خَرَجَ مُحَمَّدٌ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِلَى جِبَالِ مَكَّةَ وَهُوَ حَزِينٌ فَقَدِ انْحَبَسَ الْوَحْيُ بَعْدَ أَنْ نَزَلَ عَلَيْهِ : اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ ، وَكَانَ ذَلِكَ إِيذَانًا بِنُزُولِ مَا يَقْرَؤُهُ عَلَى النَّاسِ وَتَأْكِيدًا بِأَنَّ الْوَحْيَ الَّذِي يَأْتِيهِ إِنَّمَا هُوَ وَحْيُ رَبِّهِ . لَقَدِ ارْتَجَفَتْ بَوَادِرُهُ مِنَ الْخَوْفِ لَمَّا غَطَّهُ جِبْرِيلُ يَوْمَ أَنْ جَاءَهُ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَفَرَّ هَارِبًا فِي الْأَرْضِ ، بَيْدَ أَنَّهُ الْآنَ فِي شَوْقٍ عَظِيمٍ إِلَى الرُّوحِ الْأَمِينِ لِيَسْمَعَ مِنْهُ مَا يُسَكِّنُ ذَلِكَ الْقَلَقَ الَّذِي اسْتَوْلَى عَلَيْهِ .
Muhammad ﷺ keluar ke gunung-gunung Makkah dalam keadaan sedih karena wahyu terhenti setelah sebelumnya turun kepadanya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu," dan hal itu adalah pertanda turunnya apa yang ia bacakan kepada manusia serta penegasan bahwa wahyu yang datang kepadanya hanyalah wahyu dari Tuhannya. Tubuhnya gemetar karena ketakutan saat Jibril menutupinya pada hari ia datang di gua Hira, sehingga ia lari menghindar di bumi, namun sekarang ia dalam kerinduan yang sangat kepada Ruhul Amin untuk mendengar darinya apa yang dapat menenangkan kecemasan yang telah menguasainya.
وَرَاحَ يَغْدُو إِلَى جَبَلِ ثَبِيرٍ وَهُوَ يَسْأَلُ نَفْسَهُ : أَكَانَ مَا رَآهُ فِي غَارِ حِرَاءٍ حَقِيقَةً وَاقِعَةً أَمْ وَهَمًا مِنَ الْأَوْهَامِ ؟! أَبَعَثَهُ اللَّهُ رَسُولًا إِلَى النَّاسِ كَافَّةً أَمْ هُوَ يَخْدَعُ نَفْسَهُ ؟! إِنَّهُ يُرِيدُهَا حَقِيقَةً نَاصِعَةً تُرْضِيهِ ، فَهُوَ صَادِقٌ مَعَ نَفْسِهِ قَبْلَ أَنْ يَكُونَ صَادِقًا مَعَ الْآخَرِينَ .
Ia pun pergi ke gunung Tsabir seraya bertanya pada dirinya sendiri: "Apakah apa yang ia lihat di gua Hira adalah kenyataan yang sebenarnya ataukah sekadar khayalan belaka?! Apakah Allah mengutusnya sebagai Rasul kepada seluruh manusia ataukah ia sedang menipu dirinya sendiri?! Ia menginginkannya sebagai kebenaran yang nyata yang memuaskannya, karena ia jujur kepada dirinya sendiri sebelum ia jujur kepada orang lain."
شَقَّ عَلَيْهِ أَنْ فَتَرَ الْوَحْيُ عَنْهُ وَخَشِيَ أَنْ يَكُونَ بِهِ جُنُونٌ أَوْ يَكُونَ كَاهِنًا ، وَفِيمَا هُوَ فِي حُزْنِهِ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ عَلَى هَيْئَةِ رَجُلٍ قَدْ مَلَأَ الْفَضَاءَ فَقَالَ :
Terasa berat baginya saat wahyu terputus darinya dan ia khawatir jika ia mengalami kegilaan atau menjadi seorang dukun, dan di saat ia dalam kesedihannya, Jibril menampakkan diri kepadanya dalam rupa seorang pria yang telah memenuhi angkasa lalu berkata:
- يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ حَقًّا .
- "Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah yang sebenarnya."
فَسَكَنَ جَأْشُهُ وَقَرَّتْ نَفْسُهُ وَعَادَ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ يَتَعَبَّدُ فِي الْغُرْفَةِ الَّتِي أُعِدَّتْ لِمُنَاجَاةِ رَبِّهِ . وَمَرَّتْ أَيَّامٌ أُخْرَى وَهُوَ يُقَابِلُ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ لِلْإِسْلَامِ وَلَمْ يَنْزِلْ عَلَيْهِ الْوَحْيُ بِقُرْآنٍ يَقْرَؤُهُ عَلَى النَّاسِ فَعَادَ إِلَيْهِ قَلَقُهُ وَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ فَعَدَا إِلَى حِرَاءٍ وَرَاحَ يُفَكِّرُ فِي انْحِبَاسِ الْوَحْيِ عَنْهُ . وَعَادَتْ إِلَيْهِ فِكْرَةُ أَنْ يَكُونَ مَا يَدُورُ بِخَلَدِهِ وَهَمًا مِنَ الْأَوْهَامِ أَوْ مَسًّا مِنَ الْجُنُونِ فَلَفَّهُ حُزْنٌ ثَقِيلٌ ، إِنَّهُ يُرِيدُ جَوْهَرَ الْحَقِيقَةِ . يُرِيدُهَا نَاصِعَةً لَا شِيَةَ فِيهَا . وَفِيمَا هُوَ فِي قَلَقِهِ وَأَسَاهُ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فِي صُورَةِ رَجُلٍ صَافٍ قَدَمَيْهِ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ فَقَالَ :
Maka tenanglah jiwanya dan tenteramlah hatinya lalu ia kembali ke rumah Khadijah untuk beribadah di ruangan yang telah disiapkan untuk bermunajat kepada Tuhannya. Hari-hari lain berlalu saat ia menemui mereka yang diberi hidayah oleh Allah untuk masuk Islam, namun wahyu tidak turun kepadanya dengan Al-Qur'an yang dapat ia bacakan kepada manusia, sehingga kecemasannya kembali dan hal itu terasa berat baginya, maka ia berlari ke Hira dan mulai merenungkan tentang terhentinya wahyu darinya. Terlintas kembali kepadanya pikiran bahwa apa yang berputar di benaknya adalah khayalan belaka atau gangguan kegilaan, maka kesedihan yang berat menyelimutinya, ia menginginkan esensi kebenaran. Ia menginginkannya yang jernih tanpa cacat sedikit pun. Di saat ia dalam kecemasan dan kesedihannya, Jibril menampakkan diri kepadanya dalam rupa seorang pria yang merentangkan kedua kakinya di ufuk langit lalu berkata:
يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ حَقًّا .
"Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah yang sebenarnya."
فَسَكَنَ رَوْعُهُ وَاطْمَأَنَّ قَلْبُهُ وَعَادَ إِلَى مُنَاجَاةِ رَبِّهِ وَطُولِ السَّهَرِ مَعَهُ يَسْأَلُهُ أَنْ يَكْشِفَ لَهُ عَنْ حَقِيقَةِ أَمْرِهِ . وَاجْتَهَدَ فِي عِبَادَتِهِ وَفِي سَهَرِهِ حَتَّى أَصَابَتْهُ وَعْكَةٌ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ لَيْلَتَيْنِ . وَعَجِبَتْ جَارَةٌ مِنْ جِيرَانِهِ لِذَلِكَ الِانْقِطَاعِ فَجَاءَتْهُ فَقَالَتْ :
Maka tenanglah ketakutannya dan tenteramlah hatinya lalu ia kembali bermunajat kepada Tuhannya dan menghabiskan malam yang panjang bersamanya, memohon agar Dia menyingkapkan baginya tentang kebenaran urusannya. Ia bersungguh-sungguh dalam ibadah dan begadangnya hingga ia mengalami sakit, sehingga ia meninggalkan qiyamul lail selama dua malam. Seorang tetangganya merasa heran dengan terhentinya kegiatan itu, maka ia mendatanginya lalu berkata:
يَا مُحَمَّدُ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ شَيْطَانُكَ قَدْ تَرَكَكَ ، لَمْ أَرَهُ قُرْبَكَ مُنْذُ لَيْلَتَيْنِ .
"Wahai Muhammad, sesungguhnya aku berharap setanmu telah meninggalkanmu, aku tidak melihatnya di dekatmu sejak dua malam yang lalu."
وَلَفَّهُ حُزْنٌ ثَقِيلٌ ، وَزَادَ فِي أَسَاهُ وَشَقَّ عَلَيْهِ أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ قَالُوا : وَدَّعَهُ رَبُّهُ وَقَلَاهُ . وَخَشِيَ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ هُوَ الْحَقِيقَةَ الْمُوجِعَةَ لِنَفْسِهِ ، فَعَدَا إِلَى جِبَالِ مَكَّةَ وَتَمَنَّى لَوْ يَرَى جِبْرِيلَ عَلَى الْهَيْئَةِ الَّتِي خَلَقَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا لَا عَلَى هَيْئَةِ رَجُلٍ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ ، وَفِيمَا هُوَ فِي تَفَكُّرِهِ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ عَلَى هَيْئَةِ رَجُلٍ يَسْبَحُ فِي الْفَضَاءِ . فَقَالَ لَهُ مُحَمَّدٌ :
Kesedihan yang berat menyelimutinya, dan bertambahlah kesedihannya serta terasa berat baginya bahwa penduduk Makkah mengatakan: "Tuhannya telah meninggalkannya dan membencinya." Ia khawatir jika hal itu adalah kebenaran yang menyakitkan bagi dirinya, maka ia berlari ke gunung-gunung Makkah dan berharap jika ia dapat melihat Jibril pada wujud aslinya yang telah diciptakan Allah kepadanya, bukan dalam rupa seorang pria di ufuk langit. Dan di saat ia dalam perenungannya, Jibril menampakkan diri kepadanya dalam rupa seorang pria yang berenang di angkasa. Maka Muhammad berkata kepadanya:
وَدِدْتُ أَنِّي رَأَيْتُكَ فِي صُورَتِكَ .
"Aku ingin melihatmu dalam wujud aslimu."
فَرَآهُ فِي الْأُفُقِ الْأَعْلَى مِنَ الْأَرْضِ قَدْ طَلَعَ مِنَ الْمَشْرِقِ فَسَدَّ الْأُفُقَ إِلَى الْمَغْرِبِ ، فَخَرَّ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَغْشِيًّا عَلَيْهِ ، فَنَزَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي صُورَةِ الْآدَمِيِّينَ وَضَمَّهُ إِلَى نَفْسِهِ وَجَعَلَ يَمْسَحُ الْغُبَارَ عَنْ وَجْهِهِ .
Maka ia melihatnya di ufuk tertinggi dari bumi telah muncul dari timur dan memenuhi ufuk hingga ke barat, sehingga Nabi ﷺ jatuh pingsan. Kemudian Jibril as. turun dalam rupa manusia, mendekapnya ke dirinya, dan mulai mengusap debu dari wajahnya.
وَأَفَاقَ مِنْ غَشْيَتِهِ فَانْطَلَقَ إِلَى خَدِيجَةَ وَقَدْ أَخَذَتْهُ رَجْفَةٌ ، وَمَا إِنْ وَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى الطَّاهِرَةِ حَتَّى قَالَ :
Ia sadar dari pingsannya lalu pergi menuju Khadijah sementara tubuhnya gemetar, dan saat matanya tertuju pada wanita yang suci itu, ia berkata:
دَثِّرُونِي .. دَثِّرُونِي .
"Selimuti aku... selimuti aku."
فَرَاحَتْ خَدِيجَةُ تُدَثِّرُهُ حَتَّى إِذَا مَا سَكَنَ رَوْعُهُ صَبَّتْ عَلَيْهِ الْمَاءَ ، فَجَاءَهُ الْوَحْيُ :
Khadijah pun menyelimutinya hingga saat ketakutannya reda, ia menuangkan air ke atasnya, maka datanglah wahyu kepadanya:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ * قُمْ فَأَنْذِرْ * وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ * وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ * وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ * وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ * وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
"Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu, tinggalkanlah segala (perbuatan) yang kotor (berhala), janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan bersabarlah untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu."
وَطَابَتْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - فَرَبُّهُ يَأْمُرُهُ بِإِنْذَارِ قَوْمِهِ ، وَحَمَى الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ ، فَنَزَلَ عَلَيْهِ :
Tenteramlah jiwa Muhammad as., karena Tuhannya memerintahkannya untuk memberi peringatan kepada kaumnya, dan wahyu pun menjadi intens dan terus berlanjut, maka turunlah kepadanya:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ * قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا * نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا * أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا * إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا * إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا * إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا * وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا * رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا * وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
"Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah pada malam hari (untuk shalat), kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurangi dari (separuh) itu sedikit, atau lebih dari (separuh) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau mempunyai aktivitas yang panjang. Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati. (Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik."
ثُمَّ أُوحِيَ إِلَيْهِ :
Kemudian diwahyukan kepadanya:
وَالضُّحَى * وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى * مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى * وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى * وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى
"Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas."
ثُمَّ أُوحِيَ إِلَيْهِ :
Kemudian diwahyukan kepadanya:
ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ * مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ * وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ * وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Berkat nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur."
وَعَرَفَ مُحَمَّدٌ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - أَنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيْهِ قُرْآنَهُ لِيَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ ، وَنَفَى عَنْهُ فِكْرَةَ الْجُنُونِ الَّتِي طَافَتْ بِهِ ، وَمَدَحَهُ رَبُّهُ بِأَنَّهُ عَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ فَلَمْ يَعُدْ فِي شَكٍّ مِنْ أَمْرِهِ ، وَلَكِنَّهُ أَشْفَقَ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ تَكَالِيفِ الرِّسَالَةِ ، إِنَّهُ سَيَقِفُ فِي وَجْهِ قَوْمِهِ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَهُ وَإِنَّهَا لَدَعْوَةٌ سَتَغْضَبُ النَّاسَ الَّذِينَ أَلِفُوا حَيَاتَهُمْ وَوَقَرَ فِي ضَمَائِرِهِمْ عِبَادَةُ مَا كَانَ آبَاؤُهُمْ يَعْبُدُونَ وَلَكِنْ مَاذَا يَهُمُّهُ مِنْ أَمْرِ النَّاسِ مَا دَامَ رَبُّهُ قَدْ أَمَرَهُ بِإِنْذَارِهِمْ وَهُوَ وَكِيلُهُ وَهُوَ نَاصِرُهُ ؟ فَوَطَّنَ النَّفْسَ عَلَى أَنْ يَدْعُوَ إِلَى رَبِّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَنْ يَصْبِرَ عَلَى مَا يَقُولُونَ حَتَّى تُشْرِقَ أَفْئِدَتُهُمْ بِالنُّورِ .
Muhammad as. mengetahui bahwa Allah telah mewahyukan Al-Qur'an-Nya kepadanya untuk ia bacakan kepada manusia, dan Dia meniadakan darinya pikiran tentang kegilaan yang sempat terlintas padanya, serta Tuhannya memujinya bahwa ia berbudi pekerti yang luhur, maka ia tidak lagi berada dalam keraguan akan urusannya. Namun ia merasa khawatir atas dirinya sendiri terhadap beban risalah tersebut; ia akan berdiri di hadapan kaumnya mengajak mereka kepada Allah sementara Allah bersamanya, dan itu adalah ajakan yang akan membuat marah orang-orang yang telah terbiasa dengan kehidupan mereka dan telah mengakar dalam hati nurani mereka ibadah terhadap apa yang disembah oleh bapak-bapak mereka. Tetapi apa pedulinya tentang urusan manusia selama Tuhannya telah memerintahkannya untuk memberi peringatan kepada mereka dan Dia adalah pelindungnya serta penolongnya? Maka ia memantapkan hati untuk mengajak kepada Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, dan untuk bersabar terhadap apa yang mereka katakan sampai hati mereka bercahaya dengan cahaya (kebenaran).
وَرَاحَ يُمْلِي مَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ عَلَى كُتَّابِ وَحْيِهِ ، أَبِي بَكْرٍ وَعَلِيٍّ وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ وَعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ . وَرَاحَ الْمُسْلِمُونَ الْأَوَّلُونَ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ سِرًّا عَلَى مَنْ يَثِقُونَ فِيهِمْ مِنْ أَصْحَابِهِمْ آمِلِينَ فِي أَنْ يُخْرِجُوهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ، فَكَانَ الْمَكِّيُّونَ يَسْمَعُونَ آيَاتِ اللَّهِ وَيَعْجَبُونَ بِبَلَاغَتِهَا ، فَكَانَتْ صُدُورٌ تَنْشَرِحُ لِلْإِيمَانِ وَكَانَتْ قُلُوبٌ تُقْفَلُ نَوَافِذُهَا فِي وَجْهِ النُّورِ دُونَ أَنْ تَثُورَ ، وَكَانَ رِجَالٌ يَغْضَبُونَ لِجَعْلِ الْآلِهَةِ إِلَهًا وَاحِدًا فَيَقُومُونَ بِتَعْذِيبِ مَنْ آمَنُوا مِنْهُمْ لِيَرُدُّوهُمْ عَنِ الْحَقِّ الْمُبِينِ .
Ia pun mulai mendiktekan apa yang diturunkan kepadanya kepada para penulis wahyunya: Abu Bakar, Ali, Zubair bin Awwam, dan Utsman bin Affan. Kaum Muslimin generasi awal mulai membaca Al-Qur'an secara sembunyi-sembunyi kepada orang-orang yang mereka percayai dari sahabat-sahabat mereka, dengan harapan dapat mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Penduduk Makkah mendengarkan ayat-ayat Allah dan mengagumi kefasihannya; ada dada-dada yang terbuka bagi keimanan, dan ada hati-hati yang menutup jendelanya di hadapan cahaya tanpa melakukan perlawanan, dan ada laki-laki yang marah karena dijadikannya sesembahan menjadi satu Tuhan, sehingga mereka menyiksa orang-orang yang telah beriman di antara mereka untuk memalingkan mereka dari kebenaran yang nyata.
وَبَيْنَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقُومُ اللَّيْلَ وَيُرَتِّلُ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا كَانَ خَالِدُ ابْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ فِي سُبَاتٍ عَمِيقٍ ، فَرَأَى فِي نَوْمِهِ نَارًا مُتَأَجِّجَةً يَشِيبُ مِنْ هَوْلِهَا الْوَلِيدُ ، وَرَأَى نَفْسَهُ عَلَى شَفِيرِهَا وَأَنَّ أَبَاهُ يُرِيدُ أَنْ يُلْقِيَهُ فِيهَا وَأَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - أَخَذَ بِحُجْزَتِهِ يَمْنَعُهُ مِنَ الْوُقُوعِ فِيهَا ، فَقَامَ مِنْ نَوْمِهِ فَزِعًا تَرْتَعِدُ فَرَائِصُهُ يَحِسُّ كَأَنَّ رُوحَهُ تَكَادُ أَنْ تَفْلِتَ مِنْ بَيْنَ جَنْبَيْهِ . وَظَلَّ مَرْعُوبًا حَتَّى إِذَا مَا سَكَنَ رَوْعُهُ وَانْزَاحَ الرُّعْبُ عَنْ عَقْلِهِ قَالَ فِي نَفْسِهِ :
Saat Rasulullah ﷺ sedang bangun malam dan membaca Al-Qur'an dengan tartil, Khalid bin Said bin Ash sedang dalam tidur yang sangat lelap. Ia melihat dalam tidurnya api yang berkobar yang membuat anak kecil beruban karena kedahsyatannya, dan ia melihat dirinya berada di pinggirnya sementara ayahnya ingin melemparkannya ke dalamnya, dan Muhammad bin Abdullah as. memegang pinggangnya mencegahnya agar tidak jatuh ke dalamnya. Maka ia bangun dari tidurnya dengan ketakutan, tubuhnya gemetar, ia merasa seakan-akan nyawanya hampir terlepas dari antara lambungnya. Ia tetap ketakutan sampai ketika ketakutannya reda dan kengerian beranjak dari akalnya, ia berkata dalam dirinya:
أَحْلِفُ بِاللَّهِ أَنَّ هَذِهِ رُؤْيَا حَقٍّ .
"Aku bersumpah demi Allah bahwa ini adalah mimpi yang benar."
وَمَا أَشْرَقَتِ الشَّمْسُ حَتَّى انْطَلَقَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ لِيَقُصَّ عَلَيْهِ مَا رَأَى وَيَسْمَعَ مِنْهُ تَأْوِيلَ رُؤْيَاهُ . فَلَمَّا جَلَسَ إِلَيْهِ وَقَصَّ عَلَيْهِ حُلُمَهُ الَّذِي أَفْزَعَهُ قَالَ لَهُ أَبُو بَكْرٍ :
Matahari belum terbit saat ia bergegas menuju Abu Bakar untuk menceritakan kepadanya apa yang ia lihat dan mendengar darinya tafsir mimpinya. Ketika ia duduk di dekatnya dan menceritakan kepadanya mimpinya yang membuatnya takut, Abu Bakar berkata kepadanya:
أُرِيدُ بِكَ خَيْرًا . هَذَا رَسُولُ اللَّهِ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - فَاتَّبِعْهُ .
"Aku menginginkan kebaikan untukmu. Ini adalah Rasulullah as., maka ikutilah dia."
وَذَهَبَا إِلَى حَيْثُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَالَ خَالِدٌ :
Maka mereka berdua pergi menuju tempat Rasulullah ﷺ berada lalu Khalid berkata:
يَا مُحَمَّدُ مَا تَدْعُو إِلَيْهِ ؟
"Wahai Muhammad, kepada apakah engkau mengajak?"
أَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَتَخْلَعَ مَا أَنْتَ عَلَيْهِ مِنْ عِبَادَةِ حَجَرٍ لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ .
"Aku mengajak kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, serta engkau meninggalkan apa yang selama ini engkau yakini berupa penyembahan terhadap batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberikan mudarat, dan tidak memberikan manfaat."
فَشَرَدَ خَالِدٌ قَلِيلًا كَأَنَّمَا يَتَذَكَّرُ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ :
Khalid terdiam sejenak seolah-olah teringat sesuatu lalu berkata:
كُنْتُ ذَاتَ لَيْلَةٍ نَائِمًا فَرَأَيْتُ كَأَنَّهُ غَشِيَتْ مَكَّةَ ظُلْمَةٌ حَتَّى لَا يُبْصِرُ امْرُؤٌ كَفَّهُ ، فَبَيْنَا أَنَا كَذَلِكَ إِذْ خَرَجَ نُورٌ مِنْ زَمْزَمَ ثُمَّ عَلَا فِي السَّمَاءِ فَأَضَاءَ فِي الْبَيْتِ ثُمَّ أَصَابَ مَكَّةَ كُلَّهَا ، ثُمَّ تَحَوَّلَ إِلَى يَثْرِبَ فَأَصَابَهَا حَتَّى إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى الْبُسْرِ فِي النَّخْلِ ، فَاسْتَيْقَظْتُ فَقَصَصْتُهَا عَلَى أَخِي عَمْرِو بْنِ سَعِيدٍ فَقَالَ : يَا أَخِي إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ يَكُونُ فِي بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ . أَلَا تَرَى أَنَّهُ خَرَجَ مِنْ حَفَرِ أَبِيهِمْ .
"Suatu malam aku sedang tidur, lalu aku melihat seakan-akan Makkah diselimuti kegelapan hingga seseorang tidak bisa melihat telapak tangannya sendiri. Di saat aku dalam keadaan demikian, tiba-tiba muncul cahaya dari Zamzam lalu naik ke langit, lalu menyinari Baitullah kemudian mengenai seluruh Makkah, lalu berpindah ke Yatsrib dan mengenainya hingga aku dapat melihat kurma muda di pohon kurma. Maka aku bangun dan menceritakannya kepada saudaraku, Amr bin Said, ia berkata: 'Wahai saudaraku, sesungguhnya perkara ini akan terjadi pada Bani Abdul Muthalib. Tidakkah engkau melihat bahwa ia keluar dari penggalian bapak mereka?'"
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - :
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا خَالِدُ أَنَا وَاللَّهِ ذَلِكَ النُّورُ ، وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ .
"Wahai Khalid, demi Allah akulah cahaya itu, dan akulah Rasul Allah."
وَأَسْلَمَ خَالِدٌ . وَقُرِئَ الْقُرْآنُ هَمْسًا فِي نَوَادِي بُيُوتِ أَشْرَافِ مَكَّةَ ، وَعَرَفَ أَقْوَامٌ أَنَّ مُحَمَّدًا - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَدْ عَابَ آلِهَتَهُمْ وَسَفَّهَ أَحْلَامَ آبَائِهِمْ فَغَضِبُوا وَكَانَ مِنْهُمْ سَعِيدُ بْنُ الْعَاصِ ، فَلَمَّا بَلَغَهُ أَنَّ ابْنَهُ قَدْ صَبَا عَنْ دِينِ آبَائِهِ وَاتَّبَعَ الدِّينَ الْجَدِيدَ امْتَلَأَ غَضَبًا ، وَضَايَقَهُ وَهُوَ السَّيِّدُ الْمُطَاعُ فِي قُرَيْشٍ أَنْ يَتَّبِعَ ابْنُهُ مُحَمَّدًا الَّذِي خَالَفَ قَوْمَهُ وَجَاءَهُمْ بِمَا لَا عِلْمَ لَهُمْ بِهِ ، فَأَرْسَلَ فِي طَلَبِهِ فَنَهَرَهُ وَضَرَبَهُ بِمِقْرَعَةٍ كَانَتْ فِي يَدِهِ حَتَّى كَسَرَهَا عَلَى رَأْسِهِ ثُمَّ قَالَ :
Khalid masuk Islam. Al-Qur'an dibacakan secara berbisik di majelis-majelis rumah para pemuka Makkah, dan kaum-kaum mengetahui bahwa Muhammad ﷺ telah mencela tuhan-tuhan mereka dan membodohi impian bapak-bapak mereka, maka mereka marah dan di antara mereka adalah Said bin Ash. Ketika sampai kabar kepadanya bahwa anaknya telah keluar dari agama bapak-bapaknya dan mengikuti agama baru, ia dipenuhi kemarahan. Ia merasa terganggu—padahal ia adalah seorang pemimpin yang ditaati di Quraisy—bahwa anaknya mengikuti Muhammad yang telah menyalahi kaumnya dan mendatangi mereka dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui ilmunya. Maka ia mengutus orang untuk memanggilnya, lalu membentaknya dan memukulnya dengan cambuk yang ada di tangannya hingga mematahkannya di atas kepalanya kemudian berkata:
اتَّبَعْتَ مُحَمَّدًا وَأَنْتَ تَرَى خِلَافَهُ لِقَوْمِهِ وَمَا جَاءَ بِهِ مِنْ عَيْبِ آلِهَتِهِمْ وَعَيْبِ مَنْ مَضَى مِنْ آبَائِهِمْ ؟
"Engkau mengikuti Muhammad padahal engkau melihat perselisihannya terhadap kaumnya dan apa yang ia bawa berupa celaan terhadap tuhan-tuhan mereka dan celaan terhadap bapak-bapak mereka yang terdahulu?"
فَلَمْ يَأْبَهْ سَعِيدٌ لِغَضَبِ أَبِيهِ وَهَانَتْ آلَامُ جَسَدِهِ بَعْدَ أَنْ عَرَفَ لَذَّةَ الْوِصَالِ بِرَبِّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ فَقَالَ :
Said tidak peduli dengan kemarahan ayahnya dan rasa sakit tubuhnya menjadi ringan setelah ia mengetahui kelezatan beribadah kepada Tuhan timur dan barat, maka ia berkata:
وَاللَّهِ اتَّبَعْتُهُ عَلَى مَا جَاءَ بِهِ .
"Demi Allah, aku mengikutinya atas apa yang ia bawa."
فَغَضِبَ أَبُوهُ وَقَالَ :
Ayahnya marah dan berkata:
اذْهَبْ يَا لُكَعُ حَيْثُ شِئْتَ . وَاللَّهِ لَأَمْنَعَنَّكَ الْقُوتَ .
"Pergilah wahai budak bodoh ke mana pun engkau mau. Demi Allah, aku benar-benar akan menghalangimu dari makanan."
إِنْ مَنَعْتَنِي فَإِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُنِي مَا أَعِيشُ بِهِ .
"Jika engkau menghalangiku, sesungguhnya Allah akan memberiku rezeki untuk hidup dengannya."
اخْرُجْ .. اخْرُجْ .
"Keluarlah... keluarlah."
ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى بَنِيهِ وَقَالَ :
Kemudian ia menoleh kepada anak-anaknya dan berkata:
لَا يُكَلِّمْهُ أَحَدٌ مِنْكُمْ .
"Jangan ada seorang pun di antara kalian yang berbicara dengannya."
فَانْصَرَفَ خَالِدٌ عائِدًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَلْزَمُهُ وَيَعِيشُ مَعَهُ وَيَغِيبُ عَنْ أَبِيهِ فِي نَوَاحِي مَكَّةَ وَهُوَ سَعِيدٌ بِالنُّورِ الَّذِي يَمْلَأُ جَوَانِحَهُ وَبِصُحْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ الَّتِي وَجَدَ فِيهَا نِعْمَةً مِنَ اللَّهِ لَا تُقْرَنُ بِهَا نِعْمَةٌ أُخْرَى ، فَهُوَ يَنْهَلُ مِنْ نَبْعِ الْحِكْمَةِ وَيَقْبِسُ مِنْ مَصْدَرِ النُّورِ .
Khalid beranjak pergi kembali kepada Rasulullah ﷺ, menyertainya, hidup bersamanya, dan menjauh dari ayahnya di penjuru-penjuru Makkah. Ia bahagia dengan cahaya yang memenuhi dadanya dan dengan persahabatan Rasulullah, di mana ia menemukan kenikmatan dari Allah yang tidak dapat disandingkan dengan kenikmatan lainnya; ia meminum dari mata air hikmah dan mengambil cahaya dari sumbernya.
وَجَلَسَ كُتَّابُ الْوَحْيِ يَكْتُبُونَ مَا نَزَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَمُحَمَّدٌ يَتْلُو فِي صَوْتٍ يَخْشَعُ لَهُ الْكَوْنُ :
Penulis wahyu duduk menulis apa yang diturunkan kepada Rasulullah sementara Muhammad melantunkan dengan suara yang membuat semesta khusyuk:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (١)
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (1)
وَإِذَا بِكُلِّ مَنْ فِي الدَّارِ مِنْ أَوَائِلِ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُونَ : آمِينَ . وَهُمْ يَسْتَشْعِرُونَ كَأَنَّمَا آيَاتُ اللَّهِ قَدْ رَفَعَتْهُمْ إِلَى الْمَلَكُوتِ .
Dan tiba-tiba setiap orang di dalam rumah dari generasi awal Muslimin mengucapkan: "Aamiin." Mereka merasakan seolah-olah ayat-ayat Allah telah mengangkat mereka ke alam malakut.
وَمَرَّ صُهَيْبٌ عَلَى دَارِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَفِي رَأْسِهِ أَفْكَارٌ وَفِي صَدْرِهِ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ . إِنَّهُ سَمِعَ قُرْآنَ مُحَمَّدٍ وَقَدْ سَمِعَ مِنْ قَبْلُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ شِعْرَ فُحُولِ الشُّعَرَاءِ ، فَرَأَى بِذَوْقِهِ الْمُرْهَفِ أَنَّ قُرْآنَ مُحَمَّدٍ مِنْ نَبْعٍ سَمَاوِيٍّ غَيْرِ ذَلِكَ النَّبْعِ الَّذِي نَهَلَ مِنْهُ الشُّعَرَاءُ ، وَمَا يَدْعُو إِلَيْهِ يَقْبَلُهُ الْعَقْلُ وَيَسْتَرِيحُ إِلَيْهِ الْفُؤَادُ . إِنَّهُ اسْتَفْتَى قَلْبَهُ فَزَيَّنَ لَهُ الْإِيمَانَ بِرِسَالَةِ الْأَمِينِ . فَجَاءَ لِيَدْخُلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ . وَفِيمَا هُوَ يَتَقَدَّمُ لِيَدْخُلَ رَأَى عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ يَحُومُ حَوْلَ الدَّارِ ، إِنَّ عَمَّارًا خَرَجَ مَعَ مُحَمَّدٍ مِنْ قَبْلُ فِي تِجَارَةِ خَدِيجَةَ وَكَانَ مَعَهُ يَوْمَ أَنْ بَعَثَتْ خَدِيجَةُ إِلَيْهِ مَنْ يُزَيِّنُ لَهُ التَّقَدُّمَ لِخِطْبَتِهَا وَقَدْ عَرَفَ عَنْ كَثَبٍ أَمَانَتَهُ وَمَكَارِمَ أَخْلَاقِهِ ، فَلَمَّا سَمِعَ بَعْضَ آيِ الْقُرْآنِ وَبَلَغَهُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقُولُ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَجَدَهُ أَنَّهُ أَهْلٌ لِلرِّسَالَةِ ، فَجَاءَ لِيَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .
Suhaib melewati rumah Rasulullah ﷺ, di kepalanya penuh dengan pemikiran dan di dadanya ada hasrat yang meluap. Ia telah mendengar Al-Qur'an Muhammad, padahal sebelumnya ia pernah mendengar di rumah Abdullah bin Jud'an syair para penyair ulung, maka ia melihat dengan seleranya yang peka bahwa Al-Qur'an Muhammad berasal dari mata air langit yang berbeda dari mata air yang diminum oleh para penyair, dan apa yang ia ajak kepadanya dapat diterima oleh akal dan menenangkan hati. Ia meminta fatwa kepada hatinya, maka ia menghiasi baginya keimanan terhadap risalah Al-Amin. Maka ia datang untuk menemui Rasulullah. Saat ia melangkah maju untuk masuk, ia melihat Ammar bin Yasir sedang berputar-putar di sekitar rumah; Ammar pernah keluar bersama Muhammad sebelumnya untuk berdagang dengan Khadijah dan ia bersamanya pada hari ketika Khadijah mengutus seseorang kepadanya untuk membujuknya agar melamarnya, dan ia telah mengetahui dari dekat amanahnya dan kemuliaan akhlaknya. Ketika ia mendengar sebagian ayat Al-Qur'an dan sampai kabar kepadanya bahwa Muhammad mengatakan ia adalah Rasul Allah, ia mendapatinya bahwa ia layak untuk risalah tersebut, maka ia datang untuk bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
وَدَنَا عَمَّارٌ مِنْ صُهَيْبٍ وَقَالَ :
Ammar mendekat kepada Suhaib lalu berkata:
أَيْنَ تُرِيدُ يَا صُهَيْبُ ؟
"Ke mana engkau hendak pergi wahai Suhaib?"
فَقَالَ صُهَيْبٌ فِي ثَبَاتٍ :
Suhaib berkata dengan mantap:
أُرِيدُ أَنْ أَدْخُلَ إِلَى مُحَمَّدٍ فَأَسْمَعَ كَلَامَهُ وَمَا يَدْعُو إِلَيْهِ .
"Aku ingin masuk menemui Muhammad untuk mendengar perkataannya dan apa yang ia ajak kepadanya."
فَقَالَ عَمَّارٌ فِي انْشِرَاحٍ :
Ammar berkata dengan lega:
وَأَنَا أُرِيدُ ذَلِكَ .
"Dan aku juga menginginkan hal itu."
فَدَخَلَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَأَمَرَهُمَا بِالْجُلُوسِ فَجَلَسَا ، وَعَرَضَ عَلَيْهِمَا الْإِسْلَامَ وَتَلَا عَلَيْهِمَا مَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ فَتَشَهَّدَا ، وَاسْتَأْنَسَا بِحَدِيثِهِ فَظَلَّا يَسْعَدَانِ بِعِلْمِهِ الْفَيَّاضِ الَّذِي أَشْرَقَ فِي قَلْبِهِ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ حَتَّى إِذَا أَمْسَيَا خَرَجَا مُسْتَخْفِيَيْنِ ، فَدَخَلَ عَمَّارٌ عَلَى أُمِّهِ وَأَبِيهِ فَسَأَلَاهُ :
Maka mereka berdua masuk menemui Rasulullah ﷺ, beliau memerintahkan mereka berdua untuk duduk lalu mereka pun duduk, beliau menawarkan Islam kepada mereka dan membacakan kepada mereka apa yang diturunkan dari Al-Qur'an, lalu mereka berdua bersyahadat dan merasa tenang dengan percakapannya. Mereka tetap merasa bahagia dengan ilmunya yang melimpah yang telah menyinari hatinya dari rahmat Tuhannya, hingga saat petang tiba, mereka berdua keluar secara sembunyi-sembunyi. Ammar masuk menemui ibu dan ayahnya, lalu mereka berdua bertanya kepadanya:
أَيْنَ كُنْتَ ؟
"Di mana engkau tadi?"
فَقَالَ فِي ثِقَةٍ وَيَاسِرٌ وَسُمَيَّةُ يَنْظُرَانِ إِلَيْهِ فِي دَهَشٍ وَكَأَنَّهُ قَدْ عَادَ إِلَيْهِمَا رَجُلًا آخَرَ :
Ia berkata dengan penuh keyakinan sementara Yasir dan Sumayyah memandangnya dengan heran seolah-olah ia telah kembali kepada mereka sebagai orang yang berbeda:
كُنْتُ عِنْدَ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ، وَقَدْ عَرَضَ عَلَيَّ الْإِسْلَامَ فَأَسْلَمْتُ .
"Aku tadi bersama Muhammad ﷺ, dan ia telah menawarkan Islam kepadaku maka aku masuk Islam."
وَدَارَ حِوَارٌ طَوِيلٌ بَيْنَ عَمَّارٍ وَأَبَوَيْهِ يَاسِرٍ وَسُمَيَّةَ ، عَمَّارٌ يَتْلُو آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ فَيَنْشَرِحُ صَدْرُ سُمَيَّةَ وَيَسْتَشْعِرُ يَاسِرٌ كَأَنَّ نُورًا يَنْسَكِبُ فِي وِجْدَانِهِ وَيُشْرِقُ فِي فُؤَادِهِ ، فَيُجَادِلُ ابْنَهُ فِي ضَعْفٍ ثُمَّ يَنْتَهِي الْحِوَارُ الَّذِي دَارَ فِي سُكُونِ اللَّيْلِ بَيْنَ ابْنٍ بَارٍّ مُؤْمِنٍ وَأَبَوَيْنِ يُرِيدَانِ وَجْهَ الْحَقِيقَةِ لَا يَخْشَيَانِ زَوَالَ سُلْطَانٍ وَلَا ضَيَاعَ أَمْوَالٍ إِذَا أَسْلَمَا . فَتَهَلَّلَ وَجْهُ عَمَّارٍ الطَّيِّبِ الْمُطَيَّبِ بِفَرَحٍ وَاسْتِبْشَارٍ وَرَأَى بِعَيْنِ بَصِيرَتِهِ الْأَنْوَارَ تَغْمُرُ الدَّارَ .
Terjadilah dialog panjang antara Ammar dan kedua orang tuanya, Yasir dan Sumayyah. Ammar membacakan ayat-ayat Al-Qur'an sehingga dada Sumayyah terbuka dan Yasir merasa seolah-olah cahaya sedang mengalir ke dalam perasaannya dan bersinar di dalam hatinya, maka ia mendebat anaknya dengan lemah kemudian dialog yang terjadi di keheningan malam itu berakhir antara seorang anak yang berbakti dan beriman serta kedua orang tua yang menginginkan hakikat kebenaran, tidak takut akan hilangnya kekuasaan maupun hilangnya harta jika mereka masuk Islam. Maka wajah Ammar yang baik lagi menyenangkan berseri-seri dengan kegembiraan dan kebahagiaan, dan ia melihat dengan mata batinnya cahaya-cahaya yang membanjiri rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar