BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim #20

فِي عِمَايَةِ الصُّبْحِ فُتِحَ بَابُ دَارِ خَدِيجَةَ فَخَرَجَ مِنْهُ رَسُولُ اللهِ وَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَزَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ وَهِنْدُ بْنُ أَبِي هَالَةَ بْنِ سَعِيدٍ بَعْدَ أَنْ هَجَرَ أَبَاهُ وَلَزِمَ النَّبِيَّ، وَانْطَلَقُوا فِي شَوَارِعِ مَكَّةَ الضَّيِّقَةِ الْمَسْقُوفَةِ حَتَّى بَلَغُوا الْحَرَمَ فَطَافُوا بِالْبَيْتِ سَبْعًا، ثُمَّ انْسَلُّوا إِلَى شِعَابِ مَكَّةَ لِيَلْتَقُوا بِالْمُسْلِمِينَ لِيَصَلُّوا اللهَ بَعِيدًا عَنْ عُيُونِ الَّذِينَ لَمْ يَشْرَحِ اللهُ صُدُورَهُمْ بَعْدُ لِلْإِسْلَامِ.
Di saat pagi buta, pintu rumah Khadijah dibuka, maka keluarlah darinya Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Hindun bin Abi Halah bin Sa'id setelah ia meninggalkan ayahnya dan menyertai Nabi. Mereka berjalan di jalan-jalan Makkah yang sempit dan beratap hingga mencapai Al-Haram, lalu mereka thawaf di Baitullah tujuh kali, kemudian mereka menyelinap ke celah-celah gunung Makkah untuk bertemu dengan kaum muslimin agar mereka beribadah kepada Allah jauh dari mata orang-orang yang Allah belum melapangkan dada mereka untuk Islam.
وَمِنْ دُورِ بَنِي تَيْمٍ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ وَمَوْلَاهُ عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ وَصُهَيْبٌ مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ جُدْعَانَ وَطَلْحَةُ بْنُ عَبْدِ اللهِ.
Dan dari rumah-rumah Bani Taim, keluarlah Abu Bakar, budaknya Amir bin Fuhairah, Shuhaib budak Abdullah bin Jud'an, dan Thalhah bin Abdullah.
وَخَرَجَ مِنْ دُورِ بَنِي هَاشِمٍ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فِي خُطًى ثَابِتَةٍ فَأَبُو طَالِبٍ يَعْلَمُ بِإِسْلَامِهِ بَلْ هُوَ الَّذِي أَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ ابْنِ عَمِّهِ، فَقَدْ رَأَى النَّبِيَّ وَعَلِيًّا يُصَلِّيَانِ وَعَلِيٌّ عَلَى يَمِينِهِ، فَقَالَ لِجَعْفَرٍ:
Dan dari rumah-rumah Bani Hasyim keluarlah Ja'far bin Abi Thalib dengan langkah yang mantap. Abu Thalib mengetahui keislamannya, bahkan dialah yang memerintahkannya untuk shalat bersama sepupunya. Ia pernah melihat Nabi dan Ali sedang shalat, sedang Ali berada di sebelah kanannya, maka ia berkata kepada Ja'far:
صَلِّ جَنَاحَ ابْنِ عَمِّكَ.
"Shalatlah di sebelah sepupumu."
فَصَلَّى عَنْ يَسَارِهِ، وَكَانَ جَعْفَرٌ فِي حَيْرَةٍ مِنْ أَمْرِ أَبِيهِ فَهُوَ لَمْ يَثُرْ لَمَّا عَثَرَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ اللهُ وَسَلَامُهُ وَعَلَى ابْنِهِ عَلِيٍّ وَهُمَا يُصَلِّيَانِ فِي الشِّعْبِ مُسْتَخْفِيَيْنِ، بَلْ قَالَ لِابْنِهِ:
Maka ia shalat di sebelah kirinya. Ja'far berada dalam kebingungan mengenai urusan ayahnya, ia tidak marah ketika suatu hari memergoki Nabi shalawat dan salam Allah atasnya dan putranya Ali sedang shalat di celah gunung secara bersembunyi. Bahkan ia berkata kepada putranya:
إِنَّهُ لَمْ يَدْعُكَ إِلَّا إِلَى خَيْرٍ فَاتَّبِعْهُ.
"Dia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan, maka ikutilah dia."
فَلِمَاذَا لَمْ يَتَّبِعْ أَبُو طَالِبٍ ابْنَ أَخِيهِ؟ أَحَقِيقَةً إِنَّهُ يَخْشَى أَنْ تَقُولَ نِسَاءُ قُرَيْشٍ إِنَّ شَيْخَ بَنِي هَاشِمٍ قَدْ أَسْلَمَ قِيَادَهُ إِلَى فَتًى مِنْ فِتْيَانِ بَنِي هَاشِمٍ أَمْ لِأَنَّهُ يُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يَبْعَثَ رَجُلًا رَسُولًا؟
Maka mengapa Abu Thalib tidak mengikuti putra saudaranya? Apakah benar ia takut kalau wanita-wanita Quraisy berkata bahwa sesepuh Bani Hasyim telah menyerahkan kepemimpinannya kepada seorang pemuda dari pemuda-pemuda Bani Hasyim, ataukah karena ia yakin bahwa Allah terlalu agung untuk mengutus seorang manusia sebagai rasul?
وَمِنْ دُورِ بَنِي أُمَيَّةَ خَرَجَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ وَهُوَ عَلَى يَقِينٍ مِنْ أَنَّ إِسْلَامَهُ قَدْ ثَلَمَ كَرَامَةَ الْأُمَوِيِّينَ، فَالْمُنَافَسَةُ عَلَى السِّيَادَةِ كَانَتْ مُشْتَعِلَةَ الْأَوَارِ بَيْنَ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي أُمَيَّةَ، وَقَدْ كَادَ أَبُو سُفْيَانَ أَنْ يَكُونَ زَعِيمَ قُرَيْشٍ بِلَا مُنَازِعٍ. أَفَيَقْبَلُ بَنُو أُمَيَّةَ أَنْ يَكُونَ مِنْ مُنَافِسِيهِمْ رَسُولٌ يَأْتِيهِ خَبَرُ السَّمَاءِ؟ تَرَى مَاذَا يَفْعَلُ أَبُو سُفْيَانَ عِنْدَمَا يَعُودُ مِنْ رِحْلَةِ الْيَمَنِ وَيَعْلَمُ أَنَّ وَحْيًا مِنَ السَّمَاءِ قَدْ نَزَلَ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ سَلِيلِ الْبَيْتِ الْهَاشِمِيِّ الْعَتِيدِ؟
Dan dari rumah-rumah Bani Umayyah keluarlah Utsman bin Affan, dan ia yakin bahwa keislamannya telah mencoreng kehormatan Bani Umayyah. Persaingan memperebutkan kepemimpinan sedang berkobar hebat antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, dan Abu Sufyan hampir menjadi pemimpin Quraisy tanpa ada yang menandingi. Apakah Bani Umayyah akan menerima jika di antara pesaing mereka terdapat seorang rasul yang kepadanya datang kabar dari langit? Kira-kira apa yang akan dilakukan Abu Sufyan ketika ia kembali dari perjalanan Yaman dan mengetahui bahwa wahyu dari langit telah turun kepada Muhammad bin Abdullah, keturunan rumah Hasyim yang terpandang?
كَانَ عُثْمَانُ هَاشِمِيًّا مِنْ نَاحِيَةِ أُمِّهِ أُمَوِيًّا مِنْ نَاحِيَةِ أَبِيهِ فكَانَ مُوَزَّعَ الْعَوَاطِفِ بَيْنَ الْحَيَّيْنِ الْمُتَنَازِعَيْنِ عَلَى زَعَامَةِ قُرَيْشٍ، فَلَمَّا أَشْرَقَ قَلْبُهُ بِنُورِ الْيَقِينِ نَسِيَ عَصَبِيَّتَهُ لِقَبِيلَتِهِ، بَلْ جَعَلَ دُبُرَ أُذُنِهِ عَصَبِيَّتَهُ لِقَوْمِيَّتِهِ بَعْدَ أَنْ عَلَّمَهُ رَسُولُ اللهِ أَنَّ النَّاسَ سَوَاسِيَةٌ وَأَنْ لَا فَضْلَ لِأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ عِنْدَ اللهِ إِلَّا بِالتَّقْوَى، فَصَارَتْ غَايَةَ أَمَانِيهِ أَنْ يَهْدِيَ اللهُ قَوْمَهُ إِلَى الْحَقِّ وَأَنْ تَفِيضَ رَحْمَةُ رَبِّهِ عَلَى الْعَالَمِينَ.
Utsman adalah Hasyimi dari pihak ibunya dan Umayyah dari pihak ayahnya, sehingga ia terbagi perasaannya di antara dua kabilah yang bersaing memperebutkan kepemimpinan Quraisy. Ketika hatinya disinari cahaya keyakinan, ia melupakan fanatisme terhadap kabilahnya, bahkan ia mengabaikan fanatisme terhadap kaumnya setelah Rasulullah mengajarinya bahwa manusia itu sama, dan tidak ada keutamaan bagi seseorang atas orang lain di sisi Allah kecuali dengan ketakwaan. Maka cita-cita tertingginya menjadi agar Allah memberi hidayah kepada kaumnya menuju kebenaran dan agar rahmat Tuhannya melimpah ke seluruh alam.
وَخَرَجَ مِنْ دُورِ بَنِي أَسَدٍ الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ وَكَانَ فِي الثَّانِيَةِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ عُمْرِهِ وَقَدْ فَرِحَتْ عَمَّتُهُ خَدِيجَةُ بِإِسْلَامِهِ، إِلَّا أَنَّ ذَلِكَ الْفَرَحَ قَدْ كَدَّرَهُ عَدَمُ إِسْلَامِ ابْنِ أَخِيهَا حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ، فَهِيَ تُحِبُّ ابْنَ حِزَامٍ وَتَتَمَنَّى لَهُ الْهِدَايَةَ وَأَنْ يَكُونَ مِنَ السَّابِقِينَ لِتَلْبِيَةِ نِدَاءِ اللهِ. وَلَكِنْ مَا كَانَ ذَلِكَ مَيْسُورًا فَحَكِيمٌ قَدْ أَصْبَحَ صَاحِبَ دَارِ النَّدْوَةِ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ لِيَكُونَ لَهُ شَرَفُ امْتِلَاكِ دَارِ حُكُومَةِ قَوْمِهِ، وَهُوَ مَسْمُوعُ الْكَلِمَةِ فِي الدَّارِ الَّتِي يَشْرَئِبُّ بِأَعْنَاقِهِمْ إِلَيْهَا الطَّامِحُونَ مِنْ رِجَالِ قُرَيْشٍ، وَهُوَ شَرِيفٌ مَعْدُودٌ مِنْ أَشْرَافِ قُرَيْشٍ، أَوَ يَتْرُكُ كُلَّ هَذَا الْمَجْدِ لِيُصْبِحَ تَابِعًا مِنْ أَتْبَاعِ زَوْجِ عَمَّتِهِ؟! إِنَّ قَلْبَ حَكِيمٍ مَشْغُولٌ بِالدُّنْيَا مُتَعَلِّقٌ بِغُرُورِهَا بَيْنَمَا كَانَ الزُّبَيْرُ لَا يَزَالُ خَلِيَّ الْفُؤَادِ لَمْ يَعْمُ قَلْبُهُ عَنِ الْحَقِيقَةِ، فَلَمَّا بَزَغَ نُورُ الْحَقِّ لَمْ تَعْتَرِضْ سَبِيلَهُ عَوَائِقُ مِنَ الْمَطَامِعِ وَالْأَهْوَاءِ.
Dan dari rumah-rumah Bani Asad keluarlah Az-Zubair bin Al-Awwam, ia berusia dua puluh dua tahun. Bibinya, Khadijah, gembira dengan keislamannya, namun kegembiraan itu dinodai dengan belum islamnya putra saudaranya, Hakim bin Hizam. Ia mencintai Ibnu Hizam dan mengharapkan hidayah baginya dan agar ia menjadi termasuk orang-orang yang bersegera memenuhi seruan Allah. Namun hal itu tidak mudah, karena Hakim telah menjadi pemilik Darun Nadwah, ia membelinya dengan hartanya agar ia mendapat kehormatan memiliki rumah pemerintahan kaumnya. Ia adalah orang yang didengar perkataannya di rumah tersebut, tempat yang dijuluki oleh orang-orang ambisius dari kalangan laki-laki Quraisy. Ia adalah orang terhormat yang terhitung sebagai tokoh Quraisy. Apakah ia akan meninggalkan semua kemuliaan ini untuk menjadi pengikut dari pengikut suami bibinya?! Hati Hakim sibuk dengan dunia dan terikat oleh tipu dayanya, sementara Az-Zubair masih berhati bersih, hatinya tidak buta dari kebenaran. Maka ketika cahaya kebenaran terbit, tidak ada rintangan berupa ambisi dan hawa nafsu yang menghalangi jalannya.
وَخَرَجَ مِنْ دُورِ بَنِي زُهْرَةَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَأَخُوهُ عَامِرٌ، وَقَدْ كَانَتْ أُمُّهُمَا تُعَيِّرُ سَعْدًا بِأَخِيهِ عَامِرٍ وَتَقُولُ:
Dan dari rumah-rumah Bani Zuhrah keluarlah Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan saudaranya Amir. Ibu mereka dahulu mencela Sa'ad dengan saudaranya Amir dan berkata:
هُوَ الْبَرُّ لَا يُفَارِقُ دِينَهُ وَلَا يَكُونُ تَابِعًا.
"Dia adalah anak yang berbakti, tidak meninggalkan agamanya dan tidak menjadi pengikut."
وَقَدْ جَاءَ سَعْدٌ ذَاتَ يَوْمٍ وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَى أُمِّهِ وَعَلَى أَخِيهِ عَامِرٍ فَقَالَ:
Suatu hari Sa'ad datang ketika orang-orang berkumpul di rumah ibunya dan saudaranya Amir, lalu ia bertanya:
مَا شَأْنُ النَّاسِ؟
"Ada apa dengan orang-orang ini?"
فَقَالُوا:
Mereka menjawab:
هَذِهِ أُمُّكَ قَدْ أَخَذَتْ أَخَاكَ عَامِرًا وَهِيَ تُعْطِي اللهَ عَهْدًا لَا يُظِلُّهَا نَخْلٌ وَلَا تَأْكُلُ طَعَامًا وَلَا تَشْرَبُ شَرَابًا حَتَّى يَدَعَ صَبَأَتَهُ.
"Ini ibumu, ia telah membawa saudaramu Amir dan ia memberikan janji kepada Allah bahwa ia tidak akan bernaung di bawah pohon kurma, tidak akan makan makanan, dan tidak akan meminum minuman hingga ia meninggalkan kesesatannya."
فَالْتَفَتَ سَعْدٌ إِلَيْهَا وَقَالَ:
Sa'ad menoleh kepadanya dan berkata:
وَاللهِ يَا أُمَّهْ لَا تَسْتَظِلِّينَ وَلَا تَأْكُلِينَ وَلَا تَشْرَبِينَ حَتَّى تَتَبَوَّئِي مَقْعَدَكِ مِنَ النَّارِ.
"Demi Allah wahai ibu, janganlah engkau bernaung, jangan makan, dan jangan minum hingga engkau menempati tempat dudukmu di neraka."
كَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَشُقُّ طَرِيقَهُ لِيَكُونَ مِنْ أَشْهَرِ تُجَّارِ مَكَّةَ، وَقَدْ ذَاعَتْ أَمَانَتُهُ فِي الْأَمْصَارِ حَتَّى إِنَّ الْبَضَائِعَ كَانَتْ تُرْسَلُ بِاسْمِهِ حَيْثُمَا كَانَ فِي الْأَسْوَاقِ لِيَبِيعَهَا وَيَأْخُذَ نَصِيبَهُ ثُمَّ يَرُدُّ الْأَمْوَالَ وَأَرْبَاحَهَا إِلَى أَصْحَابِهَا كَامِلَةً غَيْرَ مَنْقُوصَةٍ. وَكَانَ سَعْدٌ فِي التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ وَكَانَ عَامِرٌ فِي السَّادِسَةَ عَشْرَةَ وَكَانَا عَلَى الرَّغْمِ مِنْ صِغَرِ سِنِّهِمَا يَرْغَبَانِ فِي الْحَقِيقَةِ، فَلَمَّا اتَّضَحَ لَهُمَا صِدْقُ دَعْوَةِ مُحَمَّدٍ أَسْرَعَا بِالتَّصْدِيقِ، وَلَمْ يُؤَثِّرْ فِيهِمَا وَهُمَا الْبَارَّانِ بِأُمِّهِمَا صِيَاحُهَا وَمُحَاوَلَاتُهَا لِتُعِيدَهُمَا إِلَى الظُّلُمَاتِ بَعْدَ أَنْ عَرَفَا طَرِيقَ النُّورِ.
Abdurrahman sedang merintis jalannya untuk menjadi salah satu pedagang Makkah yang paling terkenal. Amanahnya telah tersiar ke berbagai negeri hingga barang dagangan dikirim atas namanya di mana pun ia berada di pasar-pasar untuk ia jual dan ia mengambil bagiannya, kemudian ia mengembalikan modal beserta keuntungannya kepada pemiliknya secara utuh tidak berkurang. Sa'ad berusia sembilan belas tahun dan Amir berusia enam belas tahun, keduanya meskipun masih muda mereka menginginkan kebenaran. Maka ketika kejujuran dakwah Muhammad menjadi jelas bagi mereka, mereka bersegera membenarkannya, dan teriakan serta usaha ibu mereka untuk mengembalikan mereka ke kegelapan tidak berpengaruh pada mereka berdua yang merupakan anak-anak yang berbakti kepada ibu mereka, setelah mereka mengetahui jalan cahaya.
وَمِنْ دُورِ بَنِي مَخْزُومٍ الَّتِي كَانَتْ تَطُلُّ عَلَى الْحَرَمِ مِنْ فَوْقِ الصَّفَا خَرَجَ الْأَرْقَمُ بْنُ أَبِي الْأَرْقَمِ الْمَخْزُومِيُّ وَعَيَّاشُ بْنُ أَبِي رَبِيعَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ الْمَخْزُومِيُّ أَخُو أَبِي الْحَكَمِ بْنِ هِشَامٍ (أَبِي جَهْلٍ) فَأُمُّهُمَا أَسْمَاءُ بِنْتُ مُخَرِبَةَ التَّمِيمِيَّةُ. وَكَانَ عَيَّاشٌ يَعْرِفُ قَسْوَةَ قَلْبِ أَبِي الْحَكَمِ وَأَطْمَاعَهُ الَّتِي لَيْسَ لَهَا حَدٌّ، فَأَمْوَالُ بَنِي الْمُغِيرَةِ مَمْدُودَةٌ وَرِجَالُ بَنِي مَخْزُومٍ رِجَالُ الْكَرِّ وَالْفَرِّ وَالطَّعْنِ وَالنِّزَالِ، وَمَنْ هَذِهِ صِفَاتُهُ لَا بُدَّ أَنْ يَرْنُوَ إِلَى الصَّدَارَةِ وَإِلَى مُنَافَسَةِ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي أُمَيَّةَ. فَإِنْ كَانَ الْوَلِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ هُوَ سَيِّدُ بَنِي مَخْزُومٍ فَمَا أَقْصَرَ أَيَّامَهُ فِي الْأَرْضِ، فَإِنْ ذَهَبَ فَلَا خَلِيفَةَ لَهُ غَيْرُ أَبِي الْحَكَمِ. كَانَتِ الدُّنْيَا تَمْلَأُ قَلْبَهُ وَتَسْتَوْلِي عَلَى تَفْكِيرِهِ، وَكَانَتِ السِّيَادَةُ تَتَخَايَلُ لَهُ وَالزَّعَامَةُ هَدَفَ حَيَاتِهِ فَمَا كَانَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَتَصَوَّرَ أَنْ يَقُومَ فِي قُرَيْشٍ مَنْ يُنَافِسُهُ فِي أَطْمَاعِهِ، فَمَا بَالُكَ إِذَا قَامَتْ دَعْوَةٌ تُقَوِّضُ كُلَّ قُصُورِ أَحْلَامِهِ وَأَمَانِيهِ؟
Dan dari rumah-rumah Bani Makhzum yang menghadap ke Al-Haram dari atas bukit Shafa, keluarlah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzumi dan 'Ayyasy bin Abi Rabi'ah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi, saudara Abu Al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), ibu keduanya adalah Asma' binti Mukharibah At-Tamimiyah. 'Ayyasy mengetahui kekerasan hati Abu Al-Hakam dan ambisi-ambisinya yang tidak terbatas, harta Bani Al-Mughirah berlimpah dan laki-laki Bani Makhzum adalah laki-laki ahli serang dan bertahan, ahli tikam dan pertempuran. Orang yang memiliki sifat seperti ini pastilah mendambakan kepemimpinan dan persaingan dengan Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Jika Al-Walid bin Al-Mughirah adalah pemimpin Bani Makhzum, maka betapa singkat hari-harinya di bumi, jika ia pergi maka tidak ada penggantinya selain Abu Al-Hakam. Dunia memenuhi hatinya dan menguasai pikirannya, kepemimpinan terbayang baginya dan kepemimpinan adalah tujuan hidupnya, maka ia tidak dapat membayangkan ada seseorang di Quraisy yang menyainginya dalam ambisinya, lalu bagaimana jika muncul dakwah yang meruntuhkan semua istana impian dan cita-citanya?
كَانَ عَيَّاشٌ يَرْتَجِفُ فَرَقًا مِنْ أَخِيهِ وَكَانَ يُجِلُّ أَبَا الْحَكَمِ، فَلَمَّا عَرَفَ الْإِيمَانُ طَرِيقَهُ إِلَى قَلْبِهِ هَانَ فِي عَيْنَيْهِ كُلُّ سُلْطَانٍ إِلَّا سُلْطَانَ اللهِ، وَلَمْ يَعُدْ يَخْشَى بَنِي الْمُغِيرَةِ وَلَا بَنِي مَخْزُومٍ بَلْ وَلَا الْعَالَمَ بِأَسْرِهِ، فَإِنْ كَانَ يَنْسَلُّ الْآنَ لِيُصَلِّيَ مَعَ رَسُولِ اللهِ فَمَا ذَلِكَ إِلَّا اسْتِجَابَةً لِرَغْبَةِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ، فَهُوَ لَا يُرِيدُ أَنْ تَقِفَ النَّبْتَةُ فِي وَجْهِ الْعَوَاصِفِ قَبْلَ أَنْ يَشْتَدَّ عُودُهَا.
'Ayyasy gemetar ketakutan karena saudaranya dan ia segan kepada Abu Al-Hakam. Ketika iman mengetahui jalannya menuju hatinya, setiap kekuasaan menjadi remeh di matanya selain kekuasaan Allah. Ia tidak lagi takut kepada Bani Al-Mughirah, tidak kepada Bani Makhzum, bahkan tidak kepada dunia seluruhnya. Jika ia menyelinap sekarang untuk shalat bersama Rasulullah, itu tidak lain karena memenuhi keinginan Nabi yang mulia, karena ia tidak ingin tanaman tersebut berdiri menghadapi badai sebelum batangnya menguat.
وَخَرَجَ أَبُو سَلَمَةَ الْمَخْزُومِيُّ مُشْرِقَ النَّفْسِ فَأُمُّهُ بَرَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ تُبَارِكُ دَعْوَةَ ابْنِ أَخِيهَا، فَهُوَ كَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ كِلَاهُمَا ابْنُ عَمَّةِ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ، غَيْرَ أَنَّ الزُّبَيْرَ ابْنُ أَخِي خَدِيجَةَ حَاضِنَةِ الْإِسْلَامِ.
Abu Salamah Al-Makhzumi keluar dengan jiwa yang berseri, karena ibunya Barrah binti Abdul Muthalib memberkati dakwah putra saudaranya. Ia seperti Az-Zubair bin Al-Awwam, keduanya adalah putra bibi dari pemilik dakwah (Nabi), hanya saja Az-Zubair adalah putra saudara Khadijah, pengasuh Islam.
وَخَرَجَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ وَأَبُوهُ يَاسِرٌ مُتَسَلِّلَيْنِ حَتَّى لَا يَفْجَأَهُمَا أَحَدٌ مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ، فَهُمَا لَيْسَا مِنْهُمْ بَلْ حُلَفَاءُ لَهُمْ. تَزَوَّجَ يَاسِرٌ سُمَيَّةَ وَكَانَتْ جَارِيَةً مِنْ جَوَارِيهِمْ، فَلَمَّا جَاءَ عَمَّارٌ ثَمَرَةُ ذَلِكَ الزَّوَاجِ شَبَّ فِيهِمْ وَإِنْ كَانَتْ عَوَاطِفُهُ مُنْذُ نُعُومَةِ أَظْفَارِهِ مَعَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، فَقَدْ بَهَرَتْهُ مَكَارِمُ أَخْلَاقِهِ وَمَا آتَاهُ اللهُ مِنَ الْحِكْمَةِ، فَلَمَّا سَمِعَ أَنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ صَدِيقَهُ الْعَظِيمَ رَسُولًا إِلَى النَّاسِ كَافَّةً هَرَعَ إِلَيْهِ مُغْتَبِطًا لِيُعْلِنَ إِسْلَامَهُ، فَهُوَ يَرَاهُ خَلِيقًا لِأَنْ يَكُونَ رَسُولَ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Dan Ammar bin Yasir serta ayahnya Yasir keluar menyelinap agar tidak seorang pun dari Bani Makhzum memergoki mereka, karena mereka berdua bukan dari golongan mereka melainkan sekutu mereka. Yasir menikahi Sumayyah yang merupakan budak perempuan dari budak-budak mereka. Ketika Ammar lahir sebagai buah dari pernikahan tersebut, ia tumbuh di tengah mereka, meskipun perasaannya sejak kecil bersama Muhammad bin Abdullah, kemuliaan akhlaknya dan hikmah yang Allah berikan kepadanya telah memukau Ammar. Ketika ia mendengar bahwa Allah telah mengutus sahabatnya yang agung sebagai rasul bagi seluruh manusia, ia bergegas kepadanya dengan gembira untuk menyatakan keislamannya, karena ia melihatnya layak untuk menjadi rasul Tuhan semesta alam.
وَمِنْ دُورِ بَنِي جُمَحٍ خَرَجَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ وَأَخَوَاهُ قُدَامَةُ وَعَبْدُ اللهِ وَحَاطِبُ بْنُ الْحَارِثِ وَأَخَوَاهُ حَطَّابٌ وَمَعْمَرٌ وَبِلَالُ بْنُ رَبَاحٍ مَوْلَى أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ، وَانْطَلَقُوا فِي هُدُوءٍ لَا يَتَرَقَّبُونَ قَدْ غَمَرَتْهُمْ نَشْوَةٌ رُوحِيَّةٌ أَنْسَتْهُمْ كُلَّ خَطَرٍ، وَكَانُوا فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللهُ يُغَذُّونَ السَّيْرَ لِيَنْعَمُوا بِلِقَاءِ رَسُولِ اللهِ وَيَسْعَدُوا بِالْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَى رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Dan dari rumah-rumah Bani Jumah keluarlah Utsman bin Mazh'un beserta dua saudaranya Qudamah dan Abdullah, Hatib bin Al-Harits beserta dua saudaranya Hattab dan Ma'mar, serta Bilal bin Rabah budak Umayyah bin Khalaf. Mereka berangkat dengan tenang tanpa rasa cemas, diselimuti kegembiraan ruhani yang membuat mereka melupakan segala bahaya. Mereka gembira dengan apa yang Allah berikan kepada mereka, mereka mempercepat langkah untuk mendapatkan kenikmatan bertemu Rasulullah dan berbahagia dapat berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.
وَخَرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ مِنْ دَارِ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ، إِنَّهُ يَخْرُجُ فِي غَنَمٍ لِآلِ عُقْبَةَ، وَذَاتَ يَوْمٍ جَاءَ رَسُولُ اللهِ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ إِلَى حَيْثُ كَانَ عَبْدُ اللهِ يَرْعَى الْغَنَمَ. إِنَّهُ قَصِيرٌ طُولُهُ نَحْوَ ذِرَاعٍ، خَفِيفُ اللَّحْمِ رِجْلَاهُ دَقِيقَتَانِ، مَا يَرَاهُ أَحَدٌ إِلَّا وَيَبْتَسِمُ لِقِصَرِهِ وَدِقَّةِ رِجْلَيْهِ، إِلَّا أَنَّ النَّبِيَّ دَنَا مِنْهُ وَقَالَ فِي صَوْتٍ رَصِينٍ لَيْسَ فِيهِ أَثَرٌ مِنْ سُخْرِيَةٍ أَوْ هُزْءٍ:
Dan keluarlah Abdullah bin Mas'ud dari rumah Uqbah bin Abi Mu'ith. Ia keluar menggembalakan kambing untuk keluarga Uqbah. Suatu hari Rasulullah datang bersama Abu Bakar ke tempat Abdullah menggembalakan kambing. Ia adalah orang yang pendek, tingginya sekitar satu lengan, kurus, kakinya kecil. Tidak seorang pun melihatnya kecuali akan tersenyum karena pendeknya dan kecilnya kakinya. Namun Nabi mendekatinya dan berkata dengan suara yang mantap, tidak ada bekas ejekan atau olok-olok di dalamnya:
— هَلْ عِنْدَكَ لَبَنٌ؟
— "Apakah engkau memiliki susu?"
— نَعَمْ، وَلَكِنْ مُؤْتَمَنٌ.
— "Ya, tetapi aku orang yang dipercaya (atas amanah ini)."
وَكَشَفَ الصَّبِيُّ الْقَصِيرُ عَنْ ضَمِيرٍ حَيٍّ وَمَعْدِنٍ نَفِيسٍ. فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ يُحَادِثُهُ وَابْنُ مَسْعُودٍ يَسْتَشْعِرُ كَأَنَّ نُورًا يُصَبُّ فِي فُؤَادِهِ فَتَشْرُقُ نَفْسُهُ بِالنُّورِ. وَمَا انْتَهَتِ الْمُقَابَلَةُ إِلَّا وَكَانَ ابْنُ أُمِّ عَبْدٍ ـ وَكَانَ يُعْرَفُ بِأُمِّهِ ـ قَدْ نَطَقَ الشَّهَادَتَيْنِ بِلِسَانِهِ بَعْدَ أَنْ أَقَرَّ بِهِمَا فُؤَادُهُ، وَقَالَ:
Anak laki-laki yang pendek itu menyingkapkan suara hati yang hidup dan sifat yang berharga. Rasulullah datang menghampirinya berbincang dengannya, dan Ibnu Mas'ud merasa seolah-olah cahaya dituang ke dalam hatinya sehingga jiwanya bersinar dengan cahaya. Pertemuan tidak berakhir kecuali Ibnu Ummi 'Abd -ia dikenal dengan ibunya- telah mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisannya setelah hatinya meyakininya, dan ia berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ عَلِّمْنِي.
"Wahai Rasulullah, ajari aku."
فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَقَالَ:
Maka ia mengusap kepalanya dan berkata:
بَارَكَ اللهُ فِيكَ فَأَنْتَ غُلَامٌ مُعَلَّمٌ.
"Semoga Allah memberkahimu, karena engkau adalah pemuda yang diajari."
كَانَ صِدْقُ إِيمَانِهِ وَحُسْنُ حَظِّهِ وَنِعْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ مَا حَرَّكَ لِسَانَهُ بِالْتِمَاسِ الْعِلْمِ مِنَ رَبِيبِ السَّمَاءِ، فَإِذَا بِهِ يَحِسُّ بَعْدَ أَنْ مَسَحَ رَسُولُ اللهِ رَأْسَهُ كَأَنَّ كُنُوزًا مِنَ الْحِكْمَةِ تَفَجَّرَتْ فِي قَلْبِهِ، وَتَعَلَّقَ الْفَتَى بِالرَّسُولِ الَّذِي آمَنَ بِهِ وَصَدَّقَهُ فَسَارَ يَمْشِي أَمَامَهُ وَمَعَهُ وَيَسْتُرُهُ إِذَا اغْتَسَلَ وَيُوقِظُهُ إِذَا نَامَ وَيُلْبِسُهُ نَعْلَيْهِ إِذَا قَامَ، فَعُرِفَ بِصَاحِبِ سِرِّ رَسُولِ اللهِ.
Kejujuran imannya, keberuntungan baiknya, dan nikmat Allah atasnya adalah apa yang menggerakkan lisannya untuk memohon ilmu dari didikan langit. Maka tiba-tiba ia merasa setelah Rasulullah mengusap kepalanya seolah-olah harta karun hikmah meledak di hatinya. Pemuda itu terikat kepada Rasul yang ia imani dan benarkan, ia pun berjalan di depannya dan bersamanya, menutupi beliau jika beliau mandi, membangunkan beliau jika beliau tidur, dan memakaikan kedua sandal beliau jika beliau bangun, maka ia dikenal sebagai pemilik rahasia Rasulullah.
وَخَرَجَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ مُشْرِقَ الْقَلْبِ يَحْمَدُ اللهَ عَلَى أَنْ هَدَاهُ إِلَى الْإِسْلَامِ، فَمِنْ حُسْنِ طَالِعِهِ أَنَّهُ كَانَ يَأْلَفُ أَبَا بَكْرٍ، وَمِنْ رَحْمَةِ اللهِ عَلَيْهِ أَنْ جَعَلَهُ ذَا بَصِيرَةٍ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَغُوصَ فِي نَفْسِ أَبِي بَكْرٍ لِتَكْتَشِفَ الْكُنُوزَ الزَّاخِرَةَ فِيهِ بِالصِّدْقِ وَرَجَاحَةِ الْعَقْلِ وَإِرْهَافِ الضَّمِيرِ، فَوَقَرَ فِي وِجْدَانِهِ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ عَظِيمٌ لَا تَهْفُو نَفْسُهُ إِلَّا إِلَى الْعَظَمَةِ وَالْكَرَامَةِ وَالطُّهْرِ. فَإِنْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ قَدْ آمَنَ بِمَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ فَلَا بُدَّ أَنَّ مَا جَاءَ بِهِ شَيْءٌ عَظِيمٌ! فَلَمَّا أَلْقَى سَمْعَهُ إِلَى الرَّسُولِ إِذَا مَا رَآهُ وَمَا سَمِعَهُ يَفُوقُ كُلَّ مَا تَصَوَّرَهُ عَقْلُهُ. وَإِذَا بِغِشَاوَةٍ تَنْزَاحُ عَنْ قَلْبِهِ، وَإِذَا بِهِ يَمْتَلِئُ بِأَنْوَارِ الْيَقِينِ.
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah keluar dengan hati yang berseri, memuji Allah karena telah memberinya hidayah kepada Islam. Termasuk keberuntungannya adalah bahwa ia sering bersama Abu Bakar, dan termasuk rahmat Allah baginya adalah bahwa Dia menjadikannya memiliki bashirah (ketajaman mata hati) yang mampu menyelami jiwa Abu Bakar untuk menemukan harta karun yang melimpah di dalamnya berupa kejujuran, kebijaksanaan akal, dan kehalusan hati nurani. Maka tertanam dalam sanubarinya bahwa Abu Bakar adalah orang yang agung, jiwanya tidak condong kecuali kepada keagungan, kemuliaan, dan kesucian. Jika Abu Bakar telah beriman dengan apa yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah, maka pasti apa yang dibawanya adalah sesuatu yang agung! Ketika ia mendengarkan Rasul, maka apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar melebihi semua yang dibayangkan akalnya. Tiba-tiba tirai tersingkap dari hatinya, dan ia pun dipenuhi dengan cahaya keyakinan.
وَخَرَجَ مِنْ دُورِ بَنِي عَدِيٍّ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ وَمَا كَانَ يَهَابُ مِنْ قَوْمِهِ غَيْرَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَهُوَ يَعْرِفُ مَا نَالَ أَبَاهُ زَيْدَ بْنَ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ مِنِ اضْطِهَادِ الْخَطَّابِ بْنِ نُفَيْلٍ لَمَّا آمَنَ بِوَحْدَانِيَّةِ اللهِ وَفَكَّرَ فِي أَنْ يَدْعُوَ قَوْمَهُ إِلَى دِينِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ. إِنَّ الْخَطَّابَ كَانَ يُحَرِّضُ عَلَيْهِ شَبَابَ مَكَّةَ فَكَانُوا يَرْمُونَهُ بِالْحِجَارَةِ حَتَّى اضْطَرُّوهُ لِأَنْ يَفِرَّ إِلَى الْجِبَالِ، وَهُوَ عَلَى ثِقَةٍ بِأَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَشَدُّ تَعَصُّبًا لِآلِهَةِ قَوْمِهِ مِنْ أَبِيهِ، فَلَوْ عَرَفَ عُمَرُ أَنَّ سَعِيدًا ابْنَ عَمِّهِ أَسْلَمَ وَكَفَرَ بِدِينِ آبَائِهِ، وَأَنَّهُ قَدْ يَسَّرَ لِأُخْتِهِ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْخَطَّابِ الدُّخُولَ فِي الدِّينِ الْجَدِيدِ، فَسَيَبْطِشُ عُمَرُ الْجَبَّارُ بِهِ وَبِزَوْجِهِ وَلَنْ يَرُقَّ قَلْبُهُ أَنَّهُ ابْنُ عَمِّهِ وَأَنَّهَا أُخْتُهُ، فَهُوَ لَا يَحْفِلُ بِأَيَّةِ صِلَةٍ إِذَا مَا ثَارَ لِلْأَرْبَابِ!
Dan dari rumah-rumah Bani Adi keluarlah Sa'id bin Zaid, dan ia tidak takut kepada kaumnya selain Umar bin Al-Khattab. Ia mengetahui apa yang dialami ayahnya, Zaid bin Amr bin Nufail, akibat penganiayaan Al-Khattab bin Nufail ketika ia beriman kepada keesaan Allah dan berencana mengajak kaumnya kepada agama ayah mereka, Ibrahim. Al-Khattab memprovokasi pemuda-pemuda Makkah untuk melawannya, lalu mereka melempari dengan batu hingga mereka memaksanya untuk lari ke gunung-gunung. Ia yakin bahwa Umar bin Al-Khattab lebih fanatik terhadap tuhan-tuhan kaumnya daripada ayahnya. Jika Umar tahu bahwa Sa'id, sepupunya, telah masuk Islam dan kufur terhadap agama nenek moyangnya, dan bahwa ia telah mempermudah saudara perempuannya, Fatimah binti Al-Khattab, untuk masuk ke dalam agama yang baru, maka Umar sang penguasa akan menghajarnya dan istrinya, dan hatinya tidak akan melunak bahwa ia adalah sepupunya dan bahwa ia adalah saudara perempuannya, karena ia tidak mempedulikan hubungan apa pun jika ia murka demi tuhan-tuhannya!
وَمِنْ دُورِ عَبْدِ شَمْسٍ خَرَجَ هَاشِمُ بْنُ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ. إِنَّهُ ابْنُ سَيِّدِ عَبْدِ شَمْسٍ، بَلِ ابْنُ مَنْ تُجِلُّهُ قُرَيْشٌ كُلُّهَا حَتَّى إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ يَرَاهُ أَشْرَفَ النَّاسِ، أَوَ يَرْضَى عُتْبَةُ عَنْ صَبْوَةِ ابْنِهِ؟ عُتْبَةُ الَّذِي كَانَ يُرَشِّحُهُ أُمَيَّةُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ لِلرِّسَالَةِ لَمَّا عَرَفَ مِنَ الرُّهْبَانِ أَنَّ الرِّسَالَةَ الْمُنْتَظَرَةَ فِي قُرَيْشٍ وَلَيْسَتْ فِي ثَقِيفٍ؟ إِنَّهُ كَانَ يَرَاهُ الرَّسُولَ الْمَوْعُودَ لَوْلَا أَنَّهُ أَزَرَّتْ بِهِ السِّنُّ فَقَدْ فَاتَ عُتْبَةَ الْأَرْبَعِينَ، وَقَدْ قِيلَ لِأُمَيَّةَ إِنَّ النَّبِيَّ الْمُنْتَظَرَ يُبْعَثُ عَلَى رَأْسِ الْأَرْبَعِينَ. كَيْفَ فَاتَ هَاشِمًا أَنَّهُ بِاتِّبَاعِهِ لِمُحَمَّدٍ يُسِيءُ إِلَى أَبِيهِ وَإِلَى أَبِي سُفْيَانَ زَوْجِ أُخْتِهِ هِنْدٍ؟! إِنَّ نُورَ الدَّعْوَةِ قَدْ بَهَرَهُ وَبَسَاطَتَهَا أَرْضَتْ فِطْرَتَهُ السَّلِيمَةَ، إِنَّهَا الْحَقُّ وَإِنَّهَا مِنْ رَبِّهِ، وَمَا كَانَ لِيَحْفِلَ بِأَبِيهِ وَلَا بِأَبِي سُفْيَانَ بَعْدَ أَنْ اسْتَبَانَ لَهُ الْعَدْلُ وَأَنَّ الشِّرْكَ ظُلْمٌ شَدِيدٌ.
Dan dari rumah-rumah Abdusy Syams keluarlah Hasyim bin Utbah bin Rabi'ah. Ia adalah putra pemimpin Abdusy Syams, bahkan putra dari seseorang yang dihormati oleh seluruh Quraisy, hingga Abu Sufyan menganggapnya orang yang paling mulia. Apakah Utbah ridha terhadap keinginan putranya? Utbah yang dulu dicalonkan oleh Umayyah bin Abi Ash-Shalt untuk menjadi rasul ketika ia mengetahui dari para pendeta bahwa risalah yang ditunggu-tunggu ada di Quraisy, bukan di Tsaqif? Ia dulu melihatnya sebagai rasul yang dijanjikan seandainya usia tidak menghambatnya, karena Utbah telah melewati usia empat puluh, dan telah dikatakan kepada Umayyah bahwa Nabi yang ditunggu diutus tepat di usia empat puluh. Bagaimana bisa Hasyim luput bahwa dengan mengikuti Muhammad ia telah berbuat buruk kepada ayahnya dan kepada Abu Sufyan suami saudara perempuannya, Hindun?! Cahaya dakwah telah memukaunya dan kesederhanaannya telah memuaskan fitrahnya yang suci. Itu adalah kebenaran dan itu datang dari Tuhannya, ia tidak perlu mempedulikan ayahnya maupun Abu Sufyan setelah keadilan jelas baginya dan bahwa kesyirikan adalah kezaliman yang besar.
بَذَرَ مُحَمَّدٌ بَذْرَةَ الْإِيمَانِ فِي كُلِّ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ شَرَفِ قُرَيْشٍ الْعَشَرَةِ بِعَوْنٍ مِنْ رَبِّهِ الَّذِي جَعَلَ قُلُوبَ الْأَحْرَارِ وَالْعَبِيدِ تَفْتَحُ لِدِينِهِ الْقَوِيمِ. وَسَتَتَغَلْغَلُ الْبُذُورُ فِي الْمُجْتَمَعِ الْمَكِّيِّ، وَسَتُرْوَى بِدِمَاءِ الشُّهَدَاءِ لِتَسْتَوِيَ أَعْوَادًا قَوِيَّةً، وَتَتَفَرَّعَ لِتُظَلِّلَ الْإِنْسَانِيَّةَ مِنْ هَجِيرِ الْوَثَنِيَّةِ.
Muhammad menanam benih iman di setiap rumah dari sepuluh rumah terhormat Quraisy dengan pertolongan Tuhannya yang membuat hati orang-orang merdeka dan para budak terbuka untuk agama-Nya yang lurus. Benih-benih itu akan meresap ke dalam masyarakat Makkah, dan akan disirami dengan darah para syuhada agar tegak menjadi batang-batang yang kuat, dan bercabang untuk menaungi kemanusiaan dari teriknya paganisme.
وَأَحَسَّ بَعْضُ الْمَكِّيِّينَ بِالْمُتَسَلِّلِينَ فَخَرَجُوا فِي أَثَرِهِمْ يَرْصُدُونَهُمْ، حَتَّى إِذَا مَا اجْتَمَعَ الْمُسْلِمُونَ بِرَسُولِ اللهِ وَأَلْقَوْا إِلَيْهِ أَسْمَاعَهُمْ وَتَفَتَّحَتْ لَهُ قُلُوبُهُمْ، عَادُوا مُهَرْوِلِينَ إِلَى دُورِ بَنِي مَخْزُومٍ وَأَفْضَوْا إِلَى أَبِي جَهْلٍ بِمَا رَأَوْا، فَجَمَعَ أَبُو جَهْلٍ بَعْضَ رِجَالِهِ ثُمَّ انْطَلَقَ إِلَى حَيْثُ كَانَ مُحَمَّدٌ وَصَحْبُهُ. كَانَ الْمُسْلِمُونَ قَدِ اصْطَفُّوا خَلْفَ نَبِيِّهِمِ الْأَمِينِ وَقَدْ أَسْلَمُوا وُجُوهَهُمْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَدْ قَطَعُوا كُلَّ عَلَاقَتِهِمْ بِالدُّنْيَا وَرَاحُوا يَنْعَمُونَ بِمُنَاجَاةِ رَبِّهِمُ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ. فَلَمَّا أَقْبَلَ أَبُو جَهْلٍ وَرِفَاقُهُ أَخَذَهُمُ ذَلِكَ الْخُشُوعُ الَّذِي رَانَ عَلَى الْمُصَلِّينَ الْوَاقِفِينَ بَيْنَ يَدَى إِلَهٍ لَا يَرَوْنَهُ، فَاخْتَفَوْا خَلْفَ صَخْرَةٍ يَنْظُرُونَ وَقَدْ صُوِّبَتْ عُيُونُهُمْ إِلَى سَلِيلِ بَنِي هَاشِمٍ وَقَدْ أَمَّ أَصْحَابَهُ فَاسْتَشْعَرَ أَبُو جَهْلٍ حَسَدًا أَسْدَلَ حُجُبًا عَلَى بَصَرِهِ وَبَصِيرَتِهِ فَلَمْ يَرَ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ بَيْنَ الْمُصَلِّينَ، وَلَمْ يَرَ الْأَنْوَارَ الَّتِي غَمَرَتِ الْمَكَانَ وَفَاضَتْ مِنَ الْقُلُوبِ. كُلُّ مَا رَآهُ أَنَّ عَلَى بُعْدِ خُطَوَاتٍ مِنْهُ جَمَاعَةً شَقَّتْ عَصَا الطَّاعَةِ وَعَبَدَتْ إِلَهًا غَيْرَ مَا يَعْبُدُونَ، فَوَجَبَ عَلَيْهِ تَأْدِيبُهُمْ، وَلَكِنَّهُ رَأَى أَنَّ مَا مَعَهُ مِنْ رِجَالٍ أَهْوَنُ مِنْ أَنْ يَقْضُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّابِئِينَ، فَوَقَفَ يَنْظُرُ وَهُوَ يَتَمَيَّزُ غَيْظًا يَكَادُ صَدْرُهُ أَنْ يَتَمَزَّقَ.
Beberapa penduduk Makkah merasakan adanya orang-orang yang menyelinap, lalu mereka keluar mengikuti jejak mereka memantau mereka. Hingga ketika kaum muslimin berkumpul dengan Rasulullah dan mereka mendengarkan beliau serta hati mereka terbuka untuk beliau, mereka kembali bergegas ke rumah-rumah Bani Makhzum dan mengabarkan kepada Abu Jahal tentang apa yang mereka lihat. Maka Abu Jahal mengumpulkan beberapa orang laki-lakinya kemudian berangkat ke tempat Muhammad dan para sahabatnya berada. Kaum muslimin telah berbaris di belakang Nabi mereka yang terpercaya, mereka menyerahkan wajah mereka kepada Allah Tuhan semesta alam, mereka telah memutus semua hubungan mereka dengan dunia dan mulai menikmati munajat kepada Tuhan mereka Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Ketika Abu Jahal dan kawan-kawannya datang, mereka diliputi oleh kekhusyukan yang menyelimuti orang-orang yang shalat, berdiri di hadapan Tuhan yang tidak mereka lihat. Mereka bersembunyi di balik batu besar seraya melihat, pandangan mereka diarahkan kepada keturunan Bani Hasyim yang sedang mengimami para sahabatnya. Abu Jahal merasakan kedengkian yang menurunkan tirai pada penglihatan dan mata hatinya, sehingga ia tidak melihat 'Ayyash bin Abi Rabi'ah di antara orang-orang yang shalat, dan tidak melihat cahaya yang memenuhi tempat tersebut dan meluap dari hati-hati. Semua yang ia lihat adalah bahwa beberapa langkah darinya terdapat sekelompok orang yang telah membangkang dan menyembah tuhan selain yang mereka sembah, maka ia wajib menghukum mereka. Namun ia melihat bahwa laki-laki yang bersamanya terlalu lemah untuk menghabisi para pengikut agama baru ini, maka ia berdiri melihat seraya mendidih karena amarah, dadanya hampir terkoyak.
وَقُضِيَتِ الصَّلَاةُ وَانْطَلَقَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَبَعْضُ أَصْحَابِهِ لِقَضَاءِ حَاجَةٍ فَمَرُّوا بِأَبِي جَهْلٍ وَصَحْبِهِ، فَرَاحَ أَبُو جَهْلٍ يَسْخَرُ بِمُحَمَّدٍ وَبِمَا جَاءَ بِهِ وَبِمَنْ اتَّبَعَهُ، فَمَشَى الرِّجَالُ إِلَى الرِّجَالِ وَتَشَابَكُوا بِالْأَيْدِي وَرَاحُوا يَتَقَارَعُونَ بِالْأَلْسُنِ. الْمُسْلِمُونَ يُمَجِّدُونَ رَبَّهُمْ فِي إِيمَانِهِمْ وَالْمُشْرِكُونَ يَذْكُرُونَ هُبَلَ وَاللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ وَمَا يَخْطِرُ عَلَى قُلُوبِهِمْ مِنْ أَسْمَاءِ آلِهَتِهِمْ، فَكَانَتْ قُلُوبُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَتَّجِهُ إِلَى رَبٍّ وَاحِدٍ. بَيْنَمَا كَانَتْ قُلُوبُ الْمُشْرِكِينَ شَتَّى تَتَعَصَّبُ لِآلِهَةٍ مُتَعَدِّدَةٍ لَا تَرْتَفِعُ إِلَى أَكْثَرَ مِنْ حِجَارَةٍ مَنْحُوتَةٍ وَأَخْشَابٍ مَحْفُورَةٍ أَوْ مَنْقُورَةٍ أَوْ مَعَادِنَ مَصْنُوعَةٍ، مَا أَيْسَرَ أَنْ تَكُبَّهَا عَلَى وُجُوهِهَا يَدُ إِنْسَانٍ.
Shalat selesai, Sa'ad bin Abi Waqqash dan beberapa sahabatnya pergi untuk buang hajat, lalu mereka melewati Abu Jahal dan sahabat-sahabatnya. Abu Jahal mulai mengolok-olok Muhammad, apa yang dibawanya, dan orang yang mengikutinya. Laki-laki berjalan mendatangi laki-laki, mereka saling bergulat dengan tangan dan mulai saling beradu argumen dengan lisan. Kaum muslimin memuliakan Tuhan mereka dengan iman mereka, sementara orang-orang musyrik menyebut Hubal, Al-Latta, Al-Uzza, Manat, dan nama-nama tuhan mereka yang terlintas di hati mereka. Hati kaum muslimin bersatu seperti hati satu orang, menuju kepada Tuhan yang satu. Sedangkan hati orang-orang musyrik terpecah, fanatik kepada tuhan-tuhan yang berbilang yang tidak lebih dari sekadar batu pahatan, kayu yang dilubangi atau diukir, atau logam buatan, yang sangat mudah bagi tangan manusia untuk menjungkirbalikkan wajahnya.
وَامْتَدَّتِ الْأَيْدِي إِلَى الْحِجَارَةِ فَمَا كَانَتِ السُّيُوفُ فِي مَنَاطِقِ الرِّجَالِ، وَتَنَاوَلَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ عَظْمَ بَعِيرٍ فَضَرَبَ بِهِ وَجْهَ رَجُلٍ مِنْ رِجَالِ أَبِي جَهْلٍ فَشَجَّهُ، فَسَالَتْ أَوَّلُ دِمَاءٍ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ. كَانَتْ دِمَاءً يَسِيرَةً وَلَكِنَّهَا كَانَتْ إِيذَانًا بِإِرَاقَةِ دِمَاءٍ تُرْوِي أَرْضَ الْعَرَبِ فِي الصِّرَاعِ الْمَرِيرِ الَّذِي سَيَنْشَبُ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، حَتَّى يَتِمَّ نُورُ اللهِ. وَاشْتَدَّ الصِّرَاعُ ضَرَاوَةً وَأُصِيبَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ بِشَجِّ أُذُنِهِ وَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُ الْمُتَلَاحِمِينَ، فَخَشِيَ أَبُو جَهْلٍ أَنْ يَبْلُغَ الصَّوْتُ مُحَمَّدًا وَصَحْبَهُ فَيَخِفُّوا لِنَجْدَةِ إِخْوَانِهِمْ، فَانْسَلَّ وَالَّذِينَ مَعَهُ مِنَ الْمَكَانِ وَقَدْ غَرَسَ فِي قَلْبِ طَاغِيَةِ قُرَيْشٍ كَرَاهِيَةَ مُحَمَّدٍ وَأَصْحَابِهِ، فَإِنْ كَانَ يَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ الْيَوْمَ وَالْغَيْظُ يَنْهَشُ صَدْرَهُ فَسَيَعْمَلُ عَلَى اسْتِئْصَالِ الْبِدْعَةِ الَّتِي جَاءَهُمْ بِهَا ابْنُ أَبِي كَبْشَةَ، فَلَمْ يَنْسَ الْقُرَشِيُّونَ أَنَّ أَبَا كَبْشَةَ جَدَّ مُحَمَّدٍ مِنْ نَاحِيَةِ أُمِّهِ قَدِ ابْتَدَعَ لِقَوْمِهِ عِبَادَةَ الشِّعْرَى دُونَ سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَالنُّجُومِ! وَعَادَ سَعْدٌ وَرِفَاقُهُ إِلَى النَّبِيِّ وَالدَّمُ يَسِيلُ مِنْ أُذُنِهِ، فَضَمَّدَ مُحَمَّدٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَهُ جُرْحَهُ وَقَالَ لَهُ:
Tangan terulur mengambil batu, karena pedang tidak berada di ikat pinggang laki-laki tersebut. Sa'ad bin Abi Waqqash mengambil tulang unta lalu memukulkannya ke wajah seorang laki-laki dari laki-laki Abu Jahal dan melukainya, maka mengalirlah darah pertama di antara kaum muslimin dan orang-orang musyrik. Itu adalah darah yang sedikit namun merupakan tanda bagi pertumpahan darah yang akan membasahi tanah Arab dalam pertarungan pahit yang akan meletus antara kebenaran dan kebatilan, hingga cahaya Allah menjadi sempurna. Pertarungan semakin sengit, Sa'ad bin Abi Waqqash terluka pada telinganya, dan suara orang-orang yang saling bergulat meninggi. Abu Jahal khawatir suara itu sampai kepada Muhammad dan sahabatnya sehingga mereka bergegas menolong saudara-saudara mereka, maka ia dan orang-orang bersamanya menyelinap dari tempat itu, sementara kebencian terhadap Muhammad dan sahabatnya telah tertanam dalam hati tiran Quraisy. Jika ia pulang kepada keluarganya hari ini dengan kemarahan yang menggigit dadanya, maka ia akan bekerja untuk membasmi bid'ah yang dibawa oleh Ibnu Abi Kabsyah kepada mereka. Orang-orang Quraisy tidak lupa bahwa Abu Kabsyah, kakek Muhammad dari pihak ibunya, telah membuat bid'ah bagi kaumnya berupa penyembahan bintang Syi'ra selain bintang-bintang dan planet-planet lainnya! Sa'ad dan sahabatnya kembali kepada Nabi sementara darah mengalir dari telinganya, maka Muhammad 'alaihis salam membalut lukanya dan berkata kepadanya:
— فِي سَبِيلِ اللهِ دَمُكَ يَا سَعْدُ.
— "Darahmu di jalan Allah wahai Sa'ad."
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi