BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim #16

جَاءَ اللَّيْلُ فَعَادَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ إِلَى الدَّارِ ، فَكَانَ أَوَّلَ مَا فَعَلَهُ أَنْ ذَهَبَ إِلَى أُمِّهِ يَغْمُرُهَا بِحَنَانِهِ . وَمَدَّ الطَّعَامَ فَجَلَسَ إِلَى جِوَارِهَا يُطْعِمُهَا أَطْيَبَهُ ، يُنَافِسُهُ أَخُوهُ عَامِرٌ فِي الْبِرِّ بِهَا وَالْعَطْفِ عَلَيْهَا . كَانَتْ أُسْرَةً هَانِئَةً سَعِيدَةً تَرْفَرِفُ عَلَيْهَا السَّكِينَةُ وَتَطُوفُ بِهَا آمَالٌ مُتَوَاضِعَةٌ ، فَمَا كَانَتْ أَمَانِيُّ لِتَمْتَدَّ إِلَى أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُوَفَّقَ سَعْدٌ فِي صِنَاعَةِ بَرَى النَّبْلِ وَأَنْ يَنْجَحَ عَامِرٌ فِي تِجَارَتِهِ .
Malam pun tiba, Sa'ad bin Abi Waqqash kembali ke rumah. Hal pertama yang dilakukannya adalah mendatangi ibunya dan melimpahinya dengan kasih sayang. Ia menghidangkan makanan lalu duduk di samping ibunya, menyuapinya dengan makanan terbaik, saudaranya, Amir, bersaing dengannya dalam berbakti dan menyayangi sang ibu. Mereka adalah keluarga yang tenang dan bahagia, dinaungi kedamaian dan dikelilingi harapan-harapan sederhana. Harapan mereka tidak melampaui keinginan agar Sa'ad sukses dalam kerajinan membuat anak panah dan Amir sukses dalam perdagangannya.
وَحَانَ وَقْتُ النَّوْمِ فَنَهَضَتِ الْأُمُّ إِلَى الصَّنَمِ الْمَوْجُودِ فِي الْبَيْتِ لِتُؤَدِّيَ لَهُ صَلَاتَهَا وَهِيَ تُوصِي وَلَدَيْهَا بِالصَّلَاةِ لِلْآلِهَةِ شُكْرًا اتِّقَاءً لِشَرِّهِمْ فِي الدُّنْيَا وَجَلْبًا لِلرِّزْقِ وَإِطَالَةِ الْعُمْرِ عَلَى الْأَرْضِ ، وَكَانَتْ أُمُّهُمَا مُؤْمِنَةً بِآلِهَتِهَا مُتَعَصِّبَةً غَايَةَ التَّعَصُّبِ لِتَقَالِيدِ قَوْمِهَا يَضِيقُ صَدْرُهَا بِأَيَّةِ بَادِرَةٍ تُسِيءُ إِلَى دِينِهَا أَوْ تَخْدِشُ قُدْسِيَّتَهُ وَلَوْ مِنْ بَعِيدٍ .
Waktu tidur pun tiba, sang ibu bangkit menuju berhala yang ada di rumah untuk menunaikan shalatnya, seraya berwasiat kepada kedua putranya untuk beribadah kepada tuhan-tuhan mereka sebagai rasa syukur, menghindari keburukan mereka di dunia, mendatangkan rezeki, dan memanjangkan umur di muka bumi. Ibu mereka adalah seorang yang meyakini tuhan-tuhannya dan sangat fanatik terhadap tradisi kaumnya; hatinya merasa sesak oleh setiap tanda yang menyinggung agamanya atau mencederai kesuciannya, meski dari jauh sekalipun.
وَنَهَضَ سَعْدٌ وَهَمَّ بِأَنْ يَتَمَسَّحَ بِالصَّنَمِ وَلَكِنَّهُ وَجَدَ تَثَاقُلًا فِي نَفْسِهِ ، إِنَّهُ سَمِعَ مِنْ أَبِي الْقَاسِمِ كَلَامًا بَذَرَ الشَّكَّ فِي عَيْنِ ذَاتِهِ فِي قُدْرَةِ آلِهَتِهِ عَلَى الْقُدْرَةِ ، إِنَّهَا أَحْجَارٌ صَمَّاءُ نَحَتَهَا النَّاسُ ثُمَّ عَبَدُوا مَا يَنْحِتُونَ غُرُورًا . وَقَدْ سَمِعَ مِنْ أَبِي بَكْرٍ وَهُوَ مِنَ الْحُنَفَاءِ الَّذِينَ أَنْكَرُوا دِينَ قُرَيْشٍ وَعَبَدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ تَسْفِيهًا لِمُعْتَقَدَاتِ قَوْمِهِ اسْتَرَاحَ لَهُ عَقْلُهُ ، فَقَدْ كَانَ فِي التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ مِنْ عُمْرِهِ يَتَلَفَّتُ بَاحِثًا عَنِ الْحَقِيقَةِ ، وَلَمْ تَكُنْ نَفْسُهُ قَدْ تَحَجَّرَ فِيهَا مَا لُقِّنَ مِنْ عَقَائِدَ وَمَا اكْتَسَبَ مِنْهَا مِنْ طُولِ انْغِمَاسِهِ فِي مُجْتَمَعِهِ .
Sa'ad bangkit dan hendak mengusap berhala itu, namun ia merasa keberatan dalam dirinya. Ia telah mendengar perkataan dari Abu Al-Qasim yang menanamkan keraguan dalam dirinya akan kemampuan tuhan-tuhannya. Itu hanyalah batu bisu yang dipahat oleh manusia, kemudian mereka menyembah apa yang mereka pahat karena kesombongan. Ia juga mendengar dari Abu Bakar, seorang yang hanif yang mengingkari agama Quraisy dan menyembah Allah semata karena menganggap sesat keyakinan kaumnya, yang membuat akalnya merasa tenang. Ia saat itu berusia sembilan belas tahun, menoleh mencari kebenaran, dan jiwanya belum membatu karena dogma-dogma yang diajarkan atau apa yang ia peroleh dari keterlibatannya yang lama dalam masyarakatnya.
كَانَ يَسْتَشْعِرُ كُلَّمَا جَلَسَ إِلَى أَبِي الْقَاسِمِ أَنَّهُ بَيْنَ يَدَيْ رَجُلٍ فَاضَتْ عَلَيْهِ الرَّحْمَةُ وَأَشْرَقَ النُّورُ فِي قَلْبِهِ فَجَرَتِ الْحِكْمَةُ عَلَى لِسَانِهِ . وَكَانَ يَتَمَنَّى فِي أَغْوَارِهِ لَوْ أَنَّهُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقْبِسَ مِنْ نُورِهِ قَبَسًا يُنِيرُ بِالْحِكْمَةِ وِجْدَانَهُ ، فَقَدْ كَانَ يَطْمَعُ فِي أَنْ تَتَلَأْلَأَ فِي فُؤَادِهِ حَقَائِقُ الْأُمُورِ .
Setiap kali duduk di hadapan Abu Al-Qasim, ia merasa berada di depan seorang pria yang kepadanya rahmat melimpah, cahaya terang dalam hatinya, sehingga hikmah mengalir dari lisannya. Dalam lubuk hatinya, ia berharap bisa mengambil sedikit cahayanya untuk menerangi nuraninya dengan hikmah; ia mendambakan agar hakikat segala perkara berkilauan di dalam hatinya.
إِنَّهُ يُحِسُّ إِحْسَاسًا صَادِقًا بِعَظَمَةِ الْأَمِينِ ، فَمَا مِنْ مَجْلِسٍ كَانَ فِيهِ أَبُو الْقَاسِمِ إِلَّا وَقَدْ تَضَاءَلَ الرِّجَالُ إِلَى جِوَارِهِ ، فَشَخْصِيَّتُهُ أَسْرَةٌ إِنْ صَمَتَ ، وَإِنْ تَكَلَّمَ اسْتَوْلَى بِفَصَاحَتِهِ عَلَى الْقُلُوبِ وَجَذَبَ إِلَيْهِ النُّفُوسَ لِتَسْعَدَ بِالْهِيَامِ فِي دُنْيَاهُ الصَّافِيَةِ الرَّقْرَاقَةِ الْخَفَّاقَةِ بِالْحَقِيقَةِ وَالْيَقِينِ .
Ia merasakan dengan jujur keagungan sang Al-Amin. Tidak ada majelis yang dihadiri Abu Al-Qasim kecuali orang-orang tampak kecil di sampingnya. Kepribadiannya begitu memikat saat diam, dan jika berbicara, kefasihannya menguasai hati dan menarik jiwa-jiwa untuk berbahagia karena terhanyut dalam dunianya yang jernih, gemerlap, dan berdetak dengan kebenaran serta keyakinan.
وَأَلْقَى سَعْدٌ نَظْرَةَ ازْدِرَاءٍ عَلَى الصَّنَمِ ثُمَّ أَوْلَاهُ ظَهْرَهُ وَسَارَ إِلَى فِرَاشِهِ يُحِسُّ رَاحَةً فِي ضَمِيرِهِ وَطُمَأْنِينَةً فِي فُؤَادِهِ ، وَانْدَسَّ فِيهِ وَأَسْلَمَ جَنْبَهُ لِلرُّقَادِ وَسُرْعَانَ مَا خَطَفَهُ النَّوْمُ فَرَاحَ فِي سُبَاتٍ عَمِيقٍ .
Sa'ad melemparkan pandangan menghina ke arah berhala itu, kemudian ia memunggunginya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Ia merasa tenang di nuraninya dan damai di hatinya, lalu ia menyelinap ke dalamnya, membaringkan lambungnya untuk tidur, dan tak lama kemudian ia terlelap dalam tidur yang nyenyak.
وَرَأَى نَفْسَهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ وَهُوَ يُحَاوِلُ الْخُرُوجَ مِنْهُ كُلَّمَا خَرَجَ مِنْ ظَلَامٍ دَخَلَ فِي ظَلَامٍ ، فَانْبَهَرَتْ أَنْفَاسُهُ وَهُوَ يَضْرِبُ فِي الظُّلُمَاتِ ، وَاسْتَوْلَى عَلَيْهِ فَزَعٌ وَهَلَعٌ وَاضْطِرَابٌ ، وَبَيْنَا هُوَ فِي ضِيقِهِ وَتَبَرُّمِهِ إِذْ أَطَلَّ الْقَمَرُ عَلَى الْمَكَانِ فَبَدَّدَ بِنُورِهِ دَيَاجِيرَ الظَّلَامِ ، فَتَفَرَّسَ فِي الْقَمَرِ فِي اسْتِبْشَارٍ فَرَأَى أَبَا بَكْرٍ وَعَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَزَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ يُطِلُّونَ مِنَ الْقَمَرِ وَيُشِيرُونَ إِلَيْهِ أَنْ يَلْحَقَ بِهِمْ ، فَقَالَ لَهُمْ :
Ia melihat dirinya dalam kegelapan pekat, berusaha keluar darinya; setiap kali keluar dari satu kegelapan, ia memasuki kegelapan yang lain. Napasnya tersengal saat ia menembus kegelapan itu, dan ketakutan, kepanikan, serta kegelisahan menguasainya. Saat ia dalam kesempitan dan kekesalan, tiba-tiba bulan menampakkan diri di tempat itu, memecah kegelapan pekat dengan cahayanya. Ia mengamati bulan itu dengan penuh harap, lalu melihat Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah menampakkan diri dari bulan tersebut dan mengisyaratkan kepadanya untuk menyusul mereka. Maka ia bertanya kepada mereka:
— مَتَى انْتَهَيْتُمْ إِلَى هَا هُنَا ؟
— "Kapan kalian sampai di sini?"
فَقَالُوا لَهُ :
Mereka menjawabnya:
— السَّاعَةَ .
— "Baru saja."
وَهَبَّ مِنْ نَوْمِهِ يُحِسُّ كَأَنَّمَا حُلُمَهُ قَدْ حُفِرَ فِي قَلْبِهِ ، وَتَوَلَّتْهُ دَهْشَةٌ لِاجْتِمَاعِ أَبِي بَكْرٍ وَعَلِيٍّ وَزَيْدٍ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ وَأَيْنَ ؟ فِي الْقَمَرِ ، إِنَّهَا رِفْعَةٌ .. إِنَّهَا إِشْرَاقٌ لَطِيفٌ .. إِنَّهَا دَعْوَةٌ لِأَنْ يَرْتَفِعَ مِثْلَهُمْ .. لَوْ دَعَاهُ أَحَدُهُمْ إِلَى خَيْرٍ لَيَتَّبِعَنَّهُ .
Ia tersentak bangun dari tidurnya, merasa seolah mimpinya itu terukir di dalam hatinya. Ia diliputi kekaguman karena berkumpulnya Abu Bakar, Ali, dan Zaid di satu tempat, dan di mana? Di bulan! Sungguh itu adalah ketinggian... itu adalah pancaran lembut... itu adalah ajakan agar ia naik seperti mereka... seandainya salah satu dari mereka mengajaknya kepada kebaikan, pastilah ia akan mengikutinya.
وَهَبَّ اللَّيْلُ هَارِبًا أَمَامَ النَّهَارِ فَعَادَ سَعْدٌ فِرَاشَهُ وَذَهَبَ إِلَى حَيْثُ كَانَتْ أُمُّهُ لِيُلْقِيَ عَلَيْهَا تَحِيَّةَ الصَّبَاحِ فَإِذَا بِأَخِيهِ عَامِرٍ قَدْ سَبَقَهُ إِلَيْهَا وَرَاحَ يُسْبِغُ عَلَيْهَا عَطْفَهُ ، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِمَا مُشْرِقَ الْوَجْهِ يَبْذُلُ لِأُمِّهِ كُلَّ نَفْسِهِ لَعَلَّهَا تَرْضَى .
Malam pun berlalu melarikan diri di hadapan siang. Sa'ad meninggalkan tempat tidurnya dan pergi ke tempat ibunya untuk mengucapkan salam pagi, ternyata saudaranya, Amir, telah mendahuluinya dan sedang mencurahkan kasih sayangnya. Maka ia mendatangi keduanya dengan wajah berseri-seri, mengerahkan seluruh dirinya untuk ibunya agar ia ridha.
وَخَرَجَ سَعْدٌ إِلَى عَمَلِهِ وَجَلَسَ يَبْرَى النَّبْلَ لِفُرْسَانِ قُرَيْشٍ الْخَارِجِينَ لِلْقَنْصِ ، فَأَقْبَلَ نَوْفَلُ بْنُ الْعَدَوِيَّةِ أَسَدُ قُرَيْشٍ ، وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَارِسُ بَنِي مَخْزُومٍ ، وَحَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَشَبَابُ مَكَّةَ الْمُولَعُ بِالصَّيْدِ لِيَبْرُوا سِهَامَهُمْ ، وَدَارَ بَيْنَهُمْ حَدِيثٌ شَائِقٌ حَوْلَ صَيْدِ الْغِزْلَانِ وَصَيْدِ الْحِسَانِ وَسَعْدٌ غَائِبٌ عَنْهُمْ بِالتَّفْكِيرِ فِي الرُّؤْيَا الَّتِي رَآهَا .
Sa'ad pergi bekerja dan duduk meraut anak panah untuk para ksatria Quraisy yang hendak berburu. Datanglah Naufal bin Al-Adawiyah, singa Quraisy, Khalid bin Al-Walid, ksatria Bani Makhzum, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan para pemuda Makkah yang gemar berburu untuk meraut anak panah mereka. Terjadilah percakapan menarik di antara mereka tentang berburu kijang dan berburu wanita-wanita cantik, sementara Sa'ad tidak bersama mereka karena pikirannya tertuju pada mimpi yang dilihatnya.
وَخَرَجَ أَبُو بَكْرٍ مِنْ دَارِهِ وَقَدْ عَزَمَ عَلَى أَنْ يَدْعُوَ إِلَى الدِّينِ الَّذِي اعْتَنَقَهُ مَنْ يَثِقُ فِيهِمْ مِنْ شَبَابِ قُرَيْشٍ وَكَانَ عَلَى ثِقَةٍ فِي أَنَّهُمْ سَيَسْتَجِيبُونَ لِدَعْوَتِهِ ، فَهُوَ مُعَظَّمٌ فِي قُرَيْشٍ عَلَى سَعَةٍ مِنَ الْمَالِ وَكَرَمِ الْأَخْلَاقِ مِنْ أَعَفِّ النَّاسِ مُحَبَّبٌ فِي قَوْمِهِ حَسَنُ الْمُجَالَسَةِ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِتَعْبِيرِ الرُّؤْيَا وَأَعْلَمِ النَّاسِ بِأَنْسَابِ الْعَرَبِ وَمَا فِيهَا مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ ، وَلَكِنَّهُ مَا كَانَ يَعُدُّ مَسَاوِيَهُمْ وَمِنْ ثَمَّ كَانَ مُحَبَّبًا فِيهِمْ . بِخِلَافِ عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَإِنَّهُ كَانَ مُبْغَضًا إِلَيْهِمْ لِأَنَّهُ كَانَ يَعُدُّ مَسَاوِيَهُمْ .
Abu Bakar keluar dari rumahnya dengan tekad mengajak pemuda Quraisy yang ia percayai kepada agama yang telah dianutnya, dan ia yakin bahwa mereka akan menyambut seruannya. Ia sangat dihormati di Quraisy karena kekayaannya yang luas dan kemuliaan akhlaknya, termasuk orang yang paling menjaga kehormatan, dicintai kaumnya, menyenangkan dalam pergaulan, dan termasuk orang yang paling alim dalam menafsirkan mimpi serta silsilah Arab beserta kebaikan dan keburukan di dalamnya. Namun, ia tidak pernah menghitung keburukan-keburukan mereka, sehingga ia dicintai oleh mereka. Berbeda dengan Aqil bin Abi Thalib, ia dibenci oleh mereka karena ia selalu menghitung keburukan-keburukan mereka.
كَانَ أَبُو بَكْرٍ عِنْدَ أَهْلِ مَكَّةَ مِنْ خِيَارِهِمْ يَسْتَعِينُونَ بِهِ فِيمَا يَأْتِيهِمْ ، وَكَانَتْ لَهُ بِمَكَّةَ ضِيَافَاتٌ لَا يَفْعَلُهَا أَحَدٌ ، وَلَعَلَّهُ كُنِّيَ بِأَبِي بَكْرٍ لِابْتِكَارِهِ الْخِصَالَ الْحَمِيدَةَ ، فَكَانَ الْمُتَطَلِّعُونَ إِلَى مُسْتَقْبَلٍ أَفْضَلَ لِمَدِينَتِهِمُ الْمُقَدَّسَةِ يَهْرَعُونَ إِلَيْهِ بَعْدَ أَبِي الْقَاسِمِ لِيَجِدُوا عِنْدَهُ النُّورَ الَّذِي يُنِيرُ لَهُمُ السَّبِيلَ .
Abu Bakar di mata penduduk Makkah termasuk orang pilihan mereka, yang mereka mintai pertolongan dalam urusan yang menimpa mereka. Ia memiliki keramah-tamahan di Makkah yang tidak dimiliki orang lain. Mungkin ia dijuluki Abu Bakar karena ia pelopor sifat-sifat terpuji. Maka, mereka yang mendambakan masa depan yang lebih baik bagi kota suci mereka bersegera menemuinya setelah Abu Al-Qasim untuk menemukan cahaya yang akan menerangi jalan bagi mereka.
وَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى سَعْدٍ فَأَلْفَاهُ فَرْدًا بَعْدَ أَنْ انْصَرَفَ فُرْسَانُ قُرَيْشٍ لِلَّهْوِ ، فَقَالَ لَهُ :
Abu Bakar mendatangi Sa'ad dan menemukannya sendirian setelah para ksatria Quraisy pergi untuk bersenang-senang, maka ia berkata kepadanya:
— جِئْتُكَ يَا سَعْدُ فِي أَمْرٍ ذِي بَالٍ . أَنْتَ يَا سَعْدُ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَمِقْدَارِ صِدْقِهِ وَأَمَانَتِهِ ، فَأَنْتَ خَالُهُ وَهُوَ مِنْكُمْ .
— "Aku datang kepadamu, wahai Sa'ad, mengenai perkara yang sangat penting. Engkau, wahai Sa'ad, adalah orang yang paling tahu tentang Muhammad bin Abdullah serta kadar kejujuran dan amanahnya, karena engkau adalah pamannya dan dia berasal dari kalian."
فَقَالَ سَعْدٌ فِي حَمَاسٍ :
Sa'ad berkata dengan antusias:
— إِنَّ مُحَمَّدًا غَيْرُ مُتَّهَمٍ . فَهُوَ يُؤَدِّي الْأَمَانَةَ وَيَصِلُ الرَّحِمَ وَيَقْرِي الضَّيْفَ وَيُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الدَّهْرِ .
— "Muhammad tidak perlu diragukan. Ia menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan membantu di kala tertimpa musibah zaman."
قَدْ نَزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَحْيٌ مِنَ السَّمَاءِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَدْعُوَ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ .
Telah turun wahyu dari langit kepada Muhammad yang mengabarkan kepadanya bahwa ia adalah Nabi umat ini, dan memerintahkannya untuk mengajak manusia menyembah Allah semata.
— أَيَكْفُرُ بِاللَّاتِ وَالْعُزَّى ؟
— "Apakah ia akan mengkufuri (meninggalkan) Latta dan Uzza?"
— نَعَمْ ، إِنَّهُ يَدْعُو إِلَى التَّحَرُّرِ الْمُطْلَقِ مِنْ عِبَادَةِ هَذِهِ الْأَصْنَامِ الَّتِي لَا تَمْلِكُ لِنَفْسِهَا شَيْئًا وَلَا تَدْفَعُ عَنْ نَفْسِهَا ضَرًّا .
— "Ya, ia mengajak kepada pembebasan mutlak dari penyembahan berhala-berhala ini yang tidak memiliki apa pun untuk dirinya sendiri dan tidak bisa menolak kemudharatan bagi dirinya sendiri."
— وَمَنْ تَبِعَهُ عَلَى دِينِهِ هَذَا ؟
— "Dan siapa yang mengikutinya atas agamanya ini?"
— أَنَا وَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَزَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ .
— "Aku, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah."
وَتَذَكَّرَ سَعْدٌ رُؤْيَاهُ فَقَالَ فِي انْفِعَالٍ :
Sa'ad teringat mimpinya, lalu berkata dengan penuh emosi:
— وَأَيْنَ رَسُولُ اللَّهِ الْآنَ ؟
— "Dan di mana Rasulullah sekarang?"
— فِي شِعْبِ أَجْيَادٍ يَعْبُدُ اللَّهَ مُسْتَخْفِيًا .
— "Di Syi'ib Ajyad, ia beribadah kepada Allah secara sembunyi-sembunyi."
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى شِعَابِ مَكَّةَ وَخَرَجَ مَعَهُ عَلِيٌّ مُسْتَخْفِيًا مِنْ قَوْمِهِ فَيُصَلِّيَانِ فِيهَا ، فَبَيْنَا هُمَا فِي صَلَاتِهِمَا إِذْ عُثِرَ عَلَيْهِمَا أَبُو طَالِبٍ فَوَقَفَ يَنْظُرُ فِي دَهْشٍ ، حَتَّى إِذَا مَا أَتَمَّا صَلَاتَهُمَا قَالَ لِابْنِهِ :
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, jika waktu shalat tiba, keluar menuju celah-celah gunung Makkah, dan Ali keluar bersamanya secara sembunyi-sembunyi dari kaumnya, lalu keduanya shalat di sana. Saat keduanya sedang shalat, Abu Thalib memergoki mereka. Ia berdiri memperhatikan dengan heran, hingga ketika keduanya selesai shalat, ia berkata kepada putranya:
— مَا هَذَا الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ ؟
— "Apa yang sedang engkau lakukan ini?"
فَقَالَ عَلِيٌّ :
Ali menjawab:
— يَا أَبَتِ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَصَدَّقْتُ مَا جَاءَ بِهِ وَدَخَلْتُ مَعَهُ .
— "Wahai ayahanda, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan apa yang dibawanya, dan aku masuk Islam bersamanya."
فَالْتَفَتَ أَبُو طَالِبٍ إِلَى أَبِي الْقَاسِمِ وَقَالَ :
Abu Thalib menoleh kepada Abu Al-Qasim dan berkata:
— يَا بْنَ أَخِي مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكَ تَدِينُ بِهِ ؟
— "Wahai putra saudaraku, apa yang kulihat engkau anut ini?"
فَقَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَطْمَعُ فِي إِسْلَامِ عَمِّهِ الَّذِي يُحِبُّهُ مِنْ كُلِّ قَلْبِهِ :
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berkata, seraya berharap Islamnya sang paman yang ia cintai sepenuh hati:
— هَذَا دِينُ اللَّهِ وَدِينُ مَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَدِينُ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ رَسُولًا إِلَى الْعِبَادِ ، وَأَنْتَ أَحَقُّ مَنْ بَذَلْتُ لَهُ النَّصِيحَةَ وَدَعَوْتُهُ إِلَى الْهُدَى وَأَحَقُّ مَنْ أَجَابَنِي إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَأَعَانَنِي عَلَيْهِ .
— "Ini adalah agama Allah, agama para malaikat-Nya, agama para rasul-Nya, dan agama bapak kita Ibrahim. Allah mengutusku dengannya sebagai rasul kepada hamba-hamba-Nya, dan engkau adalah orang yang paling berhak mendapatkan nasihatku dan aku ajak kepada petunjuk, serta orang yang paling berhak untuk menyambut seruanku kepada Allah Ta'ala dan menolongku di atasnya."
كَانَ أَبُو طَالِبٍ يَرَى أَنَّ اللَّهَ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يَبْعَثَ بَشَرًا رَسُولًا فَقَالَ :
Abu Thalib berpendapat bahwa Allah terlalu agung untuk mengutus manusia sebagai rasul, maka ia berkata:
— إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أُفَارِقَ دِينَ آبَائِي وَمَا كَانُوا عَلَيْهِ .
— "Aku tidak mampu meninggalkan agama bapak moyangku dan apa yang mereka yakini."
ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى ابْنِهِ عَلِيٍّ وَلَمْ يَنْهَرَهُ بَلْ قَالَ :
Kemudian ia menoleh kepada putranya Ali dan tidak membentaknya, justru ia berkata:
— أَمَا أَنَّهُ لَمْ يَدْعُكَ إِلَّا إِلَى خَيْرٍ فَالْزَمْهُ .
— "Adapun dia, dia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan, maka tetaplah bersamanya."
وَانْصَرَفَ أَبُو طَالِبٍ وَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ وَالْفَتَى الدَّحْدَاحُ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَكَانَ فِي التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ مِنْ عُمْرِهِ سَلِيمَ الْقَلْبِ خَالِصَ النِّيَّةِ ، وَمَا إِنْ وَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى اسْتَشْعَرَ رَهْبَةً وَإِجْلَالًا ، وَرَاحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ الْإِسْلَامَ ثُمَّ قَرَأَ : { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ * الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ * عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ } .. فَأُخِذَ سَعْدٌ بِعُذُوبَةِ الْقُرْآنِ وَفُتِنَ بِرِقَّتِهِ وَانْتَشَى بِحَلَاوَتِهِ وَكَانَ لِجَرَسِهِ وَقْعٌ عَظِيمٌ فِي نَفْسِهِ ، فَقَالَ :
Abu Thalib pergi, lalu datanglah Abu Bakar bersama pemuda gagah, Sa'ad bin Abi Waqqash, yang saat itu berusia sembilan belas tahun, berhati suci dan berniat tulus. Begitu matanya tertuju kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, ia merasakan kekaguman dan kehormatan. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mulai menawarkan Islam kepadanya, lalu membacakan: {Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan * Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah * Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia * Yang mengajar (manusia) dengan pena * Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya}. Sa'ad terpikat oleh kelembutan Al-Qur'an, terpesona oleh kehalusannya, dan terhanyut oleh kemanisannya. Irama bacaannya memiliki dampak yang luar biasa dalam jiwanya, maka ia berkata:
— أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ .
— "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah."
وَانْقَلَبَ سَعْدٌ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا ، وَمَا مَالَتِ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى وَقَفَ يُصَلِّي لِلَّهِ فَدَخَلَتْ عَلَيْهِ أُمُّهُ فَأَلْفَتْهُ قَدْ خَرَّ سَاجِدًا ، فَرَمَقَتْهُ فِي عَجَبٍ فَإِذَا بِهِ يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ تَأْلَفْهَا فَقَالَتْ :
Sa'ad kembali kepada keluarganya dengan gembira. Belum sempat matahari condong ke barat, ia berdiri shalat kepada Allah. Ibunya masuk menemuinya dan mendapatinya sedang bersujud. Ia memperhatikannya dengan heran, ternyata ia sedang shalat dengan cara yang tidak biasa dilihatnya, maka ibunya berkata:
— سَعْدُ ! سَعْدُ ! مَاذَا تَفْعَلُ ؟ وَلِمَنْ تَسْجُدُ ؟
— "Sa'ad! Sa'ad! Apa yang engkau lakukan? Dan kepada siapa engkau bersujud?"
وَأَتَمَّ صَلَاتَهُ فَقَالَ لَهَا :
Ia menyempurnakan shalatnya lalu berkata kepadanya:
— أَسْجُدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . إِنِّي أَدْعُوكِ يَا أُمَّاهُ إِلَى اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَإِلَى الْكُفْرِ بِاللَّاتِ وَالْعُزَّى وَشَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .
— "Aku bersujud kepada Allah, Tuhan semesta alam. Wahai ibu, aku mengajakmu kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan untuk mengkufuri Latta dan Uzza, serta bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya."
فَقَالَتْ أُمُّهُ فِي فَزَعٍ :
Ibunya berkata dengan ketakutan:
— سَعْدُ ! إِنَّهُ دِينٌ حَسَنٌ يَدْعُو إِلَى التَّرَاحُمِ وَالتَّوَادِّ وَالتَّقْوَى وَصِلَةِ الرَّحِمِ وَبِرِّ الْوَالِدَيْنِ .. إِنِّي لَا أُفَارِقُ دِينَ آبَائِي أَبَدًا . ثُبْ إِلَى رُشْدِكَ يَا سَعْدُ .
— "Sa'ad! Itu agama yang baik yang mengajak kepada kasih sayang, saling mencintai, ketakwaan, silaturahmi, dan berbakti kepada orang tua... (tapi) aku tidak akan pernah meninggalkan agama bapak moyangku. Sadarlah engkau, wahai Sa'ad."
— اسْتَمِعِي إِلَيَّ يَا أُمَّاهُ عَسَى أَنْ يَهْدِيَكِ اللَّهُ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ .
— "Dengarkanlah aku, wahai ibu, semoga Allah memberimu petunjuk ke jalan yang lurus."
— أَلَسْتِ تَزْعُمِينَ أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكِ بِصِلَةِ الرَّحِمِ وَبِرِّ الْوَالِدَيْنِ ؟
— "Bukankah engkau mengklaim bahwa Allah memerintahkanmu untuk silaturahmi dan berbakti kepada orang tua?"
— نَعَمْ .
— "Ya."
— وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ طَعَامًا وَلَا شَرِبْتُ شَرَابًا حَتَّى تَكْفُرَ بِمَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ وَتَمَسَّ إِسَافًا وَنَائِلَةَ .
— "Demi Allah, aku tidak akan makan makanan dan tidak akan minum minuman sampai engkau mengkufuri apa yang dibawa Muhammad dan mengusap Isaf dan Na'ilah."
— لَا . لَا تَفْعَلِي يَا أُمَّتَاهُ .
— "Jangan. Jangan lakukan itu, wahai ibu."
— لَتَدَعُنَّ دِينَكَ أَوْ لَا آكُلُ وَلَا أَشْرَبُ حَتَّى أَمُوتَ فَتُعَيَّرَ بِي .
— "Engkau harus meninggalkan agamamu, atau aku tidak akan makan dan tidak akan minum sampai aku mati, lalu engkau akan dicela karena diriku."
— إِنِّي لَا أَدَعُ دِينِي .
— "Aku tidak akan meninggalkan agamaku."
وَجَاءَ أَوَانُ تَنَاوُلِ الطَّعَامِ فَدَعَا سَعْدٌ وَعَامِرٌ أُمَّهُمَا إِلَى الْعَشَاءِ فَأَبَتْ ، فَتَرَكَهَا سَعْدٌ وَظَلَّ عَامِرٌ يُحَاوِلُ أَنْ يَثْنِيَهَا عَنْ عَزْمِهَا دُونَ جَدْوًى ، وَانْقَضَى يَوْمٌ وَأُمُّ سَعْدٍ عَلَى عَهْدِهَا لَا تَأْكُلُ وَلَا تَشْرَبُ . ثُمَّ مَرَّ الْيَوْمُ الثَّانِي وَهِيَ لَا تَأْكُلُ وَلَا تَشْرَبُ فَأَصْبَحَتْ وَقَدْ خَمَدَتْ ، فَجَاءَ إِلَيْهَا سَعْدٌ وَقَالَ :
Waktu makan tiba, Sa'ad dan Amir mengajak ibu mereka untuk makan malam, namun ia menolak. Sa'ad meninggalkannya, sementara Amir terus mencoba untuk memalingkannya dari tekadnya tanpa hasil. Sehari berlalu dan ibu Sa'ad tetap pada sumpahnya; ia tidak makan dan tidak minum. Kemudian hari kedua berlalu dan ia masih tidak makan dan tidak minum, hingga ia menjadi lemah. Maka Sa'ad mendatanginya dan berkata:
— تَعْلَمِينَ وَاللَّهِ يَا أُمَّاهُ لَوْ كَانَ لَكِ مِائَةُ نَفْسٍ تَخْرُجُ نَفْسًا نَفْسًا مَا تَرَكْتُ دِينَ هَذَا النَّبِيِّ ، فَكُلِي إِنْ شِئْتِ أَوْ لَا تَأْكُلِي .
— "Demi Allah, engkau tahu wahai ibu, seandainya engkau memiliki seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu per satu, aku tidak akan pernah meninggalkan agama Nabi ini. Maka makanlah jika engkau mau, atau jangan makan."
وَرَاحَ أَهْلُ الدَّارِ يَفْتَحُونَ فَاهَا ثُمَّ يُلْقُونَ فِيهِ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ ، فَلَمَّا فَتَحَتْ عَيْنَيْهَا الْتَفَتَتْ إِلَى عَامِرٍ وَقَالَتْ لِسَعْدٍ تُعَيِّرُهُ :
Penghuni rumah mulai membuka mulutnya lalu memasukkan makanan dan minuman ke dalamnya. Ketika ia membuka matanya, ia menoleh kepada Amir dan berkata kepada Sa'ad untuk mencelanya:
— هُوَ الْبَرُّ لَا يُفَارِقُ دِينَهُ وَلَا يَكُونُ تَابِعًا .
— "Dia (Amir) adalah yang berbakti, yang tidak meninggalkan agamanya dan tidak menjadi pengikut."
وَخَرَجَ سَعْدٌ إِلَى شِعْبِ أَجْيَادٍ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ وَعَلِيٍّ وَأَبِي بَكْرٍ وَزَيْدٍ مُسْتَخْفِينَ ، فَلَمَّا صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ يُصَلُّونَهُمَا بِالْعَشِيِّ عَادَ إِلَى الدَّارِ فَوَجَدَ أُمَّهُ عَلَى الْبَابِ تَصِيحُ :
Sa'ad keluar menuju Syi'ib Ajyad shalat bersama Nabi, Ali, Abu Bakar, dan Zaid secara sembunyi-sembunyi. Ketika selesai shalat dua rakaat yang mereka kerjakan di waktu senja, ia kembali ke rumah dan mendapati ibunya di pintu berteriak:
— أَلَا أَعْوَانٌ يُعِينُونَنِي عَلَيْهِ مِنْ عَشِيرَتِي أَوْ عَشِيرَتِهِ فَأَحْبِسَهُ فِي بَيْتٍ وَأُطْبِقَ عَلَيْهِ بَابَهُ حَتَّى يَمُوتَ أَوْ يَدَعَ هَذَا الدِّينَ الْمُحْدَثَ ؟
— "Adakah penolong yang membantuku menghadapinya dari kaumku atau kaumnya? Maka aku akan mengurungnya di rumah dan menutup pintunya hingga ia mati atau meninggalkan agama baru ini?"
فَقَالَ لَهَا سَعْدٌ وَهُوَ حَزِينٌ :
Sa'ad berkata kepadanya dengan sedih:
— لَا أَعُودُ إِلَيْكِ وَلَا أَقْرُبُ مَنْزِلَكِ .
— "Aku tidak akan kembali kepadamu dan tidak akan mendekati rumahmu."
فَرَجَعَ مِنْ حَيْثُ جَاءَ وَأُمُّهُ تَتَمَيَّزُ غَيْظًا فَقَدْ أَحَسَّتِ الْهَزِيمَةَ ، وَمَا كَانَ يَدُورُ بِخَلَدِهَا أَنْ يَعْصِيَ سَعْدٌ لَهَا أَمْرًا أَوْ يُخَيِّبَ رَجَاءً وَهُوَ الْبَارُّ بِهَا الْمُتَفَانِي فِي رِضَاهَا . تَرَى مَا كُنْهَ هَذَا الدِّينِ الَّذِي اسْتَوْلَى عَلَى لُبِّهِ ؟ سَحَرَهُ مُحَمَّدٌ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ .
Maka ia kembali dari tempat ia datang, sementara ibunya murka karena merasakan kekalahan. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa Sa'ad akan membangkang perintahnya atau mengecewakan harapannya, padahal ia adalah anak yang berbakti kepadanya dan berdedikasi mencari keridhaannya. Kira-kira apa hakikat agama ini yang telah menguasai akal budinya? Muhammad telah menyihirnya, demi Tuhan Ka'bah.
وَرَاحَتْ تَرْقُبُ عَوْدَتَهُ نَادِمًا مُسْتَغْفِرًا وَلَكِنَّ الْأَيَّامَ تَمُرُّ وَسَعْدٌ لَا يَئُوبُ إِلَيْهَا فَتَشْعُرُ أَنَّهَا تَكَادُ تَخْتَنِقُ اخْتِنَاقًا ، وَتَأْبَى كَرَامَتُهَا أَنْ تَرْضَخَ لِذَلِكَ الْعُقُوقِ فَتَصْطَبِرُ عَلَى مَضَضٍ ثُمَّ تُرْسِلُ إِلَيْهِ :
Ia terus mengawasi kepulangannya, berharap ia menyesal dan memohon ampun, namun hari demi hari berlalu dan Sa'ad tidak kunjung kembali kepadanya, sehingga ia merasa hampir mati tercekik. Kehormatannya menolak untuk tunduk pada kedurhakaan itu, maka ia bersabar dengan menahan rasa sakit, lalu ia mengirim pesan kepadanya:
— عُدْ إِلَى مَنْزِلِكَ وَلَا تَتَضَيَّفَنَّ فَيَلْزَمُنَا عَارٌ .
— "Kembalilah ke rumahmu dan jangan menumpang (di tempat lain) karena akan mendatangkan aib bagi kita."
فَرَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَمَرَّةً تَلْقَاهُ بِالْبِشْرِ وَمَرَّةً تَلْقَاهُ بِالشَّرِّ وَتُعَيِّرُهُ بِأَخِيهِ عَامِرٍ وَتَقُولُ :
Ia kembali ke rumahnya, terkadang ia (ibunya) menyambutnya dengan ramah, terkadang ia menyambutnya dengan buruk dan mencelanya dengan saudaranya, Amir, dan berkata:
— هُوَ الْبَرُّ لَا يُفَارِقُ دِينَهُ وَلَا يَكُونُ تَابِعًا .
— "Dia (Amir) adalah yang berbakti, yang tidak meninggalkan agamanya dan tidak menjadi pengikut."
وَلَمْ يَخْطُرْ لِأُمِّهِ حَمْدُونَةَ بِنْتِ سُفْيَانَ بْنِ أُمَيَّةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ عَلَى قَلْبٍ أَنْ سَيَأْتِيَ يَوْمٌ قَرِيبٌ يُشْرِقُ فِيهِ نُورُ الْإِسْلَامِ فِي فُؤَادِ ابْنِهَا عَامِرٍ ، وَأَنَّهُ سَيَلْقَى مِنْهَا مَا لَمْ يَلْقَ أَحَدٌ مِنَ الصِّيَاحِ وَالْأَذَى ، وَأَنَّهَا سَتُعْطِي آلِهَتَهَا عَهْدًا أَلَّا يُظِلَّهَا نَخْلٌ وَلَا تَأْكُلَ طَعَامًا وَلَا تَشْرَبَ شَرَابًا حَتَّى يَدَعَ صِبَأَتَهُ .
Tidak pernah terlintas di hati ibunya, Hamdunah binti Sufyan bin Umayyah bin Abdi Syams, bahwa akan datang hari yang dekat di mana cahaya Islam akan bersinar di dalam hati putranya, Amir, dan bahwa ia akan mendapatkan darinya apa yang tidak didapatkan oleh siapa pun berupa teriakan dan gangguan, dan bahwa ia akan memberikan janji kepada tuhan-tuhannya untuk tidak berteduh di bawah pohon kurma, tidak makan makanan, dan tidak minum minuman sampai ia meninggalkan kemurtadannya.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi