كَانَ بَنُو جُمَحَ مُجْتَمِعِينَ فِي نَادِيهِمْ حَوْلَ الْكَعْبَةِ ، وَكَانَ فِيهِمْ أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفِ بْنِ وَهْبِ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ جُمَحَ وَصَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ صَاحِبُ الْأَيْسَارِ ، فَمَا كَانَ أَحَدٌ يَضْرِبُ الْقِدَاحَ وَالْأَزْلَامَ عِنْدَ هُبَلَ قَبْلَ أَنْ يَلْتَمِسَ الْإِذْنَ مِنْهُ .
Bani Jumah berkumpul di tempat pertemuan mereka di sekitar Ka'bah. Di antara mereka terdapat Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah dan Shafwan bin Umayyah, pemilik undian nasib. Tidak ada seorang pun yang melempar anak panah undian (al-azlam) di dekat Hubal sebelum memohon izin darinya.
وَكَانَ بِلَالُ بْنُ رَبَاحٍ وَاقِفًا يَصْغَى إِلَى أَحَادِيثِ الْقَوْمِ ، وَسُرْعَانَ مَا مَشَى إِلَيْهِ وَاسْتَشْعَرَ رَغْبَةً فِي أَنْ يَنْطَلِقَ إِلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ يَسْعَدُ بِالْأُنْسِ بِهِ وَإِرْوَاءِ النَّفْسِ مِنْ نَبْعِهِ الصَّافِي .
Bilal bin Rabah berdiri mendengarkan pembicaraan kaum tersebut, dan tak lama kemudian ia berjalan dan merasakan keinginan untuk pergi menemui Abu Bakar bin Abi Quhafah guna mendapatkan kebahagiaan dengan bersamanya serta memuaskan jiwa dari mata airnya yang jernih.
كَانَ بِلَالٌ مَوْلًى لِبَعْضِ بَنِي جُمَحَ مَوْلِدًا مِنْ مَوْلِدِيهِمْ ، وَكَانَ اسْمُ أُمِّهِ حَمَامَةَ ، وَقَدْ شَبَّ فِيهِمْ أَمِينًا ذَا خُلُقٍ قَوِيمٍ فكَانُوا يُخْرِجُونَهُ فِي تِجَارَتِهِمْ فَكَانَ يَعُودُ بِالْأَرْبَاحِ الْوَفِيرَةِ ، وَزَادَتِ الثِّقَةُ فِيهِ عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ فَكَانَ لِبَنِي جُمَحَ كَمَا كَانَ مَيْسَرَةُ لِخَدِيجَةَ أَمِينَ الْقَافِلَةِ وَصَاحِبَ الْأَمْرِ فِيهَا .
Bilal adalah bekas budak dari sebagian Bani Jumah, lahir di antara mereka, dan nama ibunya adalah Hamamah. Ia tumbuh di tengah mereka sebagai orang yang jujur dan memiliki akhlak yang tegak. Mereka membawanya dalam perdagangan mereka, dan ia kembali dengan keuntungan yang melimpah. Kepercayaan kepadanya bertambah seiring berjalannya waktu, sehingga ia menjadi bagi Bani Jumah sebagaimana Maisarah bagi Khadijah, sebagai orang kepercayaan kafilah dan pengelola urusan di dalamnya.
وَفِي رِحْلَاتِ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ عَرَفَ بِلَالٌ أَبَا بَكْرٍ فَعَرَفَ فِيهِ التَّوَاضُعَ وَلِينَ الْجَانِبِ وَالنَّجْدَةَ وَالْكَرَمَ وَالسَّخَاءَ ، يَغَارُ عَلَى مُرُوءَتِهِ وَيَتَجَنَّبُ مَا يَرِيبُ ، فَلَمْ يَشْرَبِ الْخَمْرَ حَتَّى لَا يَخْدِشَ وَقَارَهُ ، وَمَا كَانَ يَكْذِبُ وَمَا أَخْلَفَ وَعْدًا قَطُّ فَتَفَتَّحَتْ نَفْسُ بِلَالٍ لَهُ . فَكَانَتْ أَسْعَدُ سَاعَاتِ حَيَاتِهِ تِلْكَ الَّتِي يَقْضِيهَا فِي صُحْبَتِهِ يُلْقِي إِلَيْهِ سَمْعَهُ لِتَسْتَمْتِعَ رُوحُهُ بِحِكْمَتِهِ وَعَذْبِ حَدِيثِهِ .
Dalam perjalanan musim dingin dan musim panas, Bilal mengenal Abu Bakar. Ia mendapati dalam dirinya sifat rendah hati, kelembutan, keberanian, kemurahan hati, dan kedermawanan. Ia menjaga harga dirinya dan menghindari hal-hal yang meragukan. Ia tidak meminum khamr agar tidak menciderai kehormatannya, ia tidak pernah berbohong dan tidak pernah mengingkari janji. Maka jiwa Bilal terbuka untuknya. Jam-jam paling bahagia dalam hidupnya adalah saat ia habiskan dalam persahabatannya, meminjamkan pendengarannya agar jiwanya dapat menikmati hikmah dan manisnya pembicaraannya.
كَانَ بَنُو جُمَحَ يَرْفُلُونَ فِي الْعِزِّ . فَكَانَتْ دَارُ أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ تَزْدَانُ بِالتُّحَفِ الْمَجْلُوبَةِ مِنْ فَارِسَ وَبِلَادِ الشَّامِ وَمِصْرَ ، وَكَانَتْ دَارُ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ تَمُوجُ بِفَتَيَاتٍ مِنْ كُلِّ الْأَجْنَاسِ ، وَكَانَتِ الدُّفُوفُ تُضْرَبُ وَالرَّاقِصَاتُ يَرْقُصْنَ لِلرِّجَالِ وَالشَّرَابُ يُرَاقُ فِي الْبُطُونِ لِجَلْبِ النَّشْوَةِ ، وَالرُّوَاةُ يَرْوُونَ أَبَاطِيلَ الشُّعَرَاءِ ، وَالظُّرَفَاءُ يُلْقُونَ النَّوَادِرَ الْمَكْشُوفَةَ دُونَ حَيَاءٍ ، وَأَذْرُعُ السَّادَةِ تَلْتَفُّ حَوْلَ خُصُورِ الْغَوَانِي ، وَالضَّحِكَاتُ الْمَاجِنَةُ الْآثِمَةُ تَعْلُو عَلَى أَصْوَاتِ الْقَيَانِ الْمُغَنِّيَاتِ ، فَقَدْ أُطْلِقَ لِلْجِنْسِ عِنَانُهُ وَتَفَجَّرَتْ فِي النُّفُوسِ شَهَوَاتٌ وَقْتِيَّةٌ حُكِمَ عَلَيْهَا أَنْ تَمُوتَ عِنْدَ قِمَّةِ نَشْوَتِهَا .
Bani Jumah hidup dalam kemegahan. Rumah Umayyah bin Khalaf dihiasi dengan barang-barang seni yang dibawa dari Persia, negeri Syam, dan Mesir. Rumah Shafwan bin Umayyah dipenuhi gadis-gadis dari segala bangsa. Rebana ditabuh, para penari menari untuk para pria, minuman ditumpahkan ke dalam perut untuk mendatangkan kenikmatan, para perawi menceritakan kebohongan para penyair, dan para pelawak menyampaikan humor cabul tanpa rasa malu. Lengan para tuan melingkar di pinggang para wanita penghibur, dan tawa yang nakal lagi berdosa meninggi melebihi suara para penyanyi wanita. Kebebasan seksual dilepaskan kendalinya, dan meledaklah dalam jiwa nafsu sesaat yang ditakdirkan untuk mati pada puncak kenikmatannya.
وَكَانَ بِلَالٌ يُعَايِنُ كُلَّ مَا يَجْرِي فِي دُورِ بَنِي جُمَحَ مِنْ فَسَادٍ بَلْ فِي كُلِّ دُورِ شُرَفَاءِ قُرَيْشٍ ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَسْتَنْكِرُ شَيْئًا فَقَدْ شَبَّ وَتَرَعْرَعَ فِي قَوْمٍ يَفْخَرُونَ بِإِنْفَاقِ الْأَمْوَالِ فِي شُرْبِ الْخُمُورِ وَفِي لَعِبِ الْمَيْسِرِ وَفِي حَضِّ فَتَيَاتِهِمْ عَلَى الْبِغَاءِ ، وَيَنْتَزِعُونَ النِّسَاءَ مِنْ أَحْضَانِ الْأَزْوَاجِ وَيَغْتَصِبُونَ الْبَنَاتِ مِنَ الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ ، وَتَتَغَزَّلُ حَرَائِرُهُمْ فِي الرِّجَالِ وَيَمْتَرِي الرُّوَاةُ بِذَلِكَ الْغَزَلِ فِي الْقَبَائِلِ ، وَكَانَ الرِّجَالُ يَبْعَثُونَ بِنِسَائِهِمْ عَنْ طِيبِ خَاطِرٍ إِلَى أَشْرَافِهِمْ وَإِلَى أَقْوِيَاءِ الْأَبْدَانِ وَالْأَذْهَانِ يَسْتَبْضِعْنَ مِنْهُنَّ وَيُنْجِبْنَ ذُرِّيَّةً مِنَ النَّابِهِينَ الْأَقْوِيَاءِ .
Bilal menyaksikan semua kerusakan yang terjadi di rumah-rumah Bani Jumah, bahkan di setiap rumah para bangsawan Quraisy. Namun, ia tidak mengingkari apa pun karena ia tumbuh besar di tengah kaum yang bangga menghabiskan harta untuk minum khamr, berjudi, dan mendorong gadis-gadis mereka untuk berzina. Mereka merampas istri-istri dari pelukan suami mereka dan memperkosa anak perempuan dari orang tua mereka. Wanita-wanita merdeka mereka menggoda pria, dan para perawi membanggakan rayuan itu di tengah suku-suku. Para pria pun dengan rela hati mengirim istri-istri mereka kepada bangsawan-bangsawan mereka dan kepada orang-orang yang kuat tubuh serta pikirannya agar dapat menghasilkan keturunan yang cerdas dan kuat.
وَمَا كَانَ لِلْمَرْأَةِ وَزْنٌ فَالْأَزْوَاجُ يَخْلَعُونَ النِّسَاءَ فِي يُسْرٍ كَمَا يَخْلَعُونَ النِّعَالَ ، وَمَا مِنِ امْرَأَةٍ فِي قَبَائِلِ الْعَرَبِ إِلَّا وَقَدْ طَافَتْ عَلَى أَزْوَاجٍ كَثِيرِينَ فَمَا كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ مَتَاعٍ .
Wanita tidak memiliki bobot, para suami menceraikan istri dengan mudah sebagaimana mereka melepas sandal. Tidak ada wanita di kabilah-kabilah Arab kecuali ia telah berkeliling kepada banyak suami, sehingga ia tidak lebih dari sekadar barang.
وَكَانَتِ الْمُتَعُ الْمَادِّيَّةُ طَابَعَ بُيُوتِ الشَّرَفِ فِي مَكَّةَ ، وَمَا كَانَتِ الْعِبَادَاتُ إِلَّا نَوْعًا مِنْ تَقْدِيسِ تَقَالِيدِ الْآبَاءِ ، وَمَا كَانَتْ تُمَارَسُ إِلَّا طَمَعًا فِي نَعِيمِ الدُّنْيَا وَدَفْعًا لِأَذَى الْآلِهَةِ الَّذِي يُصِيبُ النَّاسَ فِي الْأَرْضِ ، فَمَا كَانَ لِلدِّينِ مَكَانٌ فِي أَعْمَاقِ النُّفُوسِ وَسُوَيْدَاءِ الْقُلُوبِ إِنْ هُوَ إِلَّا عَصَبِيَّةٌ مِنْ عَصَبِيَّاتِ الْجَاهِلِيَّةِ .
Kenikmatan materi adalah ciri khas rumah-rumah kehormatan di Mekah. Ibadah hanyalah jenis pengkultusan tradisi nenek moyang, dan tidak dilakukan kecuali demi mengharap kenikmatan dunia serta menolak gangguan tuhan-tuhan yang menimpa manusia di bumi. Maka agama tidak memiliki tempat di kedalaman jiwa dan lubuk hati, ia hanyalah fanatisme dari kefanatikan zaman Jahiliyah.
وَكَانَ بِلَالٌ يَخْرُجُ مَعَ الْخَارِجِينَ إِلَى الْحَرَمِ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَيُقَدِّمُ الْقَرَابِينَ لِلْأَرْبَابِ وَيَدِينُ بِالْوَلَاءِ لِلَّاتِ وَالْعُزَّى وَإِنْ كَانَ يَحْتَرِمُ الْآلِهَةَ الْأُخْرَى ، مِثْلَهُ فِي ذَلِكَ مِثْلُ قُرَيْشٍ الَّذِينَ وُلِدَ فِيهِمْ . وَكَانَ يَعِيشُ فِي دُنْيَا الشَّرِّ وَإِنْ كَانَتْ فِي أَعْمَاقِهِ كُنُوزٌ مَطْمُورَةٌ زَاخِرَةٌ بِالْخَيْرِ لَمْ تَجِدْ مَنْ يَكْشِفُ عَنْهَا الْغِطَاءَ ، وَكَانَتْ تِلْكَ الْكُنُوزُ تُسْفِرُ عَنْ مَعْدِنِهَا كُلَّمَا أَلْقَى سَمْعَهُ إِلَى بَعْضِ مَنِ ارْتَفَعُوا بِإِنْسَانِيَّتِهِمْ عَنْ مَادِّيَّةِ الْعَصْرِ وَفُجُورِهِ .
Bilal keluar bersama orang-orang menuju Al-Haram, bertawaf di Baitul 'Atiq (Ka'bah), memberikan kurban kepada berhala, dan menyatakan loyalitas kepada Al-Lat dan Al-Uzza, meski ia menghormati tuhan-tuhan lain, sama seperti kaum Quraisy tempat ia dilahirkan. Ia hidup dalam dunia kejahatan, meskipun di kedalamannya tersimpan harta karun yang terkubur dan penuh dengan kebaikan yang belum menemukan orang untuk membukakan tutupnya. Harta karun itu menampakkan hakikatnya setiap kali ia mendengarkan orang-orang yang mengangkat kemanusiaan mereka di atas kematerian zaman dan kefajirannya.
وَكَانَ يَجِدُ رَاحَةً نَفْسِيَّةً كُلَّمَا جَلَسَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ وَكَانَ مُعْجَبًا بِوَقَارِهِ وَاعْتِدَالِهِ وَسَمَاحَةِ خُلُقِهِ وَكَرَمِهِ ، فَلَوْ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ لَمْ يَبْلُغْ بَعْدُ الثَّامِنَةَ وَالثَّلَاثِينَ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ أَكْثَرَ وَقَارًا مِنْ شُيُوخِ قُرَيْشٍ وَسَادَاتِهَا ، وَكَانَتْ أَمْتَعُ لَحَظَاتِ حَيَاتِهِ تِلْكَ الَّتِي يَذْهَبُ فِيهَا لِزِيَارَةِ أَبِي بَكْرٍ وَيَجِدُ عِنْدَهُ صَدِيقَهُ مُحَمَّدَ ابْنَ عَبْدِ اللهِ وَيَصْغَى إِلَى سِحْرِ حَدِيثِهِ ، فَقَدْ كَانَ يُحِسُّ نَشْوَةً عَارِمَةً تَمْلَأُ جَوَانِحَهُ وَكَأَنَّمَا يَرْتَفِعُ إِلَى السَّمَاءِ .
Ia menemukan kenyamanan psikologis setiap kali duduk bersama Abu Bakar dan ia kagum dengan wibawa, kesederhanaan, keluhuran budi, serta kedermawanannya. Meskipun Abu Bakar belum mencapai usia tiga puluh delapan tahun, ia lebih berwibawa daripada para tetua dan pemuka Quraisy. Saat-saat paling menyenangkan dalam hidupnya adalah saat ia pergi mengunjungi Abu Bakar dan mendapati temannya, Muhammad bin Abdullah di sana, lalu mendengarkan sihir pembicaraannya. Ia merasakan kegembiraan meluap memenuhi jiwanya, seolah-olah ia sedang terangkat ke langit.
وَمَلَأَتْ صُورَةُ مُحَمَّدٍ أَقْطَارَ رَأْسِهِ وَاسْتَوْلَتْ عَلَى لُبِّهِ ، إِنَّهُ مُتَوَاصِلُ الْأَحْزَانِ دَائِمُ الْفِكْرَةِ لَيْسَ لَهُ رَاحَةٌ ، طَوِيلُ السُّكُوتِ لَا يَتَكَلَّمُ فِي غَيْرِ حَاجَةٍ ، لَيْسَ بِالْجَافِي وَلَا الْمُهِينِ ، يُعَظِّمُ النِّعَمَ وَإِنْ دَنَتْ لَا يَذُمُّ مِنْهَا شَيْئًا وَلَا تُغْضِبُهُ الدُّنْيَا وَلَا مَا كَانَ لَهَا ، فَإِذَا تَعَدَّى الْحَقُّ لَمْ يَكُنْ لِغَضَبِهِ شَيْءٌ حَتَّى يَنْتَصِرَ لَهُ وَلَا يَغْضَبُ لِنَفْسِهِ وَلَا يَنْتَصِرُ لَهَا .
Sosok Muhammad memenuhi seluruh pikirannya dan menguasai hatinya. Ia terus-menerus bersedih, senantiasa berpikir, tidak memiliki ketenangan, banyak diam, tidak berbicara kecuali untuk kebutuhan, bukan orang yang kasar atau menghina. Ia menghargai nikmat meski kecil, tidak mencela apa pun darinya. Dunia dan isinya tidak membuatnya marah. Jika kebenaran dilanggar, kemarahannya tidak reda sampai ia membelanya, dan ia tidak marah untuk dirinya sendiri serta tidak membela dirinya sendiri.
إِنَّهُ خَافِضُ الطَّرْفِ نَظَرُهُ إِلَى الْأَرْضِ أَطْوَلُ مِنْ نَظَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ ، وَمَنْ رَآهُ بَدِيهَةً هَابَهُ وَمَنْ خَالَطَهُ مَعْرِفَةً أَحَبَّهُ ، لَا يَحْسَبُ جَلِيسُهُ أَنَّ أَحَدًا أَكْرَمُ عَلَيْهِ مِنْهُ وَلَا يَطْوِي عَنْ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ بِشْرًا ، قَدْ وَسِعَ النَّاسَ بَسْطَةً وَخُلُقًا ، وَهُوَ أَشَدُّ النَّاسِ حَيَاءً ، لَا يُثْبِتُ بَصَرَهُ فِي وَجْهِ أَحَدٍ ، لَهُ نُورٌ يَعْلُوهُ كَأَنَّ الشَّمْسَ تَجْرِي فِي وَجْهِهِ ، لَا يُؤْيِسُ رَاجِيَهُ وَمَنْ سَأَلَهُ حَاجَةً لَمْ يَرُدَّهُ إِلَّا بِهَا أَوْ بِمَيْسُورٍ مِنَ الْقَوْلِ ، أَجْوَدُ النَّاسِ بِالْخَيْرِ .
Ia menundukkan pandangan, tatapannya ke bumi lebih lama daripada ke langit. Siapa yang melihatnya sekilas akan segan, dan siapa yang mengenalnya dengan baik akan mencintainya. Teman duduknya tidak mengira ada orang yang lebih mulia darinya. Ia tidak pernah bermuka masam kepada siapa pun. Ia meluaskan manusia dengan kelapangan dan akhlak. Ia orang yang paling pemalu, tidak memaku pandangannya ke wajah seseorang. Ia memiliki cahaya yang menaunginya seolah matahari mengalir di wajahnya. Ia tidak membuat orang yang berharap putus asa, dan siapa yang meminta kebutuhan padanya, ia tidak menolaknya kecuali dengan memenuhinya atau dengan kata-kata yang baik. Orang yang paling dermawan dengan kebaikan.
وَاسْتَمَرَّ بِلَالٌ يُفَكِّرُ فِي ابْنِ عَبْدِ اللهِ ، إِنَّهُ يُحِسُّ كُلَّمَا أَعَارَهُ سَمْعَهُ أَنَّهُ يَصْغَى إِلَى تَرَانِيمَ آتِيَةٍ مِنْ وَرَاءِ عَالَمٍ شَفَّافٍ رَقِيقٍ طَاهِرٍ لَيْسَ مِنْ هَذِهِ الدُّنْيَا الَّتِي تَمُوجُ بِالْغِلْظَةِ وَالْقَسْوَةِ وَالشُّرُورِ . وَأَنَّ أَحَادِيثَهُ صَادِقَةٌ نَابِضَةٌ بِالْإِيمَانِ تَنْفُذُ إِلَى الْقَلْبِ وَتَمْلَؤُهُ بِالنُّورِ . وَأَنَّ كُلَّ فِعَالِهِ تُؤَكِّدُ أَنَّهُ إِنَّمَا خُلِقَ لِلنَّاسِ لَا لِنَفْسِهِ ، فَهُوَ يُعِينُ الْمَلْهُوفَ ، وَيَبْذُلُ كُلَّ مَا يَصِلُ إِلَيْهِ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَيَتَحَمَّلُ الْمَتَاعِبَ فِي سَبِيلِ رَاحَةِ الْآخَرِينَ وَأَنَّهُ مُشْرِقٌ عَلَى الدَّوَامِ لَكَأَنَّهُ مَنَارَةٌ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ جَثَمَ عَلَيْهِ ظَلَامٌ ثَقِيلٌ . فَقَدْ تَمَثَّلَ فِيهِ الْكَمَالُ الْإِنْسَانِيُّ .
Bilal terus berpikir tentang Ibnu Abdullah. Ia merasa setiap kali meminjamkan pendengaran, ia sedang mendengarkan nyanyian yang datang dari balik dunia yang transparan, lembut, dan suci, bukan dari dunia yang penuh dengan kekasaran, kekejaman, dan kejahatan. Pembicaraannya jujur, berdenyut dengan keimanan, menembus ke hati, dan memenuhinya dengan cahaya. Semua tindakannya menegaskan bahwa ia diciptakan untuk manusia, bukan untuk dirinya sendiri. Ia menolong orang yang kesusahan, memberikan semua yang sampai kepadanya untuk fakir miskin dan ibnu sabil, memikul beban demi kenyamanan orang lain, dan ia selalu bersinar seolah sebuah menara di laut dalam yang diduduki oleh kegelapan yang berat. Telah terwujud dalam dirinya kesempurnaan manusiawi.
وَاسْتَوْلَى عَلَى بِلَالٍ شُعُورٌ غَامِضٌ بِالْإِعْجَابِ بِأَبِي الْقَاسِمِ ، إِعْجَابًا لَيْسَ لَهُ حُدُودٌ . وَإِنْ عَجَزَ عَنْ أَنْ يُفَسِّرَ ذَلِكَ الشُّعُورَ فَمِنْ أَيْنَ لَهُ أَنْ يَفْطِنَ إِلَى أَنَّ ذَلِكَ الْإِنْسَانَ الْكَامِلَ قَدْ خُلِقَ لِيَكُونَ بِدَايَةَ خَيْرِ زَمَنٍ فِي تَارِيخِ الْبَشَرِيَّةِ جَمْعَاءَ !
Perasaan kagum yang misterius menguasai Bilal terhadap Abul Qasim, kekaguman tanpa batas. Meskipun ia tidak mampu menafsirkan perasaan itu, dari mana ia akan sadar bahwa manusia sempurna itu telah diciptakan untuk menjadi awal zaman terbaik dalam sejarah seluruh umat manusia!
وَضَاقَ بِلَالٌ بِأَحَادِيثِ سَادَاتِ بَنِي جُمَحَ وَبِأَشْعَارِ الشُّعَرَاءِ الْمَاجِنِينَ فَانْسَلَّ مِنْ نَادِي الْقَوْمِ وَغَادَرَ الْكَعْبَةَ وَانْطَلَقَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ ، وَهُوَ يُمَنِّي النَّفْسَ بِلِقَاءِ أَبِي الْقَاسِمِ لِيَغْسِلَ أَدْرَانَ الرُّوحِ وَيُصَفِّيَ الْقَلْبَ مِنْ شَوَاغِلِ الدُّنْيَا وَيَهِيمَ مَعَهُ فِي مَلَكُوتٍ كَرِيمٍ يَنْبِضُ بِمَشَاعِرَ تَسْمُو بِإِنْسَانِيَّةِ الْإِنْسَانِ .
Bilal merasa sesak dengan pembicaraan para pemuka Bani Jumah dan puisi para penyair nakal. Ia menyelinap keluar dari tempat pertemuan kaum itu, meninggalkan Ka'bah, dan berangkat menuju Abu Bakar. Ia mendambakan pertemuan dengan Abul Qasim untuk membasuh kotoran jiwa, membersihkan hati dari kesibukan dunia, dan mengembara bersamanya dalam kerajaan mulia yang berdenyut dengan perasaan yang meninggikan kemanusiaan manusia.
***
***
وَكَانَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ يُلْقِي تَحِيَّةً طَيِّبَةً عَلَى أُمِّهِ الَّتِي يُحِبُّهَا بِكُلِّ جَارِحَةٍ مِنْ جَوَارِحِهِ قَبْلَ أَنْ يُغَادِرَ الدَّارَ ، وَسُرْعَانَ مَا خَرَجَ مِنْ دُورِ بَنِي زُهْرَةَ وَانْطَلَقَ فِي الطَّرِيقِ الَّذِي كَانَتْ حَوَانِيتُ الْعَطَّارِينَ عَلَى جَانِبَيْهِ وَكَانَتْ دُكَّانُ أَبِي طَالِبٍ تَكَادُ تَكُونُ خَالِيَةً مِنَ الطِّيبِ وَالْمِسْكِ وَالْعَنْبَرِ .
Sa'ad bin Abi Waqqash pada waktu itu menyampaikan salam yang baik kepada ibunya yang ia cintai dengan seluruh anggota tubuhnya sebelum meninggalkan rumah. Tak lama kemudian ia keluar dari rumah Bani Zuhrah dan berangkat di jalan yang di sisi-sisinya terdapat toko-toko penjual parfum. Toko Abu Thalib hampir kosong dari wewangian, minyak kasturi, dan amber.
بَيْنَمَا كَانَتْ دُكَّانُ أَسْمَاءَ بِنْتِ مُخَرِّبَةَ أُمِّ بَنِي الْمُغِيرَةِ وَجَدَّةِ أَبِي الْحَكَمِ بْنِ هِشَامٍ ( أَبِي جَهْلٍ ) غَاصَّةً بِأَفْخَرِ أَنْوَاعِ الْعُودِ وَالْمَنْدَلِ وَالْأَطْيَابِ الْمَجْلُوبَةِ مِنَ الْيَمَنِ وَأَرْضِ الْبُخُورِ .
Sementara toko Asma binti Mukharribah, ibu Bani Mughirah dan nenek Abu Al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), penuh sesak dengan jenis kayu gaharu, kayu cendana, dan wewangian terbaik yang didatangkan dari Yaman dan negeri dupa.
وَأَمَامَ دَارِ خَدِيجَةَ الْتَقَى بِعَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ فَوَقَفَ الشَّابُّ يُحَادِثُ عَمَّارًا الَّذِي كَانَ رَفِيقَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي رِحْلَاتِهِ ، وَقَدْ قَالَ عَمَّارٌ إِنَّهُ ذَاهِبٌ لِزِيَارَةِ أَبِي الْقَاسِمِ قَبْلَ أَنْ يَهِلَّ هِلَالُ رَمَضَانَ وَيَصْعَدَ مُحَمَّدٌ إِلَى غَارِ حِرَاءٍ لِيَتَحَنَّثَ كَمَا اعْتَادَ أَنْ يَفْعَلَ فِي كُلِّ عَامٍ .
Di depan rumah Khadijah, ia bertemu dengan Ammar bin Yasir. Pemuda itu berdiri mengobrol dengan Ammar yang merupakan teman Muhammad bin Abdullah dalam perjalanan-perjalanannya. Ammar mengatakan bahwa ia pergi untuk mengunjungi Abul Qasim sebelum hilal Ramadan muncul dan Muhammad naik ke Gua Hira untuk bertahannuts sebagaimana yang ia lakukan setiap tahun.
وَاعْتَذَرَ سَعْدٌ بِأَنَّ مُحَمَّدًا قَدْ زَارَهُ بِالْأَمْسِ وَأَنَّهُ مُنْطَلِقٌ إِلَى دَارِ أَبِي بَكْرٍ لِيَسْأَلَهُ عَنْ تَأْوِيلِ رُؤْيَا رَآهَا ، وَلَمْ يَعْجَبْ عَمَّارٌ لِذَلِكَ فَقَدْ عَرَفَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ بَرَاعَتَهُ فِي تَفْسِيرِ الْأَحْلَامِ .
Sa'ad meminta maaf karena Muhammad telah mengunjunginya kemarin dan ia berangkat ke rumah Abu Bakar untuk bertanya tentang takwil mimpi yang ia lihat. Ammar tidak heran akan hal itu karena ia tahu kepiawaian Abu Bakar dalam menafsirkan mimpi.
وَجَلْجَلَتْ ضَحِكَاتٌ مِنْ دَارِ أَبِي سُفْيَانَ الْمُقَابِلَةِ لِدَارِ خَدِيجَةَ فَالْتَفَتَ سَعْدٌ وَعَمَّارٌ وَفِي أَعْيُنِهِمَا دَهَشٌ ، فَأَبُو سُفْيَانَ قَدْ خَرَجَ عَلَى رَأْسِ قَافِلَةِ قُرَيْشٍ إِلَى الْيَمَنِ ، فَإِذَا بِحَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ وَيَزِيدَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ وَعَمْرِو بْنِ أَبِي سُفْيَانَ وَمُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ مُقْبِلِينَ وَمِنْ حَوْلِهِمْ رِجَالٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ وَقَدْ أَخَذُوا طَرِيقَهُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ .
Suara tawa meledak dari rumah Abu Sufyan yang berhadapan dengan rumah Khadijah. Sa'ad dan Ammar menoleh dengan mata penuh keheranan. Abu Sufyan telah pergi memimpin kafilah Quraisy ke Yaman. Tiba-tiba Hanzhalah bin Abi Sufyan, Yazid bin Abi Sufyan, Amr bin Abi Sufyan, dan Muawiyah bin Abi Sufyan datang, dikelilingi oleh orang-orang dari Bani Umayyah, dan mereka mengambil jalan menuju Masjidil Haram.
وَعَرَجَ عَمَّارٌ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ ، وَانْسَابَ سَعْدٌ إِلَى الْكَعْبَةِ فَطَافَ بِهَا ثُمَّ خَرَجَ مِنْ بَابِ بَنِي مَخْزُومٍ وَمَرَّ بِدَارِ الْأَرْقَمِ بْنِ أَبِي الْأَرْقَمِ الْمَخْزُومِيِّ ثُمَّ سَارَ غَرْبًا إِلَى الْمَسْفَلَةِ حَيْثُ دَارُ أَبِي بَكْرٍ ، فَأَلْفَى عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ خَارِجًا لِلْقَنْصِ وَقَدْ رَكِبَ فَرَسَهُ وَتَنَكَّبَ قَوْسَهُ ، وَدَارَ حَدِيثٌ رَقِيقٌ بَيْنَ بَارِي النَّبْلِ الْقَصِيرِ الدَّحْدَاحِ وَبَيْنَ ابْنِ أَبِي بَكْرٍ الَّذِي يَشِبُّ فَارِسًا شَاعِرًا كَكُلِّ أَبْنَاءِ بُيُوتَاتِ قُرَيْشٍ ، ثُمَّ دَلَفَ سَعْدٌ إِلَى الدَّارِ .
Ammar berbelok ke rumah Khadijah, dan Sa'ad mengalir menuju Ka'bah, bertawaf di sana, lalu keluar dari pintu Bani Makhzum dan melewati rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzumi. Kemudian ia berjalan ke arah barat menuju Al-Masfalah, tempat rumah Abu Bakar. Ia menemukan Abdurrahman bin Abu Bakar keluar untuk berburu dengan menunggangi kudanya dan menyandang busurnya. Terjadi percakapan lembut antara pembuat busur yang pendek dan gempal dengan putra Abu Bakar yang sedang tumbuh sebagai ksatria dan penyair seperti semua putra keluarga-keluarga Quraisy. Kemudian Sa'ad melangkah masuk ke rumah.
كَانَ أَبُو بَكْرٍ جَالِسًا وَعِنْدَهُ حَكِيمُ بْنُ حِزَامِ بْنِ خُوَيْلِدٍ ــ وَقَدْ صَارَتْ دَارُ النَّدْوَةِ إِلَيْهِ بَعْدَ أَنْ كَانَتْ لِبَنِي عَبْدِ الدَّارِ ، اشْتَرَاهَا لِتَكُونَ مَكْرُمَةً لَهُ وَلِأَبْنَائِهِ مِنْ بَعْدِهِ وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَطَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ وَبَعْضُ شَبَابِ قُرَيْشٍ . وَكَانُوا جَمِيعًا مِنَ الشَّبَابِ الْقُرَشِيِّ - بِاسْتِثْنَاءِ حَكِيمٍ - الْمُتَطَلِّعِينَ إِلَى حَيَاةٍ جَدِيدَةٍ غَيْرِ حَيَاةِ مَكَّةَ الْغَارِقَةِ فِي الْأَسَاطِيرِ وَالْخُرَافَاتِ وَالْأَوْهَامِ ، وَقَدْ وَجَدُوا فِي أَبِي بَكْرٍ أُسْوَةً حَسَنَةً فَكَانُوا يَهْرَعُونَ إِلَيْهِ لِيَقْتَبِسُوا مِنْهُ الطَّهَارَةَ وَالصِّدْقَ وَمَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ ، فَقَدْ كَانَتْ ضَمَائِرُهُمْ نَقِيَّةً لَمْ تَتَغَلْغَلْ فِيهَا بَعْدُ وَثَنِيَّةُ الْآبَاءِ وَلَا التَّعَصُّبُ الْأَعْمَى لِأَحْجَارٍ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَا تَمْلِكُ لِنَفْسِهَا شَيْئًا .
Abu Bakar sedang duduk dan bersamanya ada Hakim bin Hizam bin Khuwailid—Darun Nadwah telah menjadi miliknya setelah sebelumnya milik Bani Abduddar, ia membelinya agar menjadi kemuliaan baginya dan anak-anaknya setelahnya—serta Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, dan sebagian pemuda Quraisy. Mereka semua adalah pemuda Quraisy—kecuali Hakim—yang merindukan kehidupan baru selain kehidupan Mekah yang tenggelam dalam mitos, takhayul, dan khayalan. Mereka menemukan teladan yang baik pada diri Abu Bakar, maka mereka bergegas menemuinya untuk mengambil kesucian, kejujuran, dan kemuliaan akhlak darinya. Nurani mereka suci, belum dimasuki oleh penyembahan berhala nenek moyang dan fanatisme buta terhadap batu-batu yang tidak memberi mudarat, tidak memberi manfaat, dan tidak memiliki kuasa apa pun untuk diri mereka sendiri.
وَدَخَلَ سَعْدٌ عَلَى الْقَوْمِ وَأَلْقَى عَلَيْهِمُ التَّحِيَّةَ ، ثُمَّ سَارَ وَجَلَسَ إِلَى جِوَارِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَهُوَ مِثْلُهُ مِنْ بَنِي زُهْرَةَ أَخْوَالِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، وَدَارَ الْحَدِيثُ حَوْلَ التِّجَارَةِ وَالرِّحْلَاتِ فَرَاحَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ يَقُصُّ بَعْضَ قِصَصِهِ فِي الْأَسْوَاقِ ، فَقَدْ ذَاعَ صِيتُ أَمَانَتِهِ فِي الْقَبَائِلِ فكَانَتِ التِّجَارَةُ تُرْسَلُ إِلَيْهِ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ وَصَوْبٍ إِلَى مَكَانِ الصَّفْقِ ، فَمَا كَانَ يَبْدَأُ فِي الصَّفْقِ مُعْلِنًا بَدْءَ الْبَيْعِ حَتَّى يَخِفَّ النَّاسُ إِلَيْهِ وَلَا يَنْفَضُّونَ مِنْ حَوْلِهِ حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى مَا مَعَهُ مِنْ تِجَارَةٍ ، فَيَأْخُذُ نَصِيبَهُ بِلَا زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ وَيُعِيدُ إِلَى أَصْحَابِ التِّجَارَةِ حُقُوقَهُمْ .
Sa'ad masuk menemui kaum tersebut dan mengucapkan salam. Kemudian ia berjalan dan duduk di samping Abdurrahman bin Auf karena ia sama-sama dari Bani Zuhrah, paman dari pihak ibu Muhammad bin Abdullah. Pembicaraan berputar di sekitar perdagangan dan perjalanan. Abdurrahman bin Auf mulai menceritakan beberapa kisahnya di pasar-pasar. Reputasi kejujurannya telah tersebar di suku-suku, sehingga barang dagangan dikirim kepadanya dari setiap penjuru ke tempat transaksi. Begitu ia mulai bertransaksi mengumumkan dimulainya penjualan, orang-orang segera datang kepadanya dan tidak bubar dari sekitarnya hingga ia menghabiskan barang dagangan yang ada padanya. Ia mengambil bagiannya tanpa kelebihan dan tanpa kekurangan, lalu mengembalikan hak-hak para pemilik barang dagangan.
وَقَصَّ عُثْمَانُ قِصَّةَ خُرُوجِهِ مَعَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ إِلَى الْحَبَشَةِ ، وَرَاحَ يَصِفُ رُكُوبَ الْبَحْرِ وَأَسْوَاقَ الْحَبَشَةِ وَبَلَاطَ النَّجَاشِيِّ وَعَادَاتِ النَّاسِ وَمَا عَادَتِ الْقَافِلَةُ بِهِ مِنْ أَرْبَاحٍ مَادِّيَّةٍ وَصِلَاتٍ طَيِّبَةٍ ، فَقَدْ تَوَطَّدَتْ صَدَاقَةٌ بَيْنَ عَمْرٍو وَالنَّجَاشِيِّ وَاسْتَطَاعَ عَمْرٌو بِدَهَائِهِ أَنْ يَسْتَوْلِيَ عَلَى إِعْجَابِ عَاهِلِ الْبِلَادِ .
Utsman menceritakan kisah kepergiannya bersama Amr bin Ash ke Habasyah. Ia mulai menggambarkan pelayaran laut, pasar-pasar Habasyah, istana Najasyi, adat istiadat manusia, dan keuntungan materi serta hubungan baik yang dibawa pulang oleh kafilah. Persahabatan telah terjalin kuat antara Amr dan Najasyi, dan Amr dengan kecerdikannya mampu menarik kekaguman penguasa negeri itu.
وَتَحَدَّثَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ عَنْ أَسْوَاقِ الشَّامِ وَالْيَمَنِ وَالْحِيرَةِ وَبُصْرَى ، وَأَسْهَبَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ قَصْرِ هِرَقْلَ إِمْبَرَاطُورِ الرُّومِ الَّذِي يَمْضِي أَغْلَبَ أَوْقَاتِهِ فِي بُصْرَى ، وَكَثِيرًا مَا يَبْعَثُ إِلَى أَشْرَافِ الْأَقْوَامِ الَّذِينَ يَؤُمُّونَ أَسْوَاقَهَا لِيَفِدُوا عَلَيْهِ فَيُكْرِمُهُمْ وَيَسْأَلُهُمْ عَنْ أَحْوَالِهِمْ وَأَحْوَالِ بِلَادِهِمْ ، وَيُحَاوِلُ أَنْ يَسْتَشِفَّ مِنْ أَحَادِيثِهِمْ حَقِيقَةَ مِيُولِهِمْ ، وَأَنْ يَعْرِفَ عَوَاطِفَهُمْ مَعَهُ أَوْ مَعَ الْفُرْسِ أَعْدَائِهِ وَأَعْدَاءِ بِلَادِهِ ؟
Hakim bin Hizam berbicara tentang pasar-pasar Syam, Yaman, Hirah, dan Bushra. Ia menguraikan pembicaraan tentang istana Heraklius, Kaisar Romawi, yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Bushra. Seringkali ia mengutus kepada para bangsawan kabilah yang mendatangi pasar-pasarnya agar mereka datang menemuinya, ia memuliakan mereka, bertanya tentang keadaan mereka dan keadaan negeri mereka, serta mencoba menyelami kebenaran kecenderungan mereka dari pembicaraan mereka, dan mengetahui apakah simpati mereka bersamanya atau bersama Persia, musuh-musuhnya dan musuh negerinya?
وَتَحَدَّثَ الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ عَنِ الْفُرُوسِيَّةِ وَالْفُرْسَانِ وَابْنُ عَمِّهِ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ يَرْمُقُهُ فِي إِعْجَابٍ ، وَاشْتَرَكَ فِي الْحَدِيثِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَسَعْدُ ابْنُ أَبِي وَقَّاصٍ ، وَكَانَ انْفِعَالُ الشَّبَابِ يَتَرَقْرَقُ فِي الْوُجُوهِ وَيَجْرِي عَلَى الْأَلْسِنَةِ ، وَكَانَ الْحَدِيثُ يَدُورُ حَوْلَ بَعْضِ مُنَاوَشَاتٍ دَارَتْ بَيْنَ بَعْضِ الْفُرْسَانِ أَوْ بَعْضِ الْأَحْيَاءِ ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ أَحَدٍ مِنَ الْحَاضِرِينَ أَنَّ هَؤُلَاءِ الشُّبَّانَ الْمَغْمُورِينَ سَيَرْفَعُهُمْ دِينٌ قَوِيمٌ إِلَى مَصَافِّ أَشْهَرِ قُوَّادِ الْأَرْضِ ، وَأَنَّهُمْ سَيُقَوِّضُونَ بِسُيُوفِ اللهِ الْمَسْلُولَةِ جُيُوشَ أَعْظَمِ إِمْبَرَاطُورِيَّتَيْنِ : إِمْبَرَاطُورِيَّةِ الْفُرْسِ وَإِمْبَرَاطُورِيَّةِ الرُّومَانِ .
Zubair bin Awwam berbicara tentang keprajuritan dan para ksatria, sementara sepupunya Hakim bin Hizam menatapnya dengan kagum. Abu Ubaidah bin Jarrah dan Sa'ad bin Abi Waqqash ikut serta dalam pembicaraan. Kegembiraan para pemuda terpancar di wajah dan mengalir di lidah. Pembicaraan berputar di sekitar beberapa pertempuran kecil yang terjadi di antara beberapa ksatria atau beberapa kabilah. Tidak terlintas di hati siapa pun dari yang hadir bahwa para pemuda yang belum dikenal ini akan diangkat oleh agama yang teguh ke jajaran komandan paling terkenal di bumi, dan bahwa mereka akan meruntuhkan dengan pedang-pedang Allah yang terhunus pasukan dari dua kekaisaran terbesar: Kekaisaran Persia dan Kekaisaran Romawi.
وَتَحَدَّثَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ قَوَافِلِ بَنِي تَيْمٍ فَهُوَ مِنْ رَهْطِ أَبِي بَكْرٍ ، وَذَكَرَ الرُّهْبَانَ النَّازِلِينَ فِي صَوَامِعِهِمْ عَلَى طَرِيقِ الْقَوَافِلِ فَهَيَّجَ بِحَدِيثِهِ ذِكْرَيَاتِ أَبِي بَكْرٍ . فَرَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ طِفْلٌ صَغِيرٌ يَخْرُجُ مَعَ أَبِيهِ فِي قَافِلَةِ قُرَيْشٍ الَّتِي كَانَ سَيِّدُهَا أَبُو طَالِبٍ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي تَشَبَّثَ فِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بِعَمِّهِ وَخَرَجَ مَعَهُ إِلَى الشَّامِ .
Thalhah bin Ubaidillah berbicara tentang kafilah-kafilah Bani Taim karena ia berasal dari kerabat Abu Bakar. Ia menyebutkan para rahib yang turun di biara-biara mereka di jalan kafilah, sehingga pembicaraannya membangkitkan kenangan Abu Bakar. Ia melihat dirinya saat masih kecil keluar bersama ayahnya dalam kafilah Quraisy yang dipimpin oleh Abu Thalib pada hari ketika Muhammad bin Abdullah berpegangan pada pamannya dan keluar bersamanya ke Syam.
وَاحْتَلَّتْ رَأْسَ الصِّدِّيقِ أَحْدَاثُ ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ قَافِلَةُ قُرَيْشٍ إِلَى جِوَارِ صَوْمَعَةِ بُحَيْرَا الرَّاهِبِ ، وَرَنَّ فِي ضَمِيرِهِ ذَلِكَ الْحِوَارُ الَّذِي دَارَ بَيْنَ بُحَيْرَا وَأَبِي طَالِبٍ ، وَانْثَالَتْ عَلَى فِكْرِهِ صُورَةُ بُحَيْرَا وَهُوَ يَكْشِفُ عَنْ ظَهْرِ مُحَمَّدٍ وَيُقَبِّلُ الْخَاتَمَ الَّذِي بَيْنَ كَتِفَيْهِ ، وَسُرْعَانَ مَا رَأَى مُحَمَّدًا يَخْرُجُ فِي تِجَارَةِ خَدِيجَةَ وَهُوَ إِلَى جِوَارِهِ يَصْغَى إِلَى عَذْبِ حَدِيثِهِ وَيَسْعَدُ بِرُفْقَتِهِ ، حَتَّى إِذَا مَا نَزَلَتِ الْقَافِلَةُ بِالْقُرْبِ مِنْ صَوْمَعَةِ الرَّاهِبِ نَسْطُورَا وَرَأَى الرَّاهِبُ الشَّابَّ الْقُرَشِيَّ الْوَسِيمَ انْطَلَقَ إِلَيْهِ كَالْمَسْحُورِ وَرَاحَ يُحَادِثُهُ فِي اهْتِمَامٍ وَيَسْأَلُهُ عَنْ بَعْضِ شَأْنِهِ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ ، ثُمَّ يَطْلُبُ مِنْهُ أَنْ يَكْشِفَ عَنْ ظَهْرِهِ لِيَرَى الْخَاتَمَ الَّذِي بَيْنَ كَتِفَيْهِ فَلَمَّا وَقَعَتْ عَلَيْهِ عَيْنَاهُ مَالَ وَقَبَّلَهُ فِي تَقْدِيسٍ وَاحْتِرَامٍ .
Kejadian hari itu, ketika kafilah Quraisy turun di dekat biara rahib Buhaira, memenuhi pikiran Ash-Shiddiq. Dialog yang terjadi antara Buhaira dan Abu Thalib terngiang dalam batinnya. Bayangan Buhaira yang membuka punggung Muhammad dan mencium tanda kenabian (khatam) di antara kedua bahunya terlintas di pikirannya. Segera ia melihat Muhammad keluar dalam perdagangan Khadijah, sementara ia (Abu Bakar) berada di sampingnya mendengarkan manisnya pembicaraannya dan bahagia dengan persahabatannya. Hingga ketika kafilah turun di dekat biara rahib Nastura, dan sang rahib melihat pemuda Quraisy yang tampan itu, ia melesat menghampirinya seperti orang yang tersihir dan mulai berbicara dengannya dengan penuh perhatian, bertanya tentang sebagian keadaannya saat bangun dan tidur, lalu memintanya untuk membuka punggungnya guna melihat tanda di antara bahunya. Ketika matanya tertuju pada tanda itu, ia condong dan menciumnya dengan penuh pengagungan dan penghormatan.
قَالَ بُحَيْرَا لِأَبِي طَالِبٍ :
Buhaira berkata kepada Abu Thalib:
ارْجِعْ بِابْنِ أَخِيكَ إِلَى بَلَدِهِ وَاحْذَرْ عَلَيْهِ الْيَهُودَ ، فَوَاللهِ لَئِنْ رَأَوْهُ وَعَرَفُوا مِنْهُ مَا عَرَفْتُ لَيَبْغُنَّهُ بِشَرٍّ . فَإِنَّهُ كَائِنٌ لِابْنِ أَخِيكَ هَذَا شَأْنٌ عَظِيمٌ ، فَأَسْرِعْ بِهِ إِلَى بِلَادِهِ .
"Bawalah kembali anak saudaramu ke negerinya dan waspadalah terhadap orang-orang Yahudi. Demi Allah, jika mereka melihatnya dan mengenali darinya apa yang aku kenali, mereka pasti akan mencelakainya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memiliki urusan yang besar, maka segeralah membawanya ke negerinya."
وَقَالَ نَسْطُورَا أَنَّهُ سَيَكُونُ لِمُحَمَّدٍ شَأْنٌ ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ فِي عَيْنِ ذَاتِهِ يُؤْمِنُ بِصَدِيقِهِ أَعْمَقَ الْإِيمَانِ ، وَيَرَى أَنْ لَيْسَ لِلْعَرَبِ مِنْ مُعَلِّمٍ وَلَا هَادٍ غَيْرُ أَبِي الْقَاسِمِ فَهُوَ صَاحِبُ نَفْسِيَّةٍ عَظِيمَةٍ وَإِرَادَةٍ قَوِيَّةٍ ، اتَّصَلَ بِالطَّبِيعَةِ وَبِمَا وَرَاءِ الطَّبِيعَةِ وَكَادَ أَنْ يُمِيطَ اللِّثَامَ عَنْ سِرِّ الْوُجُودِ ، إِنَّهُ إِنْسَانٌ عَظِيمٌ وَإِنَّهُ لَشَرَفٌ لِأَعْظَمِ الرِّجَالِ أَنْ يَكُونُوا مُرِيدِينَ لِصَاحِبِ هَذِهِ الْعَظَمَةِ الْخَارِقَةِ .
Nastura pun berkata bahwa Muhammad akan memiliki kedudukan. Abu Bakar sendiri meyakini temannya dengan keyakinan yang paling dalam. Ia memandang bahwa tidak ada guru maupun penunjuk jalan bagi bangsa Arab selain Abul Qasim. Ia adalah pemilik jiwa yang besar dan kemauan yang kuat, berhubungan dengan alam dan apa yang di balik alam, serta hampir menyingkap tabir rahasia wujud. Ia adalah manusia yang agung, dan merupakan kehormatan bagi pria-pria paling agung untuk menjadi pengikut pemilik keagungan yang luar biasa ini.
وَأَدَارَ أَبُو بَكْرٍ عَيْنَيْهِ فِي وُجُوهِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ وَأَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ وَطَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ وَعُثْمَانَ ابْنِ عَفَّانَ ، وَإِذَا بِهَامِسٍ يَهْمِسُ فِي جَوْفِهِ يَقُولُ :
Abu Bakar mengedarkan pandangannya ke wajah Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin Jarrah, Thalhah bin Ubaidillah, dan Utsman bin Affan. Tiba-tiba ada bisikan di dalam hatinya yang mengatakan:
( يَا لَحُسْنِ طَالِعِ هَذَا الْجِيلِ ، لَوْ أَنَّ هَؤُلَاءِ الْأَشْبَالَ تَعَلَّمُوا الْحِكْمَةَ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ! ) .
"(Alangkah beruntungnya generasi ini, seandainya anak-anak singa ini belajar hikmah dari Muhammad bin Abdullah!)"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar