عَلِمَ أَبُو جَهْلٍ أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ الْمَخْزُومِيَّ قَدْ دَخَلَ فِي دِينِ مُحَمَّدٍ ﷺ ، فَاسْتَبَدَّ بِهِ الْغَضَبُ ، فَمَا كَانَ يَحْسَبُ أَنَّ الْفِتْنَةَ تَدْخُلُ دُورَ بَنِي مَخْزُومٍ . إِنَّهُ يُجَاهِدُ لِيَكْتُمَ صَوْتَ الْحَقِّ حَتَّى لَا يَذْهَبَ الشَّرَفُ كُلُّهُ لِبَنِي قُصَيٍّ فَإِذَا بِأَبِي سَلَمَةَ يُسْلِمُ وَيُقِرُّ بِنُبُوَّةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ .
Abu Jahal mengetahui bahwa Abu Salamah Al-Makhzumi telah masuk ke dalam agama Muhammad ﷺ. Kemarahan pun menguasainya; ia tidak menyangka bahwa fitnah (Islam) akan masuk ke rumah-rumah Bani Makhzum. Ia berjuang untuk membungkam suara kebenaran agar kemuliaan tidak berpindah seluruhnya kepada Bani Qushay, namun ternyata Abu Salamah masuk Islam dan mengakui kenabian Muhammad bin Abdullah.
وَتَذَكَّرَ أَبُو جَهْلٍ ذَلِكَ الْحَدِيثَ الَّذِي دَارَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَخْنَسِ بْنِ شَرِيقٍ ، قَالَ لَهُ الْأَخْنَسُ :
Abu Jahal teringat percakapan yang pernah terjadi antara dirinya dan Al-Akhnas bin Syariq. Al-Akhnas berkata kepadanya:
— يَا أَبَا الْحَكَمِ أَخْبِرْنِي عَنْ مُحَمَّدٍ أَصَادِقٌ هُوَ أَمْ كَاذِبٌ ؟ فَإِنَّهُ لَيْسَ هُنَا مَنْ يَسْمَعُ كَلَامَكَ غَيْرِي .
— "Wahai Abu Al-Hakam, kabarkan kepadaku tentang Muhammad, apakah dia jujur atau pendusta? Karena tidak ada di sini yang mendengar perkataanmu selain aku."
— وَاللهِ إِنَّ مُحَمَّدًا الصَّادِقُ وَمَا كَذَبَ مُحَمَّدٌ قَطُّ ، وَلَكِنْ إِذَا ذَهَبَ بَنُو قُصَيٍّ بِاللِّوَاءِ وَالسِّقَايَةِ وَالْحِجَابَةِ وَالنَّدْوَةِ وَالنُّبُوَّةِ فَمَاذَا يَكُونُ لِسَائِرِ قُرَيْشٍ ؟
— "Demi Allah, sesungguhnya Muhammad adalah orang jujur dan Muhammad tidak pernah berdusta sama sekali. Namun, jika Bani Qushay menguasai liwa (bendera), siqayah (pemberian minum jamaah haji), hijabah (pemegang kunci Ka'bah), nadwah (permusyawaratan), dan kenabian, maka apa yang tersisa bagi kabilah Quraisy lainnya?"
وَتَذَكَّرَ مَا أَنْزَلَ اللهُ فِيهِ : قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللهِ يَجْحَدُونَ . فَلَمْ يَلِنْ قَلْبُهُ وَيَسْتَجِيبُ لِلْحَقِّ بَلْ زَادَ طُغْيَانًا وَعَزَمَ عَلَى أَنْ يُعَذِّبَ أَبَا سَلَمَةَ حَتَّى يَفْتِنَهُ عَنْ دِينِهِ .
Dan ia teringat apa yang Allah turunkan mengenai dirinya: "Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, janganlah mereka mendustakanmu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." Hatinya tidak melunak dan tidak menanggapi kebenaran, justru ia semakin melampaui batas dan bertekad untuk menyiksa Abu Salamah hingga ia berpaling dari agamanya.
كَانَ أَبُو سَلَمَةَ يَعْلَمُ أَنَّ أَخَا أَبِي جَهْلٍ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ قَدْ أَسْلَمَ ، وَكَانَ يَعْلَمُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ يَطْلُبُهُ لِيُنْزِلَ بِهِ عَذَابَهُ فَلَمْ يَقُلْ لَهُ : اذْهَبْ إِلَى أَخِيكَ قَبْلَ أَنْ تَأْتِيَ إِلَيَّ . بَلِ انْطَلَقَ إِلَى خَالِهِ أَبِي طَالِبٍ لِيَكُونَ فِي جِوَارِهِ فَهُوَ ابْنُ بَرَّةَ بِنْتِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَكَانَ عَلَى أَخْوَالِهِ أَنْ يَحْمُوهُ مِنْ غَضَبِ بَنِي مَخْزُومٍ .
Abu Salamah mengetahui bahwa saudara Abu Jahal, Ayyash bin Abi Rabi'ah, telah masuk Islam, dan ia tahu bahwa Abu Jahal mencarinya untuk memberikan siksaan. Namun, ia tidak berkata kepadanya: "Pergilah kepada saudaramu sebelum engkau datang kepadaku." Ia justru pergi menuju pamannya, Abu Thalib, untuk berada dalam perlindungannya, karena ia adalah putra dari Barrah binti Abdul Muthalib, sehingga menjadi tanggung jawab paman-pamannya untuk melindunginya dari amarah Bani Makhzum.
وَجَاءَ أَبُو جَهْلٍ عَلَى رَأْسِ قَوْمٍ مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ إِلَى أَبِي طَالِبٍ فَقَالُوا لَهُ :
Abu Jahal datang bersama rombongan kaumnya dari Bani Makhzum menemui Abu Thalib, lalu mereka berkata kepadanya:
— لَقَدْ مَنَعْتَ مِنَّا ابْنَ أَخِيكَ مُحَمَّدًا فَمَا لَكَ وَلِصَاحِبِنَا تَمْنَعُهُ مِنَّا ؟
— "Engkau telah menghalangi kami dari keponakanmu Muhammad, maka ada apa dengan dirimu dan sahabat kami, mengapa engkau menghalanginya dari kami?"
قَالَ أَبُو طَالِبٍ فِي ثِقَةٍ :
Abu Thalib berkata dengan yakin:
— إِنَّهُ اسْتَجَارَ بِي وَهُوَ ابْنُ أُخْتِي ، فَإِنْ أَنَا لَمْ أَمْنَعِ ابْنَ أُخْتِي لَمْ أَمْنَعِ ابْنَ أَخِي .
— "Dia meminta perlindungan kepadaku dan dia adalah keponakanku (dari jalur saudari), jika aku tidak melindungi keponakanku, niscaya aku tidak akan melindungi keponakanku (dari jalur saudara)."
وَكَانَ أَبُو لَهَبٍ حَاضِرًا فَقَالَ مُغْضَبًا :
Abu Lahab hadir, lalu ia berkata dengan marah:
— يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ وَاللهِ لَقَدْ أَكْثَرْتُمْ عَلَى هَذَا الشَّيْخِ ؟ مَا تَزَالُونَ تَتَوَثَّبُونَ عَلَيْهِ فِي جِوَارِهِ مِنْ بَيْنِ قَوْمِهِ . وَاللهِ لَتَنْتَهِنَّ عَنْهُ أَوْ لَتَقُومَنَّ مَعَهُ فِي كُلِّ مَا قَامَ فِيهِ حَتَّى يَبْلُغَ مَا أَرَادَ .
— "Wahai sekalian Quraisy, demi Allah, kalian telah terlalu berlebihan terhadap orang tua ini. Kalian terus saja menyerangnya terkait perlindungannya di tengah kaumnya. Demi Allah, kalian benar-benar harus berhenti mengganggunya atau aku akan berdiri bersamanya dalam setiap hal yang ia lakukan sampai ia mencapai apa yang diinginkannya."
وَخَشِيَ أَبُو جَهْلٍ أَنْ يَنْسَلِخَ أَبُو لَهَبٍ عَنْهُمْ أَوْ تَأْخُذَهُ الْعَصَبِيَّةُ فَيَنْضَمَّ إِلَى ابْنِ أَخِيهِ ، فَتَشْتَدَّ دَعْوَةُ مُحَمَّدٍ ﷺ وَتَقْوَى فَقَالَ :
Abu Jahal khawatir jika Abu Lahab memisahkan diri dari mereka atau fanatisme kesukuannya muncul sehingga ia bergabung dengan keponakannya, yang akan membuat dakwah Muhammad ﷺ semakin kuat dan kokoh, maka ia berkata:
— بَلْ تَنْصَرِفُ عَمَّا تَكْرَهُ يَا أَبَا عُتْبَةَ .
— "Tentu, engkau boleh pergi dari apa yang tidak engkau sukai wahai Abu 'Utbah."
وَانْصَرَفُوا وَسَارَ أَبُو جَهْلٍ وَهُوَ يَسْتَشْعِرُ قَهْرًا ، حَتَّى إِذَا مَا بَلَغَ الصَّفَا مَرَّ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ فَتَحَرَّكَ غَضَبُهُ فَرَاحَ يَسُبُّ مَنْ سَفَّهَ أَحْلَامَهُمْ وَفَرَّقَ جَمَاعَتَهُمْ ، ثُمَّ صَبَّ التُّرَابَ عَلَى رَأْسِهِ وَجَارِيَةٌ مِنْ دَارِ عَبْدِ اللهِ بْنِ جُدْعَانَ تَسْمَعُ وَتَنْظُرُ .
Mereka pergi, dan Abu Jahal berjalan dengan perasaan tertekan. Hingga ketika ia sampai di Shafa, ia berpapasan dengan Rasulullah ﷺ, amarahnya pun bangkit, lalu ia mencela orang yang dianggapnya membuat mimpi-mimpi (keyakinan) mereka terlihat bodoh dan memecah belah persatuan mereka, kemudian ia menumpahkan tanah ke atas kepala beliau, sementara seorang budak wanita dari rumah Abdullah bin Jud'an mendengar dan melihatnya.
وَانْصَرَفَ أَبُو جَهْلٍ إِلَى نَادِي قُرَيْشٍ وَانْصَرَفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ دُونَ أَنْ يَنْبِسَ بِكَلِمَةٍ .
Abu Jahal pergi menuju tempat berkumpul kaum Quraisy, dan Rasulullah ﷺ pun berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
وَظَلَّتْ مَوْلَاةُ عَبْدِ اللهِ بْنِ جُدْعَانَ تُسَرِّحُ الطَّرْفَ فِيمَا حَوْلَهَا ، حَتَّى إِذَا مَا رَأَتْ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مُقْبِلًا مُتَوَشِّحًا بِسَيْفِهِ رَاجِعًا مِنْ قَنْصِهِ مُتَّجِهًا إِلَى الْحَرَمِ لِيَطُوفَ بِالْبَيْتِ قَبْلَ أَنْ يَعُودَ إِلَى أَهْلِهِ ، تَأَهَّبَتْ لِتَقُصَّ عَلَى حَمْزَةَ مَا كَانَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ .
Budak wanita Abdullah bin Jud'an terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hingga ketika ia melihat Hamzah bin Abdul Muthalib datang dengan menyandang pedangnya, pulang dari berburu, menuju ke Haram untuk thawaf di Baitullah sebelum kembali ke keluarganya, ia bersiap untuk menceritakan kepada Hamzah tentang apa yang terjadi antara Abu Jahal dan Muhammad bin Abdullah.
وَمَرَّ عَلَيْهَا حَمْزَةُ فَقَالَتْ لَهُ :
Hamzah melewatinya, lalu ia berkata kepadanya:
— يَا أَبَا عُمَارَةَ لَوْ رَأَيْتَ مَا لَقِيَ ابْنُ أَخِيكَ مُحَمَّدٌ مِنْ أَبِي الْحَكَمِ بْنِ هِشَامٍ ! وَجَدَهُ هَاهُنَا جَالِسًا فَآذَاهُ وَسَبَّهُ وَبَلَغَ مِنْهُ مَا يَكْرَهُ ، ثُمَّ انْصَرَفَ عَنْهُ وَلَمْ يُكَلِّمْهُ مُحَمَّدٌ .
— "Wahai Abu 'Umarah, seandainya engkau melihat apa yang dialami keponakanmu Muhammad dari Abu Al-Hakam bin Hisyam! Dia mendapatinya sedang duduk di sini, lalu ia menyakitinya, mencelanya, dan melakukan hal yang tidak disukai, kemudian ia pergi meninggalkannya dan Muhammad tidak berbicara sepatah kata pun kepadanya."
فَسَارَ حَمْزَةُ نَحْوَ الْحَرَمِ وَهُوَ حَانِقٌ ، وَمَا كَادَ يَقْطَعُ فِي الطَّرِيقِ خُطُوَاتٍ حَتَّى لَحِقَتْ بِهِ مَوْلَاةُ أُخْتِهِ صَفِيَّةَ بِنْتِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَقَالَتْ لَهُ :
Hamzah berjalan menuju Haram dengan penuh amarah, dan baru saja ia melangkah beberapa langkah di jalan, budak wanita dari saudarinya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, menyusulnya dan berkata kepadanya:
— إِنَّ أَبَا الْحَكَمِ بْنَ هِشَامٍ صَبَّ التُّرَابَ عَلَى رَأْسِ مُحَمَّدٍ وَأَلْقَى عَلَيْهِ فَرَثًا .
— "Sesungguhnya Abu Al-Hakam bin Hisyam menumpahkan tanah ke kepala Muhammad dan melemparkan kotoran hewan kepadanya."
فَاحْتَمَلَ حَمْزَةُ الْغَضَبَ وَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَرَأَى أَبَا جَهْلٍ جَالِسًا فِي الْقَوْمِ ، فَأَقْبَلَ نَحْوَهُ حَتَّى قَامَ عَلَى رَأْسِهِ وَرَفَعَ الْقَوْسَ وَضَرَبَهُ فَشَجَّهُ شَجَّةً مُنْكَرَةً ثُمَّ قَالَ :
Hamzah menahan amarah, lalu masuk ke masjid dan melihat Abu Jahal sedang duduk di tengah kaumnya. Ia mendekatinya hingga berdiri tepat di atas kepalanya, mengangkat busur, dan memukulnya hingga melukai kepalanya dengan luka yang parah, kemudian ia berkata:
— أَتَشْتِمُهُ ؟ فَأَنَا عَلَى دِينِهِ أَقُولُ مَا يَقُولُ ، فَرُدَّ عَلَى ذَلِكَ إِنِ اسْتَطَعْتَ .
— "Apakah engkau mencelanya? Aku berada di atas agamanya, aku mengatakan apa yang ia katakan, balaslah hal itu jika engkau mampu."
فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ فِي تَضَرُّعٍ :
Abu Jahal berkata dengan memohon:
— سَفَّهَ عُقُولَنَا وَسَبَّ آلِهَتَنَا وَخَالَفَ آبَاءَنَا .
— "Dia menganggap bodoh akal kami, mencela sesembahan kami, dan menyalahi nenek moyang kami."
فَالْتَفَتَ حَمْزَةُ إِلَى الْقَوْمِ وَقَالَ فِي حِدَّةٍ :
Hamzah menoleh kepada kaumnya dan berkata dengan tajam:
— وَمَنْ أَسْفَهُ مِنْكُمْ ؟ تَعْبُدُونَ الْحِجَارَةَ مِنْ دُونِ اللهِ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ .
— "Dan siapakah yang lebih bodoh daripada kalian? Kalian menyembah batu selain Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."
فَقَامَتْ رِجَالٌ مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ إِلَى حَمْزَةَ لِيَنْصُرُوا أَبَا جَهْلٍ فَقَالُوا :
Beberapa laki-laki dari Bani Makhzum bangkit menuju Hamzah untuk menolong Abu Jahal, lalu mereka berkata:
— مَا نَرَاكَ إِلَّا قَدْ صَبَأْتَ .
— "Kami tidak melihatmu melainkan telah keluar dari agama (murtad)."
— وَمَا يَمْنَعُنِي وَقَدِ اسْتَبَانَ لِي مِنْهُ . أَنَا أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللهِ وَأَنَّ الَّذِي يَقُولُ حَقٌّ . وَاللهِ لَا أَنْزِعُ فَامْنَعُونِي إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ .
— "Apa yang menghalangiku, padahal telah jelas bagiku (kebenarannya). Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah dan apa yang ia katakan adalah benar. Demi Allah, aku tidak akan mencabut (keyakinanku), maka cegahlah aku jika kalian orang-orang yang jujur."
فَقَالَ لَهُمْ أَبُو جَهْلٍ :
Abu Jahal berkata kepada mereka:
— دَعُوا أَبَا عُمَارَةَ فَإِنِّي وَاللهِ لَقَدْ أَسْمَعْتُ ابْنَ أَخِيهِ شَيْئًا قَبِيحًا .
— "Biarkan Abu 'Umarah, karena demi Allah, aku telah membuat keponakannya mendengar sesuatu yang buruk."
وَرَجَعَ حَمْزَةُ إِلَى بَيْتِهِ وَرَاحَ يُفَكِّرُ فِيمَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَبِي جَهْلٍ : إِنَّهُ ثَارَ لِابْنِ أَخِيهِ وَأَعْلَنَ إِسْلَامَهُ فِي نَوْبَةٍ مِنْ نَوْبَاتِ غَضَبِهِ فَرَاحَ الشَّيْطَانُ يُوَسْوِسُ لَهُ : ( أَنْتَ سَيِّدُ قُرَيْشٍ اتَّبَعْتَ هَذَا الصَّابِئَ وَتَرَكْتَ دِينَ آبَائِكَ . الْمَوْتُ خَيْرٌ لَكَ مِمَّا صَنَعْتَ ) .
Hamzah kembali ke rumahnya dan mulai berpikir tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Abu Jahal. Ia bangkit membela keponakannya dan mengumumkan keislamannya dalam luapan kemarahannya. Lalu setan mulai membisikinya: "(Engkau adalah pemimpin Quraisy, engkau mengikuti orang yang keluar dari agama ini dan meninggalkan agama nenek moyangmu. Kematian lebih baik bagimu daripada apa yang telah engkau lakukan)."
وَاسْتَشْعَرَ الرَّجُلُ الشُّجَاعُ الَّذِي لَا يَخْشَى الرَّدَى خَوْفًا يَلُفُّهُ وَحَيْرَةً تَكْتَنِفُهُ ، وَحَاوَلَ أَنْ يَنَامَ وَلَكِنْ لَمْ يَطُفِ الْكَرَى بِعَيْنَيْهِ إِنَّهُ فِي قَلَقِهِ وَأَرَقِهِ وَفِي جَوْفِ اللَّيْلِ رَاحَ يَبْتَهِلُ إِلَى اللهِ فِي حَرَارَةٍ :
Pria pemberani yang tidak takut mati itu merasakan ketakutan yang menyelimutinya dan kebingungan yang melingkupinya. Ia mencoba tidur, namun rasa kantuk tidak kunjung datang ke matanya. Dalam kegelisahan dan terjaganya, di tengah malam ia mulai berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh:
— اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رَاشِدًا فَاجْعَلْ تَصْدِيقَهُ فِي قَلْبِي ، وَإِلَّا فَاجْعَلْ لِي مِمَّا وَقَعْتُ فِيهِ مَخْرَجًا .
— "Ya Allah, jika ini benar (petunjuk), maka tanamkanlah pembenarannya ke dalam hatiku, namun jika tidak, maka berikanlah aku jalan keluar dari apa yang telah aku lakukan."
وَرَاحَ حَمْزَةُ يَغْدُو وَيَرُوحُ فِي الْغُرْفَةِ يُحَاوِلُ أَنْ يَسْتَفْتِيَ قَلْبَهُ مَرَّةً ، وَيُصِيخَ سَمْعَهُ إِلَى هَمَزَاتِ الشَّيْطَانِ مَرَّةً ، وَيَبْتَهِلَ إِلَى اللهِ مَرَّاتٍ أَنْ يُدْرِكَهُ بِرَحْمَتِهِ وَيُلْقِيَ فِي عَيْنِ بَصِيرَتِهِ نُورًا يَرَى بِهِ جَوْهَرَ الْحَقِيقَةِ . إِنَّهُ أَقَرَّ عَلَى الْمَلَأِ بِوَحْدَانِيَّةِ اللهِ وَرِسَالَةِ ابْنِ أَخِيهِ ، وَقَدْ كَانَ إِعْلَانًا حَرَّكَتْهُ عَصَبِيَّةٌ لِأَبِي الْقَاسِمِ أَخِيهِ فِي الرَّضَاعَةِ وَابْنِ أَخِيهِ وَرَفِيقِ الصِّبَا وَالشَّبَابِ وَحَبِيبِ الْفُؤَادِ ، إِلَّا أَنَّهُ لَمَّا خَلَا بِنَفْسِهِ قَامَتْ هَوَاجِسُهُ تُهَاجِمُهُ فِي قَسْوَةٍ ، وَرَاحَ يُنَقِّبُ عَنْ كَبِدِ الْحَقِيقَةِ ، فَمَا كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْدَعَ نَفْسَهُ أَوْ أَنْ يَكُونَ مُنَافِقًا فِي عَيْنِ ذَاتِهِ . إِنَّهُ يَبْغِي الْحَقَّ وَلَا شَيْءَ غَيْرَ الْحَقِّ .
Hamzah mondar-mandir di dalam ruangan, mencoba meminta nasihat hatinya sesekali, mendengarkan bisikan setan sesekali, dan berdoa kepada Allah berkali-kali agar Ia menyambutnya dengan rahmat-Nya dan memberikan cahaya ke mata batinnya untuk melihat inti kebenaran. Ia telah mengakui di hadapan publik keesaan Allah dan risalah keponakannya. Pengumuman itu dipicu oleh fanatisme untuk Abu Al-Qasim, saudara sepersusuannya, keponakannya, teman masa kecil dan mudanya, serta kekasih hatinya. Namun, ketika ia menyendiri, keraguannya bangkit menyerangnya dengan keras. Ia berusaha menggali inti kebenaran, karena ia tidak suka menipu dirinya sendiri atau menjadi orang munafik di hadapan dirinya sendiri. Ia mencari kebenaran dan tidak ada yang lain selain kebenaran.
وَبَاتَ حَمْزَةُ بِلَيْلَةٍ لَمْ يَبِتْ بِمِثْلِهَا رَاحَ فِيهَا يَسْتَعْرِضُ حَيَاةَ ابْنِ أَخِيهِ فَلَمْ يَجِدْ فِيهَا مَثْلَبًا ، فَهُوَ الْأَمِينُ الَّذِي لَمْ يُجَرَّبْ عَلَيْهِ الْكَذِبُ قَطُّ ، إِنَّهُ لَمْ يَكْذِبْ عَلَى النَّاسِ ، أَوْ يَكْذِبُ عَلَى رَبِّهِ ؟ إِنَّهُ يُحْسِنُ الْحَسَنَ وَيُقَوِّيهِ وَيُقَبِّحُ الْقَبِيحَ وَيُوهِيهِ ، لَهُ نُورٌ يَعْلُوهُ كَأَنَّ الشَّمْسَ تَجْرِي فِي وَجْهِهِ ، قَدْ أُوتِيَ الْحِكْمَةَ لَا يَنْطَوِي إِلَّا عَلَى الْإِخْلَاصِ ، قَدْ خَرَجَ مِنْ سُلْطَانِ نَفْسِهِ فَلَا يَغْضَبُ لَهَا بَلْ يَغْضَبُ لِلْحَقِّ . إِنَّهَا صِفَاتٌ لَا تَجْتَمِعُ إِلَّا فِي إِنْسَانٍ يُعَدُّ الرِّسَالَةَ كَبِيرَةً ، وَإِنَّ ابْنَ عَبْدِ اللهِ كُفْءُ الْحَمْلِ أَعْظَمَ رِسَالَةٍ .
Hamzah melalui malam yang belum pernah ia lalui sebelumnya. Ia mulai meninjau kembali kehidupan keponakannya dan tidak menemukan cela sedikit pun. Ia adalah Al-Amin yang belum pernah teruji berdusta sama sekali. Apakah ia akan berdusta kepada manusia, atau berdusta kepada Tuhannya? Ia memperbagus yang baik dan menguatkannya, serta menjelekkan yang buruk dan melemahkannya. Ada cahaya yang meliputinya seolah-olah matahari sedang bersinar di wajahnya. Ia telah dianugerahi hikmah dan tidak menyimpan apa pun kecuali keikhlasan. Ia telah keluar dari kekuasaan hawa nafsunya, sehingga ia tidak marah untuk dirinya sendiri, melainkan marah demi kebenaran. Ini adalah sifat-sifat yang tidak terkumpul kecuali pada manusia yang menganggap risalah itu besar, dan sesungguhnya putra Abdullah adalah orang yang mampu memikul risalah paling agung.
وَمَا يَكَادُ يُقْنِعُ نَفْسَهُ بِصِدْقِ ابْنِ أَخِيهِ حَتَّى تَهُبَّ الْوَسَاوِسُ لِتَقْتَلِعَ بُذُورَ الْيَقِينِ الَّتِي تُحَاوِلُ أَنْ تَسْتَقِرَّ فِي أَغْوَارِ ذَاتِهِ وَتَهْجِسَ فِي نَفْسِهِ ، إِنَّهُ يُحَاوِلُ أَنْ يَجِدَ تَبْرِيرًا لِتَسَرُّعِهِ فِي إِعْلَانِ إِسْلَامِهِ اسْتِجَابَةً لِغَضَبِهِ الَّذِي انْبَعَثَ لَمَّا حَاقَ بِابْنِ أَخِيهِ مِنْ مَهَانَةٍ ، حَتَّى إِذَا مَا أَسْفَرَ اللَّيْلُ عَنْ وَجْهِ الصَّبَاحِ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ :
Belum sempat ia meyakinkan dirinya tentang kejujuran keponakannya, bisikan-bisikan kembali muncul untuk mencabut akar keyakinan yang mencoba menetap di kedalaman dirinya. Ia mencoba mencari pembenaran atas ketergesaannya dalam mengumumkan keislamannya sebagai respon terhadap amarahnya yang bangkit ketika keponakannya dihina. Hingga ketika malam tersingkap oleh wajah pagi, ia pergi menemui Rasulullah ﷺ lalu berkata:
— يَا بْنَ أَخِي إِنِّي قَدْ وَقَعْتُ فِي أَمْرٍ لَا أَعْرِفُ الْمَخْرَجَ مِنْهُ ، وَإِقَامَةَ مِثْلِي عَلَى مَا لَا أَدْرِي ، أَرُشْدٌ هُوَ أَمْ غَيٌّ شَدِيدٌ ؟
— "Wahai keponakanku, sesungguhnya aku telah terjatuh dalam suatu perkara yang aku tidak tahu jalan keluarnya, dan pendirian orang sepertiku atas apa yang aku tidak ketahui, apakah ini petunjuk ataukah kesesatan yang nyata?"
وَقَصَّ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ قِصَّتَهُ فَرَاحَ مُحَمَّدٌ ﷺ يُذَكِّرُهُ وَيَعِظُهُ وَيُخَوِّفُهُ وَيُبَشِّرُهُ وَيَتْلُو عَلَيْهِ الْقُرْآنَ ، وَحَمْزَةُ مَأْخُوذٌ بِمَا يَسْمَعُ يَسْتَشْعِرُ كَأَنَّ أَسْجَافًا تَرْتَفِعُ عَنْ قَلْبِهِ وَأَنَّ نُورًا يُشْرِقُ فِي عَيْنِ ذَاتِهِ وَأَنَّ حَدِيثَ ابْنِ أَخِيهِ يَرْتَفِعُ بِهِ عَنْ عَالَمِهِ الْمَحْدُودِ إِلَى عَوَالِمَ مِنَ الرِّفْعَةِ وَالسُّمُوِّ وَالنُّورِ . وَأَلْقَى اللهُ فِي قَلْبِهِ الْإِيمَانَ فَقَالَ فِي فَرَحٍ وَانْفِعَالٍ :
Ia menceritakan kisahnya kepada keponakannya, kemudian Muhammad ﷺ mulai mengingatkannya, menasihatinya, menakut-nakutinya, memberinya kabar gembira, dan membacakan Al-Qur'an kepadanya. Hamzah terpikat oleh apa yang didengarnya, ia merasa seolah tirai tersingkap dari hatinya dan cahaya bersinar di inti dirinya, dan pembicaraan keponakannya mengangkatnya dari dunianya yang terbatas ke alam ketinggian, keluhuran, dan cahaya. Allah menanamkan iman ke dalam hatinya, lalu ia berkata dengan penuh kegembiraan dan emosi:
— أَشْهَدُ إِنَّكَ لَصَادِقٌ ، فَأَظْهِرْ يَا بْنَ أَخِي دِينَكَ .
— "Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar jujur, maka tampakkanlah agamamu wahai keponakanku."
وَسُرَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِإِسْلَامِ أَعَزِّ فَتًى فِي قُرَيْشٍ سُرُورًا كَبِيرًا ، فَقَدْ أَعَزَّ اللهُ الْإِسْلَامَ بِأَشَدِّ قُرَيْشٍ شَكِيمَةً ، وَأَحَسَّ أَنَّ آلَامَ الِاضْطِهَادِ الَّذِي تَحَمَّلَهُ سِنِينَ طَوِيلَةً قَدْ أَثْمَرَتْ خَيْرَ ثَمَرَةٍ ، فَبَاتَ يُرَحِّبُ بِكُلِّ عَذَابٍ وَشِدَّةٍ وَهُوَ عَلَى ثِقَةٍ مِنْ أَنَّ اللهَ سَيُتِمُّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ .
Rasulullah ﷺ sangat gembira dengan keislaman pemuda paling terhormat di Quraisy. Allah telah memuliakan Islam dengan orang yang paling kuat pendiriannya di Quraisy. Beliau merasa bahwa rasa sakit akibat penindasan yang beliau tanggung selama bertahun-tahun telah membuahkan hasil terbaik, sehingga beliau mulai menyambut setiap siksaan dan kesulitan dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.
وَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فِيمَا كَانَ مِنْ حَمْزَةَ وَأَبِي جَهْلٍ : أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ نُبَيِّنُ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ . وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ . وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رَسُولُ اللهِ اللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ . فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ . وَهَذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ .
Allah Ta'ala menurunkan ayat mengenai peristiwa Hamzah dan Abu Jahal: "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: 'Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah'. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu melakukan tipu daya. Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya telah Kami jelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar