BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim #28

كَانَ الْعَاصُ بْنُ وَائِلٍ يَتَأَهَّبُ لِلِانْطِلَاقِ إِلَى الْقَافِلَةِ الْخَارِجَةِ إِلَى الشَّامِ ، وَكَانَ الْخَبَّابُ بْنُ الْأَرَتِّ دَيْنٌ عَلَيْهِ فَأَتَاهُ يَتَقَاضَاهُ . فَقَالَ لَهُ الْعَاصُ :
Al-Ash bin Wail bersiap untuk berangkat bersama kafilah menuju Syam, dan Khabab bin al-Arat memiliki piutang kepadanya, lalu ia datang untuk menagihnya. Al-Ash berkata kepadanya:
— لَا وَاللهِ حَتَّى تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ .
— "Tidak, demi Allah, sampai engkau kufur kepada Muhammad."
فَقَالَ خَبَّابٌ فِي قُوَّةٍ :
Khabab berkata dengan tegas:
— لَا أَكْفُرُ حَتَّى تَمُوتَ وَتُبْعَثَ .
— "Aku tidak akan kufur sampai engkau mati dan dibangkitkan."
فَقَالَ الْعَاصُ فِي سُخْرِيَةٍ :
Al-Ash berkata dengan nada mengejek:
— وَإِنِّي لَمَبْعُوثٌ بَعْدَ الْمَوْتِ ؟ فَسَوْفَ أَقْضِيكَ إِذَا رَجَعْتُ إِلَى مَالَى .
— "Memangnya aku akan dibangkitkan setelah mati? Aku akan melunasi hutangku jika aku sudah kembali mendapatkan hartaku."
وَكَأَنَّمَا اسْتَمْرَأَ الْعَاصُ الْهُزْءَ بِخَبَّابٍ فَقَالَ :
Seakan-akan Al-Ash merasa senang mengejek Khabab, lalu ia berkata:
— أَلَسْتُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّ فِي الْجَنَّةِ ذَهَبًا وَفِضَّةً وَحَرِيرًا ؟
— "Bukankah kalian mengklaim bahwa di dalam surga terdapat emas, perak, dan sutra?"
— بَلَى .
— "Benar."
— فَأَخِّرْنِي حَتَّى أَقْضِيَكَ فِي الْجَنَّةِ ، فَوَاللهِ لَئِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا إِنِّي لَأَفْضَلُ فِيهَا نَصِيبًا مِنْكَ .
— "Kalau begitu, undurlah sampai aku melunasinya di surga. Demi Allah, jika apa yang engkau katakan itu benar, sesungguhnya aku lebih utama darimu di sana."
فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى : ﴿أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا . أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا . كَلَّا سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذَابِ مَدًّا . وَنَرِثُهُ مَا يَقُولُ وَيَأْتِينَا فَرْدًا . وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا . كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا . أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا . فَلَا تَعْجَلْ عَلَيْهِمْ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا . يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا . وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا . لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا﴾.
Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Maka apakah engkau melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan berkata, 'Pasti aku akan diberi harta dan anak.' Adakah ia melihat yang gaib atau telah membuat perjanjian di sisi Ar-Rahman? Sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan dan Kami akan menambah azab baginya. Dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan dan ia akan datang kepada Kami dalam keadaan sendiri. Dan mereka mengambil tuhan-tuhan selain Allah agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, mereka (tuhan-tuhan itu) akan mengingkari penyembahan mereka dan akan menjadi musuh bagi mereka. Tidakkah engkau melihat bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan kepada orang-orang kafir untuk menghasut mereka dengan sungguh-sungguh? Maka janganlah engkau terburu-buru terhadap mereka, Kami hanya menghitung hitungan (hari) bagi mereka. Pada hari Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Ar-Rahman sebagai delegasi. Dan Kami menggiring orang-orang yang berdosa ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. Mereka tidak memiliki hak syafaat kecuali orang yang telah membuat perjanjian di sisi Ar-Rahman."
وَخَرَجَ الْعَاصُ بْنُ وَائِلٍ إِلَى الطَّرِيقِ لِيَنْطَلِقَ إِلَى السُّوقِ حَيْثُ تَرَكَ جَارِيَتَهُ لِلْبِغَاءِ لِتَعُودَ إِلَيْهِ بِأَمْوَالِ طُلَّابِ الشَّهْوَةِ ، وَفِيمَا هُوَ يُدْرِجُ فِي زَهْوِهِ إِلَى الْحَرَمِ رَأَى عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ وَصَدِيقَهُ أُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ يُوَسِّعُ فِي خَطْوِهِ لِيَلْحَقَ بِهِ وَهُوَ يُنَادِي :
Al-Ash bin Wail keluar menuju jalan untuk berangkat ke pasar, di mana ia meninggalkan budak perempuannya untuk melacur agar kembali kepadanya dengan membawa uang dari para pencari syahwat. Ketika ia sedang berjalan dengan sombong menuju Al-Haram, ia melihat Abdurrahman bin Auf dan temannya, Umayyah bin Khalaf, memperlebar langkahnya untuk mengejarnya sambil berseru:
— يَا عَبْدَ عَمْرٍو ... يَا عَبْدَ عَمْرٍو .
— "Wahai Abd Amr... wahai Abd Amr."
وَصَكَّ صَوْتُ أُمَيَّةَ أُذُنَيَّ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَلَمْ يَحْفِلْ لَهُ . فَأَسْرَعَ أُمَيَّةُ خَلْفَهُ فَلَمَّا لَحِقَ بِهِ قَالَ لَهُ :
Suara Umayyah menampar telinga Abdurrahman, namun ia tidak mempedulikannya. Umayyah mempercepat langkah di belakangnya, dan ketika berhasil mengejarnya, ia berkata kepadanya:
— أَفْسَدَكَ مُحَمَّدٌ عَلَيْنَا فَتَرَكْتَ دِينَ آبَائِكَ وَدَخَلْتَ فِيمَا يَدْعُو إِلَيْهِ ، وَأَدْعُوكَ بِعَبْدِ عَمْرٍو فَلَا تُجِيبُ ، أَرَغِبْتَ عَنِ اسْمٍ سَمَّاكَهُ أَبُوكَ ؟
— "Muhammad telah merusakmu bagi kami, sehingga engkau meninggalkan agama bapakmu dan masuk ke dalam apa yang ia serukan. Aku memanggilmu dengan Abd Amr tetapi engkau tidak menjawab. Apakah engkau tidak menyukai nama yang diberikan oleh ayahmu?"
فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فِي هُدُوءٍ :
Abdurrahman menjawab dengan tenang:
— أَنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي سُمِّيتُ حِينَ أَسْلَمْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ .
— "Engkau tahu bahwa ketika aku masuk Islam, aku menamai diriku Abdurrahman."
— إِنِّي لَا أَعْرِفُ الرَّحْمَنَ فَاجْعَلْ بَيْنِي وَبَيْنَكَ شَيْئًا أَدْعُوكَ بِهِ ، أَمَّا أَنْتَ فَلَا تُجِيبُنِي بِاسْمِكَ الْأَوَّلِ وَأَمَّا أَنَا فَلَا أَدْعُوكَ بِمَا لَا أَعْرِفُ .
— "Aku tidak mengenal Ar-Rahman, maka jadikanlah sesuatu di antara aku dan engkau untuk memanggilmu. Adapun engkau, engkau tidak menjawab panggilanku dengan nama pertamamu, dan aku tidak akan memanggilmu dengan apa yang tidak kukenal."
— يَا أَبَا عَلِيٍّ ! أَجْعَلْ بَيْنِي وَبَيْنَكَ مَا شِئْتَ .
— "Wahai Abu Ali! Jadikanlah apa saja yang engkau kehendaki di antara aku dan engkau."
— فَأَنْتَ عَبْدُ الْإِلَهِ .
— "Kalau begitu, engkau adalah Abdil Ilah."
— نَعَمْ .
— "Ya."
وَسَارُوا إِلَى حَيْثُ أَنَاخَتِ الْقَافِلَةُ ، وَكَانَ بَنُو هَاشِمٍ فِي وَدَاعِ أَبِي لَهَبٍ وَابْنِهِ مُعَتِّبٍ وَرِجَالٍ وَرُ آلِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ . وَكَانَ مُحَمَّدٌ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- هُنَاكَ وَلَمْ يَكُنْ قَدْ أَتَى لِوَدَاعِ عَمِّهِ ، فَإِنَّ الْمُطَّلِبِيِّينَ جَمِيعًا قَدِ اسْتَجَابُوا لِدَعْوَةِ عَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ وَنَهَضُوا لِحِمَايَتِهِ إِلَّا أَبَا لَهَبٍ فَقَدِ انْضَمَّ إِلَى بَنِي أُمَيَّةَ فِي عَدَاوَتِهِمْ بِفَضْلِ زَوْجِهِ أُمِّ جَمِيلٍ ، بَلْ جَاءَ لِيُوَدِّعَ عُقْبَةَ بْنَ أَبِي مُعَيْطٍ ، فَعُقْبَةُ صَارَ يَخْتَلِفُ إِلَيْهِ كَثِيرًا بِحُكْمِ صِلَةِ الْقَرَابَةِ الَّتِي بَيْنَهُمَا ، وَقَدْ أَلْقَى إِلَيْهِ السَّمْعَ وَفُتِنَ بِالْقُرْآنِ وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- بَاتَ يَطْمَعُ فِي إِسْلَامِ عُقْبَةَ وَالتَّفْرِيقِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ حَلِيفِهِ أُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ ، فَيُحَطِّمُ حَلْقَةً مِنْ حَلَقَاتِ الْعَدَاوَةِ الَّتِي تَقِفُ فِي وَجْهِ انْتِشَارِ دَعْوَةِ الْإِسْلَامِ وَالسَّلَامِ .
Mereka berjalan menuju tempat kafilah berhenti. Bani Hasyim sedang melepas kepergian Abu Lahab, putranya yaitu Mu'attib, serta laki-laki dari keluarga Abdul Muthalib. Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam- berada di sana dan beliau tidak datang untuk melepas pamannya, karena seluruh keturunan Muthalib telah memenuhi seruan paman beliau, Abu Thalib, dan bangkit untuk melindunginya, kecuali Abu Lahab. Ia bergabung dengan Bani Umayyah dalam permusuhan mereka berkat istrinya, Ummu Jamil. Bahkan, ia datang untuk melepas kepergian Uqbah bin Abi Mu'ith. Uqbah sering mengunjunginya karena hubungan kekerabatan di antara keduanya, dan ia telah mendengarkan serta terpesona oleh Al-Qur'an. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- terus berharap akan keislaman Uqbah dan pemisahan antara dia dan sekutunya, Ubay bin Khalaf, sehingga dapat mematahkan salah satu mata rantai permusuhan yang menghalangi penyebaran dakwah Islam dan perdamaian.
وَانْفَصَلَتِ الْقَافِلَةُ وَانْطَلَقَتْ لِتَغِيبَ فِي الْأُفُقِ الْبَعِيدِ ، وَقَدْ ضَمَّتْ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ فِي تَارِيخِ قُرَيْشٍ قُلُوبًا عَامِرَةً بِالْيَقِينِ وَقُلُوبًا يَتَجَاذَبُهَا الْيَقِينُ وَالشَّكُّ وَقُلُوبًا أَبَتْ أَنْ تَفْتَحَ نَوَافِذَهَا لِلنُّورِ . وَعَلَى الرَّغْمِ مِنْ ذَلِكَ التَّنَافُرِ فَقَدْ كَانَتْ مَشْغُولَةً بِرَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- تَنْبِضُ بِحُبِّهِ أَوْ تَخْفِقُ بِبُغْضِهِ بَعْدَ أَنْ كَانَتْ تَنْشَرِحُ لِلِقَائِهِ وَعَذْبِ حَدِيثِهِ وَحِكْمَتِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَ بِمَا سَفَّهَ بِهِ مُعْتَقَدَاتِ الْآبَاءِ وَسَخِرَ بِهِ بِمَا وَقَرَ فِي الْعُقُولِ .
Kafilah berpisah dan berangkat untuk menghilang di cakrawala yang jauh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Quraisy, ia memuat hati-hati yang dipenuhi keyakinan, hati-hati yang ditarik oleh keyakinan dan keraguan, serta hati-hati yang menolak untuk membuka jendela bagi cahaya. Meskipun terdapat pertentangan tersebut, mereka sibuk dengan Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam-, entah berdenyut dengan cinta kepada beliau atau berdegup dengan kebencian, setelah sebelumnya mereka merasa senang bertemu dengannya, mendengar tutur katanya yang manis dan hikmahnya, sebelum beliau datang dengan membawa ajaran yang mencela kepercayaan nenek moyang dan menyindir apa yang telah mapan dalam akal mereka.
وَنَزَلُوا مَنْزِلًا فَأَشْرَفَ عَلَيْهِمْ رَاهِبٌ مِنْ دَيْرٍ فَقَالَ لَهُمْ :
Mereka singgah di suatu tempat, lalu seorang rahib dari sebuah biara memantau mereka dan berkata kepada mereka:
— هَذِهِ الْأَرْضُ مَسْبَعَةٌ .
— "Tanah ini adalah sarang binatang buas."
فَأَجْمَعُوا مَتَاعَهُمْ إِلَى صَوْمَعَةِ الرَّاهِبِ ثُمَّ فَرَشُوا لِمَبِيتِهِمْ ، ثُمَّ جَمَعُوا جِمَالَهُمْ وَأَنَاخُوهَا حَوْلَهُمْ ، وَسَقَطَ اللَّيْلُ وَجَاءَ أَسَدٌ يَتَشَمَّمُ فَلَمَّا دَنَا مِنَ الْمُعَسْكَرِ وَأَحَسَّتِ الْجِمَالُ بِهِ رَغَتْ . فَاسْتَيْقَظَ مُعْتَبٌ فَلَمَّا رَأَى الْأَسَدَ كَادَ يَمُوتُ مِنَ الرُّعْبِ لِمَا تَذَكَّرَ دَعْوَةَ مُحَمَّدٍ - عَلَيْهِ السَّلَام - يَوْمَ أَنْ بَصَقَ فِي وَجْهِهِ :
Mereka pun mengumpulkan barang bawaan mereka ke dekat biara sang rahib, lalu menggelar tikar untuk tidur. Kemudian mereka mengumpulkan unta-unta mereka dan menderumkannya di sekeliling mereka. Malam pun turun, dan datanglah seekor singa yang mengendus-endus. Ketika ia mendekati perkemahan dan unta-unta merasakan kehadirannya, unta-unta itu pun bersuara keras. Mu'attib terbangun, dan ketika ia melihat singa itu, ia hampir mati ketakutan karena teringat doa Muhammad -'alaihis salam- pada hari beliau meludah ke wajahnya:
— اللَّهُمَّ سَلِّطْ عَلَيْهِ كَلْبًا مِنْ كِلَابِكَ.
— "Ya Allah, kuasakanlah kepadanya seekor anjing dari anjing-anjing-Mu."
وَأَرَادَ أَنْ يَنْهَضَ لِيَفِرَّ مِنْ وَجْهِ الْأَسَدِ فَإِذَا بِالْأَسَدِ يَثِبُ عَلَيْهِ وَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً بِذَنَبِهِ ، فَيَشُقُّ سُكُونَ اللَّيْلِ صَرْخَةُ مُعْتَبٍ الْمَفْزُوعَةِ . فَيَهِبُ رِجَالُ الْقَافِلَةِ مِنْ نَوْمِهِمْ وَيَدِبُّ الذُّعْرُ بَيْنَهُمْ ، فَيَسْتَشْعِرُ الْأَسَدُ بِالْخَطَرِ فَيَنْسَلُّ بَعِيدًا .
Ia hendak bangkit untuk melarikan diri dari hadapan singa itu, namun singa tersebut melompat ke arahnya dan memukulnya dengan ekornya, sehingga jeritan ketakutan Mu'attib membelah kesunyian malam. Orang-orang dalam kafilah terbangun dari tidur mereka dan rasa panik menjalar di antara mereka, maka singa itu merasakan bahaya dan pun pergi menjauh.
وَالتَفَّ الرِّجَالُ حَوْلَ مُعْتَبٍ فَإِذَا بِهِ يَجُودُ بِأَنْفَاسِهِ بَيْنَ يَدَى أَبِيهِ وَقَدْ لَاحَ فِي وَجْهِ أَبِي لَهَبٍ الرُّعْبُ وَالْأَسَى ، إِنَّهَا دَعْوَةُ ابْنِ أَخِيهِ . وَمَاتَ مُعْتَبٌ فَفَرِحَ بِمَوْتِهِ مَنْ كَانَ هَوَاهُ مَعَ أَبِي الْقَاسِمِ وَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى الْكَافِرِينَ . وَانْطَلَقَتِ الْقَافِلَةُ إِلَى الشَّامِ وَلَا حَدِيثَ لِلرِّجَالِ إِلَّا عَنْ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - .
Orang-orang berkumpul mengelilingi Mu'attib, ternyata ia sedang menghembuskan nafas terakhir di hadapan ayahnya, dan di wajah Abu Lahab tampak ketakutan dan kesedihan, itu adalah doa anak saudaranya. Mu'attib pun mati, maka bergembiralah dengan kematiannya orang yang keinginannya bersama Abu Al-Qasim, dan hal itu terasa berat bagi orang-orang kafir. Kafilah pun berangkat menuju Syam dan tidak ada pembicaraan bagi orang-orang selain tentang Muhammad -shallallahu 'alaihi-.
بَيْنَمَا كَانَتِ الْأَحْدَاثُ تَجْرِى فِي مَكَّةَ عَلَى غَيْرِ هَوَى الْكَافِرِينَ ، فَآيَاتُ اللهِ تَنْزِلُ عَلَى قَلْبِ الْأَمِينِ وَالنَّاسُ يَهْمِسُونَ بِهَا فَتَنْشَرِحُ لَهَا قُلُوبٌ فَيَهْرَعُ مَنْ شَرَحَ اللهُ فُؤَادَهُ لِلْإِسْلَامِ لِلِقَاءِ رَسُولِ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - خُفْيَةً مِنْ قَوْمِهِ لِيَنْطِقَ بِالشَّهَادَتَيْنِ وَهُوَ سَعِيدٌ .
Sementara peristiwa-peristiwa terjadi di Makkah tidak sesuai dengan keinginan orang-orang kafir, ayat-ayat Allah turun ke hati Al-Amin dan orang-orang membisikkannya, maka hati-hati pun terbuka karenanya, sehingga orang yang Allah lapangkan hatinya untuk Islam bergegas menemui Rasulullah -shallallahu 'alaihi- secara sembunyi-sembunyi dari kaumnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dalam keadaan bahagia.
وَكَانَ الْوَحْيُ يَنْزِلُ بِرُدُودٍ مُفْحِمَةٍ عَلَى مَا يُثِيرُهُ الْكَافِرُونَ مِنْ جَدَلٍ ، وَكَانَ يَرْوِي أَحْدَاثَهُمُ الَّتِي كَانَتْ تَقَعُ بَعِيدًا عَنْ عَيْنِي مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - فَيُثِيرُ دَهْشَتَهُمْ ، وَيَقُصُّ مَا يَجْرِي فِي نَجْوَاهُمْ فَيَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ كَأَنَّمَا كُلٌّ مِنْهُمْ يَتَّهِمُ صَاحِبَهُ بِأَنَّهُ يَحْمِلُ إِلَى رَسُولِ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - سِرَّهُمْ ، فَقَدْ أَبَوْا أَنْ يُؤْمِنُوا بِأَنَّ اللهَ يُوحِي إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ .
Wahyu turun dengan jawaban-jawaban yang membungkam atas perdebatan yang dipicu oleh orang-orang kafir, dan ia menceritakan peristiwa-peristiwa mereka yang terjadi jauh dari pandangan Muhammad -shallallahu 'alaihi-, sehingga membangkitkan keheranan mereka, dan menceritakan apa yang terjadi dalam bisikan mereka, sehingga sebagian mereka memandang sebagian yang lain seolah-olah setiap mereka menuduh temannya membawa rahasia mereka kepada Rasulullah -shallallahu 'alaihi-, karena mereka enggan untuk beriman bahwa Allah memberi wahyu kepada salah satu makhluk-Nya.
كَانَ أَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ يَنْحَرُ كُلَّ أُسْبُوعٍ جَزُورَيْنِ . فَهُوَ وَإِنْ كَانَ بَخِيلًا إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يَخْشَى أَنْ يُفَضِّلَ بَنُو هَاشِمٍ بَنِي أُمَيَّةَ بِالْإِنْفَاقِ . فَأَتَاهُ ذَاتَ يَوْمٍ يَتِيمٌ فَسَأَلَهُ شَيْئًا مِنْ لَحْمِ الْجَزُورِ فَغَلَبَهُ طَبْعُهُ فَلَمْ يُعْطِهِ عَنْ سَمَاحَةِ نَفْسٍ بَلْ قَرَعَهُ بِعَصًا . فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى : أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ . وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ .
Abu Sufyan bin Harb menyembelih dua ekor unta setiap pekan. Meskipun ia kikir, ia takut Bani Hasyim mengungguli Bani Umayyah dalam hal berinfak. Maka suatu hari, seorang anak yatim datang kepadanya dan meminta sedikit daging unta, namun sifat kikirnya menguasainya sehingga ia tidak memberikannya dengan keikhlasan hati, melainkan memukulnya dengan tongkat. Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin."
وَرَاحَ الْوَلِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ يَغْشَى النَّبِيَّ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - وَأَبَا بَكْرٍ حَتَّى حَسِبَتْ قُرَيْشٌ أَنَّهُ يُسْلِمُ ، فَجَاءَهُ أَبُو جَهْلٍ وَقَالَ لَهُ :
Al-Walid bin Mughirah terus mendatangi Nabi -shallallahu 'alaihi- dan Abu Bakar hingga Quraisy menyangka bahwa ia akan masuk Islam, maka Abu Jahal datang kepadanya dan berkata:
— إِنَّ قُرَيْشًا تَزْعُمُ أَنَّكَ إِنَّمَا تَأْتِي مُحَمَّدًا وَابْنَ أَبِي قُحَافَةَ تُصِيبُ مِنْ طَعَامِهِمَا .
— "Sesungguhnya Quraisy menganggap bahwa engkau mendatangi Muhammad dan putra Abu Quhafah hanya untuk mendapatkan makanan mereka."
فَغَضِبَ الْوَلِيدُ فَأَقْبَلَ عَلَى قُرَيْشٍ يُؤَنِّبُهُمْ ، وَفِي ثَوْرَةِ غَضَبِهِ نَطَقَ بِالْحَقِّ قَالَ :
Al-Walid marah, lalu ia menghadap Quraisy mencela mereka, dan dalam kemarahan yang memuncak ia mengucapkan kebenaran, ia berkata:
إِنَّهُمْ ذَوُو أَحْسَابٍ وَذَوُو أَحْلَامٍ ، وَإِنَّكُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّ مُحَمَّدًا مَجْنُونٌ ، وَهَلْ رَأَيْتُمُوهُ يَتَكَهَّنُ قَطُّ ؟
"Mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan dan akal, sementara kalian menganggap bahwa Muhammad gila, apakah kalian pernah melihatnya berdukun sedikit pun?"
— اللَّهُمَّ لَا .
— "Demi Allah, tidak."
تَزْعُمُونَ أَنَّهُ شَاعِرٌ ، هَلْ رَأَيْتُمُوهُ يَنْطِقُ بِشِعْرٍ قَطُّ ؟
"Kalian menganggap bahwa ia seorang penyair, apakah kalian pernah melihatnya mengucapkan syair sedikit pun?"
— لَا .
— "Tidak."
فَتَزْعُمُونَ أَنَّهُ كَذَّابٌ ، فَهَلْ جَرَّبْتُمْ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنَ الْكَذِبِ ؟
"Kalian menganggap bahwa ia seorang pembohong, apakah kalian pernah mencoba (menguji) sesuatu kebohongan darinya?"
— لَا . فَمَا هُوَ ؟
— "Tidak. Lalu apa dia?"
مَا هُوَ إِلَّا سَاحِرٌ وَمَا يَقُولُهُ سِحْرٌ .
"Dia hanyalah seorang penyihir dan apa yang ia ucapkan adalah sihir."
— لَا يَرْضَى عَنْكَ قَوْمُكَ حَتَّى تَقُولَ فِيهِ .
— "Kaummu tidak akan ridha kepadamu hingga engkau mengatakan sesuatu tentangnya."
فَأَطْرَقَ الْوَلِيدُ قَلِيلًا ثُمَّ قَالَ :
Al-Walid menundukkan kepala sejenak lalu berkata:
— فَدَعْنِي حَتَّى أُفَكِّرَ فِيهِ .
— "Biarkan aku hingga aku memikirkannya."
وَلَمْ يَجِدِ الْوَلِيدُ جَدِيدًا يَقُولُهُ فَقَالَ :
Al-Walid tidak menemukan hal baru untuk diucapkan, maka ia berkata:
— هَذَا سِحْرٌ يُؤْثَرُ .
— "Ini adalah sihir yang dipelajari."
فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا . وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا . وَبَنِينَ شُهُودًا . وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا . ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ . كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا . سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا . إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ . فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ . ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ . ثُمَّ نَظَرَ . ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ . ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ . فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ . إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ .
Maka Allah SWT meurunkan ayat : "Biarkanlah Aku bertindak sendiri terhadap orang yang Aku ciptakan (sendirian). Dan Aku telah memberinya kekayaan yang melimpah, dan anak-anak yang selalu bersamanya (di sisi-nya). Dan Aku telah memberikan kepadanya kelapangan hidup yang seluas-luasnya. Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang menyiksa. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang hendak dikatakannya). Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan (sesuatu yang batil itu)? Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan (sesuatu yang batil itu)? Kemudian dia memperhatikan. Kkemudian ia bermuka masam dan merengut. Kemudian ia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu ia berkata: '(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'."
وَكَانَ النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ يَسْتَشْعِرُ الْغَيْرَةَ تَنْهَشُ فُؤَادَهُ إِذَا مَا ذُكِرَ الْقُرْآنُ بِخَيْرٍ ، فَكَانَ يَقُولُ :
An-Nadhr bin Al-Harits merasakan kecemburuan menggerogoti hatinya jika Al-Qur'an disebut-sebut dengan kebaikan, maka ia pun berkata:
— قَدْ سَمِعْنَا ، لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا . إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ .
— "Sungguh kami telah mendengarnya, sekiranya kami berkehendak niscaya kami dapat mengucapkan yang seperti ini. Ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu."
وَكَانَتْ عَدَاوَتُهُ لِلرَّسُولِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - تَبْلُغُ مَدَاهَا لَمَّا يَجِدُ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللهِ ، فَكَانَ يَقُولُ فِي سُخْرِيَةٍ لِيُنَفِّرَ النَّاسَ عَنِ الْحَقِّ :
Permusuhannya kepada Rasul -shallallahu 'alaihi- mencapai puncaknya ketika ia melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah, maka ia berkata dengan nada ejekan untuk menjauhkan orang-orang dari kebenaran:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ .
"Ya Allah, jika ini benar dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih."
فَأَنْزَلَ اللهُ فِيهِ : سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ . لِلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ . مِنَ اللهِ ذِي الْمَعَارِجِ . تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ . فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا . إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا . وَنَرَاهُ قَرِيبًا .
Maka Allah menurunkan tentangnya: "Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, bagi orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, (datangnya) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksa itu jauh (mustahil). Dan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)."
كَانَتْ سُخْرِيَةُ النَّضْرِ بْنِ الْحَارِثِ تَسْتَهْوِي الْكَافِرِينَ وَلَكِنَّهَا سَرْعَانَ مَا تَذْهَبُ أَدْرَاجَ الرِّيَاحِ . إِنَّهُ قَالَ عَمَّا نَزَلَ فِي عَادٍ وَثَمُودَ مِنْ آيَاتٍ إِنَّهَا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ . وَحَدَّثَ عَنْ رُسْتُمَ وَاسْفَنْدِيَارَ وَلَكِنْ مَا إِنْ خَلَا النَّاسُ إِلَى أَنْفُسِهِمْ حَتَّى رَاحُوا يَتْلُونَ بَيْنَ الدَّهْشِ وَالْإِعْجَابِ : الْحَاقَّةُ . مَا الْحَاقَّةُ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ . كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ - فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ . وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ . سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ . فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ .
Ejekan An-Nadhr bin Al-Harits memang menarik perhatian orang-orang kafir, namun ejekan itu segera hilang tertiup angin. Ia mengatakan bahwa ayat-ayat yang turun mengenai kaum 'Ad dan Tsamud hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Ia pun bercerita tentang Rustam dan Isfandiyar, tetapi ketika orang-orang menyendiri dengan diri mereka sendiri, mereka justru melantunkan dengan penuh kekaguman dan keterpanaan: "Hari Kiamat. Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Kaum Tsamud dan 'Ad telah mendustakan hari kiamat. Maka adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum 'Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu melihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seolah-olah mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka."[cite: 10]
وَصَارَ مُحَمَّدٌ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - وَرَبُّ ابْنِ عَبْدِ اللهِ وَمَا نَزَلَ عَلَيْهِ مِنْ قُرْآنٍ حَدِيثَ الدَّوْرِ فِي مَكَّةَ ، حَتَّى إِنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ قُرَيْشٍ وَخَتَنًا لَهُمَا مِنْ ثَقِيفٍ كَانُوا فِي بَيْتٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ : أَتَرَوْنَ اللهَ يَسْمَعُ نَجْوَانَا ؟
Muhammad -shallallahu 'alaihi-, Tuhannya putra Abdullah, dan Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya menjadi buah bibir di Makkah. Hingga suatu ketika, dua orang Quraisy dan dua menantu mereka dari suku Tsaqif sedang berada di dalam sebuah rumah, lalu salah seorang dari mereka bertanya: "Apakah kalian mengira Allah mendengar bisikan kita?"[cite: 10, 11]
— قَدْ سَمِعَ بَعْضَهُ وَلَمْ يَسْمَعْ بَعْضَهُ .
— "Dia mendengar sebagiannya dan tidak mendengar sebagian yang lain."
— لَئِنْ كَانَ يَسْمَعُ بَعْضَهُ لَقَدْ سَمِعَ كُلَّهُ .
— "Jika Dia mendengar sebagiannya, maka sungguh Dia telah mendengar semuanya."
وَخَرَجُوا إِلَى الْحَرَمِ فَإِذَا بِرَسُولِ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ - يَتْلُو : وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ . حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا وَشَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ . وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ . وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ . وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ .
Mereka keluar menuju Al-Haram, tiba-tiba Rasulullah -shallallahu 'alaihi- sedang membaca: "Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: 'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?' Kulit mereka menjawab: 'Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan'. Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi."[cite: 11]
فَرَاحَ الرَّجُلَانِ مِنْ قُرَيْشٍ وَخَتَنُهُمَا يَتَبَادَلَانِ النَّظَرَاتِ وَهُمْ يَعْجَبُونَ ، فَقَدْ نَزَلَ الْقُرْآنُ يَرُدُّ عَلَى مَا كَانَ يَدُورُ بَيْنَهُمْ مِنْ حَدِيثٍ وَمَا كَانَ الْأَمِينُ فِيهِمْ وَمَا سَمِعَ نَجْوَاهُمْ ، وَفِيمَا هُمْ فِي قِمَّةِ انْفِعَالِهِمْ وَبَيْنَمَا أَفْئِدَتُهُمْ تَخْفِقُ بِالرَّهْبَةِ تَكَادُ أَنْ تَنْفَتِحَ قُلُوبُهُمْ لِلنُّورِ ، إِذَا بِأَصْوَاتٍ تَرْتَفِعُ فِي الْحَرَمِ :
Kedua orang Quraisy dan menantu mereka bertukar pandangan dalam keadaan heran, karena Al-Qur'an turun menjawab apa yang baru saja mereka bicarakan, padahal Al-Amin tidak berada bersama mereka dan tidak mendengar bisikan mereka. Saat mereka dalam puncak keterharuan dan hati mereka bergetar ketakutan, hampir saja hati mereka terbuka untuk cahaya (kebenaran), tiba-tiba terdengar suara-suara meninggi di Al-Haram:[cite: 11]
— الصَّابِئُ . الْكَاهِنُ . لَا تَصْغَوْا إِلَيْهِ إِنَّهُ مَجْنُونٌ .
— "Shabi' (orang yang keluar dari agama)! Tukang ramal! Jangan dengarkan dia, dia gila."
— بَلْ سَاحِرٌ . هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ .
— "Bahkan penyihir. Ini adalah sihir yang nyata."
وَدَنَا أَبُو جَهْلٍ وَالنَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ مِنَ الرَّسُولِ ﷺ وَقَالَا لَهُ فِي انْتِصَارٍ :
Abu Jahal dan An-Nadhr bin Al-Harits mendekati Rasul ﷺ dan berkata kepadanya dengan sombong:
— إِنَّكَ لَتَشْقَى بِتَرْكِ دِينِنَا .
— "Sesungguhnya engkau benar-benar sengsara karena meninggalkan agama kami."
فَانْصَرَفَ النَّبِيُّ - ﷺ - وَهُوَ حَزِينٌ ، فَإِذَا بِجِبْرِيلَ الْأَمِينِ يَأْتِيهِ بِمَا يُطْمَئِنُّ فُؤَادَهُ : طه . مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى . إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى . تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى . الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى . لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى . وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى . اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى .
Nabi ﷺ pergi dalam keadaan sedih, lalu datanglah Jibril Al-Amin membawa apa yang menenangkan hatinya: "Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmaul husna (nama-nama yang baik)."
وَكَانَ النَّبِيُّ - ﷺ - يَلُوذُ بِأَبِي طَالِبٍ بَيْنَ وَقْتٍ وَآخَرَ ، فَأَبُو طَالِبٍ قَدْ عَادَى قُرَيْشًا كُلَّهَا فِي سَبِيلِ حِمَايَتِهِ . فَإِنْ كَانَ صَنَادِيدُ الْكُفَّارِ يُحْجِمُونَ عَنْ قَتْلِهِ فَمَا ذَلِكَ إِلَّا خَوْفًا مِنْ أَنْ يَجْمَعَ أَبُو طَالِبٍ رِجَالَ بَنِي هَاشِمٍ وَيَنْهَضَ لِلثَّأْرِ لِابْنِ أَخِيهِ ؛ وَقَدْ هَمَّ ذَاتَ يَوْمٍ بِأَنْ يَشُنَّهَا حَرْبًا شَعْوَاءَ عَلَى بَنِي أُمَيَّةَ وَبَنِي مَخْزُومٍ وَبُطُونِ قُرَيْشٍ الْأُخْرَى لِمَا ظَنَّ أَنَّهُمْ قَدْ غَدَرُوا بِالْأَمِينِ . وَلَمْ يَضَعِ السِّلَاحَ إِلَّا بَعْدَ أَنْ رَأَى أَبَا الْقَاسِمِ وَاطْمَأَنَّ إِلَى سَلَامَتِهِ .
Nabi ﷺ berlindung kepada Abu Thalib dari waktu ke waktu, karena Abu Thalib telah memusuhi seluruh Quraisy demi melindunginya. Jika para pembesar kafir menahan diri untuk membunuhnya, itu tidak lain karena takut Abu Thalib akan mengumpulkan laki-laki Bani Hasyim dan bangkit menuntut balas atas keponakannya. Suatu hari ia bertekad mengobarkan perang besar terhadap Bani Umayyah, Bani Makhzum, dan kabilah Quraisy lainnya karena mengira mereka telah berkhianat kepada Al-Amin. Ia tidak meletakkan senjata hingga melihat Abu Al-Qasim dan memastikan keselamatannya.
كَانَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - يُحَاوِرُ عَمَّهُ وَكَانَ يَطْمَعُ فِي إِسْلَامِهِ فَهُوَ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّ هِدَايَتَهُ ، وَبَيْنَا كَانَتِ الْمُنَاقَشَةُ بَيْنَهُمَا تَدُورُ ، تَذَكَّرَ أَبُو طَالِبٍ أَنَّ مُحَمَّدًا - عَلَيْهِ السَّلَامُ - قَدْ شُغِلَ بِالْحَدِيثِ عَنِ الطَّعَامِ ، فَقَامَ وَأَتَى النَّبِيَّ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - بِخُبْزٍ وَلَبَنٍ ثُمَّ جَلَسَ ، فَبَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ إِذِ انْحَطَّ نَجْمٌ فَامْتَلَأَ الْأُفُقُ بِنَارٍ . فَفَزِعَ أَبُو طَالِبٍ وَقَالَ :
Rasulullah ﷺ berbincang dengan pamannya dan berharap ia masuk Islam, karena ia mencintainya dan menginginkan petunjuk baginya. Saat diskusi berlangsung, Abu Thalib teringat bahwa Muhammad ﷺ sibuk berbicara tentang makanan. Maka ia bangkit dan memberikan roti serta susu kepada Nabi ﷺ, lalu duduk. Saat ia duduk, tiba-tiba jatuh sebuah bintang dan cakrawala dipenuhi api. Abu Thalib terkejut dan berkata:
— أَيُّ شَيْءٍ هَذَا ؟
— "Benda apa ini?"
فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ :
Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya:
— هَذَا نَجْمٌ رُمِيَ بِهِ ، وَهُوَ آيَةٌ مِنْ آيَاتِ اللهِ .
— "Ini adalah bintang yang dilemparkan, dan itu adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah."
فَعَجِبَ أَبُو طَالِبٍ وَسَكَنَ رَوْعُهُ ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى : وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ . النَّجْمُ الثَّاقِبُ . إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ . فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ . خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ . يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ . إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ . يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ . فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ .
Abu Thalib heran dan rasa takutnya mereda. Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus. Tidak ada suatu jiwa pun yang tidak ada penjaganya. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang memancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong pun."
وَعَجِبَ أَبُو طَالِبٍ وَرَاحَ يَسْأَلُ نَفْسَهُ : مِنْ أَيْنَ أُوتِيَ ابْنُ أَخِيهِ هَذِهِ الْحِكْمَةَ ؟ إِنَّهُ شَبَّ فِي دَارِهِ وَمَا كَانَ يُرْوَى فِي الدَّارِ غَيْرُ شِعْرِهِ وَشِعْرِ أَخِيهِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَشِعْرِ شُعَرَاءِ قُرَيْشٍ . وَقَدْ فَرِحَ بَنُو هَاشِمٍ لَمَّا ظَهَرَ فِيهِمْ أَبُو سُفْيَانَ بْنُ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَقَدْ وُجِدَ الشَّاعِرُ الَّذِي يُدَافِعُ عَنْهُمْ وَيُنْزِلُ الرُّعْبَ فِي قُلُوبِ الْقَبَائِلِ مِنْ حِدَّةِ لِسَانِهِ ، أَمَّا أَنْ يُكَلِّمَ إِنْسَانٌ مِنَ السَّمَاءِ فَمَا خَطَرَ ذَلِكَ لَهُمْ عَلَى قَلْبٍ . وَإِنَّ أَبَا طَالِبٍ وَإِنْ كَانَ يُحِسُّ رَاحَةً لِدَعْوَةِ ابْنِ أَخِيهِ إِلَّا أَنَّ فِكْرَةَ أَنَّ اللهَ أَكْبَرُ مِنْ أَنْ يُخَاطِبَ بَشَرًا كَانَتْ مُسْتَحْوِذَةً عَلَيْهِ وَوَقَرَتْ فِي عَيْنِ ضَمِيرِهِ .
Abu Thalib heran dan bertanya pada dirinya sendiri: Dari mana keponakannya mendapatkan hikmah ini? Ia tumbuh di rumahnya dan tidak ada yang diriwayatkan di rumah itu selain syairnya, syair saudaranya Az-Zubair bin Abdul Muthalib, dan syair penyair-penyair Quraisy. Bani Hasyim senang ketika muncul di antara mereka Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib, karena telah ditemukan penyair yang membela mereka dan menebar rasa takut di hati kabilah-kabilah karena tajamnya lisannya. Adapun manusia berbicara dengan langit, itu tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka. Abu Thalib, meski merasakan kenyamanan terhadap dakwah keponakannya, namun ide bahwa Allah terlalu agung untuk berbicara kepada manusia terus menguasai dirinya dan tertanam dalam lubuk hatinya.
كَانَ رَاضِيًا عَنْ جَوْهَرِ دَعْوَةِ مُحَمَّدٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - وَمَا فِيهَا مِنْ دَعْوَةٍ إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، وَكَانَ إِعْجَابُهُ بِابْنِ أَخِيهِ لَا يَجِدُ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ مُخْلِصًا مَعَ نَفْسِهِ وَمَعَ تَنْزِيهِ اللهِ عَنْ أَنْ يَتَّصِلَ بِالْبَشَرِ أَوْ يُوحَى إِلَيْهِمْ . وَكَانَ كُلَّمَا جَلَسَ إِلَى ابْنِهِ عَلِيٍّ يَزْدَادُ حَيْرَةً فَمِنْ أَيْنَ لِعَلِيٍّ كُلُّ ذَلِكَ الْفَهْمِ وَمِنْ أَيْنَ لَهُ التَّفَقُّهُ فِي الدِّينِ وَهُوَ فِي مِثْلِ سِنِّهِ وَحَدَاثَتِهِ ؟ وَلَوْ سَمِعَ قَوْلَ رَسُولِ اللهِ ﷺ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ : ( إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أُدْنِيَكَ وَلَا أُقْصِيَكَ وَأَنْ أُعَلِّمَكَ وَتَعِيَ ، وَحَقٌّ عَلَى اللهِ أَنْ تَعِيَ ) وَآمَنَ بِمَا قَالَهُ ابْنُ أَخِيهِ لَزَالَ عَجَبُهُ ، وَلَوَجَدَ رَاحَةً نَفْسِيَّةً لِلْقَلَقِ الْمَوَّارِ بَيْنَ جَنْبَيْهِ .
Ia puas dengan inti dakwah Muhammad ﷺ dan seruan di dalamnya menuju kemuliaan akhlak. Kekagumannya pada keponakannya tidak menutupi bahwa ia tetap jujur pada dirinya sendiri mengenai penyucian Allah agar tidak berhubungan dengan manusia atau memberikan wahyu kepada mereka. Setiap kali ia duduk bersama anaknya, Ali, ia semakin bingung; dari mana Ali mendapatkan pemahaman itu dan dari mana ia mendapatkan pendalaman agama dalam usia semuda itu? Seandainya ia mendengar perkataan Rasulullah ﷺ kepada Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk mendekatkanmu dan tidak menjauhkanmu, serta mengajarkanmu agar engkau paham, dan menjadi hak bagi Allah bahwa engkau akan paham," dan ia mengimani apa yang dikatakan keponakannya, niscaya keheranannya akan hilang dan ia akan menemukan ketenangan jiwa dari kegelisahan yang membara di dadanya.
وَرَجَعَتْ قَافِلَةُ قُرَيْشٍ مِنَ الشَّامِ وَخَفَّ النَّاسُ لِاسْتِقْبَالِ الْعَائِدِينَ ، فَإِذَا بِأَبِي لَهَبٍ بَاسِرِ الْوَجْهِ قَدْ نَكَأَتِ الْعَوْدَةُ جُرْحَ قَلْبِهِ فَهُوَ يَعُودُ بَعْدَ أَنْ غَيَّبَ مَعْتَبًا التُّرَابَ . وَرَاحَ أَبُو طَالِبٍ وَالْعَبَّاسُ وَحَمْزَةُ وَسَادَاتُ بَنِي هَاشِمٍ يُرَحِّبُونَ بِأَبِي لَهَبٍ وَهُوَ حَزِينٌ فِي عَيْنَيْهِ دُمُوعٌ ، وَمَا كَانَتْ دُمُوعُ الْفَرَحِ بِاللِّقَاءِ بَلْ دُمُوعُ الْوَالِهِ الْحَزِينِ عَلَى فَلَذَةِ الْكَبِدِ وَهَوَى الْفُؤَادِ . وَفَطِنَ الرِّجَالُ إِلَى أَسَى الرَّجُلِ الَّذِي عُرِفَ بَيْنَهُمْ بِقَسْوَةِ الْقَلْبِ فَلَمَّا سَأَلُوهُ عَمَّا بِهِ وَعَرَفُوا أَنَّ أَسَدًا قَضَى عَلَى مَعْتَبٍ لَاحَ فِي وُجُوهِهِمُ الْحُزْنُ ، وَتَذَكَّرَ أَبُو طَالِبٍ دَعْوَةَ ابْنِ أَخِيهِ أَبِي الْقَاسِمِ عَلَى مَعْتَبٍ لَمَّا بَصَقَ فِي وَجْهِهِ فَرَنَتْ فِي أُذُنَيْهِ كَأَنَّمَا كَانَتْ قَضَاءً رَهِيبًا : اللَّهُمَّ سَلِّطْ عَلَيْهِ كَلْبًا مِنْ كِلَابِكَ . فَتَقَاصَرَتْ نَفْسُهُ وَلَفَّهُ خَوْفٌ وَهُوَ يَسْأَلُ نَفْسَهُ : تُرَى أَجَاءَ قَتْلُ الْأَسَدِ لِابْنِ أَخِيهِ مَعْتَبٍ مُصَادَفَةً أَمْ أَنَّ اللهَ رَبَّ مُحَمَّدٍ اسْتَجَابَ لِدَعْوَتِهِ ؟!
Kafilah Quraisy kembali dari Syam dan orang-orang bergegas menyambut mereka. Tiba-tiba Abu Lahab berwajah masam, kepulangannya justru melukai hatinya karena ia kembali setelah memakamkan Ma'tab ke dalam tanah. Abu Thalib, Abbas, Hamzah, dan pemuka Bani Hasyim menyambut Abu Lahab yang bersedih dengan air mata di matanya. Itu bukan air mata kegembiraan pertemuan, melainkan air mata orang yang kehilangan buah hati dan belahan jiwa. Para lelaki itu sadar akan kesedihan pria yang dikenal berhati keras di antara mereka. Ketika mereka bertanya dan tahu bahwa seekor singa telah mengakhiri hidup Ma'tab, kesedihan tampak di wajah mereka. Abu Thalib teringat doa keponakannya, Abu Al-Qasim, terhadap Ma'tab saat ia meludah di wajahnya. Doa itu terngiang di telinganya seolah-olah menjadi ketetapan yang mengerikan: "Ya Allah, kuasakanlah kepadanya seekor anjing dari anjing-anjing-Mu." Ia merasa sesak, diliputi ketakutan, dan bertanya pada dirinya sendiri: Apakah terbunuhnya keponakannya, Ma'tab, oleh singa itu suatu kebetulan, ataukah Allah, Tuhan Muhammad, telah mengabulkan doanya?!
وَكَانَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ لَا يَقْدَمُ مِنْ سَفَرٍ إِلَّا صَنَعَ طَعَامًا فَدَعَا إِلَيْهِ أَشْرَافَ قَوْمِهِ ، فَلَمَّا قَدِمَ مِنْ سَفَرِهِ هَذَا صَنَعَ طَعَامًا فَدَعَا النَّاسَ وَدَعَا رَسُولَ اللهِ - ﷺ - إِلَى طَعَامِهِ ، فَلَمَّا قَرُبَ الطَّعَامُ قَالَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - :
Uqbah bin Abi Mu'aith tidak pernah kembali dari perjalanan melainkan ia membuat jamuan dan mengundang pembesar kaumnya. Saat kembali dari perjalanan ini, ia membuat jamuan dan mengundang orang-orang serta Rasulullah ﷺ. Ketika makanan didekatkan, Rasulullah ﷺ bersabda:
— مَا أَنَا بِآكِلٍ مِنْ طَعَامِكَ حَتَّى تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ .
— "Aku tidak akan memakan makananmu sampai engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah."
فَقَالَ عُقْبَةُ :
Maka Uqbah berkata:
— أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ .
— "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."
فَأَكَلَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - وَقَدِ انْشَرَحَ صَدْرُهُ لِإِسْلَامِ مَنْ لَجَّ فِي عَدَاوَتِهِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَقْسَى الْمُسْتَهْزِئِينَ بِالدِّينِ الْقَوِيمِ .
Rasulullah ﷺ pun makan, dan dadanya terasa lapang karena Islamnya orang yang bersikeras dalam permusuhannya dan yang merupakan salah satu pengejek paling kejam terhadap agama yang lurus.
كَانَ أُبَيُّ بْنُ خَلَفٍ وَعُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ مُتَحَالِفَيْنِ وَكَانَ أُبَيٌّ غَائِبًا ، فَلَمَّا أُخْبِرَ بِمَا كَانَ بَيْنَ عُقْبَةَ وَمُحَمَّدٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - كَادَ يَطِيشُ لُبُّهُ ، فَفِي إِيمَانِ عُقْبَةَ تَقْوِيضٌ لِرُكْنٍ رَكِينٍ فِي عَدَاوَةِ ابْنِ أَبِي كَبْشَةَ الَّذِي جَاءَ بِدَعْوَى تَجْتَثُّ سُلْطَانَهُمْ مِنْ مَكَّةَ بَلْ مِنْ كُلِّ أَرْضِ الْعَرَبِ . فَخَرَجَ وَشَرَرُ الْغَضَبِ يَتَطَايَرُ مِنْ عَيْنَيْهِ حَتَّى إِذَا مَا دَخَلَ عَلَى عُقْبَةَ قَالَ لَهُ :
Ubay bin Khalaf dan Uqbah bin Abi Mu'aith adalah sekutu, dan Ubay sedang pergi. Ketika dikabarkan kepadanya tentang apa yang terjadi antara Uqbah dan Muhammad ﷺ, akalnya hampir hilang. Sebab dalam keimanan Uqbah terdapat keruntuhan pilar yang kokoh dalam memusuhi putra Abu Kabsyah, yang membawa dakwah yang mencabut kekuasaan mereka dari Makkah, bahkan dari seluruh tanah Arab. Ia keluar dengan amarah yang memercik dari matanya, hingga saat ia masuk menemui Uqbah, ia berkata kepadanya:
— صَبَأْتَ يَا عُقْبَةُ . وَجْهِي مِنْ وَجْهِكَ حَرَامٌ إِنْ تَابَعْتَ مُحَمَّدًا .
— "Engkau telah keluar dari agama, wahai Uqbah. Wajahku haram bagi wajahmu jika engkau mengikuti Muhammad."
وَخَشِيَ عُقْبَةُ غَضَبَ أُبَيٍّ أَكْثَرَ مِنْ خَشْيَتِهِ مِنْ غَضَبِ اللهِ ، فَقَالَ مُعْتَذِرًا :
Uqbah lebih takut pada kemarahan Ubay daripada kemarahan Allah, maka ia berkata seraya meminta maaf:
— وَاللهِ مَا صَبَأْتُ وَلَكِنْ دَخَلَ عَلَيَّ رَجُلٌ فَأَبَى أَنْ يَطْعَمَ مِنْ طَعَامِي إِلَّا أَنْ أَشْهَدَ لَهُ ، فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ بَيْتِي وَلَمْ يَطْعَمْ فَشَهِدْتُ فَطَعِمَ .
— "Demi Allah, aku tidak keluar dari agama, tetapi seseorang masuk menemuiku dan menolak makan makananku kecuali jika aku bersaksi untuknya. Aku malu ia keluar dari rumahku dalam keadaan tidak makan, maka aku bersaksi dan ia pun makan."
وَلَمْ يَقْنَعْ ذَلِكَ الْقَوْلُ أُبَيَّ بْنَ خَلَفٍ فَقَالَ :
Perkataan itu tidak memuaskan Ubay bin Khalaf, maka ia berkata:
— مَا أَنَا بِالَّذِي رَضِيَ مِنْكَ أَبَدًا إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُ فَتَبْزُقَ فِي وَجْهِهِ وَتَطَأَ عُنُقَهُ .
— "Aku tidak akan pernah puas darimu kecuali engkau mendatangi dan meludah di wajahnya serta menginjak lehernya."
وَخَرَجَ عُقْبَةُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَوَجَدَ رَسُولَ اللهِ - ﷺ - سَاجِدًا ، فَدَاسَ عَلَى عُنُقِهِ حَتَّى كَادَتْ عَيْنَاهُ - ﷺ - أَنْ تَخْرُجَا مِنْ مَحْجِرَيْهِمَا ، فَقَامَ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - وَهُوَ يَلْتَقِطُ أَنْفَاسَهُ فِي جُهْدٍ فَبَزَقَ فِي وَجْهِهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - :
Uqbah keluar menuju masjid dan mendapati Rasulullah ﷺ sedang sujud. Ia menginjak leher beliau hingga mata beliau ﷺ hampir keluar dari kelopaknya. Beliau ﷺ bangkit sambil terengah-engah dengan susah payah, lalu Uqbah meludah di wajah beliau. Rasulullah ﷺ bersabda:
— لَا أَلْقَاكَ خَارِجًا مِنْ مَكَّةَ إِلَّا عَلَوْتُ رَأْسَكَ بِالسَّيْفِ .
— "Tidaklah aku bertemu denganmu di luar Makkah melainkan aku akan menebas kepalamu dengan pedang."
وَضَجَّ الْكَافِرُونَ بِالضَّحِكِ فَمَا كَانَ لِمُحَمَّدٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - أَنْصَارٌ يَمْنَعُونَهُ ، وَمَا كَانَتْ لَهُمْ بَصَائِرُ يَرَوْنَ بِهَا نَصْرَ اللهِ الَّذِي وَعَدَ بِهِ رَسُولَهُ ، وَلَمْ يَنْزِلِ الْوَحْيُ يَنْهَاهُ عَنْ وَعْدِهِ بِقَتْلِ عُقْبَةَ إِنْ لَقِيَهُ خَارِجًا مِنْ مَكَّةَ بَلْ نَزَلَ الرُّوحُ الْأَمِينُ بِالْوَعِيدِ : وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا . يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا . لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا . وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا . وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا . وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا . وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا .
Orang-orang kafir riuh tertawa, karena Muhammad ﷺ tidak memiliki penolong yang dapat mencegahnya, dan mereka tidak memiliki pandangan batin untuk melihat pertolongan Allah yang dijanjikan kepada Rasul-Nya. Wahyu tidak turun melarangnya dari janjinya untuk membunuh Uqbah jika bertemu di luar Makkah, justru Ruh Al-Amin turun membawa ancaman: "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul'. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan'. Seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pembeda (antara yang hak dan batil) dan Penolong. Berkatalah orang-orang yang kafir: 'Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?'; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacacannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya."
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi