كَانَ أَبُو سُفْيَانَ وَالْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَجُوبَانِ السُّوقَ فِي الْيَمَنِ وَإِذَا بِرَسُولٍ يَقْدَمُ مِنْ مَكَّةَ وَيُقَدِّمُ إِلَى أَبَى سُفْيَانَ كِتَابًا مِنَ ابْنِهِ حَنْظَلَةَ ، فَيَقْرَأُ الْكِتَابَ فَيَتَغَيَّرُ لَوْنُهُ وَيَظْهَرُ فِي وَجْهِهِ أَثَرُ الِانْفِعَالِ . فَلَمَّا رَأَى الْعَبَّاسُ مَا اعْتَرَاهُ قَالَ لَهُ :
Abu Sufyan dan Abbas bin Abdul Muthalib sedang mengelilingi pasar di Yaman, tiba-tiba seorang utusan datang dari Makkah dan menyerahkan surat kepada Abu Sufyan dari anaknya, Hanzhalah. Ia membaca surat itu, lalu warnanya berubah dan tampak pada wajahnya bekas emosi. Ketika Abbas melihat apa yang menimpanya, ia berkata kepadanya:
— مَاذَا فِي الْكِتَابِ يَا أَبَا حَنْظَلَةَ ؟
— "Apa isi surat itu, wahai Abu Hanzhalah?"
فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ وَهُوَ شَارِدٌ :
Abu Sufyan menjawab dengan melamun:
إِنَّ مُحَمَّدًا قَائِمٌ فِي أَبْطَحِ مَكَّةَ يَقُولُ : أَنَا رَسُولُ اللهِ ، أَدْعُو إِلَى اللهِ .
"Sesungguhnya Muhammad sedang berdiri di Abthah Makkah mengatakan: Aku adalah utusan Allah, aku mengajak kepada Allah."
فَفَشَا ذَلِكَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِ الْيَمَنِ فَجَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْيَهُودِ إِلَى حَيْثُ كَانَ أَبُو سُفْيَانَ وَالْعَبَّاسُ فَقَالَ : بَلَغَنِي أَنَّ فِيكُمْ عَمَّ هَذَا الرَّجُلِ الَّذِي قَالَ مَا قَالَ .
Berita itu pun tersebar di majelis-majelis penduduk Yaman. Lalu seorang pendeta Yahudi datang ke tempat di mana Abu Sufyan dan Abbas berada, ia berkata: "Sampai kepadaku bahwa di antara kalian terdapat paman dari orang yang mengatakan apa yang telah ia katakan."
— نَعَمْ .
— "Ya."
فَقَالَ الْحَبْرُ وَهُوَ يَتَفَرَّسُ فِي وَجْهِ الْعَبَّاسِ :
Pendeta itu berkata seraya memperhatikan wajah Abbas:
— نَشَدْتُكَ اللهَ هَلْ كَانَ لِابْنِ أَخِيكَ صَبْوَةٌ ؟
— "Aku bersumpah demi Allah kepadamu, apakah keponakanmu itu pernah berbuat kekonyolan di masa kecil?"
— لَا وَاللهِ وَلَا كَذَبَ وَلَا خَانَ وَلَا كَانَ اسْمُهُ عِنْدَ قُرَيْشٍ إِلَّا الْأَمِينُ .
— "Tidak, demi Allah. Dia tidak pernah berbohong, tidak pernah berkhianat, dan namanya di kalangan Quraisy tidak lain adalah Al-Amin."
— هَلْ كَتَبَ بِيَدِهِ ؟
— "Apakah dia bisa menulis dengan tangannya?"
فَأَرَادَ الْعَبَّاسُ أَنْ يَقُولَ نَعَمْ ، فَخَشَى مِنْ أَبِي سُفْيَانَ أَنْ يُكَذِّبَهُ وَيَرُدَّ عَلَيْهِ فَقَالَ : لَا يَكْتُبُ . فَوَثَبَ الْحَبْرُ وَتَرَكَ رِدَاءَهُ وَقَالَ : ذُبِحَتْ يَهُودُ وَقُتِلَتْ يَهُودُ .
Abbas ingin menjawab ya, namun ia khawatir Abu Sufyan akan mendustakannya dan menyanggahnya, maka ia berkata: "Dia tidak bisa menulis." Maka pendeta itu melompat dan meninggalkan selendangnya seraya berkata: "Yahudi telah disembelih dan Yahudi telah dibunuh."
وَرَجَعَ الْعَبَّاسُ وَأَبُو سُفْيَانَ إِلَى مَنْزِلِهِمَا فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ :
Abbas dan Abu Sufyan pulang ke rumah mereka, lalu Abu Sufyan berkata:
— يَا أَبَا الْفَضْلِ إِنَّ يَهُودَ تَفْزَعُ مِنِ ابْنِ أَخِيكَ .
— "Wahai Abu Al-Fadhl, sesungguhnya orang-orang Yahudi ketakutan terhadap keponakanmu."
كَانَ الْعَبَّاسُ عَلَى عِلْمٍ بِأَنَّ زَوْجَهُ أُمَّ الْفَضْلِ عَلَى دِينِ مُحَمَّدٍ ، وَكَانَ فِي كُلِّ مَا فَعَلَ هَوَاهُ مَعَ ابْنِ أَخِيهِ فَقَالَ : قَدْ رَأَيْتُ لَعَلَّكَ أَنْ تُؤْمِنَ بِهِ .
Abbas mengetahui bahwa istrinya, Ummu Al-Fadhl, telah memeluk agama Muhammad, dan dalam setiap tindakannya, keinginannya berpihak pada keponakannya, maka ia berkata: "Aku telah melihat, barangkali engkau akan beriman kepadanya."
— لَا أُؤْمِنُ بِهِ حَتَّى أَرَى الْخَيْلَ فِي كَدَاءَ .
— "Aku tidak akan beriman kepadanya sampai aku melihat pasukan berkuda di Kada'."
وَعَجِبَ الْعَبَّاسُ فَمَا كَانَتِ الْخَيْلُ تَطْلُعُ عَلَى كَدَاءَ فَهُوَ جَبَلٌ وَعْرٌ ، فَقَالَ : مَا تَقُولُ ؟ وَلَمْ يَدْرِ أَبُو سُفْيَانَ لِمَ قَالَ ذَلِكَ الْقَوْلَ فَقَالَ : كَلِمَةٌ جَاءَتْ عَلَى فَمِي إِلَّا أَنِّي أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ لَا يَتْرُكُ خَيْلًا تَطْلُعُ عَلَى كَدَاءَ .
Abbas heran, karena pasukan berkuda tidak pernah muncul di Kada', sebab itu adalah gunung yang terjal. Ia bertanya: "Apa yang kau katakan?" Abu Sufyan sendiri tidak tahu mengapa ia mengucapkan kata-kata itu, maka ia menjawab: "Sebuah kata yang terucap begitu saja dari mulutku, hanya saja aku tahu bahwa Allah tidak akan membiarkan pasukan berkuda muncul di Kada'."
وَلَوْ اخْتَرَقَ بَصَرُ أَبِي سُفْيَانَ حُجُبَ الْغَيْبِ لَرَأَى خَيْلَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ تَطْلُعُ عَلَى كَدَاءَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ ، يَوْمَ يَأْخُذُهُ الْعَبَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُعْلِنَ إِسْلَامَهُ .
Seandainya pandangan Abu Sufyan mampu menembus tirai gaib, niscaya ia akan melihat pasukan berkuda Khalid bin Al-Walid muncul di Kada' pada hari pembebasan Makkah, hari ketika Abbas membawanya kepada Rasulullah SAW untuk mengumumkan keislamannya.
وَأَقْبَلَ أَبُو سُفْيَانَ حَتَّى نَزَلَ عَلَى أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ بِالطَّائِفِ فَقَالَ : يَا أَبَا عُثْمَانَ قَدْ كَانَ مِنْ أَمْرِ الرَّجُلِ مَا قَدْ بَلَغَكَ وَسَمِعْتَهُ . وَصَمَتَ أُمَيَّةُ قَلِيلًا وَهُوَ يُفَكِّرُ فِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَالَ : قَدْ كَانَ لَعَمْرِي .
Abu Sufyan terus melanjutkan perjalanan hingga singgah di tempat Umayyah bin Abi Ash-Shalt di Thaif, ia berkata: "Wahai Abu Utsman, sungguh telah terjadi urusan mengenai orang itu sebagaimana yang telah sampai kepadamu dan kau dengar." Umayyah terdiam sejenak seraya memikirkan Rasulullah SAW, kemudian ia berkata: "Sungguh, demi hidupku, itu telah terjadi."
— فَأَيْنَ أَنْتَ مِنْهُ يَا أَبَا عُثْمَانَ ؟
— "Lalu di mana posisimu terhadapnya, wahai Abu Utsman?"
— وَاللهِ مَا كُنْتُ لِأُؤْمِنَ بِرَسُولٍ مِنْ غَيْرِ ثَقِيفٍ أَبَدًا .
— "Demi Allah, aku tidak akan pernah beriman kepada seorang utusan yang bukan dari suku Tsaqif."
وَرَأَى أَبُو سُفْيَانَ الْحَيْرَةَ فِي وَجْهِ أُمَيَّةَ فَقَالَ لَهُ :
Abu Sufyan melihat kebingungan di wajah Umayyah, maka ia berkata kepadanya:
— مَا يَمْنَعُكَ مِنِ اتِّبَاعِهِ ؟
— "Apa yang menghalangimu untuk mengikutinya?"
فَقَالَ ابْنُ أَبِي الصَّلْتِ وَهُوَ يَطْرُقُ بِرَأْسِهِ :
Ibnu Abi Ash-Shalt menjawab sambil menundukkan kepalanya:
— مَا يَمْنَعُنِي إِلَّا الِاسْتِحْيَاءُ مِنْ نِسَاءِ ثَقِيفٍ . إِنِّي كُنْتُ أُحَدِّثُهُنَّ أَنِّي هُوَ ، ثُمَّ يَرَيْنَنِي تَابِعًا لِغُلَامٍ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ .
— "Tidak ada yang menghalangiku selain rasa malu terhadap para wanita Tsaqif. Aku selalu mengatakan kepada mereka bahwa akulah orangnya (yang dimaksud), lalu mereka melihatku menjadi pengikut seorang pemuda dari Bani Abdu Manaf."
وَسَادَ الصَّمْتُ بَيْنَهُمَا بُرْهَةً ، ثُمَّ قَالَ أُمَيَّةُ : كَأَنِّي بِكَ يَا أَبَا سُفْيَانَ قَدْ خَالَفْتَهُ ثُمَّ قَدْ رُبِطْتَ كَمَا يُرْبَطُ الْجَدْيُ حَتَّى يُؤْتَى بِكَ إِلَيْهِ فَيَحْكُمَ فِيكَ بِمَا يُرِيدُ .
Keheningan menyelimuti keduanya sejenak, kemudian Umayyah berkata: "Seolah-olah aku melihatmu, wahai Abu Sufyan, engkau menentangnya, lalu engkau diikat sebagaimana seekor anak kambing diikat hingga engkau dibawa kepadanya, lalu dia memutuskan apa yang dia kehendaki atas dirimu."
وَكَانَتْ فِي ثَقِيفٍ بَيْتٌ آخَرُ قَدْ أَهَمَّهُ ظُهُورُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَخَلَهُ مِنَ النَّفَاسَةِ وَالْحَسَدِ مَا أَقْلَقَ أَهْلَهُ ، كَانَ ذَلِكَ الْبَيْتُ بَيْتَ الْحَارِثِ بْنِ كَلَدَةَ زَوْجِ خَالَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Di suku Tsaqif terdapat keluarga lain yang merasa terganggu dengan kemunculan Muhammad SAW, dan masuk ke dalam diri mereka rasa dengki dan iri yang membuat gelisah anggota keluarganya. Keluarga itu adalah keluarga Al-Harits bin Kaldah, suami dari bibi Rasulullah SAW.
وَكَانَ الْحَنَقُ يَمْلَأُ جَوَانِبَ ابْنِ خَالَتِهِ النَّضْرِ فَهْوَ يَحْسَبُ أَنَّهُ أَعْلَمُ الْعَرَبِ طُرًّا مَا دَامَ قَدْ ذَهَبَ إِلَى الْحِيرَةِ وَجُنْدَيْسَابُورَ وَتَعَلَّمَ أَجْزَاءَ الْحِكْمَةِ وَأَحَادِيثَ مُلُوكِ الْفُرْسِ وَأَحَادِيثَ رُسْتُمَ وَسَفَنْدِيَارَ . فَلَمَّا بَلَغَهُ أَنَّ ابْنَ خَالَتِهِ قَائِمٌ عَلَى أَبْطَحِ مَكَّةَ يَقُولُ : أَنَا رَسُولُ اللهِ أَحَسَّ بِالْحِقْدِ يَنْهَشُ فُؤَادَهُ وَلَمْ يَسْتَطِعْ صَبْرًا ، فَشَدَّ الرِّحَالَ إِلَى مَكَّةَ لِيَكُونَ عَلَى ابْنِ خَالَتِهِ يَهْزَأُ بِهِ وَيُؤَلِّبُ عَلَيْهِ النَّاسَ .
Kemarahan memenuhi relung hati putra bibinya, An-Nadhr. Ia mengira dirinya adalah orang Arab yang paling berilmu setelah pergi ke Al-Hirah dan Jundisapur, serta mempelajari hikmah dan kisah raja-raja Persia, kisah Rustum dan Safandiyar. Ketika sampai berita kepadanya bahwa putra bibinya berdiri di Abthah Makkah mengatakan: "Aku adalah utusan Allah," ia merasakan kebencian mencabik-cabik hatinya dan ia tidak mampu bersabar. Ia pun bergegas melakukan perjalanan ke Makkah untuk menghadapi putra bibinya itu guna mengejeknya dan menghasut orang-orang melawannya.
وَشَدَّ أَبُو سُفْيَانَ الرِّحَالَ إِلَى مَكَّةَ وَهُوَ يُفَكِّرُ فِيمَا دَهَاهَا . تَرَى مَا أَمْرُ النَّاسِ بِهَا ؟ كَانَ أَشْيَاخُ قُرَيْشٍ فِي طَرِيقِهِمْ إِلَى أَبِي طَالِبٍ وَقَدْ أَجْمَعُوا خِلَافَ ابْنِ أَخِيهِ وَعَدَاوَتَهُ ، فَلَمَّا جَاءُوهُ قَالُوا :
Abu Sufyan juga bergegas kembali ke Makkah seraya memikirkan apa yang menimpa penduduknya. Bagaimana keadaan orang-orang di sana? Para pemuka Quraisy sedang dalam perjalanan menuju Abu Thalib setelah sepakat untuk menentang dan memusuhi keponakannya. Ketika mereka menemuinya, mereka berkata:
— يَا أَبَا طَالِبٍ إِنَّ ابْنَ أَخِيكَ قَدْ سَبَّ آلِهَتَنَا وَعَابَ دِينَنَا وَسَفَّهَ أَحْلَامَنَا وَضَلَّلَ آبَاءَنَا ، فَإِمَّا أَنْ تَكُفَّهُ عَنَّا وَإِمَّا أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ ، فَإِنَّكَ عَلَى مِثْلِ مَا نَحْنُ عَلَيْهِ مِنْ خِلَافِهِ .
— "Wahai Abu Thalib, keponakanmu telah mencaci berhala-berhala kami, mencela agama kami, menganggap bodoh pikiran kami, dan menyesatkan nenek moyang kami. Maka hentikanlah dia dari kami, atau biarkan kami berurusan dengannya, karena engkau pun berada dalam pendirian yang sama dengan kami untuk menentangnya."
فَقَالَ لَهُمْ أَبُو طَالِبٍ قَوْلًا رَقِيقًا وَرَدَّهُمْ رَدًّا جَمِيلًا ، فَانْصَرَفُوا عَنْهُ . وَمَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُظْهِرُ دِينَ اللهِ وَيَدْعُو إِلَيْهِ لَا يَرُدُّهُ عَنْ ذَلِكَ شَيْءٌ ، وَاسْتَشْرَى الْأَمْرُ وَانْتَشَرَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَبَاعَدَ الرِّجَالُ وَأَضْمَرُوا لَهُ الْعَدَاوَةَ وَلِصَحْبِهِ ، فَوَثَبَ الْحَكَمُ بْنُ الْعَاصِ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَرَاحَ يُعَذِّبُهُ ، وَأَخَذَ نَوْفَلُ بْنُ الْعَدَوِيَّةِ أَبَا بَكْرٍ وَطَلْحَةَ بْنَ عَبْدِ اللهِ فَشَدَّهُمَا فِي حَبْلٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يَمْنَعْهُمَا بَنِي تَيْمٍ وَرَاحَ يُعَذِّبُ الْقَرِينَيْنِ ، وَكَانَ نَوْفَلُ جَبَّارًا وَكَانَ يُدْعَى أَسَدَ قُرَيْشٍ . وَعَادَ عَمُّ الزُّبَيْرِ إِلَى تَعْذِيبِهِ .
Abu Thalib memberikan jawaban yang lembut dan menolak mereka dengan cara yang baik, lalu mereka pun pergi. Rasulullah SAW terus menunjukkan agama Allah dan mengajak manusia kepadanya tanpa ada yang dapat menghalangi. Urusan semakin meluas dan tersebar, hingga orang-orang menjauh dan menyembunyikan permusuhan kepadanya dan para sahabatnya. Al-Hakam bin Al-Ash menyerang keponakannya, Utsman bin Affan, dan menyiksanya. Naufal bin Al-Adawiyah menangkap Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidillah, lalu mengikat keduanya dalam satu tali dan Bani Taim tidak mampu mencegahnya, lalu ia menyiksa keduanya. Naufal adalah seorang yang kejam dan dijuluki sebagai Singa Quraisy. Paman Zubair pun kembali menyiksanya.
وَأَقْبَلَ أَبُو سُفْيَانَ إِلَى مَكَّةَ فَوَجَدَ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضْرَبُونَ وَيُحْقَرُونَ ، وَتَذَكَّرَ وَصْفَ أُمَيَّةَ لِلنَّبِيِّ الْمُنْتَظَرِ فِي أَثْنَاءِ عَوْدَتِهِمَا مِنَ الشَّامِ :
Abu Sufyan tiba di Makkah dan mendapati sahabat-sahabat Muhammad SAW dipukuli dan dihina. Ia teringat deskripsi Umayyah tentang Nabi yang dinantikan saat perjalanan pulang dari Syam:
رَجُلٌ شَابٌّ حِينَ دَخَلَ فِي الْكُهُولَةِ ، بَدْوُ أَمْرِهِ يَجْتَنِبُ الْمَظَالِمَ وَالْمَحَارِمَ وَيَصِلُ الرَّحِمَ وَيَأْمُرُ بِصِلَتِهَا ، وَهُوَ مُحْوَجٌ كَرِيمُ الطَّرَفَيْنِ مُتَوَسِّطٌ فِي الْعَشِيرَةِ أَكْثَرُ جُنْدِهِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ.
"Seorang pemuda saat memasuki usia dewasa, awal urusannya adalah menghindari kezaliman dan hal-hal haram, menyambung silaturahmi, dan memerintahkan untuk menyambungnya. Ia miskin namun mulia dari kedua sisi keturunannya, berada di tengah kabilahnya, dan sebagian besar pasukannya adalah malaikat."
فَجَعَلَ أَبُو سُفْيَانَ يَقُولُ :
Abu Sufyan pun bergumam:
فَأَيْنَ جُنْدُهُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ ؟!
"Di manakah pasukannya yang dari malaikat itu?!"
فَدَخَلَهُ مَا يَدْخُلُ النَّاسَ مِنَ النَّفَاسَةِ فَمَشَى إِلَى أَبِي طَالِبٍ مَعَ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ ، وَشَيْبَةَ وَعُتْبَةَ ابْنَيْ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ ، وَأَبِي الْبَحْتَرِيِّ الْعَاصِ بْنِ هِشَامٍ ، وَالْأَسْوَدِ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ أَسَدٍ ، وَأَبُو جَهْلٍ عَمْرِو بْنِ هِشَامٍ ، وَنَبِيهٍ وَمُنَبِّهٍ ابْنَيِ الْحَجَّاجِ بْنِ عَامِرٍ ، وَالْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ ، فَقَالُوا :
Rasa dengki yang dirasakan orang-orang juga merasuk ke dalam dirinya. Maka ia pergi menemui Abu Thalib bersama Uqbah bin Abi Mu'aith, Syaibah dan Utbah putra Rabi'ah bin Abdu Syams, Abu Al-Buhturi Al-Ash bin Hisyam, Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad, Abu Jahal Amr bin Hisyam, Nabih dan Munabbih putra Al-Hajjaj bin Amir, serta Al-Ash bin Wail. Mereka berkata:
— يَا أَبَا طَالِبٍ إِنَّ لَكَ سِنًّا وَشَرَفًا وَمَنْزِلَةً فِينَا ، وَإِنَّا قَدِ اسْتَنْهَيْنَاكَ مِنِ ابْنِ أَخِيكَ فَلَمْ تَنْهَهُ عَنَّا ، وَإِنَّا وَاللهِ لَا نَصْبِرُ عَلَى هَذَا مِنْ شَتْمِ آبَائِنَا وَتَسْفِيهِ أَحْلَامِنَا وَعَيْبِ آلِهَتِنَا حَتَّى تَكُفَّهُ عَنَّا أَوْ تُنَازِلَهُ وَإِيَّاكَ فِي ذَلِكَ حَتَّى يَهْلِكَ أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ .
— "Wahai Abu Thalib, engkau memiliki usia, kemuliaan, dan kedudukan di antara kami. Kami telah meminta agar engkau melarang keponakanmu, tetapi engkau tidak melarangnya dari kami. Demi Allah, kami tidak akan bersabar atas cacian terhadap nenek moyang kami, dianggap bodohnya pikiran kami, dan celaan terhadap berhala-berhala kami. Maka hentikanlah dia dari kami, atau kami akan memerangimu dan dia dalam perkara ini hingga salah satu dari kedua pihak binasa."
ثُمَّ انْصَرَفُوا عَنْهُ فَعَظُمَ عَلَى أَبِي طَالِبٍ فِرَاقُ قَوْمِهِ وَعَدَاوَتُهُمْ ، وَلَمْ يَطِبْ نَفْسًا بِإِسْلَامِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ وَلَا خَذْلَانِهِ ، فَبَعَثَ أَبُو طَالِبٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :
Kemudian mereka pergi, dan terasa berat bagi Abu Thalib perpisahan dan permusuhan kaumnya. Ia tidak rela menyerahkan Rasulullah SAW kepada mereka dan tidak pula membiarkannya sendirian. Maka Abu Thalib mengutus orang kepada Rasulullah SAW dan berkata:
يَا بْنَ أَخِي إِنَّ قَوْمَكَ قَدْ جَاءُونِي فَقَالُوا لِي كَذَا وَكَذَا . فَأَبْقِ عَلَى وَعَلَى نَفْسِكَ وَلَا تَحْمِلْنِي مِنَ الْأَمْرِ مَا لَا أُطِيقُ .
"Wahai keponakanku, kaummu telah mendatangiku dan mengatakan begini dan begitu. Maka kasihanilah aku dan dirimu sendiri, dan janganlah engkau bebankan kepadaku perkara yang tidak sanggup kupikul."
فَظَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَدْ بَدَا لِعَمِّهِ فِيهِ وَأَنَّهُ قَدْ ضَعُفَ عَنْ نُصْرَتِهِ وَالْقِيَامِ مَعَهُ وَأَنَّهُ خَاذِلُهُ وَمُسْلِمُهُ ، فَقَالَ لَهُ :
Rasulullah SAW menyangka bahwa pamannya telah berubah sikap terhadapnya, bahwa ia telah lemah untuk menolongnya dan membelanya, dan bahwa ia akan membiarkannya sendirian. Maka beliau berkata:
يَا عَمِّ ، وَاللهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ .
"Wahai paman, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, niscaya aku tidak akan meninggalkannya."
ثُمَّ اسْتَعْبَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ ، فَلَمَّا وَلَّى نَادَاهُ أَبُو طَالِبٍ فَقَالَ :
Kemudian Rasulullah SAW menangis dan bangkit. Saat beliau hendak pergi, Abu Thalib memanggilnya dan berkata:
أَقْبِلْ يَا بْنَ أَخِي .
"Kemarilah, wahai keponakanku."
فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :
Rasulullah SAW pun menghadapnya, lalu ia berkata:
اذْهَبْ يَا بْنَ أَخِي فَقُلْ مَا أَحْبَبْتَ ، فَوَاللهِ لَا أُسَلِّمُكَ لِشَيْءٍ أَبَدًا .
"Pergilah wahai keponakanku, katakanlah apa yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapapun selamanya."
وَعَرَفَتْ قُرَيْشٌ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ قَدْ أَبَى خِذْلَانَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِسْلَامَهُ ، وَإِجْمَاعَهُ لِفِرَاقِهِمْ فِي ذَلِكَ وَعَدَاوَتِهِمْ فَمَشَوْا إِلَيْهِ بِعِمَارَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالُوا لَهُ :
Quraisy mengetahui bahwa Abu Thalib menolak untuk membiarkan Rasulullah SAW sendirian dan menyerahkannya, serta sepakat untuk berpisah dari mereka dalam hal itu dan memusuhi mereka. Maka mereka datang kepadanya membawa Imarah bin Al-Walid bin Al-Mughirah dan berkata kepadanya:
يَا أَبَا طَالِبٍ هَذَا عِمَارَةُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ أَنْهَدُ فَتًى فِي قُرَيْشٍ وَأَجْمَلُهُ ، فَخُذْهُ فَلَكَ عَقْلُهُ وَنَصْرُهُ وَاتَّخِذْهُ وَلَدًا فَهُوَ لَكَ خَيْرٌ ، وَأَسْلِمْ لَنَا ابْنَ أَخِيكَ هَذَا الَّذِي قَدْ خَالَفَ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَفَرَّقَ جَمَاعَةَ قَوْمِكَ وَسَفَّهَ أَحْلَامَهُمْ فَنَقْتُلَهُ ، فَإِنَّمَا هُوَ رَجُلٌ بِرَجُلٍ .
"Wahai Abu Thalib, ini adalah Imarah bin Al-Walid bin Al-Mughirah, pemuda Quraisy yang paling tegap dan paling tampan. Ambillah dia, bagimu akal dan pertolongannya, jadikanlah dia sebagai anak, dia lebih baik bagimu. Dan serahkanlah kepada kami keponakanmu yang telah menentang agamamu dan agama nenek moyangmu, memecah belah persatuan kaummu, dan menganggap bodoh pikiran mereka, agar kami membunuhnya. Ini adalah pertukaran satu orang dengan satu orang."
— وَاللهِ لَبِئْسَ مَا تَسُومُونَنِي ، أَتُعْطُونِي ابْنَكُمْ أَغْذُوهُ لَكُمْ وَأُعْطِيكُمُ ابْنِي تَقْتُلُونَهُ ؟ هَذَا وَاللهِ لَا يَكُونُ أَبَدًا .
— "Demi Allah, sungguh buruk apa yang kalian tawarkan kepadaku. Kalian berikan anak kalian untuk aku besarkan bagi kalian, dan aku berikan anakku kepada kalian untuk kalian bunuh? Demi Allah, ini tidak akan pernah terjadi."
فَقَالَ لَهُ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيِّ بْنِ نَوْفَلِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ :
Al-Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf berkata kepadanya:
— وَاللهِ يَا أَبَا طَالِبٍ لَقَدْ أَنْصَفَكَ قَوْمُكَ وَجَهَدُوا عَلَى التَّخَلُّصِ مِمَّا تَكْرَهُ ، فَمَا أَرَاكَ تُرِيدُ أَنْ تَقْبَلَ مِنْهُمْ شَيْئًا .
— "Demi Allah, wahai Abu Thalib, sungguh kaummu telah bersikap adil kepadamu dan berusaha keras untuk menyingkirkan apa yang tidak engkau sukai, namun aku tidak melihatmu ingin menerima sedikit pun dari mereka."
فَقَالَ لَهُ أَبُو طَالِبٍ :
Abu Thalib berkata kepadanya:
— وَاللهِ مَا أَنْصَفُونِي وَلَكِنَّكَ جَمَعْتَ خِذْلَانِي وَمُظَاهَرَةَ الْقَوْمِ عَلَيَّ ، فَاصْنَعْ مَا بَدَا لَكَ .
— "Demi Allah, mereka tidak bersikap adil kepadaku, namun engkau telah memadukan antara membiarkanku sendirian dan mendukung kaum itu melawanku. Maka lakukanlah apa yang menurutmu baik."
فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ أَبُو طَالِبٍ ، فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :
Abu Thalib mengutus orang kepada Rasulullah SAW, maka beliau datang, lalu Abu Thalib berkata:
— يَا بْنَ أَخِي ، هَؤُلَاءِ عُمُومَتُكَ وَأَشْرَافُ قَوْمِكَ وَقَدْ أَرَادُوا فَلْنُعْطِهِمِ النِّصْفَ وَيُنْصِفُونِكَ .
— "Wahai keponakanku, ini adalah paman-pamanmu dan para pemuka kaummu. Mereka menginginkan agar kita memberikan keadilan dan mereka pun memberikan keadilan kepadamu."
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
Rasulullah SAW berkata:
— قُولُوا أَسْمَعْ .
— "Katakanlah, aku akan mendengarkan."
— تَدَعُنَا وَآلِهَتَنَا وَنَدَعُكَ وَآلِهَتَكَ .
— "Biarkan kami dengan berhala-berhala kami, dan kami membiarkanmu dengan tuhanmu."
قَالَ أَبُو طَالِبٍ :
Abu Thalib berkata:
— لَقَدْ أَنْصَفَكَ الْقَوْمُ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ .
— "Sungguh kaummu telah bersikap adil kepadamu, maka terimalah dari mereka."
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
Rasulullah SAW berkata:
— أَرَأَيْتُكُمْ إِنْ أَعْطَيْتُكُمْ هَذِهِ هَلْ أَنْتُمْ مُعْطِي كَلِمَةً ، إِنْ أَنْتُمْ تَكَلَّمْتُمْ بِهَا مَلَكْتُمْ بِهَا الْعَرَبَ وَدَانَتْ لَكُمْ بِهَا الْعَجَمُ ؟
— "Bagaimana menurut kalian, jika aku memberikan ini, apakah kalian akan memberikan satu kalimat, yang jika kalian mengucapkannya, kalian akan menguasai bangsa Arab dan bangsa non-Arab akan tunduk kepada kalian karenanya?"
فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ :
Abu Jahal berkata:
— إِنَّ هَذِهِ الْكَلِمَةَ مُرْبِحَةٌ ، نَعَمْ وَأَبِيكَ لَنَقُولَنَّهَا وَعَشْرَ أَمْثَالِهَا .
— "Sesungguhnya kalimat ini menguntungkan. Ya, demi ayahmu, kami pasti akan mengucapkannya dan sepuluh kali lipatnya."
قَالَ :
Rasulullah SAW berkata:
— قُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ .
— "Katakanlah: La ilaha illallah."
فَاشْمَأَزُّوا وَنَفَرُوا مِنْهَا وَغَضِبُوا ، وَقَالَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ :
Mereka merasa jijik, lari darinya, dan marah. Uqbah bin Abi Mu'aith berkata:
وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ .
"Tetaplah kalian pada berhala-berhala kalian, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang direncanakan."
وَخَرَجُوا مِنْ عِنْدِ أَبِي طَالِبٍ وَهُمْ يَقُولُونَ :
Mereka keluar dari tempat Abu Thalib seraya berkata:
لَا نَعُودُ إِلَيْهِ أَبَدًا وَمَا خَيْرٌ مِنْ أَنْ نَغْتَالَ مُحَمَّدًا .
"Kita tidak akan pernah kembali kepadanya lagi, dan tidak ada yang lebih baik daripada kita membunuh Muhammad secara diam-diam."
فَلَمَّا كَانَ مِنْ مَسَاءِ تِلْكَ اللَّيْلَةِ جَاءَ أَبُو طَالِبٍ وَعُمُومَةُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَقَدْ بَلَغَهُمْ مَا عَزَمَ عَلَيْهِ الْقَوْمُ فَلَمَّ يجدوه ، فَجَمَعَ أَبُو طَالِبٍ فِتْيَانًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي الْمُطَّلِبِ ثُمَّ قَالَ :
Saat malam tiba, Abu Thalib dan paman-paman Muhammad SAW datang ke rumah beliau karena telah sampai kepada mereka apa yang direncanakan oleh kaum itu, namun mereka tidak menemukannya. Abu Thalib mengumpulkan para pemuda dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib, lalu berkata:
لِيَأْخُذْ كُلُّ وَاحِدٍ حَدِيدَةً صَارِمَةً ثُمَّ لِيَتْبَعْنِي إِذَا دَخَلْتُ الْمَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ كُلُّ فَتًى مِنْكُمْ إِلَى عَظِيمٍ مِنْ عُظَمَائِهِمْ ، فِيهِمُ ابْنُ الْحَنْظَلِيَّةِ (أَبُو جَهْلٍ) فَإِنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَنْ شَرٍّ إِنْ كَانَ مُحَمَّدٌ قَدْ قُتِلَ .
"Hendaklah setiap orang mengambil besi yang tajam, kemudian ikuti aku. Jika aku memasuki majelis, hendaklah setiap pemuda dari kalian duduk di dekat seorang pembesar dari pembesar-pembesar mereka, termasuk putra Al-Hanzhaliyah (Abu Jahal), karena dia tidak pernah absen dari kejahatan jika Muhammad telah terbunuh."
— نَفْعَلُ .
— "Kami akan melakukannya."
فَجَاءَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ فَوَجَدَ أَبَا طَالِبٍ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ ، فَقَالَ :
Zaid bin Haritsah datang dan mendapati Abu Thalib dalam keadaan tersebut, ia bertanya:
— يَا زَيْدُ أَرَأَيْتَ ابْنَ أَخِي ؟
— "Wahai Zaid, apakah engkau melihat keponakanku?"
— نَعَمْ كُنْتُ مَعَهُ آنِفًا .
— "Ya, aku baru saja bersamanya."
فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ :
Abu Thalib berkata:
— لَا أَدْخُلُ بَيْتِي أَبَدًا حَتَّى أَرَاهُ .
— "Aku tidak akan pernah masuk rumahku sampai aku melihatnya."
فَخَرَجَ زَيْدٌ مُسْرِعًا حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتٍ عِنْدَ الصَّفَا وَمَعَهُ أَصْحَابُهُ يَتَحَدَّثُونَ . فَأَخْبَرَهُ الْخَبَرَ فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ :
Zaid keluar dengan bergegas hingga ia mendatangi Rasulullah SAW yang sedang berada di sebuah rumah dekat Shafa bersama para sahabatnya sedang berbincang-bincang. Zaid mengabarkan berita itu, maka Rasulullah SAW datang menemui Abu Thalib lalu bertanya:
— يَا بْنَ أَخِي أَيْنَ كُنْتَ ؟ أَكُنْتَ فِي خَيْرٍ ؟
— "Wahai keponakanku, di mana engkau tadi? Apakah engkau dalam keadaan baik?"
— نَعَمْ .
— "Ya."
— ادْخُلْ بَيْتَكَ .
— "Masuklah ke rumahmu."
فَدَخَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَالِبٍ غَدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَوَقَفَ عَلَى أَنْدِيَةِ قُرَيْشٍ وَمَعَهُ الْفِتْيَانُ الْهَاشِمِيُّونَ وَالْمُطَّلِبِيُّونَ فَقَالَ :
Rasulullah SAW pun masuk. Ketika pagi hari tiba, Abu Thalib mendatangi Nabi SAW, lalu ia memegang tangan beliau dan berdiri di majelis-majelis Quraisy bersama para pemuda Bani Hasyim dan Bani Muthalib, lalu ia berkata:
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ ، هَلْ تَدْرُونَ مَا هَمَمْتُ بِهِ ؟
"Wahai kaum Quraisy, tahukah kalian apa yang telah aku rencanakan?"
— لَا .
— "Tidak."
فَقَالَ لِلْفِتْيَانِ :
Abu Thalib berkata kepada para pemuda itu:
— اكْشِفُوا عَمَّا فِي أَيْدِكُمْ .
— "Tunjukkan apa yang ada di tangan kalian."
فَكَشَفُوا فَإِذَا كُلُّ رَجُلٍ مَعَهُ حَدِيدَةٌ صَارِمَةٌ ، فَقَالَ :
Mereka membukanya, ternyata setiap orang membawa besi yang tajam. Abu Thalib berkata:
وَاللهِ لَوْ قَتَلْتُمُوهُ مَا بَقَيْتُ مِنْكُمْ أَحَدًا حَتَّى نَتَفَانَى نَحْنُ وَأَنْتُمْ .
"Demi Allah, seandainya kalian membunuhnya, niscaya aku tidak akan membiarkan seorang pun di antara kalian tersisa hingga kita saling membinasakan."
فَانْكَسَرَ الْقَوْمُ وَكَانَ أَشَدَّهُمُ انْكِسَارًا أَبُو جَهْلٍ .
Kaum itu pun gentar, dan yang paling gentar di antara mereka adalah Abu Jahal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar