تَهَلَّلَتْ خَدِيجَةُ بِالْفَرَحِ حَتَّى إِنَّهَا رَاحَتْ تُنَاجِي اللهَ وَالدُّمُوعُ تَمْلَأُ عَيْنَيْهَا وَالِانْفِعَالُ الشَّدِيدُ يَسْتَحْوِذُ عَلَيْهَا ، كَانَتْ تَشْكُرُهُ بِلِسَانِهَا وَبِكُلِّ جَوَارِحِهَا عَلَى أَنْ اصْطَفَى مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ لِرِسَالَتِهِ ، وَزَادَ فِي غِبْطَتِهَا صِدْقُ مَا نَفَتْ فِي رَوْعِهَا وَمَا رَأَتْ فِي أَحْلَامِهَا بَعْدَ أَنْ عَادَ مَيْسَرَةُ مِنَ الشَّامِ يَقُصُّ عَلَيْهَا أَنْبَاءَ الْأَمِينِ وَمَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الرُّهْبَانِ وَالتُّجَّارِ وَالسَّادَةِ وَالْعَبِيدِ .
Khadijah berseri-seri penuh sukacita hingga ia mulai bermunajat kepada Allah sementara air mata memenuhi matanya dan emosi yang kuat menguasainya. Ia bersyukur kepada-Nya dengan lisannya dan seluruh anggota tubuhnya karena telah memilih Muhammad bin Abdullah untuk risalah-Nya. Kebahagiaannya bertambah dengan terbuktinya apa yang terbersit di dalam benaknya dan apa yang ia lihat dalam mimpi-mimpinya setelah Maisarah kembali dari Syam menceritakan kepadanya kabar tentang Al-Amin serta apa yang terjadi di antara dirinya dengan para rahib, pedagang, pemuka, dan budak.
فَقَدْ أَلْقَى فِي عَيْنِ ذَاتِهَا مُنْذُ تِلْكَ الْأَيَّامِ أَنَّ ابْنَ عَبْدِ اللهِ هُوَ النَّبِيُّ الْمُرْتَقَبُ ، وَقَدْ دَفَعَهَا إِيمَانُهَا بِمَا وَقَرَ فِي ضَمِيرِهَا أَنْ تَعْرِضَ نَفْسَهَا عَلَى مُحَمَّدٍ بَعْدَ أَنْ دَسَّتْ عَلَيْهِ مَنْ يُزَيِّنُ لَهُ زَوَاجَهَا ، وَهِيَ الطَّاهِرَةُ سَيِّدَةُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ مَنْ تَقَدَّمَ إِلَيْهَا أَعْظَمُ سَادَاتِ قَوْمِهَا يَطْلُبُونَ يَدَهَا فَرَفَضَتْهُمْ جَمِيعًا لِأَنَّهُمْ دُونَ آمَالِهَا وَأَحْلَامِهَا .
Sejak hari-hari itu, telah tertanam dalam dirinya bahwa putra Abdullah adalah nabi yang dinantikan. Imannya terhadap apa yang menetap di dalam lubuk hatinya telah mendorongnya untuk menawarkan diri kepada Muhammad setelah ia mengutus seseorang untuk membujuknya agar menikahinya. Ia adalah wanita suci, pemuka wanita Quraisy, yang kepadanya para pemimpin kaumnya yang paling agung datang melamar, namun ia menolak mereka semua karena mereka tidak setara dengan cita-cita dan impiannya.
كَانَتْ آمَالُهَا الْعَرِيضَةُ الْمُجَنَّحَةُ تُزَيِّنُ لَهَا أَنْ تَكُونَ فِرَاشًا لِلنَّبِيِّ الْعَرَبِيِّ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ وَمَنْ أَكَّدَتِ النُّبُوءَاتُ جَمِيعًا أَنَّ قَدْ أَظَلَّ زَمَانُهُ ، فَمَا وَجَدَتْ فِي كُلِّ مَنْ تَقَدَّمُوا لِخِطْبَتِهَا الصِّفَاتِ الَّتِي تُؤَهِّلُهُمْ لِلرِّسَالَةِ . وَلَكِنَّهَا مَا إِنْ رَأَتْ مُحَمَّدًا وَاسْتَأْجَرَتْهُ لِتِجَارَتِهَا وَسَمِعَتْ مَا يَقُولُ النَّاسُ عَنْهُ حَتَّى لَمَسَتْ فِيهِ الْوَرَعَ وَالتَّقْوَى وَالْأَمَانَةَ وَالْعِفَّةَ وَالْخُلُقَ الْكَرِيمَ ، فَأُلْهِمَتْ أَنَّهُ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَآمَنَتْ بِهِ وَتَزَوَّجَتْهُ . وَلَمْ يَتَزَعْزَعْ ذَلِكَ الْإِيمَانُ لَحْظَةً وَاحِدَةً بَلْ كَانَ يَزْدَادُ عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ قُوَّةً وَتَأَلُّقًا .
Cita-citanya yang luas dan melambung tinggi menghiasinya untuk menjadi istri bagi nabi Arab yang telah dikabarkan oleh para nabi dan yang seluruh ramalan menegaskan bahwa zamannya telah tiba. Ia tidak menemukan pada setiap orang yang melamarnya sifat-sifat yang mengkualifikasikan mereka untuk risalah. Namun, saat ia melihat Muhammad, mempekerjakannya untuk perdagangannya, dan mendengar apa yang orang katakan tentangnya, ia merasakan adanya sikap wara', takwa, amanah, iffah, dan akhlak yang mulia. Maka ia mendapat ilham bahwa ia adalah nabi umat ini, lalu ia beriman kepadanya dan menikahinya. Iman itu tidak goyah sedikit pun, bahkan kian bertambah kuat dan cemerlang seiring berjalannya waktu.
كَانَتْ تَتَعَجَّلُ الزَّمَنَ وَتَتَلَهَّفُ عَلَى مَبْعَثِ زَوْجِهَا فَقَانَتْ تَذْهَبُ إِلَى ابْنِ عَمِّهَا الشَّيْخِ الْجَلِيلِ وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ تَقُصُّ عَلَيْهِ أَحْوَالَ مُحَمَّدٍ وَمَا يَرَى فِي نَوْمِهِ وَيَقَظَتِهِ وَأُنْسِهِ بِرَبِّهِ وَرَفْعِ أَسْتَارِ الْغَيْبِ عَنْ جَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ ، فَكَانَ وَرَقَةُ يَصْغَى إِلَى حَدِيثِهَا فِي اهْتِمَامٍ وَلَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ فِي انْفِعَالٍ :
Ia mempercepat waktu dan sangat merindukan pengutusan suaminya. Ia sering pergi menemui sepupunya, Syekh yang mulia Waraqah bin Naufal, menceritakan kepadanya keadaan Muhammad serta apa yang ia lihat dalam tidur dan jaganya, ketenangannya bersama Tuhannya, dan terbukanya tirai gaib dari inti kebenaran. Waraqah mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian dan tidak menambah kecuali mengatakan dengan penuh emosi:
— مَتَى يَا خَدِيجَةُ مَتَى ؟!
— Kapan wahai Khadijah, kapan?!
وَهَا هِيَ ذِي النُّبُوَّةُ قَدْ صَارَتْ حَقِيقَةً وَاقِعَةً بَعْدَ أَنْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى ، وَقَدْ وَقَفَتْ خَدِيجَةُ إِلَى جِوَارِ زَوْجِهَا تَسْكُنُ رَوْعَهُ وَتَشُدُّ أَزْرَهُ وَتُؤَكِّدُ لَهُ فِي ثِقَةٍ أَنَّ اللهَ لَا يُخْزِيهِ أَبَدًا لِأَنَّهُ عَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ . إِنَّهَا قَدِ اسْتَبْشَرَتْ بِفَيْضِ كَرَمِ اللهِ عَلَى زَوْجِهَا وَعَلَيْهَا وَلَكِنَّ ذَلِكَ الْفَرَحَ بِتَحْقِيقِ أَمَانِيهَا لَمْ يُذْهِلهَا عَنْ طَبِيعَتِهَا .
Dan inilah kenabian yang telah menjadi realitas nyata setelah Allah mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan. Khadijah berdiri di samping suaminya, menenangkan kegelisahannya, menguatkan semangatnya, dan meyakinkannya dengan penuh kepercayaan bahwa Allah tidak akan pernah menghinakannya karena ia memiliki akhlak yang agung. Ia sangat bersukacita dengan limpahan karunia Allah kepada suaminya dan dirinya, namun kegembiraan atas tercapainya impian-impiannya itu tidak membuatnya lalai dari tabiatnya.
إِنَّهَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ أَمِينَةً مَعَ نَفْسِهَا ، أَمِينَةً مَعَ رَبِّهَا ، أَمِينَةً مَعَ الرِّسَالَةِ الْمُبَارَكَةِ الَّتِي وُضِعَتْ عَلَى أَكْتَافِ زَوْجِهَا ، فَلَمْ تَقْبَلِ الْأَمْرَ فِي يُسْرٍ دُونَ تَفَكُّرٍ أَوْ تَدَبُّرٍ بَلْ أَرَادَتْ أَنْ تَسْتَوْثِقَ وَأَنْ يَطْمَئِنَّ قَلْبُهَا إِلَى أَنَّ ذَلِكَ الَّذِي يَأْتِي زَوْجَهَا مَلَكٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ وَلَيْسَ بِشَيْطَانٍ مِنَ الْجِنِّ مِمَّنْ يَعُوذُ بِهِمُ الْكُهَّانُ قَبْلَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، فَقَالَتْ لِأَبِي الْقَاسِمِ وَهِيَ تُحَاوِرُهُ :
Ia ingin menjadi jujur pada dirinya sendiri, jujur pada Tuhannya, jujur pada risalah yang diberkati yang diletakkan di pundak suaminya. Maka ia tidak menerima perkara itu dengan mudah tanpa berpikir atau merenung, melainkan ia ingin memastikan dan agar hatinya tenang bahwa apa yang datang kepada suaminya adalah malaikat dari sisi Allah dan bukan setan dari golongan jin yang dimintai perlindungan oleh para dukun, sebelum ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Maka ia berkata kepada Abu Al-Qasim saat ia berdialog dengannya:
— أَيِ ابْنَ عَمِّ . أَتَسْتَطِيعُ أَنْ تُخْبِرَنِي بِصَاحِبِكَ هَذَا الَّذِي يَأْتِيكَ إِذَا جَاءَكَ ؟
— Wahai putra pamanku, bisakah engkau memberitahuku tentang rekanmu ini yang mendatangimu, jika ia mendatangimu?
— نَعَمْ .
— Ya.
— فَإِذَا جَاءَكَ فَأَخْبِرْنِي بِهِ .
— Maka jika ia mendatangimu, beritahukanlah kepadaku tentangnya.
فَجَاءَ جِبْرِيلُ فَقَالَ مُحَمَّدٌ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِخَدِيجَةَ :
Maka datanglah Jibril, lalu Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Khadijah:
— يَا خَدِيجَةُ هَذَا جِبْرِيلُ قَدْ جَاءَنِي .
— Wahai Khadijah, ini Jibril telah datang kepadaku.
— قُمْ يَا ابْنَ عَمِّ فَاجْلِسْ عَلَى فَخْذِي الْيُسْرَى .
— Berdirilah wahai putra pamanku, lalu duduklah di paha kiriku.
فَقَامَ مُحَمَّدٌ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَجَلَسَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ :
Maka Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berdiri lalu duduk di atasnya, kemudian ia berkata:
— هَلْ تَرَاهُ ؟
— Apakah engkau melihatnya?
— نَعَمْ .
— Ya.
— فَتَحَوَّلْ فَاجْلِسْ عَلَى فَخْذِي الْيُمْنَى .
— Maka berpindahlah, lalu duduklah di paha kananku.
فَتَحَوَّلَ فَجَلَسَ عَلَى فَخْذِهَا الْيُمْنَى فَقَالَتْ :
Maka ia berpindah lalu duduk di paha kanannya, kemudian ia berkata:
— هَلْ تَرَاهُ ؟
— Apakah engkau melihatnya?
— نَعَمْ .
— Ya.
— فَتَحَوَّلْ فَاجْلِسْ فِي حِجْرِي .
— Maka berpindahlah, lalu duduklah di pangkuanku.
فَتَحَوَّلَ فَجَلَسَ فِي حِجْرِهَا قَالَتْ :
Maka ia berpindah lalu duduk di pangkuannya, ia berkata:
— هَلْ تَرَاهُ ؟
— Apakah engkau melihatnya?
— نَعَمْ .
— Ya.
فَتَحَسَّرَتْ وَأَلْقَتْ خِمَارَهَا وَأَدْخَلَتْ زَوْجَهَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ دِرْعِهَا ثُمَّ قَالَتْ لَهُ :
Maka ia menyingkap, melepaskan kerudungnya, dan memasukkan suaminya ke antara dirinya dan bajunya, kemudian ia berkata kepadanya:
— هَلْ تَرَاهُ ؟
— Apakah engkau melihatnya?
— لَا .
— Tidak.
فَقَالَتْ فِي فَرَحٍ :
Maka ia berkata dengan gembira:
— يَا ابْنَ عَمِّ اثْبُتْ وَأَبْشِرْ ، فَوَاللهِ إِنَّهُ لَمَلَكٌ وَمَا هَذَا بِشَيْطَانٍ .
— Wahai putra pamanku, teguhlah dan bergembiralah, demi Allah, sungguh ia adalah malaikat dan ini bukanlah setan.
وَأَثْلَجَ صَدْرَ خَدِيجَةَ وَتَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُهَا وَغَمَرَهَا إِيمَانٌ عَجِيبٌ ، وَإِذَا بِشَفَتَيْهَا تَتَحَرَّكَانِ بِأَوَّلِ شَهَادَةٍ تَحَرَّكَتْ بِهَا شَفَا مُسْلِمٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ فَقَالَتْ فِي صِدْقٍ :
Perkataan itu menyejukkan dada Khadijah, wajahnya berseri-seri, dan ia diliputi oleh iman yang menakjubkan. Tiba-tiba bibirnya bergerak mengucapkan syahadat pertama yang diucapkan oleh seorang muslim di muka bumi ini, maka ia berkata dengan jujur:
— أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ .
— Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
فَإِذَا بِنُورٍ يَمْلَأُ أَرْجَاءَ الدَّارِ وَكَأَنَّهُ انْبَعَثَ مِنْ مِشْكَاةِ قَلْبِ خَدِيجَةَ ، وَإِذَا بِالدُّمُوعِ تَتَرَقْرَقُ فِي عَيْنَيْ أَبِي الْقَاسِمِ فَيَخِرُّ سَاجِدًا لِلَّهِ .
Tiba-tiba cahaya memenuhi seluruh penjuru rumah seolah-olah terpancar dari relung hati Khadijah, dan air mata berlinang di mata Abu Al-Qasim lalu ia tersungkur sujud kepada Allah.
وَخَرَجَ مُحَمَّدٌ إِلَى أَعَالِي مَكَّةَ فَإِذَا بِجِبْرِيلَ يَأْتِيهِ فَيَرَاهُ كَمَا يَرَى الرَّجُلُ صَاحِبَهُ مِنْ وَرَاءِ الْغِرْبَالِ . وَرَاحَ يُعَلِّمُهُ الْوُضُوءَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَمَسَحَ رَأْسَهُ وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ، فَفَعَلَ مُحَمَّدٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِثْلَهُ ، وَرَكَعَ جِبْرِيلُ رَكْعَتَيْنِ مُوَاجَهَةً لِلْبَيْتِ الْحَرَامِ ، فَفَعَلَ مُحَمَّدٌ كَمَا يَرَى جِبْرِيلَ يَفْعَلُ ، وَكَانَ ذَلِكَ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ . ثُمَّ انْصَرَفَ جِبْرِيلُ فَجَاءَ مُحَمَّدٌ خَدِيجَةَ فَتَوَضَّأَ لَهَا لِيُرِيَهَا كَيْفَ الطُّهُورُ لِلصَّلَاةِ كَمَا أَرَاهُ جِبْرِيلُ ، فَتَوَضَّأَتْ كَمَا تَوَضَّأَ لَهَا أَبُو الْقَاسِمِ ، ثُمَّ صَلَّى بِهَا رَسُولُ اللهِ كَمَا صَلَّى بِهِ جِبْرِيلُ ، فَصَلَّتْ بِصَلَاتِهِ . وَكَانَتْ أَوَّلَ صَلَاةٍ أُقِيمَتْ فِي الدِّينِ الْجَدِيدِ . وَنَامَ الزَّوْجَانِ مُتَفَرِّحَيْنِ بِاللهِ وَقَلْبَاهُمَا قَدْ شُغِلَا بِاللهِ ، فَالْعَيْنُ تَنَامُ وَالْقَلْبُ يَقْظَانُ .
Muhammad pergi ke dataran tinggi Makkah, tiba-tiba Jibril mendatanginya, maka ia melihatnya sebagaimana seseorang melihat temannya dari balik ayakan. Ia mulai mengajarinya wudu, maka ia membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga siku, mengusap kepalanya dan kedua kakinya hingga mata kaki. Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melakukan hal yang sama. Jibril rukuk dua rakaat menghadap Baitul Haram, maka Muhammad melakukan sebagaimana ia melihat Jibril melakukannya, dan itu terjadi sebelum matahari terbenam. Kemudian Jibril pergi, Muhammad mendatangi Khadijah lalu berwudu di depannya untuk memperlihatkan bagaimana bersuci untuk salat sebagaimana yang diperlihatkan Jibril kepadanya. Ia berwudu sebagaimana Abu Al-Qasim berwudu untuknya, kemudian Rasulullah salat bersamanya sebagaimana Jibril salat bersamanya, maka ia salat dengan mengikuti salatnya. Itu adalah salat pertama yang didirikan dalam agama yang baru. Pasangan suami istri itu tidur dalam keadaan bersuka cita karena Allah dan hati keduanya telah disibukkan oleh Allah, maka mata terpejam namun hati terjaga.
وَقَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ قَامَ مُحَمَّدٌ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَخَدِيجَةُ الَّتِي تَمَّ لَهَا الِاسْتِبْصَارُ وَعَلِمَتْ عِلْمَ الْيَقِينِ أَنَّهَا عَلَى الطَّرِيقِ فَتَوَضَّأَا وَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ ، فَقَدْ كَانَتِ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ طُلُوعِهَا . « وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ » .
Sebelum matahari terbit, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan Khadijah, yang telah mencapai bashirah (penglihatan batin) dan mengetahui dengan ilmu yakin bahwa ia berada di jalan yang benar, bangkit. Keduanya berwudu dan salat dua rakaat, karena salat saat itu adalah dua rakaat sebelum matahari terbenam dan dua rakaat sebelum matahari terbit. "Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi hari."
وَبَيْنَا كَانَ مُحَمَّدٌ آخِذًا بِأَطْرَافِ الْحَدِيثِ مَعَ خَدِيجَةَ إِذَا بِالرَّعْدَةِ تَسْتَقْبِلُهُ وَتُرِيدُ وَجْهَهُ وَغَمَّضَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ تَسْتَطِعْ خَدِيجَةُ أَنْ تَرْفَعَ وَجْهَهَا إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ تَسْمَعُ عِنْدَ وَجْهِهِ كَدَوِيِّ النَّحْلِ ، وَظَنَّ مُحَمَّدٌ أَنَّ نَفْسَهُ تُقْبَضُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ يَسْمَعُ صَوْتًا لَهُ صَلْصَلَةٌ كَصَلْصَلَةِ الْجَرَسِ يُخَالِطُ قَلْبَهُ ، وَزَالَ عَنْهُ مَا كَانَ يُكَابِدُهُ وَقَدْ وَعَى كُلَّ مَا سَمِعَ ، فَنَظَرَ إِلَى خَدِيجَةَ وَهُوَ مُتَطَلِّقُ الْوَجْهِ وَقَالَ :
Tatkala Muhammad sedang berbincang dengan Khadijah, tiba-tiba getaran menyambutnya dan menerpa wajahnya, ia memejamkan matanya. Khadijah tidak sanggup mengangkat wajahnya ke arahnya meskipun ia mendengar di dekat wajahnya seperti suara dengungan lebah. Muhammad mengira nyawanya akan dicabut, meskipun ia mendengar suara yang berdenting seperti denting lonceng yang menyusup ke dalam hatinya. Hilanglah darinya apa yang ia derita, dan ia telah memahami segala yang ia dengar. Maka ia memandang Khadijah dengan wajah yang berseri-seri dan berkata:
— يَا خَدِيجَةُ ، هَذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكِ السَّلَامَ مِنْ رَبِّكِ .
— Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam untukmu dari Tuhanmu.
فَخَفَقَ قَلْبُهَا بِالرِّضَا وَقَالَتْ فِي انْفِعَالٍ شَدِيدٍ :
Hatinya bergetar penuh keridaan dan ia berkata dengan emosi yang kuat:
— اللهُ السَّلَامُ وَمِنْهُ السَّلَامُ وَعَلَى جِبْرِيلَ السَّلَامُ .
— Allah adalah As-Salam, dari-Nya lah keselamatan, dan kepada Jibril semoga keselamatan tercurah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar