BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim #17

كَانَتِ الشَّمْسُ تَنْحَدِرُ فِي الْأُفُقِ الْغَرْبِيِّ لِتَخْتَفِيَ خَلْفَ جِبَالِ مَكَّةَ ، وَكَانَ النَّاسُ فِي الْحَرَمِ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ أَوْ يَجْلِسُونَ فِي الْمَسْجِدِ وَقَدِ انْتَشَرَتْ بُطُونُ قُرَيْشٍ فِي نَوَادِيهِمْ ، وَدَخَلَ سَادَاتُ الْقَوْمِ دَارَ النَّدْوَةِ تِلْكَ الدَّارَ الَّتِي أَصْبَحَتْ لِحَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ . وَكَانَتْ غَايَةُ آمَالِ شَبَابِ قُرَيْشٍ أَنْ يَكُونَ لَهُمْ فِي ذَاتِ يَوْمٍ رَأْيٌ فِي تِلْكَ الدَّارِ الَّتِي تَبْسُطُ سُلْطَانَهَا عَلَى أَهْلِ الْحَرَمِ .
Matahari mulai turun di ufuk barat untuk menghilang di balik pegunungan Makkah. Orang-orang di Haram sedang bertawaf di Baitullah atau duduk-duduk di masjid, sementara kabilah-kabilah Quraisy telah tersebar di perkumpulan mereka. Para pemuka kaum memasuki Darun Nadwah, rumah yang menjadi milik Hakim bin Hizam. Puncak cita-cita para pemuda Quraisy adalah agar suatu hari nanti mereka memiliki suara di rumah tersebut yang membentangkan kekuasaannya atas penduduk Haram.
وَكَانَتِ السَّادَةُ وَالْعَبِيدُ مِنْ كُلِّ دِينٍ وَمِنْ كُلِّ مَذْهَبٍ يُمَارِسُونَ شَعَائِرَهُمْ فِي حُرِّيَّةٍ فِي جَنَبَاتِ أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ ، فَقَدْ كَانَ حَرَمًا آمِنًا تُجْبَى إِلَيْهِ طَيِّبَاتُ كُلِّ شَيْءٍ ، وَكَانَ أَهْلُهُ مُتَسَامِحِينَ مَعَ كُلِّ الْمِلَلِ وَالنِّحَلِ مَا دَامَ أَصْحَابُ الْمَذَاهِبِ لَا يَتَعَرَّضُونَ لِآلِهَتِهِمْ بِسُوءٍ ، وَلَا يُهَاجِمُونَ دِينَهُمْ ، وَلَا يَنْتَقِدُونَ سُوءَ تَوْزِيعِ الْأَمْوَالِ بَيْنَهُمْ ، وَلَا يُحَاوِلُونَ أَنْ يَحُدُّوا مِنْ حُرِّيَّاتِهِمُ الْجِنْسِيَّةِ أَوْ يَكْبَحُوا جِمَاحَ شَهَوَاتِهِمُ الضَّارِيَةِ .
Para tuan dan budak dari setiap agama dan mazhab menjalankan ritual mereka dengan bebas di sisi rumah pertama yang dibangun untuk manusia. Ia adalah tanah suci yang aman, tempat didatangkan segala kebaikan. Penduduknya toleran terhadap semua agama dan aliran selama penganut mazhab tersebut tidak mengganggu tuhan-tuhan mereka dengan keburukan, tidak menyerang agama mereka, tidak mengkritik pembagian harta yang buruk di antara mereka, serta tidak mencoba membatasi kebebasan seksual mereka atau mengekang luapan syahwat mereka yang buas.
وَكَانَ فِي الطَّائِفِينَ بِالْبَيْتِ وَالْجَالِسِينَ حَوْلَهُ مَنْ أَنْكَرُوا الْخَالِقَ وَالْبَعْثَ وَالْإِعَادَةَ وَقَالُوا بِالطَّبْعِ الْمُحْيِي وَالدَّهْرِ الْمُفْنِي ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَقَرُّوا بِالْخَالِقِ وَابْتِدَاءِ الْخَلْقِ وَالْإِبْدَاعِ وَأَنْكَرُوا الْبَعْثَ وَالْإِعَادَةَ ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَقَرُّوا بِالْخَالِقِ وَابْتِدَاءِ الْخَلْقِ وَنَوْعٍ مِنَ الْإِعَادَةِ ، وَأَنْكَرُوا الرُّسُلَ وَعَبَدُوا الْأَصْنَامَ وَزَعَمُوا أَنَّهَا شُفَعَاؤُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ وَحَجُّوا إِلَيْهَا وَنَحَرُوا لَهَا الْهَدَايَا وَقَرَّبُوا الْقَرَابِينَ وَتَقَرَّبُوا إِلَيْهَا بِالْمَنَاسِكِ وَالْمَشَاعِرِ وَأَحَلُّوا وَحَرَّمُوا .
Di antara mereka yang bertawaf di Baitullah dan yang duduk di sekelilingnya, ada yang mengingkari Sang Pencipta, hari kebangkitan, dan hari pembalasan. Mereka mengatakan kehidupan terjadi karena tabiat alami dan kehancuran karena masa. Ada yang mengakui Sang Pencipta, penciptaan awal, dan kreativitas, namun mengingkari kebangkitan dan pembalasan. Ada yang mengakui Sang Pencipta, penciptaan awal, dan jenis kebangkitan tertentu, namun mengingkari para Rasul, menyembah berhala, dan mengklaim bahwa berhala-berhala itu adalah pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah di akhirat. Mereka pun berhaji ke berhala-berhala itu, menyembelih kurban untuknya, memberikan sesajen, mendekatkan diri kepadanya melalui ritual dan manasik, serta menghalalkan dan mengharamkan sesuatu atas nama berhala tersebut.
وَكَانَ مِنْهُمْ حُنَفَاءُ يَعْتَقِدُونَ بِوَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ وَيُحَاوِلُونَ أَنْ يَهْتَدُوا إِلَى مِلَّةِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ ، وَمَا كَانُوا عَلَى هُدًى وَاحِدٍ بَلْ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى قَدْرِ جُهْدِهِ وَاجْتِهَادِهِ وَقَدْ ضَرَبُوا جَمِيعًا فِي الْبِلَادِ بَحْثًا عَنْ دِينِ إِبْرَاهِيمَ ، فَمِنْهُمْ مَنْ تَنَصَّرَ أَوْ تَهَوَّدَ وَمِنْهُمْ مَنْ بَقَى عَلَى دِينِهِ يَنْتَظِرُ مَبْعَثَ النُّورِ .
Di antara mereka ada orang-orang yang lurus (hunafa') yang meyakini keesaan Allah dan berusaha mencari petunjuk kepada agama bapak mereka, Ibrahim. Mereka tidak berada di atas satu petunjuk, bahkan masing-masing dari mereka menyembah Allah sesuai kadar kemampuan dan usahanya. Mereka semua pergi berkelana di berbagai negeri untuk mencari agama Ibrahim. Di antara mereka ada yang masuk Nasrani atau Yahudi, dan ada yang tetap pada agamanya menanti munculnya cahaya.
وَوَضَعَ نَصَارَى الْعَرَبِ تِمْثَالًا لِمَرْيَمَ وَهِيَ تَحْمِلُ الْمَسِيحَ بَيْنَ تَمَاثِيلِ اللَّاتِ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ وَهُبَلَ وَوَدٍّ وَسُوَاعٍ وَيَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرٍ أَصْنَامِ قَبَائِلِ الْعَرَبِ ، فَمَا وَجَدَ الْعَرَبُ فِي ذَلِكَ غَرَابَةً فَمَا يَضِيرُهُمْ أَنْ يُضَافَ تِمْثَالٌ إِلَى الثَّلَاثِمِائَةِ وَالثَّلَاثِينَ تِمْثَالًا الَّتِي كَانَتْ فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ وَمِنْ حَوْلِهَا .
Nasrani Arab meletakkan patung Maryam yang sedang menggendong Al-Masih di antara patung-patung Latta, Uzza, Manat, Hubal, Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr, yang merupakan berhala-berhala kabilah Arab. Orang-orang Arab tidak merasa aneh dengan hal itu, karena tidak ada ruginya bagi mereka jika ditambah satu patung lagi ke dalam 330 patung yang ada di dalam dan di sekitar Ka'bah.
وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ عَلَى دِينِ الْمَجُوسِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَصْبُو إِلَى الصَّابِئَةِ وَيَعْتَقِدُ فِي الْأَنْوَارِ اعْتِقَادَ الْمُنَجِّمِينَ فِي السَّيَّارَاتِ حَتَّى لَا يَتَحَرَّكَ وَلَا يَسْكُنَ وَلَا يُسَافِرَ وَلَا يُقِيمَ إِلَّا بِنَوْءٍ مِنَ الْأَنْوَاءِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَصْبُو إِلَى الْمَلَائِكَةِ فَيَعْبُدُهُمْ ، بَلْ مِنْهُمْ مَنْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ وَيَعْتَقِدُونَ فِيهِمْ أَنَّهُمْ بَنَاتُ اللَّهِ .
Di antara mereka ada yang memeluk agama Majusi, ada yang cenderung kepada agama Sabi'ah dan meyakini tentang cahaya sebagaimana keyakinan para ahli nujum terhadap planet-planet, sehingga ia tidak bergerak, diam, bepergian, atau menetap kecuali berdasarkan bintang tertentu. Ada pula yang cenderung kepada malaikat lalu menyembah mereka, bahkan di antara mereka ada yang menyembah jin dan meyakini bahwa jin adalah anak-anak perempuan Allah.
كَانَتِ الْحُرِّيَّةُ الدِّينِيَّةُ مَكْفُولَةً لِلْجَمِيعِ لَا عَنْ سَمَاحَةِ خُلُقٍ بَلْ لِأَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ كَانُوا يَعِيشُونَ عَلَى الِاتِّجَارِ بِالدِّينِ . وَمَاذَا يَهُدُّهُمْ مَنْ تَعَبُّدِ الْمُتَعَبِّدِينَ مَا دَامَتْ حُرِّيَّتُهُمُ الْجِنْسِيَّةُ مَكْفُولَةً ، وَمَا دَامَتْ أَمْوَالُهُمْ تَرْبُو مَعَ الْأَيَّامِ ، وَمَا دَامَتِ الْخُمُورُ تُجْلَبُ مِنَ الشَّامِ . وَمَا دَامَ النَّاسُ يَمْتَدِحُونَ الْأَيْسَارَ الَّذِينَ يَمْضُونَ سَوَادَ اللَّيْلِ فِي الْمَيْسِرِ وَالتَّنَابُذِ بِالْأَلْقَابِ ، وَمَا دَامَ الْأَشْرَافُ وَالسَّادَةُ يَجْمَعُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ مِنْ فَتَيَاتِهِمُ اللَّاتِي يَجْلِسْنَ لِلْبِغَاءِ .
Kebebasan beragama terjamin bagi semua orang, bukan karena toleransi akhlak, melainkan karena penduduk Makkah hidup dari berdagang dengan agama. Apa peduli mereka dengan ibadah orang-orang yang beribadah selama kebebasan seksual mereka terjamin, selama harta mereka terus bertambah seiring berjalannya waktu, dan selama khamr didatangkan dari Syam. Selama orang-orang memuji para penjudi yang menghabiskan malam dengan bermain judi dan saling memanggil dengan julukan-julukan buruk, dan selama para pembesar serta tokoh-tokoh mengumpulkan emas dan perak dari gadis-gadis mereka yang melacurkan diri.
وَمِنْ خِبَاءٍ قَرِيبٍ مِنْ حَيْثُ جَلَسَ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ خَرَجَ مُحَمَّدٌ فَنَظَرَ إِلَى الشَّمْسِ . فَلَمَّا رَآهَا مَالَتْ ذَهَبَ إِلَى بِئْرِ زَمْزَمَ فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ غُلَامٌ مُرَاهِقٌ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ ذَلِكَ الْخِبَاءِ فَتَوَضَّأَتْ . ثُمَّ قَامَ مُحَمَّدٌ (ص) يُصَلِّي وَقَامَ الْغُلَامُ إِلَى جَنْبِهِ وَقَامَتِ الْمَرْأَةُ خَلْفَهُمَا ، ثُمَّ رَكَعَ الرَّجُلُ وَرَكَعَ الْغُلَامُ وَرَكَعَتِ الْمَرْأَةُ ، ثُمَّ خَرَّ الرَّجُلُ سَاجِدًا وَخَرَّ الْغُلَامُ وَخَرَّتِ الْمَرْأَةُ .
Dari sebuah kemah dekat tempat Al-Abbas bin Abdul Muthalib duduk, keluarlah Muhammad. Ia melihat ke arah matahari. Tatkala melihatnya telah condong, ia pergi ke sumur Zamzam lalu berwudhu dan menyempurnakan wudhunya. Kemudian keluarlah seorang anak remaja lalu berwudhu, kemudian datanglah seorang wanita dari kemah tersebut lalu berwudhu. Kemudian Muhammad (saw) berdiri shalat, anak remaja itu berdiri di sampingnya, dan wanita itu berdiri di belakang mereka. Kemudian pria itu ruku', anak remaja itu ruku', dan wanita itu ruku', kemudian pria itu jatuh bersujud, anak remaja itu jatuh bersujud, dan wanita itu jatuh bersujud.
وَكَانَ عِنْدَ الْعَبَّاسِ عَفِيفُ الْكِنْدِيُّ وَكَانَ امْرَأً تَاجِرًا قَدِمَ لِلْحَجِّ وَأَتَى الْعَبَّاسَ لِيَبْتَاعَ مِنْهُ بَعْضَ التِّجَارَةِ وَكَانَ الْعَبَّاسُ لَهُ صَدِيقًا ، فَرَاحَ يَرْمُقُ الْمُصَلِّينَ فِي دَهَشٍ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى الْعَبَّاسِ وَقَالَ :
Di samping Al-Abbas ada Afif Al-Kindi, seorang pria pedagang yang datang untuk haji dan menemui Al-Abbas untuk membeli barang dagangan darinya, karena Al-Abbas adalah sahabatnya. Ia memperhatikan orang-orang yang shalat itu dengan keheranan, lalu menoleh kepada Al-Abbas dan berkata:
— وَيْحَكَ يَا عَبَّاسُ ، وَمَا هَذَا الدِّينُ ؟
— "Celakalah engkau wahai Abbas, agama apa ini?"
فَقَالَ الْعَبَّاسُ فِي بَسَاطَةٍ :
Al-Abbas berkata dengan sederhana:
— هَذَا دِينُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ أَخِي يَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ بَعَثَهُ رَسُولًا ، وَهَذَا ابْنُ أَخِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَهَذِهِ امْرَأَتُهُ خَدِيجَةُ .
— "Ini adalah agama Muhammad bin Abdullah, putra saudaraku, ia mengaku bahwa Allah telah mengutusnya sebagai Rasul, ini adalah keponakanku Ali bin Abi Thalib, dan ini istrinya, Khadijah."
تَرَى أَاكَانَ الْعَبَّاسُ يَعْلَمُ أَنَّ زَوْجَهُ أُمَّ الْفَضْلِ قَدْ أَعْلَنَتْ إِسْلَامَهَا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ وَأَنَّهَا شَهِدَتْ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ؟ وَأَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ قَدْ دَخَلَتْ مَعَهَا فِي دِينِ اللَّهِ ؟
Apakah Al-Abbas tahu bahwa istrinya, Ummu Al-Fadhl, telah mengumumkan keislamannya pada hari itu dan bahwa ia telah bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya? Dan bahwa Asma' binti Abu Bakar telah masuk ke dalam agama Allah bersamanya?
وَكَانَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فِي طَرِيقِهِ إِلَى دَارِهِ ، وَمَا إِنْ دَخَلَ حَتَّى أَلْفَى خَالَتَهُ سَعْدَى بِنْتَ كَرِيزٍ عِنْدَ أُمِّهِ أَرْوَى فَرَاحَتْ تُحَدِّثُهُ عَنْ مُحَمَّدٍ وَعَنِ الْوَحْيِ الَّذِي نَزَلَ عَلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ وَعَنْ صِفَاتِ الْأَمِينِ ، وَتُؤَكِّدُ لَهُ أَنَّهُ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ الَّذِي بَشَّرَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ ، وَجَعَلَتْ تَحُثُّهُ عَلَى اتِّبَاعِهِ وَهِيَ تُزَيِّنُ لَهُ الْإِسْلَامَ .
Utsman bin Affan sedang dalam perjalanan ke rumahnya. Begitu masuk, ia mendapati bibinya, Sa'da binti Kuraiz, berada di sisi ibunya, Arwa. Bibi itu pun menceritakan kepadanya tentang Muhammad, wahyu yang turun kepadanya dari langit, dan sifat-sifat Al-Amin (orang yang terpercaya). Ia menegaskan bahwa ia adalah Nabi umat ini yang telah dikabarkan oleh para Nabi, dan ia terus mendorongnya untuk mengikutinya seraya menghiasi Islam di matanya.
كَانَتْ أُمُّ أَرْوَى وَسَعْدَى بِنْتَيْ أُمِّ حَكِيمٍ الْبَيْضَاءِ بِنْتِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَكَانَتْ هِيَ وَعَبْدُ اللَّهِ تَوْأَمَيْنِ . فَكَانَ مُحَمَّدٌ ابْنَ خَالَتِهِمَا وَكَانَتَا تَعْرِفَانِ عَنْهُ أَنَّهُ أَجْوَدُ النَّاسِ كَفًّا ، وَأَجْرَأُ النَّاسِ صَدْرًا ، وَأَصْدَقُ النَّاسِ لَهْجَةً ، وَأَوْفَى النَّاسِ ذِمَّةً ، وَأَلِينُهُمْ عَرِيكَةً ، وَأَكْرَمُهُمْ عِشْرَةً ، قَدْ قَطَعَ كُلَّ عَلَائِقِهِ بِالدُّنْيَا لِيَتَّصِلَ بِرَبِّهِ وَيُشْرِقَ نُورُ الْمَعَارِفِ فِي صَدْرِهِ . وَقَدْ تُوِّجَتْ عُزْلَتُهُ وَتَعَبُّدُهُ لِلَّهِ وَحْدَهُ بِأَنِ اصْطَفَاهُ رَبُّهُ وَبَعَثَهُ رَسُولًا لِلْعَالَمِينَ .
Arwa dan Sa'da adalah putri dari Ummu Hakim Al-Baidha' binti Abdul Muthalib, dan ia (Al-Baidha') adalah saudara kembar dari Abdullah. Maka Muhammad adalah putra dari bibi mereka. Keduanya mengetahui bahwa Muhammad adalah orang yang paling dermawan tangannya, paling berani dadanya, paling benar ucapannya, paling menepati janji, paling lembut tabiatnya, paling mulia pergaulannya, dan ia telah memutuskan segala hubungannya dengan dunia agar dapat terhubung dengan Tuhannya dan cahaya makrifat bersinar di dadanya. Uzlah dan ibadahnya kepada Allah semata telah dimahkotai dengan Allah memilihnya dan mengutusnya sebagai Rasul bagi semesta alam.
وَكَانَ لِعُثْمَانَ مَجْلِسٌ مِنْ أَبِي بَكْرٍ وَكَانَا كُلَّمَا تَحَاوَرَا تَحَدَّثَا عَنِ الدِّينِ . وَيَا طَالَمَا أَسْهَبَ أَبُو بَكْرٍ فِي حَدِيثِهِ عَنْ مُحَمَّدٍ وَتَحَنُّثِهِ وَمَحَبَّتِهِ لِلْعُزْلَةِ وَزُهْدِهِ فِي الدُّنْيَا وَهُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَكُونَ مِنْ أَعْظَمِ تُجَّارِ مَكَّةَ وَمِنْ أَثْرِيَائِهَا وَمِنْ أَشْرَفِ رِجَالِهَا ، فَكَانَ يَهْتَدِي إِلَى أَنَّ أَبَا الْقَاسِمِ مَا هَجَرَ اللَّذَّاتِ وَفَرَضَ عَلَى نَفْسِهِ حَيَاتَهُ الْخَشِنَةَ الَّتِي يَحْيَاهَا إِلَّا لِشَيْءٍ أَسْمَى مِنَ اللَّهْوِ وَالتِّجَارَةِ .
Utsman sering duduk bersama Abu Bakar, dan setiap kali mereka berdialog, mereka berbicara tentang agama. Betapa seringnya Abu Bakar panjang lebar bercerita tentang Muhammad, ibadah beliau, kecintaan beliau pada kesendirian, dan zuhudnya beliau terhadap dunia, padahal beliau mampu menjadi pedagang terbesar di Makkah, salah satu orang terkaya, dan pria paling terhormat. Hal itu menuntunnya pada pemahaman bahwa Abu Al-Qasim tidak meninggalkan kenikmatan-kenikmatan dunia dan memaksakan diri menjalani kehidupan yang keras seperti yang dijalaninya kecuali untuk sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar permainan dan perdagangan.
وَكَانَ عُثْمَانُ يَتَهَلَّلُ بِالْفَرَحِ الرُّوحِيِّ الْفَيَّاضِ كُلَّمَا جَلَسَ إِلَى أَبِي الْقَاسِمِ وَأَعَارَهُ سَمْعَهُ ، فَقَدْ كَانَ يُحِسُّ كَأَنَّمَا حَدِيثُ ابْنِ خَالِ أُمِّهِ يَرْفَعُهُ مِنَ الْأَرْضِ إِلَى السَّمَاوَاتِ وَيَجْعَلُهُ يُحَلِّقُ فِي مَلَكُوتٍ صِيغَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ .
Utsman berseri-seri dengan kebahagiaan ruhani yang meluap setiap kali ia duduk di dekat Abu Al-Qasim dan mendengarkan perkataannya. Ia merasa seolah-olah percakapan putra dari bibi ibunya itu mengangkatnya dari bumi ke langit dan membuatnya terbang di alam malakut yang dibentuk dari kemuliaan akhlak.
وَنَهَضَ عُثْمَانُ وَانْطَلَقَ قَاصِدًا أَبَا بَكْرٍ وَالْأَفْكَارُ تَتَزَاحَمُ فِي رَأْسِهِ . إِنَّهُ تَمَنَّى ذَاتَ يَوْمٍ أَنْ يَتَزَوَّجَ رُقَيَّةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ وَكَانَتْ مِنْ أَجْمَلِ خَلْقِ اللَّهِ . وَمَا كَانَتْ رَغْبَتُهُ فِيهَا لِذَلِكَ الْجَمَالِ فَحَسْبُ بَلْ لِيَرْبِطَ الْأَسْبَابَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَلِكَ الرَّجُلِ الْكَرِيمِ الَّذِي تَتَسَلَّلُ مَحَبَّتُهُ إِلَى قُلُوبِ النَّاسِ ، وَلِيَتَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَنْهَلَ مِنْ يَنْبُوعِ الْحِكْمَةِ الَّذِي تَفَجَّرَ فِي قَلْبِ مُحَمَّدٍ مِنْ طُولِ سَهَرِهِ مَعَ اللَّهِ . وَلَكِنْ بَيْنَمَا كَانَ فِي فِنَاءِ الْكَعْبَةِ قِيلَ : أَنْكَحَ مُحَمَّدٌ عُتْبَةَ بْنَ أَبِي لَهَبٍ بِنْتَهُ رُقَيَّةَ . فَدَخَلَتْهُ حَسْرَةٌ أَلَّا يَكُونَ سَبَقَ إِلَيْهَا ، فَإِنْ كَانَ زَوَاجُ رُقَيَّةَ مِنْ عُتْبَةَ قَدْ أَبْعَدَهُ عَنِ الرَّجُلِ الَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ فُؤَادُهُ فَهَذِهِ الدَّعْوَةُ الْفَاضِلَةُ الَّتِي يَدْعُو إِلَيْهَا سَتَجْعَلُهُ يَدْنُو مِنْهُ دُنُوًّا يَشْرَحُ صَدْرَهُ ، وَيُيَسِّرُ لَهُ قَبَسَ النُّورِ مِنْ نَبْعِ النُّورِ .
Utsman bangkit dan pergi menemui Abu Bakar, sementara pikiran-pikiran saling berdesakan di kepalanya. Ia pernah berharap suatu hari bisa menikahi Ruqayyah binti Muhammad, dan ia adalah salah satu makhluk Allah yang paling cantik. Keinginannya pada Ruqayyah bukan semata-mata karena kecantikan itu, melainkan untuk mengikat tali persaudaraan antara dirinya dan pria mulia yang kecintaannya menyusup ke dalam hati orang-orang, serta agar ia dapat mudah menimba dari sumber hikmah yang memancar di hati Muhammad dari lamanya beliau terjaga bersama Allah. Namun ketika ia berada di pelataran Ka'bah, dikatakan bahwa Muhammad telah menikahkan putrinya, Ruqayyah, dengan Utbah bin Abi Lahab. Kesedihan pun menyelimutinya karena tidak bisa mendahuluinya. Jika pernikahan Ruqayyah dengan Utbah telah menjauhkannya dari pria yang dicintai hatinya, maka dakwah utama yang beliau serukan ini akan membuatnya dekat dengannya, kedekatan yang melapangkan dadanya dan memudahkan baginya untuk mendapatkan percikan cahaya dari sumber cahaya.
وَجَاءَ أَبَا بَكْرٍ فَأَصَابَهُ وَحْدَهُ ، وَأَطْرَقَ مُتَفَكِّرًا فَسَأَلَهُ أَبُو بَكْرٍ عَنْ تَفَكُّرِهِ فَقَالَ :
Ia mendatangi Abu Bakar dan menemukannya sedang sendiri. Ia tertunduk merenung, maka Abu Bakar bertanya tentang renungannya, lalu ia berkata:
— انْصَرَفْتُ إِلَى مَنْزِلِي فَوَجَدْتُ خَالَتِي سَعْدَى بِنْتَ كَرِيزٍ فَأَخْبَرَتْنِي أَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَ مُحَمَّدًا .
— "Aku kembali ke rumahku dan mendapati bibiku, Sa'da binti Kuraiz, lalu ia memberitahuku bahwa Allah telah mengutus Muhammad."
فَرَاحَ أَبُو بَكْرٍ يُرَغِّبُهُ فِي الْإِسْلَامِ وَيَحُثُّهُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَوَائِلِ الْمُلَبِّينَ لِدَاعِي اللَّهِ وَعُثْمَانُ يُصْغِي فِي اهْتِمَامٍ وَيَسْتَشْعِرُ كَأَنَّ نُورًا يُضِيءُ فِي جَوَانِحِهِ وَبَرْدًا يَنْزِلُ عَلَى قَلْبِهِ وَسَلَامًا يَتَسَرْبَلُ رُوحَهُ ، وَبَيْنَا النُّورُ يَنْدَاحُ فِي ظَلَامِ نَفْسِهِ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ (ص) وَمَعَهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ يَحْمِلُ ثَوْبًا ، فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ وَهَمَسَ فِي أُذُنِ صَاحِبِهِ ، فَقَعَدَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى عُثْمَانَ فَقَالَ :
Abu Bakar mulai membujuknya agar masuk Islam dan mendorongnya untuk menjadi orang-orang pertama yang menyambut seruan Allah, sementara Utsman mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasakan seolah ada cahaya yang menyinari relung hatinya, kesejukan turun ke hatinya, dan kedamaian menyelimuti ruhnya. Saat cahaya itu menyebar dalam kegelapan jiwanya, Rasulullah (saw) lewat bersama Ali bin Abi Thalib yang sedang membawa kain. Abu Bakar berdiri dan berbisik ke telinga sahabatnya (Rasulullah), maka ia duduk, kemudian ia menghadap kepada Utsman lalu berkata:
— أَجِبِ اللَّهَ تَعَالَى إِلَى جَنَّتِهِ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ وَإِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ .
— "Sambutlah seruan Allah Ta'ala menuju surga-Nya, karena sesungguhnya aku adalah Rasul Allah untukmu dan seluruh makhluk-Nya."
فَمَا تَمَالَكَ عُثْمَانُ حِينَ سَمِعَهُ أَنْ قَالَ :
Utsman tidak dapat menahan diri saat mendengarnya, lalu ia berkata:
— أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ .
— "Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa engkau adalah Rasul Allah."
وَذَاعَ فِي بَنِي أُمَيَّةَ أَنَّ عُثْمَانَ قَدْ دَخَلَ فِي الدِّينِ الْجَدِيدِ . وَمَا إِنْ صَكَّ ذَلِكَ النَّبَأُ أُذُنَيْ عَمِّهِ الْحَكَمِ بْنِ أَبِي الْعَاصِ بْنِ أُمَيَّةَ وَالِدِ مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ حَتَّى ثَارَ ، وَأَغْضَبَهُ أَنْ يَتَنَكَّرَ ابْنُ أَخِيهِ لِآلِهَةِ آبَائِهِ فَذَهَبَ إِلَيْهِ يُحَاوِلُ أَنْ يَثْنِيَهُ عَنْ ذَلِكَ الدِّينِ ، وَلَكِنَّ عُثْمَانَ وَقَفَ فِي وَجْهِ عَمِّهِ كَالطَّوْدِ الْأَشَمِّ ، فَلَمَّا فَلَّ سِلَاحُ الْإِقْنَاعِ بِالْحُسْنَى أَخَذَهُ عَمُّهُ فَأَوْثَقَهُ كِتَافًا وَقَالَ :
Kabar tersebar di kalangan Bani Umayyah bahwa Utsman telah masuk ke dalam agama yang baru. Begitu berita itu sampai ke telinga pamannya, Al-Hakam bin Abi Al-Ash bin Umayyah, ayah Marwan bin Al-Hakam, ia pun marah. Ia murka karena keponakannya berpaling dari tuhan-tuhan nenek moyangnya, maka ia menemuinya dengan maksud memalingkannya dari agama itu. Namun Utsman berdiri di hadapan pamannya laksana gunung yang kokoh. Ketika senjata persuasi dengan kebaikan gagal, pamannya menangkapnya dan mengikatnya dengan kuat, lalu berkata:
— تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ آبَائِكَ إِلَى دِينِ مُحَمَّدٍ ! وَاللَّهِ لَا أَصِلُكَ أَبَدًا حَتَّى تَدَعَ مَا أَنْتَ عَلَيْهِ .
— "Engkau berpaling dari agama bapak moyangmu kepada agama Muhammad! Demi Allah, aku tidak akan pernah menyambung hubungan denganmu sampai engkau meninggalkan apa yang engkau ikuti itu."
فَقَالَ عُثْمَانُ فِي صَلَابَةٍ :
Utsman berkata dengan tegas:
— وَاللَّهِ لَا أَدَعُهُ وَلَا أُفَارِقُهُ .
— "Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah darinya."
وَاسْتَمَرَّ الْحَكَمُ فِي تَعْذِيبِ عُثْمَانَ وَعُثْمَانُ لَا يَهِنُ وَلَا يَضْعُفُ وَلَا يَتَزَعْزَعُ إِيمَانُهُ بَلْ يَظَلُّ صَلْبًا فِي الْحَقِّ ، فَخَشِيَ عَمُّهُ أَنْ يُفْتِنَ الضُّعَفَاءَ بِهِ فَأَطْلَقَهُ وَهُوَ كَارِهٌ حَائِرٌ لَا يَدْرِي أَحَسَنَ سَاعَةَ أَنْ أَوْثَقَهُ أَمْ أَحْسَنَ سَاعَةَ أَنْ أَطْلَقَهُ أَمْ أَسَاءَ فِي الْحَالَتَيْنِ !
Al-Hakam terus menyiksa Utsman, sementara Utsman tidak lemah, tidak goyah, dan imannya tidak bergeser, bahkan ia tetap kokoh dalam kebenaran. Pamannya khawatir ia akan menyesatkan orang-orang lemah dengan keteguhannya, maka ia melepaskannya dengan perasaan benci dan bingung, tidak tahu apakah ia berbuat baik saat mengikatnya atau berbuat baik saat melepaskannya, atau justru ia berbuat buruk dalam kedua keadaan tersebut!
وَكَانَتِ الْأَفْكَارُ الَّتِي تَدُورُ حَوْلَ مُحَمَّدٍ قَدْ مَلَأَتْ رَأْسَ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ . إِنَّهُ أَلْقَى سَمْعَهُ إِلَى عَمَّتِهِ خَدِيجَةَ فَحَدَّثَتْهُ عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ أَحَادِيثَ عَجِيبَةً اسْتَوْلَتْ عَلَى لُبِّهِ وَأَسَرَتْ فُؤَادَهُ ، وَأَعَارَ أُمَّهُ صَفِيَّةَ أُذُنَيْهِ فَإِذَا بِهَا تَرْوِي عَنِ ابْنِ أَخِيهَا رِوَايَاتٍ تَتَسَرَّبُ إِلَى عَيْنِ ذَاتِهِ وَتَرْفَعُ الْحُجُبَ عَنْ وَجْهِ الْحَقِيقَةِ فَيَسْتَشْعِرُ كَأَنَّ شَيْئًا غَامِضًا مُثِيرًا يَجْذِبُهُ إِلَى صَاحِبِ الشَّخْصِيَّةِ الْفَذَّةِ الْآسِرَةِ الْحَبِيبَةِ .
Pikiran-pikiran yang berputar di seputar Muhammad telah memenuhi kepala Az-Zubair bin Al-Awwam. Ia menyimak bibinya, Khadijah, yang menceritakan kepadanya tentang Abu Al-Qasim kisah-kisah menakjubkan yang menguasai akalnya dan menawan hatinya. Ia pun meminjamkan telinganya kepada ibunya, Shafiyyah, dan ternyata ibunya menuturkan tentang keponakannya riwayat-riwayat yang meresap ke dalam hakikat dirinya dan mengangkat tabir dari wajah kebenaran, sehingga ia merasa seolah ada sesuatu yang misterius dan menarik yang menariknya kepada pemilik kepribadian yang unik, mempesona, dan dicintai itu.
إِنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَدْ أَسْلَمَ وَهُوَ الْفَتَى الَّذِي لَمْ يَتَجَاوَزْ بَعْدُ الْعَاشِرَةَ مِنْ عُمْرِهِ أَعْلَنَ إِيمَانَهُ بِالدِّينِ الْجَدِيدِ بَعْدَ أَنْ اسْتَبَانَ لِعَيْنِ بَصِيرَتِهِ جَمَالُ الدَّعْوَةِ ، وَهُوَ قَدْ بَلَغَ الثَّانِيَةَ وَالْعِشْرِينَ فَمَا الَّذِي يَقْعُدُهُ عَنِ الْإِقْرَارِ بِوَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ وَرِسَالَةِ الرَّجُلِ الَّذِي اصْطَفَاهُ رَبُّهُ لِهِدَايَةِ الْبَشَرِ ؟!
Ali bin Abi Thalib telah masuk Islam, padahal ia adalah pemuda yang belum melewati usia sepuluh tahun saat mengumumkan keimanannya pada agama baru setelah keindahan dakwah jelas bagi mata batinnya. Sementara Az-Zubair telah mencapai usia dua puluh dua tahun, maka apa yang menghalanginya untuk mengakui keesaan Allah dan risalah pria yang dipilih Tuhannya untuk memberi petunjuk bagi umat manusia?!
وَانْبَعَثَتْ مِنْ أَغْوَارِهِ هُتَافَاتٌ تُهِيبُ بِهِ أَنْ آمِنْ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ مَا دَامَ نُورُ الْيَقِينِ قَدْ أَنَارَ قَلْبَكَ ، فَلَمْ يَجِدْ مَلَاذًا لَهُ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَ أَبَا بَكْرٍ الرَّجُلَ الَّذِي يُفْزَعُ إِلَيْهِ فِي كُلِّ مَا يَشْغَلُهُ ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ يَسْتَشِيرُهُ وَإِنْ وَضَحَتْ لِعَيْنَيْهِ مَعَالِمُ الطَّرِيقِ .
Dari kedalaman jiwanya muncul seruan-seruan yang mendesaknya untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya selama cahaya keyakinan telah menerangi hatinya. Ia tidak menemukan tempat bernaung selain mendatangi Abu Bakar, pria yang dijadikan tempat bertanya dalam segala hal yang menyibukkannya. Ia pun pergi menemuinya untuk meminta nasihat, meskipun tanda-tanda jalan sudah jelas di depan matanya.
وَدَخَلَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَكَانَ يَأْلَفُهُ وَرَاحَ يُحَدِّثُهُ بِمَا يُسَاوِرُهُ مِنْ أَفْكَارٍ ، فَإِذَا بِالرَّجُلِ الْحَكِيمِ يُرَغِّبُهُ فِي الْإِسْلَامِ ثُمَّ يَقُودُهُ إِلَى حَيْثُ كَانَ مُحَمَّدٌ (ص) لِيَنْطِقَ بِالشَّهَادَتَيْنِ اللَّتَيْنِ اطْمَأَنَّ بِهِمَا قَلْبُهُ .
Ia masuk menemui Abu Bakar, orang yang sudah akrab dengannya, lalu mulai menceritakan pikiran-pikiran yang mengganggunya. Pria bijak itu pun membujuknya masuk Islam, kemudian membimbingnya ke tempat Muhammad (saw) berada agar ia mengucapkan dua kalimat syahadat yang membuat hatinya tenang.
وَسَمِعَ عَمُّهُ ، الَّذِي ثَارَ عَلَى صَفِيَّةَ يَوْمَ أَنْ رَآهَا تَضْرِبُ ابْنَ أَخِيهِ وَهُوَ صَغِيرٌ وَاتَّهَمَهَا بِأَنَّهَا لَا تُحِبُّهُ أَنَّ ابْنَ الْعَوَّامِ كَفَرَ بِآلِهَةِ قَوْمِهِ وَاتَّبَعَ مَنْ جَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا ، فَانْقَشَعَ مِنْ قَلْبِهِ كُلُّ عَطْفٍ عَلَى الْفَتَى الْيَتِيمِ وَذَهَبَ إِلَيْهِ وَالْغَضَبُ يَطِلُ مِنْ عَيْنَيْهِ وَأَمَرَهُ فِي حِدَّةٍ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ تِلْكَ الصَّبْوَةِ الَّتِي عَبَثَتْ بِعَقْلِهِ لِكَأَنَّمَا الْإِيمَانُ يَفِرُّ مَرْعُوبًا أَمَامَ سَوْرَةِ الْغَضَبِ .
Pamannya mendengar bahwa putra Al-Awwam telah kufur terhadap tuhan-tuhan kaumnya dan mengikuti orang yang menjadikan tuhan-tuhan itu sebagai satu Tuhan saja. Pamannya yang dulu marah kepada Shafiyyah saat melihatnya memukul keponakannya di waktu kecil dan menuduhnya tidak menyayanginya, kini rasa kasih sayang kepada pemuda yatim itu lenyap dari hatinya. Ia pergi menemui Az-Zubair dengan kemarahan yang terpancar dari matanya, lalu memerintahkannya dengan keras agar meninggalkan kegilaan yang mempermainkan akalnya, seolah-olah iman lari ketakutan di hadapan kemurkaan yang dahsyat.
وَزَادَ فِي حَنَقِهِ أَنَّ الزُّبَيْرَ لَمْ يَرْتَعِدْ فَرَقًا مِنْ خَشْيَتِهِ بَلْ قَالَ فِي جَنَانٍ ثَابِتٍ :
Kemarahannya bertambah saat melihat Az-Zubair tidak gemetar ketakutan oleh ancamannya, bahkan ia berkata dengan hati yang teguh:
— لَنْ أُفَارِقَ دِينِي .
— "Aku tidak akan meninggalkan agamaku."
وَشَدَّ عَمُّهُ وَثَاقَهُ وَجَاءَ بِدُخَانٍ يُعَذِّبُهُ بِهِ فَمَلَأَ عَيْنَيْهِ وَأَسَالَ مِنْهُمَا الدُّمُوعَ وَرَاحَ يَخُزُّ مُقْلَتَيْهِ خَزًّا مَا أَقْسَاهُ ، وَتَسَرَّبَ إِلَى رِئَتَيْهِ فَرَاحَ يَسْعَلُ وَقَدْ ضَاقَ نَفَسُهُ حَتَّى خُيِّلَ إِلَيْهِ أَنَّهُ الْمَوْتُ وَأَنَّ رُوحَهُ تَكَادُ أَنْ تَفِرَّ مِنْ بَيْنِ جَنْبَيْهِ ، وَلَكِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ كَانَتْ تَطْغَى عَلَى كُلِّ الْآلَامِ فَتَمَسَّكَ بِدِينِهِ فِي إِصْرَارٍ تَحَطَّمَتْ عَلَيْهِ كُلُّ أَدَوَاتِ الِاضْطِهَادِ .
Pamannya mengikatnya dengan kuat dan membawa asap untuk menyiksanya, asap itu memenuhi kedua matanya dan mengalirkan air mata, ia terus menusuk kedua kelopak matanya dengan tusukan yang begitu kejam. Asap itu masuk ke paru-parunya hingga ia terbatuk-batuk dan napasnya sesak sampai ia membayangkan itu adalah ajal, dan ruhnya seakan ingin lepas dari balik dadanya. Namun, manisnya iman mengalahkan segala rasa sakit, sehingga ia tetap berpegang teguh pada agamanya dengan pendirian yang mematahkan semua alat penindasan.
إِنَّهُ عَانَى شِدَّةً لَا يَحْتَمِلُهَا إِلَّا مُؤْمِنٌ عَمَّرَ قَلْبَهُ بِحَقِيقَةٍ رَاسِيَةٍ كَالْجِبَالِ لَا تُزَعْزِعُهَا عَوَاصِفُ عَذَابٍ قَدْ يُؤْلِمُ الْجَسَدَ وَلَكِنْ يَعْجِزُ عَنْ أَنْ يَصِلَ إِلَى الرُّوحِ ، وَهِيَ شِدَّةٌ هَيَّأَتْ أَحْسَنَ الْفُرَصِ لِنُفُوذِ سِرِّ اللَّهِ إِلَيْهِ فَقَدْ طَهَّرَتْ ضَمِيرَهُ مِنَ الْأَدْرَانِ كَمَا تُطَهِّرُ النَّارُ الْمَعَادِنَ مِنَ الْخُبْثِ .
Ia mengalami penderitaan yang tidak mungkin ditanggung kecuali oleh seorang mukmin yang memenuhi hatinya dengan kebenaran yang kokoh laksana gunung, yang tidak bisa digoyahkan oleh badai siksaan yang mungkin menyakiti tubuh namun gagal mencapai ruh. Itu adalah penderitaan yang menyiapkan kesempatan terbaik bagi rahasia Allah untuk meresap ke dalam dirinya, karena telah membersihkan batinnya dari kotoran sebagaimana api membersihkan logam dari kotoran.
لَمْ تَكُنْ مُعْتَقَدَاتُ قَوْمِهِ كَافِيَةً لِإِشْبَاعِ طُمُوحِهِ بَعْدَ أَنْ اعْتَادَ أَنْ يَجْلِسَ إِلَى ابْنِ خَالِهِ الْأَمِينِ وَيَسْمَعَ حَدِيثَهُ عَنْ مَلَكُوتِ السَّمَاءِ ، فَلَطَالَمَا ذَهَبَ لِزِيَارَةِ عَمَّتِهِ خَدِيجَةَ وَمَا أَكْثَرَ مَا شَارَكَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَزَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ مُتْعَةَ الْإِصْغَاءِ إِلَى الرَّجُلِ الَّذِي تَخْرُجُ الْحِكْمَةُ مِنْ بَيْنِ شَفَتَيْهِ ، فَلَمَّا بَلَغَهُ أَنَّ اللَّهَ بَعَثَ أَبَا الْقَاسِمِ (ص) رَسُولًا وَأَلْقَى سَمْعَهُ إِلَى الدِّينِ الْجَدِيدِ وَجَدَ فِي دَعْوَةِ ابْنِ خَالِهِ رُوحًا جَدِيدًا يُؤْذِنُ بِتَجْدِيدِ شَبَابِ الْبَشَرِيَّةِ وَإِعَادَةِ الْكَرَامَةِ إِلَى الْإِنْسَانِيَّةِ ، فَوَطَّدَ النَّفْسَ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَهُ ظَهِيرًا يُؤَيِّدُهُ وَيَنْصُرُهُ وَيَقِفُ مَعَهُ فِي وَجْهِ كُلِّ طُغْيَانٍ حَتَّى يُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ .
Keyakinan kaumnya tidak lagi cukup untuk memuaskan ambisinya setelah ia terbiasa duduk bersama sepupu ibunya yang terpercaya dan mendengar pembicaraannya tentang malakut langit. Sering kali ia pergi mengunjungi bibinya, Khadijah, dan betapa sering ia berbagi kenikmatan dengan Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Muhammad dalam mendengarkan pria yang hikmah memancar dari sela-sela bibirnya. Maka tatkala sampai kepadanya berita bahwa Allah mengutus Abu Al-Qasim (saw) sebagai Rasul dan ia menyimak agama baru tersebut, ia menemukan dalam dakwah sepupu ibunya itu ruh baru yang menandakan pembaharuan masa muda umat manusia dan pengembalian martabat bagi kemanusiaan. Maka ia memantapkan jiwa untuk menjadi pendukungnya yang setia, menolong dan membelanya, serta berdiri bersamanya di hadapan segala bentuk kezaliman sampai beliau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
وَالْتَقَى أَبُو بَكْرٍ بِبِلَالٍ مَوْلَى بَنِي جُمَحٍ فَقَالَ لَهُ :
Abu Bakar bertemu dengan Bilal, budak Bani Jumah, lalu ia berkata kepadanya:
ظَهَرَ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ .
"Telah muncul Nabi umat ini."
فَقَالَ بِلَالٌ فِي اهْتِمَامٍ :
Bilal berkata dengan penuh perhatian:
مَنْ ؟
"Siapa?"
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ .
"Muhammad bin Abdullah."
فَأَحَسَّ بِلَالٌ بِطُمَأْنِينَةٍ تَنْزِلُ بِقَلْبِهِ وَرَاحَةٍ تَنْسَابُ إِلَى ضَمِيرِهِ وَتَسْتَقِرُّ فِي وِجْدَانِهِ ، فَهُوَ يَعْرِفُ لِمُحَمَّدٍ صِدْقَهُ فَلَمْ يُجَرِّبْ عَلَيْهِ كَذِبًا قَطُّ . وَعَرَفَ لَهُ أَمَانَتَهُ الَّتِي ذَاعَتْ فِي الْآفَاقِ وَحُسْنَ خُلُقِهِ وَطَهَارَةَ قَلْبِهِ الْكَبِيرِ الَّذِي يَتَّسِعُ لِكُلِّ النَّاسِ ، فَهُوَ لَيْسَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ كَسَيِّدِهِ أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ ، وَلَا يَتَّصِفُ بِالصَّلَفِ وَالْغُرُورِ الَّذِي يَمْلَأُ جَوَانِحَ أَبِي الْحَكَمِ بْنِ هِشَامٍ ، وَهُوَ كَرِيمٌ جَوَادٌ لَمْ يُعْرَفْ عَنْهُ الْبُخْلُ الَّذِي كَانَ صِفَةً لِأَبِي سُفْيَانَ ، لَيْسَ بِصَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ ، لَا فَرْقَ عِنْدَهُ بَيْنَ سَيِّدٍ وَعَبْدٍ وَلَا أَبْيَضَ وَلَا أَسْوَدَ ، فَهُوَ خَلِيقٌ بِالرِّسَالَةِ وَهُوَ كُفْءٌ لِحَمْلِ الْأَمَانَةِ .
Bilal merasakan ketenangan turun ke hatinya dan kenyamanan mengalir ke nuraninya serta menetap di sanubarinya. Ia tahu kejujuran Muhammad, ia tidak pernah mendapati Muhammad berdusta sedikit pun. Ia mengenal amanahnya yang tersiar ke seluruh penjuru, kebaikan akhlaknya, dan kesucian hatinya yang besar yang menampung seluruh manusia. Muhammad bukanlah orang yang kasar dan keras hati seperti tuannya, Umayyah bin Khalaf, tidak pula memiliki sifat sombong dan angkuh yang memenuhi dada Abu al-Hakam bin Hisyam. Muhammad adalah orang yang dermawan dan murah hati, tidak dikenal kikir yang merupakan sifat Abu Sufyan. Ia tidak berteriak-teriak di pasar, tidak ada perbedaan baginya antara tuan dan budak, tidak pula antara kulit putih dan hitam. Ia layak menerima risalah dan mampu memikul amanah.
وَشَرَدَ بِلَالٌ يُفَكِّرُ فِي خِصَالِ أَبِي الْقَاسِمِ وَهُوَ مَبْهُورٌ بِشَخْصِيَّتِهِ الْفَذَّةِ الَّتِي لَيْسَ لَهَا مِثَالٌ فِي النَّاسِ ، وَلَا غَرْوَ فَهُوَ رَبِيبُ السَّمَاءِ صَنَعَهُ اللهُ عَلَى عَيْنِهِ وَاصْطَفَاهُ وَجَعَلَ فِيهِ نُورًا يَجْذِبُ إِلَيْهِ الْبَصَائِرَ قَبْلَ الْأَبْصَارِ ، وَرَاحَ أَبُو بَكْرٍ يَبْسُطُ لِبِلَالٍ دَعْوَةَ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - فَيَقُولُ :
Bilal terdiam memikirkan sifat-sifat Abu al-Qasim, ia terpesona dengan kepribadiannya yang unik yang tidak ada contohnya di antara manusia. Tidak mengherankan, ia adalah didikan langit yang Allah bentuk dengan pengawasan-Nya, memilihnya, dan menjadikan padanya cahaya yang menarik pandangan hati sebelum pandangan mata. Abu Bakar kemudian mulai memaparkan dakwah Muhammad -shallallahu alaihi- kepada Bilal, ia berkata:
إِنَّهُ يَدْعُو إِلَى التَّحَرُّرِ الْمُطْلَقِ مِنْ عُبُودِيَّةِ هَذِهِ الْأَحْجَارِ إِلَى عِبَادَةِ خَالِقِ السَّمَاءِ الصَّافِيَةِ ، وَالصَّحْرَاءِ الْمُتَرَامِيَةِ ، وَالنُّجُومِ اللَّامِعَةِ ، وَالشَّمْسِ السَّاطِعَةِ ، وَالْمَاءِ وَالرِّيَاضِ ، وَالْهَوَاءِ وَالْغِيَاضِ ، إِنَّ دَعْوَتَهُ لَا تُفَرِّقُ بَيْنَ السَّادَةِ وَالْعَبِيدِ أَمَامَ اللهِ إِلَّا بِقَدْرِ الْعَقِيدَةِ وَالْعَمَلِ . وَتُخَلِّي الطَّرِيقَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ يَدْخُلُ إِلَيْهِ بِغَيْرِ وَاسِطَةٍ وَيَتَقَرَّبُ إِلَيْهِ بِغَيْرِ زُلْفَى . إِنَّهُ يَدْعُو إِلَى التَّرَاحُمِ وَالتَّوَادُّدِ وَالْبِرِّ وَالتَّقْوَى ، وَيُنَفِّرُ مِنَ الْوَأْدِ وَالْقَطِيعَةِ . إِنَّ دَعْوَتَهُ لَهَنَاءَةِ الدُّنْيَا وَسَعَادَةِ الْأَبَدِ .
"Ia mengajak kepada kebebasan mutlak dari peribadatan terhadap batu-batu ini menuju ibadah kepada Pencipta langit yang jernih, gurun yang luas, bintang yang bersinar, matahari yang terang, air dan taman, udara dan hutan. Sesungguhnya dakwahnya tidak membeda-bedakan antara tuan dan budak di hadapan Allah kecuali berdasarkan akidah dan amal. Dakwahnya membukakan jalan antara hamba dan Rabb-nya, masuk kepada-Nya tanpa perantara dan mendekat kepada-Nya tanpa (bantuan) orang dekat. Ia mengajak kepada kasih sayang, saling mencintai, kebaikan, dan takwa, serta membenci penguburan bayi perempuan (hidup-hidup) dan memutus silaturahmi. Sesungguhnya dakwahnya adalah untuk kesejahteraan dunia dan kebahagiaan abadi."
وَانْطَلَقَ أَبُو بَكْرٍ وَبِلَالٌ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ وَدَخَلَا عَلَى مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - ، فَإِذَا بِبِلَالٍ يَرَى بِعَيْنِ ضَمِيرِهِ كَأَنَّمَا الْكَوْنُ كُلُّهُ يَفِيضُ بِأَنْوَارٍ سَمَاوِيَّةٍ . وَرَاحَ أَبُو الْقَاسِمِ يَعْرِضُ عَلَى بِلَالٍ الْإِسْلَامَ فَإِذَا بِخُشُوعٍ يَنْزِلُ بِفُؤَادِهِ ، وَإِذَا بِلِسَانِهِ يَتَحَرَّكُ بِوَحْيٍ مِنْ ذَاتٍ مُؤْمِنَةٍ بِأَجْمَلِ مَا تَحَرَّكَ بِهِ لِسَانٌ : شَهَادَةُ بِنَفْيِ الرُّبُوبِيَّةِ عَنِ الْآلِهَةِ جَمِيعًا وَإِثْبَاتُهَا لِلَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ .
Abu Bakar dan Bilal berangkat menuju rumah Khadijah dan menemui Muhammad -shallallahu alaihi-. Bilal melihat dengan mata nuraninya seolah-olah seluruh alam semesta meluap dengan cahaya surgawi. Abu al-Qasim mulai menawarkan Islam kepada Bilal, maka kekhusyukan turun ke dalam hatinya, dan lidahnya bergerak dengan wahyu dari zat yang beriman dengan ucapan terindah yang pernah diucapkan lidah: kesaksian meniadakan ketuhanan dari semua berhala dan menetapkannya hanya bagi Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.
وَتَلَأْلَأَ فِي نَفْسِ بِلَالٍ الْإِحْسَاسُ بِالْخَيْرِ الْأَسْمَى ، وَشَاعَ فِيهَا الرِّضَا بَعْدَ أَنْ مَحَقَ الشِّرْكُ مِنْ فُؤَادِهِ وَأَنْصَفَ ذَاتَهُ ، بَلِ الْبَشَرَ جَمِيعًا ، لِأَنَّ الشِّرْكَ ظُلْمٌ عَظِيمٌ . وَغَادَرَ بِلَالٌ دَارَ النُّبُوَّةِ وَهُوَ مَرْفُوعُ الرَّأْسِ يَسْتَشْعِرُ الرَّاحَةَ وَالرِّضَا ، وَكَأَنَّهُ قَدْ خُلِقَ خَلْقًا جَدِيدًا . فَقَدْ دَخَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - وَهُوَ عَبْدٌ لِبَنِي جُمَحٍ وَخَرَجَ مِنْ عِنْدِهِ وَهُوَ عَبْدُ اللهِ وَحْدَهُ لَيْسَ عَلَيْهِ سُلْطَانٌ إِلَّا رَبُّهُ ، وَهَامَ فِي الْوُجُودِ مُسْتَبْشِرًا عَظِيمًا فِي نَفْسِهِ قَدْ هَانَ فِي عَيْنَيْهِ كُلُّ سُلْطَانٍ أَرْضِيٍّ بَعْدَ أَنْ رَبَطَ الْأَسْبَابَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ . وَأَصْبَحَ بِلَالٌ سَابِقَ الْحَبَشَةِ إِلَى الْإِسْلَامِ مِنْ أَتْبَاعِ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - .
Berkilau dalam jiwa Bilal perasaan akan kebaikan tertinggi, dan keridaan menyebar di dalamnya setelah syirik terhapus dari hatinya dan ia telah berlaku adil terhadap dirinya sendiri, bahkan terhadap seluruh manusia, karena syirik adalah kezaliman yang besar. Bilal meninggalkan rumah kenabian dengan kepala tegak, merasakan kenyamanan dan keridaan, seolah-olah ia telah diciptakan sebagai makhluk baru. Ia masuk menemui Muhammad -shallallahu alaihi- sebagai budak Bani Jumah dan keluar dari sana sebagai hamba Allah semata, tidak ada penguasa atasnya kecuali Rabb-nya. Ia berkelana di alam semesta dengan gembira, merasa besar dalam jiwanya, telah meremehkan dalam pandangannya segala kekuasaan duniawi setelah ia menghubungkan sebab-sebab antara dirinya dengan langit. Bilal menjadi orang Ethiopia pertama yang masuk Islam dari pengikut Muhammad -shallallahu alaihi-.
يَخْتَلِفُ إِلَيْهِ حِينَمَا تَغْفُلُ أَعْيُنُ النَّاسِ ، فِي قَائِلَةِ النَّهَارِ حِينًا وَتَحْتَ سِتَارِ الظَّلَامِ أَحْيَانًا ، يَرْشُفُ الْحِكْمَةَ مِنْ نَبْعِ الْحِكْمَةِ وَيَتَأَدَّبُ مِنْ مُؤَدِّبِ الْبَشَرِيَّةِ وَيَنْهَلُ الشَّجَاعَةَ مِنْ مَعِينِ الشَّجَاعَةِ وَيَتَزَوَّدُ بِالتَّقْوَى خَيْرَ الزَّادِ ، وَيَتَعَلَّمُ أَنَّ النَّاسَ سَوَاسِيَةٌ ، وَأَنْ لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا أَبْيَضَ عَلَى أَسْوَدَ إِلَّا بِصَالِحِ الْأَعْمَالِ .
Ia mendatangi Muhammad ketika mata manusia lalai, terkadang di terik siang dan terkadang di bawah tirai kegelapan. Ia menimba hikmah dari sumber hikmah, belajar adab dari pendidik umat manusia, meminum keberanian dari sumber keberanian, dan berbekal takwa sebagai sebaik-baik bekal. Ia belajar bahwa manusia itu setara, dan tidak ada kelebihan seorang Arab atas orang non-Arab, tidak pula orang kulit putih atas orang kulit hitam kecuali dengan amal saleh.
وَسَرَى الْهَمْسُ فِي مَكَّةَ بِأَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ يَدْعُو سِرًّا إِلَى تَوْحِيدِ إِلَهٍ وَاحِدٍ . وَبَلَغَ الْهَمْسُ دَارَ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ فَإِذَا بِسَعِيدٍ يَتَذَكَّرُ وَصِيَّةَ أَبِيهِ الَّذِي هَجَرَ دِينَ آبَائِهِ وَآمَنَ بِاللهِ وَحْدَهُ وَوَقَفَ عَلَى بَابِ الْكَعْبَةِ يُعْلِنُ عَلَى الْمَلَأِ أَنَّ لَيْسَ فِي الْقَوْمِ مَنْ هُوَ عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ غَيْرُهُ . إِنَّهُ كَانَ يَنْتَظِرُ ظُهُورَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي بَشَّرَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ لِيُصَدِّقَهُ وَيُؤْمِنَ بِهِ ، فَلَمَّا وَافَتْهُ مَنِيَّتُهُ أَوْصَى ابْنَهُ سَعِيدًا أَنْ يُسَارِعَ بِتَصْدِيقِهِ إِذَا مَا ظَهَرَ ، وَهَا هُوَ ذَا النَّبِيُّ الَّذِي كَانَ أَبُوهُ يَرْقُبُ مَبْعَثَهُ قَدْ بُعِثَ ، فَذَهَبَ سَعِيدٌ إِلَى زَوْجِهِ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْخَطَّابِ وَقَالَ لَهَا فِي فَرَحٍ :
Bisikan tersebar di Makkah bahwa Muhammad bin Abdullah mengaku sebagai nabi yang mengajak secara sembunyi-sembunyi kepada tauhid Tuhan yang satu. Bisikan itu sampai ke rumah Said bin Zaid bin Amru bin Nufail, maka Said teringat wasiat ayahnya yang telah meninggalkan agama nenek moyangnya, beriman kepada Allah semata, dan berdiri di depan pintu Ka'bah mengumumkan kepada orang banyak bahwa tidak ada seorang pun di kaum itu yang berada di atas agama Ibrahim selain dirinya. Ayahnya menanti kemunculan Nabi yang ummi yang dikabarkan oleh para nabi untuk ia benarkan dan ia imani. Ketika ajalnya menjemput, ia berwasiat kepada putranya, Said, untuk bersegera membenarkannya jika ia muncul. Dan inilah Nabi yang dulu ayahnya menanti pengutusannya telah diutus. Said pergi menemui istrinya, Fatimah binti al-Khaththab, dan berkata kepadanya dengan gembira:
ظَهَرَ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، إِنَّهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ وَإِنَّهُ الْخَلِيقُ بِالرِّسَالَةِ .
"Telah muncul Nabi umat ini. Ia adalah Muhammad bin Abdullah dan ia adalah orang yang layak menerima risalah."
وَدَارَ حِوَارٌ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ اللَّذَيْنِ كَانَا يَنْتَظِرَانِ ذَلِكَ النَّبِيَّ الَّذِي أَوْصَاهُمَا بِاتِّبَاعِهِ زَيْدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ لِلِقَاءِ رَبِّهِ ، وَانْتَهَى الْحِوَارُ بِأَنِ ارْتَدَتْ فَاطِمَةُ ثِيَابَ الْخُرُوجِ وَانْطَلَقَتْ مَعَ زَوْجِهَا إِلَى دَارِ الطَّاهِرَةِ وَسَيِّدَةِ نِسَاءِ قُرَيْشٍ . وَجَلَسَ سَعِيدٌ وَفَاطِمَةُ إِلَى رَسُولِ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - وَقَدْ أَعَارَاهُ السَّمْعَ ، فَكَانَ حَدِيثُهُ الشَّجِيُّ يَنْفُذُ إِلَى الْقَلْبِ وَيَشْرَحُ الصَّدْرَ وَيَجْعَلُ نُورَ الْإِيمَانِ يُشْرِقُ فِي الْأَفْئِدَةِ وَيُرَقِّقُ النُّفُوسَ وَيَرْفَعُهَا مِنَ الْعَالَمِ الْمَادِّيِّ الْمَحْدُودِ إِلَى عَالَمِ الرُّوحِ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ مُنْتَهًى وَلَا وَرَاءَهُ مَرْمًى .
Terjadilah dialog antara sepasang suami istri yang menantikan Nabi tersebut, yang telah diwasiatkan oleh Zaid bin Amru bin Nufail untuk diikuti sebelum ia pergi menemui Rabb-nya. Dialog berakhir dengan Fatimah mengenakan pakaian keluar dan berangkat bersama suaminya ke rumah wanita suci dan pemimpin wanita Quraisy. Said dan Fatimah duduk di hadapan Rasulullah -shallallahu alaihi- dan mendengarkan dengan seksama. Perkataannya yang menyentuh menembus ke dalam hati, melapangkan dada, membuat cahaya iman bersinar di dalam hati, melembutkan jiwa, dan mengangkatnya dari dunia materi yang terbatas menuju alam ruh, alam yang tidak ada batasnya dan tidak ada tujuan di belakangnya.
وَشَهِدَ سَعِيدٌ شَهَادَةَ الْحَقِّ وَهُوَ مُسْتَبْشِرٌ بِأَنَّهُ قَدْ صَارَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ وَقَدِ احْتَلَّتْ صُورَةُ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ رَأْسَهُ وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ يَقُولُ :
Said bersaksi dengan kesaksian yang benar dengan gembira bahwa ia telah berada di atas cahaya dari Rabb-nya. Bayangan ayahnya, Zaid bin Amru bin Nufail, memenuhi kepalanya saat berada di atas kendaraannya seraya berkata:
اللهُمَّ إِنِّي لَوْ أَعْلَمُ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَيْكَ عَبَدْتُكَ بِهِ وَلَكِنْ لَا أَعْلَمُ . إِلَهِي إِلَهُ إِبْرَاهِيمَ وَدِينِي دِينُ إِبْرَاهِيمَ .
"Ya Allah, seandainya aku mengetahui wajah yang paling Engkau cintai, niscaya aku akan beribadah kepada-Mu dengannya, namun aku tidak tahu. Ilahi, Tuhan Ibrahim, dan agamaku adalah agama Ibrahim."
ثُمَّ يَسْجُدُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ . وَكَانَ سَعِيدٌ مُتَفَرِّحًا بِالْهُدَى الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَى قَلْبِهِ بَعْدَ أَنْ عَرَفَ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَى اللهِ يَعْبُدُهُ بِهِ ، وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْتَشْعِرُ نَشْوَةً رُوحِيَّةً فَائِضَةً وَهِيَ تَنْطِقُ بِالشَّهَادَتَيْنِ ، وَوَدَّتْ لَوْ أَنَّ آلَ الْخَطَّابِ جَمِيعًا كَانُوا مَعَهَا لِيَحْظَوْا بِسَعَادَةِ الدُّنْيَا وَهَنَاءَةِ الْأَبَدِ .
Kemudian ia bersujud di atas punggung kendaraannya. Said merasa gembira dengan petunjuk yang menurunkan ketenangan ke dalam hatinya setelah ia mengetahui wajah yang paling dicintai Allah untuk beribadah kepada-Nya. Fatimah merasakan kegembiraan ruhani yang meluap saat ia mengucapkan dua kalimat syahadat, dan ia berharap seandainya seluruh keluarga al-Khaththab bersamanya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan kesejahteraan abadi.
وَعَادَ مِنَ الْيَمَنِ عَبْدُ عَمْرِو بْنِ عَوْفِ بْنِ عَبْدِ الْحَارِثِ بْنِ زُهْرَةَ وَكَانَ يَنْزِلُ عَلَى عَسْكَلَانَ بْنِ عَوَاكِنَ الْحِمْيَرِيِّ كُلَّمَا سَافَرَ إِلَيْهَا ، وَلَمَّا كَانَتِ الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ مُنْتَشِرَتَيْنِ فِي الْيَمَنِ فَقَدْ كَانَ السَّمَرُ يَدُورُ حَوْلَ الدِّينِ وَالْأَنْبِيَاءِ وَحَوْلَ الْبِشَارَاتِ الَّتِي يَفِيضُ بِهَا الْكِتَابُ الْمُقَدَّسُ عَنْ ظُهُورِ نَبِيٍّ مِنَ الْأُمَمِ . وَكَانَ ابْنُ عَوْفٍ يَسْمَعُ مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ أَنَّهُ سَيُبْعَثُ مِنَ الْبَيْتِ الْحَرَامِ نَبِيٌّ مِثْلُ مُوسَى ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَسَمِعَ مِنْهُ أَنَّ اللهَ قَدْ أَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ مَا أَوْحَى وَأَنَّهُ قَدْ بَعَثَهُ رَسُولًا إِلَى النَّاسِ كَافَّةً ، تَذَكَّرَ عَمْرُو بْنُ عَوْفٍ كُلَّ مَا سَمِعَهُ عَنِ النَّبِيِّ الْمُنْتَظَرِ وَمَلَأَهُ إِحْسَاسٌ عَمِيقٌ بِرِسَالَةِ مُحَمَّدٍ كَأَنَّمَا قَدْ أَوْحَى إِلَيْهِ الْإِيمَانُ بِهِ وَوَجَدَهُ أَهْلًا لِلرِّسَالَةِ ، فَهُوَ لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلَا صَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَدْفَعُ السَّيِّئَةَ بِالسَّيِّئَةِ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ ، وَيَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ، فَقَامَ مَعَ أَبِي بَكْرٍ وَانْطَلَقَا إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ .
Abd Amru bin Auf bin Abd al-Harits bin Zuhrah kembali dari Yaman. Ia selalu menginap di tempat Asqalan bin Awakien al-Himyari setiap kali ia bepergian ke sana. Karena agama Yahudi dan Nasrani tersebar di Yaman, perbincangan sering berkisar seputar agama, nabi-nabi, dan kabar gembira yang dipenuhi oleh Kitab Suci tentang kemunculan seorang nabi dari kalangan umat-umat. Ibnu Auf sering mendengar dari para pendeta dan rahib bahwa akan diutus dari Baitul Haram seorang nabi seperti Musa. Ketika ia menemui Abu Bakar dan mendengar darinya bahwa Allah telah mewahyukan kepada hamba-Nya, Muhammad bin Abdullah, apa yang Dia wahyukan dan bahwa Allah telah mengutusnya sebagai Rasul kepada seluruh manusia, Amru bin Auf teringat semua yang ia dengar tentang Nabi yang dinanti. Perasaan mendalam akan risalah Muhammad memenuhinya seolah-olah iman kepadanya telah diwahyukan kepadanya, dan ia mendapatinya layak untuk risalah tersebut. Ia bukanlah orang yang kasar, keras hati, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memaafkan dan mengampuni, serta memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Maka ia berdiri bersama Abu Bakar dan berangkat menuju rumah Khadijah.
كَانَ مُحَمَّدٌ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - جَالِسًا وَإِلَى جِوَارِهِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ أَبُو بَكْرٍ وَعَبْدُ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الزُّهْرِيُّ رَحَّبَ بِهِمَا ثُمَّ رَاحَ يَعْرِضُ عَلَى عَبْدِ عَمْرٍو الْإِسْلَامَ . حَتَّى إِذَا مَا شَرَحَ اللهُ قَلْبَهُ لِلْإِيمَانِ وَشَهِدَ بِوَحْدَانِيَّةِ اللهِ وَرِسَالَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ لَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ :
Muhammad -shallallahu alaihi- sedang duduk dan di sampingnya ada Ali bin Abi Thalib. Ketika Abu Bakar dan Abd Amru bin Auf az-Zuhri menemuinya, beliau menyambut keduanya kemudian mulai menawarkan Islam kepada Abd Amru. Hingga ketika Allah melapangkan hatinya untuk beriman dan ia bersaksi dengan keesaan Allah dan risalah Muhammad bin Abdullah, Nabi alaihis salam berkata kepadanya:
أَنْتَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ .
"Engkau adalah Abdurrahman."
وَلَاحَ الْبِشْرُ فِي وَجْهِ ابْنِ عَوْفٍ . إِنَّهُ دَخَلَ دَارَ خَدِيجَةَ وَهُوَ عَبْدُ عَمْرٍو ، فَإِذَا بِالرَّسُولِ يُسَمِّيهِ عَبْدَ الرَّحْمَنِ ، وَابْتَسَمَ أَبُو بَكْرٍ رَاضِيًا فَهُوَ أَوَّلُ مَنْ سَمَّاهُ رَسُولُ اللهِ - مِنَ الْمُسْلِمِينَ . سَمَّاهُ عَبْدَ اللهِ بَعْدَ أَنْ كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ الْكَعْبَةِ . كَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ تَاجِرًا مِنْ أَنْجَحِ تُجَّارِ قُرَيْشٍ طَارَتْ شُهْرَتُهُ فِي الْأُفُقِ لِعِفَّتِهِ وَصِدْقِهِ وَأَمَانَتِهِ ، وَكَانَ رَاضِيًا بِمَا نَالَ مِنْ ثِقَةِ مَنْ وَثَقُوا بِهِ وَكَلَّفُوهُ بِالِاتِّجَارِ فِي تِجَارَتِهِمْ ، فَلَمَّا سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ لَهُ :
Kegembiraan tampak pada wajah Ibnu Auf. Ia masuk rumah Khadijah sebagai Abd Amru, dan Rasulullah menamainya Abdurrahman. Abu Bakar tersenyum puas, karena ia adalah orang pertama yang dinamai oleh Rasulullah dari kalangan Muslim (ia dinamai Abdullah setelah sebelumnya bernama Abd al-Ka'bah). Abdurrahman adalah pedagang yang paling sukses di kalangan pedagang Quraisy, ketenarannya terbang ke ufuk karena kesucian diri, kejujuran, dan amanahnya. Ia puas dengan kepercayaan yang ia peroleh dari mereka yang memercayainya dan membebaninya untuk berdagang dengan modal mereka. Ketika ia mendengar Rasulullah ﷺ berkata kepadanya:
أَنْتَ أَمِينٌ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ أَمِينٌ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ .. أَنْتَ صَادِقٌ صَالِحٌ .
"Engkau adalah orang terpercaya di penduduk bumi, orang terpercaya di penduduk langit.. Engkau jujur dan saleh."
أَحَسَّ كَأَنَّمَا قَدْ ذَهَبَ عَنْهُ كُلُّ حُزْنٍ وَنَزَلَتْ عَلَى قَلْبِهِ سَكِينَةٌ وَتَهَلَّلَ بِفَرَحٍ فَياضٍ وَنَشْوَةٍ رُوحِيَّةٍ تَفُوقُ لَذَّاتِ الْأَرْضِ جَمِيعًا .
Ia merasa seolah-olah semua kesedihan telah sirna darinya, ketenangan turun ke hatinya, dan ia berseri-seri dengan kebahagiaan yang meluap serta kegembiraan ruhani yang melampaui seluruh kenikmatan bumi.
وَعَادَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ مِنْ سُوقِ بُصْرَى ، فَلَمَّا دَخَلَ مَكَّةَ قَالَ :
Thalhah bin Ubaidillah kembali dari pasar Bushra. Ketika ia masuk Makkah, ia berkata:
هَلْ مِنْ حَدَثٍ ؟
"Apakah ada kejadian?"
نَعَمْ ، مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْأَمِينُ يَدْعُو إِلَى اللهِ وَقَدْ تَبِعَهُ ابْنُ أَبِي قُحَافَةَ .
"Ya, Muhammad bin Abdullah al-Amin mengajak kepada Allah dan putra Abu Quhafah telah mengikutinya."
كَانَ طَلْحَةُ مِنْ بَنِي تَيْمٍ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ سَيِّدَ بَنِي تَيْمٍ وَلَمَّا يَبْلُغْ بَعْدُ الْأَرْبَعِينَ . وَإِنْ كَانَ أَبُو قُحَافَةَ لَا يَزَالُ يَمْشِي فِي الْأَرْضِ ، فَأَبُو بَكْرٍ رَجُلٌ يَأْلَفُهُ النَّاسُ مُحَبَّبٌ سَهْلٌ أَنْسَبُ قُرَيْشٍ لِقُرَيْشٍ وَأَعْلَمُ قُرَيْشٍ بِهَا وَبِمَا كَانَ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ ، وَهُوَ تَاجِرٌ ذُو خُلُقٍ وَمَعْرُوفٍ . وَكَانَ طَلْحَةُ يَأْلَفُهُ لِعِلْمِهِ وَحُسْنِ مُجَالَسَتِهِ وَكَانَ حَدِيثُهُ عَنْ صَدِيقِهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ يَنْبِضُ بِالْحَمَاسَةِ وَالْإِيمَانِ ، فَمَا إِنْ سَمِعَ طَلْحَةُ أَنَّ أَبَا الْقَاسِمِ يَدْعُو إِلَى اللهِ وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ قَدْ تَبِعَهُ حَتَّى هَرَعَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ وَأَلْقَى إِلَيْهِ سَمْعَهُ فَإِذَا بِنُورِ الْيَقِينِ قَدْ أَشْرَقَ فِي فُؤَادِهِ ، فَخَرَجَ أَبُو بَكْرٍ وَطَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ حَتَّى دَخَلَا عَلَى رَسُولِ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - فَاِبْتَسَمَ لَهُمَا فَتَأَلَّقَتْ أَسْنَانُهُ الْمُفَلَّجَةُ الْبَيْضَاءُ ، فَاسْتَشْعَرَ طَلْحَةُ كَأَنَّ الْكَوْنَ كُلَّهُ يَبْتَسِمُ ، وَجَلَسَا إِلَيْهِ وَرَاحَ أَبُو بَكْرٍ يَتَحَدَّثُ فَإِذَا بِرَسُولِ اللهِ يُصْغِي مُلْتَفِتًا إِلَيْهِ بِكُلِّ جِسْمِهِ . إِنَّهُمَا مَا جَاءَا إِلَّا لِيَعْرِضَ رَسُولُ اللهِ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - عَلَى طَلْحَةَ الْإِسْلَامَ ، فَرَاحَ مُحَمَّدٌ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ يَتَحَدَّثُ بِلِسَانٍ فَصِيحٍ عَنِ الدِّينِ الْجَدِيدِ تَشِعُّ عَيْنَاهُ الدَّعْجَاوَانِ الْوَاسِعَتَانِ جَاذِبِيَّةً وَسِحْرًا تَحْتَ أَهْدَابٍ طِوَالٍ حَوَالِكَ ، وَيَنْفُذُ حَدِيثُهُ الْأَخَّاذُ إِلَى قَلْبِ طَلْحَةَ لَكَأَنَّمَا كَانَ كَلَامُهُ يُكْتَبُ عَلَى لَوْحِ فُؤَادِهِ بِأَحْرُفٍ مِنْ نُورٍ ، وَإِذَا بِأَنْوَارٍ تُشْرِقُ وَتُضِيءُ ظُلُمَاتِ نَفْسِهِ وَإِذَا بِلِسَانِهِ يَتَحَرَّكُ فِي انْفِعَالِ الْمَأْخُوذِ بِالشَّخْصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي بَهَرَتْهُ بِحِكْمَتِهَا :
Thalhah dari Bani Taim, dan Abu Bakar adalah pemimpin Bani Taim yang belum mencapai usia empat puluh tahun. Walaupun Abu Quhafah masih berjalan di muka bumi, Abu Bakar adalah pria yang disukai orang, dicintai, mudah bergaul, orang Quraisy yang paling mengenal nasab Quraisy, dan paling tahu tentang mereka serta kebaikan dan keburukan yang ada pada mereka. Ia adalah pedagang yang berakhlak dan dermawan. Thalhah menyukainya karena ilmunya dan indahnya tutur katanya saat duduk bersama. Pembicaraannya tentang sahabatnya, Muhammad bin Abdullah, berdenyut dengan semangat dan iman. Begitu Thalhah mendengar bahwa Abu al-Qasim mengajak kepada Allah dan Abu Bakar telah mengikutinya, ia bergegas menemui Abu Bakar dan mendengarkan dengan seksama, maka cahaya keyakinan bersinar di dalam hatinya. Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidillah keluar hingga menemui Rasulullah -shallallahu alaihi-, beliau tersenyum kepada keduanya hingga gigi putih beliau yang renggang bersinar. Thalhah merasa seolah-olah seluruh alam semesta tersenyum. Keduanya duduk di hadapan beliau, Abu Bakar mulai berbicara, dan Rasulullah mendengarkan dengan menghadapkan seluruh tubuh beliau kepadanya. Mereka datang tidak lain agar Rasulullah -alaihis salam- menawarkan Islam kepada Thalhah. Muhammad -shalawatullah alaihi- mulai berbicara dengan lisan yang fasih tentang agama baru tersebut, mata beliau yang besar dan hitam bersinar dengan daya tarik dan pesona di bawah bulu mata yang panjang dan hitam legam. Perkataan beliau yang memikat menembus ke dalam hati Thalhah seolah-olah kata-kata beliau ditulis di papan hatinya dengan huruf-huruf dari cahaya. Maka cahaya-cahaya bersinar dan menerangi kegelapan jiwanya, dan lidahnya bergerak dalam perasaan orang yang terpesona oleh kepribadian agung yang membuatnya takjub dengan hikmahnya:
مُدَّ يَدَكَ أُبَايِعْكَ .
"Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu."
وَشَهِدَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَشَهِدَ بِدِينِ الْإِنْسَانِيَّةِ فِي أُمَّةِ الْعَصَبِيَّةِ ، وَآمَنَ بِفَجْرِ تَارِيخِ الْبَشَرِيَّةِ الْجَدِيدِ ، وَوَطَّنَ النَّفْسَ عَلَى أَنْ يَكُونَ ظَهِيرًا لِلدَّعْوَةِ الَّتِي سَتُعِيدُ لِلْبَشَرِيَّةِ كَرَامَتَهَا وَتُخْرِجُهَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ .
Thalhah bin Ubaidillah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ia bersaksi dengan agama kemanusiaan di tengah umat yang fanatik (kesukuan), beriman dengan fajar sejarah kemanusiaan yang baru, dan memantapkan jiwa untuk menjadi pendukung bagi dakwah yang akan mengembalikan martabat kemanusiaan dan mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi