah memukul anaknya, Az-Zubair, sewaktu kecil setelah ayahnya terbunuh dalam Perang Fijar dan bersikap keras kepadanya, maka ia menegurnya dalam hal itu dan berkata kepadanya di antara apa yang dikatakannya:
— أَنْتِ تُبْغِضِينَهُ .
— "Engkau membencinya."
فَمَسَّ أُذُنَيْهِ وَهُوَ فِي مَجْلِسِهِ قَوْلُهَا لَهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ :
Maka terngiang kembali di telinganya saat ia berada di majelis itu ucapan Safiyyah kepadanya pada hari itu:
وَإِنَّمَا أَضْرِبُهُ لِكَيْ يَلَبْ مَنْ قَالَ إِنِّي أُبْغِضُهُ فَقَدْ كَذَبْ
[Shadr] Siapa yang mengatakan bahwa aku membencinya, maka sungguh ia telah berdusta,
[Ajuz] sesungguhnya aku memukulnya agar ia menjadi orang yang berakal cerdas,
وَلَا يَكُنْ لِمَالِهِ خَبْءٌ مُحَبْ وَيَهْزِمَ الْجَيْشَ وَيَأْتِيَ بِالسَّلَبْ
[Shadr] dan agar ia mampu mengalahkan pasukan serta membawa harta rampasan perang,
[Ajuz] dan tidak menjadi orang yang menyembunyikan hartanya karena sangat cinta,
يَأْكُلُ مَا فِي الظِّلِّ مِنْ تَمْرٍ وَحَبْ
[Shadr] serta memakan apa yang ada di tempat teduh berupa kurma dan biji-bijian.
كَانَ حَبْلُ الْوِدَادِ مَوْصُولًا بَيْنَ مُحَمَّدٍ وَقَوْمِهِ فَهُوَ يَزُورُ كُلَّ مَنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ بَنِي هَاشِمٍ صِلَةُ قُرْبَى ، فَإِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ عَادَهُ فَهُوَ يَذْكُرُ أَنَّ جَدَّتَهُ أُمَّ أَبِيهِ عَبْدِ اللهِ مِنْهُمْ ، وَيَفْتَحُ قَلْبَهُ لِآلِ عَفَّانَ وَبَنِيهِ فَعَفَّانُ تَزَوَّجَ أَرْوَى بِنْتَ عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ ابْنَةَ عَمَّتِهِ أُمِّ حَكِيمٍ الْبَيْضَاءِ بِنْتِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ تَوْأَمِ أَبِيهِ ، وَقَد ' قَرَّبَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ إِلَيْهِ لِدَمَاثَةِ خُلُقِهِ وَأَمَانَتِهِ الَّتِي اشْتَهَرَ بِهَا فَضْلًا عَنْ أَنَّهُ ابْنُ بِنْتِ عَمَّتِهِ .
Tali kasih sayang selalu tersambung antara Muhammad dan kaumnya. Beliau selalu mengunjungi siapa saja yang memiliki hubungan kekerabatan antara dirinya dan Bani Hasyim. Jika salah seorang dari Bani Makhzum jatuh sakit, beliau menjenguknya, karena beliau ingat bahwa neneknya, yaitu ibu dari ayahnya (Abdullah), berasal dari mereka. Beliau juga membuka hatinya untuk keluarga Affan dan anak-anaknya, sebab Affan dahulu menikahi Arwa binti Amir bin Kuraiz, putri dari bibi beliau Ummu Hakim Al-Baidha binti Abdul Mutthalib, saudara kembar ayah beliau. Beliau telah mendekatkan Utsman bin Affan kepada dirinya karena keluhuran akhlaknya dan sifat amanahnya yang terkenal, di samping ia adalah cucu dari bibi beliau.
وَلَمَّا مَاتَ عَفَّانُ تَزَوَّجَت ' أَرْوَى عُقْبَةَ بْنَ أَبِي مُعَيْطٍ فَوَلَدَت ' لَهُ الْوَلِيدَ وَعُمَارَةَ وَخَالِدًا وَأُمَّ كُلْثُومٍ ، فَاتَّصَلَتِ الْأَسْبَابُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ عُقْبَةَ وَآلِهِ .
Dan ketika Affan wafat, Arwa menikah dengan Uqbah bin Abi Mu'ait, lalu melahirkan untuknya Al-Walid, Umarah, Khalid, dan Umm Kulthum, sehingga terjalinlah hubungan kekerabatan antara beliau dengan Uqbah dan keluarganya.
وَكَانَتِ الصِّلَاتُ وَطِيدَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَ بَنِي هِلَالٍ لِأَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ الْهِلَالِيَّةَ زَوْجَ عَمِّهِ الْعَبَّاسِ مِنْهُمْ ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ بَنِي كَلَدَةَ فِي الطَّائِفِ فَالْحَارِثُ ابْنُ كَلَدَةَ طَبِيبُ الْعَرَبِ كَانَ زَوْجَ خَالَتِهِ ، وَقَدْ مَرِضَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ ذَاتَ يَوْمٍ مَرَضًا فَعَادَهُ أَبُو الْقَاسِمِ فَقَالَ :
Hubungan beliau juga sangat kuat dengan Bani Hilal karena Ummu Al-Fadhl binti Al-Harits Al-Hilaliyah, istri pamannya Al-Abbas, berasal dari mereka. Demikian pula antara beliau dengan Bani Kaldah di Thaif, sebab Al-Harits bin Kaldah, tabib bangsa Arab, adalah suami dari bibi beliau. Suatu hari Sa'ad bin Abi Waqqash jatuh sakit, maka Abul Qasim menjenguknya lalu bersabda:
— ادْعُوا لَهُ الْحَارِثَ بْنَ كَلَدَةَ فَإِنَّهُ رَجُلٌ يَتَطَبَّبُ .
— "Panggilkanlah Al-Harits bin Kaldah untuknya, karena ia adalah seorang yang ahli dalam mengobati."
فَلَمَّا عَادَهُ الْحَارِثُ نَظَرَ إِلَيْهِ وَقَالَ :
Maka ketika Al-Harits datang menjenguknya, ia melihat kepadanya lalu berkata:
— لَيْسَ عَلَيْهِ بَأْسٌ ، اتَّخِذُوا لَهُ فَرِيقَةً(١) بِشَيْءٍ مِنْ تَمْرِ عَجْوَةٍ وَحُلْبَةٍ يُطْبَخَانِ .
— "Ia tidak apa-apa, buatkanlah untuknya Fariqah(1) dari sedikit kurma Ajwah dan halbah (kelabat) yang dimasak bersamaan."
فَتَحَسَّاهَا فَبَرِئَ .
Maka Sa'ad pun meminumnya lalu sembuh.
كَانَ قَلْبُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَبِيرًا يَسَعُ كُلَّ مَنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ صِلَةُ رَحِمٍ مَهْمَا كَانَتْ تِلْكَ الصِّلَةُ بَعِيدَةً ، وَكُلَّ مَنْ أَسْدَى إِلَيْهِ مَعْرُوفًا مَهْمَا كَانَ ضَئِيلًا ، فَهُوَ لَا يَنْسَى أَبَدًا حَلِيمَةَ السَّعْدِيَّةَ الَّتِي أَرْضَعَتْهُ ، وَلَا ثُوَيْبَةَ الَّتِي بَشَّرَت ' عَمَّهُ أَبَا لَهَبٍ بِمَوْلِدِهِ ، وَلَا مُرْضِعَاتِ بَنَاتِهِ وَلَا حَوَاضِنَهُنَّ ، وَلَا أَيًّا مِمَّنِ اتَّصَلَ بِهِ بِسَبَبٍ ، وَكَانَ عَطْفُهُ سَابِغًا عَلَيْهِمْ جَمِيعًا فَلَا غَرْوَ أَنْ أَحَبَّهُ كُلُّ مَنْ عَرَفَهُ .
Hati Muhammad bin Abdullah begitu besar, memuat siapa saja yang memiliki hubungan rahim dengannya betapa pun jauhnya hubungan itu, dan siapa saja yang pernah berbuat kebaikan kepadanya betapa pun kecilnya. Beliau tidak pernah melupakan Halimah As-Sa'diyah yang menyusuinya, tidak pula Tsuwaibah yang memberi kabar gembira kepada pamannya Abu Lahab atas kelahirannya, tidak pula wanita-wanita yang menyusui putri-putrinya dan para pengasuhnya, serta siapa pun yang terhubung dengannya karena suatu sebab. Kasih sayang beliau tercurah luas kepada mereka semua, maka tidak heran jika setiap orang yang mengenalnya pasti mencintainya.
وَلَوْ شَاءَ أَنْ يَعِيشَ فِي سُوَيْدَاءِ قُلُوبِ قَوْمِهِ نَاعَمَ الْبَالِ يَنْعَمُ بِرَغَدِ الْعَيْشِ لَوَجَدَ فِي أَمْوَالِ خَدِيجَةَ مَا يُغْنِيهِ أَبَدًا وَمَا يَرْفَعُهُ إِلَى السُّؤْدَدِ وَالْجَاهِ وَالسُّلْطَانِ ، وَفِي حُبِّ النَّاسِ مَا يُرْضِي نَفْسَهُ . وَلَكِنَّهُ مَا خُلِقَ لِلْحَيَاةِ النَّاعْمَةِ فَقَدِ اصْطَفَاهُ اللهُ لِيُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ تَبْلِيغِ رِسَالَةِ رَبِّهِ ، وَيَتَحَمَّلَ الْأَلَمَ وَالْعَذَابَ وَالِاضْطِهَادَ وَعَدَاوَاتِ الَّذِينَ كَانَتْ قُلُوبُهُمْ تَخْفِقُ بِحُبِّهِ حَتَّى يُتِمَّ اللهُ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ .
Seandainya beliau menghendaki untuk hidup di lubuk hati kaumnya dengan tenang pikiran serta menikmati kemewahan hidup, niscaya beliau akan menemukan pada harta Khadijah apa yang mencukupinya selamanya dan apa yang mengangkatnya menuju kedudukan, martabat, dan kekuasaan, serta pada kecintaan manusia apa yang memuaskan jiwanya. Akan tetapi, beliau tidak diciptakan untuk kehidupan yang serba nyaman; sungguh Allah telah memilihnya untuk berjuang di jalan menyampaikan risalah Tuhannya, serta menanggung rasa sakit, siksaan, penindasan, dan permusuhan dari orang-orang yang dahulunya hati mereka bergetar karena mencintainya, hingga Allah menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.
(١) تَمْرٌ يُطْبَخُ بِحُلْبَةٍ .
(1) Fariqah: Kurma yang dimasak dengan halbah (kelabat).
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi