BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim #15

كَانَتْ خَدِيجَةُ قَدْ قَطَعَتْ كُلَّ الْعَلَائِقِ بِالتِّجَارَةِ وَزِينَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا بَعْدَ أَنْ رَفَعَ مُحَمَّدٌ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- الْحِجَابَ عَنْ قَلْبِهَا وَطَهَّرَ كُلَّ السُّبُلِ لِلْوُصُولِ الْحَقِيقَةِ إِلَى فُؤَادِهَا وَجَعَلَهَا تَتَذَوَّقُ لَذَّةَ الْإِنْفَاقِ حُبًّا فِي رِضْوَانِ اللَّهِ ، وَكَانَتْ تَعِيشُ عَلَى أَمَلِ أَنْ تَتَحَقَّقَ أَحْلَامُهَا وَبِشَارَاتُ الْكُهَّانِ وَالْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ وَيُصْبِحَ أَبُو الْقَاسِمِ النَّبِيَّ الْمُنْتَظَرَ .
Khadijah telah memutus segala keterikatan dengan perdagangan dan perhiasan kehidupan dunia setelah Muhammad -alaihi sholatu wassalam- mengangkat hijab dari hatinya dan menyucikan segala jalan untuk mencapai kebenaran ke dalam lubuk hatinya, serta membuatnya merasakan lezatnya berinfaq demi meraih ridho Allah. Ia hidup dengan harapan agar impiannya serta kabar gembira dari para dukun, pendeta, dan rahib terwujud, dan Abu Al-Qasim menjadi Nabi yang dinantikan.
فَلَمَّا نَزَلَ الْوَحْيُ عَلَى زَوْجِهَا الْحَبِيبِ فِي غَارِ حِرَاءَ وَتَأَكَّدَتْ مِنْ صِدْقِ نُبُوءَتِهِ وَأَنَّ مَا جَاءَهُ هُوَ النَّامُوسُ الْأَكْبَرُ الَّذِي جَاءَ الْأَنْبِيَاءَ مِنْ قَبْلِهِ وَأَنَّهُ قَدْ عَلَّمَهُ الْوُضُوءَ وَالصَّلَاةَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ، كَادَ يُغْشَى عَلَيْهَا مِنَ الْفَرَحِ وَلَكِنَّهَا أَحَسَّتْ بِفِطْرَتِهَا السَّلِيمَةِ أَنَّ نُزُولَ الْوَحْيِ هِيَ بِدَايَةُ الْجِهَادِ وَالشِّدَّةِ ، وَأَكَّدَ صِدْقَ إِحْسَاسَاتِهَا قَوْلُ وَرَقَةَ لِلنَّبِيِّ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- : وَلَتُؤْذِيَنَّهُ وَلَتُخْرِجَنَّهُ وَلَتُقَاتِلَنَّهُ .
Ketika wahyu turun kepada suami tercintanya di Gua Hira, dan ia meyakini kebenaran kenabiannya serta bahwa apa yang datang kepadanya adalah Namus (wahyu) terbesar yang pernah datang kepada para Nabi sebelumnya, dan bahwa ia telah diajarkan wudhu dan sholat untuk Tuhan semesta alam, ia hampir pingsan karena gembira. Namun, dengan fitrahnya yang suci, ia merasakan bahwa turunnya wahyu adalah awal dari perjuangan dan cobaan. Kebenaran perasaannya ditegaskan oleh perkataan Waraqah kepada Nabi -alaihi sholatu wassalam-: "Mereka pasti akan menyakitimu, mengusirmu, dan memerangimu."
إِنَّهَا دَعْوَةٌ وَإِنَّ أَبَا الْقَاسِمِ خَيْرُ مَنْ يَنْهَضُ بِهَا ، وَإِنَّهَا جِهَادٌ وَإِنَّهُ لَخَيْرُ الْمُجَاهِدِينَ ، وَإِنَّهَا لَشِدَّةٌ وَهُوَ خَيْرُ الصَّابِرِينَ عَلَى الشَّدَائِدِ ، وَإِنَّهَا لَقِتَالٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَهُوَ فَارِسُهَا ، فَهُوَ يُجِيدُ رُكُوبَ الْخَيْلِ وَالضَّرْبَ بِالسَّيْفِ وَتَسْدِيدَ الرِّمَايَةِ وَإِنَّهُ يُدَرِّبُ ابْنَ عَمِّهِ الْفَتَى عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ لِيَشِبَّ فَارِسَ قُرَيْشٍ وَخَيْرَ صَنَادِيدِهَا .
Itu adalah dakwah, dan Abu Al-Qasim adalah orang terbaik yang mengembannya. Itu adalah perjuangan, dan ia adalah sebaik-baik pejuang. Itu adalah cobaan berat, dan ia adalah sebaik-baik orang yang sabar menghadapi kesulitan. Itu adalah peperangan di jalan Allah, dan ia adalah penunggang kudanya; ia mahir berkuda, memukul dengan pedang, dan membidik sasaran. Ia melatih sepupunya, pemuda Ali bin Abi Thalib, agar tumbuh menjadi ksatria Quraisy dan sebaik-baik tokoh pemberaninya.
كَانَتْ إِيمَانُهَا بِهِ وَبِقُدْرَتِهِ لَيْسَ لَهُ حُدُودٌ ، وَكَانَتْ تَرَاهُ كُفْئًا لِلرِّسَالَةِ وَأَعْبَائِهَا وَإِلَّا لَمَا اصْطَفَاهُ رَبُّهُ لِرِسَالَتِهِ ، وَكَانَتْ تَرَى نَفْسَهَا الْمُتَفَرِّحَةَ فِي اللَّهِ ، الْمُتَفَتِّحَةَ لِعَطَايَا اللَّهِ ، الْهَائِمَةَ فِي مَلَكُوتِ اللَّهِ ، الْمُتَأَهِّبَةَ لِتَحَمُّلِ كُلِّ الشَّدَائِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَسَنَةً مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَهِيَ أَوَّلُ مُرِيدَةٍ فِي مَدْرَسَةِ النُّورِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ .
Keimanannya kepadanya dan kemampuannya tidak memiliki batas. Ia melihatnya pantas untuk mengemban risalah dan beban-bebannya, jika tidak, niscaya Tuhannya tidak akan memilihnya untuk risalah-Nya. Ia memandang dirinya yang bersuka cita karena Allah, terbuka bagi anugerah Allah, hanyut dalam kerajaan Allah, siap menanggung segala kesulitan di jalan Allah sebagai salah satu dari kebaikan-kebaikannya. Ia adalah murid pertama di sekolah cahaya dan kemuliaan akhlak.
وَأَسْلَمَتْ وَجْهَهَا لِلَّهِ وَعَرَفَتْ لَذَّةَ مُنَاجَاتِهِ وَطُولَ النَّظَرِ إِلَيْهِ ، وَلَكِنَّهَا كَانَتْ مُتَلَهِّفَةً عَلَى أَنْ يَسْتَعْلِنَ أَمْرُ الْأَمِينِ لِيَغْمُرَ النُّورُ أَفْئِدَةَ قَوْمِهَا وَلِيَهْدِيَهُمْ رَبُّهُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ، فَقَلْبُهَا الْكَبِيرُ كَانَ عَامِرًا بِحُبِّهِمْ بَلْ بِحُبِّ الْبَشَرِ أَجْمَعِينَ .
Ia berserah diri kepada Allah dan merasakan lezatnya bermunajat serta lama memandang kepada-Nya. Namun, ia sangat rindu agar urusan Al-Amin (Muhammad) tersiar agar cahaya memenuhi hati kaumnya dan Tuhan mereka menunjuki mereka jalan yang lurus. Hatinya yang besar dipenuhi oleh kecintaan kepada mereka, bahkan cinta kepada seluruh umat manusia.
وَأَطْلَقَتْ لِخَيَالِهَا الْعَنَانَ وَرَاحَتْ تُفَكِّرُ فِي بُيُوتِ شَرَفِ قُرَيْشٍ الْعَشَرَةِ ، وَكَانَ بَنُو أَسَدٍ رَهْطُهَا أَوَّلَ مَنْ فَكَّرَتْ فِيهِمْ ، فَوَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ قَسُّ قُرَيْشٍ وَأَكْثَرُهُمْ عِلْمًا بِالْأَدْيَانِ قَالَ لِأَبِي الْقَاسِمِ : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكَ لَنَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ .
Ia melepaskan imajinasinya dan mulai memikirkan sepuluh keluarga mulia Quraisy. Bani Asad, kaumnya, adalah yang pertama ia pikirkan. Waraqah bin Naufal, pendeta Quraisy dan yang paling berilmu tentang agama-agama, berkata kepada Abu Al-Qasim: "Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, engkau benar-benar Nabi umat ini."
وَهِيَ تَحْسَبُ أَنَّ مِثْلَ هَذَا الْقَوْلِ مِنْ شَيْخِ بَنِي أَسَدٍ سَيَجْعَلُ الْأَسَدِيِّينَ يَهْرَعُونَ إِلَى الدُّخُولِ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ، وَطَافَ بِذِهْنِهَا ابْنُ أَخِيهَا حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ ، إِنَّهُ سَيِّدٌ مِنْ سَادَاتِ دَارِ النَّدْوَةِ وَلَهُ مَكَانَةٌ مَرْمُوقَةٌ بَيْنَ أَشْرَافِ قُرَيْشٍ ، فَلَوِ اعْتَنَقَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ الدِّينَ الْجَدِيدَ لَشَجَّعَ ذَلِكَ كَثِيرًا مِنْ قَوْمِهِ عَلَى الدُّخُولِ فِي الْإِسْلَامِ . وَلَكِنْ هَلْ يَفْعَلُ حَكِيمٌ ؟
Ia mengira bahwa perkataan seperti itu dari tetua Bani Asad akan membuat orang-orang Bani Asad bergegas masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Terlintas di benaknya keponakannya, Hakim bin Hizam. Ia adalah salah satu pemimpin Darun Nadwah dan memiliki kedudukan terhormat di antara para pembesar Quraisy. Jika Hakim bin Hizam memeluk agama baru, hal itu akan mendorong banyak kaumnya untuk masuk Islam. Namun, akankah Hakim melakukannya?
وَفَكَّرَتْ فِي الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ ، إِنَّهُ فَتًى جَلْدٌ فِي الثَّانِيَةِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ عُمْرِهِ مَاتَ أَبُوهُ الْعَوَّامُ بْنُ خُوَيْلِدٍ مِنْ عِشْرِينَ سَنَةً فِي حَرْبِ الْفِجَارِ ، وَقَدْ حَزِنَتْ عَلَيْهِ حُزْنًا شَدِيدًا وَغَمَرَتِ ابْنَهُ بِحَنَانِهَا فَكَانَ يَأْتِي لِزِيَارَتِهَا وَيَجْلِسُ إِلَى زَوْجِهَا طَوِيلًا يُلْقِي إِلَيْهِ سَمْعَهُ وَهُوَ مَبْهُورٌ بِحَدِيثِهِ الشَّجِيِّ الَّذِي لَا يَرْتَفِعُ إِلَيْهِ أَحَادِيثُ حُكَمَاءِ الْعَرَبِ ، وَهُوَ وَإِنْ كَانَ ابْنَ أَخِيهَا فَهُوَ فِي ذَاتِ الْوَقْتِ ابْنُ عَمَّتِهِ صَفِيَّةَ ، وَهُوَ رَاجِحُ الْعَقْلِ حُرُّ التَّفْكِيرِ ، وَهِيَ عَلَى ثِقَةٍ مِنْ أَنَّهُ سَيُرَحِّبُ بِالدِّينِ الْجَدِيدِ بَلْ سَيَكُونُ مِنْ خَيْرَةِ جُنُودِهِ ، فَهُوَ لَا يَزَالُ فِي مُقْتَبَلِ الْعُمْرِ لَمْ تُفْسِدْهُ الْمَطَامِعُ الدُّنْيَوِيَّةُ وَلَمْ تَجْمُدْ نَفْسُهُ عَلَى التَّعَصُّبِ الْأَعْمَى لِلْآلِهَةِ .
Ia memikirkan Az-Zubair bin Al-Awwam. Ia adalah pemuda tangguh berusia dua puluh dua tahun. Ayahnya, Al-Awwam bin Khuwailid, meninggal dua puluh tahun yang lalu dalam Perang Fijar. Ia sangat bersedih atas kematiannya dan melimpahi putranya dengan kasih sayangnya. Ia sering datang mengunjunginya dan duduk bersama suaminya dalam waktu yang lama, mendengarkan dengan seksama, terpesona oleh pembicaraannya yang menyentuh yang tidak bisa disamai oleh percakapan para bijak Arab. Meskipun ia adalah keponakannya, ia juga putra dari bibinya, Shafiyah. Ia seorang yang berakal sehat dan berpikiran bebas, dan ia yakin bahwa ia akan menyambut agama baru, bahkan akan menjadi salah satu prajurit terbaiknya, karena ia masih di awal masa muda yang belum dirusak oleh ketamakan duniawi dan jiwanya belum membeku karena fanatisme buta terhadap berhala.
وَفَكَّرَتْ فِي أُخْتِهَا هَالَةَ وَفِي ابْنِ أُخْتِهَا الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ زَوْجِ الْعَزِيزَةِ زَيْنَبَ ، فَخَفَقَ قَلْبُهَا حُبًّا وَعَطْفًا وَخَوْفًا ، فَهِيَ تَرْجُو صَادِقَةً أَنْ يَشْرَحَ اللَّهُ قَلْبَيْهِمَا لِلْإِيمَانِ بِالدَّعْوَةِ الْجَدِيدَةِ لِأَنَّهَا تُحِبُّ لَهُمَا الْخَيْرَ وَالسَّعَادَةَ وَالْهِدَايَةَ ، بَيْدَ أَنَّهَا تَخْشَى أَنْ تَأْخُذَهُمَا الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَتُصْبِحَ حَيَاةُ ابْنَتِهَا الْمُؤْمِنَةِ الَّتِي شَهِدَتْ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَلِيمَةً لِقَلْبِهَا الْغَضِّ الَّذِي تَفَتَّحَ الْحَيَاةُ مُشْرِقَةً جَدِيدَةً عَلَى قَوْمِهَا .
Ia memikirkan saudarinya, Halah, dan putra saudarinya, Al-Ash bin Ar-Rabi', suami dari Zainab yang tercinta. Hatinya berdebar karena cinta, kasih sayang, dan rasa takut. Ia benar-benar berharap Allah membukakan hati keduanya untuk beriman kepada dakwah baru, karena ia menginginkan kebaikan, kebahagiaan, dan petunjuk bagi mereka. Namun, ia khawatir kesombongan akan membawa mereka pada dosa, sehingga kehidupan putrinya yang beriman, yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, menjadi pedih bagi hatinya yang lembut yang membuka kehidupan yang cerah dan baru bagi kaumnya.
وَاشْتَدَّ وَجِيبُ قَلْبِهَا وَاسْتَوْلَى عَلَيْهَا خَوْفٌ شَدِيدٌ لَمَّا احْتَلَّتِ الْعَزِيزَتَانِ رُقَيَّةُ وَأُمُّ كُلْثُومٍ صَفْحَةَ رَأْسِهَا ، إِنَّهَا تَهَلَّلَتْ بِالْفَرَحِ لَمَّا شَهِدَتِ الْعَزِيزَتَانِ بِوَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ وَرِسَالَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، وَلَكِنَّهَا لَمَّا فَكَّرَتْ فِي مَالِهَا فِي دَارِ أَبِي لَهَبٍ بَعْدَ أَنْ كَفَرَتَا بِآلِهَةِ قُرَيْشٍ اسْتَشْعَرَتْ كَأَنَّ يَدًا قَوِيَّةً تَعْتَصِرُ قَلْبَهَا عَصْرًا .
Detak jantungnya semakin kencang dan rasa takut yang hebat menguasainya ketika dua putri tercintanya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, memenuhi pikirannya. Ia sangat gembira ketika keduanya bersaksi tentang keesaan Allah dan kerasulan Muhammad bin Abdullah. Namun, ketika ia memikirkan nasib mereka di rumah Abu Lahab setelah mereka mengingkari berhala-berhala Quraisy, ia merasakan seolah ada tangan kuat yang meremas hatinya dengan kuat.
فَعُتْبَةُ وَمُعَتِّبٌ أُلْعُوبَتَانِ فِي يَدِ أُمِّهِمَا أُمِّ جَمِيلٍ ، وَهِيَ قَاسِيَةُ الْقَلْبِ عَنِيفَةٌ فِي عَدَاوَتِهَا قُدَّ فُؤَادُهَا مِنْ صَخْرٍ ، وَأَبُو لَهَبٍ رَجُلٌ أَطْلَقَ لِشَهَوَاتِهِ الْعِنَانَ يَمْضِي وَقْتَهُ فِي الشَّرَابِ وَالْمُقَامَرَةِ وَالتَّنَابُذِ بِالْأَلْقَابِ . فَهُوَ يُمَجِّدُ الْآبَاءَ وَالْأَجْدَادَ وَلَا يُطِيقُ مَنْ تُسَوِّلُ لَهُ نَفْسُهُ أَنْ يَمَسَّ مُعْتَقَدَاتِهِمْ بِسُوءٍ ، فَلَطَالَمَا سَخِرَ مِنَ الَّذِينَ يُفَكِّرُونَ فِي نَبْذِ آلِهَةِ آبَائِهِمْ لِيَعْتَنِقُوا الْيَهُودِيَّةَ أَوِ النَّصْرَانِيَّةَ أَوِ الْمَجُوسِيَّةَ أَوْ غَيْرَهَا مِنَ الْأَدْيَانِ .
'Utbah dan Mu'attib adalah mainan di tangan ibu mereka, Ummu Jamil. Ia berhati keras dan kasar dalam permusuhannya; hatinya terbuat dari batu. Abu Lahab adalah pria yang membiarkan hawa nafsunya lepas kendali; ia menghabiskan waktunya untuk mabuk, berjudi, dan saling ejek dengan gelar. Ia memuliakan para leluhur dan tidak tahan melihat orang yang berani menyentuh keyakinan mereka dengan keburukan. Ia sering mengejek mereka yang berpikir untuk membuang berhala-berhala leluhur mereka demi memeluk Yahudi, Nasrani, Majusi, atau agama lainnya.
وَلَفَّ خَدِيجَةَ وُجُومٌ فَمُسْتَقْبَلُ بَنَاتِهَا قَدْ بَاتَ يَتَأَرْجَحُ ، فَإِنِ اسْتَعْلَنَ أَمْرُ مُحَمَّدٍ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- وَلَمْ يَدْخُلْ أَزْوَاجُهُنَّ فِي الدِّينِ الْجَدِيدِ فَسَتُغْلَقُ فِي وُجُوهِهِنَّ أَبْوَابُ الْأَزْوَاجِ وَسَيَعُدْنَ إِلَيْهَا كَسِيرَاتِ الْفُؤَادِ . وَلَكِنْ مَاذَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ وَمَاذَا يَسْتَطِيعُ أَبُو الْقَاسِمِ أَنْ يَفْعَلَ غَيْرَ أَنْ يَسْتَمِرَّ فِيمَا يَأْمُرُهُ اللَّهُ بِهِ بَعْدَ أَنْ اصْطَفَاهُ ، إِنَّهَا الرِّسَالَةُ وَإِنَّ أَعْبَاءَهَا ثَقِيلَةٌ لَا يَسْتَطِيعُ حَمْلَهَا إِلَّا أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرِّجَالِ .
Khadijah diliputi kebingungan karena masa depan putri-putrinya kini terombang-ambing. Jika urusan Muhammad -alaihi sholatu wassalam- tersiar dan suami-suami mereka tidak masuk ke dalam agama baru, maka pintu-pintu pernikahan akan tertutup bagi mereka, dan mereka akan kembali kepadanya dengan hati yang hancur. Namun, apa yang bisa ia lakukan dan apa yang bisa Abu Al-Qasim lakukan selain terus menjalankan apa yang Allah perintahkan setelah memilihnya? Ini adalah risalah, dan beban-bebannya berat; tidak ada yang mampu memikulnya kecuali orang-orang yang memiliki keteguhan hati di antara para pria.
وَهَمَسَتْ خَدِيجَةُ فِي إِيمَانٍ :
Khadijah berbisik dengan penuh iman:
— فَلْتَأْتِ مَشِيئَةُ اللَّهِ بِمَا يَشَاءُ .
— "Biarlah kehendak Allah datang dengan apa yang Dia inginkan."
وَرَاحَتْ تَعْجِمُ أَعْوَادَ بَنِي هَاشِمٍ فَأَبُو طَالِبٍ يُحِبُّ مُحَمَّدًا حُبَّهُ لِوَلَدِهِ أَوْ أَشَدَّ ، وَهُوَ سَيِّدُ بَنِي هَاشِمٍ وَزَعِيمُهُمْ وَإِنْ كَانَ يُقَاسِي قِلَّةً فِي الْمَالِ ، وَهُوَ رَاجِحُ الْعَقْلِ وَقَدِ اعْتَادَ أَنْ تَكُونَ كَلِمَتُهُ هِيَ الْعُلْيَا . أَفَيَرْضَى بَعْدَ أَنْ ذَهَبَتِ السُّنُونَ وَبَلَغَ مِنَ الْعُمُرِ عُتِيًّا أَنْ يَكُونَ تَابِعًا لِابْنِ أَخِيهِ وَإِنْ كَانَ رَسُولَ رَبِّ الْعَالَمِينَ ؟
Ia mulai menguji kekuatan Bani Hasyim. Abu Thalib mencintai Muhammad seperti cintanya kepada anaknya sendiri atau bahkan lebih. Ia adalah pemimpin Bani Hasyim, meskipun ia menderita kekurangan harta. Ia berakal sehat dan terbiasa bahwa perkataannya selalu didengar. Akankah ia rela, setelah bertahun-tahun berlalu dan ia telah mencapai usia tua, untuk menjadi pengikut keponakannya meskipun ia adalah utusan Tuhan semesta alam?
وَأَبَتْ عَقْلِيَّةُ خَدِيجَةَ الَّتِي تَمَرَّسَتْ فِي التِّجَارَةِ وَفِي الْحِسَابِ وَسَبْرِ أَغْوَارِ الرِّجَالِ أَنْ تَخْدَعَ نَفْسَهَا وَتُصَدِّقَ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ سَيَفْرَحُ بِالدِّينِ الْجَدِيدِ وَسَيَدْخُلُ فِيهِ رَاضِيَ النَّفْسِ . وَأَحَسَّتْ كَدَرًا فَهِيَ تُقَدِّرُ أَبَا طَالِبٍ وَتَرَى أَنَّ وُقُوفَهُ إِلَى جِوَارِ الْأَمِينِ كَسْبٌ لِلدَّعْوَةِ الْجَدِيدَةِ مَا بَعْدَهُ كَسْبٌ ، وَتَمَنَّتْ صَادِقَةً لَوْ أَنَّ الْأَيَّامَ تُكَذِّبُ حَدْسَهَا وَيَحْتَضِنُ شَيْخُ الْهَاشِمِيِّينَ رِسَالَةَ السَّمَاءِ ، حَتَّى يُشْرِقَ النُّورُ عَلَى الْعَالَمِينَ .
Akal Khadijah yang terasah dalam perdagangan, perhitungan, dan memahami kedalaman karakter pria, menolak untuk menipu dirinya sendiri dan percaya bahwa Abu Thalib akan gembira dengan agama baru dan memasukinya dengan sukarela. Ia merasa sedih, karena ia menghargai Abu Thalib dan memandang bahwa dukungannya kepada Al-Amin adalah keuntungan besar bagi dakwah baru yang tiada taranya. Ia benar-benar berharap seandainya waktu mendustakan firasatnya dan tetua Hasyimiyah itu merangkul risalah langit, agar cahaya bersinar bagi seluruh alam semesta.
وَوَرَدَ عَلَى ذِهْنِهَا عَمُّهُ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، إِنَّهُ مَشْغُولٌ عَنِ الْآلِهَةِ بِتِجَارَتِهِ وَبِأَمْوَالِهِ الْمَمْدُودَةِ الَّتِي يُفْرِضُهَا بِالرِّبَا ، وَهُوَ سَعِيدٌ بِأَنْ صَارَتْ إِلَيْهِ السِّقَايَةُ وَالرِّفَادَةُ ، وَهُوَ يَسْقِي الْحَجِيجَ وَيُطْعِمُ فُقَرَاءَهُمْ لِيُقَالَ إِنَّهُ جَوَادٌ وَلِشَرَفِ الدُّنْيَا وَلِلْأَحَادِيثِ وَالذِّكْرِ ، وَهُوَ طَيِّبُ الْقَلْبِ مَعْدِنُهُ نَفِيسٌ ، فَلَوْ أَنَّهُ طَرَحَ كِبْرِيَاءَهُ لَلَبَّى دَاعِيَ ابْنِ أَخِيهِ . أَمَّا زَوْجُهُ أُمُّ الْفَضْلِ فَهِيَ الطَّيِّبَةُ وَالطَّهَارَةُ وَالْخُلُقُ الْكَرِيمُ ، وَقَدْ دَارَتْ بَيْنَهُمَا أَحَادِيثُ عَنْ ( دَعْوَةِ إِبْرَاهِيمَ ) الْأَمِينِ فكَانَتْ أُمُّ الْفَضْلِ تُشْرِقُ بِالْفَرَحِ كُلَّمَا قَالَتْ لَهَا : إِنَّهَا لَتَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَبُو الْقَاسِمِ نَبِيَّ هَذِهِ الْأُمَّةِ .
Terlintas di benaknya pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib. Ia sibuk dari berhala-berhala karena perdagangan dan hartanya yang luas yang ia kembangkan dengan riba. Ia senang karena jabatan As-Siqayah dan Ar-Rifadah jatuh ke tangannya. Ia memberi minum para jamaah haji dan memberi makan orang miskin agar dikatakan bahwa ia dermawan dan demi kemuliaan dunia, pembicaraan, dan ketenaran. Ia berhati baik dan berjiwa mulia; seandainya ia melepaskan kesombongannya, niscaya ia akan memenuhi seruan keponakannya. Adapun istrinya, Ummu Al-Fadl, ia adalah wanita yang baik, suci, dan berakhlak mulia. Pernah terjadi pembicaraan di antara mereka tentang "dakwah Ibrahim" Al-Amin, dan Ummu Al-Fadl akan bersinar gembira setiap kali berkata kepadanya: "Aku sangat berharap Abu Al-Qasim menjadi Nabi umat ini."
وَهَا هُوَ ذَا أَبُو الْقَاسِمِ قَدْ صَارَ نَبِيًّا فَلَوْ أَنَّهَا بَعَثَتْ إِلَيْهَا بِأَنَّ أَحْلَامَهَا قَدْ صَدَقَتْ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَرْسَلَ مُحَمَّدًا -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- رَسُولًا لَآمَنَتْ بِهِ وَصَدَّقَتْهُ وَلَهَرَعَتْ إِلَيْهِ وَالدُّمُوعُ تَتَرَقْرَقُ فِي مُقْلَتَيْهَا .
Sekarang Abu Al-Qasim telah menjadi Nabi, jika saja ia mengirim kabar kepadanya bahwa impiannya telah terbukti benar dan bahwa Allah telah mengutus Muhammad -alaihi sholatu wassalam- sebagai Rasul, niscaya ia akan beriman kepadanya, mempercayainya, dan bergegas kepadanya dengan air mata yang menggenang di matanya.
وَاحْتَلَّ ذِهْنَهَا حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَقَدْ تَنَكَّبَ قَوْسَهُ وَرَكِبَ فَرَسَهُ ، إِنَّهُ أَخُوهُ فِي الرَّضَاعَةِ رَفِيقُ طُفُولَتِهِ وَشَرِيكُهُ فِي حُزْنِهِ عَلَى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَصَدِيقُ الشَّبَابِ وَإِنِ اتَّخَذَ كُلٌّ مِنْهُمَا سَبِيلًا ، فَقَدْ آثَرَ مُحَمَّدٌ الْعُزْلَةَ وَانْغَمَسَ حَمْزَةُ فِي مُجْتَمَعِ قَوْمِهِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَ الْوُدُّ بَيْنَهُمَا مُتَّصِلًا ، وَكَانَ الْفَارِسُ مُعْجَبًا بِابْنِ أَخِيهِ الْأَمِينِ الَّذِي اشْتَهَرَ بِخِصَالِهِ الْحَمِيدَةِ ، وَإِنَّ خَدِيجَةَ لَتَطْمَعُ فِي أَنْ تَقُودَهُ فُرُوسِيَّتُهُ إِلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيمِ . إِلَى الْإِيمَانِ بِوَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ وَرِسَالَةِ ابْنِ أَخِيهِ .
Pikiran Khadijah beralih ke Hamzah bin Abdul Muthalib yang telah memanggul busurnya dan menunggang kudanya. Ia adalah saudara sesusuannya, teman masa kecilnya, rekan dalam kesedihannya atas Abdul Muthalib, dan sahabat masa mudanya, meskipun mereka masing-masing menempuh jalan yang berbeda. Muhammad lebih memilih uzlah (mengasingkan diri), sementara Hamzah berbaur dengan masyarakat kaumnya, namun kasih sayang di antara mereka tetap terjaga. Ksatria itu kagum dengan keponakannya, Al-Amin, yang terkenal dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Khadijah berharap bahwa jiwa kesatrianya akan menuntunnya ke jalan yang lurus, yaitu beriman kepada keesaan Allah dan risalah keponakannya.
وَخَطَرَ عَلَى فِكْرِهَا أَبُو سُفْيَانَ بْنُ الْحَارِثِ ابْنُ عَمِّ الْأَمِينِ الَّذِي يُشْبِهُهُ وَالَّذِي كَانَ يُلَازِمُهُ عَلَى الدَّوَامِ ، وَذَكَّرَهَا الْحَارِثُ بِشَبَابِ الْهَاشِمِيِّينَ طَالِبٍ وَعَقِيلٍ وَجَعْفَرٍ فَأَلْفَتْ نَفْسَهَا تَتَهَلَّلُ بِالْأَمَلِ ، فَقَدْ رَأَتْ فِيهِمْ شَبَابَ الدَّعْوَةِ الَّذِينَ سَيَتَحَمَّسُونَ لِلدِّينِ الْجَدِيدِ ، وَامْتَدَّتْ أَحْلَامُهَا إِلَى عَمَّتِهِ عَاتِكَةَ الَّتِي رَبَطَتِ الْأَسْبَابَ بَيْنَ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي مَخْزُومٍ بِزَوَاجِهَا بِأَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، إِنَّهَا تُحِبُّ ابْنَ أَخِيهَا حُبًّا جَمًّا وَهِيَ الَّتِي جَاءَتْ إِلَيْهَا أَيَّامَ كَانَتْ تَسْتَأْجِرُ الرِّجَالَ لِلْخُرُوجِ فِي تِجَارَتِهَا وَعَرَضَتْ عَلَيْهَا أَنْ تَسْتَأْجِرَ ابْنَ أَخِيهَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ، فَلَوْ أَنَّهَا آمَنَتْ بِرِسَالَةِ مُحَمَّدٍ لَتَبِعَهَا وَلَدَاهَا عَبْدُ اللَّهِ وَزُهَيْرٌ وَمَنْ يَدْرِي فَقَدْ يَتَفَشَّى الْإِسْلَامُ فِي بَنِي مَخْزُومٍ بِفَضْلِهَا .
Terlintas dalam pikirannya Abu Sufyan bin Al-Harits, sepupu Al-Amin yang mirip dengannya dan selalu menyertainya. Al-Harits mengingatkannya pada pemuda-pemuda Bani Hasyim: Thalib, Aqil, dan Ja'far. Ia merasa penuh harapan, karena ia melihat dalam diri mereka para pemuda dakwah yang akan antusias terhadap agama baru. Impiannya meluas hingga ke bibi Muhammad, Atikah, yang telah menjalin hubungan antara Bani Hasyim dan Bani Makhzum melalui pernikahannya dengan Abu Umayyah bin Al-Mughirah. Ia sangat mencintai keponakannya; dialah yang datang kepadanya di masa ketika ia menyewa pria-pria untuk pergi berdagang dan menawarinya untuk menyewa keponakannya, Muhammad bin Abdullah. Jika saja ia beriman pada risalah Muhammad, niscaya kedua putranya, Abdullah dan Zuhair, akan mengikutinya. Siapa tahu Islam bisa tersebar di Bani Makhzum berkat dirinya.
وَطَافَ بِهَا خَاطِرٌ : لَوْ أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ الْمُغِيرَةِ اعْتَنَقَ الدِّينَ الْجَدِيدَ لَتَبِعَ بَنُو مَخْزُومٍ سَيِّدَهُمْ ، وَلَكِنَّ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ مُسْتَحِيلًا . أَيُعْقَلُ أَنْ يَتَنَازَلَ الْوَلِيدُ عَنْ مَكَانَتِهِ وَأَنْ يَطْعَنَ كِبْرِيَاءَهُ بِيَدِهِ وَيُسَلِّسَ قِيَادَهُ لِيَتِيمِ قُرَيْشٍ !
Tiba-tiba terlintas pikiran: Jika saja Al-Walid bin Al-Mughirah memeluk agama baru, niscaya Bani Makhzum akan mengikuti pemimpin mereka. Namun hal itu hampir mustahil. Masuk akalkah Al-Walid melepaskan kedudukannya, menghancurkan kesombongannya dengan tangannya sendiri, dan tunduk kepada anak yatim Quraisy!
وَأَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ مَا يَكُونُ مَوْقِفُهُ مِنَ الدَّعْوَةِ ؟ إِنَّهُ سَيَضَعُ أَصَابِعَهُ فِي أُذُنَيْهِ وَلَنْ يَسْتَجِيبَ لِدَاعِي السَّمَاءِ مَا دَامَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ سَيَنْتَزِعُ الزَّعَامَةَ مِنَ الْأُمَوِيِّينَ لِلْهَاشِمِيِّينَ . إِنَّهُ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَرَى إِلَّا أَنَّهَا مُنَافَسَةٌ بَيْنَ الْهَاشِمِيِّينَ وَالْأُمَوِيِّينَ وَلَنْ يُقِرَّ أَبُو سُفْيَانَ لِأَحَدٍ غَيْرِهِ فِي قُرَيْشٍ كُلِّهَا بِالسِّيَادَةِ .
Bagaimana dengan posisi Abu Sufyan bin Harb terhadap dakwah? Ia akan memasukkan jari-jarinya ke telinganya dan tidak akan menanggapi seruan langit selama putra Abdullah akan merebut kepemimpinan dari tangan Bani Umayyah untuk Bani Hasyim. Ia hanya bisa melihat ini sebagai persaingan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, dan Abu Sufyan tidak akan mengakui kepemimpinan orang lain selain dirinya di seluruh Quraisy.
وَعُتْبَةُ بْنُ رَبِيعَةَ سَيِّدُ عَبْدِ شَمْسٍ ، وَشَيْبَةُ بْنُ رَبِيعَةَ وَأَبُو الْحَكَمِ بْنُ هِشَامٍ ( أَبُو جَهْلٍ ) ، وَأُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ ، وَالْعَاصُ بْنُ وَائِلٍ ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي رَبِيعَةَ ، وَالْأَرْقَمُ بْنُ أَبِي الْأَرْقَمِ . وَالْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ ، وَعُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ ، وَالْحَارِثُ بْنُ كَلَدَةَ الثَّقَفِيُّ طَبِيبُ الْعَرَبِ زَوْجُ خَالَتِهِ ، وَابْنُهُ النَّضْرُ ، مَاذَا يَكُونُ مَوْقِفُهُمْ مِنْهُ ؟!
'Utbah bin Rabi'ah pemimpin Abdusy Syams, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), Umayyah bin Khalaf, Al-Ash bin Wail, Abdullah bin Abu Rabi'ah, Al-Arqam bin Abil Arqam, Al-Muth'im bin Adi, 'Uqbah bin Abu Mu'aith, Al-Harits bin Kaldah Ats-Tsaqafi (tabib Arab suami bibinya), dan putranya An-Nadhr. Bagaimana posisi mereka terhadapnya?!
وَأَحَسَّتْ خَدِيجَةُ قَشَعْرِيرَةً تَدِبُّ فِيهَا مِنَ الرَّأْسِ إِلَى الْقَدَمِ إِشْفَاقًا عَلَى زَوْجِهَا ، فَالطَّرِيقُ مَحْفُوفٌ بِالصِّعَابِ وَالْأَهْوَالِ . وَقَبْلَ أَنْ تَسْتَسْلِمَ لِمَخَاوِفِهَا لَاحَتْ لِعَيْنِ ذَاتِهَا الْحَقِيقَةُ نَاصِعَةً ، إِنَّهُ لَيْسَ وَحْدَهُ ، إِنَّهُ مَعَ اللَّهِ ، وَمَنْ كَانَ مَعَ اللَّهِ كَانَ اللَّهُ مَعَهُ .
Khadijah merasakan merinding dari kepala hingga kaki karena rasa kasihan kepada suaminya; jalan itu dipenuhi kesulitan dan kengerian. Namun sebelum ia menyerah pada ketakutannya, ia melihat kebenaran dengan jelas: ia tidak sendirian, ia bersama Allah, dan siapa pun yang bersama Allah, maka Allah bersamanya.
وَجَاءَتْ جَارِيَةُ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ لِزِيَارَتِهَا فَأَقْبَلَتْ عَلَيْهَا مُتَفَتِّحَةَ النَّفْسِ وَرَاحَتْ تَقُصُّ عَلَيْهَا بَعْضَ مَا كَانَ فِي غَارِ حِرَاءَ وَتُخْبِرُهَا أَنَّ اللَّهَ قَدْ اصْطَفَى مُحَمَّدًا -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- لِرِسَالَتِهِ ، وَمَا كَادَتْ خَدِيجَةُ تَتِمُّ حَدِيثَهَا حَتَّى أَسْرَعَتِ الْجَارِيَةُ إِلَى مَوْلَاهَا ، وَدَخَلَتْ عَلَى حَكِيمٍ وَعِنْدَهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَتْ لَهُ :
Budak perempuan Hakim bin Hizam datang mengunjunginya, lalu ia menyambutnya dengan senang hati dan mulai menceritakan kepadanya sebagian dari apa yang terjadi di Gua Hira dan mengabarkan bahwa Allah telah memilih Muhammad -alaihi sholatu wassalam- untuk risalah-Nya. Belum sempat Khadijah menyelesaikan pembicaraannya, budak itu bergegas pergi kepada majikannya. Ia masuk menemui Hakim yang saat itu sedang bersama Abu Bakar, lalu ia berkata kepadanya:
— إِنَّ عَمَّتَكِ خَدِيجَةَ تَزْعُمُ فِي هَذَا الْيَوْمِ أَنَّ زَوْجَهَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ مِثْلَ مُوسَى .
— "Sesungguhnya bibimu Khadijah mengklaim pada hari ini bahwa suaminya adalah Nabi yang diutus seperti Musa."
وَخَفَقَ قَلْبُ أَبِي بَكْرٍ ، إِنَّهُ كَانَ يُكْثِرُ غَشَيَانَهُ فِي مَنْزِلِهِ وَكَانَ يُحَاوِرُهُ فكَانَ يَعْجَبُ بِأَصَالَةِ أَفْكَارِهِ وَيَرَى أَنَّهَا فَيْضٌ مِنَ اللَّهِ ، وَقَدْ سَمِعَ قَوْلَ وَرَقَةَ لَهُ لَمَّا ذَهَبَ مَعَهُ إِلَيْهِ فكَانَ يَتَرَقَّبُ فِي لَهْفَةٍ أَنْ يَسْمَعَ مِنْ مُحَمَّدٍ مَا يَكُونُ بَعْدَ أَنْ آبَ إِلَى حِرَاءَ عَقِبَ أَنْ طَلَبَ مِنْهُ وَرَقَةُ أَنْ يَثْبُتَ إِذَا مَا سَمِعَ الصَّوْتَ الَّذِي يُنَادِيهِ وَرَأَى النُّورَ الَّذِي يَغْشَى الْغَارَ ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّ صَدِيقَهُ قَدْ قَفَلَ عَائِدًا مِنْ تَحَنُّثِهِ يَحْمِلُ رِسَالَةَ السَّمَاءِ .
Hati Abu Bakar berdebar. Ia sering berkunjung ke rumahnya dan berdialog dengannya, ia kagum dengan keaslian pemikirannya dan melihat itu adalah limpahan dari Allah. Ia telah mendengar perkataan Waraqah kepadanya saat ia pergi bersamanya, dan ia menunggu dengan antusias untuk mendengar dari Muhammad apa yang terjadi setelah ia kembali ke Hira, setelah Waraqah memintanya untuk teguh jika ia mendengar suara yang memanggilnya dan melihat cahaya yang meliputi gua. Namun ia tidak tahu bahwa sahabatnya telah kembali dari uzlah-nya membawa risalah langit.
وَلَمْ يَسْتَطِعْ أَبُو بَكْرٍ صَبْرًا فَاسْتَأْذَنَ فِي الِانْصِرَافِ وَانْطَلَقَ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ وَقَدْ تَذَكَّرَ رُؤْيَاهُ الَّتِي رَآهَا ، فَإِنَّهُ رَأَى الْقَمَرَ يَنْزِلُ إِلَى مَكَّةَ فَدَخَلَ فِي كُلِّ بَيْتٍ مِنْهُ شُعْبَةٌ ثُمَّ كَانَ جَمِيعُهُ فِي حِجْرِهِ ، وَإِنَّهُ لَيُحِسُّ السَّاعَةَ أَنَّ رُؤْيَاهُ صَادِقَةٌ وَأَنَّهُ فِي طَرِيقِهِ لِتَحْقِيقِهَا .
Abu Bakar tidak sabar lagi, lalu ia meminta izin untuk pergi dan bergegas menuju rumah Khadijah. Ia teringat mimpi yang pernah dilihatnya; ia melihat bulan turun ke Mekkah, lalu masuk ke setiap rumah di sana satu cabangnya, kemudian semuanya berkumpul di pangkuannya. Ia merasa saat ini bahwa mimpinya benar dan bahwa ia sedang dalam perjalanan untuk mewujudkannya.
لَمْ تَكُنْ بِأَبِي بَكْرٍ غَطْرَسَةٌ وَمَا كَانَتْ لَهُ زَعَامَةٌ مُهَدَّدَةٌ بِالزَّوَالِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ بِالْأَصْنَامِ ، بَلْ إِنَّهُ كَرِهَهَا مُنْذُ أَنْ قَالَ لِإِلَهِهِ إِنِّي جَائِعٌ فَأَطْعِمْنِي وَظَلَّ إِلَهُهُ غَارِقًا فِي بَلَهِهِ وَسُكُونِهِ ، وَمَا كَانَ ذِهْنُهُ مُغْلَقًا وَمَا كَانَ صَاحِبَ هَوًى وَلَا حَلِيفَ الشَّهَوَاتِ ، فَهُوَ يُرِيدُ جَوْهَرَ الْحَقِيقَةِ ، وَإِنَّهُ لَيَرَى فِي صَدِيقِهِ الْأَمَلَ الَّذِي يَخْفِقُ فِي قُلُوبِ طُلَّابِ الْإِصْلَاحِ ، فَمَا إِنْ سَمِعَ مَوْلَاةَ حَكِيمٍ تَقُولُ إِنَّ خَدِيجَةَ تَزْعُمُ أَنَّ زَوْجَهَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ مِثْلَ مُوسَى حَتَّى صَدَّقَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَتَّى قَبْلَ أَنْ يَلْقَاهُ .
Abu Bakar tidak memiliki kesombongan, tidak memiliki kepemimpinan yang terancam hilang, dan bukan termasuk orang yang percaya pada berhala. Bahkan, ia membencinya sejak ia berkata kepada tuhannya: "Aku lapar, berilah aku makan," namun tuhannya tetap tenggelam dalam kebodohan dan diamnya. Pikirannya tidak tertutup, ia bukan pengikut hawa nafsu atau budak syahwat. Ia menginginkan esensi kebenaran, dan ia melihat pada sahabatnya harapan yang berdebar di hati para pencari perbaikan. Maka begitu ia mendengar budak Hakim berkata bahwa Khadijah mengklaim suaminya adalah Nabi yang diutus seperti Musa, ia langsung percaya bahwa Muhammad adalah Rasulullah bahkan sebelum bertemu dengannya.
وَوَقَفَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى بَابِ خَدِيجَةَ يَطْرُقُهُ فِي انْفِعَالٍ ، وَمَرَّتْ لَحَظَاتٌ ثُمَّ انْفَرَجَ الْبَابُ عَنْ جَارِيَةٍ قَادَتْهُ إِلَى حَيْثُ يَنْتَظِرُ ، ثُمَّ ذَهَبَتْ إِلَى حَيْثُ كَانَ أَبُو الْقَاسِمِ وَأَهْلُ بَيْتِهِ وَأَنْبَأَتْهُ بِقُدُومِ عَتِيقِ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ .
Abu Bakar berdiri di depan pintu Khadijah, mengetuknya dengan penuh emosi. Beberapa saat berlalu, pintu terbuka oleh seorang budak perempuan yang menuntunnya ke tempat yang menunggu, lalu budak itu pergi ke tempat Abu Al-Qasim dan keluarganya berada dan mengabarkan kedatangan Atiq bin Abu Quhafah.
وَذَهَبَ مُحَمَّدٌ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- لِلِقَاءِ صَدِيقِهِ ، وَقَامَتْ خَدِيجَةُ وَقَدْ تَحَرَّكَتْ عَوَاطِفُهَا لِتَسْمَعَ مَا يَكُونُ بَيْنَ الصَّدِيقَيْنِ وَكَانَتْ عَلَى ثِقَةٍ مِنْ أَنَّ ابْنَ أَبِي قُحَافَةَ سَيَسْتَجِيبُ لِدَعْوَةِ الْحَبِيبِ ، وَدَخَلَ أَبُو الْقَاسِمِ عَلَى صَدِيقِهِ مُشْرِقَ الْوَجْهِ فَقَامَ إِلَيْهِ أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ فِي انْفِعَالٍ :
Muhammad -alaihi sholatu wassalam- pergi untuk menemui sahabatnya. Khadijah bangkit, emosinya tergugah untuk mendengar apa yang akan terjadi di antara kedua sahabat tersebut, dan ia yakin bahwa putra Abu Quhafah akan menanggapi seruan sang kekasih. Abu Al-Qasim masuk menemui sahabatnya dengan wajah berseri-seri, lalu Abu Bakar berdiri menyambutnya dan berkata dengan penuh emosi:
— يَا أَبَا الْقَاسِمِ ! مَا الَّذِي بَلَغَنِي عَنْكَ ؟
— "Wahai Abu Al-Qasim! Apa yang sampai kepadaku tentang dirimu?"
فَقَالَ النَّبِيُّ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- فِي هُدُوءٍ : مَا بَلَغَكَ عَنِّي يَا أَبَا بَكْرٍ ؟
Nabi -alaihi sholatu wassalam- berkata dengan tenang: "Apa yang sampai kepadamu tentang diriku, wahai Abu Bakar?"
— بَلَغَنِي أَنَّكَ تَدْعُو إِلَى تَوْحِيدِ اللَّهِ وَزَعَمْتَ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ .
— "Sampai kepadaku bahwa engkau menyeru kepada tauhid Allah dan mengklaim bahwa engkau adalah Rasul Allah."
نَعَمْ يَا أَبَا بَكْرٍ . إِنَّ رَبِّي جَعَلَنِي بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَجَعَلَنِي دَعْوَةَ إِبْرَاهِيمَ ، وَأَرْسَلَنِي إِلَى النَّاسِ جَمِيعًا .
"Ya, wahai Abu Bakar. Sesungguhnya Tuhanku menjadikanku pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, menjadikanku dakwah Ibrahim, dan mengutusku kepada seluruh manusia."
وَدَقَّ قَلْبُ خَدِيجَةَ فِي صَدْرِهَا وَأَرْهَفَتْ سَمْعَهَا ، وَلَمْ يَطُلِ انْتِظَارُهَا فَقَدْ سَمِعَتْ أَبَا بَكْرٍ يَقُولُ فِي صَوْتٍ يَنِمُّ عَنِ الصِّدْقِ وَالْإِيمَانِ بِمَا يَقُولُ :
Jantung Khadijah berdegup di dadanya dan ia menajamkan pendengarannya. Penantiannya tidak lama, karena ia mendengar Abu Bakar berkata dengan suara yang menunjukkan kejujuran dan keyakinan pada apa yang ia katakan:
— وَاللَّهِ مَا جَرَّبْتُ عَلَيْكَ كَذِبًا ، وَإِنَّكَ لَخَلِيقٌ بِالرِّسَالَةِ لِعَظِيمِ أَمَانَتِكَ وَصِلَتِكَ لِرَحِمِكَ وَحُسْنِ فِعَالِكَ . مُدَّ يَدَكَ فَلِأُبَايِعَكَ .
— "Demi Allah, aku tidak pernah mendapati engkau berbohong, dan engkau sungguh layak untuk risalah ini karena amanahmu yang agung, silaturahmimu, dan perbuatanmu yang baik. Ulurkan tanganmu agar aku berbaiat kepadamu."
وَغَمَرَ خَدِيجَةَ فَرَحٌ فَيَّاضٌ ، فَمَا تَرَدَّدَ أَبُو بَكْرٍ وَلَا أَبَى عَلَيْهِ وَلَا أَرْجَعَهُ فِي الْكَلَامِ ، بَلْ قَالَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ . فَانْدَفَعَتْ خَدِيجَةُ إِلَيْهِ مُسْتَبْشِرَةً وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَحْمَرُ ، فَقَالَتْ :
Kebahagiaan yang meluap-luap membanjiri Khadijah. Abu Bakar tidak ragu, tidak menolak, dan tidak menarik kata-katanya, melainkan berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa engkau adalah Rasulullah." Khadijah pun bergegas menghampirinya dengan gembira, mengenakan kerudung merah, lalu ia berkata:
— الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ يَا بْنَ أَبِي قُحَافَةَ .
— "Segala puji bagi Allah yang telah memberimu petunjuk, wahai putra Abu Quhafah."
وَانْصَرَفَ أَبُو بَكْرٍ وَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَشَدُّ سُرُورًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- بِإِسْلَامِهِ .
Abu Bakar pun pergi, dan tidak ada di antara kedua wilayah (Mekkah) itu yang lebih gembira daripada Rasulullah -alaihi sholatu wassalam- atas keislamannya.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi