BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim #22

دَبَّتِ الْحَيَاةُ فِي بَيْتِ خَدِيجَةَ، فَأُمُّ أَيْمَنَ تَغْدُو وَتَرُوحُ فِي الدَّارِ وَقَدْ لَاحَ عَلَى وَجْهِهَا الْاهْتِمَامُ، وَوَقَفَتْ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ عِنْدَ مَدْخَلِ غُرْفَةِ نَوْمِ أُمِّهَا الْحَبِيبَةِ، بَيْنَا كَانَتْ زَيْنَبُ وَالْقَابِلَةُ عِنْدَ فِرَاشِ الطَّاهِرَةِ يَنْتَظِرَانِ أَنْ تَضَعَ مَا فِي بَطْنِهَا.
Kehidupan berdenyut di rumah Khadijah, Ummu Aiman pergi-pulang di dalam rumah dan perhatian tampak di wajahnya. Fatimah Az-Zahra berdiri di pintu kamar tidur ibunya tercinta, sementara Zainab dan bidan berada di sisi tempat tidur wanita suci itu, menanti ia melahirkan apa yang ada di dalam kandungannya.
وَجَلَسَ مُحَمَّدٌ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- حَيْثُ اعْتَادَ أَنْ يَجْلِسَ أَهْلُ الْبَيْتِ، وَعَلَى مَقْرُبَةٍ مِنْهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَهِنْدُ بْنُ أَبِي هَالَةَ وَزَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ وَقَدْ لَزِمُوا الصَّمْتَ وَإِنْ أَرْهَفَتْ حَوَاسُهُمْ وَامْتَدَّتْ آذَانُهُمْ إِلَى حُجْرَةِ سَيِّدَةِ نِسَاءِ قُرَيْشٍ.
Muhammad ﷺ duduk di tempat yang biasa diduduki oleh penghuni rumah. Di dekatnya ada Ali bin Abi Thalib, Hindun bin Abi Halah, dan Zaid bin Haritsah. Mereka terdiam, meskipun indra mereka menajam dan telinga mereka terulur ke arah kamar pemimpin wanita Quraisy itu.
وَخَفَّتِ الرَّجُلُ بَعْدَ أَنْ هَرَعَتْ أُمُّ أَيْمَنُ إِلَى سَيِّدَتِهَا، وَلَفَّ الدَّارَ سُكُونٌ وَعَلَا الْوُجُوهَ تَرَقُّبٌ وَانْتِظَارٌ، وَإِذَا بِصَوْتِ وَلِيدٍ يُجَلْجِلُ فِي الْمَكَانِ فَتَنْتَشِي النُّفُوسُ وَتَنْزِلُ طُمَأْنِينَةٌ بِالْقُلُوبِ وَتَنْبَسِطُ الْأَسَارِيرُ، وَإِنْ كَانَ فِي الضَّمَائِرِ تَشَوُّفٌ إِلَى نَوْعِ الْمَوْلُودِ.
Langkah kaki perlahan setelah Ummu Aiman bergegas menuju tuannya. Keheningan menyelimuti rumah, dan wajah-wajah menunjukkan antisipasi dan penantian. Tiba-tiba suara bayi menggema di tempat itu, jiwa-jiwa menjadi girang, ketenangan turun ke hati, dan wajah-wajah menjadi cerah, meskipun di dalam hati ada rasa penasaran akan jenis kelamin si bayi.
وَجَاءَتْ أُمُّ أَيْمَنُ تَسْبِقُهَا فَاطِمَةُ وَعَلَى وَجْهَيْهِمَا الْبُشْرَى، وَقَبْلَ أَنْ تَصِلَا إِلَى حَيْثُ كَانَ رَبُّ الدَّارِ سَبَقَتْهُمَا إِلَيْهِ أَصْوَاتُهُمَا النَّابِضَةُ بِالْفَرَحِ:
Ummu Aiman datang, didahului oleh Fatimah, dan di wajah keduanya terpancar kabar gembira. Sebelum mereka sampai ke tempat kepala rumah tangga, suara mereka yang bergetar karena sukacita mendahului mereka kepadanya:
— وَلَدٌ.. وَلَدٌ.
— Anak laki-laki.. anak laki-laki.
وَانْفَرَجَتِ ابْتِسَامَةُ رِضًا عَنْ أَسْنَانِ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- الْمُفَلَّجَةِ، وَحَمِدَ اللهَ عَلَى مَا آتَاهُ، وَغَمَرَ الدَّارَ فَرَحٌ فَيَّاضٌ. وَزَادَ فِي غِبْطَةِ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنْ رَأَى تَهَلُّلَ الِاسْتِبْشَارِ عَلَى وُجُوهِ عَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَهِنْدٍ وَزَيْدٍ وَأُمِّ أَيْمَنَ، فَقَدْ كَانَتِ الْمَشَاعِرُ النَّبِيلَةُ تَهُزُّهُ حَتَّى لَتَكَادُ تَبُلُّلُ أَهْدَابَ عَيْنَيْهِ.
Senyum ridha tersungging memperlihatkan gigi Rasulullah ﷺ yang renggang. Beliau memuji Allah atas apa yang dianugerahkan-Nya, dan kegembiraan yang meluap-luap membanjiri rumah. Kegembiraan Rasulullah ﷺ bertambah ketika melihat pancaran kebahagiaan di wajah Ali, Fatimah, Hindun, Zaid, dan Ummu Aiman. Perasaan-perasaan mulia itu menggetarkannya hingga hampir membasahi bulu matanya.
وَقَامَ لِيَدْخُلَ عَلَى زَوْجِهِ الَّتِي وَاسَتْهُ وَشَدَّتْ أَزْرَهُ وَوَقَفَتْ إِلَى جِوَارِهِ عَلَى الدَّوَامِ، فَمَشَى يَتَقَلَّعُ كَأَنَّمَا يَنْحَطُّ مِنْ صَبَبٍ ذَرِيعَ الْخُطْوَةِ سَائِلَ الْأَطْرَافِ تَعْلُوهُ مَهَابَةٌ. فَقَدْ غَضَّ طَرْفَهُ لِيُخْفِيَ الْفَرَحَ الَّذِي يَتَرَقْرَقُ فِي مُقْلَتَيْهِ.
Beliau berdiri untuk menemui istrinya yang telah menghiburnya, menguatkan pendiriannya, dan berdiri di sisinya sepanjang waktu. Beliau berjalan tegap seolah-olah turun dari tempat tinggi, langkahnya mantap, anggota tubuhnya luwes, dan wibawa menyelimutinya. Beliau menundukkan pandangannya untuk menyembunyikan kebahagiaan yang menggenang di matanya.
وَتَقَدَّمَ مِنْ فِرَاشِ خَدِيجَةَ فَتَوَّجَتْ شَفَتَيْهِ ابْتِسَامَةٌ رَقِيقَةٌ مَا إِنْ رَأَتْهَا زَوْجُهُ حَتَّى تَبَدَّدَتْ كُلُّ أَوْصَابِهَا وَاسْتَشْعَرَتْ كَأَنَّ رَحْمَةً مِنْ رَبِّهَا فَاضَتْ عَلَيْهَا، فَإِذَا بِكُلِّ مَشَاعِرِهَا تَسْجُدُ لِلهِ شُكْرًا وَإِذَا بِرُوحِهَا تُؤَدِّي فِي لَحْظَةٍ أَعْمَقَ صَلَاةٍ.
Beliau mendekat ke tempat tidur Khadijah, lalu senyuman lembut menghiasi bibirnya. Begitu istrinya melihat senyum itu, lenyaplah semua keletihannya dan ia merasa seolah-olah rahmat dari Tuhannya melimpah kepadanya. Maka segenap perasaannya bersujud kepada Allah sebagai rasa syukur, dan jiwanya dalam sekejap melakukan shalat yang paling mendalam.
وَمَدَّتْ زَيْنَبُ يَدَيْهَا وَرَفَعَتِ الْوَلِيدَ فِي رِقَّةٍ فَقَدَّمَتْهُ إِلَى أَبِيهَا، فَأَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- عَلَى كَفَّيِ الْحَنَانِ فَدَفَقَتْ مِنْ كُنُوزِ قَلْبِهِ مَشَاعِرُ نَابِضَةٌ بِأَجْمَلِ مَا فِي النَّفْسِ الْبَشَرِيَّةِ مِنْ إِحْسَاسَاتِ الْحُبِّ وَالرَّأْفَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالْإِشْفَاقِ.
Zainab mengulurkan tangannya dan mengangkat bayi itu dengan lembut, lalu memberikannya kepada ayahnya. Rasulullah ﷺ mengambilnya dengan penuh kasih sayang, lalu meluaplah dari perbendaharaan hatinya perasaan-perasaan yang bergetar dengan keindahan jiwa manusia berupa rasa cinta, kasih sayang, rahmat, dan belas kasih.
وَرَنَتْ خَدِيجَةُ إِلَى زَوْجِهَا وَفَلْذَةِ كَبِدِهَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُوَ يَمِيلُ عَلَيْهِ لِيَضَعَ قُبْلَةً عَلَى جَبِينِهِ فَأَحَسَّتْ كَأَنَّ فُؤَادَهَا يَلْثَمُ الْوُجُودَ جَمِيعَهُ، وَكَأَنَّ كُلَّ أَفْرَاحِ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ تَنْسَكِبُ فِي وِجْدَانِهَا وَتَغْمُرُ عَوَاطِفَهَا، فَلَا تَجِدُ لَهَا مُنْفَسًا إِلَّا أَنْ تَتَرَقْرَقَ فِي مَآقِيهَا الدُّمُوعُ كَأَنَّهَا مِنْ رَحْمَةِ الرَّحْمَةِ وَعَيْنِ الرَّأْفَةِ وَذَاتِ الرِّقَّةِ وَالْإِشْرَاقِ.
Khadijah memandang suaminya dan buah hatinya yang berada di antara tangannya, saat beliau menunduk untuk mencium keningnya. Ia merasa seolah hatinya mencium seluruh eksistensi, dan seolah-olah semua kegembiraan bumi dan langit tertumpah ke dalam sanubarinya dan membanjiri perasaannya. Ia tidak menemukan jalan keluar selain air mata yang menggenang di kelopak matanya, seolah-olah itu berasal dari rahmat kasih sayang, mata air kelembutan, dan pemilik kehalusan serta cahaya.
كَانَتْ تَرْجُو أَنْ يَكُونَ لَهَا وَلَدٌ مِنَ الرَّجُلِ الْعَظِيمِ الَّذِي اصْطَفَاهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ لِتَبْلِيغِ رِسَالَتِهِ، فَهُوَ شَرَفٌ لَا يُدَانِيهِ شَرَفٌ فِي الدُّنْيَا أَنْ يَكُونَ لَهَا وَلَدٌ مِنْ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ.
Ia berharap memiliki anak dari pria agung yang dipilih oleh Tuhan semesta alam untuk menyampaikan risalah-Nya. Merupakan kehormatan yang tidak ada tandingannya di dunia jika ia memiliki anak dari penutup para nabi.
وَكَانَتْ تُقَدِّرُ النِّعْمَةَ الَّتِي خَصَّهَا اللهُ بِهَا مِنْ فَيْضِ كَرَمِهِ فَلَمْ تَجِدْ لِلتَّعْبِيرِ عَنْ شُكْرِهَا الْعَمِيقِ لِمَا أَعْطَاهَا اللهُ غَيْرَ الْإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، فَأَمَرَتْ بِنَحْرِ النَّحَائِرِ وَتَوْزِيعِهَا عَلَى فُقَرَاءِ مَكَّةَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ.
Ia menghargai nikmat yang Allah khususkan baginya dari limpahan kemurahan-Nya. Ia tidak menemukan cara lain untuk mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas apa yang diberikan Allah kepadanya selain dengan berinfak di jalan Allah. Ia memerintahkan untuk menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada fakir miskin di Mekkah demi mencari keridhaan Allah.
وَذَاعَ فِي مَكَّةَ أَنَّ الطَّاهِرَةَ وَسَيِّدَةَ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَنْجَبَتْ لِأَبِي الْقَاسِمِ ذَكَرًا وَأَنَّهُ سَمَّاهُ عَبْدَ اللهِ، فَهَرَعَ الْمُسْلِمُونَ مُسْتَبْشِرِينَ فَرِحِينَ إِلَى دَارِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مُهَنِّئِينَ بِأَنْ مَنَّ اللهُ عَلَيْهِ بِمَنْ يَرِثُ الْأَمْجَادَ.
Tersebar kabar di Mekkah bahwa wanita suci dan pemimpin wanita Quraisy itu melahirkan seorang anak laki-laki untuk Abul Qasim, dan ia menamainya Abdullah. Umat Muslim bergegas dengan gembira dan sukacita menuju rumah Nabi ﷺ untuk memberikan ucapan selamat karena Allah telah menganugerahkan kepadanya seseorang yang akan mewarisi kemuliaan.
وَلَمَّا خَرَجَ أَبُو الْقَاسِمِ عَلَيْهِمْ بِهِ خَفَقَتْ قُلُوبُهُمْ بِالْحُبِّ وَهُمْ يَمُدُّونَ أَعْيُنَهُمْ إِلَى بِضْعَةٍ مِنَ الرَّسُولِ -عَلَيْهِ السَّلَامُ-. وَلَمَّا كَانَ عَبْدُ اللهِ قَدْ وُلِدَ بَعْدَ اصْطِفَاءِ اللهِ لِأَبِيهِ وَلَمْ يَشْهَدْ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ شَيْئًا، فَقَدْ لَقَّبَهُ الْمُسْلِمُونَ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ، وَلَا غَرْوَ فَقَدْ وُلِدَ فِي نُورِ الْإِسْلَامِ.
Ketika Abul Qasim keluar menemui mereka bersamanya, hati mereka bergetar karena cinta sambil menatap bagian dari Rasulullah ﷺ. Karena Abdullah lahir setelah Allah memilih ayahnya dan ia tidak menyaksikan sedikit pun urusan jahiliyah, maka kaum Muslim menjulukinya dengan Ath-Thayyib dan Ath-Thahir. Tidak mengherankan, karena ia lahir dalam cahaya Islam.
وَتَعَلَّقَ قَلْبُ خَدِيجَةَ بِالْوَلِيدِ فَأَبَتْ أَنْ تَدْفَعَ بِهِ إِلَى الْمُرْضِعَاتِ فِي الْيَوْمِ الثَّامِنِ مِنْ مَوْلِدِهِ كَمَا كَانَتْ عَادَةُ سَادَاتِ قُرَيْشٍ، وَأَقْنَعَتْ نَفْسَهَا بِأَنَّهُ لَنْ يَجِدَ فِي قَبَائِلِ الْبَادِيَةِ مَنْ هُوَ أَفْصَحُ مِنْ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَلَا مَنْ هُوَ فِي مِثْلِ عِلْمِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَبِيبِ السَّمَاءِ. كَانَتْ دَارُهَا مَنَارَةً لِلدِّينِ الْجَدِيدِ وَإِنَّهُ لَخَيْرٌ لِعَبْدِ اللهِ أَنْ يَشِبَّ فِي مَنْبَعِ الْحِكْمَةِ وَالنُّورِ.
Hati Khadijah terpikat pada bayi itu, sehingga ia menolak untuk menyerahkannya kepada ibu susuan pada hari kedelapan kelahirannya sebagaimana kebiasaan para pemimpin Quraisy. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan menemukan di suku-suku pedalaman seseorang yang lebih fasih daripada Rasulullah ﷺ, dan tidak pula orang yang memiliki ilmu seperti Ali bin Abi Thalib, didikan langit. Rumahnya adalah menara bagi agama baru, dan sungguh lebih baik bagi Abdullah untuk tumbuh di sumber kebijaksanaan dan cahaya.
وَكَانَ عَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ يُدَاعِبَانِ عَبْدَ اللهِ وَخَدِيجَةُ تَرْنُو إِلَيْهِمَا مُتَفَرِّحَةً. وَسُرْعَانَ مَا يَشْرُدُ خَيَالُهَا فَتَذْكُرُ مَا قَالَ زَوْجُهَا الْحَبِيبُ لَيْلَةَ مَوْلِدِ ابْنِ أَبِي طَالِبٍ: «لَقَدْ وُلِدَ لَنَا اللَّيْلَةَ مَوْلُودٌ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْنَا بِهِ أَبْوَابًا كَثِيرَةً مِنَ النِّعْمَةِ وَالرَّحْمَةِ».
Ali dan Fatimah bercanda dengan Abdullah, dan Khadijah memandang mereka dengan gembira. Namun, segera pikirannya melayang, teringat apa yang dikatakan suaminya tercinta pada malam kelahiran putra Abu Thalib: "Telah lahir bagi kita malam ini seorang bayi yang dengannya Allah membukakan bagi kita banyak pintu nikmat dan rahmat."
فَفِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ كُشِفَ عَنْ بَصَرِ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَشَاهَدَ أَنْوَارًا وَهُوَ يَتَبَتَّلُ فِي غَارِ حِرَاءٍ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَتَيَمَّنُ بِتِلْكَ السَّنَةِ وَيُسَمِّيهَا سَنَةَ الْخَيْرِ وَسَنَةَ الْبَرَكَةِ.
Pada malam itu, penglihatan Muhammad ﷺ tersingkap, ia melihat cahaya saat ia beribadah di Gua Hira. Rasulullah ﷺ menganggap tahun itu penuh keberkahan dan menamainya tahun kebaikan dan tahun keberkahan.
كَانَ عَلِيٌّ فِي حِجْرِ ابْنِ عَمِّهِ وُلِدَ عَلَى الْفِطْرَةِ وَقَبْلَ أَنْ يُفْسِدَ أَبَوَاهُ تِلْكَ الْفِطْرَةَ بِتَلْقِينِهِ عَادَاتِ قَوْمِهِ وَمُعْتَقَدَاتِهِمْ، أَكْرَمَهُ اللهُ بِأَنْ دَفَعَ بِهِ إِلَى دَارِ النَّدْوَةِ لِيَتَوَلَّى أَبُو الْقَاسِمِ تَرْبِيَتَهُ فَيَعْصِمَهُ مِنْ مَسَاوِئِ الْجَاهِلِيَّةِ، فَإِنْ كَانَ اللهُ قَدْ كَرَّمَ وَجْهَ عَلِيٍّ وَقَدْ وُلِدَ قَبْلَ الرِّسَالَةِ بِعَشْرِ سِنِينَ فَعَبْدُ اللهِ قَدْ وُلِدَ بَعْدَ الْمَبْعَثِ وَلَا كَانَ كَافِرًا طَرْفَةَ عَيْنٍ.
Ali berada dalam asuhan sepupunya, lahir dalam fitrah sebelum orang tuanya merusak fitrah tersebut dengan menanamkan adat dan keyakinan kaumnya. Allah memuliakannya dengan memasukkannya ke Darun Nadwah agar Abul Qasim mengambil alih pendidikannya untuk melindunginya dari keburukan jahiliyah. Jika Allah memuliakan wajah Ali karena ia lahir sepuluh tahun sebelum risalah, maka Abdullah lahir setelah masa kenabian dan tidak pernah menjadi kafir sedetik pun.
كَانَتْ خَدِيجَةُ سَعِيدَةً بِعَلِيٍّ، سَعِيدَةً بِفَاطِمَةَ، سَعِيدَةً بِنُورِ النُّبُوَّةِ الَّتِي أَشْرَقَتْ فِي دَارِهَا. وَبَلَغَتْ سَعَادَتُهَا ذِرْوَتَهَا لَمَّا أَنْجَبَتْ لِرَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَبْدَ اللهِ. فَغِبْطَتُهَا قَدْ فَاقَتْ ذَلِكَ السُّرُورَ الَّذِي غَشِيَهَا لَمَّا جَاءَتْ بِالْقَاسِمِ، فَالْقَاسِمُ كَانَ ابْنَ الرَّجُلِ النَّبِيلِ الَّذِي تَطْمَعُ خَدِيجَةُ فِي أَنْ يَكُونَ هُوَ النَّبِيُّ الْمُرْتَقَبُ. أَمَّا عَبْدُ اللهِ فَهُوَ وَرِيثُ مَجْدِ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- اصْطَفَاهُ رَبُّهُ لِيُبَلِّغَ النَّاسَ رِسَالَتَهُ. وَهُوَ مَجْدٌ لَيْسَ دُونَهُ مُنْتَهًى وَلَا وَرَاءَهُ مَرْمًى.
Khadijah bahagia dengan Ali, bahagia dengan Fatimah, bahagia dengan cahaya kenabian yang menyinari rumahnya. Kebahagiaannya mencapai puncak saat melahirkan Abdullah untuk Rasulullah ﷺ. Kegembiraannya melampaui kebahagiaan saat ia melahirkan Al-Qasim. Al-Qasim adalah putra dari pria mulia yang diharapkan Khadijah menjadi nabi yang dinanti. Adapun Abdullah, ia adalah pewaris kemuliaan Rasulullah ﷺ yang dipilih Tuhannya untuk menyampaikan risalah kepada manusia. Sebuah kemuliaan yang tidak ada ujungnya dan tidak ada batasnya.
وَرَاحَتْ خَدِيجَةُ تَحْتَضِنُ ابْنَهَا وَقَدْ جَاشَتْ عَوَاطِفُ الْأُمُومَةِ فِيهَا حَتَّى كَادَتْ تَفْتِنُهَا عَنْ جَلِيلِ رِسَالَتِهَا. فَهِيَ لَمْ تُخْلَقْ لِتَكُونَ حَاضِنَةً لِوَلِيدٍ حَتَّى لَوْ كَانَ وَلَدَ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، بَلْ خُلِقَتْ لِتَكُونَ حَاضِنَةَ أَعْظَمِ رِسَالَةٍ حَمَلَهَا بَشَرٌ، لِتَكُونَ أُمًّا لِلْمُؤْمِنِينَ جَمِيعًا فِي مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا، أُمًّا يَفِيضُ حَنَانُهَا وَعَطْفُهَا وَشَذَى ذِكْرَاهَا الْعَطِرَةِ عَلَى أَبْنَاءِ ذَلِكَ الدِّينِ الْقَوِيمِ الَّذِي بَزَغَ نُورُهُ أَوَّلَ مَا بَزَغَ مِنْ دَارِهَا عَلَى مَرِّ السِّنِينَ وَالْأَجْيَالِ وَالْقُرُونِ. وَإِلَى أَنْ يَرِثَ اللهُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا.
Khadijah memeluk putranya saat perasaan keibuannya meluap hingga hampir membuatnya teralihkan dari risalahnya yang agung. Ia tidak diciptakan hanya untuk menjadi pengasuh bayi, meskipun itu adalah putra Rasulullah ﷺ, melainkan diciptakan untuk menjadi pengasuh risalah terbesar yang pernah dibawa manusia. Untuk menjadi ibu bagi semua orang mukmin di timur dan barat bumi, ibu yang kasih sayang dan keharuman ingatannya yang harum mengalir kepada putra-putra agama yang lurus itu, yang cahayanya pertama kali terbit dari rumahnya sepanjang tahun, generasi, dan abad, hingga Allah mewarisi bumi dan seisinya.
كَانَ الْإِسْلَامُ لَا يَزَالُ سِرًّا فِي صُدُورِ الْمُؤْمِنِينَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ اللهُ قَدْ أَمَرَ رَسُولَهُ بِأَنْ يَقُومَ وَيُنْذِرَ وَيُكَبِّرَ رَبَّهُ فَقَدْ كَانَ يَدْعُو صَحَابَتَهُ وَمَنْ يَثِقُ بِهِمْ. وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو سِرًّا فِي نَاحِيَةٍ وَعُثْمَانُ يَدْعُو سِرًّا فِي نَاحِيَةٍ وَسَعْدٌ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَكُلُّ مَنْ أَشْرَقَ قَلْبُهُ بِنُورِ الْيَقِينِ يَدْعُونَ إِلَى الدِّينِ الْجَدِيدِ هَمْسًا، فَمَا اسْتَعْلَنَ أَمْرُ الْإِسْلَامُ بَعْدُ، وَهُوَ فِي حَاجَةٍ إِلَى جُهُودٍ مُضْنِيَةٍ وَصَبْرٍ طَوِيلٍ وَكِفَاحٍ مَرِيرٍ حَتَّى يُتِمَّ اللهُ نُورَهُ، وَهُوَ أَحْوَجُ مَا يَكُونُ إِلَى إِيمَانِ خَدِيجَةَ وَنُصْرَتِهَا وَصُمُودِهَا كَالطَّوْدِ إِلَى جَانِبِ الرَّسُولِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، لَا تُزَعْزِعُهَا عَوَاصِفُ الشِّرْكِ وَلَا تَنَالُ مِنْ عَزِيمَتِهَا أَسْلِحَةُ الِاضْطِهَادِ وَلَا يَشْغَلُهَا عَنْ تَأْيِيدِ دِينِ اللهِ مَشَاغِلُ مَنْ وَلَدَ وَدُنْيَا، فَقَدِ ارْتَضَتْ أَنْ تَكُونَ لِلهِ وَمَنْ كَانَ لِلهِ لَا يُشْغَلُ عَنْهُ بِمَا سِوَاهُ.
Islam masih menjadi rahasia di dada orang-orang yang beriman. Jika Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk bangkit, memberi peringatan, dan mengagungkan Tuhannya, maka beliau berdakwah kepada sahabatnya dan orang yang ia percayai. Abu Bakar berdakwah secara diam-diam di satu sisi, Utsman di sisi lain, begitu pula Sa'ad, Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan setiap orang yang hatinya diterangi cahaya keyakinan mengajak kepada agama baru secara berbisik. Perkara Islam belum terang-terangan, ia masih membutuhkan usaha yang melelahkan, kesabaran yang panjang, dan perjuangan yang pahit hingga Allah menyempurnakan cahaya-Nya. Ia sangat membutuhkan iman Khadijah, dukungan, dan ketegarannya laksana gunung di sisi Rasul ﷺ, yang tidak tergoyahkan oleh badai kemusyrikan, tidak terpengaruh oleh senjata penindasan, dan tidak teralihkan dari mendukung agama Allah oleh kesibukan anak dan dunia. Ia telah ridha menjadi milik Allah, dan siapa yang menjadi milik Allah tidak akan teralihkan dari-Nya oleh apa pun selain-Nya.
وَمَرَّتِ الْأَيَّامُ وَمُحَمَّدٌ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يُقَابِلُ الرَّاغِبِينَ فِي الدِّينِ الْجَدِيدِ فِي دَارِهِ أَوْ فِي شِعَابِ الْجِبَالِ بَعِيدًا عَنْ عُيُونِ سَادَاتِ مَكَّةَ وَأَشْرَافِهَا. يَعْرِضُ عَلَيْهِمُ الْإِسْلَامَ أَوْ يُفَقِّهُهُمْ فِيهِ ثُمَّ يَعُودُ إِلَى خَدِيجَةَ يَقُصُّ عَلَيْهَا مَا كَانَ فِي يَوْمِهِ. وَهِيَ تَصْغَى إِلَيْهِ فِي فَرَحٍ وَاسْتِبْشَارٍ. ثُمَّ تَدْفَعُ إِلَيْهِ بِابْنِهِ عَبْدِ اللهِ فَيَأْخُذُهُ وَيُقَبِّلُهُ وَيُدَاعِبُهُ فَيَسْتَشْعِرُ كَأَنَّ أَوْصَابَ الْيَوْمِ قَدْ تَبَخَّرَتْ وَأَنَّ عَوَاطِفَ رَقِيقَةً حَانِيَةً تَتَفَجَّرُ مِنْ فُؤَادِهِ فَتَغْمُرُهُ بِسَعَادَةٍ وَاسْتِبْشَارٍ.
Hari-hari berlalu, Muhammad ﷺ menemui orang-orang yang menginginkan agama baru di rumahnya atau di lereng pegunungan, jauh dari mata para pemimpin dan bangsawan Mekkah. Beliau memaparkan Islam kepada mereka atau mengajarkan pemahaman agama kepada mereka, lalu kembali kepada Khadijah menceritakan apa yang terjadi pada harinya. Ia mendengarkan dengan gembira dan penuh harapan. Kemudian ia menyerahkan putranya, Abdullah, kepadanya, lalu beliau mengambilnya, menciumnya, dan bercanda dengannya, sehingga beliau merasa seolah keletihan hari itu telah menguap dan perasaan lembut serta penuh kasih meledak dari hatinya, membanjirinya dengan kebahagiaan dan optimisme.
كَانَ يُحِبُّ زَيْنَبَ وَرُقَيَّةَ وَأُمَّ كُلْثُومٍ وَفَاطِمَةَ وَكَانَ يَفِيضُ عَلَيْهِنَّ مِنْ فَيْضِ قَلْبِهِ الْكَبِيرِ. وَقَدْ حَزِنَ عَلَى مَوْتِ الْقَاسِمِ، فَلَمَّا مَنَّ اللهُ عَلَيْهِ بِعَبْدِ اللهِ وَجَدَ فِيهِ عِوَضًا عَنْ أَخِيهِ فَتَعَلَّقَ بِهِ وَأَحَبَّهُ. وَكَانَ يُحِسُّ غِبْطَةً لَمَّا يَسْمَعُ أَصْحَابَهُ يُكَنُّونَ الصَّغِيرَ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ. وَقَدْ شَكَرَ اللهَ بِلِسَانِهِ وَفُؤَادِهِ وَكُلِّ جَوَارِحِهِ أَنْ جَاءَ عَبْدُ اللهِ بَعْدَ أَنْ اصْطَفَاهُ رَبُّهُ لِرِسَالَتِهِ، فَسَيَشِبُّ فِي وَهَجِ الْأَنْوَارِ.
Beliau mencintai Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah, dan beliau melimpahkan kasih sayang kepada mereka dari limpahan hatinya yang besar. Beliau sedih atas kematian Al-Qasim, maka ketika Allah mengaruniakan Abdullah, beliau menemukan pengganti saudaranya, sehingga beliau terikat kepadanya dan mencintainya. Beliau merasa gembira ketika mendengar para sahabatnya menjuluki si kecil dengan Ath-Thayyib dan Ath-Thahir. Beliau bersyukur kepada Allah dengan lisan, hati, dan seluruh anggota tubuhnya bahwa Abdullah datang setelah Rabb-nya memilihnya untuk risalah-Nya, sehingga ia akan tumbuh dalam kilauan cahaya.
وَذَاتَ يَوْمٍ هَرَعَتْ إِلَيْهِ خَدِيجَةُ وَفِي وَجْهِهَا هَلَعٌ وَقَالَتْ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللهِ مَرِيضٌ، فَخَفَّ إِلَى حَيْثُ كَانَ ابْنُهُ فِي أَحْضَانِ أُمِّ أَيْمَنَ وَنَظَرَ فِي وَجْهِهِ فَأَلْفَاهُ ذَابِلًا وَقَدْ ضَاقَ صَدْرُهُ وَكَأَنَّهُ يَتَنَفَّسُ مِنْ ثَقْبِ إِبْرَةٍ، فَأَحَسَّ أَبُو الْقَاسِمِ أَسًى يَطُوفُ بِهِ، وَتَحَرَّكَتْ رِقَّتُهُ فَمَدَّ يَدَيْهِ وَتَنَاوَلَ ابْنَهُ وَضَمَّهُ إِلَى صَدْرِ الْحَنَانِ، فَاسْتَشْعَرَ بِالطَّيِّبِ يَنْتَفِضُ فِي حِضْنِهِ فَتَرَقْرَقَ الدَّمْعُ فِي عَيْنَيْهِ.
Suatu hari, Khadijah bergegas menemuinya dengan wajah panik dan berkata bahwa Abdullah sakit. Beliau bergegas ke tempat putranya berada di pangkuan Ummu Aiman dan melihat wajahnya, ia menemukannya layu dan dadanya sesak seolah-olah ia bernapas melalui lubang jarum. Abul Qasim merasakan kesedihan menyelimutinya, kelembutannya bergerak, beliau mengulurkan tangannya, mengambil putranya, dan mendekapnya ke dada kasih sayang. Beliau merasakan si kecil (Ath-Thayyib) bergetar dalam pelukannya, maka air mata pun menggenang di matanya.
وَرَأَتْ خَدِيجَةُ الْمُعَبِّرَاتِ بَيْنَ أَهْدَابِهِ الطَّوِيلَةِ. فَاشْتَدَّ وَجِيبُ قَلْبِهَا وَانْتَشَرَتْ رَهْبَةٌ بَيْنَ ضُلُوعِهَا وَنَزَلَ حُزْنٌ ثَقِيلٌ. فَقَدْ فَطِنَتْ إِلَى أَنَّ عَبْدَ اللهِ يَمُوتُ. أَيَمْضِي عَبْدُ اللهِ هَكَذَا سَرِيعًا بَعْدَ أَنْ مَلَأَ الدَّارَ حَيَاةً وَأَمَلًا؟ أَتَمُوتُ أَمَانِيهَا الْمُشْرِقَةُ الْمُجَنَّحَةُ الْعَرِيضَةُ الَّتِي دَاعَبَتْهَا كُلَّمَا مَدَّتْ عَيْنَيْهَا إِلَى ابْنِ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-؟ كَانَتْ تَرَى فِيهِ وَرِيثَ النَّفْحَةِ الْإِلَهِيَّةِ وَالشَّرَفِ الَّذِي لَا يَسْمُو إِلَيْهِ شَرَفٌ. وَمَا اتَّضَحَتْ لَهَا فِي ذَاكَ الْوَقْتِ حَقِيقَةُ أَنَّ مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- لَيْسَ مِيرَاثَ فَرْدٍ مِنَ الْبَشَرِ أَوْ جَمَاعَةٍ مِنَ النَّاسِ، بَلْ مِيرَاثَ الْبَشَرِيَّةِ جَمْعَاءَ.
Khadijah melihat pertanda di antara bulu matanya yang panjang. Detak jantungnya mengencang, rasa takut menyebar di antara tulang rusuknya, dan kesedihan yang berat turun. Ia menyadari bahwa Abdullah sedang sekarat. Apakah Abdullah pergi begitu cepat setelah mengisi rumah dengan kehidupan dan harapan? Apakah harapan-harapannya yang cerah, luas, dan bersayap yang membelainya setiap kali ia menatap putra Rasulullah ﷺ akan mati? Ia melihat dalam dirinya pewaris hembusan ilahi dan kehormatan yang tidak ada kehormatan lain yang bisa melampauinya. Namun pada waktu itu, belum jelas baginya hakikat bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ bukanlah warisan seorang individu manusia atau sekelompok orang, melainkan warisan seluruh umat manusia.
إِنَّهَا تَقْرَأُ فِي وَجْهِ زَوْجِهَا هَوْلَ الْفَاجِعَةِ وَتَسْتَشْعِرُ مِنَ الْأَسَى الَّذِي غَمَرَهُ قِمَّةَ الْمَأْسَاةِ فَتَرْتَجِفُ مِنَ الرَّأْسِ إِلَى الْقَدَمِ، فَعَبْدُ اللهِ يَجُودُ بِأَنْفَاسِهِ وَيَدِبُّ الْفَنَاءُ فِيهِ لِيُوَدِّعَ الدُّنْيَا.
Ia membaca kengerian musibah di wajah suaminya dan merasakan puncak tragedi dari kesedihan yang membanjirinya, sehingga ia gemetar dari kepala hingga kaki. Abdullah sedang mengembuskan napas terakhirnya dan kefanaan merayap padanya untuk meninggalkan dunia.
وَا قَلْبَاهُ! وَا كَرْبَاهُ! ذَهَبَ عَبْدُ اللهِ وَلَنْ يَئُوبَ، وَسَيُقْبَرُ كَمَا قُبِرَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ مُخَلِّفًا فِي الْقَلْبِ حَسَرَاتٍ. إِنَّهَا حَزِنَتْ عَلَى فَقْدِ الْقَاسِمِ وَلَكِنَّ حُزْنَهَا عَلَى فَقْدِ عَبْدِ اللهِ يَفُوقُ كُلَّ مَا مَرَّ بِهَا مِنْ أَحْزَانٍ، فَالْأَمَلُ فِي أَنْ تَنْجُبَ لِأَبِي الْقَاسِمِ وَلَدًا بَعْدَ الْقَاسِمِ كَانَ كَبِيرًا، أَمَّا الْيَوْمَ فَلَا أَمَلَ فِي الْإِنْجَابِ.
Wahai hatiku! Wahai kesedihanku! Abdullah telah pergi dan tidak akan kembali, dan ia akan dikuburkan sebagaimana saudaranya telah dikuburkan sebelumnya, meninggalkan penyesalan di hati. Ia sedih atas hilangnya Al-Qasim, tetapi kesedihannya atas hilangnya Abdullah melampaui semua kesedihan yang pernah dialaminya. Harapan untuk melahirkan anak bagi Abul Qasim setelah Al-Qasim dulu sangat besar, namun hari ini tidak ada harapan lagi untuk melahirkan.
وَوَقَعَتْ عَيْنَاهَا عَلَى زَوْجِهَا الْوَالِهِ الْحَزِينِ وَهُوَ يُسَجِّي ابْنَهُ الْحَبِيبَ فِي فِرَاشِهِ وَالدُّمُوعُ تَسِيلُ عَلَى خَدَّيْهِ وَتُبَلِّلُ لِحْيَتَهُ، فَلَمْ تَسْتَطِعِ احْتِمَالَ لَوْعَةِ النَّفْسِ فَأَجْهَشَتْ بِالْبُكَاءِ. وَارْتَفَعَ صَوْتُ أُمِّ أَيْمَنَ بِالنَّحِيبِ، وَجَاءَ عَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَقَدْ فَطِنَا إِلَى أَنَّ الْمَوْتَ قَدِ اخْتَطَفَ الطَّيِّبَ فَخَنَقَتْهُمَا الْعَبَرَاتُ. وَرَاحَتْ خَدِيجَةُ تَذْرِفُ الدَّمْعَ الْهَتُونِ وَلَقِيَتْ مِنْ مُصِيبَتِهَا نَصَبًا، فَذَهَبَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يُوَاسِيهَا وَيَمْسَحُ بِحَنَانِهِ عَنْ فُؤَادِهَا الْأَحْزَانَ، وَإِنْ كَانَ فُؤَادُهُ يَكَادُ يَنْفَطِرُ عَلَى الطَّاهِرِ الْحَبِيبِ.
Matanya tertuju pada suaminya yang bingung dan sedih saat ia membaringkan putranya tercinta di tempat tidurnya, air mata mengalir di pipinya dan membasahi janggutnya. Ia tidak sanggup menahan kesedihan jiwa, lalu ia menangis tersedu-sedu. Suara ratapan Ummu Aiman membumbung tinggi, dan Ali serta Fatimah datang setelah menyadari bahwa kematian telah merenggut Ath-Thayyib, sehingga tangisan mencekik mereka. Khadijah terus meneteskan air mata yang deras dan mendapati musibahnya begitu melelahkan. Rasulullah ﷺ menghampirinya untuk menghiburnya dan menghapus kesedihan dari hatinya dengan kasih sayangnya, meskipun hatinya sendiri hampir hancur karena kematian si suci yang tercinta.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi